Tampilkan postingan dengan label Yayu AW Unru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yayu AW Unru. Tampilkan semua postingan

REVIEW - AKHIRAT: A LOVE STORY

Akhirat: A Love Story berangkat dari pertanyaan, "Apa jadinya kalau sepasang kekasih beda agama bertemu di akhirat?". Premis tersebut luar biasa menarik, namun Jason Iskandar, selaku sutradara sekaligus penulis naskah yang telah lebih dari 10 tahun malang-melintang di skena film pendek, kesulitan mengembangkannya agar sesuai dengan medium film panjang dalam debutnya ini.

Protagonis kita adalah Timur (Adipati Dolken) dan Mentari (Della Dartyan), yang berpacaran secara diam-diam karena perbedaan agama. Sewaktu hubungan itu diketahui orang tua keduanya, terjadilah penolakan. Saya mengira bakal dibuat kesal, tapi ternyata Jason mampu mengolah konflik itu dengan bijak. Baik Rahayu (Ayu Dyah Pasha), ibu Mentari, maupun Selma (Nungki Kusumastuti), ibu Timur, tidak melempar ujaran kebencian. Didukung pula oleh akting kuat dua aktris seniornya, nasihat yang mereka bagi terasa betul didasari cinta serta kepedulian teruntuk sang buah hati.

Lalu tibalah tragedi. Timur dan Mentari mengalami kecelakaan lalu lintas. Mereka terbangun di sebuah hutan yang ternyata merupakan akhirat, sementara tubuh keduanya terbaring di rumah sakit dalam kondisi koma. Masalahnya, akibat perbedaan agama, Timur dan Mentari harus melewati gerbang akhirat yang berbeda pula. Menolak dipisahkan, mereka memilih kabur, kembali ke dunia manusia, guna mencari jalan keluar agar bisa bersama selamanya.

Selama menonton Akhirat: A Love Story, satu hal yang selalu muncul di benak saya: Sungguh kacau kerja para malaikat (atau entitas apa pun itu yang diperankan Tubagus Ali dan Yayu Unru). Jika bisa semudah itu kabur dari akhirat, pasti banyak orang melakukannya. Muncul juga pertanyaan, "Mengapa ada arwah yang sadar akan kondisi mereka, sementara arwah lainnya seperti terhipnotis?". 

Terdapat lubang besar terkait "aturan". Tanpanya, timbul inkonsistensi dan kejanggalan, yang menyulitkan emosi tersalurkan. Dampak paling fatal terkait lubang tadi, terletak pada konklusi. Kalau "semua karena cinta" dijadikan jawaban, itu bukan wujud romantisme, melainkan lazy writing. 

Selama pelarian, Timur dan Mentari bertemu arwah-arwah lain. Wang (Verdi Solaiman) yang enggan mengikuti langkah sang istri ke akhirat, Edith (Windy Apsari) yang selalu berkeliaran sendiri, hingga Herman (Ravil Prasetya) dan Diah (Vonny Anggraini) yang mengikat janji setelah mati. Seiring pertemuan-pertemuan tersebut, kisahnya beralih ke soal proses merelakan, sementara perihal perbedaan agama pun terpinggirkan. Entah Jason kebingungan atau memilih main aman, tapi peralihan tersebut mengaburkan pesan filmnya. 

Adipati dan Della menjalin chemistry manis di tatanan romansa, berbekal tatapan meyakinkan sebagai dua sejoli kasmaran, namun tidak demikian kala menghadapi komedi dan eksposisi. Bukan kesalahan cast semata. Penulisan dan pengarahan Jason di elemen komedi juga lemah. Alih-alih dibuat tertawa, saya lebih banyak menutup muka akibat secondhand embarassment. 

Terkait eksposisi juga sebelas-dua belas. Karakternya tidak terdengar seperti sedang berbicara layaknya manusia sungguhan, melainkan robot yang bertugas mengajari penonton. Robot yang buruk, sebab mereka sendiri seolah kurang mengerti tengah membicarakan apa. Saya juga tidak tahu film ini ingin membicarakan apa.


(JAFF 2021)

LOVE FOR SALE 2 (2019)

Berlandaskan premis unik, akting ciamik, dan departemen artistik menarik, tahun lalu Love For Sale mampu mencuri perhatian, walau berbeda dengan pandangan umum, saya beranggapan naskah buatan sutradara Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Bridezilla) dan M. Irfan Ramly (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha) kurang matang dalam menangani konsep, khususnya di fase konklusi. Love For Sale 2 berhasil memperbaiki itu.

Idenya masih serupa, yakni mengenai “kunjungan” Arini (Della Dartyan) dari aplikasi kontak jodoh Love Inc., ke kehidupan protagonis. Bedanya, tidak ada usaha setengah-setengah menjelaskan soal Love Inc. sebagaimana film pertama. Lubang alur diminimalisir, dan sewaktu konflik menemukan resolusi, tidak ada distraksi. Konsentrasi sepenuhnya tercurah pada permainan rasa dalam drama keluarga yang kini jadi fokus utama.

