Tampilkan postingan dengan label Adam Driver. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adam Driver. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE LAST DUEL

The Last Duel diangkat dari buku non-fiksi The Last Duel: A True Story of Trial by Combat in Medieval France karya Eric Jager. Latarnya tahun 1386, tapi ini bukan pengingat mengenai masa lampau, melainkan tamparan, bahwa dibanding enam abad lalu, cara masyarakat menyikapi kasus pemerkosaan, termasuk pendefinisian terhadapnya, belum mengalami perkembangan signifikan. 

Sebelum menyelami isunya, satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah tata artistik. Desain produksinya melahirkan latar medieval kelas satu, yang mana makin jarang kita temui, pada era di mana film medieval berbiaya ratusan juta dollar mendekati kepunahan (situasi yang sejatinya bisa dipahami melihat remuknya pendapatan The Last Duel). 

Naskah buatan Nicole Holofcener bersama Matt Damon dan Ben Affleck, yang kembali berduet menulis sejak Good Will Hunting (1997), tampil bak Rashomon (1950), membagi kisah menjadi tiga babak, guna mengolah konsep "perspektif". Tapi berbeda dengan karya Akira Kurosawa tersebut, di sini penonton diberi tahu mana kebenaran sesungguhnya. 

Tiga figur utamanya adalah Jean de Carrouges (Matt Damon), Jacques le Gris (Adam Driver), dan Marguerite de Carrouges (Jodie Comer). Kerap terjun ke medan perang bersama, Jean dan Jacques adalah kawan baik. Setidaknya sampai perbedaan nasib merenggangkan keduanya. Karir Jacques moncer pasca jadi orang kepercayaan Count Pierre (Ben Affleck), sebaliknya, Jean terlilit masalah finansial. 

Konflik meruncing setelah Marguerite, istri Jean, mengaku diperkosa oleh Jacques. Melalui tiga babak yang masing-masing menyoroti sudut pandang ketiga karakternya, kita dibawa menelusuri kebenaran. Benarkah Jacques memerkosa Marguerite? 

Apabila Rashomon menilik relativitas kebenaran lewat ketiadaan jawaban pasti, maka The Last Duel sebaliknya. Semua versi merupakan kebenaran, dipisahkan oleh perbedaan sudut pandang yang diciptakan misogini. Bagi satu karakter, perkosaan tak terjadi sebab memang itu yang ia percaya. Di mata karakter lain, ia tengah membela martabat wanita, karena begitulah isi kepalanya. Tidak ada kebohongan. Hanya ada kebodohan. 

Bukankah perihal serupa masih kerap terjadi hari ini? Pria merasa sudah meninggikan wanita walau sejatinya tengah merendahkan mereka. Di ranah seksualitas, pria mengesampingkan consent, menutup mata atas penolakan dengan anggapan "Dia mau tapi malu", atau "merupakan tugas istri melayani suami". Alhasil, pertanyaan sesungguhnya bukan "Apakah ada pemerkosaan?", melainkan, "Ada BERAPA pemerkosaan?". 

Segala hal di atas, ditambah penyalagunaan sisi agama yang meringankan pelaku sekaligus memberatkan korban, menghadirkan paralel dengan era sekarang. Sungguh keterlaluan saat manusia modern seperti kita masih bersikap seperti mereka, yang hidup saat pemerkosaan dilihat sebagai aksi kriminal terhadap suami selaku "pemilik properti". 

Naskahnya tidak asal membagi babak. Siapa pertama, kedua, dan ketiga, memiliki maksud. Bukan saja demi twist, pula menyampaikan, bahwa kita harus selalu memercayai korban terlebih dahulu. Setiap babak pun tampil efektif berkat akting kuat jajaran pemain. Comer, Damon, dan Driver memberi perbedaan bagi karakter masing-masing, tergantung bagaimana si "pemilik babak" memandang karakter mereka. 

Salah satu contoh terbaik adalah ketika Jacques mendadak mengunjungi Marguerite. Comer dan Driver melakoni dua interaksi berisi baris kalimat yang kurang lebih sama, tetapi dengan penanganan berbeda terhadap karakter masing-masing. Perubahannya subtil namun pasti. 

