JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - TURAH (2016)
Kita menjadikan film sebagai escapism. Ledakan bombastis, aksi pahlawan super hingga romantika penuh kesempurnaan jadi alat pelarian dari kepenatan hidup sehari-hari. Tapi di sisi berlawanan, film memiliki fungsi lain yakni jendela bagi penonton guna menilik realita, entah yang biasa ditemui, terlupakan atau memang jarang diungkap ke permukaan. "Turah" selaku karya debut sutradara/penulis naskah Wicaksono Wisnu Legowo menyuguhkan fungsi kedua, tepatnya menuturkan kisah hidup warga sebuah kampung yang berdiri di atas tanah timbul di Tegal bernama Kampung Tirang. Jangankan masyarakat luas, warga Tegal pun banyak yang tak tahu keberadaan kampung tersebut.
Judulnya merujuk pada nama protagonis, Turah (Ubaidillah), yang seperti penduduk Kampung Tirang lain adalah orang miskin dan mencari nafkah sebagai bawahan Darso (Yono Daryono) juragan setempat. Turah diposisikan menjadi jembatan antara penonton dengan penghuni kampung lain, ada Kanti (Narti Diono), istri Turah yang enggan memiliki anak, Kandar (Bontot Sukandar) si pengurus kambing, Pakel (Rudi Iteng) tangan kanan Darso, Sulis (Siti Khalimatus Sadiyah) gadis cilik yang sendirian merawat neneknya, hingga Jadag (Slamet Ambari) yang doyan mabuk, berjudi, dan main perempuan. Wisnu cermat menggerakkan alur, mengajak mampir ke tiap rumah secara bergiliran (konon hanya ada 10 keluarga di sana), menciptakan pemahaman menyeluruh akan kondisi serta dinamika sosial latarnya bagi penonton.
Jadag beserta emosi meluap-luap dan ambisinya melawan Darso memang mendominasi, bahkan punya peranan lebih ketimbang tokoh utamanya sendiri (poin minus filmnya), tapi bukan berarti keberadaan Turah tidak signifikan. Selain menjembatani penonton dan film, Turah yang digambarkan baik hati dan penyabar merupakan hati bagi film ini. Di tengah kemiskinan, kerap ditemukannya mayat selaku penguat beratnya kehidupan penduduk (di suatu adegan miris nan creepy Turah menemukan mayat busuk bayi tengah mengambang), sampai dominasi amarah tanpa henti Jadag, Turah bak penyeimbang, angin segar yang membuatnya tidak nampak terlampau suci. Rasa peduli kepada sang tokoh pun mudah tercipta.
Teknik sinematiknya tanpa gimmick, tapi sang sutradara yang berasal dari Tegal kentara punya pemahaman mendalam soal kehidupan juga kultural setempat. Alhasil bagi saya yang sempat tinggal tak jauh dari perkampungan miskin dengan bahasa Jawa ngapak sebagai logat merasa familiar dengan suguhan di layar. Bagaimana pola pikir mereka dalam menyikapi situasi seperti saat Jadag mempertanyakan mengapa tidak naik jabatan walau sudah bekerja selama belasan tahun pula kondisi ketika terjalin interaksi termasuk pertengkaran, semua tampak nyata, dikemas dalam realisme tinggi bermodal kedekatan plus kecintaan sineas akan objek penceritaan.
Para aktor berperan besar atas terciptanya realita. Contohnya pertengkaran Jadag dengan istrinya, Rum (Cartiwi). Totalitas ekspresi dan sumpah serapah Slamet Ambari ditambah luapan emosi serta "tantangan" Cartiwi agar sang suami membunuhnya lah alasan mengapa momen tersebut begitu intens, seolah saya tengah menyaksikan langsung sebuah pertengkaran dahsyat suami-istri. Obrolan Jadag dan Turah pun selalu menghadirkan tontonan menarik berupa barter dialog yang saling melengkapi antar dua pembawaan berbeda. Slamet berapi-api, sedangkan Ubaidillah penuh ketenangan menghanyutkan.
Deretan cast-nya merupakan aktor teater. Wisnu tidak menyia-nyiakan fakta ini, merangkum beberapa obrolan dalam satu take panjang tanpa putus layaknya pertunjukan panggung. Konteks adegan berupa obrolan masyarakat kelas bawah di tempat kerja atau rumah pun memang cukup identik dengan panggung teater. Para aktor piawai menangani gaya pengadeganan tersebut, bersenjatakan emosi konsisten nan kontinu, dinamika pun hidup. Semakin dinamis tatkala Wisnu tak lupa menyuntikkan humor, mengerti bahwa pendekatan realis memerlukan kejenakaan, sebab di antara beratnya kehidupan dunia nyata canda tawa tetap sesekali menyeruak hadir. Gerakan kamera dan kebocoran suara yang disengaja selaku momen penutup membaurkan fiksi film dengan dunia nyata, seolah menyatakan bahwa apa yang penonton saksikan adalah realita.
JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - HARMONIUM (2016)
Bersama tapi tidak bersatu, begitulah bentuk keluarga yang coba Koji Fukada perlihatkan di "Harmonium" karya terbarunya yang berhasil memenangkan Jury Prize dalam seksi Un Certain Regard, Cannes Film Festival. Film dibuka dengan aktivitas makan malam Toshio (Kanji Furutachi) bersama sang istri, Akie (Mariko Tsutsui) dan putrinya, Hotaru (Momone Shinokawa). Makan bersama merupakan salah satu situasi di mana hubungan keluarga dapat diamati. Toshio sekeluarga memang berkumpul, namun Fukada menunjukkan ada "ketidakberesan". Ketika Aike dan Hotaru berdoa (penganut Protestan), sang ayah tak ikut serta, asyik menyantap makanan. Saat putrinya bercerita panjang lebar pun, nihil respon dari Toshio.
Suatu hari Toshio kedatangan Yasaka (Tadanobu Asano), kawan lamanya yang meminta diberi pekerjaan di machine shop miliknya dan tempat tinggal sementara. Toshio langsung menyanggupi tanpa berunding dahulu dengan Akie. Bahkan ia tidak memberi tahu sang istri jika Yasaka baru keluar dari penjara akibat kasus pembunuhan, juga rahasia kelam lain mengenai pertemanan keduanya dulu. Ketertutupan ini dipakai Fukada untuk menanam benih konflik, perlahan meruntuhkan keluarga tersebut. Yasaka cepat membangun impresi baik, bersedia membantu Hotaru berlatih memainkan harmonium sekaligus jadi lawan bicara menyenangkan bagi Akie, dua hal yang tidak pernah diperbuat Toshio.
Awalnya alur "Harmonium" terkesan predictable: kedatangan sosok asing yang merebut keluarga seorang pria. Namun Koji Fukada menolak mengikuti pola paparan klise perjuangan suami mendapatkan kembali keluarganya, sebab hingga akhir kita takkan melihat Toshio memperjuangkan itu. Justru sisi egois dan pengecutnya makin nampak, menggiring filmnya ke arah lebih kelam. Tapi "Harmonium" tak pernah menjadi depresif berkat pilihan Fukada sesekali menyelipkan humor efektif berbasis situasi awkward menggelitik. Keputusan itu meringankan suasan film, membuat drama "Harmonium" mudah dinikmati setiap penonton.
