REVIEW - THE BATMAN
Entah versi gotik Tim Burton, pendekatan campy Joel Schumacher, atau nuansa grounded Christopher Nolan, ada satu sisi Batman yang belum pernah ditangkap oleh adaptasi layar lebar, yakni sebagai detektif jenius. Padahal 83 tahun lalu ia muncul perdana dalam komik berjudul Detective Comics.
Di bawah arahan Matt Reeves, karakteristik tersebut akhirnya ditampilkan. Kali ini The Caped Crusader bukan menghadapi alien maupun penjahat berkekuatan unik, melainkan mengusut kasus pembunuhan berantai. Premis yang mengingatkan pada Batman: The Long Halloween, walau Batman: Year One juga memberi pengaruh besar terhadap naskah buatan Reeves dan Peter Craig.
Bruce Wayne (Robert Pattinson) baru memasuki tahun keduanya menjadi vigilante di Gotham. Biar demikian, James Gordon (Jeffrey Wright) dari GCPD (Gotham City Police Department) sudah begitu mempercayainya, aktif melibatkan Batman dalam penyelidikan. Sedangkan para kriminal menaruh rasa takut padanya.
Batman adalah soal reputasi. Figur yang sanggup menebar ketakutan bahkan sebelum menampakkan diri. Reeves menekankan itu, yang mana belum pernah benar-benar dimaksimalkan film-film sebelumnya. Penonton belajar tentang bagaimana dunia memandang Batman melalui sekuen di awal, ketika penjahat lari tunggang langgang hanya karena melihat Bat-Signal menyala di langit. Musik gubahan Michael Giacchino mengiringi, terdengar bak raungan alarm tanda bahaya bagi pelanggar hukum.
Tapi lawan Batman kali ini berbeda. Terjadi rentetan pembunuhan, dengan jajaran pemangku jabatan Gotham menjadi korban. Pelakunya, Riddler (dibawakan layaknya teroris sinting oleh Paul Dano), meninggalkan surat berisi teka-teki untuk Batman di tiap TKP. Alih-alih takut, Riddler seolah justru menantang sang vigilante.
Teka-teki tersebut merupakan pondasi alur filmnya, membawa Batman menginvestigasi motif di balik aksi Riddler, mempertemukannya dengan beberapa figur "dunia bawah", seperti Carmine Falcone (John Turturro) si bos mafia Gotham, Oswald Cobblepot alias Penguin (Colin Farrell), hingga Selina Kyle (Zoë Kravitz), waitress di kelab malam milik Penguin yang punya identitas lain, yaitu Catwoman si pencuri.
The Batman diberkahi jajaran aktor pendukung mumpuni. Jeffrey Wright menciptakan dynamic duo antara Batman dan Gordon, sementara Zoë Kravitz adalah Catwoman terbaik setelah Michelle Pfeiffer. Fatal sekaligus sensual. Porsi Andy Serkis minim, tapi Alfred berhasil dia bawa melakoni peran yang lebih dari pelayan serta figur ayah, yakni tandem Bruce dalam proses memecahkan misteri.
Di paragraf pertama saya menyebut Batman versi Nolan punya nuansa grounded. Sebenarnya itu kurang tepat. Terasa demikian karena hadir pasca dwilogi campy milik Schumacher. The Batman lain cerita. Inilah sebenar-benarnya "a grounded Batman movie". Tentu beberapa teknologi tetap berperan (kamera berwujud lensa kontak misalnya), sebab tanpa teknologi, Batman bukanlah Batman, namun kuantitasnya ditekan.
Gelaran aksi tidak dominan apabila berkaca ke durasi 176 menitnya, pun eksekusinya sedikit meninggalkan ganjalan. Demi mereplikasi komiknya, Reeves memposisikan mayoritas baku hantam di bawah pencahayaan luar biasa minim, sedangkan satu-satunya car chase didominasi oleh close up agar tampil atmosferik. Teknik-teknik tersebut menyulitkan penonton menikmati aksi secara utuh, tapi setidaknya itu terjadi bukan karena ketidakmampuan. Semua soal pilihan. Reeves mempunyai visi, walau tak seluruhnya diterjemahkan dengan sempurna.
Ketimbang blockbuster menghibur, visi sang sutradara adalah membangun dunia sarat teror. Gotham merupakan kota yang dirundung ketakutan. Polisi serta pejabat korup takut akan penghakiman Ridler. Penjahat takut akan pembalasan si Manusia Kelelawar. Rakyat sipil takut bakal menjadi collateral damage. Batman? Ketakutannya mengambil bentuk pergolakan batin.
Riddler ibarat representasi ketakutan protagonis. The Batman bermain-main dengan gagasan bahwa "Batman adalah simbol". Bagaimana jika ia malah jadi simbol para penebar teror alih-alih rakyat yang tak berdaya? Sayang, esplorasi psikis naskahnya masih berada di area permukaan. Akibatnya, durasi hampir tiga jam terkesan kurang dimaksimalkan, sehingga kala memasuki paruh akhir, The Batman seperti pelari marathon yang mulai kehabisan tenaga.
Di sini Pattinson berperan besar menyampaikan konflik internal Batman. Layaknya aktor hebat yang menyelami seluk-beluk peran secara mandiri, Pattinson mampu menerjemahkan penderitaan karakternya, saat naskah tertatih-tatih memaparkan itu pada penonton.
