Tampilkan postingan dengan label Cut Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cut Mini. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

REVIEW - RENTANG KISAH

Rentang Kisah diangkat dari novel non-fiksi berjudul sama mengenai perjuangan YouTuber Gita Savitri Devi kala berkuliah di Jerman. Dan tuturannya sendiri memang tampil seperti buku harian nihil konsep, di mana kisah antara satu halaman dengan halaman lain tidak saling berkaitan, alias tanpa fokus. Ditangani sutradara sekaligus penulis naskah Danial Rifki (Haji Backpacker, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, 99 Nama Cinta), filmnya tersusun atas fragmen-fragmen konflik yang datang dan berlalu semaunya.

Alkisah, Gita (Beby Tsabina) yang kebingungan menentukan arah masa depannya, memilih menerima anjuran sang ibu (Cut Mini) untuk berkuliah di Jerman. Semua didasari nasihat ayahnya (Donny Damara), agar Gita “pergi dan melihat dunia”. Tentu realitanya tidak mudah. Gita menghadapi sekat bahasa, keraguan untuk tetap memakai jilbab, juga masalah romansa tatkala kekasihnya (diperankan Junior Roberts? Entahlah. Penampilannya kurang berkesan) berselingkuh dengan salah satu cara berselingkuh paling bodoh yang pernah saya lihat.

Lupakan soal itu. Mari kembali ke perjalanan Gita, yang sesekali diiringi musik-musik easy listening, khususnya saat nomor-nomor klasik macam Juwita Malam atau Manis dan Sayang diperdengarkan. Gita sempat amat terpukul. Mengakhiri hidup pun sempat dipikirkannya. Beruntung, ia punya beberapa teman. Misalnya Fina (Carmela van der Kruk), sesama mahasiswi asal Jakarta, yang saat diperkenalkan pada kita, seolah bakal beperan besar, namun  kemudian menghilang.

Begitu pula sekelompok mahasiswa Indonesia yang mengajak Gita menjadi model video klip mereka. Apakah remaja-remaja ini membentuk band? Nampaknya. Setidaknya itu yang terlihat saat mereka tampil di sebuah bar, dengan Paul (Bio One), yang di kehidupan nyata akhirnya jadi suami Gita, memegang posisi vokalis. Tapi setelahnya, tak sekalipun kita menyaksikan lagi penampilan mereka di atas panggung, pun video klip tersebut entah hasilnya seperti apa.

Begitulah Rentang Kisah. Sebuah buku harian tanpa arah, tanpa jembatan antara masing-masing masalah. Mendadak Gita sudah resmi berkuliah, padahal beberapa menit sebelumnya masih menjalani studienkolleg (program persiapan sebelum menemuh studi di universitas). Mendadak dia lulus, mendadak mulai membuat vlog, lalu mendadak filmnya usai.

Penuturan berantakan turut terjadi pada elemen drama keluarga. Gita dan orang tuanya hidup terpisah. Gita di Jerman, ibu di Indonesia, ayah di Amerika. Naskahnya gagal melakukan sinkronisasi terhadap ketiganya, guna menyampaikan pesan, bahwa meski terpisah, mereka tetap satu keluarga yang utuh. Saya bahkan sempat mengira sang ayah sudah meninggal.

Padahal film ini punya niat baik mengangkat perihal religiusitas tanpa berceramah. Ada pesan toleransi di sini, contohnya saat alih-alih memaksa Gita terus mengenakan jilbab, sang ibu menyerahkan keputusan itu pada panggilan hati puterinya. Tapi membuat suguhan bernuansa religi yang mengedepankan proses spiritual sungguhan memerlukan pendalaman lebih, yang mana gagal Rentang Kisah lakukan. Para tokoh, khususnya Gita dan Paul, melewati fase besar dalam hidup. Perubahan terjadi, pilihan-pilihan penting diambil, namun perjalanan keduanya tak pernah terasa bermakna, karena lagi-lagi, terkesan mendadak. Penonton tak diajak menyelami lebih jauh ruang spiritial personal mereka, guna memahami pergolakan batin beserta alasan-alasan di balik tiap keputusan.

Jajaran pemainnya tidak buruk. Beby Tsabina mampu memanggul beban membawa filmnya, Cut Mini seperti biasa tak kesulitan menghidupkan figur ibu penuh kasih yang “cair” kala berkomunikasi dengan anaknya, demikian pula Donny Damara dengan penampilan emosional yang bisa saja memancing air mata andai dibarengi penceritaan lebih baik dari naskah. Rentang Kisah bak kumpulan kisah-kisah yang saling merentang terlalu jauh, sampai terasa tak berkaitan. 


Available on DISNEY+ HOTSTAR

 

TRINITY TRAVELER (2019)

Selama beberapa menit awal di dalam studio, saya sempat curiga, “Jangan-jangan bukannya Trinity Traveler, yang diputar adalah Trinity, The Nekad Traveler (2017)”. Judulnya mirip, begitu pula posternya, dan meski jarang, kesalahan pemutaran film pernah beberapa kali terjadi. Alasan kecurigaan itu karena selama sekitar 15 menit pertama, tepatnya sebelum sang protagonis melanjutkan S2 ke Filipina, adaptasi jilid kedua buku The Naked Traveler karya Trinity ini menampilkan banyak adegan film pertama.