Kemunculan twist di pertengahan babak bukan saja mengejutkan, pula memberi arah baru, dinamika baru untuk diobservasi. Bicara soal kejutan, Fukada begitu mahir mempermainkan asumsi lewat kesuksesan beberapa "alarm palsu" untuk memancing dugaan demi dugaan, mencuatkan ketegangan (keheningan sejenak Toshio di belakang Takashi sampai selimut jatuh dari atap gedung). Koji Fukada memang cerdik, tak hanya di pengadeganan, pula perihal penulisan naskah. Berulang kali Yasaka berkata "kebiasaan lama" sebagai penjelasan terhadap berbagai perilaku uniknya, seperti kecepatan makan atau keluar dari kamar mandi tanpa pakaian. Siapa sangka perkataan tersebut bertindak selaku tease bagi kejutan kelam nantinya.
Poin di atas adalah bentuk kepiawaian Fukada membangun karakterisasi, yang juga ia tunjukkan dalam membangun kejelasan motivasi. Keputusan Toshio menyimpan rapat sejumlah fakta serta fobia Akie terhadap bakteri sama-sama didorong oleh ketakutan dan perasaan bersalah masing-masing. Keberadaan paparan tersebut meskipun subtil makin menguatkan "Harmonium" dalam perannya selaku observasi karakter. Serupa judulnya, Koji Fukada melibatkan alat musik harmonium pada observasi ini, sebagai (salah satu) faktor yang "menjembatani" runtuhnya hubungan sebuah keluarga.
THE WAILING (2016)
Serupa "The Chaser" selaku karya perdananya, Na Hong-jin kembali mengusung jalinan investigasi kasus pembunuhan sebagai sentral cerita. Hanya saja kali ini berhiaskan supranatural, memfasilitasinya menumpahkan berbagai unsur sub-genre horor mulai zombie, demonic, possession, occult, hingga psikologis, yang tersusun rapi berkat solidnya penulisan naskah Na. Menjadikan sebuah area rural yang terasa dingin sebagai panggung dan memiliki protagonis seorang polisi inkompeten, inspirasi dari "Memories of Murder" begitu kentara, bedanya, "The Wailing" menyimpan kemungkinan akan keterlibatan entitas gaib dalam kasusnya.
Jong-Goo (Kwak Do-won) terbangun di pagi hari oleh panggilan tugas setelah terjadi kasus pembunuhan. Tapi ia memilih menyantap sarapan dulu sehingga terlambat tiba di TKP, suatu sikap yang beberapa kali dia ulangi, menegaskan ketakcakapannya. Jong-Goo memang kerap berbuat bodoh dan selalu ragu, hanya bisa ternganga kala dihadapkan pada situasi genting, tak tahu mesti berbuat apa. Karakterisasinya sesuai dengan usungan tema keraguan dan ketidakberdayaan yang diangkat. Inkompetensi Jong-Goo menguatkan kesan helplessness dan hopelessness kala kondisi semakin gawat. Kwak Do-won memberi transformasi halus dari sosok polisi unrelieable yang tak serius dan kebodohannya mengundang kejenakaan menjadi pria yang dikuasai amarah dan keputusasaan.
Ternyata kasus di awal bukanlah yang terakhir. Lalu rentetan pembunuhan berlanjut dengan satu kesamaan, yakni pembunuhnya menjadi gila dan memiliki luka di tubuh. Media berasumsi telah terjadi wabah virus akibat jamur beracun, sedangkan warga yakin pria Jepang misterius (Jun Kunimura) yang tinggal menyendiri di hutan merupakan dalangnya, mengingat "wabah" tersebut mulai menjangkiti sejak kedatangannya. Warga memanggil pria ini "the Jap", menunjukkan adanya pengaruh memori kolonialisme masa lalu di balik tuduhan tersebut. Walau awalnya tidak percaya akan keterlibatan sang pria Jepang (ditengarai sebagai hantu), Jong-Goo mulai melakukan investigasi setelah mendapati berbagai keanehan, termasuk yang menimpa puterinya, Hyo-jin (Kim Hwan-hee).
Selaras dengan kutipan kalimat pembuka yang mengambil dari ayat Alkitab, "The Wailing" kental nuansa spiritualitas. Iblis bukan sekedar menakut-nakuti di sini, melainkan menebar tipu daya, memfitnah, guna mencelakai makhluk penuh rasa ragu bernama manusia. Na turut menyatukan unsur shamanisme tradisional lewat kehadiran Il-Gwang (Hwang Jung-min) di pertengahan film serta simbolisme Kristen mengenai pertentangan sang messiah melawan iblis di babak akhir, menempatkan karakternya di tengah, menguji keimanannya saat diharuskan memilih sisi, menggambarkan bagaimana lemahnya hati seorang manusia.
Mengetengahkan topik supranatural, Na tidak lantas terjebak dalam penyajian jump scare klise hanya ada satu adegan yang mendekati, itu pun tanpa hentakan musik mengejutkan atau kemunculan tiba-tiba. Na berfokus membangun atmosfer tak mengenakkan yang terdiri atas ruangan-ruangan sempit berisi foto mayat, kepala kambing dan alat ritual lain, serta kondisi mengenaskan para korban pembunuhan. Dibantu editing dinamis Kim Sun-min, Na juga mampu menciptakan ketegangan yang mencengkeram kuat seperti saat adegan berpindah konstan menyoroti ritual Il-Gwang dan si pria Jepang atau third act 30 menit yang menampilkan tiga karakter di tempat berbeda secara bergiliran.
Sayang, keputusan Na menumpuk twist dalam waktu berdekatan menjelang akhir menimbulkan perasaan dibohongi. Padahal sedari awal Na sudah sukses menebar potongan petunjuk subtil yang menyesatkan persepsi penonton. Selain cacat pada konklusi tersebut, "The Wailing" adalah satu perjalanan panjang (durasi mencapai 156 menit) yang bakal terus membenamkan penonton dalam misteri penuh tanya, membuat kita seperti karakternya tersesat, dikuasai oleh keraguan.
MOANA (2016)
Saya tahu sedang menyaksikan suatu tontonan spesial saat durasi baru bergulir selama 10 menit dan air mata telah mengalir deras, bukan disebabkan kesedihan melainkan rasa haru mendapati keindahan yang mendiamkan semua kata-kata, meniadakan ekspresi verbal. Sederhananya: magis. "Moana", selaku animasi ke-56 Disney sanggup melakukan itu melalui adegan sederhana ketika sang titular character berjalan di bibir pantai, dipilih oleh laut untuk menjadi penyelamat kebajikan dunia. Diiringi lagu "An Innocent Warrior" milik Opetaia Foa'i, visual cantik, serta sensitivitas rasa penyutradaraan John Musker dan Ron Clements, momen tersebut menggambarkan perjalanan yang akan penonton arungi.
Ber-setting di pulau tempat sebuah suku Polinesia bermukim, "Moana" dibuka dengan dongeng mengenai demigod bernama Maui (Dwayne Johnson) yang mengambil jantung Te Fiti, dewi berwujud pulau yang menyebarkan kehidupan di seluruh dunia. Akibatnya tercipta kutukan yang menebarkan kejahatan. Moana (Auli'i Cravalho) terpikat oleh kisah tersebut, berambisi mengarungi samudera saat dewasa nanti. Tapi sang ayah sekaligus kepala suku (Temuera Morrison) melarangnya, menganggap laut lepas terlalu berbahaya dan Moana harus berfokus pada kesejahteraan rakyat mengingat kelak ia akan mewarisi gelar kepala suku.
Disney di era modern telah bertransformasi, mengedepankan sosok puteri yang kuat, mandiri, tidak memerlukan kehadiran prince charming untuk melengkapi hidupnya. Maka tak heran sewaktu sumber daya alam pulaunya mulai menipis akibat kegelapan yang semakin menggelayuti, Moana nekat sendirian berdua jika menghitung Heihei si ayam yang menjadi scene stealer berkat tingkah bodohnya mengarungi laut guna mencari Maui supaya sang demigod bersedia membantu mengembalikan jantung Te Fiti. Bersanding dengan manusia setengah dewa, Moana tidak inferior, bahkan kerap lebih unggul. Salah satu dialog pun menyatakan keengganan Moana disebut "puteri", bak coba menjauh dari karakteristik Disney princess masa lalu yang dituding seksis.
