Tampilkan postingan dengan label Bradley Cooper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bradley Cooper. Tampilkan semua postingan

REVIEW - LICORICE PIZZA

Status auteur memberi kebebasan membuat film apa saja. Kritikus dan cinephile bakal berpikir dua kali untuk memberi cap "buruk" bagi karya para auteur. Entah didorong kekhawatiran disebut "gagal paham", atau keyakinan "filmnya pasti bagus". 

Licorice Pizza dihantam beberapa kontroversi. Hubungan wanita 25 tahun dengan remaja 15 tahun yang jadi sentral cerita dianggap romantisasi terhadap pedofilia. Tudingan rasisme pun diterima akibat ada karakter berbicara memakai aksen yang mengolok-olok orang Asia. Tapi toh film ini tetap banjir pujian, bahkan menyabet tiga nominasi Academy Awards termasuk Best Picture. 

Mari bayangkan, andai Licorice Pizza bukan hasil karya auteur macam Paul Thomas Anderson. Jangankan berakhir dipuja, saya tak yakin filmnya bakal diproduksi. PTA bisa melenggang karena para pengamat bersedia "repot-repot" menganalisis lebih dalam, didasari pemikiran, "Seorang Paul Thomas Anderson mustahil berbuat demikian". 

Benar atau tidak filmnya problematik itu kembali pada kepercayaan tiap penonton, tapi PTA jelas sengaja bermain-main di garis batas. Naskahnya mengambil latar 1973 (terinspirasi dari Gary Goetzman yang memulai memulai karir sebagai aktor cilik di masa tersebut). Sebuah era penuh keliaran dilihat dari sisi mana pun. 

Gary Valentine (Cooper Hoffman), aktor berumur 15 tahun, jatuh cinta pada Alana Kane (Alana Haim), asisten fotografer berumur 25 tahun. Selisih usia, ditambah fakta kalau Gary masih di bawah umur, membuat Alana enggan menjalin hubungan. Mereka pun akhirnya cuma berteman. Pertemanan rumit yang melibatkan kecemburuan, bisnis-bisnis nekat, seluk-beluk industri perfilman, hingga setumpuk fenomena sosial 70an.

Dipandang melalui kacamata filmis, meski merupakan karya paling cerah dan ringan dari PTA, sama sekali tidak kehilangan sentuhan briliannya. Seperti biasa, sang sutradara sekaligus penulis naskah menolak teknik narasi konvensional. Alur tersusun atas fragmen demi fragmen yang seolah saling terpisah. Bukan wujud penuturan buruk, namun kesengajaan guna menggambarkan bagaimana tangkapan memori bekerja. Mungkin serupa keping-keping kenangan dalam album foto.

Penyuntingan Andy Jurgensen menciptakan kesan "ketidakrapian yang rapi", sembari menambah sentuhan unik lewat beberapa transisi. Tidak jarang penonton akan mengira masih menyaksikan adegan yang sama, hanya untuk kemudian mendapati latar waktu dan tempat sudah berganti. Kecerdikan PTA memilih shot turut membantu eksekusi trik itu.

Sekuen terbaiknya adalah puncak dari segmen yang mempertemukan Gary dan Alana dengan Jon Peters (Bradley Cooper) si produser eksentrik. Seperti saya sebut di atas, kisahnya melibatkan bisnis-bisnis nekat yang lahir dari kepala Gary. Salah satunya berjualan kasur air. Ketika proses pemasangan kasur di rumah Peters berujung kekacauan, keduanya terjebak dalam aksi kejar-kejaran (well, kind of).

Alana duduk di balik kemudi truk. Tanpa bahan bakar (krisis minyak sedang menghantam), di tengah area perbuktikan curam nan berliku. Keputusan yang ia ambil berjasa melahirkan sekuen kebut-kebutan unik, intens, juga lucu, yang turut mewakili proses protagonisnya. Menjalani fase kehidupan gila di tengah masa yang jauh lebih gila, mereka cuma bisa berjalan dengan prinsip "you gotta roll with it", sambil tetap menjaga agar tidak keluar jalur.

Cooper Hoffman dan Alana Haim sama-sama memikat memerankan dua muda-mudi beda usia dalam satu dilema. Gary sedang bertransisi. Walau masih di bawah usia legal, ia bukan lagi bocah. Dia belum cukup dewasa untuk minum alkohol atau terlibat aktivitas seksual, tapi jelas bukan lagi bocah sebagaimana aktor cilik lain. Alana merasa harus mulai menata hidupnya dan memberi kontribusi lebih, tapi ia masih bergaul bersama para remaja. 

Kembali ke kontroversi yang filmnya hadapi. Saya setuju bila hubungan dua tokoh utama tergolong percintaan polos tanpa tendensi romantisasi. Tapi bagaimana dengan hal lain? PTA memandang Licorice Pizza sebagai potret apa adanya bagi suatu masa. Perspektif seksis di banyak lini (marketing bisnis, industri film, dll.) hingga cultural appropriation jadi gambaran realita. Tidak keliru. Tapi apakah seluruhnya diperlukan guna memperkuat narasi utama?  

Mendekati akhir, kondisi terkait gay yang mesti menyembunyikan orientasi seksual mereka ikut dibahas. PTA membuat protagonisnya memberi respon heartful, tatkala mayoritas publik bersikap sebaliknya. Artinya, di situ PTA menunjukkan kuasa selaku pembuat karya, yang mempunyai kebebasan membentuk dunia sesuai keinginan. Anggapan "potret realita apa adanya" terdengar seperti dalih individu yang berlagak tidak berdaya padahal memegang kuasa. Licorice Pizza adalah film dengan craftmanship kelas wahid, tapi sebagai auteur, PTA semestinya bisa bersikap lebih bijak.