Dibuka oleh pesta pernikahan beradat Minang yang dibungkus menggunakan satu take panjang, kita segera tahu masalah macam apa yang segera menjelang. Ican (Adipati Dolken) terus didorong oleh sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar segera menikah. Berulang kali Rosmaida berusaha menjodohkan Ican, tapi berulang kali pula puteranya itu menolak. Berbanding terbalik dengan Richard (Gading Marten) di film pertama, Ican doyan berganti-ganti pasangan, namun enggan melakoni hubungan serius.

Tekanan dari orang tua agar segera menuntaskan masa lajang tentu terdengar familiar sebab banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin menimpa kita sendiri. Love For Sale 2 merupakan satir menggelitik atas problematika tersebut. Tentang urgensi menikah. Kunci sindirannya terletak pada kontradiksi dalam kata-kata maupun perilaku karakter. Rosmaida terus meminta Ican menikah, tapi saat melihat puteranya itu berbicara dengan wanita, ia buru-buru berujar “Jangan deket-deket. Nanti fitnah”. Timbul pertanyaan, “Apakah Rosmaida (dan para orang tua lain) ingin anaknya menikah, atau MENIKAHI PILIHAN MEREKA?”.

Cara pandang masyarakat soal pernikahan juga tidak ketinggalan disentil. Misalnya saat Ndoy (Ariyo Wahab), kakak Ican, menyindir seorang karakter yang memasang wajah kucel seorang karakter akibat ditinggal pergi istrinya, lalu sejurus kemudian menyarankan Ican segera menikah supaya hidupnya tentram. Lagi-lagi komedi satir berbasis kontradiksi.

Meski melempar sindiran, Love For Sale 2 menolak tampil berat sebelah. Rosmaida sekilas menyebalkan, layaknya banyak sosok ibu, menyuruh Ican segera menikah, selalu cerewet menasihati agar anak-anaknya rajin salat dan berbagai petuah lain. Rosmaida juga bukan mertua yang menyenangkan bagi istri Ndoy, Maya (Putri Ayudya), yang walau tengah hamil tua, tetap mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Tapi layaknya seorang ibu pula, selalu ada cinta, dan film ini tidak lupa menekankan cinta itu. Karena mungkin, Rosmaida hanya butuh ditemani dan dimengerti. Di situlah Arini berperan.

Demi membahagiakan ibunya, Ican menggunakan layanan Love Inc., memesan calon istri palsu sesuai preferensi sang ibu. Jika film pertama mengetengahkan peran Arini menumbuhkan semangat hidup Richard, di sekuelnya, giliran harmoni keluarga Ican yang ia pupuk. Tertinggal kekecewaan di fase ini, karena proses “perbaikan” yang Arini lakukan cuma nampak di permukaan, biarpun gagasan “Arini membawa kebahagiaan sebagai alat menyembuhkan” telah tersampaikan.

Satu lagi keunggulan sekuel ini dibanding pendahulunya adalah penokohan Arini. Menampilkan Della Dartyan dengan senyum yang bisa membuat siapa saja seketika jatuh hati, Arini masih gadis dengan sensitivitas tinggi, sehingga tahu bagaimana memberi respon yang diinginkan lawan interaksinya. Kali ini ruang personal Arini mulai dikunjungi. Sosoknya makin dimanusiakan. Sebuah obrolan Arini dengan Rosmaida di suatu subuh—yang juga jadi ajang pembuktian kepiawaian Della mengontrol luapan emosi—menyiratkan bahwa kunjungan kali ini terasa lebih personal bagi Arini. Dugaan jika Love Inc. bukan sekadar tempat Arini bekerja turut menguat.

Andibachtiar Yusuf mengulangi pencapaiannya di departemen penyutradaraan lewat kepekaan menangkap emosi suatu momen, dan menjadikan filmnya tidak semata pameran gambar cantik. Tidak kalah mengagumkan adalah perhatian Andibachtiar terhadap detail peristiwa yang bertempat di belakang fokus kamera. Contohnya di adegan pembuka. Daripada hanya memakai figuran, ia menempatkan Buncun (Bastian Steel) si putera bungsu bersama istrinya, Endah (Taskya Namya). Keduanya cuma duduk menikmati makanan , tapi itu saja sudah cukup menghidupkan sebuah peristiwa. Atau sewaktu Ican mengobrol dengan Ibrahim (Yayu Unru) sementara di belakang, orang-orang asyik bermain domino, dengan gestur serta suara yang tidak terlalu besar sampai mengganggu fokus, namun tidak terlalu kecil agar penonton bisa menyadari eksistensi mereka.

DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI (2019)

Kritis. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi memang film kritis, tapi bukan kritis terkait pemikiran tajam, melainkan kualitas yang mendekati titik nadir. Mengadaptasi cerpen berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma (Pendekar Tongkat Emas, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212) yang turut menulis naskahnya bersama sang sutradara John De Rantau (Denias Senandung di atas Awan, Wage), film ini tersesat dalam prosesnya mengulur cerita pendek menjadi tontonan berdurasi 96 menit.

Kisahnya mengetengahkan kehebohan yang melanda kampung di pinggiran Jakarta akibat kehadiran mahasiswi S2 cantik bernama Sophie (Elvira Devinamira). Kehebohan itu dikarenakan tiap kali Sophie mandi, pria-pria sekampung berkumpul, bahkan membayar tiket masuk guna mendengarnya membuka resleting, mengguyur dan menyabuni tubuh, dan—yang paling ditunggu—menyanyikan Jaran Goyang dengan suara serak-serak basah miliknya.

Suaranya begitu menghipnotis, pria-pria itu bahkan mencapai orgasme karena membayangkan bersetubuh dengan Sophie kala mendengar nyanyiannya. Tapi tidak seperti cerpennya, ada dua pria yang tak cuma mendengar, pula mengintip. Salah satunya adalah Yayu (Yayu AW Unru), karakter yang keberadaannya bak usaha menjustifikasi poligami. Meski hanya lewat lubang kecil, fakta bahwa keduanya bisa melihat tubuh Sophie, praktis melemahkan unsur soal keliaran imajinasi.

Saya suka cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Dipublikasikan pada tahun 1995, pesannya masih relevan sampai sekarang, khususnya kritik terhadap prasangka yang menggiring masyarakat menuju paranoia dan fitnah. Tersimpan pula sentilan soal definisi kebenaran, di mana disebutkan jika suatu hal dianggap “benar” apabila dianut oleh mayoritas.

Sayang, sindiran-sindiran tajam di atas terkubur di balik kebingungan para pembuatnya mengembangkan cerpen yang (tentunya) singkat nan padat. Hasilnya adalah tuturan berfokus lemah sekaligus repetitif. Terdapat dua situasi yang dipaparkan lagi dan lagi, dengan tiap pemaparan yang berlangsung terlampau lama. Pertama, pertengkaran rumah tangga akibat para suami kehilangan hasrat seksual. Kedua, protes para istri kepada Pak RT (Mathias Muchus). Mereka meminta Sophie segera diusir.

Setidaknya saya bisa merasakan sedikit angin segar melalui iringan lagu-lagu The Upstairst serta penampilan Mathias Muchus. Walau belum sampai mengentaskan filmnya dari keburukan, dua elemen itu punya daya hibur. Terkait The Upstairs, mungkin saya memang sudah rindu mendengar lagu-lagu macam Terekam (Tak Pernah Mati) atau Disko Darurat. Sementara Mathias Muchus mampu sesekali mengembalikan film ini ke hakikatnya, yakni memancing tawa penonton.

Satu metode lain yang dipakai untuk mengisi durasi adalah memberi story arc kepada Sophie. Dia memiliki love interest bernama Senja (David John Schaap), seorang penulis muda yang ditemuinya di bus. Alkisah, Sophie kecopetan. Beruntung, berkat kebodohan luar biasa si pencopet yang kabur sebelum orang-orang menyadari aksinya, Senja mampu melakukan pengejaran.

Peristiwa itulah awal dari deretan adegan canggung yang melibatkan Sophie dan Senja, sebutlah perkelahian Senja melawan pencopet yang menyelipkan aksi akrobatik tak perlu, obrolan berisi kalimat-kalimat yang menunjukkan usaha putus asa para penulis naskah agar pembicaraan terdengar bermakna namun berujung kegagalan menyulut romantisme maupun memprovokasi pemikiran, sampai (SPOILER) pertengkaran saat Sophie mengetahui kalau Senja diam-diam menulis novel tentang dirinya. Sophie menemukan manuskrip itu di kamar, tapi supaya lebih dramatis, ia membuangnya di jalanan.

Kemudian tibalah kita di konklusi, yang juga elemen paling problematik filmnya. Bukan saja melewatkan satu kalimat penting yang menutup cerpennya dalam lingkaran imajinasi tak berujung (clue: Alasan kenapa para suami masih gagal move on biarpun Sophie sudah pergi), konflik pun ditutup denga kesan bahwa memang nyanyian Sophie-lah penyebab semua kekacauan alih-alih sepenuhnya kesalahan imajinasi mesum para suami (dan prasangka para istri).

Apakah Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi tampil beda? Ya. Keputusan John De Rantau menerapkan beberapa pendekatan khas pertunjukan teater (situasi pemecah batasan realis dan surealis, gestur plus ekspresi besar pemain, tokoh dari beragam suku dengan beraneka ciri) harus diakui memang jarang ditemui di film-film kita belakangan. Tapi, apakah Wahana Rumah Hantu, Comic Kong X Kong, atau Arwah Noni Belanda tampil beda? Apakah judul-judul tersebut menampilkan sesuatu yang jarang ditemui? Apakah kualitasnya bagus? Silahkan direnungkan.