Tuturan cerita pada naskah karya Jared Bush tampak sederhana di permukaan, tipikal usaha pembuktian diri karakter utama. Namun kaya akan sentuhan budaya suku Polinesia yang mewarnai jalannya penceritaan, juga subteks berisi hubungan manusia dengan alam. Suku tempat asal Moana hidup bergantung dari sumber alam dan ketika mother nature murka akibat jantungnya dicuri, mereka pun kelabakan (serupa dunia nyata). Sementara dalam perjalanannya, Moana sering mendapat bantuan alam di berbagai wujud, sebutlah lautan atau salah seorang sosok tercinta yang hadir dalam bentuk lain, membantu Moana memecahkan dilema hatinya. Timbul kekurangan perihal nihilnya penjelasan sejauh apa laut bersedia membantu Moana. Pertanyaan ini mengganggu khususnya di klimaks, tapi tak seberapa melukai keseluruhan film.
Selain penuh makna, petualangan Moana dan Maui teramat menghibur berkat sumbangsih banyak aspek. Gelaran aksi memunculkan keseruan yang tak kalah dibanding live action blockbuster dengan pertempuran Moana dan Maui melawan Te Ka si monster lava sebagai puncak. Adegan yang melibatkan Kakamora, para bajak laut batok kelapa pun tak kalah menghentak dibanding sequence dari "Mad Max: Fury Road" (adegan ini merupakan homage bagi film tersebut). Humornya pintar, efektif memancing tawa lewat barter dialog dua tokoh utama maupun berbagai polah Heihei. Berbekal semua itu, tercipta keseimbangan antara kisah mendalam berperasaan dengan hiburan menyenangkan.
Visual luar biasa memikat, baik tatkala mengemas keindahan panorama alam atau masifnya dua adegan aksi di atas. Deretan musiknya sempurna mewakili guratan emosi, entah balada melankolis hingga nomor upbeat menggelora. John Musker dan Ron Clements memaksimalkan dua aspek tersebut, meramunya dengan kreatifitas tinggi, menghindarkan kesan klise melalui sinergi yang unik. Tengok musikal beriringkan "Where You Are" yang bertempo cepat, penuh canda tawa karakter, plus keceriaan visual namun menyimpan ironi mengingat konteksnya sebagai usaha menghalangi mimpi Moana menemukan luasnya dunia. Atau bagaimana "Shniny" selaku pop berlirik menggelitik disandingkan dengan momen intens sewaktu Maui kerepotan menghadapi Tamatoa (Jemaine Clement) si kepiting raksasa. John Musker dan Ron Clements merangkum musik, visual dan cerita penuh mitologi sebagai satu kesatuan utuh, dan berkat sensibilitas keduanya saya dibuat memahami seperti apa rasanya melihat keajaiban secara nyata. "Moana" adalah keajaiban yang memantapkan masa renaissance kedua Disney.
MAJU KENA MUNDUR KENA RETURNS (2016)
Dirilis pada 1983, "Maju Kena Mundur Kena" tak persembahan tersukses Warkop DKI, pula film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak (658.000) sebelum dilewati oleh "Pengkhianatan G-30-S PKI" setahun kemudian. Maju ke 2016 ketika "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1" sanggup menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, Multivision Plus (MVP, dahulu bernama PT. Parkit Films) selaku pemegang lisensi beberapa film Warkop pun tak ingin kecolongan mengingat "Jangkrik Boss" bukan produksi MVP dan memutuskan menggarap sekuel bertajuk "Maju Kena Mundur Kena Returns" yang sama sekali tidak berisikan anggota Warkop DKI atau aktor yang memerankan mereka.
Digarap oleh Cuk FK ("Komedi Moderen Gokil", "Komedi Gokil 2"), film ini menampilkan trio baru bernama "WOW", terdiri dari Wira (Wira Nagara), Ozie (Rafael Tan), dan Wulu (Lolox). Akibat bertindak ceroboh, ketiganya dipecat dari pekerjaan mereka di rumah sakit. Beruntung, nasib baik masih menaungi sehingga trio WOW bisa bekerja di suatu minimarket. Di sisi lain ada Gadis (Adinda Thomas) yang setelah memecahkan guci bernilai miliaran rupiah kepunyaan sang ayah, Jarwo (Jarwo Kwat), memutuskan kabur ke asrama puteri milik Bu Norma (Maya Wulan), tempat di mana trio WOW sering menyelinap masuk guna menemui pacar masing-masing.
Mempertahankan gayanya dalam dua film "Komedi Gokil", Cuk FK menghujani filmnya dengan "lawakan mesum" khas Warkop era 90-an. Tapi berbeda dengan Arizal sang pengarah film-film Warkop, penggarapan Cuk FK lebih terkesan murah dan miskin imajinasi. Bahkan di titik terendahnya, guyonan Warkop masih menyimpan usaha lebih merangkai pengadeganan, mengkreasi setting komedi unik nan menggelitik. Sedangkan film ini cenderung mengambil dari slapstick formulaik (Wulu jatuh menimpa pasien), gaya klise Warkop (kasur pasien meluncur kencang), hingga titik nadir film berupa ekspresi mesum menjijikkan trio WOW kala terpana memandangi tubuh wanita. Sensual comedy at its lowest.
Namun begitu cerita (baca: segmen-segmen komikal) bergulir jauh, "Maju Kena Mundur Kena Returns" ternyata tidak se-annoying karya-karya sang sutradara sebelumnya berkat satu sentuhan: kesialan bak hukuman bagi protagonis. Saya beberapa kali tertawa kecil melihat ketiganya tertimpa kesialan bagai mendapat hukuman atas tindakan buruk dan mesum yang diperbuat. Jarwo diinjak-injak seisi asrama sewaktu coba menyelinap, Wira ketahuan berselingkuh, dan lain sebagainya. Trio WOW bukan sosok simpatik, sehingga rangkaian kesialan tersebut menimbulkan kepuasan bagi penonton. Beberapa situasi misal wanita yang mendadak menjadi boneka dan bisa dilipat pun walau tak seberapa efetif mengundang tawa, meninggalkan absurditas cukup menghibur.
Porsi Lolox merengek yang notabene sisi paling menyebalkan dari sang komedian untungnya diminimalisir. Wira, bermodalkan ekspresi bodoh berlebihan, logat ngapak, serta catchphrase "anak kadal" bakal paling disukai penonton, walau saya tahu talenta aktingnya lebih dari sekedar wajah konyol dan one-liner (tiga tahun lalu komunitas teater kami sempat berkolaborasi). Rafael gagal mengikuti jejak dua rekannya (Bisma melakoni debut solid di "Juara" dan Morgan adalah salah satu aktor paling reliable saat ini). Dia sudah berusaha sebisanya, namun talenta komedinya memang belum terasah, berakhir datar kala dituntut bertingkah konyol.
Film ini memposisikan trio WOW selaku penggemar berat "Maju Kena Mundur Kena", di mana dalam berbagai kesempatan ketiganya menonton film tersebut. Tidak ada substansi di balik kegiatan tersebut kecuali usaha tak kreatif menjalin ikatan dengan film aslinya, sekaligus pemberian tribute (is it?) yang tidak terkesan menghormati mengingat hasil akhir film tak mencerminkan kualitas pendahulunya tersebut. Alur penceritaan pun sama, ketika film Warkop DKI masih punya sinergi sebab-akibat walau alurnya berbentuk sketsa, sekuel ini mengesampingkan itu, sewaktu sejumlah konflik macam perselingkuhan Wira, kegagalan WOW mencuri cincin, Jarwo tertangkap basah sepenuhnya dilupakan tanpa menghadirkan konsekuensi. While funnier and less-annoying than Cuk FK's previous works, this is still a lazy, forgettable comedy. Watch the original instead.
Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID
RUMAH MALAIKAT (2016)
Saya sering menyebut bahwa hal terpenting dari horor adalah filmnya menyeramkan, tapi bukan berarti naskah sama sekali tak dibutuhkan. Berbeda dengan drama, poin utama naskah dalam horor tidak perlu sampai menggali cerita dan karakter melainkan cukup sebagai motor penggerak alur, sehingga penonton memiliki sesuatu untuk diikuti sembari menunggu kehadiran teror. Karena selain horor eksploitasi dan slasher (they only need extreme exploitation and creative kills) ketiadaan motor tersebut berpotensi menghasilkan repetisi, apalagi jika mengandalkan sosok hantu selaku sumber teror. Kekurangan serupa sayangnya menimpa "Rumah Malaikat".
Film terbaru sutradara sekaligus penulis naskah Billy Christian ("Tuyul", "Kampung Zombie") ini merupakan film horor paling saya tunggu tahun ini. Poster, trailer, dan usungan premisnya telah menjelaskan alasannya. Judul film merujuk pada nama panti asuhan dengan Ibu Maria (Roweina Umboh) sebagai kepala pengurus. Di sanalah Alex (Mentari De Marelle) tengah melakukan penelitian bagi skripsinya. Demi memperoleh waktu lebih bersama anak-anak panti (subjek skripsi), Alex menawarkan diri bekerja menggantikan seorang pegawai yang tidak tahan menghadapi keanehan panti tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai Alex menemui kejanggalan serupa.
Anak-anak di "Rumah Malaikat" banyak yang berpenampilan aneh (memakai kain penutup mata sampai paper bag sebagai topeng) begitu pula perilakunya. Mulai dari cara bicara misterius, mendadak muntah, atau bercerita mengenai masa lalu panti asuhan lewat cara mengerikan. Tentu hiperbolis, namun demikian kebutuhan film bertema creepy children. Berbekal mannerism tersebut serta rumah tua berisi sekumpulan lukisan bernuansa "zaman Belanda", semestinya film ini dapat membangkitkan bulu kuduk melalui pembangunan atmosfer, sayangnya Billy Christian terjebak dalam pengemasan jump scare klise.
"Rumah Malaikat" tersusun atas sekumpulan sequence, di mana setiap sequence hanya berfungsi menjadi set-up bagi deretan jump scare beriringkan musik berisik milik Rizal Peterson. Pola yang paling sering diulang adalah Alex melihat penampakan hantu, terdiam, Bi Arum (Dayu Wijanto) datang mencuri perhatiannya, lalu begitu berbalik lagi, hantu telah menghilang. Situasi ini terus berulang, semakin melelahkan, menyebalkan dan repetitif seiring bergulirnya durasi. Sangat disayangkan, sebab di beberapa adegan, Billy Christian dibantu sinematografi Joel F. Zola plus tata artistik Ferry Macan yang senantiasa membuat "Rumah Malaikat" enak dipandang kentara punya insting merangkai creepy imagery, sebut saja ayunan kaki anak-anak di bawah meja makan atau sosok di bathtub.
Akibat cara pengemasan di atas dan penyuntingan Andhy Pulung yang membuat lompatan antar momen tersaji terlampau cepat, sulit bisa terserap oleh adegannya. Billy Christian pun bagai kekurangan ide dalam pengembangan cerita, menjadikan jalannya alur terasa kosong, sekedar berisikan jump scare. Padahal melihat third act-nya, terdapat begitu banyak sisi mampu digali, sebutlah motivasi Alex, karakter Ibu Maria dan Ario (Agung Saga), putera Bi Arum yang difabel, dan tentunya mengenai Rumah Malaikat sendiri yang menyimpan disturbing backstory. Bahkan anak-anak penghuni panti berbekal ciri unik masing-masing juga layak mendapat sorotan lebih.
Terdapat cukup bekal untuk menyajikan investigasi sederhana, menebar benih misteri beserta petunjuknya perlahan demi menghindarkan kehampaan cerita daripada menumpahkan semua di third act. Bayangkan, "Rumah Malaikat" berusaha (tiba-tiba) memaparkan, lalu menjelaskan setumpuk plot point dalam waktu sekitar 20 menit. Alhasil ketimbang menjelaskan apalagi menguatkan, konklusinya justru membingungkan, meninggalkan lubang. Penutupnya semakin mengecewakan akibat klimaks berupa perkelahian yang clumsy. Saya tetap merekomendasikan anda menonton "Rumah Malaikat" karena penggarapan well-made dan potensi besar yang tersimpan, hanya jangan berharap filmnya berhasil menakut-nakuti.
ALLIED (2016)
Apa yang terjadi bila Robert Zemeckis, sutradara dengan kegemarannya memanfaatkan teknologi diharuskan menggarap film bermuatan cerita old-school ditambah tribute kental bagi klasik macam "Cassablanca"? "Allied" adalah jawabannya. Naskahnya mengandung formula lawas percintaan berbalut espionage dengan setting Perang Dunia II, sementara visualnya berhiaskan CGI modern nan mempesona. Bahkan sedari adegan pembuka saat kita menantikan Max Vatan (Brad Pitt) mendarat di gurun pasir Maroko memakai parasut, atensi telah berhasil direnggut, meniadakan niatan berpaling dari layar.
Max merupakan intelijen Kanada yang tengah mendapat misi rahasia untuk mengeksekusi salah satu anggota Nazi. Misi tersebut mengharuskannya bekerja bersama anggota pemberontak Prancis, Marianne Beausejour (Marion Cotillard), di mana keduanya berpura-pura sebagai pasangan suami istri. Tentu saja mereka jatuh cinta meski sama-sama mengetahui romansa antara agen takkan berjalan bahagia. Bangunan awal hubungan keduanya cukup menarik lewat kemesraan palsu demi menciptakan kesan pada publik serta desing peluru walau timbulnya benih asmara agak terburu-buru. Ajakan menikah Max pasca sekali berhubungan seks di tengah badai pasir layak diperdebatkan.
Memasuki paruh kedua tatkala seharusnya kisah cinta Max dan Marianne diperdalam, naskah garapan Steven Knight mengubah arah. Bagai menerapkan formula "Hitchcockian", memunculkan twist di pertengahan, menggiring "Allied" ke ranah misteri. Setahun setelah memiliki anak dan hidup bahagia di London, timbul kecurigaan bahwa Marianne adalah mata-mata Nazi. Max yang menolak percaya berinisiatif melakukan penyelidikan rahasia yang turut membuat penonton ikut menduga-duga, "benarkah itu?". Proses Max mencari kebenaran jadi perjalanan menarik berkat pertanyaan tersebut serta kepiawaian Zemeckis merangkai set-piece, termasuk prison break sequence eksplosif yang walau out-of-place tak bisa dipungkiri punya kadar hiburan tinggi.
Sayang, pergantian fokus ini justru melucuti dinamika romansanya sewaktu Max dan Marianne semakin jarang tampil bersama. Saat semestinya kehangatan hubungan diperdalam demi dampak emosional, filmnya justru memisahkan mereka. Knight pun kurang mampu membangun interaksi "hidup", alhasil romansanya terasa humorless sekaligus dingin, sedingin chemistry Brad Pitt dan Marion Cotillard. Keduanya tidak buruk khususnya Cotillard yang di tengah hambarnya naskah mampu menyuntikkan emosi dalam cerita bersenjatakan ekspresi penuh kekayaan rasa, termasuk menambah kekuatan konklusi.
