Tampilkan postingan dengan label Gina S. Noer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gina S. Noer. Tampilkan semua postingan

REVIEW - CINTA PERTAMA, KEDUA & KETIGA

"Tu wa ga, tu wa ga", ucap karakternya kala menghitung langkah waltz yang kerap mereka tarikan. Ada romantisme tersendiri pada waltz, yang dibawakan berpasangan dalam posisi berdekatan (sempat dianggap tak bermoral di awal kelahirannya dulu), sembari keduanya melenggang, lalu berputar dengan anggun. Itulah mengapa ada istilah "waltz through" guna menggambarkan pergerakan yang carefree, baik secara literal maupun figuratif. 

Begitu pula manusia-manusia di Cinta Pertama, Kedua & Ketiga garapan Gina S. Noer ini. Didasari cinta, mereka bergerak bebas, seolah tidak memedulikan batasan apa pun. Raja (Angga Yunanda) dan Asia (Putri Marino) sama-sama memikul tanggung jawab besar merawat orang tua masing-masing. Dewa (Slamet Rahardjo Djarot), ayah Raja, kesehatannya telah menurun, sedangkan ibu Asia, Linda (Ira Wibowo) merupakan penyintas kanker payudara. 

Dewa jatuh cinta selepas mengikuti kelas tari milik Linda. Raja dan Asia sejatinya mendukung hubungan keduanya, karena merasa orang tua mereka pantas mendapat kebahagiaan pasca setumpuk penderitaan. Tapi kedekatan dua keluarga ini rupanya turut menautkan hati Raja dan Asia, yang tentu saja menciptakan kerumitan. 

Selepas romansa toxic di Posesif (2017) dan kehamilan remaja di Dua Garis Biru (2019), Gina kembali mengolah tema yang cenderung tabu melalui naskahnya. Apalagi saat dengan berani, ia membawa Dewa dan Linda ke jenjang pernikahan, yang berarti, tatkala hubungan Raja dan Asia makin intens, status mereka sudah menjadi saudara tiri. 

Tapi dibanding dua judul di atas, Cinta Pertama, Kedua & Ketiga punya kemasan lebih ringan, melalui bumbu humor (yang sayangnya tidak selalu tepat sasaran) serta penekanan pada kehangatan relasi keluarga. Pun Gina mengemasnya dengan sensitivitas. Premis seperti ini mudah sekali digiring ke ranah seksualitas berlebih bahkan perversi, namun Gina tetap mengutamakan hati.

Romantisme mampu dihadirkan melalui momen yang menyasar rasa daripada (cuma) hasrat. Misal malam pertama Dewa dan Linda. Terjadi kontak fisik, namun yang lebih dikedepankan adalah proses berbagi rasa, antara dua insan yang akhirnya saling menemukan, dan berjuang bangkit dari luka masing-masing. 

Walau demikian, bukan berarti Gina menanggalkan "kenakalan" kisahnya. Tetap dipertahankan, tetapi lewat presentasi elegan. Intensitas selalu menyeruak tiap Raja dan Asia berdekatan, menyampaikan cinta dengan cara bertukar tatapan dan hembusan napas. Terlebih, Putri dan Angga punya chemistry menyengat. Secara individual, seperti biasa Putri tanpa celah, sedangkan Angga pun tampil kuat, meskipun luapan emosinya di adegan "pengakuan dosa" agak berlebihan. 

Cinta Pertama, Kedua & Ketiga dipenuhi momen yang jika disimak satu per satu menghadirkan kehangatan bahkan keindahan berkat sensitivitas pembuatnya, namun lain cerita jika dipandang sebagai kesatuan. Kali ini tuturan Gina tak serapi biasanya. Sedari sekuen pembuka, muncul banyak lompatan-lompatan liar, yang mengakibatkan penceritaannya berantakan.

Ketiadaan transisi memadai, membuat kesan dadakan yang memancing kebingungan, juga inkonsistensi tone, jamak terjadi. Bahkan sesekali suatu adegan maupun elemen cerita dan penokohan jadi kehilangan substansi. Misalnya tarian imajiner Raja dan Asia, atau "kekuatan spesial" kepunyaan Linda. 

Mungkin ada pengaruh dari proses produksi yang berjalan di tengah pandemi. Menariknya, film ini termasuk berhasil mengimplementasikan unsur-unsur pandemi ke narasi secara mulus, natural, alih-alih tampil terkesan berkata, "Lihat, film ini pandemi banget loh" (Halo Paranoia). Cinta Pertama, Kedua & Ketiga tetap mengesankan, hanya saja Gina S. Noer telah menetapkan standar yang cukup tinggi dalam karya-karyanya.