MATIANAK (2019)

Sesungguhnya MatiAnak memiliki karakteristik serupa horor lokal kelas menengah ke bawah yang rutin dirilis tiap minggu, seperti pondasi cerita lemah yang memaksakan diri menutup kisahnya lewat twist dan sepenuhnya mengandalkan jump scare untuk menakut-nakuti. Tapi saat mayoritas film tersebut hanya berujung menghasilkan sakit kepala, setidaknya MatiAnak cukup menyenangkan berkat keberhasilan satu aspek: timing.

Berlatar tahun 90-an di panti asuhan yang dikelola oleh tangan besi Pak Rosman (Yayu Unru), yang tak segan menerapkan hukuman fisik bagi anak-anak. Beruntung, mereka memiliki Ina (Cinta Laura Kiehl), si pengurus berhati lembut. Hinngga suatu hari, datang anak baru bernama Andi (Jovarel Callum) yang pendiam, aneh, dan tanpa mereka ketahui, telah secara brutal membantai keluarganya sebagaimana kita saksikan pada adegan pembuka.

Sejak kedatangan Andi, hal-hal misterius mulai menimpa para penghuni panti asuhan, dan tentu saja semua itu cuma terjadi pada malam hari. Naskah garapan William Chandra (3Sum) dan Wendy Chandra memang mengikuti pendekatan formulaik, di mana malam merupakan fase teror, sementara di siang hari, tiba saatnya melambatkan laju guna memberi kesempatan pengembangan cerita dan karakter untuk bergulir. Hampir seluruh horor arus utama menerapkan metode tersebut, namun di MatiAnak, pembagian waktu itu begitu kentara, dan setelah beberapa saat, semakin terasa melelahkan akibat repetisi.

Setidaknya, berbeda dengan kompatriotnya sesama horor lokal dengan formula setipe, tiap matahari terbit, MatiAnak bukanlah snoozefest. Ikatan kebersamaan antara penghuni panti mampu dibangun, sebagai sekumpulan individu yang tak lagi memiliki siapa pun kecuali satu sama lain. Terpenting, karakternya tampil layaknya manusia semestinya. Cinta bermain solid, sementara Yayu Unru kembali membuktikan jangkauan akting luasnya lewat variasi gestur dan penghantaran kalimat, tapi narasi soal kebersamaan itu takkan berhasil andai jajaran penampil cilik yang digawangi Fatih Unru gagal menciptakan dinamika.

Bicara soal hubungan Ina dan para bocah, interaksi mereka menyimpan cukup nyawa guna membangun intensitas, seperti saat banjir darah mulai menggenangi panti asuhan. Saya menyukai momen saat Ina mengikuti jejak darah di lantai, sedangkan beberapa anak berteriak, tapi bukan teriakan omong kosong, melainkan teriakan kekhawatiran supaya kakak asuh mereka berhati-hati. Sebuah sentuhan kecil yang sekilas terkesan remeh, namun menciptakan sense of urgency, aroma ketakutan, dan menggambarkan betapa karakternya saling peduli.

Eksekusi terornya sendiri sebenarnya memakai metode konservatif, yakni jump scare tanpa inovasi berisi kemunculan tiba-tiba hantu ditambah musik menggelegar. Pun tak jarang, penyuntingan adegannya terlalu cepat sehingga sulit memastikan apa yang nampak di layar. Dentuman musiknya yang memberitahu bahwa tengah terjadi peristiwa mengerikan. Tapi sekali lagi, poin terpenting terletak di timing.

Melalui debut penyutradaraannya, Derby Romero (rumor has it that’s not the case, but for now let’s stick with the official credit) membungkus penampakan pasukan makhluk halusnya dengan ketepatan timing. Seolah ia tahu kapan penonton berekspektasi hantu bakal menyerang, lalu secara cerdik mempermainkan ekspektasi itu. Sehinngga tanpa hal baru atau kreativitas luar biasa pun, MatiAnak cukup sukses memancing teriakan penonton. Selain jump scare, film ini juga memfasilitasi para pecinta gore lewat kekerasan, banjir darah, atau kondisi kematian yang mengerikan.

Sayang, klimaksnya terlalu jinak. Padahal lewat eksekusi lebih eksplisit, efek dari konklusinya yang suram nan tragis bisa lebih menusuk. Kalau alasannya demi menghindari gunting sensor, kenapa repot-repot mempertahankan konsep itu? Bukankah lebih bijak mencari alternatif yang tak membutuhkan sadisme untuk menciptakan dampak? Ditambah paparan twist dengan pondasi lemah yang tampil kacau dan malah menghasilkan kerumitan tak perlu, paruh akhir MatiAnak memang nyaris mematikan keunggulan filmnya.

