Tampilkan postingan dengan label Andy Serkis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andy Serkis. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE BATMAN

Entah versi gotik Tim Burton, pendekatan campy Joel Schumacher, atau nuansa grounded Christopher Nolan, ada satu sisi Batman yang belum pernah ditangkap oleh adaptasi layar lebar, yakni sebagai detektif jenius. Padahal 83 tahun lalu ia muncul perdana dalam komik berjudul Detective Comics. 

Di bawah arahan Matt Reeves, karakteristik tersebut akhirnya ditampilkan. Kali ini The Caped Crusader bukan menghadapi alien maupun penjahat berkekuatan unik, melainkan mengusut kasus pembunuhan berantai. Premis yang mengingatkan pada Batman: The Long Halloween, walau Batman: Year One juga memberi pengaruh besar terhadap naskah buatan Reeves dan Peter Craig. 

Bruce Wayne (Robert Pattinson) baru memasuki tahun keduanya menjadi vigilante di Gotham. Biar demikian, James Gordon (Jeffrey Wright) dari GCPD (Gotham City Police Department) sudah begitu mempercayainya, aktif melibatkan Batman dalam penyelidikan. Sedangkan para kriminal menaruh rasa takut padanya. 

Batman adalah soal reputasi. Figur yang sanggup menebar ketakutan bahkan sebelum menampakkan diri. Reeves menekankan itu, yang mana belum pernah benar-benar dimaksimalkan film-film sebelumnya. Penonton belajar tentang bagaimana dunia memandang Batman melalui sekuen di awal, ketika penjahat lari tunggang langgang hanya karena melihat Bat-Signal menyala di langit. Musik gubahan Michael Giacchino mengiringi, terdengar bak raungan alarm tanda bahaya bagi pelanggar hukum.  

Tapi lawan Batman kali ini berbeda. Terjadi rentetan pembunuhan, dengan jajaran pemangku jabatan Gotham menjadi korban. Pelakunya, Riddler (dibawakan layaknya teroris sinting oleh Paul Dano), meninggalkan surat berisi teka-teki untuk Batman di tiap TKP. Alih-alih takut, Riddler seolah justru menantang sang vigilante. 

Teka-teki tersebut merupakan pondasi alur filmnya, membawa Batman menginvestigasi motif di balik aksi Riddler, mempertemukannya dengan beberapa figur "dunia bawah", seperti Carmine Falcone (John Turturro) si bos mafia Gotham, Oswald Cobblepot alias Penguin (Colin Farrell), hingga Selina Kyle (Zoë Kravitz), waitress di kelab malam milik Penguin yang punya identitas lain, yaitu Catwoman si pencuri.  

The Batman diberkahi jajaran aktor pendukung mumpuni. Jeffrey Wright menciptakan dynamic duo antara Batman dan Gordon, sementara Zoë Kravitz adalah Catwoman terbaik setelah Michelle Pfeiffer. Fatal sekaligus sensual. Porsi Andy Serkis minim, tapi Alfred berhasil dia bawa melakoni peran yang lebih dari pelayan serta figur ayah, yakni tandem Bruce dalam proses memecahkan misteri.

Di paragraf pertama saya menyebut Batman versi Nolan punya nuansa grounded. Sebenarnya itu kurang tepat. Terasa demikian karena hadir pasca dwilogi campy milik Schumacher. The Batman lain cerita. Inilah sebenar-benarnya "a grounded Batman movie". Tentu beberapa teknologi tetap berperan (kamera berwujud lensa kontak misalnya), sebab tanpa teknologi, Batman bukanlah Batman, namun kuantitasnya ditekan. 