(iTunes)

REVIEW - NIGHTMARE ALLEY

Di sebuah kesempatan, protagonis Nightmare Alley dibaca garis nasibnya memakai kartu tarot. Hasilnya, ia bakal tertimpa nasib buruk. Keburukan seperti apa? Begitulah rasanya menonton film ini. Mengetahui bagaimana noir bekerja, kita tahu tragedi menanti, namun rupanya tak diketahui. Sama seperti ketidaknyamanan kala menyusuri gang gelap di tengah malam. Seolah ada yang siap menerkam, tapi entah apa. 

Karya terbaru Guillermo del Toro ini, yang naskahnya dia tulis bersama Kim Morgan selaku adaptasi layar lebar kedua bagi novel berjudul sama buatan William Lindsay Gresham (versi pertamanya rilis tahun 1947), adalah tontonan sarat foreshadowing, yang bertujuan menelusuri sisi kelam manusia, serta bagaimana putaran takdir seolah enggan mengalah, lalu ingin memamerkan betapa kelam ironi yang dibawanya.

Protagonis kita bernama Stan (Bradley Cooper). Di sekuen pembuka, Stan membakar rumahnya, bersamaan dengan tubuh yang terbungkus kain. Apakah ia pembunuh? Ataukah penonton sedang dikecoh? Pastinya Stan bukan pria polos. Kematian tak asing baginya, sehingga ini pun bukan kisah hilangnya kepolosan individu. 

Stan tiba di kelompok sirkus milik Clem (Willem Dafoe). Salah satu aksi andalan mereka adalah geek show, di mana pria berpenampilan kumuh menggigit kepala ayam hidup. Aksi ini dahulu marak dilakukan, dan sang penampil, yang biasanya tanpa talenta apa pun, bersedia direndahkan demi asupan opium dan/atau alkohol. Stan bertanya-tanya, "Bagaimana bisa ada manusia yang terjatuh sedemikian dalam?". 

Kerlap-kerlip lampu karnaval di malam hari, pencahayaan temaram, ditangkap oleh kamera Dan Laustsen, sinematografer yang sudah empat kali berkolaborasi dengan del Toro. Cantik sekaligus misterius. Serupa karya-karya sang sutradara biasanya, namun Nightmare Alley bagai melangkah di garis batas antara magisnya dunia fantasi dan realita. 

Tapi tiada monster di sini. Hanya ada manusia-manusia, yang dianggap monster oleh sesamanya (geek, janin bermata tiga bernama "Enoch" yang diawetkan dalam toples). Pula tidak ada sihir. Hanya ada rangkaian trik yang dilakukan sedemikian meyakinkan sampai tampak bak keajaiban. 

Salah satunya cold reading, yang dipelajari Stan dari pasangan suami-istri, Pete (David Strathairn) dan Zeena (Toni Collette). Berbekal metode rumit, mereka bisa menebak benda apa yang orang lain pegang dengan mata tertutup, bahkan membaca sejarah di baliknya. Del Toro seperti punya ketertarikan tinggi akan praktek tersebut (dan pertunjukan sirkus secara umum), lalu dengan antusias mengajak kita menelisik seluk beluknya. 

Salah satu poin terbaik Nightmare Alley adalah tiap mempresentasikan detail pertunjukan, yang tak jarang menutupi lubang penceritaan. Jika versi 1947 cuma berdurasi 111 menit, maka versi del Toro berjalan hingga dua setengah jam. Terlalu panjang, pun tidak jarang kisahnya hilang arah.

Ada istilah "kill your darlings", yang merujuk pada keharusan penulis untuk berani menghilangkan bagian alur, adegan, atau kalimat yang dirasa kurang signifikan. Del Toro dan Morgan bak enggan melakukannya, hingga penceritaannya, terlebih di paruh pertama, seperti sedang menaiki komidi putar yang tidak pernah berhenti. 

Cukup lama pula sampai kisahnya memasuki ranah romansa. Stan jatuh cinta pada Molly (Rooney Mara) si "gadis listrik", mengajak sang pujaan hati turut serta dalam upayanya mengejar mimpi, yang jadi titik balik film. Nantinya Stan juga berurusan dengan Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett), seorang psikolog. Blanchett menghipnotis layaknya femme fatale khas noir.

Semakin jauh Stan melangkah, semakin kentara apa yang menantinya di ujung gang gelap. Sekali lagi, tidak ada monster. Bagi Stan, monster itu justru dirinya sendiri. Seorang pria dengan father issue, yang berujung menjadi sesuatu yang amat dia benci. Tatkala kebohongan tidak lagi dapat dikendalikan, si pembohong pun mulai memercayai kebohongan itu, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang ia wujudkan sendiri. 

Babak akhirnya membawa filmnya menyuguhkan beberapa kekerasan, tapi hal paling mengerikan justru bukan berasal dari pertumpahan darah, melainkan ironi takdir di penghujung cerita. Tawa Cooper di shot penutup saat karakternya (dan penonton) menyadari ironi tersebut, terdengar sangat mengiris, juga menghantui, sebab kita pun bisa saja bernasib serupa. Penuturan Nightmare Alley memang tergolong lemah dibanding deretan karya Guillermo del Toro lain, namun konklusinya salah satu yang paling menusuk.

