Tampilkan postingan dengan label Ismail Basbeth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ismail Basbeth. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KELUARGA CEMARA 2

Ada perbedaan antara "film anak" dan "film dengan protagonis anak". Jenis pertama berbentuk hiburan ringan, sedangkan yang kedua punya jangkauan lebih luas, dari crowd-pleaser untuk semua kalangan hingga arthouse. Di bawah pengarahan Ismail Basbeth, Keluarga Cemara 2 ingin menyeimbangkan sisi mainstream dan alternatif (hal yang nampak dalam filmografi sang sutradara), namun justru melahirkan inkonsistensi. 

Akibat COVID, Abah (Ringgo Agus Rahman) mesti mencari pekerjaan baru, sedangkan Emak (Nirina Zubir) mendapati penjualan opaknya menurun drastis. Tabungan menipis, padahal kini sudah ada puteri ketiga, Agil (Nilouger Bahalwan). Tapi Keluarga Cemara 2 adalah "filmnya Ara (Widuri Puteri)". Ara yang merasa keluarganya selalu ingkar janji. Ara yang merasa ditinggalkan oleh kakaknya, Euis (Adhisty Zara), yang memasuki usia remaja dan mulai mengenal cinta. 

Saat itulah Ara mulai akrab dengan Aril (Muzakki Ramdhan), lalu memulai petualangan bersama, yang melibatkan seekor ayam. Film ini memang penuh dengan ayam. Ara mendengar suara ayam memanggilnya, bahkan bisa mengajak bicara Neon, anak ayam yang ia temukan di jalan. Mungkin karena Ara sendiri seperti anak ayam yang terpisah dari keluarga. Hanya saja, Ara dan keluarganya terpisah bukan secara fisik. 

Mereka tetap serumah, selalu bersama, namun sulit bersatu. Abah makin sibuk karena pekerjaan baru, Emak harus memikirkan bisnis sampingan sembari menjaga Agil, sementara Euis memasuki masa puber. Kondisi berubah, anggota keluarga berubah, hubungan pun berjarak. Sulitnya Abah memercayai kemampuan Ara berkomunikasi dengan ayam juga menunjukkan jurang pemisah, di mana orang tua kesulitan memahami dunia anak yang jauh dari "masuk akal". Alhasil, Ara lancar berkomunikasi dengan dengan Neon, tapi tidak dengan keluarganya.

Naskah buatan M. Irfan Ramly sudah punya gagasan dasar kuat nan kreatif, tentang bagaimana karakternya menghadapi perubahan, guna mempertahankan nilai "harta paling berharga adalah keluarga". Mudah bersimpati pada Ara yang merasa dipojokkan semua orang, tapi kita pun dibuat tak serta merta menyalahkan Abah maupun Euis, sebab perubahan mereka beralasan. 

Satu kelemahan naskahnya adalah, tingginya kuantitas konflik berujung merendahkan kualitas dalam hal kematangan cerita. Tiada yang benar-benar maksimal. Jika film pertamanya terasa utuh, maka Keluarga Cemara 2 bak rangkuman berbagai episode serial. 

Lalu ada perihal inkonsistensi yang telah saya singgung di atas. Di satu sisi, Keluarga Cemara 2 tampil bagai film anak berisi petualangan dua karakter bocah. Selipan humor yang masih digawangi Asri Welas dan Abdurrahman Arif pun menguatkan kesan "ini hiburan ringan". Tapi tidak jarang, filmnya muncul dengan kemasan yang sukar dinikmati penonton bocah, yang membuatnya terombang-ambing di antara dua sisi tanpa kepastian. 

Mari simak perjalanan Ara dan Aril mencari keluarga Neon. Bagi penonton dewasa yang tumbuh di pedesaan seperti saya, menyaksikan mereka melewati hujan dan menembus kabut di tengah alam asri, yang ditangkap secara cukup cantik oleh kamera Yadi Sugandi selaku sinematografer, memancing rasa homey yang mendamaikan. Tapi penonton anak bakal sulit mempertahankan atensi akibat minimnya dinamika. Ketimbang "petualangan" mungkin lebih pas disebut "jalan santai".