Gelaran aksi tidak dominan apabila berkaca ke durasi 176 menitnya, pun eksekusinya sedikit meninggalkan ganjalan. Demi mereplikasi komiknya, Reeves memposisikan mayoritas baku hantam di bawah pencahayaan luar biasa minim, sedangkan satu-satunya car chase didominasi oleh close up agar tampil atmosferik. Teknik-teknik tersebut menyulitkan penonton menikmati aksi secara utuh, tapi setidaknya itu terjadi bukan karena ketidakmampuan. Semua soal pilihan. Reeves mempunyai visi, walau tak seluruhnya diterjemahkan dengan sempurna.  

Ketimbang blockbuster menghibur, visi sang sutradara adalah membangun dunia sarat teror. Gotham merupakan kota yang dirundung ketakutan. Polisi serta pejabat korup takut akan penghakiman Ridler. Penjahat takut akan pembalasan si Manusia Kelelawar. Rakyat sipil takut bakal menjadi collateral damage. Batman? Ketakutannya mengambil bentuk pergolakan batin. 

Riddler ibarat representasi ketakutan protagonis. The Batman bermain-main dengan gagasan bahwa "Batman adalah simbol". Bagaimana jika ia malah jadi simbol para penebar teror alih-alih rakyat yang tak berdaya? Sayang, esplorasi psikis naskahnya masih berada di area permukaan. Akibatnya, durasi hampir tiga jam terkesan kurang dimaksimalkan, sehingga kala memasuki paruh akhir, The Batman seperti pelari marathon yang mulai kehabisan tenaga. 

Di sini Pattinson berperan besar menyampaikan konflik internal Batman. Layaknya aktor hebat yang menyelami seluk-beluk peran secara mandiri, Pattinson mampu menerjemahkan penderitaan karakternya, saat naskah tertatih-tatih memaparkan itu pada penonton. 

Sinematografi Greig Fraser membuat Gotham bagai gerbang neraka, sementara musik Michael Giacchino memancing perasaan was-was. Ditambah kesabaran Reeves menggulirkan tempo, menonton The Batman lebih dekat ke pengalaman menonton horor atmosferik slow burning daripada film superhero. Kecemasan senantiasa mengikuti, sampai di klimaksnya, yang meski minim aksi, tampil sangat intens. 

Kita terbiasa dengan suguhan superhero konvensional yang memberi rasa aman, memberi keyakinan bahwa penonton tengah menyaksikan aksi jagoannya menuju kejayaan. The Batman menghilangkan zona nyaman itu. Apakah kita sedang mengikuti satu lagi proses kebaikan mengalahkan kejahatan? Ataukah di dunia yang kacau ini tiada lagi ruang bagi cahaya? 

Membumi, mengerikan, tidak nyaman. Menariknya, walau mengandung semua itu, The Batman sejatinya adalah cerita yang hopeful. Kegelapan di dalamnya bukan wujud perspektif pesimistis kedua penulis, melainkan bagian dari proses. Bruce yang baru memasuki tahun kedua memakai topeng kelelawarnya, digiring untuk mencari cara menyalurkan luka dan amarah, lalu memahami bahwa jika ingin menjadi suar dalam kegelapan, ia sendiri tak boleh tenggelam dalam kegelapan itu. 

REVIEW - VENOM: LET THERE BE CARNAGE

Venom: Let There Be Carnage akan lebih banyak diingat dan dibicarakan karena mid-credits scene miliknya, yang signifikansinya mungkin setara dengan kemunculan Nick Fury di Iron Man 13 tahun lalu. Pun nampaknya banyak penonton lebih menantikan adegan tersebut (bocoran telah banyak bertebaran) ketimbang filmnya sendiri, yang seolah sama tidak sabarnya untuk segera mengakhiri penceritaan.

Ditangani Andy Serkis, film ini bergerak secepat pengendara mobil yang mendadak dilanda sakit perut. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana bisa dari titik A, kita sekarang sudah berada di titik B? Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang timbul di benak saya kala menonton.

