POSESIF (2017)

40 komentar

Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) adalah drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan tentang "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja SMA kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi SMA sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen spesial berbekal kesederhanaan. Dari obrolan pertama secara diam-diam saat Lala hanya dapat melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, sampai "ikatan" yang terpaksa dijalin akibat hukuman guru olahraga galak (Ismail Basbeth), mampu menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian agar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan agar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta beragam aturan seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan perilaku posesif bukan eksklusif terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat mendasar manusia mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak menggunakan alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, kemudian melakukan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang akhirnya membuat kata "mudah" tak lagi tepat dipakai menyikapi persoalan tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha menerima perilaku sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya agar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan karakter Yudhis memiliki pesona yang mampu mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai menyampaikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga agar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar menyampaikan rasa sayangnya ketimbang seorang otoriter bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, seperti pertunjukan gambar cantik dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan seperti musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu populer macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.

40 komentar :

Comment Page:
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Jarang-jarang nonton film tentang percintaan SMA (terakhir Galih & Ratna). Pas denger ada unsur thriller-nya "Posesif" bolehlah. Romance-Psychological Thriller.

Dan emang bener tuh. Udah diajak have fun sama percintaan Lala-Yudhis. Ehh setelahnya, diajak sport jantung.

Menurut Abang nominasi apa aja yang layak dimenangin sama Posesif di FFI ?

Anonim mengatakan...

Salah satu film mengejutkan bagi ku ditahun ini.
Film nya manis manis nakutin dan pemilihan lagu nya yg pas serta akting pemain yg apik sekali jadi wajar lah banyak dapat nominasi di FFI.

Anonim mengatakan...

jadi kira2 posesif bakal memenangkan nominasi apa aja nih di FFI ?

Ungki Haeri mengatakan...

review yang di tunggu akhirnya keluar juga, gak sabar pengen nonton, thanks review-nya mas Rasyid...

Icha Hairunnisa mengatakan...

Suka banget sama film ini. Film yang benar-benar ninggalin bekas. Bukan sekedar tentang abusive relationship, tapi lebih dari itu. Bukan sekedar menjadikan Yudhis sebagai pelaku dan Lala adalah korbannya. Bukan sekedar tentang cinta ke lawan jenis tapi juga cinta orangtua pada anak. Setuju sama bagian aktingya Yayu Unru. Aku pikir beliau bakal ngasih kesan bapak yang overprotektif, egois, tukang atur, pokoknya nggak mikirin kebahagiaan anaknya sama sekali. Aku pikir karakternya bakal bener-bener antagonis. Dan hahahahahaha ternyata itu salah. Oh iya, gara-gara film ini, aku jadi suka lagu Sampai Jadi Debu. Lagu itu menggentayangiku dari adegan pas lagunya itu muncul sampai sekarang. Huhuhuhu.

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Dilihat dari kualitas, semuanya layak menang. Dilihat dari aturan yang berlaku, nggak ada yang layak haha

@Ungki Sama-sama, selamat menonton :)

@Icha Betul, nggak sesederhana "itu salah, itu benar". Luar biasa emang Pak Yayu itu, di aktor yang kurang oke, karakter bapak bisa jadi hateable, di sini sebaliknya, likeable.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Wah, kalo sapu bersih mah kayaknya gak mungkin ya, Bang ? Tapi ya minimal dapetlah 1 piala mah. Kayak Nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Cut Mini) layaklah.

Rasyidharry mengatakan...

Cut Mini susah sih, kemungkinan besar Christine Hakim yang dapat. Skenario, sinematografi, & pemeran pendukung pria (Yayu Unru) yang paling berpeluang

Sinyo Febri mengatakan...

Adipati saya rasa jelas punya kans besar jd aktor terbaik melihat saingannya cm seperti itu hahha...yg susah aktris terbaiknya..putri marino bermain bagua bgt..tp ada adinia wirasti yg juga sangat memukau

Ungki Haeri mengatakan...

Mas Rasyid apakah film Gasing Tengkorak sama Hujan Bulan Juni akan di review? nunggu banget review-nya

Rasyidharry mengatakan...

@Sinyo Oh iya Adipati lumayan besar. Teuku Rifnu juga bagus sih. Kalau pemeran utama wanita sih pertarungan Dian-Adinia-Tatjana. Karena debutan, mungkin juri belum akan kasih piala ke Putri.