Pacing-nya tak kalah memberatkan. Beberapa adegan bergulir beberapa detik lebih lama dari semestinya, pun sebuah shot bernuansa sunyi yang berlangsung tidak sebentar, kala Emak merenung di malam hari, terasa out-of-place bagi film anak. Walau harus diakui, beberapa shot yang Basbeth rangkai, mampu berbicara lebih kuat dibanding bahasa verbal. Misal sewaktu Ara duduk di meja makan, dan kursi sebelahnya, yang biasa diduduki Euis, nampak kosong. Momen tersebut efektif menggambarkan kehilangan yang menusuk hati Ara. 

Setidaknya jajaran cast masih muncul dengan akting memuaskan. Ringgo dan Nirina kembali membawa sensitivitas yang hangat, Zara semakin nyaman di depan kamera, pun Widuri membuktikan diri pantas diberi porsi lebih. Muzakki tidak perlu ditanya. Memerankan Aril adalah tugas ringan baginya. 

Tapi jangan harap dibuat mengharu biru seperti film pertama. Pendekatan alternatif yang Basbeth terapkan cenderung menekan luapan emosi. Ada kalanya ekspresi rasa berhasil dipercantik sebagaimana adegan Ara di meja makan tadi, namun acap kali, rasa itu sebatas ditahan. Dibiarkan mengendap. Setidaknya, babak konklusi Keluarga Cemara 2 menyimpan keindahan bermakna, saat semua orang diperlihatkan "menuju ke Ara". Ara menyatukan semuanya, karena sekali lagi, mereka adalah keluarga cemara. 

JAFF 2019 - ABRACADABRA

Pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) memutuskan pensiun. Di pertunjukkan terakhirnya, ia bertaruh, kalau triknya gagal, maka ia takkan melakukan sulap lagi. Sebuah alasan semata, karena di situ, Lukman memang berniat gagal. Triknya adalah menghilangkan bocah dalam kotak. Alih-alih kotak khusus, ia memakai kotak kayu biasa peninggalan sang ayah, seorang pesulap tersohor yang hilang pasca pensiun. Tapi, saat dibuka, kotak itu kosong. Kekosongan yang juga terasa di hati saya selama menonton Abracadabra.

Berikutnya, orang-orang lain ikut hilang karena kotak tersebut, dan Lukman melakukan perjalanan guna mengembalikan mereka, sembari mencari tahu rahasia di balik kotak kayu bertuliskan “Abracadabra” itu. Perjalanan yang melibatkan kejar-kejaran dengan trio polisi konyol (Butet Kertaradjasa, Ence Bagus, Imam Darto) hingga kemunculan wanita berpenampilan glamor (Salvita Decorte) yang bak berasal dari masa tatkala kabaret Moulin Rouge mencapai puncak kejayaan.

Faozan Rizal (Habibie & Ainun, Say I Love You), selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menjadikan film ini taman bermain. Sejak menit-menit awal ketika Lukman mengadakan pertunjukan sementara pesulap-pesulap lain—termasuk Paul Agusta dengan dandanan ala drag queen dan Ismail Basbeth yang bisa melayang—ikut menonton, absurditas sudah terbangun. Ini bukan dunia di mana manusia berperilaku seperti realita, kultur dan teknologi bagai berasal dari dongeng, pun nalar tidak bekerja “sebagaimana mestinya”.

Kreativitas ide liar Faozan Rizal dalam membangun dunia memang menarik, sama menariknya dengan bagaimana sang sutradara, yang lebih dikenal sebagai sinematografer, menjadikan Abracadabra salah satu suguhan visual paling unik serta memanjakan mata dalam perfilman Indonesia. Terkesan quirky dan banyak dihiasi warna pastel, tidak salah bila ingatan langsung tertuju pada karya-karya Wes Anderson, khususnya The Grand Budapest Hotel (2014).

Ragam warna pembungkus latar termasuk kantor polisi berwarna merah muda di tiap sudut, mise-en-scène yang memperhatikan betul presisi penempatan objek termasuk aktor secara detail, pesawat dan mobil mainan yang berjalan di atas sebuah peta untuk menggambarkan perjalanan Lukman, kostum-kostum ala pertunjukan panggung megah, menciptakan pemandangan pemuas mata, yang memperlihatkan apa jadinya kalau perkawinan empat departemen, yaitu penyutradaraan, sinematografi, tata kostum, dan art direction, berlangsung mulus.