(JAFF 2021)

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

BEBAS (2019)

Selama pembuatnya tidak mengacau, remake dari Sunny (2011) takkan berakhir buruk, karena basis materinya luar biasa solid, meski sederhana. Bebas, selaku remake ketiga setelah versi Vietnam, Go Go Sisters, dan versi Jepang, Sunny: Our Hearts Beat Together yang sama-sama rilis tahun lalu, membuktikan itu. Kelemahan tercipta saat naskahnya melakukan modifikasi berupa pengurangan elemen cerita, sementara titik-titik terbaik hadir dalam momen reka ulang yang setia terhadap materi aslinya.

Pemakaian judul Bebas merujuk pada lagu legendaris berjudul sama karya Iwa K, sekaligus nama geng di mana protagonisnya, Vina Panduwinata (Maizura) si murid baru, tergabung. Geng Bebas dipimpin oleh Krisdayanti (Sheryl Sheinafia), siswi jago bela diri yang disegani di sekolah. Ya, jika Sunny mengambil nama girl group seperti So Nyeo Shi Dae alias Girls’ Generation (kalau tak salah Fin.K.L. juga sempat disebut) untuk gengnya, maka Bebas menjadikan nama diva tanah air sebagai nama karakter.

Selain keduanya, geng Bebas juga beranggotakan tiga perempuan; Jessica (Agatha Pricilla) yang gemar mempercantik diri, Gina (Zulfa Maharani) si gadis kaya, Suci (Lutesha) si model ternama, dan seorang laki-laki, yaitu Jojo (Baskara Mahendra). Tentu perpisahan tak terelakkan, tapi keenam remaja ini bersumpah akan terus bersama meski kelak tumbuh dewasa. 25 tahun pun berlalu.

Vina dewasa (Marsha Timothy) telah hidup mapan tapi ia merasa hampa. Tanpa sadar, dia hanyalah karakter pendukung di kehidupannya. Istri seseorang, ibu seseorang, dan melupakann identitas diri sendiri. Sampai Vina bertemu Kris (Susan Bachtiar) yang terbaring di rumah sakit dan divonis umurnya tinggal tersisa dua bulan. Permintaan terakhir Kris adalah agar Vina mengumpulkan geng Bebas sekali lagi sebelum ajal menjemputnya.

Naskah buatan Mira Lesmana (Ada Apa dengan Cinta?, Laskar Pelangi, Kulari ke Pantai) dan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara, Dua Garis Biru) secara keseluruha masih mengikuti pola yang diterapkan naskah aslinya yang ditulis oleh Kang Hyeong-cheol. Tetap menerapkan narasi non-linear yang terus melompat antar era sekarang dan SMA, pun masih mengusung tema besar mengenai kesemuan masa dewasa kala individu melupakan jati dirinya akibat tuntutan realita.

Tapi seperti sudah saya singgung, ada perubahan. Beberapa memberi kekhasan, beberapa justru melemahkan. Perubahan yang berhasil, terkait penggantian gender karakter. Keberadaan Jojo membawa Bebas menyinggung perihal identitas gender, preferensi seksual, serta pandangan sosial akan machismo. Sosok penindas di sekolah pun diubah jadi laki-laki, yakni Andra (Giorgino Abraham). Suatu keputusan yang menguatkan tuturan soal “kekuatan wanita”. Berkat kesubtilan naskahnya menuturkan bahasan-bahasan di atas, Bebas berhasil tampil kritis tanpa perlu terkesan politis.

Perubahan yang kurang berhasil terletak pada penghilangan beberapa unsur, yang menurut Mira dan Gina, dipandang tak seberapa substansif. Mungkin betul, namun naskah Sunny ibarat puzzle yang keping-kepingnya menciptakan kesatuan sempurna. Ketika beberapa keping hilang, gambaran besarnya tetap bisa dipahami, tapi meninggalkan lubang mengganggu. Begitulah jalannya film ini. Pergerakan alur di beberapa titik terasa kasar dan buru-buru, lalu berujung merusak dinamika.

Beruntung dampak emosi tidak ikut terlemahkan, sewaktu penyutradaraan Riri Riza berhasil mengkreasi ulang rasa di momen-momen ikonik milik Sunny dengan sensitivitas serupa. Departemen musik juga berkontribusi besar pada keberhasilan tersebut. Scoring garapan Lie Indra Perkasa (Banda the Dark Forgotten Trail, 6,9 Detik) paling memikat kala memperdengarkan suara synth bernuansa dreamy yang membuai hati.

Sementara pilihan soundtrack-nya, senada dengan tujuan Bebas selaku kapsul waktu, menampilkan deretan lagu populer era 90-an yang efektif membangun mood, sebutlah Cukup Siti Nurbaya, Bidadari, Aku Makin Cinta, dan pastinya Bebas. Tapi satu lagu yang penggunaannya paling saya suka adalah Sendiri milik mediang Chrisye, yang mengiringi salah satu sekuen terbaik film ini (sekuen serupa di Sunny memakai Reality milik Richard Sanderson). Magis, indah, intim, dan amat mengharukan.

