THE CONJURING 2 (2016)

23 komentar
Sekitar setahun lalu, melalui akun twitter miliknya James Wan pernah berujar, "People say why remake Poltergeist when we should be making this generation's Poltergeist. Leigh Whannell and I already did." Penuturan itu merujuk pada Insidious yang dianggap sebagai salah satu haunted house horror terbaik generasi sekarang. 'Insidious' is indeed one of the better mainstream horror in recent years, but for me Wan's best is 'The Conjuring'. Dirilis tiga tahun lalu, bermodalkan serangkaian jump scare pintar nan efektif (ex: clap sceneThe Conjuring sukses meraup penghasilan $318 juta alias hampir 16 kali lipat bujetnya. Kali ini lewat sekuelnya, James Wan mementahkan anggapan sekuel film horor pasti berkualitas buruk sekaligus menciptakan Poltergeist versinya sendiri. 

Alur The Conjuring 2 diangkat dari kisah nyata "Enfield Poltergeist" yang bertempat di London tahun 1977 dengan korban teror adalah seorang ibu tunggal, Peggy Hodgson (Frances O'Connor) beserta empat anaknya. Kejadian aneh berawal saat sang puteri bungsu, Janet (Madison Wolfe) memperlihatkan tanda-tanda kerasukan  sleepwalking, perubahan suara. Ketika keganjilan semakin bertambah tatkala barang-barang dalam rumah mulai bergerak sendiri, pihak gereja menugaskan pasangan suami istri Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) melakukan penyelidikan. Namun Lorraine sempat gamang akibat penglihatan mengenai kematian suaminya yang ia dapat kala mengusut "The Amityville Horror" (their most famous and most documented case). 
Kelebihan terbesar James Wan meracik kengerian terletak pada pemahamannya akan isi pikiran penonton berujung terciptanya kesempurnaan timing untuk kehadiran momen seram. Ekspektasi penonton Wan permainkan. Sometimes he put it on a predictable moment, sometimes it was unpredictable, sometimes he delayed it for a sec, sometimes nothing happened. But most of the times it was scary and shocking. Dari situ ketegangan didasari antisipasi merambat sewaktu kita diajak menantikan jump scare sembari berharap-harap cemas mengawasi sudut gelap ruangan tempat Wan seolah meletakkan sesosok hantu mengerikan. Penggunaan tracking shot mengikuti pergerakan karakter serupa film pendahulunya turut menguatkan perasaan tersebut. 

Biarpun tidak ada yang sejenius adegan "tepuk tangan" ikonik pada film pertama, Wan masih mempertankan kreatifitasnya dalam menentukan tak hanya "kapan", pula "bagaimana" teror hadir. Salah satu adegan penampakan "the nun demon" memanfaatkan bayangan plus lukisan boleh jadi bukti meski tak bisa dipungkiri sedikit terkesan silly. Nilai positif lain adalah ketika Wan mampu membuat poltergeist-esque scene miliknya terasa menyegarkan, tetap efektif walaupun sudah berulang kali diterapkan oleh setumpuk film horor lain. Dia menolak asal melempar barang ke dengan cepat diiringi efek suara bombastis. Ibaratnya Wan ber-statement "you don't need to destroy a lot of things, just move it on the exact moment". Seperti saat Janet terbangun mendapati kursi berpindah ke sebelahnya, rasa ngeri akibat membayangkan hal sama terjadi di kehidupan kita berhasil dipancing menyeruak muncul. For me, this one is scarier than 'Poltergeist' in term of crafting terror from moving things.
Iringan musik ikut menambah kekuatan The Conjuring 2. Seperti trilogi Insidious dan The Conjuring, James Wan masih berkolaborasi dengan komposer Joseph Bishara, dan selayaknya hasil serangkaian kerja sama tersebut, scoring-nya efektif merambatkan aura mencekam, membantu memaksimalkan dampak scary moment seklise apapun. But the most surprising aspect is the using of 'Can't Help Falling in Love' by Elvis Presley. Sekilas lagu itu bagaikan out of place di tengah cekaman horor, tapi nyatanya sesuai kala digunakan membangun hubungan romansa Ed dan Lorraine. Terdapat dua momen romantis  termasuk ending  berhiaskan lagu tersebut. Lagu ditambah akting kuat Vera Farmiga yang melalui ekspresi menyiratkan betapa besar cintanya pada sang suami berhasil menumbuhkan kepedulian saya terhadap keduanya hingga cukup menyentuh perasaan. Jarang sajian horor mampu menggaet hati penonton lewat romansa  this movie even ends in a very romantic tone  dan The Conjuring 2 jadi salah satunya.