Hampir tiap shot bisa di-capture sebagai wallpaper, untuk kemudian diamati terkait luar biasanya Faozan dan tim memperhatikan detail. Visualnya memang menghipnotis. Tapi seperti orang dihipnotis, hati terasa hampa. Ceritanya tenggelam dalam eksperimentasi gambar dan gaya. Padahal sejatinya, kisah Abracadabra sederhana saja. Tentang perjalanan karakternya memahami, mempercayai, lalu akhirnya menerima.

Dikisahkan, kotak milik Lukman terbuat dari kayu Yggdrasil, pohon dari mitologi Norse, yang menghubungkan sembilan dunia. Silahkan cari tahu beberapa kisah soal Yggdrasil dan mitologi Norse secara umum, termasuk tentang konsep waktu yang tidak linear dalam mitologi itu. Anda akan bisa memecahkan garis besar teki-teki Abracadabra. Tapi adanya makna tersirat dan metafora tidak berbanding lurus dengan kualitas penceritaan. Terpenting adalah pengemasannya. Dan di sini, rasa dalam drama kehidupan Lukman lenyap. Bernasib sama adalah kualitas akting Reza Rahadian.

Jangan salah, Reza tidak pernah buruk. Hanya saja, kesan spesial yang kerap mengiringi kemunculannya urung nampak. Dia tak kuasa memperbaiki penokohan membosankan Lukman, seorang pria gloomy di antara dunia sarat keceriaan. Abracadabra mengandung dua sisi yang tak pernah bisa melebur. Tuturan komersil ringan bersenjatakan lelucon receh yang cukup efektif memancing tawa berbenturan dengan kontemplasi kelam. Ketimbang saling mengisi, pertemuan keduanya melahirkan inkonsistensi. Film ini kental pengaruh Wes Anderson, dan sulit tidak berharap Faozan mau sepenuhnya menempuh jalur komedik seperti Anderson.

Proses batin protagonisnya gagal dieksplorasi, sehingga saat akhirnya ia mencapai destinasi, transformasi internalnya kurang meyakinkan. Sungguh saya ingin menyukai Abracadabra, khususnya karena totalitas para pembuatnya melahirkan parade visual luar biasa patut diacungi jempol. Tapi patut disadari bahwa urgensi di industri perfilman kita adalah soal perbikan penulisan naskah, bukan gambar cantik.

ARINI (2018)

Bayangkan sebuah puzzle bergambar gajah. Hampir seluruh keping telah tersusun kecuali bagian belalai dan gading yang ternyata hilang. Tentu anda sudah bisa menebak bahwa itu gajah, namun ketidaktuntasan itu pastinya mengganjal. Lagipula esensi puzzle bukan menanyakan “gambar apa?”, melainkan bagaimana potongan-potongan kecil dapat membentuk satu kesatuan besar. Arini sama seperti itu. Film panjang kelima Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, Mencari Hilal) selaku adaptasi novel Biarkan Kereta itu Lewat, Arini karya Mira W. ini adalah puzzle yang tidak selesai.

Saya belum membaca novelnya, pula menonton film versi 1987 (berjudul Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat) yang menampilkan pasangan Widyawati-Rano Karno. Tapi saya bisa merasakan bahwa di balik presentasi 80 menit ini tersembunyi tuturan soal pemberdayaan wanita, hubungan beda usia yang berdampak pada interaksi berupa benturan pola pikir, kegelisahan tentang cinta, hingga beragam kompleksitas lain, termasuk yang ditampilkan melalui sebuah twist di pertengahan kisah. Sayang, semua tersembunyi terlampau dalam dan urung mencuat merasuki hati serta pikiran penonton.
Naskah buatan Ismail Basbeth dan Titien Wattimena (Dilan 1990, Hujan Bulan Juni, Salawaku) menerapkan teknik non-linier di paruh awal. Kita diajak maju-mundur mengamati Arini (Aura Kasih) di masa lalu dan kini. Timbul pertanyaan, mengapa di kedua masa yang terpisah 13 tahun itu sikap Arina bertolak belakang? Sama-sama diawali perjalanan di atas kereta (satu di Jerman, satu di Indonesia), Arini masa kini tampak dingin cenderung ketus. Walau sejatinya kebanyakan orang pasti bersikap sama kala didatangi pria asing macam Nick (Morgan Oey) yang mendadak minta bantuan untuk sembunyi karena naik kereta tanpa karcis.

