Tampilkan postingan dengan label Will Fetters. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Will Fetters. Tampilkan semua postingan

REVIEW - HUSTLE

Hustle bergerak mengikuti pola drama olahraga bertema from-zero-to-hero, formulaik, tapi kuatnya kesan otentik membuat karya sutradara Jeremiah Zagar ini tampil menarik. Bukti bahwa secanggih apa pun teknologi industri perfilman, manusia-manusia di dalamnya tetaplah aspek terpenting.

Salah satu keotentikan dibawa oleh Adam Sandler, yang kembali melakoni peran dramatik setelah Uncut Gems (2019), dengan memerankan Stanley Sugerman, pencari bakat tim basket Philadelphia 76ers. Waktunya dipakai berkeliling dunia, berburu bakat terpendam di berbagai negara. 

Tentu kekecewaan kala mendapati seorang pemain ternyata tak sehebat yang dijanjikan lebih banyak ia dapat. Pekerjaan itu menuntut Stanley jauh dari sang istri, Teresa (Queen Latifah), serta puteri tunggalnya, Alex (Jordan Hull), yang tak pernah Stanley hadiri perayaan ulang tahunnya. Dia lelah dan frustrasi. 

Hanya Rex Merrick (Robert Duvall) selaku pemilik 76ers yang benar-benar memahami talenta Stanley, yang telah lama bermimpi menjadi "part of the game" sebagai pelatih. Rex memberi posisi asisten pelatih kepada Stanley, sebelum ia meninggal dan digantikan oleh puteranya, Vince (Ben Foster). Vince membenci Stanley, bahkan kembali mengirimnya pergi untuk mencari bakat. 

Sandler's good at being lifeless. Ketika gaya itu membuat penampilannya di beberapa film komedi belakangan dianggap malas, di Hustle justru itulah aset terbesarnya. Sandler meyakinkan sebagai pria yang akrab betul dengan kekecewaan, hingga mengubur segala impian. Otentik. Bisa saja beberapa penonton mengira sosok Stanley Sugerman benar-benar ada, dan Hustle merupakan biografi. 

Kunjungan Stanley ke Spanyol mengubah segalanya. Dia menemukan Bo Cruz (Juancho Hernangómez), yang memenuhi semua standar Stanley soal "mercurial talent". Bo bukan atlet profesional. Dia cuma pekerja konstruksi yang mengabdikan hidupnya bagi sang puteri. Tatkala ia menerima tawaran uji coba ke Amerika pun, itu dilakukan demi si buah hati. Bo adalah pria sederhana dengan alasan sederhana, yang malah menjadikannya protagonis likeable. 

Hernangómez adalah atlet NBA asli, sehingga kapasitas akting tentu bukan keunggulannya. Keotentikan akting sudah Sandler hadirkan, dan Juancho Hernangómez (juga banyak atlet NBA lain dari berbagai masa yang terlibat dalam beraneka peran di Hustle) membawa keotentikan lain, yakni kemampuan mengolah bola. 

Berkat mereka, sutradara Jeremiah Zagar terfasilitasi untuk melahirkan sekuen basket semeyakinkan mungkin, tanpa harus menerapkan terlalu banyak trik manipulatif. Dia pun mampu menciptakan training montage berkualitas, yang alih-alih terasa instan sebagai bentuk memenuhi kewajiban suatu drama olahraga, berhasil menggambarkan proses keras protagonisnya. Di montage tersebut, kita melihatnya berprogres. 

Naskah buatan Taylor Materne dan Will Fetters menggunakan formula klise "internet menyelesaikan semua masalah", tapi setidaknya, apa yang mereka sajikan tak senaif dan "seajaib" banyak film dengan pilihan narasi serupa, karena adanya uluran bantuan dari pihak lain. Lubang terbesar naskah justru terletak di third act.

Sebagai pemain, Bo nyaris sempurna. Hanya saja, ia terlalu sensitif. Fokusnya gampang dipecah oleh manipulasi lawan. Rivalnya, Kermit Wilts (Anthony Edwards), kerap menggunakan teknik tersebut, yang berujung pada kegagalan Bo. Tapi di uji coba terakhir, Kermit tiba-tiba membuang metode itu, bak berubah jadi sosok berbeda, yang melemahkan narasi perihal proses Bo menangani dinamika emosinya. Patut disayangkan mengingat Hustle begitu mengedepankan keotentikan, dan bagian-bagian lain filmnya pun tampil menghibur berkat tempo cepat dalam pengarahan bertenaga Jeremiah Zagar.   