Lagi-lagi kasus serupa bukan terjadi kali ini saja. Banyak film memakai footage film lama, entah didaur ulang atau sekadar dipasang apa adanya. Beberapa juga melakukannya dengan alasan menambal durasi, karena materi yang diambil tidak cukup untuk melahirkan sebuah film panjang, contohnya The Hills Have Eyes Part II (1984) garapan Wes Craven, yang dikenal sebagai film pertama dengan adegan flashback seekor anjing. Trinity Traveler rasanya tidak jauh beda, meski kuantitas “flashback” miliknya agak keterlaluan, mengisi hampir sekitar 50% 15 menit awal.

Tapi saya yakin banyak dari penonton tidak menyadari itu. Karena walau tak pantas disebut buruk, film pertamanya begitu mudah terlupakan. Kali ini situasinya sama saja. Trinity Traveler adalah aktivitas jalan-jalan forgettable yang bahkan tak cantik guna membuat penonton ingat destinasi mana saja yang disambangi karakternya. Padahal terselip pesan dengan relevansi tinggi tentang kebebasan, khususnya terkait tuntutan sosial untuk menikah.

Buku pertama Trinity (Maudy Ayunda) sukses menjadi bestseller, tulisannya di blog makin berpengaruh, tawaran endorse terus mengalir, namun itu dianggap kurang oleh ayahnya (Farhan), yang meyakini puteri sulungnya itu tidak bahagia akibat belum menikah. “Nanti suamimu yang memenuhi semua keinginanmu”, begitu kata sang ayah menyikapi bucket list Trinity. Di acara syukuran atas keberhasilan Trinity mendapat beasiswa S2 pun, keluarga besarnya enggan menganggap itu prestasi, dan justru mengungkit status lajangnya.

Trinity enggan mengesampingkan kebebasan, namun sejatinya ia merenungkan tuntutan tersebut, apalagi pasca terjadinya suatu tragedi, yang kehilangan dampak emosinya akibat kesembronoan filmnya menabrakkan paksa momen dramatis dengan kekonyolan. Ada perbedaan antara menanggapi duka secara positif dan kejomplangan tone rasa. Trinity Traveler termasuk kategori kedua.

Lalu nasib mempertemukan Trinity kembali dengan Paul (Hamish Daud Wyllie), fotografer sekaligus satu-satunya pria yang mampu menggetarkan hati sekeras batu Trinity. Sempat ragu akan ketulusan Paul, apalagi ditambah komentar negatif sang sepupu, Ezra (Babe Cabita), keinginan membahagiakan orang tua pula dukungan kedua sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli), Trinity akhirnya bersedia memacari Paul. Awalnya mereka selalu menghabiskan waktu bersama, mengunjungi banyak lokasi berdua dalam rangkaian aktivitas travelling yang dikemas pengadeganan ala vlog jalan-jalan oleh sutradara Rizal Mantovani dan sinematografi Ryan Purwoko (Dear Nathan, Dilan 1990, My Stupid Boss 2) yang layak dipandang namun tak cukup cantik untuk menghipnotis. Tapi akhirnya masalah mulai hadir.

Kesibukan masing-masing menghalangi ketersediaan waktu pun kesetiaan Paul mulai dipertanyakan, yang turut memberi distraksi pada Trinity sehingga mempengaruhi pekerjaannya. Kualitas tulisan menurun, pun deadline dari klien kerap gagal dipenuhi. Hamish punya cukup kharisma supaya terlihat meyakinkan sebagai pria tampan dengan senyum serta gombalan yang mampu mencuri hati Trinity, dan Maudy Ayunda terbukti mampu membuat solo travelling tampak menghibur, namun keduanya tak punya cukup chemistry agar bisa menularkan getar-getar cinta mereka ke penonton.

Setidaknya jajaran pemeran pendukung punya cukup daya untuk menghadirkan tawa. Trio Babe Cabita, Anggika Bolsterli, dan Rachel Amanda adalah kombinasi yang akan membuat anda berharap mereka punya porsi sebanyak film pertama. Sebagaimana sekelompok kawan lama yang sudah saling kenal baik, ketiganya saling melempar selorohan, menambah dinamika yang memang filmnya butuhkan. Sedangkan Cut Mini sebagai ibunda Trinity, walau muncul tak seberapa sering, menghembuskan sedikit kehangatan di tengah paparan dramanya.

“Berbuat baiklah, maka kamu bakal mendapat balasannya”, “Berbahagialah”, hingga “Jangan takut menjalani hidup secara bebas” adalah beberapa pesan yang coba diutarakan dalam naskah buatan Rahabi Mandra yang juga menulis naskah film pertamanya, tapi pesan-pesan tersebut tetap bisa tersampaikan andai Trinity tidak melakoni perjalanan sekalipun. Akhirnya Trinity Traveler hanyalah jalan-jalan menyenangkan yang kurang berkesan apalagi bermakna, walau saya mengapresiasi bagaimana filmnya tak menyudutkan salah satu pihak terkait tuturan tentang kebahagiaan dan kebebasan.