Setidaknya Venom: Let There Be Carnege adalah peningkatan dibanding pendahulunya. Kuncinya terletak di hubungan antara Venom dan Eddie Brock (Tom Hardy), yang diperkuat elemen bromance-nya oleh naskah buatan Kelly Marcel (Fifty Shades of Grey, Venom, Cruella). Brock ingin menata kembali hidupnya dengan tenang, sedangkan Venom sebaliknya, berhasrat untuk terus menjadi "Letha Protector", guna meringkus (lalu mengunyah kepala) para penjahat.

Interaksi keduanya tersaji menghibur. Komedi memang keunggulan utama filmnya. Hardy punya comic timing mumpuni, baik kala memerankan Eddie Brock yang lelah atas segala kekacauan di sekitarnya, maupun mengisi suara Venom, si symbiote dengan mulut tanpa filter serta selera humor gelap. Peggy Lu kembali menjadi Mrs. Chen sang pemilik toko kelontong, yang meski porsinya minim, berkontribusi melahirkan salah satu momen terlucu. 

Sementara itu, Cletus Kasady (Woody Harrelson), pembunuh berantai yang sedang menanti eksekusi mati, menghubungi Brock, berkata bakal mengungkap seluruh ceritanya, sambil diam-diam mengirim pesan pada kekasihnya, Frances Barrison (Naomie Harris), yang juga dikurung di suatu fasilitas rahasia, karena memiliki kekuatan memanipulasi energi suara. 

Apa yang terjadi berikutnya adalah rentetan kejadian yang sukar diikuti, karena alurnya bergulir sangat buru-buru. Serkis bagai memandang first act-nya tak penting, enggan memedulikan jembatan antar peristiwa, ingin segera merampungkannya agar Kasady dapat segera bertransformasi menjadi Carnage, symbiote buas yang kekuatannya jauh mengungguli Venom. 

Setiap mengetengahkan konflik Brock/Venom dan Kasady/Carnage, yang notabene bernuansa serius, film ini kacau. Lain halnya saat keseriusan itu ditanggalkan, lalu interaksi karakter mengambil alih fokus. Meneruskan kisah sebelumnya, Brock belum berhasil memperbaiki hubungan dengan Anne (Michelle Williams), selepas keduanya putus. Serupa Hardy, Williams pun piawai menangani komedi. 

Tapi selain mereka, ada pasangan lain yang juga putus, yakni Brock dan Venom. Pasca pertengkaran hebat, Venom yang merasa tidak dimengerti, memilih minggat dari rumah. Konfliknya menggelitik, sebab Let There Be Carnage mengemasnya bak sebuah breakup movie, mengenai pasangan yang kesulitan menerima kekurangan satu sama lain, bersikap egois, terjebak masalah komunikasi, berpisah, sebelum akhirnya sadar kalau masih saling cinta. Sebuah keputusan cerdik dari naskahnya.

Seperti film pertama, aksinya menyisakan ketidakpuasan akibat pilihan rating PG-13. Apalagi mengingat keberadaan Carnage, salah satu villain paling brutal di komik Marvel (walau filmnya sempat mengakali aksi sadis Kasady secara kreatif menggunakan sekuen animasi). Untungnya, Serkis bisa memanfaatkan bentrokan dua sosok ikoniknya, guna menciptakan rangkaian imageries keren yang bakal memuaskan para pembaca komik. 

LONG SHOT (2019)

Serupa banyak komedi-romantis modern belakangan, Long Shot coba membangkitkan genre yang tengah sekarat tersebut melalui penyesuaian terhadap formulanya. Walau masih seputar kisah cinta dua manusia dengan latar berbeda, di sini peran “sosok terpandang pemilik kekuatan dan kekuasaan” dipegang karakter wanita, sedangkan sang pria adalah rakyat jelata yang dianggap tidak pantas mendampingi si wanita. Long Shot tak ubahnya “reverse Pretty Woman” (terdapat referensi-referensi untuk film karya Garry Marshall itu).