Judul The Last Duel merujuk pada tantangan Jean pada Jacques untuk berduel sampai mati sebagai bentuk pengadilan resmi, yang jadi judicial duel terakhir sepanjang sejarah (masih ada duel sampai 1547, namun bukan dalam rangka pengadilan legal). Filmnya mengandung beberapa sekuen peperangan berdarah, yang membuktikan masih piawainya Ridley Scott menyutradarai genre ini, namun "duel terakhir" adalah yang paling intens. 

Sebab di situ kita terlibat secara emosional. Bukan pada dua pria yang sedang beradu fisik, melainkan si wanita yang batinnya bergejolak, kala lukanya justru dijadikan ajang pembuktian maskulinitas. Ibaratnya seperti para aktivis berstandar ganda, yang daripada benar-benar memedulikan korban, lebih mementingkan peningkatan citra. 

(DISNEY+ HOTSTAR)

REVIEW - HOUSE OF GUCCI

Penonton drama Korea pasti akrab dengan istilah makjang. Sebuah genre penuh hal berlebihan, yang jago menaikkan tekanan darah penontonnya (contoh: Sky Castle, The World of the Married, Penthouse). Cinta beda kasta, keluarga luar biasa kaya (biasanya memiliki ayah diktator dan salah satu anaknya tidak berguna), latar mewah, konspirasi berbelit, korupsi, perselingkuhan, pembunuhan, jadi beberapa elemen khasnya. Eksekusinya cenderung over-the-top. Serba berlebih. 

House of Gucci punya semua elemen di atas, namun Ridley Scott jelas tidak pernah menonton makjang. Mengadaptasi buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed karya Sara Gay Forden, naskah buatan Becky Johnston dan Roberto Bentivegna kaya akan peristiwa menghebohkan, namun Scott bak gamang, terombang-ambing di antara pemahaman soal seberapa campy ceritanya, dengan ambisi bertutur secara elegan.

Tampilan House of Gucci jelas elegan. Mewah. Mahal. Baik dari pemilihan set, properti, kostum, pula bagaimana Dariusz Wolski menekankan nuansa grandiose melalui lensa kameranya. Kulit luarnya memang harus begitu, mengingat karakternya berasal dari keluarga yang dahulu membuat dan menguasai merek fashion tersohor, Gucci. 

Pada 1978, Maurizio Gucci (Adam Driver), pewaris 50% saham Gucci milik ayahnya, Rodolfo Gucci (Jeremy Irons), bertemu dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) di sebuah pesta. Mereka jatuh cinta, walau Rodolfo (dan rasanya banyak penonton juga) meragukan Patrizia. Apakah ia tulus, atau hanya mengincar harta Maurizio? 

Pertanyaan itu terus berputar sepanjang durasi, namun bukan karena naskahnya kompleks. Sebaliknya, naskah House of Gucci luput mendalami internal si karakter. Tidak seperti anggota keluarga Gucci lain, Maurizio tak terobsesi harta. Di satu titik ia bahkan rela melepas segalanya, bekerja sebagai tukang cuci truk di perusahaan ayah Patrizia, demi menikahi gadis pujaannya yang tak direstui Rodolfo. Patrizia berbahagia. 

Apakah berarti ia memang tulus, atau tengah memainkan trik? Jika tengah "bermain", sungguh mulus permainannya. Tapi mengapa kemulusan itu lenyap selepas keduanya menikah? Patrizia mulai mengadu domba semua pihak, mulai dari paman Maurizio, Aldo (Al Pacino), hingga Paolo (Jared Leto), putera Aldo yang eksentrik dan berambisi memulai lini bisnis sendiri meski tak berbakat. Atau memang naskahnya hendak menampilkan proses berubahnya manusia akibat kuasa harta? Kalau iya, naskahnya gagal menggali detail transformasi tersebut (catat, "transformasi", bukan perihal keserakahan secara general). 

Mungkin karena naskahnya sendiri kepayahan dalam merangkum 400 halaman bukunya, sebab aliran alur pun kerap kurang mulus. Lompatan-lompatan kasar penuh kesan "tiba-tiba" jamak terjadi, yang makin kentara kala Scott menggerakkan film dengan tempo cepat. Tetap ada poin yang tersampaikan dengan kuat, yakni soal "Mana pihak yang benar?".

Jawabannya "tidak ada". Semua keliru. Semua terjerat keserakahan, sehingga saling berkhianat. Saling tusuk. House of Gucci adalah tragedi mengenai upaya saling menghancurkan didasari ketamakan, yang berakhir menghancurkan semuanya. Memang kelam, dan di sinilah masalah utama House of Gucci bermula: inkonsistensi tone.