"Allied" tidak sepenuhnya menjadi sajian old-school dari zaman modern karena pengaruh tata bahasa (less-poetic dan memiliki "F-word"), unsur seksual yang lebih "liar", serta sentuhan teknologi dengan highlight pada adegan serbuan udara yang memperlihatkan langit dihiasi cahaya peluru dan bom bagai kembang api di malam hari sebelum ditutup oleh momen mencekam jatuhnya sebuah pesawat. Cukup menguatkan kesan lawas yakni keberadaan tribute bagi "Cassablanca" berupa beberapa aspek dalam kisahnya, setting lokasi, sampai kostum Brad Pitt di awal yang mengingatkan pada setelan putih Humphrey Bogart.
Dalam suguhan kisah cinta klasik Hollywood, filmnya cenderung melankolis, dramatis, tak ragu menangani momen romantis secara hiperbolis. Seringkali kamera diposisikan close-up agar ekspresi pemain tertangkap seutuhnya, memudahkan transfer rasa pada penonton. Hal itulah yang tidak dimiliki "Allied" sewaktu Zemeckis bak lebih mementingkan elegansi ketimbang curahan emosi. Untungnya sang sutradara paham betul peran sinema selaku escapism, sehingga filmnya tetap berakhir sebagai hiburan menyenangkan.
UNDER THE SHADOW (2016)
Pada 1980-an saat pecahnya peperangan antara Iran dan Irak, warga Teheran khususnya kaum perempuan hidup dalam rasa takut sekaligus tekanan. Selain harus setiap hari mewaspadai serangan misil, mereka pun terenggut kebebasannya, tidak diperkenankan memiliki VCR (bukan bagi perempuan saja), bahkan dilarang keluar rumah tanpa memakai jilbab. "Under the Shadow" selaku debut penyutradaraan Babak Anvari menyoroti situasi sosial tersebut, mengawinkannya dengan mitologi mengenai jin yang kemungkinan didasari oleh permasalahan psikologis karakternya, menghasilkan horor terbaik tahun 2016 yang bakal sulit dikalahkan.
Turut menulis naskahnya, Babak Anvari memanfaatkan first act untuk membangun latar karakter, memperkenalkan penonton pada Shideh (Narges Rashidi) yang keinginannya melanjutkan pendidikan dokter ditolak akibat keterlibatannya dengan gerakan ekstrim sayap kiri pada masa revolusi. Shideh terpaksa menerima tinggal di rumah, mengurus puteri tunggalnya, Dorsa (Avin Manshadi) sementara sang suami, Iraj (Bobby Naderi) yang seorang dokter fakta ini menyulut konflik suami-istri hendak ditugaskan di garis depan peperangan. Menolak untuk mengungsi walau seisi bangunan tinggal menyisakan ia dan Dorsa, Shideh perlahan mendapati kisah jin yang selama ini ia anggap dongeng mungkin benar adanya.
Anvari sanggup menyajikan drama solid berisi kritik atas diskriminasi gender yang mengisi sebagian besar porsi cerita. Mayoritas waktu, kita bagai tengah melihat apa jadinya jika Asghar Farhadi menggarap film horor lewat observasi keseharian Shideh, bagaimana ia diam-diam menutup rapat gorden supaya bisa bebas berolahraga memakai tanktop ditemani video senam Jane Fonda. Puncaknya ketika ia ditangkap akibat keluar rumah di malam hari ketika perang meletus tanpa jilbab. Menurut seorang haji yang bertindak sebagai hakim, perbuatan Shideh tak bisa ditoleransi, di mana semestinya ia malu sebagai wanita karena para pria tengah menjadi martir. Shideh nampak memendam amarah, begitu pula penonton. Kuat memprovokasi, sehingga sulit merasa keberatan bila dramanya mendominasi.
Namun bukan berarti Anvari melupakan sentuhan horor, karena sebaliknya, transisi drama sosial kemudian drama keluarga saat Shideh dan Dorsa mulai berselisih menuju teror jin berlangsung mulus. Sangat mulus, keduanya saling menguatkan. Selayaknya "The Babadook", timbul pertanyaan apakah keberadaan sosok makhluk halus adalah nyata atau bentuk metafora atas degradasi psikis karakternya. Pertanyaan itu mulai merasuk dan perlahan bersinggungan, berpadu dengan teror ledakan misil menciptakan ketakutan yang konsisten. Seiring berjalannya waktu, bunyi alarm dan lampu yang tiba-tiba padam semakin terasa mengerikan, menimbulkan kesan tidak nyaman baik untuk karakter maupun penonton berkat kepiawaian Anvari membangun atmosfer klaustrofobik.
Kuantitas Jump scare bisa dihitung dengan jari, tapi efektivitasnya luar biasa. Dibantu kecerdikan pergerakan kamera Kit Fraser kamera bergeser lambat atau berputar 90 derajat sebelum mengungkap penampakan Anvari menghadirkan kesempurnaan timing, mendadak mengejutkan penonton di saat tak terduga. Anvari pun tidak memunculkan jump scare sepotong-sepotong, melainkan melanjutkan ke teror berikutnya, memaksimalkan ketegangan sebab jantung penonton masih berdebar kencang akibat rasa kaget sebelumnya. Seringkali kita diajak berharap-harap cemas menantikan jin yang kita tahu ada namun seperti apa sosoknya tetap menjadi misteri. It's scarier to wait for something that we know exist but don't know how it looks.
Seperti di dunia nyata, jin di sini merupakan makhluk misterius yang walau ditakuti banyak orang, eksistensinya kerap jadi tanda tanya begitu pula wujudnya. Sebagai penghasil kengerian, klimaksnya lemah tatkala Babak Anvari terjebak dalam klise adegan kejar-kejaran bertempo tinggi, tapi di sisi lain klimaks tersebut (ditambah desain sosok jin dan konklusi cerita) makin menguatkan kisah yang ditawarkan mengenai bagaimana peperangan sekaligus tekanan terhadap kebebasan menyulut rasa takut, melukai psikis seorang perempuan yang selanjutnya bukan tak mungkin ia tularkan pada anaknya.
OASIS: SUPERSONIC (2016)
"There we were now here we are. All this confusion nothings the same to me. But I can't tell you the way I feel. Because the way I feel is oh so new to me". Lirik tersebut berasal dari lagu "Columbia" yang membuka "Oasis: Supersonic" dan sempurna mewakili fokus utama dokumenter karya Mat Whitecross ini. Anda takkan mampu merangkum tiap sisi perjalanan salah satu band terbesar sepanjang masa ini hanya dalam film berdurasi dua jam. Butuh satu musim penuh serial televisi atau bahkan lebih untuk melakukannya. Akhirnya dapat dimaklumi bila "Oasis: Supersonic" mengesampingkan pengaruh Oasis pada pergerakan britpop atau era pasca 1996 yang dipenuhi naik-turun kualitas hingga berujung bubar jalan di 2009.
It's more about "rise" than "rise and fall". Filmnya meminggirkan fakta bahwa sampai penghujung eksistensi, rilisan Oasis tak pernah menyamai dua album pertama mereka atau penurunan signifikan kualitas suara Liam Gallagher. Tapi bisa dimengerti, sebab "Oasis: Supersonic" memang memfokuskan penceritaan tentang bagaimana para pemuda kelas pekerja asal Manchester melesat menjadi band terbesar Britania Raya hanya dalam waktu tak sampai dua tahun setelah merilis single pertama mereka "Supersonic" pada April 1994. Puncaknya tentu gelaran konser dua hari di Knebworth yang disaksikan total 250.000 penonton, dengan 2,5 juta permintaan tiket (1:23 populasi) yang merupakan rekor di Inggris hingga sekarang.
