Tampilkan postingan dengan label Babe Cabita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babe Cabita. Tampilkan semua postingan
TRINITY TRAVELER (2019)
Rasyidharry
Selama beberapa menit awal di dalam studio, saya sempat
curiga, “Jangan-jangan bukannya Trinity Traveler, yang diputar adalah Trinity,
The Nekad Traveler (2017)”. Judulnya mirip, begitu pula posternya, dan
meski jarang, kesalahan pemutaran film pernah beberapa kali terjadi. Alasan
kecurigaan itu karena selama sekitar 15 menit pertama, tepatnya sebelum sang
protagonis melanjutkan S2 ke Filipina, adaptasi jilid kedua buku The Naked
Traveler karya Trinity ini menampilkan banyak adegan film pertama.
Lagi-lagi kasus serupa bukan terjadi kali ini saja. Banyak
film memakai footage film lama, entah didaur ulang atau sekadar dipasang
apa adanya. Beberapa juga melakukannya dengan alasan menambal durasi, karena
materi yang diambil tidak cukup untuk melahirkan sebuah film panjang, contohnya
The Hills Have Eyes Part II (1984) garapan Wes Craven, yang dikenal
sebagai film pertama dengan adegan flashback seekor anjing. Trinity
Traveler rasanya tidak jauh beda, meski kuantitas “flashback”
miliknya agak keterlaluan, mengisi hampir sekitar 50% 15 menit awal.
Tapi saya yakin banyak dari penonton tidak menyadari itu.
Karena walau tak pantas disebut buruk, film pertamanya begitu mudah terlupakan.
Kali ini situasinya sama saja. Trinity Traveler adalah aktivitas
jalan-jalan forgettable yang bahkan tak cantik guna membuat penonton
ingat destinasi mana saja yang disambangi karakternya. Padahal terselip pesan
dengan relevansi tinggi tentang kebebasan, khususnya terkait tuntutan sosial
untuk menikah.
Buku pertama Trinity (Maudy Ayunda) sukses menjadi bestseller,
tulisannya di blog makin berpengaruh, tawaran endorse terus
mengalir, namun itu dianggap kurang oleh ayahnya (Farhan), yang meyakini puteri
sulungnya itu tidak bahagia akibat belum menikah. “Nanti suamimu yang memenuhi
semua keinginanmu”, begitu kata sang ayah menyikapi bucket list Trinity.
Di acara syukuran atas keberhasilan Trinity mendapat beasiswa S2 pun, keluarga
besarnya enggan menganggap itu prestasi, dan justru mengungkit status
lajangnya.
Trinity enggan mengesampingkan kebebasan, namun sejatinya ia
merenungkan tuntutan tersebut, apalagi pasca terjadinya suatu tragedi, yang
kehilangan dampak emosinya akibat kesembronoan filmnya menabrakkan paksa momen
dramatis dengan kekonyolan. Ada perbedaan antara menanggapi duka secara positif
dan kejomplangan tone rasa. Trinity Traveler termasuk kategori
kedua.
Lalu nasib mempertemukan Trinity kembali dengan Paul (Hamish
Daud Wyllie), fotografer sekaligus satu-satunya pria yang mampu menggetarkan
hati sekeras batu Trinity. Sempat ragu akan ketulusan Paul, apalagi ditambah
komentar negatif sang sepupu, Ezra (Babe Cabita), keinginan membahagiakan orang
tua pula dukungan kedua sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika
Bolsterli), Trinity akhirnya bersedia memacari Paul. Awalnya mereka selalu menghabiskan waktu bersama, mengunjungi
banyak lokasi berdua dalam rangkaian aktivitas travelling yang dikemas
pengadeganan ala vlog jalan-jalan oleh sutradara Rizal Mantovani dan
sinematografi Ryan Purwoko (Dear Nathan, Dilan 1990, My Stupid Boss 2)
yang layak dipandang namun tak cukup cantik untuk menghipnotis. Tapi akhirnya
masalah mulai hadir.