Fred Flarsky (Seth Rogen) merupakan jurnalis idealis yang dikenal lewat tulisannya yang berani melontarkan kritik pedas bagi para konglomerat. Keteguhan Fred memeluk idealisme sejatinya kerap membawa masalah, seperti saat media tempatnya bekerja diambil alih oleh pebisnis kotor bernama Parker Wembley (Andy Serkis dalam riasan tebal yang sulit dikenali). Membenci sepak terjang Parker, Fred pun memutuskan keluar. Fred yang kehilangan arah mengunjungi sahabatnya, Lance (diperankan O’Shea Jackson Jr. dalam pesona sekuat sang ayah), yang membawanya ke sebuah pesta. Di sanalah Fred bertemu Charlotte Field (Charlize Theron), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang dahulu pernah menjadi pengasuhnya.

Long Shot berlatar di versi fiktif Amerika Serikat yang tak terlampau jauh dari realita. Presidennya, Chambers (Bob Odenkirk), adalah pria bodoh yang memperoleh ketenaran sebagai aktor serial televisi. Presiden Chambers memilih tak berpartisipasi pada pemilu 2020 demi mengejar impiannya di dunia film, membuka jalan bagi Charlotte mencalonkan diri, untuk menjadi Presiden wanita pertama Amerika Serikat.

Sebagai modal pencalonannnya, Charlotte menginisiasi program lingkungan yang ia harapkan mendapat dukungan dari para pemimpin negara-negara dunia. Tapi ia lebih dulu mesti mencari penulis agar pidatonya lebih hidup, lucu, dan terdengar dekat di telinga masyarakat awam. Secara mengejutkan Charlotte memilih Fred, didasari kekaguman atas tulisannya yang berani sekaligus menggelitik, juga fakta bahwa ia telah lama mengenal Charlotte. Dari situlah romansa penuh kemustahilan di antara mereka bersemi.

Long Shot adalah cerita soal banyak hal, dari feminisme, permainan politik, hingga hal rumit namun dekat dengan keseharian, yakni mengatur idealisme. Fred dan Charlotte menghadapi situasi pengambilan keputusan yang menguji prinsip masing-masing. Tapi film ini bukan (cuma) berpesan agar kita memegang teguh prinsip, melainkan ajakan agar tak dibutakan prinsip, sehingga enggan meninjau perspektif lain, yang bisa menghalangi kita melihat sisi positif berbagai hal. Kondisi itu menimpa Fred dan banyak individu yang percaya jika mereka memperjuangkan kebaikan. Fred menuduh Charlotte “melacurkan” idealisme demi kekuasaan. Tapi Fred menolak menilik dari perspektif Charlotte, yang sejatinya mengincar hasil jangka panjang dengan dampak lebih signifikan.

Biarpun mengusung isu-isu berat, Long Shot tidak melupakan statusnya sebagai komedi-romantis. Penyutradaraan Jonathan Levine (50/50, Warm Bodies) cukup subtil, di mana ia mampu memunculkan aura romantis melalui situasi sederhana tanpa meledakkan dramatisasi secara berlebihan. Dibuat oleh penulis The Interview (Dan Sterling) dan The Post (Liz Hannah), naskahnya pun bak gabungan gaya kedua judul tersebut: konflik politik dalam balutan komedi khas Seth Rogen yang berisik, seringkali chaotic, dan dipenuhi humor dewasa.

Tidak semua humornya tepat sasaran, mengingat ide-idenya sendiri tak sepenuhnya baru maupun tajam. Alhasil Long Shot bergantung pada penghantaran para pemain. Rogen tampil seperti biasa memerankan pria canggung bermulut besar, yang mana tak banyak menolong. Beruntung filmnya memiliki Charlize Theron, yang seperti Charlotte Field, dapat melakukan apa saja. Theron membabat habis seluruh momen komedik berkat totalitas serta kesempurnaan timing, sambil sesekali menghembuskan cukup emosi untuk menjadikan Long Shot tontonan dengan hati.