ZETA: WHEN THE DEAD AWAKEN (2019)

Zeta: When the Dead Awaken (berikutnya disebut “Zeta”) membuktikan jika tim sineas kita sudah mampu memproduksi zombie flicks secara layak, selama skalanya minimalis. Filmnya solid perihal memamerkan serangan zombie, bahkan sesekali memancing ketegangan, namun ketika jangkauan kisahnya diperluas hingga mencakup kepentingan nasional dengan melibatkan pemerintah, ilmuwan, dan militer, Zeta tak ubahnya role play anak-anak.

Saya terpikat oleh momen pembukanya, yang begitu rapi mempresentasikan kondisi Jakrta yang tinggal menyisakan puing-puing tanpa penduduk. Berbekal pemakaian CGI efektif ditambah kelihaian menangkap pemandangan langka berupa kesenyapan ibukota, nuansa kiamat yang menghantui mampu ditampilkan.

Kesolidan itu terus berlanjut saat para zombie (di sini dipanggil “Zeta”) melancarkan serangan di sekolah Deon (Jeff Smith), sebelum kisahnya mengajak kita menyaksikan usaha sang remaja bermasalah menyelamatkan sang ibu, Isma (Cut Mini), yang menderita alzheimer dan tinggal di apartemen sendirian. Isma menetap seorang diri selepas dua tahun lalu Deon meninggalkannya, ketika sang suami, Richard (Willem Bevers) menangkap basah perselingkuhannya.

Richard sendiri bekerja di Amerika sebagai ilmuwan sekaligus pakar terkait wabah yang sedang terjadi. Richard menyebut bahwa wabah itu dipicu evolusi amoeba parasit yang masuk ke tubuh manusia lewat air, kemudian menguasai otak korbannya, mengubah mereka menjadi zombie.

Penyutradaraan Amanda Iswan—yang turut merangkap penulis naskah, produser, dan produser eksekutif—sanggup menciptakan keseruan berbasis serbuan zombie yang bergerak cepat. Berlatar apartemen kecil yang dipenuhi lorong sempit serta tangga darurat gelap, Amanda mengkombinasikan modal lokasi tersebut dengan pergerakan kamera dinamis tanpa harus membuat penonton sakit kepala lewat gaya shaky cam, juga ketepatan timing dalam serangan zombie, guna menyusun intensitas.

Bahkan terkadang, para monster pemangsa otak ini tampak menyeramkan berkat tata rias apik, pula efek suara geraman sang zombie. Contohnya ketika Deon mesti mendobrak kamar lain demi mencari makanan, hanya untuk dihadang sesosok zombie bertubuh tambun. Satu-satunya gaya tidak perlu yang sang sutradara terapkan adalah sudut pandang orang pertama layaknya gim video. Penempatannya terlalu acak juga begitu singkat hingga kurang berhasil meninggalkan dampak.

Pada titik ini, sejatinya naskah Zeta sudah menyiratkan tanda-tanda kebodohan, sebutlah saat Deon meminta salah satu anggota Blue River (kelompok militan pembasmi zombie) agar bersedia menunggu di luar selama ia menolong Isma. Tapi apa yang Deon lakukan begitu berhasil bertemu sang ibu? Secara sepihak ia memilih menetap di kamar, lalu tertidur. Memang remaja sekarang perlu diajari sopan santun.

Tapi kebodohan di atas sekadar lubang kecil dibanding apa yang Zeta tampilkan begitu mulai memperbesar cakupan cerita. Dari film zombie berlatar tunggal yang menghibur, film ini bertransformasi menjadi kekonyolan canggung sewaktu mengajak penonton melihat pertemuan antara ilmuwan, militer, dan Blue River. Dekorasi setnya murahan penuh properti ala kadarnya, tiada usaha membangun atmosfer sebuah markas rahasia secara meyakinkan akibat minimnya permainan tata cahaya, penulisan kalimatnya buruk, belum lagi akting yang remuk.

Sang ilmuwan terlihat bak orang bodoh yang berusaha keras terdengar pintar tanpa memahami apa yang ia bicarakan, sementara para tentara bergaya sok gahar. Daripad akting mumpuni, kita malah dipertunjukkan aksi main-main. Main tentara-tentaraan, dokter-dokteran, jagoan-jagoanan.

Hampir seluruh cast-nya mengecewakan, termasuk para pemeran rakyat sipil—kecuali Dimas Aditya yang tak terlihat mengganggu sebagai seorang penyintas tangguh. Jeff Smith tak diberahi aura sebagai protagonis yang dapat diandalkan, tidak pula secara layak menghidupkan sosok remaja bermasalah. Sementara Cut Mini melakoni aspek cluelessness pengidap alzheimer layaknya karikatur stereotipikal. Menyakitkan melihat penampilannya di sini (terburuk sepanjang karir) pasca menakjubkannya Dua Garis Biru.

