REVIEW - LICORICE PIZZA
Status auteur memberi kebebasan membuat film apa saja. Kritikus dan cinephile bakal berpikir dua kali untuk memberi cap "buruk" bagi karya para auteur. Entah didorong kekhawatiran disebut "gagal paham", atau keyakinan "filmnya pasti bagus".
Licorice Pizza dihantam beberapa kontroversi. Hubungan wanita 25 tahun dengan remaja 15 tahun yang jadi sentral cerita dianggap romantisasi terhadap pedofilia. Tudingan rasisme pun diterima akibat ada karakter berbicara memakai aksen yang mengolok-olok orang Asia. Tapi toh film ini tetap banjir pujian, bahkan menyabet tiga nominasi Academy Awards termasuk Best Picture.
Mari bayangkan, andai Licorice Pizza bukan hasil karya auteur macam Paul Thomas Anderson. Jangankan berakhir dipuja, saya tak yakin filmnya bakal diproduksi. PTA bisa melenggang karena para pengamat bersedia "repot-repot" menganalisis lebih dalam, didasari pemikiran, "Seorang Paul Thomas Anderson mustahil berbuat demikian".
Benar atau tidak filmnya problematik itu kembali pada kepercayaan tiap penonton, tapi PTA jelas sengaja bermain-main di garis batas. Naskahnya mengambil latar 1973 (terinspirasi dari Gary Goetzman yang memulai memulai karir sebagai aktor cilik di masa tersebut). Sebuah era penuh keliaran dilihat dari sisi mana pun.
Gary Valentine (Cooper Hoffman), aktor berumur 15 tahun, jatuh cinta pada Alana Kane (Alana Haim), asisten fotografer berumur 25 tahun. Selisih usia, ditambah fakta kalau Gary masih di bawah umur, membuat Alana enggan menjalin hubungan. Mereka pun akhirnya cuma berteman. Pertemanan rumit yang melibatkan kecemburuan, bisnis-bisnis nekat, seluk-beluk industri perfilman, hingga setumpuk fenomena sosial 70an.
Dipandang melalui kacamata filmis, meski merupakan karya paling cerah dan ringan dari PTA, sama sekali tidak kehilangan sentuhan briliannya. Seperti biasa, sang sutradara sekaligus penulis naskah menolak teknik narasi konvensional. Alur tersusun atas fragmen demi fragmen yang seolah saling terpisah. Bukan wujud penuturan buruk, namun kesengajaan guna menggambarkan bagaimana tangkapan memori bekerja. Mungkin serupa keping-keping kenangan dalam album foto.
Penyuntingan Andy Jurgensen menciptakan kesan "ketidakrapian yang rapi", sembari menambah sentuhan unik lewat beberapa transisi. Tidak jarang penonton akan mengira masih menyaksikan adegan yang sama, hanya untuk kemudian mendapati latar waktu dan tempat sudah berganti. Kecerdikan PTA memilih shot turut membantu eksekusi trik itu.
Sekuen terbaiknya adalah puncak dari segmen yang mempertemukan Gary dan Alana dengan Jon Peters (Bradley Cooper) si produser eksentrik. Seperti saya sebut di atas, kisahnya melibatkan bisnis-bisnis nekat yang lahir dari kepala Gary. Salah satunya berjualan kasur air. Ketika proses pemasangan kasur di rumah Peters berujung kekacauan, keduanya terjebak dalam aksi kejar-kejaran (well, kind of).
Alana duduk di balik kemudi truk. Tanpa bahan bakar (krisis minyak sedang menghantam), di tengah area perbuktikan curam nan berliku. Keputusan yang ia ambil berjasa melahirkan sekuen kebut-kebutan unik, intens, juga lucu, yang turut mewakili proses protagonisnya. Menjalani fase kehidupan gila di tengah masa yang jauh lebih gila, mereka cuma bisa berjalan dengan prinsip "you gotta roll with it", sambil tetap menjaga agar tidak keluar jalur.
Cooper Hoffman dan Alana Haim sama-sama memikat memerankan dua muda-mudi beda usia dalam satu dilema. Gary sedang bertransisi. Walau masih di bawah usia legal, ia bukan lagi bocah. Dia belum cukup dewasa untuk minum alkohol atau terlibat aktivitas seksual, tapi jelas bukan lagi bocah sebagaimana aktor cilik lain. Alana merasa harus mulai menata hidupnya dan memberi kontribusi lebih, tapi ia masih bergaul bersama para remaja.
Kembali ke kontroversi yang filmnya hadapi. Saya setuju bila hubungan dua tokoh utama tergolong percintaan polos tanpa tendensi romantisasi. Tapi bagaimana dengan hal lain? PTA memandang Licorice Pizza sebagai potret apa adanya bagi suatu masa. Perspektif seksis di banyak lini (marketing bisnis, industri film, dll.) hingga cultural appropriation jadi gambaran realita. Tidak keliru. Tapi apakah seluruhnya diperlukan guna memperkuat narasi utama?
Mendekati akhir, kondisi terkait gay yang mesti menyembunyikan orientasi seksual mereka ikut dibahas. PTA membuat protagonisnya memberi respon heartful, tatkala mayoritas publik bersikap sebaliknya. Artinya, di situ PTA menunjukkan kuasa selaku pembuat karya, yang mempunyai kebebasan membentuk dunia sesuai keinginan. Anggapan "potret realita apa adanya" terdengar seperti dalih individu yang berlagak tidak berdaya padahal memegang kuasa. Licorice Pizza adalah film dengan craftmanship kelas wahid, tapi sebagai auteur, PTA semestinya bisa bersikap lebih bijak.