A MAN CALLED AHOK (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

MENUNGGU PAGI (2018)

Musik elektronik, narkoba, kehidupan malam, alkohol, sampai pijat plus-plus. Menunggu Pagi punya semuanya. Berikan materinya pada sineas lain, besar kemungkinan filmnya bakal berakhir sebagai perayaan klise soal hedonisme, pemberontakan, atau apa pun yang meneriakkan “We’re young and free!”. Tapi di tangan sutradara sekaligus penulis naskah Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Ruma Maida, Lovely Man), Menunggu Pagi (secara mengejutkan) jadi perjalanan melintasi dunia malam dan hiruk pikuk gelaran Djakarta Warehouse Project (DWP) yang terasa damai.

Karakter utamanya adalah Bayu (Arya Saloka) yang mengelola toko vinyl bersama dua sahabatnya, Kevin (Raka Hutchision) dan Adi (Bio One). Bayu menyukai musik dance, juga menikmati berkumpul bersama teman-temannya. Tapi dari perkataannya, ia tak menyukai tempat ramai. Itulah alasannya menolak ajakan Kevin datang ke DWP. Apalagi di waktu bersamaan, hati Bayu tengah terganjal akibat masalah dengan mantan kekasihnya (Putri Marino) yang masih dia cintai.

Merujuk pernyataan Kevin, Bayu merupakan “teman yang seru”, walau terkadang, dia enggan berkumpul dan memilih menghabiskan waktu sendirian. Bisa dipahami. Beberapa orang memang bisa menjadi sosok tergila, namun di kesempatan lain Cuma ingin diam menyendiri. Bayu demikian. Layaknya antitesis terhadap stereotip bagi para pemuda yang menikmati kehidupan malam sambil menari mengikuti alunan musik dance. Menunggu Pagi adalah kisah mengenai individu semacam itu. Bahwa dalam keliaran malam kota besar, tinggal pula manusia-manusia lembut yang merindukan cinta tulus ketimbang sekedar alat pemuas nafsu.

Kemudian hadir Sarah (Aurelie Moeremans), mantan Kevin yang jengah oleh sikap kekasihnya, Martin (Mario Lawalata). Martin berprofesi sebagai DJ, tapi juga seorang pengedar yang terlibat permasalahan dengan seorang bos kriminal (Yayu Unru) akibat melarikan narkoba miliknya. Sebagai kekasih, Martin begitu posesif, pernah menghajar pria hanya karena dia mengirim SMS kepada Sarah, padahal dirinya sendiri terlibat hubungan gelap. Sewaktu Sarah menangkap basah perselingkuhan Martin tepat di hari jadi mereka, ia pun merasa cukup.

Sewaktu Sarah mengunjungi toko vinyl untuk mengambil tiket DWP pemberian Kevin, pertemuan dengan Bayu pun terjadi. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya menjalin ikatan lewat mendengarkan musik berdua dalam situasi yang mengingatkan saya pada adegan “music booth” milik Before Sunrise (1995), yang kebetulan juga mengisahkan perjalanan dua sejoli menunggu datangnya pagi.

Sebelum pertemuan tersebut, Bayu sempat menanyakan alasan Kevin mengakhiri hubungannya dengan Sarah. Kevin tidak memberi jawaban gamblang, melainkan bicara soal 2 jenis wanita: mereka yang dari luar nampak liar tapi buruk di ranjang, dan mereka yang terlihat polos tapi liar dalam urusan seks. Mengingat Kevin digambarkan sebagai pemuda yang haus akan seks, kita tahu Sarah termasuk kategori mana menurut Kevin. Itu membuat ketertarikan Sarah dan Bayu masuk akal. Mereka merindukan sentuhan rasa di tengah lingkaran manusia yang memuja sentuhan fisik. Sarah mengajak Bayu datang ke DWP bersamanya. Bayu setuju, sebab sebelumnya ia memberi persyaratan pada Kevin, bahwa ia bersedia hadir andai mendapat pengalaman baru. Ini adalah pengalaman baru. Tepatnya cinta baru. Tapi Bayu bakal mendapatkan lebih.

Teddy menjadikan kehidupan malam selaku panggung di mana hal-hal gila dapat terjadi. Tidak ada satu konflik besar berkelanjutan ketika Teddy membawa penonton dalam perjalanan satu malam yang melibatkan perkelahian di kelab, kejar-kejaran mobil, teler akibat pengaruh halusinogen yang di satu titik menciptakan momen terlucu sepanjang film, dan lain-lain, meski akhirnya, hal tergila yang karakternya alami adalah menemukan cinta. They found love in a hopeless place and situation.