Karena tidak dibarengi materi cerita mencukupi, Zeta sudah kehabisan bahan bakar di pertegahan, mulai terasa draggy kala berlama-lama dalam situasi dengan pacing menyiksa selaku usaha mengulur waktu. Membosankan, padahal setumpuk aspek berpotensi dieksplorasi. Contohnya, bila ingin melebarkan cakupan, mengapa tidak berhenti sok keren ketimbang berusaha menggali perihak isu sosial politik ketika satu kalimat mengenai “militer yang kehabisan helikopter akibat dipakai mengangkut orang-orang penting” sudah menyiratkan perihal permasalahan tersebut?

Saya suka penerapan konsep dua tipe zeta, juga bagaimana mereka melihat otak dan jantung manusia (kita sempat dibawa melihat apa yang mereka lihat). Paparannya kreatif sampai Amanda Iswan  kelelahan (atau malas?), lalu meninggalkan penonton pada ketidakpastian soal cara kerja antidote, dan lain-lain. “Dan lain-lain” inilah yang semestinya mendapat perhatian lebih.

IKUT AKU KE NERAKA (2019)

Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam kapasitas glorified cameo sebagai psikiater yang menyampaikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan lelucon di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan banyak kengawuran lain.

Merupakan kali kedua Azhar Kinoi Lubis menyutradarai horor pasca Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam Raimi tersebut memang secara literal menampilkan usaha hantu menarik korbannya ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.

Film dibuka dengan memperlihatkan Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain adalah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang kini sedang hamil tua. Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan berantakan dari naskah buatan Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin, Sabrina) seketika dapat dideteksi.

Kebahagiaan Lita dan sang suami, Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akibat teror sesosok hantu, yang terjadi setelah Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju.....well,  sebenarnya untuk berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.

Narasi semacam itu bisa menarik jika berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya, hanya ada repetisi menyebalkan, sebab respon skeptis Rama praktis menghalangi alurnya bergerak maju. Keadaan membaik setelah Rama mengakui kebenaran cerita sang istri, lalu memanggil dukun bernama Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang menunjukkan kebingungan Fajar membangun aturan mistisismenya sendiri.

Naskahnya bertambah remuk jika kita membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia adalah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam obrolan kasual di realita. Semakin terdengar aneh ketika penghantaran lemah para pemain turut berkontribusi.

Sekali waktu, kita diajak mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapatkan teror di bangsalnya. Tidak perlu merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk peran sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter kandungan. Keputusan memakai Cut Mini jelas lebih bisa dipahami. Setidaknya sang aktris mampu jadi penampil terbaik, ketika jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).

Beruntung, departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen soild lain adalah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).

Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk perasaan akibat ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan penulisan bodoh dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.

DUA GARIS BIRU (2019)

Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.

Kegemaran menghakimi adalah mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial. Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya, orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.

Sampai suatu hari, pasangan ini berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.

Secepat kilat rahasia itu terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.

Di situlah amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan yang membuat saya terpaku seketika.

Walau terdapat begitu banyak karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang membebani karakternya bisa turut kita rasakan.

Gina turut menumpahkan beragam hal yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut. Karena itu, Dua Garis Biru coba menuntun kita guna menemukan solusi.

Daripada menuding sambil berkoar, “Zina! Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya. Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan fisik. Dua Garis Biru memandang penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini. Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”. Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.

Di tengah berbagai pesan usungannya, Dua Garis Biru tetap membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika dikonsumsi berlebihan.

Beruntung, Gina tak menaburkan terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.

Mari membicarakan Dara, atau tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh, kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh menguap.

KUAMBIL LAGI HATIKU (2019)

Produksi pertama PFN (Produksi Film Negara) selama 27 tahun setelah kali terakhir menelurkan Pelangi di Nusa Laut karya MT Risyaf pada 1992 ini sebenarnya berpeluang menghembuskan angin segar bagi film lokal bertema keluarga, khususnya berkat suntikkan unsur asimilasi budaya antara India dengan Jawa. Apalagi melihat jajaran pemain papan atas miliknya. Sayang, kekacauan naskahnya dalam menyatukan berbagai cabang cerita berujung melahirkan sebuah film yang kebingungan menentukan arah.

Sinta (Lala Karmela), puteri pasangan pria India dan wanita Indonesia, menjalani hidup bahagia di Agra bersama sang ibu, Widhi (Cut Mini). Karirnya melesat, dan ia pun sedang mempersiapkan pernikahan dengan Vikash (Sahil Shah) yang tinggal menghitung hari. Tapi mendekati Hari-H, Widhi mendadak pulang ke kampung halamannya di Desa Borobudur, Magelang, setelah mendengar kabar bahwa ayahnya telah wafat sejak tiga bulan lalu.

Masalahnya, Widhi selama ini mengaku sudah tak lagi memiliki kerabat di Indonesia. Sinta yang kebingungan akhirnya nekat menyusul ibunya ke Magelang, hanya untuk menyaksikan ketidakharmonisan sebuah keluarga. Widhi bersetigang dengan kakaknya, Dewi (Ria Irawan), sementara Dimas (Dian Sidik) terlilit hutang yang mengancam keberlangsungan penginapan yang ia kelola.