Nick 15 tahun lebih muda dari Arini. Muda, riang, penuh semangat, juga gila. Kegilaannya terlihat ketika Nick tiba-tiba muncul di apartemen Arini. Ya, ia memiliki alasan jelas (selain jatuh cinta pada pandangan pertama), yaitu mengembalikan telepon genggam yang tertinggal. Tapi setelahnya, Nick menolak pulang, membawakan bunga, memaksa tinggal untuk makan malam. Di sini ketidaklengkapan puzzle tadi berpengaruh. Penggambaran bahwa Arini diam-diam mencari cinta dipaparkan kurang tegas. Arini seperti wanita yang gagal belajar dari trauma masa lalu dengan Helmi (Haydar Salishz) si mantan suami. Motivasinya kabur.
Arini berujung jadi satu lagi simplifikasi kisah cinta, kala suatu film memaksa penonton menerima sikap karakter atas dasar “cinta tidak peduli logika”. Arini dan Nick pun menghabiskan sehari bersama di Heidelberg. Pertemuan yang diakhiri kurang menyenangkan, sebelum filmnya melompat beberapa waktu ke depan sambil memindahkan setting ke Indonesia. Bisa ditebak mereka bertemu lagi, meski sukar dipahami alasan Arini begitu saja memaafkan Nick, bocah yang mencaci-maki hanya karena gagal meniduri wanita. Selanjutnya hubungan keduanya bergerak lebih cepat dari Shinkansen, minim eksplorasi di ranah proses.

Sukar mencintai romantika instan begini kalau bukan didorong penyutradaraan plus akting. Morgan tampil beda. Walau sesekali terlihat memaksakan untuk menjadi pemuda “ekspresif”, penampilannya menyenangkan disaksikan. Begitu pula Aura Kasih, yang menyimpan masalah serupa, yakni terlalu berusaha nampak dingin dan ketus. Menyatukan keduanya adalah penyutradaraan Ismail Basbeth yang sekali lagi berhasil menekankan olah rasa. Dibantu reka ulang lagu-lagu klasik seperti Mencintaimu dan Kaulah Segalanya (dibawakan Morgan dan Claresta), Basbeth memunculkan romantisme dari kehambaran naskah. Simak adegan ciuman pertama yang enggan terburu-buru, sabar membangun tahap demi tahap pertukaran rasa melalui saling tatap dua pemeran utama.

MOBIL BEKAS DAN KISAH-KISAH DALAM PUTARAN (2017)

Serupa ragam isu-isu di dalamnya, Mobil Bekas akan mengejutkan penonton kemudian memancing perbincangan, tukar opini sengit yang mungkin takkan mencapai titik temu sekalipun sang sutradara/penulis naskah Ismail Basbeth telah melangkah ke karya berikutnya di masa depan. Diproduksi melalui crowdfunding dari puluhan nama yang memperoleh kredit co-producers, film ini merupakan kumpulan fragmen berbentuk kisah-kisah simbolik yang merangkum permasalahan Indonesia sejak dulu hingga kini, tepatnya keresahan Basbeth terhadapnya. Jika mobil jeep bekas merupakan negara, maka para penumpang menjadi rakyatnya. 

Akuntan (Cornelio Sunny) yang bercinta dengan mobilnya, trio band wanita (Dea Ananda, Shalfia Fala Pratika, Leilani Hermiasih) yang membicarakan konsep ketuhanan dan alien sepanjang perjalanan, sepasang suami istri beda usia (Karina Salim, Yan Widjaya) yang berbulan madu di kebun binatang, pelacur yang ingin lari dari kehidupannya (Natasha Gott), pertemuan wanita (Sekar Sari) dengan sesosok hantu gentayangan (Verdi Solaiman), hingga protes dua petani (Giras Basuwondo, Ibnu 'Gundul' Widodo) pada pemerintah selaku perantara tiap kisah yang terus berputar sementara si mobil bekas menjadi saksi. 
Mengingatkan kepada film pendeknya, Shelter (2011), Basbeth membiarkan gambar olahan D.o.P. Satria Kurnianto bicara. Dilakukannya pengamatan situasi di tengah kesunyian plus take panjang satu sudut kamera yang menangkap tindak-tanduk manusia dalam gerak mekanis kendaraan. Semakin lama diamati, kehampaan adegan menjadi penuh. Penuh kesedihan, amarah, kebimbangan, sesekali keceriaan. Tidak lupa, Basbeth menyelipkan "hook" alias momen menghentak penggaet atensi penonton di masing-masing keping cerita, entah beraroma sensual, brutal, atau kejutan seperti penampakan dadakan nan mengerikan Verdi Solaiman. 