THE MULE (2018)

Melalui The Mule, Clint Eastwood menciptakan dunia yang mengedepankan code of honor. Hampir semua karakter saling memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat, walau mereka adalah kartel narkoba kejam, atau polisi dan sang buruan. Hasilnya adalah film kriminal yang lembut meski tak jarang perih, senada dengan situasi hidup protagonisnya yang telah berusia 90 tahun.

Apakah gambaran tersebut terlalu naif untuk mewakili kejamnya dunia sekarang? Mungkin The Mule bukan potret akurat, tapi pilihan itu pun bukannya tanpa tujuan. Earl Stone (Clint Eastwood)—yang sosoknya dibuat berdasarkan artikel The New York Times berjudul The Sinaloa Cartel's 90-Year-Old Drug Mule mengenai kisah hidup Leo Sharp—diperlakukan dengan baik, bahkan pelan-pelan tampak akrab dengan anggota kartel tempatnya bekerja sebagai kurir narkoba. Tapi kondisinya berbanding terbalik jika membicarakan keluarga, yang selama bertahun-tahun jarang ia perhatikan.

Jangankan acara makan bersama, Earl bahkan absen dari pernikahan puterinya. Dia menyibukkan diri dalam pekerjaan, entah melanglang buana di jalan atau menanam bunga di kebun. Pesannya jelas: Anda takkan sepenuhnya jadi orang terhormat bila belum memperlakukan keluarga dengan baik. Karena keluarga wajib dinomorsatukan.

Tapi bagaimana pria 90 tahun bisa menjadi kurir narkoba? Pertama, ia terbiasa berkendara jarak jauh di jalanan (pernah mengunjungi 47 dari total 51 negara bagian) sehingga ia paham mana metode yang terbaik. Kedua, siapa bakal mencurigai pria tua? Ketika polisi menghampirinya, berkat sedikit trik cerdik, Earl sanggup lolos biarpun seekor anjing K9 turut berada di sana. Tidak butuh waktu lama, Earl merebut tahta kurir terbaik pasca secara konsisten, mengirim ratusan kilogram narkoba setiap bulan.

Awalnya, Earl bersedia mengambil pekerjaan itu akibat tak lagi memiliki tujuan setelah rumah dan kebunnya disita. Sampai tujuan-tujuan sederhana yang menginjeksi The Mule dengan bobot rasa mulai ia temukan, sebutlah membantu biaya kuliah dan pernikahan sang cucu (Taissa Farmiga) hingga menghidupkan lagi bar tempat berkumpulnya para veteran.

Eastwod sempurna mengisi peran sebagai Earl, si pria tua tangguh yang demi kelancaran misinya berlagak rapuh di luar, walau sejatinya ia memang rapuh di dalam. Wajah keras yang jadi ciri khasnya masih terpampang jelas, namun kini, di usia 88 tahun fisiknya jelas makin lemah. Dibanding kemunculan terakhirnya sebagai aktor di Trouble with the Curve tujuh tahun lalu, sang legenda nampak ringkih, yang justru ia manfaatkan untuk memperkuat performanya. Gestur, ekspresi, hingga tutur kata Eastwood mencerminkan beragam kebimbangan serta penyesalan seorang pria di hari tua.

Sulit menahan pertanyaan, “Dari mana datangnya energi dan dedikasi itu?”. Sebab untuk pertama kali sejak Gran Torino 10 tahun lalu, Eastwood melakoni peran ganda sebagai aktor sekaligus sutradara. Selaku sutradara, pengalaman empat dekade Eastwood bisa kita rasakan. Dia enggan memaksakan dramatisasi. Momen paling menyentuh hadir lewat obrolan hati ke hati sederhana namun penuh kejujuran, sedangkan pertemuan pertama Earl dengan Colin Bates (Bradley Cooper), agen DEA yang ditugaskan meringkusnya, terjadi dalam situasi yang sangat kasual tapi meninggalkan kesan kuat.

Naskah garapan Nick Schenk (Gran Torino, The Judge)—yang bersedia melontarkan barisan celetukan menggelitik meski sarat kontemplasi—juga bertutur soal sosok dari masa lalu yang tak ubahnya fosil hidup, yang coba berubah mengikuti perkembangan. Earl tidak bisa mengirim SMS, membenci internet, baru mengenal Dykes on Bikes, juga secara kasual melontarkan ucapan bernada rasisme. Sepanjang jalan mengantarkan narkoba, Earl menyaksikan dunia modern yang baru dikenalnya, lalu dengan senang hati menyesuaikan diri.

The Mule bagai sikap pria tua terhadap kalimat “Live your life to the fullest”. Earl selalu berusaha menikmati hidup sebisa mungkin, dan ia terpaksa membayar itu dengan kehilangan keluarga. Dan tidakkah begitu besar rasa sakit juga penyesalan yang menghampiri begitu kita menyadari itu, tetapi terlanjur kehabisan waktu guna menebus segalanya?  

A STAR IS BORN (2018)

Pertanyaan yang tercetus begitu mendengar pembuatan film yang juga debut penyutradaraan Bradley Cooper ini adalah, “Untuk apa?”. Sebab ini merupakan remake ketiga dari film berjudul sama rilisan 1937, bahkan keempat jika menghitung Aashiqui 2 (2013) yang diproduksi Bollywood. Tapi Cooper, selain membuktikan kapasitasnya menghasikan karya mumpuni, pula menunjukkan bagaimana mestinya remake dibuat. Turut menulis naskahnya bersama Eric Roth (Forrest Gump, The Curious Case of Benjamin Button) dan Will Fetters, Cooper mempertahankan akar semangat film aslinya, menggabungkan poin-poin terkuat sekaligus memperbaiki berbagai elemen problematik yang dimiliki tiap versi. A Star is Born teranyar ini bagai album kompilasi terbaik yang tela di-remaster.