Saya bisa membayangkan bagaimana Scott dan tim menilik materinya, lalu berujar, "Wow, this is absurd". Tragis, gelap, tetapi absurd. Ketimbang memilih, Scott justru meleburkan kedua sisi yang bak air dan minyak itu. Pengadeganan serius, plus color grading yang "dingin", membungkus momen-momen konyol, sebutlah pertemuan Patrizia dengan cenayang bernama Pina (Salma Hayek), yang selain meramal masa depan, juga mengirim mantera guna-guna untuk Maurizio. Tidak sinkron. 

Driver, Gaga, Irons, Pacino, Leto, semua bermain baik, namun masing-masing tokoh bagai berasal dari film berbeda. Maurizio dari film biografi serius yang mengingatkan pada perjalanan "good-boy-turns-bad" Michael Corleone di seri The Godfather, sedangkan Gaga dan Leto bersenang-senang memamerkan keeksentrikan.

Membingungkan. Inkonsisten. Paling tidak, pacing cepat Scott, biarpu mengorbankan kesolidan narasi, membuat durasi 157 menitnya tidaklah melelahkan. Pun tidak peduli seberapa kuat usaha Scott menekan sisi absurd filmnya agar tampak elegan, pada dasarnya House of Gucci sudah diberkahi materi warna-warni yang menarik diikuti. Andai saja Ridley Scott lebih dulu menonton makjang sebelum membuat film ini. 

REVIEW - ANNETTE

Sembilan tahun pasca Holy Motors, Leos Carax kembali, masih dengan surealisme soal "tortured self-destructive artist who wears green outfit", dalam sebuah musikal eksperimental. Tentu ini bukan La La Land (meski sekuen waltz di tengah badai bak versi kelam dari tarian Sebastian dan Mia di planetarium) maupun A Star is Born (walau sama-sama bicara soal rasa iri pria pada kesuksesan pasangannya). 

Tapi bukankah musikal sedikit banyak menyinggung surealisme? Orang-orang mendadak menyanyi bersama, tarian di atas awan selaku ekspresi romantika, semua itu bukan wajah realita. Melalui Annette, Carax ibarat meminjam kebebasan bertutur genrenya, untuk memfasilitasi gaya khas miliknya, guna menghidupkan cerita serta musik buatan Ron Mael dan Russell Mael dari duo rock Sparks (mereka bertiga turut menulis naskah filmnya). 

"So may we start?", begitu bunyi lirik lagu pembukanya, yang lalu dijawab oleh polisi patroli dengan singkat, "Don't try to start". Apakah ini sentilan atas "kegemaran" aparat merepresi pernyataan seniman? Entahlah, tapi memang betul, protagonis kita merupakan seniman. Jika Henry (Adam Driver) seorang komika, maka tunangannya, Ann (Marion Cotillard), adalah penyanyi sopran ternama. Hubungan mereka menggemparkan publik. Bahkan media memberi cap "Beauty and the bastard couple".

Tampil mengenakan bathrobe di atas panggung, Henry memancing tawa penonton lewat perangai dan materi yang penuh amarah serta kesedihan. Sementara Ann dipuja karena peran tragis yang menuntutnya selalu mati di akhir pertunjukkan. Mungkin di sinilah Henry mulai merasa, kenapa penderitaannya dipandang sebagai lelucon semata, namun "kematian" Ann justru membuatnya dicintai? 

Bahkan setelah kelahiran puteri mereka, Annette (diperankan boneka creepy, karena di luar pilihan estetik, nantinya banyak hal ekstrim harus dilalui si bayi), kegelisahan Henry malah membesar. Ketika popularitas Ann konsisten menanjak, karir Henry justru menukik akibat tendensinya menggila di atas panggung. 

Saya takkan membocorkan kejadian berikutnya, kecuali bahwa semakin jauh anda memasuki labirin berdurasi 140 menit ini, keanehan khas Leos Carax juga semakin kental. Durasi tersebut terlampau panjang? Mungkin, dan dibanding karya sang sutradara sebelumnya, fokus Annette cenderung kurang terjaga. Bila di Holy Motors Carax menelusuri sebuah gagasan, kali ini ada beberapa. 