(iTunes)
REVIEW - NIGHTMARE ALLEY
Di sebuah kesempatan, protagonis Nightmare Alley dibaca garis nasibnya memakai kartu tarot. Hasilnya, ia bakal tertimpa nasib buruk. Keburukan seperti apa? Begitulah rasanya menonton film ini. Mengetahui bagaimana noir bekerja, kita tahu tragedi menanti, namun rupanya tak diketahui. Sama seperti ketidaknyamanan kala menyusuri gang gelap di tengah malam. Seolah ada yang siap menerkam, tapi entah apa.
Karya terbaru Guillermo del Toro ini, yang naskahnya dia tulis bersama Kim Morgan selaku adaptasi layar lebar kedua bagi novel berjudul sama buatan William Lindsay Gresham (versi pertamanya rilis tahun 1947), adalah tontonan sarat foreshadowing, yang bertujuan menelusuri sisi kelam manusia, serta bagaimana putaran takdir seolah enggan mengalah, lalu ingin memamerkan betapa kelam ironi yang dibawanya.
Protagonis kita bernama Stan (Bradley Cooper). Di sekuen pembuka, Stan membakar rumahnya, bersamaan dengan tubuh yang terbungkus kain. Apakah ia pembunuh? Ataukah penonton sedang dikecoh? Pastinya Stan bukan pria polos. Kematian tak asing baginya, sehingga ini pun bukan kisah hilangnya kepolosan individu.
Stan tiba di kelompok sirkus milik Clem (Willem Dafoe). Salah satu aksi andalan mereka adalah geek show, di mana pria berpenampilan kumuh menggigit kepala ayam hidup. Aksi ini dahulu marak dilakukan, dan sang penampil, yang biasanya tanpa talenta apa pun, bersedia direndahkan demi asupan opium dan/atau alkohol. Stan bertanya-tanya, "Bagaimana bisa ada manusia yang terjatuh sedemikian dalam?".
Kerlap-kerlip lampu karnaval di malam hari, pencahayaan temaram, ditangkap oleh kamera Dan Laustsen, sinematografer yang sudah empat kali berkolaborasi dengan del Toro. Cantik sekaligus misterius. Serupa karya-karya sang sutradara biasanya, namun Nightmare Alley bagai melangkah di garis batas antara magisnya dunia fantasi dan realita.
Tapi tiada monster di sini. Hanya ada manusia-manusia, yang dianggap monster oleh sesamanya (geek, janin bermata tiga bernama "Enoch" yang diawetkan dalam toples). Pula tidak ada sihir. Hanya ada rangkaian trik yang dilakukan sedemikian meyakinkan sampai tampak bak keajaiban.
Salah satunya cold reading, yang dipelajari Stan dari pasangan suami-istri, Pete (David Strathairn) dan Zeena (Toni Collette). Berbekal metode rumit, mereka bisa menebak benda apa yang orang lain pegang dengan mata tertutup, bahkan membaca sejarah di baliknya. Del Toro seperti punya ketertarikan tinggi akan praktek tersebut (dan pertunjukan sirkus secara umum), lalu dengan antusias mengajak kita menelisik seluk beluknya.
Salah satu poin terbaik Nightmare Alley adalah tiap mempresentasikan detail pertunjukan, yang tak jarang menutupi lubang penceritaan. Jika versi 1947 cuma berdurasi 111 menit, maka versi del Toro berjalan hingga dua setengah jam. Terlalu panjang, pun tidak jarang kisahnya hilang arah.
Ada istilah "kill your darlings", yang merujuk pada keharusan penulis untuk berani menghilangkan bagian alur, adegan, atau kalimat yang dirasa kurang signifikan. Del Toro dan Morgan bak enggan melakukannya, hingga penceritaannya, terlebih di paruh pertama, seperti sedang menaiki komidi putar yang tidak pernah berhenti.
Cukup lama pula sampai kisahnya memasuki ranah romansa. Stan jatuh cinta pada Molly (Rooney Mara) si "gadis listrik", mengajak sang pujaan hati turut serta dalam upayanya mengejar mimpi, yang jadi titik balik film. Nantinya Stan juga berurusan dengan Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett), seorang psikolog. Blanchett menghipnotis layaknya femme fatale khas noir.
Semakin jauh Stan melangkah, semakin kentara apa yang menantinya di ujung gang gelap. Sekali lagi, tidak ada monster. Bagi Stan, monster itu justru dirinya sendiri. Seorang pria dengan father issue, yang berujung menjadi sesuatu yang amat dia benci. Tatkala kebohongan tidak lagi dapat dikendalikan, si pembohong pun mulai memercayai kebohongan itu, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang ia wujudkan sendiri.
Babak akhirnya membawa filmnya menyuguhkan beberapa kekerasan, tapi hal paling mengerikan justru bukan berasal dari pertumpahan darah, melainkan ironi takdir di penghujung cerita. Tawa Cooper di shot penutup saat karakternya (dan penonton) menyadari ironi tersebut, terdengar sangat mengiris, juga menghantui, sebab kita pun bisa saja bernasib serupa. Penuturan Nightmare Alley memang tergolong lemah dibanding deretan karya Guillermo del Toro lain, namun konklusinya salah satu yang paling menusuk.
