Momen pertamanya langsung menampakkan itu, saat berbeda dibanding karakter yang diperankan James Mason maupun Kris Kristofferson, Jackson Maine (Bradley Cooper) adalah pemabuk fungsional. Walau senantiasa teler, sang penyanyi country ternama sanggup menyajikan konser yang bukan saja berjalan mulus, juga berkesan bagi penonton. Walau nantinya, Bobby (Sam Elliott) selaku manajer menyebut bahwa itu bukanlah puncak performa seorang Jackson Maine.

Naskahnya memaparkan latar belakang untuk perilaku Jack, yang mundur hingga ke masa kecilnya tatkala sang ayah menjadikannya “teman minum”. Singkatnya, masa lalu Jack keras dan tak begitu menyenangkan. Tapi sekali lagi, Jack seorang pemabuk fungsional. Dia bisa tiba di lokasi tepat waktu (pencapaian sederhana yang bahkan tak mampu dicapai tokoh-tokoh versi terdahulu), bahkan terlibat obrolan kasual dengan sopirnya, membicarakan anak karyawannya itu. Penggemar Jack tidak memperlakukannya sebagai manusia, melainkan barang yang bisa mereka foto kapan saja, di mana saja. Jack hanya pasrah, menerimanya, meski itu membuat hidupnya makin kosong, sepi, dengan minuman keras jadi satu-satunya pelarian.

Suatu malam, di tengah kebutuhannya atas alkohol, Jack tidak sengaja memasuki drag bar. Di situlah ia bertemu Ally (Lady Gaga), yang kebetulan tengah tampil, mengenakan dandanan ala drag queen, menyanyikan La Vie en rose layaknya diva. Jack langsung jatuh hati, dan setelah mengobrol beberapa lama, Ally mengaku jika orang-orang berpikir ia jago bernyanyi, bahkan menulis lagu, tapi mereka tak menyukai wajahnya, khususnya bagian hidung yang dianggap terlalu besar.

Ini salah satu penyesuaian yang membuat A Star is Born versi baru ini terasa relevan dengan dunia sekarang. Ally merasa nyaman bernyanyi di drag bar, karena di sana, tidak ada yang menghakimi tampilan fisiknya. Besar kemungkinan, seluruh karyawan bar itu pun pernah jadi korban ketidakadilan sosial. Tempat itu memberikan rumah, di mana mereka bebas menjadi diri sendiri, dan talenta jadi hal terpenting.

Setelahnya, Jack dan Ally membawa kita menuju perjalanan soal cinta murni, tatkala sepasang kekasih saling mencintai bukan saja dikarenakan ketertarikan fisik, juga hal-hal di “bagian dalam” termasuk talenta. Berkat penulisan dialog naskahnya, interaksi Jack-Ally terasa dinamis, hidup, lovable, bahkan sesekali menggelitik sehingga kita berkesempatan tertawa bersama mereka. Sementara tugas menghidupkan interaksi tersebut secara natural dilaksanakan dengan baik oleh Cooper dan Gaga lewat chemistry tak terbantahkan. Dua pemeran utama ini bicara tak hanya lewat mulut, pula mata dan bahasa tubuh yang mencuatkan intensitas sensual.

Jack menyukai suara Ally serta lagu ciptaannya yang berjudul Shallow (single perdana album soundtrack film ini). Rasa suka Jack nantinya berujung pada momen emosional sewaktu Jack mengajak Ally berduet di atas panggung dalam salah satu konsernya. Momen itu spesial, salah satunya karena film A Star is Born lain tak memilikinya. Ada mentoring sampai “passing the torch”, namun kedua protagonis tidak pernah berbagi panggung (atau layar, versi 1954 mengambil latar industri film) lalu bicara hati ke hati di sana. Dengan demikian, hubungan mereka lebih setara, antara dua manusia yang terkoneksi sembari saling mengisi.

Sebagai aktor, serupa yang ia munculkan di adegan-adegan sebelumnya, tatapan Cooper kala Ally menguasai panggung memancarkan cinta dan kekaguman. Sedangkan sebagai sutradara, ia memilih menyoroti ruang personal seorang seniman yang dikuasai bermacam emosi ketimbang euforia konsernya, menjadikan sekuen ini terasa intim walau ribuan manusia tumpah ruah di situ. Gaga membuat saya mempercayai ketegangan, haru, dan ketidakpercayaan yang berkecamuk di hati Ally, alih-alih terlihat bak diva glamor yang berpura-pura terlihat polos layaknya Barbra Streisand di film 1976.

Apabila sudah menonton A Star is Born versi sebelumnya, atau film-film serupa yang tentunya gampang ditemukan, tentu anda tahu kebahagiaan di atas takkan berjalan lama. Rekaman penampilan Ally viral, produser menawarinya membuat album solo, dan seketika namanya melambung. Bintang baru telah lahir. Sebaliknya, Jack terjerumus makin jauh ke dalam alkoholisme. Namun saat tokoh utama pria dalam A Star is Born lain hancur akibat kejatuhan karir mereka ditambah keirian melihat wanita yang dibesarkan namanya justru mengalahkan popularitasnya, Jack berbeda. Tersimpan alasan-alasan yang lebih kompleks.