Sayang, filmnya memiliki flaw besar terkait pace juga durasi yang mencapai 134 menit (22 menit lebih panjang dari predecessor-nya). Walau dasar cerita cukup kuat, Wan terlalu lama menggerakkan alur akibat sering dipotong demi memberi jalan bagi suguhan teror. Akhirnya tensi ikut terpengaruh, sehingga meskipun kreatifitas teror terjaga, kuantitasnya yang berlipat ganda berujung repetisi, sempat melelahkan di babak pertengahan. Mungkin itu pula penyebab klimaks kurang menggigit, sebab Wan telah kehabisan ide guna mengeksekusi puncak pertarungan Warrens melawan Valac. In the end, 'The Conjuring 2' is a little bit overlong and not as tight as its predecessor, but the smartly crafted jump scares and solid acting especially by Vera Farmiga made it one of the best (and sweetesthorror movie sequel in a long time. This generation's 'Poltergeist' that we deserve, more than the actual remake, proving that James Wan is also this generation's master of horror. 


SPHERE X FORMAT: The Conjuring 2 tak punya efek visual megah yang biasanya jadi kenikmatan utama format SphereX, namun rentetan scary imageries milik James Wan jelas membuat pengalaman menonton di layar raksasa ini patut dipertimbangkan. Atmosfer creepy serta penampakan-penampakannya cukup termaksimalkan. Cukup menyenangkan tapi bukan suatu kewajiban menontonnya di SphereX. (3/5)

Ticket Powered by: Indonesian Film Critics

23 komentar :

Comment Page:
Hendra Siswandi mengatakan...

Can't Help Falling in Love nya Kang Ed dan tatapan Neng Lorraine bikin baper.

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

yang pas adegan ed nyanyi itu versi elvis atau ada yang cover?

mikhael hans mengatakan...

Ada lagu i started a joke juga

Zulfikar Knight mengatakan...

setuju nih, sama-sama bagus, tapi the conjuring 2 masih sedikit dibawah pendahulunya.
tapi harus diakui, jarang-jarang ada sekuel horor yang dapat banyak review-review positif dan certified fresh dari RT :v

Rasyidharry mengatakan...

Haha bener banget

Rasyidharry mengatakan...

Setahu saya suara Patrick Wilson asli

Rasyidharry mengatakan...

dan London Calling :)

Rasyidharry mengatakan...

Yap, jarang banget apalagi di era sekarang

Willy Lukas mengatakan...

Ada yang tau ga,judul lagu orkestra gereja yang pas adegan remote tv nya pindah?

Anindya Sekardini mengatakan...

Menyesal rasanya karna baru tau ada blog yang review setiap filmnya bagus-bagus kayak gini

Rasyidharry mengatakan...

Mungkin bisa dicek satu-satu di sini
http://www.what-song.com/Movies/Soundtrack/1973/The-Conjuring-2

Rasyidharry mengatakan...

Wah makasih ya, semoga berkenan terus baca :)

Andika Daffa mengatakan...

Setelah Anabelle di Conjuring pertama kemaren, sekarang bagian si Valak yang jadi bahan perbincangan :v malahan juga mau dibuatin filmnya sendiri :v

Rasyidharry mengatakan...

Menarik sih kalau setiap evil spirit di Conjuring dibikin spin-off gitu. Asalkan hasilnya nggak kacrut kayak Anabelle haha

Andika Daffa mengatakan...

Awkwkwkwk semoga deh bang :))

Hendra Siswandi mengatakan...

Blog ini juga kadang menyelamatkan saya dari film film (asal bikin) yang terkutuk hahaha

Rasyidharry mengatakan...

Saya sendiri tidak terselamatkan haha

Film Senja mengatakan...

ihh serem banget gan, jadi penasaran sama filmnya

jangan lupa mampir ya ke situs film saya http://postpedia.wapka.mobi

ariyo hidayat mengatakan...

kalo sama the witch kemaren bagusan mana bang ?

Rasyidharry mengatakan...

Beda tipe sih, 'The Witch' lebih arthouse, main di atmosfer & imajinasi penonton. Kalau 'The Conjuring 2' lebih "enteng", lebih mainstream.

ahmad sodikin mengatakan...

Penasaran sama film ini, katanya nakutin banget ya www.obat-herbalku.com

fariz echank mengatakan...

Gak ada bray, coba tolong kasihtau judulnya donk, pliss

Damay Amoy mengatakan...

Setuju banget ��