Kamera boleh minim gerak, namun tiada monotonitas. Di antara dominasi gambar statis ada pilihan sudut-sudut menarik hasil kreasi Satria Kurnianto, khususnya kala merekam bentangan alam dan malam kelam minim cahaya buatan, yang makin menghipnotis saat pilihan aspek rasio lebar 2.35 : 1 seolah enggan melewatkan satupun pemandangan. Basbeth memang sutradara penuh gaya. Beberapa mendukung maksud (tata suara segmen suami istri beda usia menguatkan kesan alienasi), beberapa sebatas pemanis kurang substansial, tapi setidaknya mempercantik estetika. 
Mobil Bekas jelas dimaksudkan sebagai tontonan multitafsir selaku bentuk kesediaan Basbeth menghargai heterogenitas masalah yang penonton alami selaku warga negara Indonesia. Ini tepat, mengingat satu isu, misalnya sosial-politik saja mampu dimaknai berbeda, melahirkan perspektif tak sama. Dari sini terjadi transfer, di mana curahan personal pembuat film menjadi personal pula bagi penonton. Ikatan seksual sang akuntan dengan mobil bisa nampak sebagai ungkapan kerinduan bagi satu pihak, bisa juga sindiran atas materialisme di mata pihak lain. Dendam kesumat si wanita yang bertemu hantu gentayangan pun dapat berkembang ke arah paparan tragedi bernada rasialisme. 

Pada pemutarannya di Busan International Film Festival Oktober lalu, sosok legendaris Pierre Rissient menyebut Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran sebagai "pure cinema". Saya sependapat, setidaknya dalam lingkup di mana sinema menjadi cerminan suatu negeri yang mewakili ragam ruang personal baik milik pembuat juga penontonnya. Walau keberagaman itu turut berarti gaya bertutur filmnya yang jauh dari kata "ringan" sulit menjangkau publik luas. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

POSESIF (2017)


Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) adalah drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan tentang "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja SMA kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi SMA sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen spesial berbekal kesederhanaan. Dari obrolan pertama secara diam-diam saat Lala hanya dapat melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, sampai "ikatan" yang terpaksa dijalin akibat hukuman guru olahraga galak (Ismail Basbeth), mampu menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian agar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan agar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta beragam aturan seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan perilaku posesif bukan eksklusif terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat mendasar manusia mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak menggunakan alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, kemudian melakukan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang akhirnya membuat kata "mudah" tak lagi tepat dipakai menyikapi persoalan tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha menerima perilaku sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya agar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan karakter Yudhis memiliki pesona yang mampu mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai menyampaikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga agar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar menyampaikan rasa sayangnya ketimbang seorang otoriter bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, seperti pertunjukan gambar cantik dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan seperti musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu populer macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.

FLUTTER ECHOES AND NOTES CONCERNING NATURE (2015)

Saya menyukai slow cinema. Sajian arthouse lambat yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan kerap memberi kepuasan hasil dari kontemplasi mendalam sekaligus observasi mendetail. Untuk film Indonesia, "Another Trip to the Moon" karya Ismail Basbeth adalah contoh sempurna dan sampai saat ini masih menjadi film Indonesia favorit saya untuk tahun 2015. Tapi disaat suatu slow cinema gagal mencapai tujuannya, tak jarang justru kebosanan serta kesan pretensius yang hadir. "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" garapan Amir Pohan ini salah satunya. Selama 90 menit pemutarannya pada event JAFF, saya mendapati banyak penonton yang menguap bahkan bermain handphone entah karena bosan atau tak mengerti makna alur film yang tidak linier. Bahkan begitu credit bergulir ada keraguan dari audience untuk memberi applause. Mungkin karena memang tak terpuaskan atau tidak yakin film telah usai. Wajar saja, sebab sepanjang film (pasti) banyak yang tidak yakin filmnya bertutur tentang apa.