Dia tergeser dari status penampil utama menjadi gitaris pengiring untuk para penyanyi baru, terlibat pertengkaran dengan sang manajer, pendengarannya memburuk (bagai kiamat bagi seorang penyanyi), pula keprihatinan mendapati imej karir solo Ally (bintang pop yang lebih mengandalkan gimmick, lagu elektronik berlirik dangkal, penari latar, hingga kostum mencolok ketimbang talenta suara). Ya, Jack terluka bukan diakibatkan Ally menyalip kesuksesannya, melainkan kesedihan menyaksikan cintanya dilahap oleh tuntutan industri. Semua itu belum termasuk masa lalu yang selalu menghantuinya.

Seiring waktu, kita diajak mempelajari bahwa masa lalu Jack jauh lebih kelam dari yang kita duga. Film ini bukan berusaha mengajak penonton menjustifikasi sikapnya (alkoholisme Jack jelas keliru), melainkan memahaminya. Memahami jika Jack bukan sosok kurang ajar nan egois, tetapi pria rapuh yang terjebak trauma masa lalu dan membutuhkan uluran tangan. Alhasil usaha menyayat hati penonton melalui konklusinya pun berhasil, terlebih saat Cooper dengan cakap merangkai momen mencekik dengan memanfaatkan keheningan dan bicara memakai bahasa visual.

Ditutup oleh I’ll Never Love Again yang dibawakan dengan menyentuh oleh Lady Gaga, Bradley Cooper telah menciptakan film yang efektif merebut hati penonton umum, namun bakal lebih dicintai dan dikagumi oleh mereka yang telah mencicipi versi-versi sebelumnya, terkait bagaimana Cooper memilah poin mana yang harus ia terapkan, mana yang harus diperbaiki, mana yang ditinggalkan. “Music is essentially 12 notes between any octave. Twelve notes, and the octave repeats. It’s the same story told over and over, forever. All any artist can offer the world is how they see those 12 notes.”, demikian ungkap Bobby kepada Ally di suatu kesempatan. Bagaimana Bradley Cooper memandang, kemudian mengolah 12 oktaf yang telah berulang kali dipakai sungguh mengagumkan.

AVENGERS: INFINITY WAR (2018)

Avengers: Infinity War bukanlah film pahlawan super pertama yang mencoba menerjemahkan crossover event dari buku komik ke layar lebar. Marvel Studios sendiri telah berulang kali melakukannya sejak The Avengers sampai Captain America: Civil War. Tapi baru Infinity War yang benar-benar memberi definisi sempurna, menontonnya menghadirkan perasaan serupa membaca crossover event. Fakta bahwa filmnya berjalan lancar merupakan buah kesabaran Kevin Feige dan tim membangun puluhan karakter beserta universe luas selama satu dekade lewat 19 film. Tanpanya, ditambah beberapa kekurangan yang tak bisa dihindari, Infinity War bakal berujung kekacauan besar yang mudah terlupakan. This is one of a kind.

Kalau familiar dengan komik superhero, tentu anda pernah menikmati crossover event seperti Infinity Gauntlet, Civil War, Secret Wars, dan lain-lain. Sedikit penjabaran bagi non-pembaca, sebuah even memiliki seri utama yang menuturkan konflik utama pula. Sebagai pengiring, dirilis tie-ins yang mengetengahkan kisah sampingan maupun detail peristiwa yang menimpa masing-masing tokoh. Bagi pembaca komik yang tak terlalu akut seperti saya, demi menghemat waktu, rasanya pernah melewatkan tie-ins dan langsung menyantap seri utama. Alhasil, garis besar cerita tetap bisa dipahami, namun terasa betul ada detail yang terlewat, emosi yang tak maksimal, atau kejadian yang sekelebat lalu. Inifnity War tampil demikian, sehingga bagi penonton yang asing dengan pengalaman membaca seperti itu, mungkin bakal tersisa ketidakpuasan.
Tapi jangan khawatir. Russo Brothers (The Winter Soldier, Civil War) paham betul bagaimana menampilkan momen-momen yang akan terus dikenang hingga tahun-tahun ke depan, dari kemunculan karakter dan aksi keren yang mampu memancing gemuruh tepuk tangan (ketika saya menonton sekitar 4-5 kali tepuk tangan penonton pecah) sampai perasaan tersentak mendapati jagoan-jagoan kita ditempatkan pada bahaya yang belum pernah mereka alami. Dibantu penataan kamera Trent Opaloch yang sudah berkolaborasi bersama Russo Brothers sejak The Winter Soldier, rentetan gambar ikonik pun diciptakan. Tapi sejak awal, tantangan terbesarnya adalah menyatukan sekian banyak tokoh dengan sekian banyak cerita. Dan duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely menyanggupi tantangan itu.