Selaku kisah seputar gender, keputusan menukar keklisean peran gender milik formula klasik komedi-romantis terbukti tepat, sekaligus membuat film ini penting disimak khususnya oleh para pria. Long Shot adalah komedi-romantis berisi karakter pria yang tidak ciut nyali menghadapi wanita yang lebih kuat di segala lini. Alih-alih minder, sang pria justru membantu sepenuh hati dan berusaha agar tidak menjadi beban. If every man acts and thinks that way, maybe this movie’s last moment won’t be such a long shot.

BLACK PANTHER (2018)


Di Black Panther, Wakanda digambarkan sebagai negara adidaya makmur, berteknologi maju, yang tak melupakan akar kulturalnya. Sementara para pemegang tampuk kekuasaan tidak memanfaatkan kekuatan mereka untuk berlaku semena-mena. Itulah surat cinta sekaligus pernyataan filmnya. Apabila kulit hitam yang ditekan diberi kuasa dan sumber daya, apakah mereka akan balik  menginjak-injak? Dengan tegas Black Panther menjawab, “TIDAK”. Ketika realita memperlihatkan Trump enggan menampung pengungsi, T’Challa (Chadwick Boseman) membuka pintu Wakanda lebar-lebar. Setelah pengalami pergolakan batin dan politik tentu saja.

Bisakah orang baik menjadi Raja? Menurut mendiang T’Chaka (John Kani), hal itu sulit, sehingga takkan mudah bagi sang putera memimpin Wakanda. Bagaimana T’Challa berusaha menjadi Raja sebaik mungkin yang dapat memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya adalah fokus utama Black Panther. Tidak ada invasi alien, tidak ada Dewa kematian menyerbu. Skala dijaga di lingkup internal Wakanda, dan sebagaimana negara kebanyakan, perebutan kekuasaan serta invasi asing jadi problematika. Ulysses Klaue (Andy Serkis) adalah pihak luar yang ingin mencuri vibranium, tapi ancaman terbesar selalu berasal dari dalam.
Datanglah Erik “Killmonger” Stevens (Michael B. Jordan) demi merebut tahta T’Challa sekaligus bergabung bersama Loki, Baron Zemo, dan Vulture di jajaran villain terbaik MCU. Mampu ia jatuhkan T’Challa ke titik terendahnya, satu hal yang tidak semua villain bisa lakukan pada pahlawan super. Pun terdapat alasan personal sehingga Erik Killmonger tak semudah itu diklasifikasikan sebagai “orang jahat”, di mana pertemuan dengan sang ayah memberi momen personal yang memantapkan pondasi penokohan itu. Saat Chadwick Boseman adalah Raja yang meneduhkan, maka Michael B. Jordan menjadi ekstrimis berapi-api. Keduanya karismatik.

Mengusung gesekan ideologi bernuansa politis, wajar tatkala Black Panther tanpa injeksi humor sebesar mayoritas film MCU, meski balutan komedi tetap hadir dalam takaran secukupnya. Apa jadinya film positif nan penuh harapan macam Black Panther jika tidak dibarengi tawa? Naskah tulisan sutradara Ryan Coogler bersama Joe Robert Cole mungkin bukan naskah dengan alur revolusioner, bahkan cenderung repetitif. Tapi kekurangan itu ditebus lewat dialog kaya subteks soal ras, politik, hingga budaya.
Bicara mengenai budaya, suasana afrofuturism milik Black Panther jelas salah satu penataan artistik terbaik dalam film pahlawan super. Kostum beraneka warna berbalut desain unik, beberapa upacara adat, bahkan pesawat milik T’Challa menyerupai topeng suku-suku di Afrika. Peleburan sisi tradisional dan modernnya berjalan sempurna. Wakanda melestarikan budaya tanpa menutup pintu akan perkembangan teknologi, seperti diwakili oleh Shuri (Letitia Wright), adik T’Challa yang memfasilitasi Ryan Coogler menyuntikkan rasa James Bond ke dalam Black Panther.

