TAKUT KAWIN (2018)

9 komentar

“Awas lu ketabrak! Gue doain, gue sumpahin beneran ketabrak lu!”. Itu bukan pertengkaran antara teman, melainkan luapan amarah seorang ibu pada anaknya yang masih kecil, yang saya dengar di halte seusai menonton Takut Kawin. Merawat anak tidak mudah. Banyak orang ragu menikah salah satunya karena belum siap punya momongan. Bagi yang terlambat menyadari ketidaksiapannya, bisa berakhir seperti ibu di atas. Intinya, alasan takut menikah bermacam-macam dan butuh melewati pertimbangan panjang pula rumit sebelum mengambil keputusan. Sehingga saat Bimo (Herjunot Ali) melamar Lala (Indah Permatasari) karena terbawa suasana sekaligus menolak dianggap takut, saya tak terkejut prosesnya bermasalah.

Bimo melamar Lala di pesta pernikahan sahabatnya, Romy (Junior Liem) ketika sedang mengucapkan kata sambutan. Orang tidak tahu malu dan kurang peka mana yang melakukan itu? Lucuny, semua orang, termasuk kedua mempelai tidak tersinggung, bahkan mendukung aksi dadakan itu. Di dunia nyata, Bimo mungkin tidak lagi dianggap sahabat. Di dunia nyata pula, arsitek ganteng nan kaya sepertinya takkan sulit merebut hati wanita atau menjadi “anak rumahan” yang memesan air putih di kelab malam. Bagaimana cara Takut Kawin membuat penokohan itu bisa dipercaya? Meminta Junot berakting penuh kecanggungan dengan bibir jarang terkatup seperti biasa.
Singkatnya, Bimo mulai meragukan keputusannya menikah setelah mendapati ia dan Lala memiliki banyak perbedaan. Dibenturkan pada Lala yang keras kepala, Bimo merasa selalu kalah pula kurang dihargai.  Kejenakaan mengiringi prosesnya mempersiapkan mental menghadapi perkawinan. Setidaknya, begitu tujuan Takut Kawin. Masalahnya, Junot tidak lucu. Usahanya menghidupkan Bimo yang canggung dan plin-plan justru menghasilkan aktin kaku akibat penuturan kalimat tanpa nyawa. Sutradara debutan Syaiful Drajat AS (juga selaku produer eksekutif) bagai kebingungan memakai potensi deadpan comedy sang aktor. Sebaliknya, Indah Permatasri bermain solid, dan karakter gadis keras nan dominan peranannya mestinya lebih dieksploitasi lagi sebagai “counter” bagi Bimo dalam rangka membangun unsur komedi.

Kenyataannya, Junot memang butuh tandem perihal melucu. Tandem yang memberinya kesempatan merespon dan menimpali dengan ekspresi polosnya, bukan yang “menguasai panggung” macam Adjis Doaibu atau Babe Cabita. Contohnya sewaktu Nina Kozok (saya lupa nama tokohnya) menciumnya, lalu bertanya “Is it good?”. Dengan cepat Junot menjawab lewat acungan jempol, tentunya tanpa menutup bibir. Itu lucu. Takut Kawin butuh lebih banyak intraksi mengelitik Junot-Indah.
Itulah mengapa sepertiga durasi akhir amat menghibur, mengangkat kualitas filmnya secara drastis. Bimo selalu menghindari Lala, begitu pun sebaliknya. Tapi kita tahu takdir akan mempertemukan keduanya lagi. Saat akhirnya momen itu terjadi, Takut Kawin berkembang makin mengasyikkan. Tengok konklusinya. Lucu, manis, dinamis, sebab Junot dan Indah saling melengkapi sebagaimana Bimo dan Lala. Takut Kawin bicara soal betapa cinta merupakan poin terpenting pernikahan, alhasil penonton harus dibuat percaya bahwa kedua tokoh utama saling mencintai agar pesan itu tepat sasaran. Sayangnya, selain kuantitas minim, di paruh awal pun kita lebih sering diuguhi pertengkaran ketimbang kemesraan mereka.

Paruh akhirnya turut menyimpan kejutan (a good one), yang eksekusinya terganggu oleh penyutradaraan menggelikan sewaktu Lala memutar lagu Berpisah-nya Angel Karamoy di sela-sela pembicaraan seriusnya dengan Bimo. Sebuah momen yang bukannya menyentuh, justru cringe-worthy. Naskah buatan Alim Sudio yang tidak cukup menggali persoalan kultur pernikahan di Indonesia maupun hubungan kedua protagonis, serta kerap kacaunya pengadeganan Syaiful Drajat AS jadi akar permasalahan Takut Kawin. Seusai film, saya yakin, penonton yang merasa takut melangkah ke jenjang pernikahan bakal tetap takut.

9 komentar :

Comment Page:
susan mengatakan...

Nggak review sekala niskala kah min? Scara penasaran bgt sama film itu

Rasyidharry mengatakan...

Udah kok, postingan bulan Desember tapi. Nonton di JAFF soalnya :)

benny salim mengatakan...

Masi sempat nggak mas rasyid buat review film" lama? Film sekarang bosan :v

Zulfikar Knight mengatakan...

Kira kira Isle of Dogs kapan tayang di Indonesia nih?

Rasyidharry mengatakan...

@benny haha nontonnya aja udah kurang sempet

@Zulfikar Harusnya awal April, soalnya Maret udah full dan April lowong gara-gara pada takut Infinity War

Anonim mengatakan...

Bang, kemarin q nonton up in the air d tv, trus ngliat reviewmu. gimana kalo dibuat reviewnya lagi dg gaya bahasa yg sekarang bang. Hehe..

Rasyidharry mengatakan...

Haha don't read my old reviews please

Raid Mahdi mengatakan...

Best comment itu wkwk, ide bagus bang kalau dibuat ulang pasti 5 star

Rasyidharry mengatakan...

Jelas. That's my "life changing movie". Dari yang ogah nonton film Oscar karena ngerasa terlalu berat jadi demen.