Ambisius, dan pastinya, pretensius. Persoalan seperti "life imitates art", male insecurity, hingga proses anak memerdekakan diri dari orang tua guna menjadi individu yang utuh, bisa dipresentasikan menggunakan gaya yang lebih mudah diakses. Tapi pilihan gaya juga merupakan wujud kemerdekaan estetika sang sutradara. Dan kalau anda seperti saya yang mengagumi keabsurdan Holy Motors, Annette punya pesona yang sukar ditampik. 

Sebenarnya, ditinjau dari kacamata konvensional pun, film ini adalah musikal yang cukup mumpuni. Lagu-lagu opera rock catchy, hingga sekuen musikal imajinatif (adegan "kapal diterjang badai" yang jadi materi posternya menghasilkan sebuah tragedi bernuansa masif nan dramatis), semua bisa ditemukan. Di jajaran pemain, Driver dan Cotillard lebih dari sebatas alat penyampai ide (kerap terjadi pada banyak sajian sureal). Khususnya Driver, yang menangani hampir segala situasi (dan emosi) dengan tingkat intensitas 200%.


Available on KLIK FILM

STAR WARS: THE RISE OF SKYWALKER (2019)

Terpecahnya penggemar menjadi dua kubu akibat kontroversi Star Wars: The Last Jedi (yang saya beri nilai sempurna) berdampak panjang, bahkan hingga dua tahun kemudian saat sekuelnya, The Rise of Skywalker. Mengembalikan J. J. Abrams di kursi sutradara, penutup saga Skywalker yang membentang empat dekade ini terasa bak dibuat hanya sebagai jembatan antara kedua belah pihak. Hasilnya setengah-setengah. Masing-masing sisi mungkin bakal terhibur, namun menyisakan ketidakpuasan.

Beberapa tahun pasca The Last Jedi, Rey (Daisy Ridley) melanjutkan latihan Jedi bersama Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher “dihidupkan lagi” secara halus dengan menerapkan footage tak terpakai dari The Force Awakens), sedangkan Kylo Ren (Adam Driver), kini berstatus Supreme Leader, makin gencar berusaha menghancurkan Resistance, kali ini dengan tambahan kekuatan dari Palpatine (Ian McDiarmid). Tentu ini bukan spoiler, mengingat kembalinya mantan Emperor ini telah diumumkan sejak April.

Guna menggagalkan rencana tersebut, Rey, Finn (John Boyega) dan Poe Dameron (Oscar Isaac) harus melintasi galaksi, mengunjungi berbagai planet untuk mencari alat penunjuk jalan menuju dunia Sith. Tapi untuk menemukan lokasi alat itu, mereka harus lebih dulu memiliki sebuah belati yang mencantumkan informasi dalam Bahasa Sith kuno, dan seterusnya. Dibuat naskahnya oleh Abrams dan Chris Terrio (Argo, Batman v Superman: Dawn of Justice, Justice League), The Rise of Skywalker punya alur layaknya video game yang bergerak dari satu checkpoint ke checkpoint berikutnya.

Ringan cenderung monoton, separuh lebih durasinya jauh dari kesan sebuah babak pamungkas, meski akhirnya kita berkesempatan menghabiskan waktu bersama trio protagonisnya. Isaac mulai menemukan pijakan memerankan sosok ugal-ugalan, pun chemistry-nya dan Boyega melahirkan banyak banter menyenangkan. Sementara Ridley semakin solid menampilkan dilema batin Rey sembari menyukseskan tujuan trilogy barunya menyampaikan pesan empowerment. Ketangguhan Rey beraksi mengayunkan lightsaber menjadikannya layak mengemban peran jagoan utama blockbuster aksi sebesar Star Wars.

Sayang kebersamaan ini terlambat empat tahun. Andai ketiganya disatukan sejak The Force Awakens, mungkin tak sesulit ini bersimpati, dan akhir perjalanan mereka nantinya bakal memberi dampak emosi signifikan. Tapi para penggemar space opera, khususnya Star Wars akan tetap dipuaskan oleh visi Abrams mengeksekusi petualangan lintas planet, yang dibantu sinematografer langganannya sejak Mission: Impossible III (2006), Dan Mindel, membangun dunia imajinatif penuh keasingan serta pemandangan masif nan memukau.