Sayangnya Coogler belum terlalu ahli merangkai adegan aksi. Tampak jelas kala klimaks medioker berbalut CGI ala kadarnya berlangsung. Tapi itu pun dikarenakan deretan aksi yang mendahuluinya jauh lebih superior: Kejar-kejaran di jalanan Korea yang melibatkan senjata futuristik hingga pertarungan memperebutkan tahta di samping air terjun yang kental keindahan budaya termasuk musik nuansa Afrika buatan Ludwig Göransson. Semua hal dalam Black Panther, entah musik, kostum, atau penghormatan ala Wakanda bakal membuat black culture lebih terdengar bahkan terlihat keren di mata publik. Apa saya sudah menyebut kalau film ini turut meninggikan para wanitanya yang demikian tangguh? Sungguh sebuah representasi penting.

STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)

Lebih dari satu abad lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film mampu membuat terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, saat George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan baru tetapi perasaan dan perjuangan karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan seperti yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi dibutuhkan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk masalah batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) agar beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang kini tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memperlihatkan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi diam-diam untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) sampai Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis dialog penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik adalah penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa lama berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan talenta komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa menyampaikan pilu dan keramahan. Makhluk aneh yang dapat membuat penonton percaya mereka memiliki jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan maut melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi spesial karena menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, sikap seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, maut nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya memilih mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai sempurna setelah mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"

WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017)

Sulit menciptakan sekuel bagus. Apalagi dalam konteks blockbuster ketika mayoritas sekuel dibuat demi mengeruk keuntungan komersil (yang mana tidak keliru). Dan banyak sekuel memaksakan arah ketimbang meneruskan tahapan proses karakternya secara natural. Seri reboot Planet of the Apes jadi satu contoh langka, membawa penonton mengamati tokoh-tokohnya tumbuh dari kera korban eksperimen yang memberontak di Rise, membangun kehidupan sembari makin belajar arti menjadi makhluk berakal di Dawn, lalu berkulminasi pada War di mana peperangan tak semata soal baku hantam fisik, pula bergulat dengan perasaan. 

Beberapa tahun pasca Dawn yang memanaskan konflik dua spesies, Caesar (Andy Serkis) memimpin koloni kera tinggal di pedalaman hutan sambil terus menghindari pasukan militer manusia yang semakin berhasrat memusnahkan ia dan rakyatnya. Dari pemandangan paling pertama, War dengan Matt Reeves selaku sutradara langsung memamerkan sihirnya. Opening kala manusia dibantu beberapa kera mantan pengikut Koba (dipanggil Donkey) menyerbu koloni Caesar adalah kesunyian mencekik yang senantiasa mengisi filmnya. Reeves berani membisukan momen demi momen, dan itu pilihan bijak sebab mayoritas kera berkomunikasi lewat gerak tubuh, dan War berfokus pada mereka. 
Pun kesunyian itu urung membosankan. Pertama berkat tambah mumpuninya efek motion capture. Begitu nampak meyakinkan para kera sampai terasa magical, seolah tengah menyaksikan primata nyata dengan intelegensi sudah berkembang pesat. Kedua tentu terkait akting. Tanpa mengesampingkan penampil lain, Serkis jelas menonjol. Sang aktor menghidupkan, bahkan menghembuskan hati dalam segala tutur kata sampai guratan rasa terkecil berupa tatapan mata atau perubahan ekspresi mikro. Diwakilinya gejolak kompleks dalam diri si pemimpin yang terjebak di tengah tanggung jawab melindungi segenap rakyat dan emosi personal. Yes, this time it's personal.