Sebelumnya, kita diajak terlebih dahulu menengok awal pembentukan Oasis, yang meski bukan cerita baru bagi para penggemar namun tetaplah kisah menarik yang menekankan campur tangan takdir kental keajaiban tak terdefinisi. Bisakah anda menjelaskan kenapa Liam sang berandalan sekolah mendadak terobsesi dengan musik setelah mendapat pukulan palu di kepala? Atau bagaimana Noel yang awalnya seorang roade ternyata memiliki bakat menulis lagu tingkat dewa? Bahkan di tengah kekacauan dan sensasi tabloid, Gallagher bersaudara tetap menyimpan keajaiban sebagaimana ditunjukkan dalam proses rekaman kala Noel cukup sekali memainkan lagu baru dan Liam langsung bisa menyanyikan, merekamnya dengan sempurna.
Bukan soal Oasis semata, sosok personal Liam dan Noel pun ikut digali ketika filmnya menyoroti kerasnya masa kecil sebagai pemicu keliaran mereka. Hubungan love/hate keduanya pun dipaparkan secara efektif, cukup melalui beberapa footage yang memperlihatkan canda tawa ditambah penuturan singkat Noel akan rasa irinya kepada rockstar attitude sang adik. Bagi die-hard fans, momen ini bakal menghadirkan senyum, mengembalikan ingatan hangat bahwa sesungguhnya mereka saling menyayangi dan kerap melontarkan pujian (Liam pernah menyebut kakaknya sebagai penulis lagu terbaik sepanjang masa). Gallaghers jarang menuturkan isi hati, menjadikan momen personal itu terasa spesial meski ketiadaan wajah narasumber sepanjang film menghalangi timbulnya dinamika emosi dan kedekatan penonton dengan subjek.
Rutin membuat onar di atas maupun luar panggung, konflik internal berujung pemecatan drummer Tony McCarroll, depresinya Guigsy sang pemain bass adalah bukti tidak mulusnya perjalanan Oasis, dan serangkaian konflik tersebut jadi sumber hiburan. Pengemasan Mat Whitecross yang didominasi pergerakan animasi liar cocok mewakili sisi chaotic khas Oasis. Pengalaman sang sutradara membuat beberapa video klip penuh visual memikat milik Coldplay berperan besar menguatkan visualisasi filmnya. Sebagai penambah dosis hiburan, komentar-komentar bernada arogan, seenaknya tapi tak bisa dipungkiri menggelitik dari Gallagher bersaudara pun hadir walau "the best bites" macam "If I wasn't a musician I don't know. I'd be God, maybe? That would be a good job" (Liam) dan "I despise hip hop. Loathe it. Eminem is an idiot and I find 50 Cent the most distasteful character I have ever crossed in my life" (Noel) takkan anda temui.
Sayangnya keputusan Mat Whitecross menutup film dengan nada melankolis (kontemplasi para personil diiringi "Champagne Supernova") terasa kurang sesuai, sehingga setelah membangun antisipasi, momentum konser Knebworth justru berujung antiklimaks. Selorohan arogan berhiaskan "Live Forever" rasanya lebih tepat. Para penggemar berat (termasuk saya) bakal terus diajak bernyanyi walaupun berpotensi kurang bermakna bagi penonton awam, termasuk kemungkinan timbulnya kesalahan persepsi jika Oasis bubar di akhir medio 90-an. Tapi selaku penelusuran untuk salah satu fase sekaligus yang terbaik dalam karir Oasis yang "kaya", "Oasis: Supersonic" telah menjalankan fungsinya dengan baik. MADFERIT!
MELBOURNE REWIND (2016)
Film tersusun atas berbagai aspek; akting, musik, sinematografi, dan lain sebagainya yang bersatu, saling mendukung menciptakan bentuk karya baru. Kesemuanya harus saling sokong, bukan saling serang. Untuk itu diperlukan pemersatu, pengarah jalan berupa kitab alias naskah serta sutradara selaku pembawa kitab (sutra=kitab, dara=pembawa). Bila keduanya lemah niscaya tercipta ketidakselarasan walau tiap sisi tampil baik secara individual. Ibarat sebuah tim sepak bola diisi pemain dengan kemampuan mumpuni yang bermain sendiri-sendiri di atas lapangan, urung menyatu sebagaimana tim seharusnya, nihil taktik pula arahan solid sang pelatih. Kurang lebih begitulah "Melbourne Rewind".
Merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Winna Efendi, filmnya dibuka oleh pertemuan kembali Laura (Pamela Bowie) dan Max (Morgan Oey) di Melbourne. Malam itu keduanya memilih minum kopi bersama, membicarakan kenangan lama, membuka kesempatan bagi alurnya melakukan flashback di mana penonton bisa belajar tentang hubungan keduanya melalui hamparan masa lalu. Tapi kesan throwback tak terpancar saat bangunan naskah Haqi Achmad ("Ada Cinta di SMA") enggan memaksimalkan lompatan waktu, hanya sepintas menyoroti obrolan di masa kini sehingga tiada rasa "rewind" yang semestinya hadir. It could be one heartwarming reminiscene.
Perpindahan setting waktu itu pun dapat berguna selaku jembatan antar fase kehidupan protagonis yang dalam film ini kerap melompat tiba-tiba. Kesan mendadak juga diakibatkan lemahnya pembangunan motivasi karakter. Keputusan Laura berkuliah di Melbourne hingga progres hubungannya dengan Max dari perkenalan, berpacaran, lalu berpisah disajikan terlampau instan, alhasil sulit memahami karakternya apalagi merasa terikat. Cara bertutur Danial Rifki ("Spy in Love", "Haji Backpacker") pun tak membantu kala sang sutradara bak bimbang menentukan identitas film, apakah low-key drama (didominasi obrolan santai minim dinamika emosi) atau romansa manis nan ringan ala Korea (akting Pamela Bowie dan beberapa cute sequence).
"Melbourne Rewind" berniat menyuguhkan pendewasaan Laura, menyoroti proses tumbuhnya seorang miserable girl tanpa mimpi yang penuh kegamangan hati. Tapi pada akhirnya saya tak merasa gadis ini berubah. Dia mampu memantapkan hatinya di urusan cinta namun itu terlalu dangkal untuk bisa disebut pendewasaan. Keputusan Laura berdamai dengan salah satu tokoh pun bukan merupakan hasil realisasi, melainkan didorong ketidaktahuan mesti berbuat apa. Untungnya, seperti telah saya ungkapkan, banyak sisi "Melbourne Rewind" tampil memikat, termasuk akting yang sedikit menutupi kekurangan naskah tersebut.
Di atas kertas Laura adalah sosok tak simpatik. Dia egois, tak punya arah hidup, selalu tenggelam dalam kesedihan, bahkan nyaris merusak hubungan sahabat lamanya, Cecily (Aurelie Moeremans) dengan Evan Mulyadi (Jovial da Lopez). Nyaris tak ada hal positif signifikan ia lakukan. Laura urung terasa menyebalkan berkat pembawaan Pamela Bowie. She's likeable, cute and hard to hate especially with her constant pouting. Di sisi lain Morgan Oey membuktikan bahwa karisma miliknya mampu membuat karakter yang kurang tergali macam Max pun bisa menarik disimak tiap tutur kata serta perbuatannya.