Sinematografi Greig Fraser membuat Gotham bagai gerbang neraka, sementara musik Michael Giacchino memancing perasaan was-was. Ditambah kesabaran Reeves menggulirkan tempo, menonton The Batman lebih dekat ke pengalaman menonton horor atmosferik slow burning daripada film superhero. Kecemasan senantiasa mengikuti, sampai di klimaksnya, yang meski minim aksi, tampil sangat intens.
Kita terbiasa dengan suguhan superhero konvensional yang memberi rasa aman, memberi keyakinan bahwa penonton tengah menyaksikan aksi jagoannya menuju kejayaan. The Batman menghilangkan zona nyaman itu. Apakah kita sedang mengikuti satu lagi proses kebaikan mengalahkan kejahatan? Ataukah di dunia yang kacau ini tiada lagi ruang bagi cahaya?
Membumi, mengerikan, tidak nyaman. Menariknya, walau mengandung semua itu, The Batman sejatinya adalah cerita yang hopeful. Kegelapan di dalamnya bukan wujud perspektif pesimistis kedua penulis, melainkan bagian dari proses. Bruce yang baru memasuki tahun kedua memakai topeng kelelawarnya, digiring untuk mencari cara menyalurkan luka dan amarah, lalu memahami bahwa jika ingin menjadi suar dalam kegelapan, ia sendiri tak boleh tenggelam dalam kegelapan itu.
REVIEW - VENOM: LET THERE BE CARNAGE
Venom: Let There Be Carnage akan lebih banyak diingat dan dibicarakan karena mid-credits scene miliknya, yang signifikansinya mungkin setara dengan kemunculan Nick Fury di Iron Man 13 tahun lalu. Pun nampaknya banyak penonton lebih menantikan adegan tersebut (bocoran telah banyak bertebaran) ketimbang filmnya sendiri, yang seolah sama tidak sabarnya untuk segera mengakhiri penceritaan.
Ditangani Andy Serkis, film ini bergerak secepat pengendara mobil yang mendadak dilanda sakit perut. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana bisa dari titik A, kita sekarang sudah berada di titik B? Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang timbul di benak saya kala menonton.
Setidaknya Venom: Let There Be Carnege adalah peningkatan dibanding pendahulunya. Kuncinya terletak di hubungan antara Venom dan Eddie Brock (Tom Hardy), yang diperkuat elemen bromance-nya oleh naskah buatan Kelly Marcel (Fifty Shades of Grey, Venom, Cruella). Brock ingin menata kembali hidupnya dengan tenang, sedangkan Venom sebaliknya, berhasrat untuk terus menjadi "Letha Protector", guna meringkus (lalu mengunyah kepala) para penjahat.
Interaksi keduanya tersaji menghibur. Komedi memang keunggulan utama filmnya. Hardy punya comic timing mumpuni, baik kala memerankan Eddie Brock yang lelah atas segala kekacauan di sekitarnya, maupun mengisi suara Venom, si symbiote dengan mulut tanpa filter serta selera humor gelap. Peggy Lu kembali menjadi Mrs. Chen sang pemilik toko kelontong, yang meski porsinya minim, berkontribusi melahirkan salah satu momen terlucu.
Sementara itu, Cletus Kasady (Woody Harrelson), pembunuh berantai yang sedang menanti eksekusi mati, menghubungi Brock, berkata bakal mengungkap seluruh ceritanya, sambil diam-diam mengirim pesan pada kekasihnya, Frances Barrison (Naomie Harris), yang juga dikurung di suatu fasilitas rahasia, karena memiliki kekuatan memanipulasi energi suara.
Apa yang terjadi berikutnya adalah rentetan kejadian yang sukar diikuti, karena alurnya bergulir sangat buru-buru. Serkis bagai memandang first act-nya tak penting, enggan memedulikan jembatan antar peristiwa, ingin segera merampungkannya agar Kasady dapat segera bertransformasi menjadi Carnage, symbiote buas yang kekuatannya jauh mengungguli Venom.
Setiap mengetengahkan konflik Brock/Venom dan Kasady/Carnage, yang notabene bernuansa serius, film ini kacau. Lain halnya saat keseriusan itu ditanggalkan, lalu interaksi karakter mengambil alih fokus. Meneruskan kisah sebelumnya, Brock belum berhasil memperbaiki hubungan dengan Anne (Michelle Williams), selepas keduanya putus. Serupa Hardy, Williams pun piawai menangani komedi.
Tapi selain mereka, ada pasangan lain yang juga putus, yakni Brock dan Venom. Pasca pertengkaran hebat, Venom yang merasa tidak dimengerti, memilih minggat dari rumah. Konfliknya menggelitik, sebab Let There Be Carnage mengemasnya bak sebuah breakup movie, mengenai pasangan yang kesulitan menerima kekurangan satu sama lain, bersikap egois, terjebak masalah komunikasi, berpisah, sebelum akhirnya sadar kalau masih saling cinta. Sebuah keputusan cerdik dari naskahnya.
Seperti film pertama, aksinya menyisakan ketidakpuasan akibat pilihan rating PG-13. Apalagi mengingat keberadaan Carnage, salah satu villain paling brutal di komik Marvel (walau filmnya sempat mengakali aksi sadis Kasady secara kreatif menggunakan sekuen animasi). Untungnya, Serkis bisa memanfaatkan bentrokan dua sosok ikoniknya, guna menciptakan rangkaian imageries keren yang bakal memuaskan para pembaca komik.
LONG SHOT (2019)
BLACK PANTHER (2018)
STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)
Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara.