Kuambil Lagi Hatiku diawali secara menjanjikan. Meski terkadang usaha Lala berbicara Bahasa Indonesia memakai logat India terdengar mengganggu, cukup jarang kita melihat karakter dalam film lokal yang bukan sekadar tinggal sementara atau jalan-jalan di luar negeri, namun menetap, bahkan mengimplementasikan kultur setempat dalam keseharian. Setibanya Sinta di Borobudur, ia sempat membantu peneliti muda (atau mahasiswa?) bernama Panji (Dimas Aditya), menjelaskan makna relief Candi Borobudur kepada wisatawan asal India, sebagai simbol penyatuan dua budaya. Tapi asimilasinya berhenti di situ. Setelahnya, tak ada lagi eksplorasi lanjutan yang dapat memperkaya filmnya.

Akhirnya Sinta bertemu Widhi. Dia menuntut jawaban, tetapi sang ibu malah bersikap tak acuh. Dari sinilah naskah karya Arief Ash Shiddiq dan Rino Sarjono (Negeri 5 Menara, Pintu Harmonika) mulai menumpuk kelemahan, yang kebanyakan melibatkan turnover dadakan dan ketidakjelasan motivasi karakter. Cut Mini kembali menghantarkan performa sarat emosi yang dengan gampangnya menjadi aspek terbaik film ini, tapi itu pun tak kuasa menjustifikasi respon dingin Widhi kepada puterinya. Bahkan pasca kebenaran terungkap saya tetap bertanya, “Kenapa?”.

Kata “Kenapa” memang terus mencuat sepanjang durasi, karena tiap karakternya membuat keputusan besar, termasuk titik balik di mana terjadi perubahan sikap, sulit memahami alasan di balik tindakan mereka. Selalu timbul kesan dadakan dan dipaksakan. Serupa Cut Mini, Ria Irawan pun tampil baik, memberi dimensi lebih pada sosok Dewi yang dari luar tampak kejam namun sejatinya berhati lapang. Perselisihan Dewi dengan Widhi menghasilkan problematika keluarga kompleks, sampai filmnya menyelesaikan konflik tersebut melalui sebuah simplifikasi yang akan sulit diterima nalar maupun hati.

Salah satu benda yang memegang peranan penting dalam cerita adalah foto masa kecil yang disimpan Widhi. Di foto itu, ia, Dewi, dan Dimas duduk di Candi Borobudur. Kelak terungkap, itu merupakan foto favorit mendiang ayah mereka, karena di sanalah ketiganya berkumpul sambil tersenyum bersama sebagai satu keluarga bahagia. Andai Kuambil Lagi Hatiku mau berfokus pada unsur satu ini, potensi menjadi drama keluarga yang menyentuh hati sangatlah tinggi. Tapi tidak. Naskahnya selalu hadir dengan konflik baru yang mayoritas tak perlu, yang ironisnya, muncul untuk menyelesaikan konflik lain.

Etos kerja “gali lubang tutup lubang” ini melahirkan problematika yang tidak logis (masalah Sinta di kantor), kekurangan pondasi (kisah cinta Sinta), out-of-place (subplot kasus pencurian dan penculikan), maupun yang cuma numpang lewat tanpa dampak (Widhi melarang Sinta menari). Bicara soal menari, melihat nomor tarian yang kasar dan canggung, rasanya sutradara Azhar ‘Kinoi’ Lubis (Surat Cinta Untuk Kartini, Kafir: Bersekutu Dengan Setan) kekurangan referensi film Bollywood atau belum memahami inti kekuatan estetikanya.

CALON BINI (2019)

Kadangkala sebuah film justru mencapai potensi terbaik saat hadir apa adanya. Keinginan untuk tampil “lebih” kerap jadi batu sandungan berbahaya. Demikian pula Calon Bini. Percintaan mustahil antara pembantu dan majikan entah sudah berapa kali dijadikan dasar jalinan kisah bertema “Cinderella story”, tapi pesonanya tak luntur, sebab sejak zaman nenek moyang, merupakan kewajaran jika seseorang mendambakan pasangan impian. Alih-alih mempertahankan kesederhanaan itu, Calon Bini memaksakan diri menyelipkan isu sosial tanpa dibarengi kualitas serta bekal pemahaman memadahi terhadapnya.  

Isu yang coba diangkat tak lain mengenai persepsi kolot masyarakat tentang kodrat wanita, khususnya wanita desa. Selepas lulus SMA, Ningsih (Michelle Ziudith) si gadis dari Bantul, berkeinginan melanjutkan kuliah hingga S2, walau perekonomian keluarganya pas-pasan. Kedua orang tuanya, Maryadi (Marwoto) dan Ngatinah (Cut Mini), hanya buruh tani. Sementara pakliknya, Agung (Ramzi) berhasrat menjodohkan Ningsih dengan Sapto (Dian Sidik) si putera Pak Kades (Butet Kartaredjasa), demi mengejar harta dan jabatan.

Tidak ada yang mempedulikan fakta bahwa Ningsih enggan menikah, apalagi dengan Sapto. Sebab, kebanyakan masyarakat di desa memang masih beranggapan bahwa paling tidak, pasangan kita wangun dijak njagong (pantas diajak menghadiri pesta pernikahan). Ucapan seperti itu sering saya dengar di lingkungan sekitar rumah sampai sekarang.