Tapi apa jadinya semua itu bila tidak dibarengi kehebatan jajaran cast dua generasinya. Dua kutub berlawanan, Sheryl Sheinafia yang tangguh dan Maizura beserta kepolosannya memotori era 90an, didukung Baskara Mahendra melalui intrepretasi akan sosok laki-laki feminin yang menolak terjebak pada stereotip. Menyenangkan pula menyaksikan Amanda Rawles memainkan peran berbeda, sebagai Lila si ketua geng lawan yang bermulut besar tapi sebenarnya penakut. 

Di latar modern, prestasi Baskara Mahendra dilanjutkan oleh Baim Wong sebagai Jojo dewasa, sedangkan Marsha Timothy dan Indy Barends (Jessica dewasa), masing-masing sukses mengemban tugas sebagai ujung tombak elemen dramatik dan komedik. Geng Bebas di dua generasi sama-sama punya chemistry solid, yang mewakili kehangatan serta keseruan kala hidup diisi kebebasan memilih jati diri.

DUA GARIS BIRU (2019)

Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.

Kegemaran menghakimi adalah mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial. Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya, orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.

Sampai suatu hari, pasangan ini berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.

Secepat kilat rahasia itu terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.

Di situlah amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan yang membuat saya terpaku seketika.

Walau terdapat begitu banyak karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang membebani karakternya bisa turut kita rasakan.

Gina turut menumpahkan beragam hal yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut. Karena itu, Dua Garis Biru coba menuntun kita guna menemukan solusi.

Daripada menuding sambil berkoar, “Zina! Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya. Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan fisik. Dua Garis Biru memandang penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini. Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”. Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.

Di tengah berbagai pesan usungannya, Dua Garis Biru tetap membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika dikonsumsi berlebihan.

Beruntung, Gina tak menaburkan terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.

Mari membicarakan Dara, atau tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh, kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh menguap.

JAFF 2018 - KELUARGA CEMARA (2018)

Di tangan yang salah, Keluarga Cemara bisa berujung suffering porn, di mana tiap sudut ibarat musibah yang melulu memicu ratap tangis. Beruntung, naskahnya ditangani duo penulis, Yandy Laurens dan Gina S. Noer (Posesif, Kulari ke Pantai) yang tahu batas pemisah antara dramatisasi dengan eksploitasi, juga penyutradaraan berbekal pemahaman milik Yandy perihal kapan serta seberapa dramatisasi perlu diterapkan. Adaptasi sinetron legendaris Keluarga Cemara (1996-2005) yang juga dibuat berdasarkan kumpulan cerita pendek berjudul sama karya Arswendo Atmowiloto ini pun menjadi drama keluarga yang menyentuh hati lewat kehangatan alih-alih kesedihan.

Walau bukan hyperrealism (dan tak perlu menjejakkan kaki ke sana), Keluarga Cemara coba tampil senyata mungkin. Mengambil latar sebelum peristiwa di sinetron, filmnya memulai kisah kala Cemara (Widuri Puteri) sekeluarga masih hidup makmur, sehingga menyulut pertanyaan, “Bagaimana mungkin Abah si pengusaha properti jatuh begitu dalam hingga memilih profesi tukang becak?”.

Rupanya film ini mampu menawarkan jawaban logis yang juga relevan bila dihadapkan pada situasi sosial sekarang (salah satunya berbentuk peletakkan produk cerdik). Beberapa perubahan perlu dilakukan, namun tanpa mengkhianati substansi materi asalnya, bahkan masih sempat menyelipkan deretan referensi untuk momen-momen ikonik sinetronnya, dalam penempatan tepat yang selaras dengan keperluan cerita ketimbang bentuk pemaksaan diri menebar easter eggs.

Alkisah, kejatuhan Abah (Ringgo Agus Rahman) memaksa keluarganya pindah ke rumah masa kecilnya di sebuah desa di Jawa Barat. Abah terjerat rasa bersalah, terlebih setelah mendapati faktor usia menyulitkannya memperoleh pekerjaan layak secepatnya, sedangkan di saat bersamaan Emak (Nirina Zubir) mesti ikut menyokong ekonomi keluarga, Cemara harus berjalan jauh menuju sekolah, dan Euis (Zara JKT48) terpaksa bersekolah di tempat baru, meninggalkan para sahabat (sekaligus rekan tim dance) lamanya.