Semua diawali penyergapan tengah malam yang bergerak demikian intens menggiring kita menuju tragedi. Michael Giacchino mengkreasi musik yang bisa diapresiasi tinggi baik dari keunikan gaya maupun rasa mencekam yang tertuang tegas. Di luar dampak peristiwanya, musik Giacchino memastikan momen ini tersaji sebagai horor. Dan bukan terakhir kali scoring menyegarkan kaya rasa berhasil dia berikan. Kejadian tersebut mendorong Caesar nekat memburu pimpinan militer yang hanya kita kenal sebagai Kolonel (Woody Harrelson, dalam performa yang mengingatkan pada Kolonel Kurtz-nya Marlon Brando di Apocalypse Now). Di sini kerumitan dilematis Caesar nampak. Untuk pertama kali sepanjang franchise ini penonton diajak meragukan keputusannya.
Akhirnya ditemani Maurice (Karin Konoval), Rocket (Terry Notary), dan Luca (Michael Adamthwaite), perjalanan Caesar dimulai. Menunggangi kuda melintasi bentangan alam luas yang ditangkap begitu indah oleh sinematografi Michael Seresin, War bagaikan suguhan western. Hanya saja gurun gersang nan benderang digantikan lokasi bersalju yang dingin pula kelam. Pun kisah para kera mencari rumah baru demi kehidupan lebih baik sejalan dengan esensi setumpuk film western masa lampau. Reeves membawa perjalanan ini dalam tempo cukup lambat namun bukan diseret sekaligus terasa padat sebagaimana naskah tulisannya bersama Mark Bomback enggan menyisakan celah. Tensi melambat di antara aksi tak berujung kekosongan melainkan pembangunan intensi menuju aksi berikutnya, membuat penonton sulit memilih kapan saat tepat sejenak ke kamar kecil.

Sekalinya aksi yang dijanjikan hadir, Reeves tidak mengecewakan. Walau belum sebombastis Dawn (adegan penyergapan gudang senjata dengan putaran kamera 360 derajat di tank masih action terbaik franchise ini), setidaknya keasyikan konsisten diciptakan, bahkan sebatas kera-kera kecil bergelantungan di bentangan kabel layaknya pertunjukan sirkus pun menarik. Selain itu, tiap gelaran aksi selalu memberi dampak penting bagi emos karakternya, bukan sekedar ledakan hampa. Semakin menyenangkan ketika War tidak melulu memancarkan aura depresif. Selipan humor sesekali mengisi di saat tepat. Menyegarkan tanpa mendistraksi. Tampil pula Bad Ape (Steve Zahn) yang berkat kesesuaian timing serta penokohan likeable tak berujung jadi comic relief perusak suasana macam Jar Jar Binks (berisiko ke sana bila ditangani secara salah).

Bertempo cukup lambat juga bernuansa dingin bukan berarti minim rasa. Reeves menolak berlebihan mendramatisir, juga tidak meredam emosi. Seolah meracik penuh kasih sayang, sang sutradara mengandalkan sensitivitas tutur, sembari tidak terburu-buru memastikan rasa yang coba disampaikan merasuk di hati penonton. Reeves membuktikan bahwa dramatis dapat terasa artistik nan elegan melalui keputusan mempercantik ekspresi perasaan daripada sepenuhnya menahan itu. Kelemahan mungkin muncul sewaktu third act-nya lebih mementingkan ragam penuturan filosofis daripada menumpahkan puncak aksi. Sedikit anti-klimaks tapi bukan masalah. Masih menyenangkan. Tatkala kera bertambah cerdas sedangkan sebaliknya manusia menjadi primitif, tinggal tersisa satu persamaan. Rasa. Itulah pemersatu yang semestinya meruntuhkan perbedaan. War for the Planet of the Apes adalah penutup trilogi mengesankan yang turut memberi kritik tepat sasaran terhadap isu sosial masa kini sekaligus menawarkan solusi. 


Review ini disponsori UC Web. Ulasan film ini di UC Web dapat anda kunjungi di: http://tz.ucweb.com/7_25r9y