@Ungki Hujan Bulan Juni pasti. Gasing Tengkorak tunggu kabar dari reviewer lain yang datang premier. Selama bukan sampah nuklir pasti review :)

Taufik Adnan Harahap (Opik) mengatakan...

Saingan terkuat pengabdi setan d ffi. Udah nyangka banget sih kalau posesif bakal se wow ini. Dan putri marino bakal jadi newcomer terbaik.

Rasyidharry mengatakan...

Dari kualitas sih di antara nominee film terbaik lain Posesif paling unggul. Tapi rada sulit menang dan jangan sampai menang hehe

Taufik Adnan Harahap (Opik) mengatakan...

Haha, kalau gua malah berharap posesif yg menang. Sebelumnya gua salah satu orang yg malas nonton film drama romatis indonesia. Tp posesif seakan ngebius gua (setelah nonton trailernya) buat nonton. And the end posesif berhasil ngebius gua serta ngubah kesan jelek gua terhadap film drama romantis Indonesia. Yg selama ini ngandelin artis artis yg mmang lgi d gandrungi remaja milenial dan sedikit bnyaknya ceritanya terkesan jatuh kayak sinetron, haha.

Banumustafa24 mengatakan...

Momen wow bagi saya sih Cut Mini, bang. Pas adegan itu saya kaya "what the hell" tapi hot mamanya masih dapat sih, hehehe. Hujan Bulan Juni, My Generation & Molulo masuk daftar film yang siap direview gak bang?

Rasyidharry mengatakan...

@Taufik Sure, secara kualitas Posesif jauh di atas kebanyakan romance remaja lokal. Bilang "jangan sampai menang" karena persoalan hukumnya. Coba di FFI 2018, sepenuh hati dukung :)

@Banumustafa Hot mama sih hot mama, dicekek begitu makasih deh haha. Molulo masih pikir-pikir, dua lainnya pasti.

park byull mengatakan...

Kak, kalau review film indo sama review film luar tuh standarnya sama nggak? Penasaran soalnyašŸ˜‚

Rasyidharry mengatakan...

@park Ada beda, tapi bukan soal lebih murah/lebih jahat, cenderung ke arah memperhatikan faktor kultural dan/atau hubungan dengan perfilman Indonesia. 'Posesif' misal, dibanding film luar tetep bagus, tapi jadi spesial karena di sini masih jarang film dengan naskah ditulis mendalam & memperhatikan logika psikologis terkait karakternya :)

jefry punya cerita mengatakan...

Buat saya kelemahan film ini adalah anak SMA terlalu dewasa pakai mobil. Adipati bagus aktingnya tapi terlalu dewasa untuk seukuran anak sekolah. Dan gak adanya pembantu rumah tangga di dalam rumah sebesar itu hahaha

Muhammad Rifqi mengatakan...

Bang, boleh dijelasin singkat hukum FFInya yang bisa bikin posesif ga menang?

Anyway akhirnya keluar juga reviewnya. Keep up the good work bang.

Rasyidharry mengatakan...

@Jefry Haha banyak loh anak SMA pakai mobil. Adipati dewasa iya, tapi rasanya nggak terlalu. Pas sama kondisi psikis karakternya. Tapi wajah memang nggak bisa dibohongi seganteng apa juga.

@Muhammad Coba jelaskan singkat tapi padat nih. FFI 2017 punya aturan, film yang sah jadi nominasi adalah film yang sudah tayang di bioskop komersil atau alternatif. Posesif sempet beberapa kali ada special screening bulan September. Masalahnya, pas screening diadakan, Posesif belum punya surat tanda lulus sensor (STLS), yang berdasarkan UU, penayangannya melanggar hukum. STLS Posesif baru terbit 6 Oktober, sehari setelah pengumuman nominasi. Produser bilang surat sudah keluar, tapi faktanya di web LSF, baru dipublikasikan tanggal 6. Kemungkinan, kesepakatan verbal LSF dan Posesif sudah ada sebelumnya, tapi legalitas berbentuk STLS belum terbit, yang mana secara hukum tetap masuk pelanggaran.

Zamal Usep mengatakan...