Hubungan Bayu-Sarah meski memiliki pondasi kuat, sayangnya minim waktu sekaligus kesempatan guna dikembangkan secara meyakinkan. Beruntung jajaran pemain sanggup meniupkan nyawa. Mayoritas dari mereka belum tampil dalam kapasitas luar biasa, namun cocok memerankan tokoh masing-masing. Aurelie seperti biasa merupakan api dalam film yang ia lakoni, sedangkan Arya Saloka ibarat angin lembut yang membuat nyala api itu semakin besar. Mario tepat sebagai pria putus asa yang meledak-ledak, begitu pula Bio One yang harus memasang ekspresi teler nyaris sepanjang durasi. Tapi penampil terbaik adalah Yayu Unru. Cukup lewat 2 adegan, sang aktor senior mampu menebar ngeri sebagai bandar narkoba intimidatif.

Sekali lagi Teddy memamerkan penyutradaraan solid, dengan alur yang mengalir mulus, ditambah kapasitas menangani adegan-adegan dengan tingkat kesulitan tinggi, seperti kejar-kejaran mobil dan konser. Bukan kebut-kebutan pemacu adrenalin, tapi mengingat Menunggu Pagi bukan suguhan aksi, menghindari kesan canggung saja sudah sebuah prestasi. Puncak pencapaian teknisnya tatkala DWP berlangsung. Teddy, dibantu penyuntingan cermat Eric Kurniawan Primasetio, mixing suara menawan, serta pengambilan gambar cerdik dari Robie Taswin (Filosofi Kopi, Bukaan 8), berhasil mereka ulang kemeriahan festival itu. Kombinasi rekaman asli dari pihak DWP dengan buatan tim film ini (yang menampilkan para aktor) bersatu padu. Wajar apabila anda sempat mengira seluruhnya diambil langsung di lokasi.

SOMETHING IN BETWEEN (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films mampu tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat agar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di kursi sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melakukan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, seperti dialog puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada akhir bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, sebab mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang pemuda yan memutuskan kembali ke Indonesia dari London setelah ia terus bermimpi tentang sebuah tempat dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi SMA yang saling cinta.

Tidak ada alasan kuat mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), sebab keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya karena mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema adalah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya bahan pembicaraan. Gema sendiri beralasan jika “Menyukai Maya karena tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi mencintai dalamnya?”. Tidak masuk akal memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan verbal gombal. Something in Between menekan dialog (sok) puitisnya sampai ke dosis yang dapat dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah perilaku antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali populer di kisah cinta SMA perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup menciptakan nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa bodoh ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga menjadikan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar relasi berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, sampai Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang tua Maya, semua mendapat kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan karena ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri kisah sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya meragukan sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

JELITA SEJUBA: MENCINTAI KESATRIA NEGARA (2018)

Saya seringkali menghindari film lokal bertema militer. Kecenderungan glorifikasi ditambah karakter yang terlampau sempurna jadi penyebab utama. Menengok judulnya, saya mengira Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara takkan jauh-jauh dari golongan di atas. Sampai para tokoh tentara mulai diperkenalkan, dan ketika salah satu kalimat pertama yang terucap adalah selorohan “mambu entut” selaku respon terhadap aroma ikan asap, saya lega. Mereka bukan sosok kelewat kaku yang selalu mengucap kata-kata bernada nasionalisme selain “siap Ndan!”, melainkan sebagaimana manusia biasa, gemar berkelakar. Wajar Sharifah (Putri Marino) si gadis Natuna beserta kedua sahabatnya terpikat.

Mereka bertiga pula kreator ikan asap tadi, sebagai salah satu hidangan di warung Jelita Sejuba milik keluarga Sharifah. Nantinya, melalui Sharifah juga, naskah buatan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Petualangan Sherina, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) dan Krisnawati menggambarkan apa yang mesti dihadapi istri-istri TNI. Apa saja kesulitan maupun resiko dalam mencintai kesatria negara. Jaka (Wafda Saifan Lubis dalam debut akting layar lebar yang tidak mengecewakan) adalah kesatria yang dimaksud. Walau mencintai Jaka, Sharifah tak perlu diingatkan dua kali oleh ayahnya (Yayu Unru) bahwa profesi prajurit bakal membuat pria idamannya sering ditugaskan ke tempat jauh dalam hitungan bulan bahkan tahun.
Membentang dari awal pertemuan yang malu-malu sebelum benih romantika tumbuh, perpisahan pertama yang tak terasa layaknya perpisahan, pertemuan kembali yang berujung pernikahan, hingga perjuangan merawat anak sembari mencari nafkah tatkala sang suami berada di seberang lautan, kisah Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara memang mempunyai cakupan waktu yang cukup luas. Menjadi tokoh sentral, Putri Marino menampilkan transformasi mulus sehingga tumbuh kembang Sharifah nampak meyakinkan. Mencapai pertengahan durasi, tanpa saya sadari, remaja aktif, cerewet nan usil ini telah matang juga dewasa. Satu hal yang urung berubah yakni aura positif.