Khususnya bagi Euis yang tengah menginjak masa remaja awal, perubahan tersebut amatlah berat, yang akhirnya menyulut salah satu konflik utama, termasuk pertengkaran beruntun dengan Abah. Sosok Abah sendiri belum sebijak versi Adi Kurdi di sinetron.  Wajar, sebab ia masih pria berusia prima (35 tahun) yang tiba-tiba terjerembab ke titik terendah hidupnya. Dampaknya, emosi gampang tersulut, keputusan-keputusan buruk dibuat, kalimat-kalimat menyakitkan terlontar, menjauhkannya dari kesempurnaan, yang mana merupakan wujud karakterisasi menarik.

Bukan berarti anggota keluarga lain dikesampingkan. Cemara sang peluluh hati keluarga diperankan begitu alamiah oleh peforma kaya dinamika milik Widuri. Tingkah laku dan tutur katanya mampu mendinginkan pertikaian panas. Tapi tiang penyangga keluarga sesungguhnya adalah Emak. Berkatnya, keluarga tetap berdiri meski kerap terombang-ambing. Emak menyediakan tempat mengadu, meluapkan kegundahan terpendam, meski artinya, ia dituntut menyimpan beban berlebih dalam hati yang bisa kita lihat jelas melalui tatapan kaya rasa Nirina.

Gempuran masalah-masalahnya adalah gambaran keseharian yang tak terasa episodik, sebab Yandy dan Gina bukan sedang mengadaptasi mentah-mentah sinetronnya. Pun di sela-selama problematika, Keluarga Cemara bersedia menyegarkan suasana berkat kemampuan jajaran pemeran pendukung—pastinya termasuk Asri Welas sebagai “loan woman turns enter woman”—memaksimalkan gaya hiperbola guna memancing tawa.

Pilihan lagu-lagunya tak kalah memikat. Berasal dari beragam genre dan masa, membentang dari Sepanjang Jalan Kenangan, Tentang Rumahku, sampai Harta Berharga versi Bunga Citra Lestari, berbagai adegan diiringi, dengan mood berhasil terwakili. Ketepatan pemilihan lagu termasuk pembuktian kepekaan Yandy terkait membangun suasana dan rasa. Kalau mau, tearjerker bisa saja diciptakan dari semua konflik, namun ia bersedia menunggu hingga tiba titik terbaik untuk meletupkannya. Resolusinya menghadirkan payoff melalui ekspresi cinta kasih jujur nan sederhana yang bakal menumpahkan air mata.

Keberhasilan momen tersebut tak lepas juga dari kombinasi Ringgo-Zara. Walau perlu mengasah lagi kemampuan menangani ledakan amarah yang belum seberapa meyakinkan, sebagai ayah lembut, Ringgo piawai mencuri hati. Sementara Zara memberi kejutan terbesar, ketika air mata dan senyumnya bisa memicu penonton memunculkan respon serupa sewaktu menyaksikan adegan puncak.

Tidak ada konflik pengancam pernikahan, tidak ada murid baru dari kota jadi korban perundugan, tidak ada anak bermasalah yang memberontak (hanya beberapa ketidakpatuhan), tidak ada penyakit kronis dan kecelakaan (Thank God!), atau masalah-masalah tak perlu lain. Keluarga Cemara menyulut tangis tanpa menjual air mata semata, pula memperlihatkan perjuangan tanpa mengeksplotasi penderitaan. Karena akhirnya, film ini “cuma” memaparkan nilai kekeluargaan sederhana tentang memiliki dan dimiliki, menjaga dan dijaga, di mana kala semua bersatu dalam harmoni, tercipta harta yang paling berharga: Keluarga.

KULARI KE PANTAI (2018)

Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan, bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.

Di tangan yang salah, Kulari ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka penuh semangat beriringkan lagu Selamat Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak terkecuali lewat lagu tema Kulari ke Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan segera lenyap dari ingatan.

Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha), kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.

Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana (Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10 tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan serupa.  Bagaimana para karakter berubah, lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan layaknya sihir.

Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan akting sang aktris.

Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi 112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan baru pula dengan mereka.

Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya. Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik dilengkapi hook yang disesuaikan dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si pemilik homestay yang berisik akan jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film ini.

POSESIF (2017)


Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) adalah drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan tentang "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja SMA kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi SMA sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen spesial berbekal kesederhanaan. Dari obrolan pertama secara diam-diam saat Lala hanya dapat melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, sampai "ikatan" yang terpaksa dijalin akibat hukuman guru olahraga galak (Ismail Basbeth), mampu menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian agar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan agar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta beragam aturan seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan perilaku posesif bukan eksklusif terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat mendasar manusia mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak menggunakan alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, kemudian melakukan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang akhirnya membuat kata "mudah" tak lagi tepat dipakai menyikapi persoalan tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha menerima perilaku sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya agar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan karakter Yudhis memiliki pesona yang mampu mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai menyampaikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga agar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar menyampaikan rasa sayangnya ketimbang seorang otoriter bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, seperti pertunjukan gambar cantik dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan seperti musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu populer macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.