(Netflix)

A STAR IS BORN (2018)

Pertanyaan yang tercetus begitu mendengar pembuatan film yang juga debut penyutradaraan Bradley Cooper ini adalah, “Untuk apa?”. Sebab ini merupakan remake ketiga dari film berjudul sama rilisan 1937, bahkan keempat jika menghitung Aashiqui 2 (2013) yang diproduksi Bollywood. Tapi Cooper, selain membuktikan kapasitasnya menghasikan karya mumpuni, pula menunjukkan bagaimana mestinya remake dibuat. Turut menulis naskahnya bersama Eric Roth (Forrest Gump, The Curious Case of Benjamin Button) dan Will Fetters, Cooper mempertahankan akar semangat film aslinya, menggabungkan poin-poin terkuat sekaligus memperbaiki berbagai elemen problematik yang dimiliki tiap versi. A Star is Born teranyar ini bagai album kompilasi terbaik yang tela di-remaster.

Momen pertamanya langsung menampakkan itu, saat berbeda dibanding karakter yang diperankan James Mason maupun Kris Kristofferson, Jackson Maine (Bradley Cooper) adalah pemabuk fungsional. Walau senantiasa teler, sang penyanyi country ternama sanggup menyajikan konser yang bukan saja berjalan mulus, juga berkesan bagi penonton. Walau nantinya, Bobby (Sam Elliott) selaku manajer menyebut bahwa itu bukanlah puncak performa seorang Jackson Maine.

Naskahnya memaparkan latar belakang untuk perilaku Jack, yang mundur hingga ke masa kecilnya tatkala sang ayah menjadikannya “teman minum”. Singkatnya, masa lalu Jack keras dan tak begitu menyenangkan. Tapi sekali lagi, Jack seorang pemabuk fungsional. Dia bisa tiba di lokasi tepat waktu (pencapaian sederhana yang bahkan tak mampu dicapai tokoh-tokoh versi terdahulu), bahkan terlibat obrolan kasual dengan sopirnya, membicarakan anak karyawannya itu. Penggemar Jack tidak memperlakukannya sebagai manusia, melainkan barang yang bisa mereka foto kapan saja, di mana saja. Jack hanya pasrah, menerimanya, meski itu membuat hidupnya makin kosong, sepi, dengan minuman keras jadi satu-satunya pelarian.

Suatu malam, di tengah kebutuhannya atas alkohol, Jack tidak sengaja memasuki drag bar. Di situlah ia bertemu Ally (Lady Gaga), yang kebetulan tengah tampil, mengenakan dandanan ala drag queen, menyanyikan La Vie en rose layaknya diva. Jack langsung jatuh hati, dan setelah mengobrol beberapa lama, Ally mengaku jika orang-orang berpikir ia jago bernyanyi, bahkan menulis lagu, tapi mereka tak menyukai wajahnya, khususnya bagian hidung yang dianggap terlalu besar.

Ini salah satu penyesuaian yang membuat A Star is Born versi baru ini terasa relevan dengan dunia sekarang. Ally merasa nyaman bernyanyi di drag bar, karena di sana, tidak ada yang menghakimi tampilan fisiknya. Besar kemungkinan, seluruh karyawan bar itu pun pernah jadi korban ketidakadilan sosial. Tempat itu memberikan rumah, di mana mereka bebas menjadi diri sendiri, dan talenta jadi hal terpenting.

Setelahnya, Jack dan Ally membawa kita menuju perjalanan soal cinta murni, tatkala sepasang kekasih saling mencintai bukan saja dikarenakan ketertarikan fisik, juga hal-hal di “bagian dalam” termasuk talenta. Berkat penulisan dialog naskahnya, interaksi Jack-Ally terasa dinamis, hidup, lovable, bahkan sesekali menggelitik sehingga kita berkesempatan tertawa bersama mereka. Sementara tugas menghidupkan interaksi tersebut secara natural dilaksanakan dengan baik oleh Cooper dan Gaga lewat chemistry tak terbantahkan. Dua pemeran utama ini bicara tak hanya lewat mulut, pula mata dan bahasa tubuh yang mencuatkan intensitas sensual.