Gagasan dalam film ini sesungguhnya sederhana saja: kecintaan terhadap alam. Hanya saja cara bernarasi Amir Pohan yang begitu lambat dan sunyi serta alur penuh abstraksi tanpa kejelasan setting waktu bakal menghadirkan kebingungan untuk banyak penonton. Terdapat dua garis besar cerita. Pertama tentang perekam suara (Ladya Cheryl) yang berjalan menyusuri alam bebas untuk merekam ambience disana. Hasil rekaman itu ia gunakan untuk "terapi" bagi tumbuhan yang ia tanam di rumahnya. Kedua, adalah mengenai empat orang Guerrilla Gardeners (Tara Basro, Ismail Basbeth, Putri Ayudya & Ralmond Karundeng) yang menanam tumbuhan di berbagai sudut kota yang sudah "tenggelam" oleh beton dan semen. Untuk mengemas dua kisah itu, Amir Pohan bereksperimen dengan berfokus pada audiovisual. Kamera lebih sering menyoroti landscape pemandangan diiringi voice over Ladya Cheryl sedangkan ambience alam menggantikan scoring musik yang biasanya mengiringi suatu film. 
Normally, saya menyukai film semacam ini dan akan menyebutnya tontonan kontemplatif, indah, puitis, dan sebagainya. Tapi "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" tak pernah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai tontonan yang mengedepankan olah rasa daripada pergerakan alur, filmnya gagal membawa saya terhanyut kedalam keindahan alam negara agraris yang dimaksudkan. Sinematografi-nya tak pernah memukau untuk film yang ingin mengeksploitasi keindahan visual. Begitu pula efek suara yang bahkan nyaris tak terdengar. Mungkin saja kekurangan audio ini cukup dipengaruhi oleh suara AC yang begitu kencang di dalam ruangan, tapi faktanya saya tak mendengar ambience apapun yang sanggup menghipnotis. Disaat dua aspek "unggulan" ini sama sekali tidak unggul, jatuhlah filmnya. Dengan alur lambat nan sunyi (sering penonton hanya disuguhi adegan "artsy" saat karakter tak "melakukan apapun") juga sisi surealisme, perlu ada poin yang mengikat penonton supaya bersedia menemukan makna lebih dalam. Film ini tak punya poin tersebut, dan saya pun menyerah dalam kebosanan.
Pada sesi Q&A, sempat ada penonton mengutarakan statement bahwa film ini layak diapresiasi karena tidak meng-underestimate penontonnya. Saya justru ragu. Apakah filmnya memang tidak menganggap penonton bodoh hingga berani mengambil jalur artsy, ataukah filmnya sok pintar. Karena beberapa adegan seolah diselipkan hanya demi memberi absurditas alur. Sebagai contoh pada adegan pembuka (dan sedikit di tengah) ada subplot yang menyinggung ranah mistis tapi kemudian tak pernah dibahas lagi, sehingga terkesan random. Bukannya tanpa benang merah, karena mistis yang disinggung masih berkaitan dengan sisi lain dari alam, tapi dibandingkan momen lain, bagian ini terasa out-of-place. Bahkan Amir Pohan sendiri menuturkan bahwa adegan ini diambil dari dokumenter yang tengah ia garap sehingga "tidak etis" jika dimasukkan terlalu banyak dalam film ini. Pertanyaannya, "kalau begitu kenapa harus dimasukkan?" Karena toh bagian ini tidaklah signifikan. 

Banyak talenta berbakat mengisi jajaran cast, sebut saja Ladya Cheryl, Tara Basro dan Putri Ayudya. Ketiga aktris itu tersia-siakan potensinya. Tara dan Putri dengan kemampuan pendalaman karakter serta kesubtilan emosi yang dimiliki hanya ditugaskan menanam tumbuhan. Sedangkan Ladya Cheryl lebih "beruntung", ekspresi kedamaiannya sebagai mother nature yang menikmati nyanyian alam memang memberi keindahan. Adegan saat ia menyiram tumbuhan sambil mengajak mereka bicara pun menjadi spotlight film ini. Ya, saat adegan Ladya Cheryl menyiram tumbuhan adalah bagian terbaik, pastinya ada yang salah dalam film tersebut. Begitu ingin saya mencintai "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" dengan potensi keindahan kisah puitis serta eksperimen bertuturnya. Sungguh. Tapi apa daya, disaat mayoritas "senjata utama" tak bekerja dengan baik, filmnya pun hanya berakhir sebagai satu setengah jam yang melelahkan. Punya niatan yang baik dan berbeda dengan film-film lokal lainnya, tapi niat baik dan berbeda saja tidak cukup.