Tapi Ningsih kukuh pada pendirian, lalu memutuskan pergi ke Jakarta di hari lamaran. Tanpa memberi tahu keluarganya, ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Pak Prawira (Slamet Rahardjo) dan Bu Andini (Minati Atmanegara). Dari sinilah paparan perihal “wanita berhak mengejar cita-cita” mulai bermasalah, tepatnya begitu Ningsih bertemu Oma ( Niniek L. Karim), yang telah lama mengurung diri, merasa kesepian setelah ditinggal si cucu tunggal, Satria Bagus (Rizky Nazar) berkuliah ke luar negeri.

Sebelum membahas masalah seputar naskahnya, izinkan saya mengutarakan perasaan janggal melihat Niniek L. Karim memerankan mertua Slamet Rahardjo yang notabene hanya lebih muda 7 hari, sekaligus ibunda Minati Atmanegara yang berselisih 10 tahun dengannya. Itu sama saja seperti Vanesha Prescilla menjadi mertua Iqbaal Ramadhan alih-alih kekasihnya.

Kembali ke alur, begitu terpikatnya Oma pada Ningsih, ia berkeinginan menjodohkannya dengan Satria. Di saat bersamaan, Ningsih sejatinya telah jatuh hati kepada sosok bernama Jejak Langkah yang menuliskan kalimat-kalimat pemberi semangat untuknya melalui Instagram, tatkala banyak orang kerap melontarkan komentar bernada miring terkait cita-cita Ningsih.

Kita tahu siapa Jejak Langkah sebenarnya. Kita tahu ia bukan si pria asing (Antonio Blanco Jr.) yang ditemui Ningsih di kereta. Tapi bukan itu masalah terbesarnya. Bukan pula ketidakwajaran jumlah cercaan di Instagram Ningsih (bukan meremehkan cyberbullying, tapi sungguh, pernahkah anda melihat akun berjumlah pengikut sekitar 100 menerima komentar negatif kejam sebanyak itu?), melainkan bagaimana Calon Bini mengkritisi soal “wanita yang penting menikah” dan perjodohan, hanya untuk menuntaskan permasalahan protagonisnya lewat pernikahan dan perjodohan pula.

Sampai filmnya berakhir, jangankan meneruskan S2 atau meniti karir, Ningsih sama sekali tak berkuliah. Naskah garapan Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990) dan Novia Faizal (Cinta tapi Beda, Something in Between) berdasarkan ide cerita Sukdev Singh (One Fine Day, Calon Bini) pun urung memperlihatkan kelebihan Ningsih selain dalam urusan domestik seperti memasak atau membuat teh jahe. Dan akhirnya segala kesulitan hidupnya tuntas begitu si “pangeran berkuda putih” menjemputnya, membawanya kembali ke “kerajaan”.

Itu bukan satu-satunya elemen problematis film ini. Saya juga terganggu akan penggambaran masyarakat Jawa (terlebih Jogja), yang lagi-lagi tampak kampungan, norak, sama sekali buta soal modernisasi, pula tidak tahu adat istiadat layaknya orang barbar. Realitanya, masyarakat desa justru bakal bersikap 180 derajat dari apa yang diperlihatkan Calon Bini (dan ratusan film lokal yang salah kaprah akibat malas riset lainnya). Saya memahami intensinya sebagai bumbu komedi, namun stereotip ngawur ini sudah jadi penyakit kronis perfilman kita, sehingga di titik ini, sudah tak pantas ditoleransi.

Padahal di luar humor stereotipikal miliknya, Calon Bini sebenarnya menyimpan beberapa banyolan menggelitik, yang cukup efektif memancing tawa berkat  pengadeganan dinamis Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story) ditambah penyampaian mumpuni jajaran pemain. Marwoto sang komedian legendaris Jogja sudah tentu paling mencuri perhatian lewat celotehan-celotehan Bahasa Jawanya. Ya, untuk pemakaian bahasa, Calon Bini patut diapresiasi karena sebisa mungkin menghindari percampuran paksa Bahasa Jawa dan Indonesia sebagaimana dilakukan FTV kita.

Michelle Ziudith, biarpun belum sepenuhnya meyakinkan memerankan gadis Jawa dikarenakan gaya bicara yang sesekali masih terjebak logat “ndak gitu maaas...”, mampu menginjeksi energi supaya Calon Bini tak kehabisan daya hingga usai. Tapi jika ada aspek yang paling mencerminkan unsur pemberdayaan wanita, itu adalah akting Cut Mini. Tatapan Ngatinah kala melihat sang suami meluapkan amukannya kepada Agung, dipenuhi harga diri seorang wanita dari kalangan bawah yang tak rela kehilangan martabatnya. Andai Calon Bini juga memancarkan aura serupa.