Serupa pencapaiannya lewat "Negeri Van Oranje", Yoyok Budi Santoso sanggup merangkum gambar-gambar indah ber-setting luar negeri, menangkap tiap sudut Melbourne, menjadikannya panggung memikat mata entah kedamaian malam, cahaya di kamar Max maupun pemandangan dari balon udara. Soundtrack-nya diisi barisan lagu yang memanjakan telinga, dari sederet post-rock sampai nomor uplifting pop seperti "Something Beautiful" milik Tim Halperin. Sayang, akibat lemahnya sisi penceritaan, lagu-lagu tersebut bukan berujung menguatkan melainkan menciptakan distraksi tatkala saya dibuat cenderung memilih mendengarkan musiknya saja ketimbang mengikuti perjalanan alur.
#66 (2016)
Masyarakat kita terobsesi terhadap hal-hal berbau internasional. Seseorang atau sesuatu dielu-elukan bila mendapat pengakuan, "punya nama" di luar negeri. Prestasi di negeri orang dipandang jauh lebih prestisius ketimbang di tanah air. Kondisi serupa berlaku dalam industri perfilman. Seolah-olah tiap film yang menembus seleksi bahkan memenangkan festival internasional (baca: bertempat di luar negeri) sudah pasti bagus. Tapi tak sedikit pihak belum memahami bahwa tidak seluruh festival asing sekelas Cannes atau Venice. Banyak pula yang berstatus abal abal (silahkan buka daftar festival yang telah diakreditasi FIAPF).
"#66" karya sutradara Asun Mawardi ("Pirate Brothers") jadi satu lagi "karya anak bangsa" (damn, I hate this term) yang mengundang perhatian pasca meraih kesuksesan di beberapa festival seperti Worldfest-Houston International Film Festival hingga International Filmmaker Festival of World Cinema. Bonafide atau tidak festival-festival tersebut saya serahkan pada anda. Cek saja situsnya satu per satu. Saya takkan mempersoalkan itu, dan murni menilai pencapaian "#66" dari apa yang tersaji di layar. But yes, this one is a bad movie.
Kali ini Asun Mawardi tak hanya bekerja di belakang kamera, namun turut pula berperan sebagai lead action hero, menjadi pembunuh bayaran tanpa nama yang dipanggil #66, serupa angka yang tercetak pada tato di tangannya. Kode angka itu konon menandakan keanggotaan suatu organisasi pembunuh bayaran ada pula tokoh bernama #33 (Hendra Louis) tapi tak pernah sekalipun penonton menerima penjelasan tentang organisasi tersebut. Ya, #66 mengingatkan pada Agent 47 dalam "Hitman". Tapi berbeda dengan Agent 47, #66 tidak botak dan memakai setelan jas rapi, melainkan berambut gondrong, mengenakan jaket kulit dan jeans berlubang. Yep, he's more Aa Azrax than Agent 47.
Film dibuka oleh kemunculan pria bermuka (sok) galak yang memasuki minimarket. Ternyata minimarket itu dijadikan lokasi rahasia untuk membuat narkoba. Siapa pria itu biarlah jadi misteri, sebab fokus langsung berpindah ke seorang wanita salah satu buruh di tempat produksi narkoba itu. Sang pria galak? Tak lagi nampak. Sang wanita rupanya tengah diincar polisi. Tapi sebagaimana pria galak tadi, si wanita pun bukan sosok integral, tak lagi muncul. Kita pun beralih melihat sang jagoan utama diserang dua preman akibat hutang saat berjudi. Sudah pasti #66 yang perkasa menang mudah. Kemudian naskah karya Matthew Ryan Fischer dan Asun Mawardi terus membawa alur melompat acak nan kasar dari satu titik ke titik berikutnya, tanpa jembatan sebagai eksplanasi, memunculkan kebingungan dalam mengikuti plot. Tiada eksposisi terkait apa, siapa, kapan, kenapa dan bagaimana.
Penanganan naskahnya terbalik, urung menjabarkan poin substansial dan justru kerap menyia-nyiakan waktu memperlihatkan hal remeh semisal #66 menaiki motor gede di jalan raya sampai sederet obrolan yang hadir sekilas tanpa urgensi, berujung membengkaknya durasi hingga 116 menit. Soal penulisan karakter pun naskahnya lemah. Bermaksud menyiratkan moral abu-abu dan sisi bermasalah sang protagonis, #66 justru terasa jauh dari kesan likeable. Dia berhutang judi, melarikan uang klien, menelantarkan keluarga, dan menolak menolong wanita yang tengah diganggu preman di jalan walau sang wanita telah memohon. That's not complexity, simply unlikeable.
Pembawaan nihil karisma dan pengucapan dialog datar Asun Mawardi pun sama sekali tidak menolong. Menggelikan pula mendapati Asun (50 tahun) berperan menjadi anak Yayu Unru (54 tahun). Paling tidak berikanlah riasan supaya perbedaan umur yang begitu dekat itu tak sebegitu kentara. Sedangkan mengenai pelafalan datar kalimat, bukan hanya Asun seorang yang melakukannya. Hampir semua cast begitu, mengucapkan baris demi baris kalimat tanpa varian intonasi, sentuhan emosi atau perubahan ekspresi. Rasanya seperti melihat robot tak berjiwa tengah bicara. Begitu datarnya, akting Donita nampak menonjol dibanding penampil lain.
Untung suguhan laga cukup memberi angin segar. Koreografi Ryan Adrian Tedja cukup nikmat diikuti, apalagi Asun tak segan-segan menyuntikkan cipratan darah di mana-mana meski efek CGI-nya terhitung kasar. Sayang, aspek tersebut tetap tak kuasa mengatrol jauh kualitas "#66" akibat porsi aksinya teramat minim. Sepanjang durasi 116 menit, penonton lebih banyak diberikan obrolan yang terucap datar dari mulut jajaran pemain. Sesungguhnya aksi penutup saat #66 menghabisi lawan terakhir layak disebut keren, membangkitkan memori indah atas glorifikasi kebrutalan milik Gareth Evans, namun sungguh kehadirannya terlambat.
Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID
ADRENALINE (2016)
Membuat film berdasarkan suatu wahana bukan hal baru. Sebagai contoh, Disney pernah melakukannya lewat "Pirates of the Caribbean" dan "Tomorrowland". Sudah barang tentu motivasi utama pembuatannya adalah demi mempromosikan wahana tersebut, dan itu sah-sah saja. Maka saya tidak mempermasalahkan saat Rumah Hantu Indonesia (RHI) membuat "Adrenaline". Pertanyaannya, adakah cukup materi bagi ceritanya? Karena berbeda dengan dua judul produksi Disney di atas, konsep rumah hantu hanyalah menakut-nakuti (baca: mengageti) pengunjung memakai jump scare.
Naskahnya dibuat oleh Rusli Rinchen yang sebelum ini menulis "DPO", jadi tak perlu terkejut bila menemui setumpuk absurditas. Jangan terkejut pula ketika judul film baru muncul kala durasi menginjak 12 menit pasca prolog ber-setting panti asuhan yang menceritakan persahabatan dua bocah, Anjani dan Victor. Ibu Anjani tewas di depan mata keduanya setelah sesosok hantu menyeretnya ke dalam danau. Pengurus panti tak percaya akan cerita tersebut dan menuduh Victor telah mempengaruhi Anjani, bahkan mengutarakan tuduhan itu pada calon orang tua angkat Anjani. Ya, hanya di sini anda menemukan pihak panti mencemooh penghuni di depan pengunjung.