Baik ketiadaan sang suami atau himpitan finansial tak pernah menjatuhkan Sharifah, meski ada satu-dua momen di mana kerapuhannya memuncak, yang mana berfungsi menjauhkan karakter dari ketabahan berlebihan. Putri Marino dianugerahi senyum (bukan cuma di mulut, pula mata) yang dapat memancing senyum, bahkan meluluhkan hati siapa saja yang melihat. Senyum miliknya berperan besar menguatkan Sharifah sebagai karakter wanita yang enggan terjatuh. Film ini memang melodrama, namun bukan eksploitasi cerita merana. Komedi, baik lewat interaksi jenaka para gadis dan prajurit maupun sosok Nazar (Harlan Kasman) dengan catchphraseyele yele yele” yang bakal sulit dihapus dari ingatan, senantiasa menyegarkan suaasana.
Pun penyutradaraan Ray Nayoan (Takut: Faces of Fear segmen “Peeper”, Sinema Purnama segmen “Dongeng Ksatria”) menampakkan dinamika serupa. Ada kesan senang-senang yang dibawa sang sutradara supaya karyanya ini tidak kaku. Misalnya sewaktu Sharifah bersama Jaka menjalani produser militer panjang sekaligus berbelit sebelum melangsungkan pernikahan. Bagi Sharifah, proses tersebut terasa menyebalkan nan melelahkan, tetapi Ray memilih mengedepankan sisi jenaka dalam aktivitas itu, lengkap dengan transisi asyik (anda akan tahu transisi seperti apa yang saya maksud). Berkat deretan poin plus di atas, kekurangan pada jalinan alur yang amat formulaik dan nihil perspektif baru (tanpa film ini pun kita tahu istri tentara harus harus berjuang menghadapi penantian dan ketidakpastian) pantas dimaafkan.

Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara berpeluang menghadirkan klimaks intens yang turut menyimpan potensi emosi, sayang, pererakan buru-buru menuju konklusi, pun masih belum cakapnya Ray Nayoan membungkus aksi di medan perang melucuti sederet keunggulan terpendam itu. Biar begitu, penutupnya menyiratkan poin bermakna mengenai kehadiran Jaka dalam hidup Sharifah. Baik langsung atau tidak, sejak kali pertama Jaka menginjakkan kaki di warung Jelita Sejuba, ia berperan menyatukan keluarga Sharifah. Karena Jelita Sejuba sendiri, seperti merujuk pada pernyataan ibunda Sharifah (Nena Rosier), adalah “tempat untuk pulang”, atau dengan kata lain perwujudan keluarga. Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara bukan cuma cinta di tataran romantika, juga keluarga.

POSESIF (2017)


Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) adalah drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan tentang "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja SMA kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi SMA sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen spesial berbekal kesederhanaan. Dari obrolan pertama secara diam-diam saat Lala hanya dapat melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, sampai "ikatan" yang terpaksa dijalin akibat hukuman guru olahraga galak (Ismail Basbeth), mampu menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian agar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan agar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta beragam aturan seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan perilaku posesif bukan eksklusif terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat mendasar manusia mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak menggunakan alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, kemudian melakukan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang akhirnya membuat kata "mudah" tak lagi tepat dipakai menyikapi persoalan tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha menerima perilaku sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya agar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan karakter Yudhis memiliki pesona yang mampu mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai menyampaikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga agar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar menyampaikan rasa sayangnya ketimbang seorang otoriter bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, seperti pertunjukan gambar cantik dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan seperti musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu populer macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.

NIGHT BUS (2017)

Kalau tidak salah kabar pembuatan film ini sudah didengungkan oleh Darius Sinathrya sang produser sejak 2014 dan sempat mengadakan crowdfunding. Dibuat berdasarkan cerpen Selamat buatan Teuku Rifnu Wikana yang sebagai hasil penuangan pengalamannya di tahun 1999 kala terjebak di bus selama 12 jam ketika melewati daerah konflik bernama Sampar, Night Bus memang terasa ambisius. Bagaimana tidak? Mayoritas alurnya bertempat di satu lokasi (bus malam) serta berisi belasan tokoh yang oleh Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana selaku penulis naskah coba diseimbangkan porsinya. Hasilnya adalah sajian berkonsep segar yang meski punya kekurangan di sana-sini, sanggup menonjol di antara thriller lokal sejauh ini.