Jika ditanya apakah saya merasakan haru sepanjang 142 menit filmnya, jawabannya, “Ya”. Apalagi deretan musik ikonik John Williams selalu ditempatkan dengan timing sempurna. Tapi daripada suatu dampak yang layak didapat dari penuturan drama memikat, mayoritas emosi itu dipicu momen-momen fan service pencipta nostalgia. Bukankah The Force Awakens melakukan hal serupa, bahkan lebih kental lagi mengandalkan nostalgia? Betul, tapi sebagaimana The Last Jedi ingin merevolusi, pembuka trilogi itu mengusung tujuan jelas, lalu secara total melangkah ke sana. Sedangkan sang penutup trilogi justru seperti kebingungan.

Berusaha memuaskan penggemar sepenuhnya berpotensi merusak bangunan kisah barunya, tetapi, meneruskan visi awal bisa semakin mengasingkan penggemar lama. Saya menyebut “visi awal”, sebab berbagai retcon terhadap poin-poin kontroversial film sebelumnya tampak jelas, alias ada perubahan di tengah jalan. Walau bersyukur melihat Rey tetap jadi sentral, penonton yang mengharapkan arah baru mungkin kecewa atas retcon tersebut, sebaliknya, penggemar bisa jadi bersuka cita menyaksikan doa mereka dikabulkan, namun Abrams dan tim masih menahan diri menggelontorkan fan service demi mengedepankan para protagonis baru (contohnya di klimaks).

Paling tidak standar keseruan Star Wars dalam aksi saling kejar di angkasa dan saling tebas memakai lightsaber berhasil dipenuhi oleh Abrams. Selain di elemen dramatis terkait kegamangan hati Kylo/Ben, Driver (bersama Ridley) merupakan figure yang terlihat meyakinkan melakoni adegan laga, membantu menjaga intensitas Star Wars: The Rise of Skywalker, yang meski secara keseluruhan tampil memadai, kualitasnya ada di jajaran menengah ke bawah dibanding installment lain.

MARRIAGE STORY (2019)

Charlie (Adam Driver) menjelaskan alasannya mencintai Nicole (Scarlett Johansson), lalu sejurus kemudian Nicole melakukan hal serupa, menjelaskan alasannya mencintai sang suami. Diiringi orkestra indah gubahan Randy Newman (Toy Story, Cars, The Meyerowitz Stories) yang membuat pendengarnya terbang ke awang-awang dibuai rasa cinta, rasanya seperti tengah menyaksikan awal sebuah romantika bahagia. Lalu begitu dalam sebuah flashback, Charlie berkata, “Let’s stop right there”, kebahagiaan itu ikut berhenti. Rupanya kata-kata pujian tadi berasal dari catatan yang ditulis keduanya atas perintah konselor di tengah proses mediasi karena pernikahan mereka bermasalah.

Sekuen pembuka itu berarti dua hal. Pertama, tentang kehandalan sutradara sekaligus penulis naskah Noah Baumbach (The Squid and the Whale, Frances Ha, The Meyerowitz Stories) membawa penonton ke dalam roller coaster emosi. Kedua, bahwa Marriage Story bukanlah soal betapa mengerikan suatu pernikahan, bukan pula sebatas paparan kepahitan, melainkan keseimbangan antara sisi positif dan negatif yang menegaskan kompleksitas pernikahan juga perasaan misterius bernama “cinta”.

Charlie merupakan sutradara kelompok teater avant garde di New York dengan Nicole menjadi aktrisnya. Nicole pernah merintis karir di industri film komersil, namun memilih mengesampingkannya pasca menikah. Setelah bertahun-tahun, Nicole mulai merasa kehilangan “dirinya”. Segala keputusan rumah tangga didasari pilihan Charlie, bahkan Nicole pelan-pelan “menjadi Charlie”. Bakal terasa aneh bagi Nicole andai Charlie bertanya “Apa yang mau kamu lakukan hari ini?”. Tentu pertanyaan itu tidak pernah terlontar.