ORANG KAYA BARU (2019)

Orang Kaya Baru disutradarai oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, Sweet 20, Me vs Mami) yang sekali lagi membuktikan kapasitasnya menggarap tontonan berdaya hibur tinggi. Tapi sebenarnya film ini lebih terasa sebagai pengingat tentang betapa bagusnya penulisan komedi seorang Joko Anwar. Saya tertawa lepas sepanjang durasi, karena selain kreatif, humornya begitu nyata. Joko merangkai absurditas berdasarkan realita yang teramat dekat.

Kisahnya menampilkan sebuah keluarga yang (harus) makan bersama tiap malam demi penghematan. Penghasilan Bapak (Lukman Sardi) di bengkel tak seberapa, demikian pula hasil dagangan kue Ibu (Cut Mini). Ketiga anak mereka pun mesti pontang-panting. Tika (Raline Shah) dituntut mengerjakan tugas kuliah arsitekturnya memakai barang bekas, Duta (Derby Romero) hanya bisa bermimpi membuat pementasan teater megah, sedangkan si bungsu Dodi (Fatih Unru) sering jadi bahan olok-olok di sekolah akibat sepatu bututnya.

Di tengah kondisi ekonomi serba kekurangan tersebut, mereka justru memperoleh hal yang lebih bernilai ketimbang uang: kebersamaan dan kehangatan keluarga. Selepas Bapak meninggal, kondisi berbalik. Rupanya ia berasal dari keluarga kaya yang menyembunyikan hartanya karena ingin keluarganya menghargai hasil kerja keras. Kini seluruh tabungan tersebut diwariskan kepada istri serta anak-anaknya.

Seperti jamaknya stereotip orang kaya baru yang kita kenal, mereka “kaget” dan menghambur-hamburkan uang tersebut. Secepat kilat mereka mendapatkan apa yang selama ini tak dimiliki, walau tanpa sadar, di saat bersamaan mereka pun kehilangan hal penting yang dimiliki. Sekarang mereka sibuk berbelanja sendiri-sendiri, mampu makan di luar rumah, dan jalan-jalan sesuka hati. Tidak perlu lagi ada penghematan dengan cara makan bersama.

Joko memposisikan meja makan selaku hati film ini. Hampir seluruh momen emosional Orang Kaya Baru bertempat di sana, sebutlah “pertemuan keluarga mendadak” pasca penguburan Bapak, lamunan Dodi kala duduk sendirian merindukan kehangatan keluarga, hingga saat si bungsu itu menumpahkan segala keluh kesahnya. Fatih Unru melanjutkan pencapaian gemilangnya di Petualangan Menangkap Petir tahun lalu sebagai salah satu aktor cilik paling menjanjikan di negeri ini.

Babak kedua film ini sejatinya sebatas kompilasi momen komedik yang menyoroti kekonyolan perilaku para orang kaya baru. Pilihan ini berisiko membuat alurnya jalan di tempat dan monoton, tapi beruntung, humor tulisan Joko selalu segar, timing pengadeganan Ody sempurna, dan performa jajaran pemain senantiasa menyuntikkan energi, khususnya kedua pelakon wanita utama. Di luar glamoritas yang membuatnya layak memperoleh peran di sekuel Crazy Rich Asians, Raline Shah memamerkan sisi lain sekaligus penampilan terbaik sepanjang karir, kala mulus melakoni tingkah norak Tika. Begitu pula Cut Mini dengan gaya histerikal yang tak pernah gagal mengocok perut. Hampir setiap baris kalimat maupun kelakuan sang aktris berujung momen komedi emas.

Naskahnya memperhatikan pengembangan cerita serta karakter. Gesekan konfliknya jelas: Walau para orang kaya baru tahu cara berfoya-foya, mereka belum siap menghadapi hal-hal yang datang seiring bertambahnya isi tabungan. Tika dan kehidupan sosial ditambah romansanya dengan Banyu (Refal Hady), Duta dengan tanggung jawab menangani pertunjukan berskala besar, Ibu dengan hal-hal berbau hukum dan legalitas. Semuanya asing bagi mereka. Alhasil, alasan di balik kesulitan tokoh-tokohnya bisa dipahami, termasuk saat mereka jatuh ke titik terendah masing-masing. Orang Kaya Baru punya presentasi elemen sebab-akibat mumpuni yang mana kerap dilupakan penulis naskah kita.

Sayang, naskahnya sedikit tersandung di paruh konklusi yang berpotensi membingungkan bagi sebagian penonton, akibat dituturkan secara terburu-buru, datang dan pergi begitu saja sehingga melemahkan dampak dramatik yang semestinya muncul guna mengakhiri cerita. Tapi toh berbekal segala kekuatannya, Orang Kaya Baru bakal berdiri tegak sebagai salah satu hiburan terkuat  tahun ini.

3 DARA 2 (2018)

Komedi adalah “makhluk” yang sulit ditaklukkan, tapi berkomedi sambil menuturkan pesan ada di tingkatan berbeda. Sekuel dari 3 Dara yang tiga tahun lalu sukses mengumpulkan lebih dari 666 ribu penonton ini hendak menunjukkan pada para misogynist, male chauvinist, hingga pemuja toxic masculinity bahwa pekerjaan rumah tangga yang kerap dibebankan pada wanita sungguh bukan main-main. Belum tentu pria sanggup menjalaninya. Tapi cara 3 Dara 2 melucu justru membuatnya gagal meruntuhkan dinding pembatas  just-for-fun-fiction supaya pesannya dapat ditanggapi serius.