Sebuah bus malam yang disopiri Amang (Yayu AW Unru) siap mengarungi perjalanan selama 12 jam menuju Sampar. Berdasarkan cerita si kondektur (Teuku Rifnu Wikana), di sana sedang meletus konflik antara militan penuntut kemerdekaan dan pemerintah. Alhasil sepanjang perjalanan mereka harus melewati pengecekan di beberapa pos militer. Penumpang bus terdiri dari beragam orang dengan tujuan sendiri-sendiri, ada wartawan, wanita tua yang hendak berziarah ke makam puteranya bersama sang cucu, sepasang kekasih remaja pencari kerja, dan lain-lain. Tanpa diduga pertikaian makin sengit, bahkan turut menyeret para penumpang lebih dalam, mengancam nyawa mereka. Rahasia yang dipendam masing-masing pun mulai terungkap. 
Sempat timbul dugaan Night Bus sejatinya belum siap rilis. Selain molornya proses produksi, beberapa masalah teknis yang membuat premiere-nya sempat tertunda berjam-jam sampai batalnya penayangan di banyak kota dengan alasan serupa jadi pemicu asumsi tersebut. Tapi itu kisah di balik layar yang sulit dibuktikan kebenarannya. Dari hasilnya, Night Bus kentara mengusung ambisi besar pula digarap serius. Production value-nya tidak main-main, membuat gambarnya enak dipandang khususnya sewaktu Anggi Frisca sang sinematografer tahu cara merangkai visual enjoyable walau didominasi ruang sempit minim cahaya. Ketepatan menempatkan kamera dan bermain warna jadi kunci. 

Kesan mahal menguat tatkala efek CGI kerap menghiasi. Tentu saya tak mengharapkan kualitas nomor satu, tapi di tengah keterbatasan, penggunaan CGI-nya nampak berlebihan di berbagai kesempatan semisal kobaran api dan puing reruntuhan atau helikopter selaku cara klise menunjukkan militer tengah bergerak. Padahal tanpa CGI clumsy itu penonton sudah memahami situasinya. Aspek sound mixing turut menyimpan masalah. Acap kali memakai bahasa dan logat daerah, ketiadaan subtitle mengharuskan tata suara solid agar mudah dicerna. Kebutuhan itu gagal dipenuhi, berujung banyak dialog samar-samar. Paling fatal saat kalimat dari Mahdi (Alex Abbad) yang mengandung poin alur kunci diucapkan dengan berbisik, mengharuskan penonton berkonsentrasi ekstra mengolah kata demi kata.
Di luar kelemahan teknis, Night Bus masih thriller menegangkan yang sanggup memaksa penonton mencengkeram kursi lalu menahan nafas. Emil Heradi bersedia meluangkan waktu membangun intensitas ketimbang langsung meledakkannya, terlebih dulu mempermainkan antisipasi penonton, memancing atmosfer harap-harap cemas. Sewaktu teror akhirnya menampakkan diri, alih-alih terbatasi setting sempit, Emil sanggup menyeret penonton ikut duduk di dalam bus, berbagi ketakutan serupa penumpangnya. Sementara musik karya Yovial Tri Purnomo Sigi terdengar dramatis, sempurna menemani gejolak mencekam filmnya. 

Sayang, usaha Emil membangun ketegangan tak jarang bertele-tele, diseret terlalu lama sebelum masuk ke menu utama. Dipaksa menanti ketika tahu akan terjadi sesuatu khususnya terkait paparan horor atau thriller memang asyik, tapi jika penantian itu terlampau panjang dan sering, rasanya mengesalkan. Saya berkali-kali dibuat gemas akibat Emil gemar berlama-lama berkutat di momen kurang penting seperti karakter berjalan atau bicara perlahan dengan tempo lambat pula. Tambah melelahkan akibat repetitifnya bentuk teror yang dihadapi. Sekitar empat kali bus bertemu sebuah rombongan, dihentikan, kemudian penumpang dipaksa turun. Hal ini berlangsung sampai konklusi membungkus cerita. Tidak heran durasi mencapai 135 menit. 
Durasi tersebut turut dipengaruhi kerapnya naskah memasukkan momen non-esensial. Tujuannya baik, supaya penonton memahami setiap tokoh yang mana berhasil dicapai. Setidaknya saya tahu siapa dan apa motivasi masing-masing dari mereka. Tapi setelah berkali-kali melihat tingkah Kondektur (diperankan begitu baik oleh Teuku Rifnu Wikana sehingga walau tampak seenaknya, ia tetap berperasaan dan likeable), perlukah adegan menari mengikuti musik sambil mabuk untuk menegaskan bahwa dia sosok nyeleneh? Penegasan berulang ini berkontradiksi dengan kesubtilan naskah dalam memprsentasikan kompleksitas konflik. 

Rahabi Mandra bersama Teuku Rifnu cukup piawai menjalin kaitan antar fakta tanpa mesti gamblang bertutur, sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan keping-keping puzzle pada penonton. Jalinan kisahnya memang rumit, namun suatu kerumitan yang selaras dengan kekacauan dunianya. Sebuah dunia di mana kekuasaan disalahgunakan, ambisi pribadi dipentingkan, di mana para pemegang kekuatan saling berseteru, meninggalkan masyarakat biasa yang lemah terombang-ambing di tengah sebagai korban tak berdaya. Sungguh kejam si kuat, sungguh malang si lemah. Di luar setumpuk kekurangannya, Night Bus kuat menghasilkan ketegangan juga lantang menyuarakan pesan.