Menyewa Nora Fanshaw (Laura Dern) selaku pengacara, Nicole menggugat cerai Charlie, membawa putera tunggal mereka Henry (Azhy Robertson) tinggal di rumah ibunya, Sandra (Julie Hagerty) di Los Angeles. Sedangkan Charlie menyewa jasa Bert Spitz (Alan Alda) setelah kurang puas pada pendekatan kurang manusiawi pengacara sebelumnya, Jay Marotta (Ray Liotta). Seiring para protagonisnya terjebak dilema antara “menang” dan “memanusiakan”, Marriage Story menyajikan perjalanan memilukan kala keduanya berebut hak asuh anak, melewati proses persidangan perceraian menyakitkan, terlibat pertengkaran berujung saling tuduh tentang siapa yang lebih bersalah. Tapi lebih memilukan saat secara subtil, Marriage Story menyiratkan jika mereka masih saling cinta.

Di situ kompleksitasnya bertempat. Mendengungkan ungkapan familiar “cinta saja tidak cukup”, Baumbach memastikan, di setiap langkah yang pasangan itu ambil, selalu ada kekhawatiran akan menyakiti satu sama lain. Tidak terkecuali pada puncak pertengkaran yang banyak dibicarakan itu, di mana Baumbach unjuk kebolehan terkait permainan intensitas, ketika perdebatan yang awalnya merupakan media Charlie dan Nicole meluapkan kejengahan terpendam (menciptakan kontradiksi dengan opening) berubah jadi ajang saling menyakiti.

Adegan tersebut juga merupakan klimaks performa dua pemeran utama. Memakai beberapa long take, Baumbach seolah menantang Johansson dan Driver mengolah rasa. Dan ketika mereka berhasil, kita bisa mengobservasi gradasi emosi yang mengalir natural. Driver yang pasif dan dipenuh ketidaksadaran, Johansson yang lebih agresif meski sejatinya tak kalah gamang, melahirkan sepasang manusia yang menggiring penonton mencicipi rasa sakit keduanya seiring tergerusnya hubungan mereka. Tidak kalah mengesankan adalah Laura Dern dalam penampilan berenergi yang bakal membuat anda takkan melupakan monolog menggelitik yang menautkan isu gender dengan kisah Yesus dan Maria.

Ya, menggelitik. Di samping tuturan menyakitkannya, Marriage Story, sebagaimana karya Baumbach lain, selalu menyertakan elemen komedik, yang terkadang seperti mengajak kita menertawakan kegetiran, misalnya kegaduhan pada proses penyerahan surat gugatan cerai Nicole untuk Charlie. Terkait tuturan drama, Baumbach yang banyak terinspirasi dari karya-karya Ingmar Bergman khususnya Persona (salah satu properti film ini adalah artikel tentang dua tokoh utamanya yang bertajuk Scenes from a Marriage, yang mana merupakan judul film Bergman), berhasil membangun keintiman melalui permainan ruang dalam mise-en-scène.

Performa maksimal tiap departemen memberi sang sutradara kemudahan menyampaikan visi, ibarat sesosok prajurit handal yang disediakan persenjataan lengkap. Akting mumpuni, efisiensi dan efektivitas posisi kamera, hingga ketepatan soal kapan scoring Newman mulai merambat masuk. Hasilnya adalah deretan peristiwa emosional menusuk hati, termasuk fase konklusi yang menyampaikan betapa saat urusan legalitas (pernikahan dan perceraian) tak menghadang, kejujuran rasa serta kebahagiaan individu bisa terungkapkan sebagaimana adanya. Mungkin Marriage Story tidak menyalahkan pihak mana pun, namun kita bisa lihat, siapa yang akibat keegoisannya berakhir jadi “manusia tak terlihat” dan “hantu” yang membayangi orang-orang tercintanya. Sebab cinta, apalagi pernikahan, merupakan dua gelas yang saling mengisi, bukan sebuah gelas mengisi penuh gelas satunya.


Available on NETFLIX

STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)

Lebih dari satu abad lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film mampu membuat terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, saat George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan baru tetapi perasaan dan perjuangan karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan seperti yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi dibutuhkan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk masalah batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) agar beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang kini tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memperlihatkan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi diam-diam untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) sampai Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis dialog penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik adalah penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa lama berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan talenta komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa menyampaikan pilu dan keramahan. Makhluk aneh yang dapat membuat penonton percaya mereka memiliki jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan maut melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi spesial karena menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, sikap seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, maut nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya memilih mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai sempurna setelah mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"

LOGAN LUCKY (2017)

Sekembalinya dari hiatus, Steven Soderbergh menyuguhkan antitesis dari film terlaris sepanjang karirnya, Ocean's Eleven. Masih tentang perampokan, hanya tanpa kemewahan, teknologi canggih, maupun keeleganan. Daripada ekspertis, karakternya merupakan sekumpulan orang kampung miskin berpakaian lusuh, cenderung bodoh, dengan seorang "ahli teknologi" yang tak bisa membedakan telepon genggam dan rumah, pula bangun kesiangan di Hari-H. Pun Soderbergh turut mengubah James Bond menjadi kriminal liar. Logan Lucky tampil keren dan mengasyikkan tanpa perlu berusaha keras menjadi keren dan sok asyik.