Waw waw..bahaya juga ya dan dilema kalau mslkn film ini sebagus itu ...ga menang jdi kontrofersi..menangpun demikian

Zamal Usep mengatakan...

Btw ..dipaksain mu nntn hrini nih posesif ..mngingat reviewnya bagus dmna2 ..n pda berani ngash nilai2 gede...jdi penasaran

Zamal Usep mengatakan...

Btw ..dipaksain mu nntn hrini nih posesif ..mngingat reviewnya bagus dmna2 ..n pda berani ngash nilai2 gede...jdi penasaran

Rasyidharry mengatakan...

@Zamal selama publik mau cari info, andai Posesif gagal menang nggak akan jadi kontroversi, bahkan dimaklumi :)

Ricky Manurung mengatakan...

Gw suka moment pas mereka nyanyiin lagu Dan Sheila on 7 di mobil dan endingnya (njiirr), tatapannya lala itu... hahaaa

Rasyidharry mengatakan...

Wah ini sampai pengen nyanyi, sayangnya penonton lain diem haha

nouvaleka mengatakan...

Adegan paling aku suka pas Yudhis ditimpuk pake high heels hahah. Cinta sama Cut Mini ��❣️
Entah knp film ini bikin saya kesel sama adipati bang. Gemessss pgn gue timpukin pake cor coran semen.

yazuli al amin mengatakan...

Karakter yayu justru yg jadi likeable dan malah kesel sama nikita willy kw itu,

Rasyidharry mengatakan...

@nouvaleka Wajar, namanya juga orang abusive :)

@yazuli haha who the hell is nikita willy kw?

yazuli al amin mengatakan...

Gua merasa mirip aja sama nikita willy sepanjang film apa gara2 di awal gua lihat trailer gasing tengkorang, tapi sekarang gua lihat nikita willy kayak nikita mirzani hahhaha ribet

Adi Ryan S mengatakan...

SPOILER ALERT:

Mau nanya bang, pertemuan Yudhis & Lala lari pagi di ending itu nyata dan/atau cuma bayangan aja? Semacam adegan penegasan bahwa Lala udah sepenuhnya move on kah?

Btw, lagu Sampai Jadi Debu di film ini adalah salah satu penggunaan soundtrack film paling baik yg pernah gue liat, sinkronisasi lirik sama adegan slow motionnya bikin mata berkaca-kaca, hehe

Rasyidharry mengatakan...

@Adi Yap, penegasan move on. Intinya, Yudhis tetap akan ada di hidup Lala, menghantui dia, tapi akhirnya Lala milih berlari pergi. Perkara nyata atau tidaknya jadi tidak penting lagi

Alessandro Hutapea mengatakan...

btw hukum2 yg dibicarain diatas kenapa ya? kenapa kalo posesif menang melanggar peraturan hukum?

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Hahahahaha saya kira saya aja yang ngerasa putri marino mirip sama nikita willy masa muda dulu wkwkkw

Rasyidharry mengatakan...

@Alessandro Kalau bener melanggar ya nggak layak dapat nominasi FFI

Alessandro Hutapea mengatakan...

iya Maksudnya melanggar apa??

Rasyidharry mengatakan...

@Alessandro Udah dijelasin kok di komentar atas. Saya kutip lagi nih :)

FFI 2017 punya aturan, film yang sah jadi nominasi adalah film yang sudah tayang di bioskop komersil atau alternatif. Posesif sempet beberapa kali ada special screening bulan September. Masalahnya, pas screening diadakan, Posesif belum punya surat tanda lulus sensor (STLS), yang berdasarkan UU, penayangannya melanggar hukum. STLS Posesif baru terbit 6 Oktober, sehari setelah pengumuman nominasi. Produser bilang surat sudah keluar, tapi faktanya di web LSF, baru dipublikasikan tanggal 6. Kemungkinan, kesepakatan verbal LSF dan Posesif sudah ada sebelumnya, tapi legalitas berbentuk STLS belum terbit, yang mana secara hukum tetap masuk pelanggaran.

Andhika Wijaya mengatakan...

Wah, jadi penasaran untuk nonton film ini. Kabarnya kemarin film ini menang di FFI ya?

Rasyidharry mengatakan...

Menang di Sutradara, Aktris, & Aktor Pendukung.