Avengers dibagi beberapa kelompok. Tim Iron Man (Robert Downey Jr.) menanti Thanos di Planet Titan, kampung halamannya, Captain America (Chris Evans) bersatu dengan Black Panther (Chadwick Boseman) guna menghadapi invasi keempat Black Orders yang menyebut diri sebagai anak-anak Thanos, Thor (Chris Hemsworth) bersama Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel) berusaha menciptakan senjata untuk melawan si Titan Gila, sedangkan Star-Lord (Chris Pratt) memimpin Guardians melakukan serbuan dadakn. Markus dan McFeely melakukan apa yang mereka bisa, menyatukan segala sub-plot serapi mungkin dibantu penyuntingan Jeffrey Ford dan Matthew Schmidt yang menghasilkan transisi mulus. Saya bersyukur kedua penulis naskah tetap memasukkan komedi yang masih efektif memancing tawa, meski penulisan humor mereka belum setajam Gunn atau Waititi. Sebab dengan tokoh-tokoh seperti Guardians of the Galaxy dan Iron Man, sepenuhnya melucuti komedi adalah bentuk menyia-nyiakan potensi. Sebagaimana aliran alur, perpindahan tone pun berlangsung mulus. Sesuatu yang awalnya bak kemustahilan, seperti halnya kesuksesan Russo Brothers mempertahankan ciri masing-masing franchise, misalnya Guardians dengan musik dan celotehannya.
Satu hal pasti, Thanos (Josh Brolin) menjadi sentral segalanya. Enam tahun pasca kemunculan perdananya, Thanos mulai bergerak mengumpulkan Infinity Stones. Power Stone di Xandar, Space Stone yang diam-diam dibawa Loki (Tom Hiddleston), Time Stone di bawah perlindungan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch), Reality Stone di koleksi The Collector (Benicio del Toro), Mind Stone yang menghidupkan Vision (Paul Bettany), dan Soul Stone yang keberadaannya masih jadi misteri. Berbagai teori mengenai letak batu terakhir bertebaran di internet, dan semuanya meleset. Bahkan setelah merilis dua trailer plus setumpuk klip promosi, Infinity War masih sanggup menyimpan kejutan, baik soal alur, bagaimana sebuah adegan aksi dieksekusi, dan tentunya kematian (dan kembalinya) karakter.

Bukan spoiler bila saya menyebut ada karakter yang meregang nyawa. Tanpa itu, sulit menegaskan status Thanos sebagai musuh besar yang kehadirannya sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi bukan (cuma) itu alasan Thanos layak masuk jajaran villain terbaik MCU, melainkan keberhasilan menjadikan ia sosok dengan kepribadian. Thanos tidak sepenuhnya jahat. Ambisinya bukan menguasai atau menghancurkan dunia, namun menyeimbangkannya, atau kalau boleh disebut, menyembuhkannya. Thanos bukan monster tanpa perasaan. Ada sensitivitas terselubung yang mampu Josh Brolin salurkan lewat ekspresi. Begitu film berakhir, kehilangan serta kehancuran yang Thanos rasakan sama besarnya dengan para superhero. Dia sosok sedih yang gila. Kegilaan selaku produk kekacauan dunia dan bisa kita temukan di keseharian. Bedanya, orang-orang di dunia nyata dengan pola pikir serupa takkan gamblang mengutarakan pemikirannya, sebab mereka akan dianggap gila dan berbahaya. Terlebih lagi, tidak ada infinity stones dalam genggaman untuk merealisasikan niat itu.
Membicarakan enam infinity stones akan terasa problematik. Muncul ambiguitas terkait seberapa jauh kapasitas tiap-tiap batu. Untungnya, Russo Brothers memastikan setiap Thanos memamerkan kekuatan batunya, sekuen yang dikemas apik ikut mengiringi. Karena soal adegan aksi, tiada satu pun yang tersia-sia berkat koreografi menawan yang makin memikat saat Russo Brothers sering menampilkan para superhero bekerja sama sebagai tim, juga kesan mengancam yang senantiasa menggelayuti. Bahkan The Outriders yang menyerbu Wakanda di klimaks bukan pasukan alien lemah macam Chitauri. Walau sejenak, The Outriders mampu menekan Avengers sampai ke titik batas mereka. Pun kualitas CGI-nya sesuai dengan bujet $300-400 juta yang dikeluarkan. Banyak mengunjungi ragam lokasi luar angkasa, masing-masing planet—khususnya jika anda menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D—terlihat meyakinkan.

Bermodalkan lingkup besar yang mencakup berbagai sudut alam semesta, konsekuensi yang dipertaruhkan, juga ending yang akan selalu lekat di ingatan, Infinity War memang terasa seperti pertempuran menuju akhir dunia, kulminasi yang sesuai setelah perjalanan satu dekade, tepatnya separuh dari itu. Ya, biar bagaimana, kesan film ini merupakan paruh pertama dari satu babak epic tetap tertinggal. Apabila merujuk gaya drama tiga babak, maka 19 film sebelumnya adalah first act, Infinity War bertindak sebagai second act, sebelum akhirnya Avengers 4 (Avengers: Endgame sepertinya judul yang pas), menjadi third act sekaligus penutup. Avengers: Infinity War, dengan tetap memperhatikan kelemahan-kelemahannya, telah mengubah peta perfilman superhero. Film-film berikutnya, termasuk rilisan Marvel Studios, akan berada di bawah bayang-bayang film ini. 


Ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)

James Gunn dan Guardians of the Galaxy adalah contoh sempurna bagaimana menjalankan waralaba lewat proses menanam dan menuai. Tiga tahun lalu, langkah berani memperkenalkan lima a-holes tak dikenal sukses melahirkan idola baru berkat penokohan solid pula interaksi menarik. Hasilnya, begitu penonton bertemu mereka lagi di sekuelnya, timbul kelekatan secara emosional guna memaksimalkan penceritaan yang lebih personal. Selain mempertahankan kejeniusan Gunn merangkai komedi, Vol. 2 menegaskan posisi franchise ini sebagai drama keluarga, tepatnya tentang sekelompok individu yang kehilangan keluarga, menemukan satu sama lain, tumbuh bersama membentuk keluarga baru.