Jack menyukai suara Ally serta lagu ciptaannya yang berjudul Shallow (single perdana album soundtrack film ini). Rasa suka Jack nantinya berujung pada momen emosional sewaktu Jack mengajak Ally berduet di atas panggung dalam salah satu konsernya. Momen itu spesial, salah satunya karena film A Star is Born lain tak memilikinya. Ada mentoring sampai “passing the torch”, namun kedua protagonis tidak pernah berbagi panggung (atau layar, versi 1954 mengambil latar industri film) lalu bicara hati ke hati di sana. Dengan demikian, hubungan mereka lebih setara, antara dua manusia yang terkoneksi sembari saling mengisi.

Sebagai aktor, serupa yang ia munculkan di adegan-adegan sebelumnya, tatapan Cooper kala Ally menguasai panggung memancarkan cinta dan kekaguman. Sedangkan sebagai sutradara, ia memilih menyoroti ruang personal seorang seniman yang dikuasai bermacam emosi ketimbang euforia konsernya, menjadikan sekuen ini terasa intim walau ribuan manusia tumpah ruah di situ. Gaga membuat saya mempercayai ketegangan, haru, dan ketidakpercayaan yang berkecamuk di hati Ally, alih-alih terlihat bak diva glamor yang berpura-pura terlihat polos layaknya Barbra Streisand di film 1976.

Apabila sudah menonton A Star is Born versi sebelumnya, atau film-film serupa yang tentunya gampang ditemukan, tentu anda tahu kebahagiaan di atas takkan berjalan lama. Rekaman penampilan Ally viral, produser menawarinya membuat album solo, dan seketika namanya melambung. Bintang baru telah lahir. Sebaliknya, Jack terjerumus makin jauh ke dalam alkoholisme. Namun saat tokoh utama pria dalam A Star is Born lain hancur akibat kejatuhan karir mereka ditambah keirian melihat wanita yang dibesarkan namanya justru mengalahkan popularitasnya, Jack berbeda. Tersimpan alasan-alasan yang lebih kompleks.

Dia tergeser dari status penampil utama menjadi gitaris pengiring untuk para penyanyi baru, terlibat pertengkaran dengan sang manajer, pendengarannya memburuk (bagai kiamat bagi seorang penyanyi), pula keprihatinan mendapati imej karir solo Ally (bintang pop yang lebih mengandalkan gimmick, lagu elektronik berlirik dangkal, penari latar, hingga kostum mencolok ketimbang talenta suara). Ya, Jack terluka bukan diakibatkan Ally menyalip kesuksesannya, melainkan kesedihan menyaksikan cintanya dilahap oleh tuntutan industri. Semua itu belum termasuk masa lalu yang selalu menghantuinya.

Seiring waktu, kita diajak mempelajari bahwa masa lalu Jack jauh lebih kelam dari yang kita duga. Film ini bukan berusaha mengajak penonton menjustifikasi sikapnya (alkoholisme Jack jelas keliru), melainkan memahaminya. Memahami jika Jack bukan sosok kurang ajar nan egois, tetapi pria rapuh yang terjebak trauma masa lalu dan membutuhkan uluran tangan. Alhasil usaha menyayat hati penonton melalui konklusinya pun berhasil, terlebih saat Cooper dengan cakap merangkai momen mencekik dengan memanfaatkan keheningan dan bicara memakai bahasa visual.

Ditutup oleh I’ll Never Love Again yang dibawakan dengan menyentuh oleh Lady Gaga, Bradley Cooper telah menciptakan film yang efektif merebut hati penonton umum, namun bakal lebih dicintai dan dikagumi oleh mereka yang telah mencicipi versi-versi sebelumnya, terkait bagaimana Cooper memilah poin mana yang harus ia terapkan, mana yang harus diperbaiki, mana yang ditinggalkan. “Music is essentially 12 notes between any octave. Twelve notes, and the octave repeats. It’s the same story told over and over, forever. All any artist can offer the world is how they see those 12 notes.”, demikian ungkap Bobby kepada Ally di suatu kesempatan. Bagaimana Bradley Cooper memandang, kemudian mengolah 12 oktaf yang telah berulang kali dipakai sungguh mengagumkan.