Beberapa tahun kemudian, Anjani remaja (Inzalna Balqis) menemukan selebaran audisi pemeran hantu berhadiah 130 juta untuk "Adrenaline" yang diadakan RHI. Anjani pun memutuskan ikut, sebab setelah kematian ayah angkatnya 15 tahun lalu keluarganya kesulitan uang. Buktinya, walau masih sanggup tinggal di rumah mewah, Anjani yang malang ini mesti susah payah naik ojek untuk transportasi, berpanas-panas di tengah terik ibukota. Proses audisi mempertemukan kembali Anjani dengan Victor (Yogie Tan) yang sepeninggal teman kecilnya itu mulai menyelidiki dunia mistis. Mengapa? Demi bertemu Anjani. Tidakkah lebih mudah mencari alamat orang tua angkatnya? Ya, tapi dengan begitu kita takkan mendengar teori menggelikan Victor bahwa sekali orang bersinggungan dengan mistis, hal serupa akan terus membuntuti.
Begitu audisi dimulai, hal-hal aneh mulai terjadi, termasuk kemunculan Mr. Hunt (Swara Emil) sang pimpinan RHI. Nantinya terungkap jika Mr. Hunt bukan manusia melainkan raja iblis. Raja iblis semestinya adalah sosok yang amat sangat mengerikan. Namun "Adrenaline" rupanya memiliki visi berbeda mengenai raja iblis, yakni pria dengan suara menggelikan yang terlalu dibuat-buat, gemar bersenandung, memakai make-up sekelas buatan teater kampus serta pakaian yang bak diambil dari sisa kostum sinetron kolosal.
Ide cerita "Adrenaline" sejatinya menarik. Bermain dengan misteri alam gaib, ada usaha menghindari formula basi yang asal menempatkan sekumpulan remaja di lokasi angker, meneror, lalu membunuh mereka satu per satu. Masalahnya, terlalu banyak aspek rumit coba dirangkum tanpa diimbangi penulisan solid. Rusli Rinchen kerepotan menangani kompleksitas kisah, meninggalkan lubang akibat ketiadaan penjelasan memuaskan. Karakternya dihadapkan pada audisi di mana masing-masing akan dieliminasi, tapi sepanjang film bentuk audisi urung dijelaskan. Bagaimana pula ada kaitan kejadian dunia nyata dengan alam gaib RHI? Mengapa empat syarat mengalahkan raja iblis begitu konyol? Mengapa beberapa pihak RHI menolong Anjani? Mengapa RHI menyebar selebaran jika peserta memang sudah dipilih? Apa alasan pemilihan mereka?
Sayangnya Dwi Ilalang gagal mengemas kengerian dalam penampakan, padahal beberapa desain khususnya sesosok hantu tanpa mulut lumayan potensial. Namun seperti pengalaman di rumah hantu, para makhluk halus itu sekedar diminta muncul tiba-tiba sembari memasang wajah (sok) seram dan berteriak. Di tangan sutradara dan penulis naskah yang lebih kompeten, "Adrenaline" dapat berujung sajian horor menyegarkan. Tapi apa daya, jangankan paparan sinematik mengesankan, sebagai media promosi, film ini pun tidak mampu membuat saya tertarik mengunjungi Rumah Hantu Indonesia.
Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID
FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM (2016)
Meraup lebih dari 7 milyar dollar dalam delapan film, mudah dipahami mengapa Warner Bros dan J.K. Rowling enggan meninggalkan dunia sihir "Harry Potter". Bahkan jika itu berarti harus mengadaptasi "Fantastic Beast and Where to Find Them", buku pegangan siswa Hogwarts tentang deskripsi 85 spesies makhluk magical. Bukan perkara mudah membangun cerita berdasarkan suatu textbook, tapi apabila Hollywood mampu menyulap lego menjadi sebuah kisah bermakna, kenapa buku pegangan yang diisi makhluk ajaib tidak? Terlebih J.K. Rowling yang tentu paham betul seluk beluk mitologi dunianya bertindak selaku penulis naskah. David Yates sang sutradara empat film terakhir "Harry Potter" pun kembali.
Penyhir asal Inggris bernama Newt Scramander (Eddie Redmayne) baru saja tiba di New York membawa koper berisikan makhluk-makhluk ajaib miliknya. Berbeda dengan Inggris, di Amerika terjadi ketegangan antara penyihir dengan No-Maj (sebutan Amerika untuk muggle), di mana kelompok NSPS (New Salem Philanthropic Society), dipimpin Mary Lou Barebone (Samantha Morton) ingin mengungkap eksistensi penyihir, guna menangkap lalu memusnahkan mereka. Situasi tersebut membuat kaburnya beberapa makhluk dari koper Newt menyulut masalah besar, memaksanya bersama Jacob Kowalski (Dan Fogler) seorang No-maj dan anggota MACUSA (kongres peyihir Amerika), Tina (Katherine Waterston) melakukan pencarian.
Ironis mendapati naskah J.K. Rowling justru merupakan titik terlemah "Fantastic Beast and Where to Find Them". Rowling memang cakap membangun, atau lebih tepatnya melebarkan mitologi setting-nya. Dunia di mana film ini bertempat adalah dunia yang telah kokoh terbangun, memiliki struktur jelas tentang siapa saja penghuninya beserta posisi masing-masing. Rowling pun seperti biasa menyelipkan berbagai pesan mulai perbedaan antar umat manusia sampai perihal environment (the beasts feel like the representation of rare animals in our world). Namun lain halnya dengan penceritaan.
Alur film khususnya di setengah pertama durasi begitu kosong, tanpa drama engaging maupun ketegangan karena memang nyaris tak ada ancaman. Karakter Newt diperkenalkan minim kedalaman, membuat usaha Redmayne menciptakan sosok adorable melalui mata berbinar dan senyum simbul plus poni rambut kurang berhasil. He's cute but lacks of personality. Saya justru lebih terpikat pada Kowalski. Begitu mulus Dan Fogler mentransformasikan sosoknya dari clueless No-maj yang jenaka menjadi reliable supporting character berperasaan. Senyumnya sebelum melangkah ke arah guyuran hujan di paruh akhir terasa penuh kehangatan, sanggup menyentuh emosi.
Mencapai hitungan 40 menit, barulah kita dibawa menelusuri dunia magis dalam koper Newt, mengamati detail makhluk-makhluk ajaibnya. Konsep berbagai jenis lokasi (hutan, padang pasir, hamparan salju) menarik, begitu pula desain makhluk yang memiliki keunikan tersendiri. Tapi momen ini pun tak seberapa "menyihir" mengingat pemandangan serupa telah cukup sering dijumpai pada film fantasi lain. Kemudian alur bergerak menuju pencarian yang dilakukan karakter utamanya, sebuah petualangan yang menyenangkan disimak namun minim dinamika (practically just catch-and-run with gags all over), tak ubahnya perburuan monster dalam "Goosebumps" hanya saja tanpa selipan komedi konyol tak lucu. Bergerak cepat namun kosong, tipis, minim kreatifitas yang semestinya jadi kelebihan utama seorang J.K. Rowling.
Daya pikat meningkat kala protagonis harus menangkap Occamy (hybrid burung dan naga) berkat keseimbangan aksi seru dan penampakan masif sang makhluk. This kind of outta-this-world giant creature is the main reason I watch this movie. Kisah makin kompleks kala ancaman utama mulai diperkenalkan, ditambah sekilas penelusuran terhadap karakter Credence Barebone (as usual, Ezra Miller perfectly nailed a twisted and mysterious teenager) dan kekerasan yang ia terima dari sang ibu. Klimaks berakhir datar, namun konklusinya memberi tease akan bahaya jauh lebih besar, membuat penonton entah suka atau tidak dengan film ini bersedia menantikan sekuel. Overall, "Fantastic Beast and Where to Find Them" memang bak prolog, menanam benih menarik bagi installment mendatang namun filmnya sendiri agak hambar. Fun, but less-magical.
Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




















































15 komentar :
Comment Page:Posting Komentar