Kisahnya didasari pertanyaan film sebelumnya mengenai identitas ayah Peter Quill / Star-Lord (Chris Pratt), yang rupanya adalah sosok celestial bernama Ego (Kurt Russell). Demi menebus hangatnya hubungan ayah-anak yang tak pernah mereka punya, Ego mengundang Peter, Drax (Dave Bautista) dan Gamora (Zoe Saldana) ke planet miliknya, sedangkan Rocket (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel) tinggal guna memperbaiki Milano pasca pertempuran melawan pasukan Sovereign sambil menjaga Nebula (Karen Gillan). Sementara Ayesha (Elizabeth Debicki), sang Pendeta Sovereign menyewa Yondu (Michael Rooker) dan Ravagers untuk menangkap Guardians yang mencuri barang kepunyaannya. 
Guardians of the Galaxy dipersenjatai winning formula yang saking ampuhnya, memberi template bukan hanya bagi film MCU (warna vibrant), pula rilisan studio lain dalam pemakaian lagu era 70 hingga 80-an. Ada rasa khawatir Gunn dan tim berlebihan menggunakan formula tersebut. Kekhawatiran itu sempat menguat di 15-20 menit awal kala lagu-lagu bertumpuk silih berganti terdengar, setiap kalimat karakternya berintensi melucu, sampai eksploitasi Baby Groot pada opening credit. Terasa melelahkan ketimbang menyenangkan akibat kesan memaksakan diri menyamai bahkan menggandakan keasyikan pendahulunya. Tanpa pemanasan, penonton langsung diajak mengarungi parade sok asyik yang Gunn jejalkan.

Kondisi berubah setelah Ego datang membawa Mantis (Pom Klementieff), alien berkemampuan emphatic yang ia besarkan. Tidak pernah mengalami interaksi sosial membuatnya polos (cenderung bodoh), sisi utama pemancing gelak tawa. Bicara kebodohan, tentu Guardians memiliki Drax yang selalu bicara terus terang. "Mulut busuk" Drax plus keluguaan Mantis menciptakan interaksi komedi kelas satu, di mana kepiawaian Bautista melontarkan ejekan (baca: kejujuran pedas) menggelitik direspon sempurna ekspresi kosong Klementieff. Tiap kali keduanya bersama adalah jaminan tawa tak berujung, "memanaskan" penonton supaya siap terhibur oleh deretan humor berikutnya.
Selanjutnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 bagai mesin penghasil tawa yang enggan berhenti beroperasi. Gunn jeli melihat sisi lucu bermacam hal, dan berbeda dengan paruh awal durasi, makin pintar memilih timing menyelipkan beragam lelucon, entah olok-olok nama Taserface (Chris Sullivan) atau humor seksual. Ketika Drax dan Mantis berjasa di comic timing, Baby Groot merupakan salah satu tokoh paling menggemaskan yang pernah hadir di layar lebar. Lebih naif dari Groot dewasa, tingkahnya mengundang kecintaan, menyesakkan sewaktu melihatnya terancam bahaya di puncak pertempuran.

Dibanding film pertama dengan politik luar angkasa ditambah pencarian infinity stone, Vol. 2 berjalan sederhana dibalut cerita yang layak disebut tipis. Namun fokus filmnya memang bukan kompleksitas alur, melainkan hubungan karakter yang ditautkan benang merah berupa kekeluargaan antara anggota Guardians, Gamora dan Nebula, sampai Peter dan ayahnya. Salah satu credit scene pun memperlihatkan Guardians of the Galaxy tak ubahnya perjalanan tumbuh kembang dalam keluarga. Poin itu berhasil sebab kita sudah terikat dan terpikat dengan karakternya sedari film pertama, dan sekuel ini berfungsi menegaskan bahwa di samping tingkah seenaknya pun saling ejek yang rutin terjadi, para penjaga galaksi ini menyimpan kebaikan hati, peduli satu sama lain.
Niat Gunn menjadikan filmnya bukan saja spectacle megah terlaksana kala klimaks. Bukan epic macam The Avengers, pertarungan menyakitkan ala Captain America: Civil War, maupun keunikan kreatif seperti Ant-Man (tiga third act terbaik MCU sejauh ini), Guardians of the Galaxy Vol. 2 mengutamakan dampak emosional hasil dramatic arc-nya. Melihat Peter meluapkan kesedihan seorang anak, Yondu si father figure coba menebus dosa, saling tolong Nebula dan Gamora selaku dua saudari yang selalu berseteru, hingga usaha Drax menolong Mantis memancing gejolak perasaan. Gunn sanggup menekankan ikatan erat para protagonis beserta aksi heroik mereka ketimbang pertunjukan bombastis belaka. 

Proses menanam dan menuai tak berakhir di tataran karakter, juga soal masa depan Marvel Cinematic Universe khususnya seputar dunia kosmik. Pengenalan sosok celestial, peran singkat Sylvester Stallone, dua dari lima credit scene, bahkan cameo Stan Lee menanam benih yang berpotensi mengembangkan dunia kosmik ke jangkauan lebih luas yang bukan tidak mungkin bakal berperan besar pada MCU pasca invasi Thanos berakhir di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, nikmati dahulu kembalinya tim pahlawan super Marvel yang lebih mampu mengocok perut pula mencuri hati ketimbang Avengers di Bumi lengkap dengan kemeriahan visual berhiaskan warna-warna mencolok.