Sejatinya, trio penulis naskah: Monty Tiwa (Rompis, Critical Eleven), Nataya Bagya (7/24, 3 Dara), dan Fatmaningsih Bustamar (Demi Cinta, Meet Me After Sunset), telah memilih jalur yang tepat, bahkan cerdik guna mengembangkan cerita tanpa keluar dari persoalan kesetaran gender dan kisah “pria menjadi wanita”. Masih mengetengahkan Affandy (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting), kali ini, alih-alih berubah jadi wanita, mereka mesti bertukar peran dengan para istri, alias menjadi bapak rumah tangga.

Akibat kegagalan investasi, mereka pun berhutang puluhan milyar, harus terusir dari rumah, dan terpaksa tinggal di rumah Eyang Putri (Cut Mini), ibunda Aniek (Fanny Fabriana), istri Affandy. Demi melunasi hutang tersebut, Aniek bersama Grace (Ovi Dian) dan Kasih (Rania Putrisari) memutuskan bekerja, sementara ketiga suami gantian mengurus hal-hal rumah tangga. Affandy mencuci, Jay bersih-bersih, Richard berbelanja dan memasak.  Mereka semakin kerepotan akibat keberadaan Jentu (Soleh Solihun), si penjaga rumah yang bertindak semena-mena setelah diberi wewenang kuasa oleh Eyang Putri.

Pondasi memadahi telah ditempatkan, pun sebuah pernyataan dari Windy (Rianti Cartwright) sang psikolog cukup menekankan pesan yang filmnya hendak utarakan (melalui perspektif biologis, sebagai dua jenis kelamin, pria dan wanita jauh berbeda, namun tidak dari sisi gender beserta peran-perannya), tapi kemudian 3 Dara 2 melanglang buana terlalu jauh. Kebodohan Affandy-Jay-Richard dalam usaha menebus cicilan rumah justru dikedepankan ketimbang pergulatan ketiganya sebagai bapak rumah tangga, yang sebatas ditampilkan melalui montase singkat.

Semakin kisahnya bergulir, semakin repetitif, di mana pola “berbuat kebodohan-gagal-dimarahi-menyesal-ulangi kebodohan” disajikan secara terus menerus. Daripada proses belajar gradual, karakternya dibiarkan tanpa perubahan sampai konklusi. Sebuah konklusi bertabur twist yang menempuh jalan pintas guna menyelesaikan segala permasalahan. Twist yang mengejutkan? Ya, karena sulit dipercaya 3 Dara 2 menerapkan resolusi semalas itu.

Dipandang selaku hiburan, balutan humornya bekerja cukup baik. Beberapa ide kentara menunjukkan para penulisnya lebih mencurahkan usaha dan kreativitas dalam membalut komedi daripada konklusi kisah. Tidak semua bekerja maksimal, tapi berkat performa sekaligus chemistry menghibur Tora, Adipati, dan Tanta, setidaknya saya bisa dibuat terus terjaga. Belum lagi Cut Mini yang senantiasa menguasai tiap momen kemunculannya dengan kejenakaan "mengerikan". Sementara Fanny Fabriana mampu melakoni peran sebagai jangkar bagi elemen dramatik filmnya.  

Tapi sekali lagi, 3 Dara 2 ingin tampil lebih. Karenanya, gaya “dilebih-lebihkan” dari leluconnya mencuatkan masalah. Benar komedi harus dilebih-lebihkan selaku pendekatan hiperbolis terhadap realita supaya kelucuan tercipta. Namun hiperbola di sini, yang membuat masalah tokoh-tokohnya nampak konyol, berpotensi “membentengi” pihak-pihak yang dikritisi. Mereka bakal berpikir “Situasi begini takkan terjadi di kehidupan nyata”, atau “Kenyataannya takkan seberat ini” kala menyaksikan susah payahnya Affandy, Jay, dan Richard beradaptasi sebagai bapak rumah tangga, mayoritas diproduksi oleh perilaku absurd Jentu, yang memang benar, takkan kita temui di realita. Para misogynist dan male chauvinist pun rasanya hanya akan terkekeh.

POSESIF (2017)


Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) adalah drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan tentang "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja SMA kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi SMA sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen spesial berbekal kesederhanaan. Dari obrolan pertama secara diam-diam saat Lala hanya dapat melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, sampai "ikatan" yang terpaksa dijalin akibat hukuman guru olahraga galak (Ismail Basbeth), mampu menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian agar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan agar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta beragam aturan seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan perilaku posesif bukan eksklusif terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat mendasar manusia mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak menggunakan alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, kemudian melakukan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang akhirnya membuat kata "mudah" tak lagi tepat dipakai menyikapi persoalan tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha menerima perilaku sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya agar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan karakter Yudhis memiliki pesona yang mampu mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai menyampaikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga agar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar menyampaikan rasa sayangnya ketimbang seorang otoriter bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, seperti pertunjukan gambar cantik dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan seperti musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu populer macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.