Dalam naskah buatan Rebecca Blunt  nama samaran Jules Asner, istri sang sutradara  Channing Tatum memerankan Jimmy Logan yang baru saja dipecat dari pekerjaan konstruksi serta terbentur masalah hak asuh dengan mantan istrinya, Jo (Katie Holmes). Terhimpit soal ekonomi, Jimmy berencana merampok brankas di sebuah arena balap NASCAR dengan bantuan kedua adiknya, Clyde (Adam Driver), bartender yang kehilangan tangannya di Irak juga percaya keluarga Logan dikutuk kesialan tak berujung dan Mellie (Riley Keough) si pegawai salon bermulut pedas. Turut direkrut adalah Joe Bang (Daniel Craig) yang tengah mendekam di penjara sebagai penyedia bahan peledak. 
Jimmy, selaku otak misi, muncul dengan "10 aturan perampokan" yang terdiri dari "have a plan", "have a back-up plan" sampai "shit happens", menandakan bahwa ia bukan seorang cerdas, sebagaimana cara filmnya menyusun heist, yang meski didasari perencanaan berlapis, keberhasilannya banyak melibatkan kebetulan dan kebodohan korban. Tapi filmnya memang tak mau berlagak pintar, dibuat sebagai hiburan semaunya. Jangan lupa, kita sedang menonton film berjudul "Logan Lucky", bukan "Logan Smart" atau "Logan Genius". 

Skenario Blunt (atau Asner) lebih rapi dari kelihatannya, mengandung struktur sangat solid dalam mengaitkan beragam narasi yang berjalan beriringan. Selain eksekusi perampokan, ada kembalinya pemmbalap Dayton White (Sebastian Stan), kontes yang diikuti puteri Jimmy, Sadie (Farrah Mackenzie), hingga kekacauan di penjara, yang berujung saling bertautan seiring penyelidikan oleh agen FBI, Sarah Grayson (Hilary Swank). Sesekali, balutan komedi berbasis absurditas situasi dan dialog ala Coen Brothers (tangan palsu yang terhisap mesin penyedot, obrolan mengenai Game of Thrones yang melewati bukunya) ikut meramaikan suasana.
Pasca tiga tahun absen, rupanya Soderbergh sama sekali belum kehilangan sentuhan, menggerakkan alur dengan semangat bersenang-senang penuh energi sembari tetap memperhatikan ketelitian bernarasi. Filmnya liar namun mudah dicerna, urung tersesat dalam alur serta kejutan berlapis miliknya. Mewakili jiwa Logan Lucky, ketimbang mengikuti template musik heist pada umumnya, iringan lagu-lagu country yang lebih renyah dan "mentah", dengan Take Me Home, Country Roads sebagai jiwa inti pun diterapkan, menghasilkan perbedaan sisi estetika yang istimewa. 

Kekuatan Soderbergh dalam hal mengarahkan ensemble cast juga masih jelas terpampang, memberi kesempatan bersinar tiap-tiap dari mereka. Tatum dengan aksen Southern-nya, Driver dengan ketertutupan yang canggung, dan Craig selaku pencuri perhatian melalui sisi eksentrik penghilang kekhawatiran jika James Bond membatasi jangkauan perannya. Bahkan peran-peran kecil yang dilakoni Seth MacFarlane dan Hilary Swank pun urung berlalu tanpa kesan. Nama yang disebut terakhir mencuatkan potensi terkait sekuel menarik walau perolehan Box Office rasanya membunuh harapan itu. Tapi bagi Soderberg yang merevolusi sinema independen lewat Sex, Lies, and Videotape, berani membuat ulang Solaris-nya Tarkovsky, dan menjadikan Sasha Grey pemain utama di The Gilrfriend Experience, tak ada kemustahilan.