LIMITLESS (2011)

Film ini menyinggung masalah kinerja otak manusia yang "katanya" hanya sanggup memakai otaknya hingga presentase 20% walaupun pernyataan tersebut cukup banyak yang menyangkal. Dalam "Limitless" diceritakan ada obat bernama NZT yang mampu membuat penggunanya menggunakan kapasitas otak sampai 100%. Setelah melihat film ini saya rasa "Limitless" juga butuh mengkonsumsi NZT karena dari yang saya lihat walaupun  diatas 20% tapi film garapan sutradara Neil Burger ini masih jauh dari 100% dalam hal memanfaatkan potensinya. Padahal dengan premise yang menarik dan aktor kelas atas, seharusnya dengan eksekusi maksimal film ini bisa menjadi salah satu yang paling menarik tahun ini.

Eddie Morra (Bradley Cooper) sedang mengalami kondisi yang sangat berantakan dalam hidupnya. Karirnya sebagai penulis diujung tanduk karena sampai sekarang dia masih belum berhasil menuliskan satu katapun. Kehidupan cintanya juga berantakan saat Lindy (Abbie Cornish) yang adalah pacarnya memilih meninggalkan Eddie. Dalam kondisiitulah secara tidak sengaja Eddie bertemu dengan mantan adik iparnya, Vernon (Johnny Withworth) yang lalu memberinya NZT, sebuah obat yang diyakini mampu meningkatkan kinerja otak hingga 100%. Hal itu memang terbukti pada diri Eddie.

Buku yang ditulisnya bisa selesai dengan begitu cepat, dia bisa menyelesaikan segala masalah dengan mudah, bahkan kini Eddie menjadi salah satu pemain saham tersukses. Singkat kata hidupnya yang tadinya buram kini menjadi sangat cerah, apalagi sang kekasih sudah kembali kepadanya. Kini Eddie bermitra dengan Carl Van Loon (Robert De Niro) dalam bisnisnya yang membuat mereka menjadi sukses besar. Tapi Eddie kini menjadi sangat bergantung pada NZT, padahal obat itu ternyata mempunyai efek samping yang sangat berbahaya bagi Eddie. Bukan hanya itu, disekitar Eddie juga ada pihak-pihak yang mencoba menguasai NZT yang dia punya dan berusaha membunuhnya.
Apa yang ditampilkan "Limitless" mungkin bukanlah sebuah science fiction yang punya dasar science yang kuat dan saya rasa sutradara Neil Burger harusnya paham hal tersebut. Karena itu gunakanlah faktor kekurang akuratan sisi science tersebut untuk menciptakan sebuah hiburan yang efektif. Ingat film Bradley Cooper sebelumnya, "The A-Team"? Film itu menghadirkan segala macam adegan action yang jelas-jelas tidak mungkin. Tapi pengemasannya yang sekalian gila membuat filmnya menghibur. Hal itulah yang tidak dimiliki "Limitless". Alih-alih mencoba membuat hiburan maksimal, film ini malah kadang mencoba menjadi film serius dengan menjajal ranah perdagangan saham. Jangan coba-coba menggabungkan science fiction menghibur tapi juga cerdas dengan tema yang serius (baca: berat) jika bukan Nolan atau Duncan Jones (sedikit lebay)

Kekurang maksimalan itulah yang membuat film ini nanggung juga dalam urusan menghibur penonton. Awalnya memang menarik melihat Eddie yang berantakan perlahan menjadi sukses lalu kemudian menemukan ada yang tidak beres dalam obat itu. Tapi disaat plot itu mulai mencoba menjadi "pintar" bahkan mengulang beberapa adegan seperti Eddie yang kembali berantakan lalu sukses lagi saya rasa itu menjadi membosankan. Untung menjelang paruh akhir film kembali menarik bahkan sempat cukup menegangkan. Seperti yang dikatakan Vernen bahwa NZT akan makin manjur kalau pada dasarnya sang pengguna sudah pintar, film ini punya potensi kuat menjadi sangat baik karena dasar premise-nya sudah menarik diluar ketidak logisannya. Tapi sekali lagi masih kurang maksimal.

Jajaran cast yang ada cukup baik. Bradley Cooper menjalani peran yang karakterisasinya tidak jauh beda dengan perannya sebagai Peckman (The A-Team) atau Phil (The Hangover), bahkan seperti gabungan keduanya. Yaitu pria tampan berkharisma yang harus berurusan dengan banyak pihak yang membahayakan nayawanya dan dia bermasalah dengan kesadarannya. Bedanya, kali ini Bradley Cooper mendapat porsi yang lebih banyak, sehingga dia bisa memperlihatkan kharisma yang cukup bagus. Begitu pula dengan Robert De Niro yang terlihat sebagai satu-satunya orang yang sanggup menyaingi kharisma dan wibawa Bradley Cooper.

Salah satu penyelamat terbesar film ini adalah sajian visual yang menuntun jalannya cerita serta memberi gambaran-gambaran mengenai dampak NZT pada tubuh Eddie yang digambarkan dengan visualisasi yang sangat menarik. Begitu pula openingnya yang menarik dan sempat membuat saya berharap banyak pada film ini secara keseluruan. Sungguh sangat disayangkan, seharusnya "Limitless" mampu menjadi sebuah film berpredikat "sangat bagus" tapi akibat kurang maksimal dalam eksekusi.