Kesibukan masing-masing menghalangi ketersediaan waktu pun
kesetiaan Paul mulai dipertanyakan, yang turut memberi distraksi pada Trinity
sehingga mempengaruhi pekerjaannya. Kualitas tulisan menurun, pun deadline dari
klien kerap gagal dipenuhi. Hamish punya cukup kharisma supaya terlihat meyakinkan
sebagai pria tampan dengan senyum serta gombalan yang mampu mencuri hati
Trinity, dan Maudy Ayunda terbukti mampu membuat solo travelling tampak
menghibur, namun keduanya tak punya cukup chemistry agar bisa menularkan
getar-getar cinta mereka ke penonton.
Setidaknya jajaran pemeran pendukung punya cukup daya untuk
menghadirkan tawa. Trio Babe Cabita, Anggika Bolsterli, dan Rachel Amanda adalah
kombinasi yang akan membuat anda berharap mereka punya porsi sebanyak film pertama.
Sebagaimana sekelompok kawan lama yang sudah saling kenal baik, ketiganya
saling melempar selorohan, menambah dinamika yang memang filmnya butuhkan.
Sedangkan Cut Mini sebagai ibunda Trinity, walau muncul tak seberapa sering, menghembuskan
sedikit kehangatan di tengah paparan dramanya.
“Berbuat baiklah, maka kamu bakal mendapat balasannya”, “Berbahagialah”,
hingga “Jangan takut menjalani hidup secara bebas” adalah beberapa pesan yang
coba diutarakan dalam naskah buatan Rahabi Mandra yang juga menulis naskah film
pertamanya, tapi pesan-pesan tersebut tetap bisa tersampaikan andai Trinity
tidak melakoni perjalanan sekalipun. Akhirnya Trinity Traveler hanyalah
jalan-jalan menyenangkan yang kurang berkesan apalagi bermakna, walau saya
mengapresiasi bagaimana filmnya tak menyudutkan salah satu pihak terkait tuturan
tentang kebahagiaan dan kebebasan.
Desember 01, 2019
Anggika Bolsterli
,
Babe Cabita
,
Cut Mini
,
Drama
,
Farhan
,
Hamish Daud Wyllie
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Maudy Ayunda
,
Rachel Amanda
,
Rahabi Mandra
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Romance
,
Ryan Purwoko
KAPAL GOYANG KAPTEN (2019)
Rasyidharry
Setelah (gagal) memancing tawa
melalui pembajakan pesawat di Flight 555 tahun
lalu, Raymond Handaya melahirkan sau lagi komedi seputar pembajakan
transportasi, tapi kali ini, latarnya beralih dari udara ke perairan dan pulau
terpencil. Perubahan itu rupanya berdampak, karena cakupan kapal dan pulau tidak
sesempit pesawat, yang berarti bertambahnya hal untuk dieksplorasi. Walau tidak
lebih pintar, Kapal Goyang Kapten jelas
lebih lucu.
Kapal tersebut dimiliki Gomgom
(Babe Cabita), pemilik usaha wisata kecil di Manado. Begitu kecil, posisi
pemandu tur, sopir bus, dan kapten kapal diemban oleh Gomgom seorang, suatu
kondisi yang rutin dijadikan bahan banyolan di paruh awal. Turis yang jadi
kliennya sekarang adalah Tiara (Yuki Kato),
Burhan (Arief Didu) beserta istri (Asri Welas) dan puterinya (Romaria
Simbolon), pasangan suami-istri Darto (Yusril) dan Salma (Naomi Papilaya),
serta tiga mahasiswa Noni (Andi Anissa), Cika (Ryma Gembala) dan Agung (Ananta
Rispo).
Sementara itu, pemuda kaya asal
Jakarta, Daniel (Ge Pamungkas), juga baru tiba di Manado setelah kabur dari
rumah guna membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada uang
ayahnya (Roy Marten). Sementara waktu, Daniel menetap di rumah mantan sopir
pribadinya, Cakka (Muhadkly Acho). Cakka sendiri tengah mengalami masalah
berupa ketidakmampuan finansial guna mengobati penyakit sang ibu. Bersama
Bertus (Mamat Alkatiri), ia berencana membajak kapal Gomgom. Walau awalnya
menolak, didorong keinginan membantu Cakka, Daniel memutuskan bergabung.
Bisa ditebak, akibat aksi amatiran
ditambah sisi manja Daniel, pembajakan tersebut berantakan. Alih-alih mendapat
uang, mereka bertiga, bersama seluruh penumpang, justru terdampar di pulau
terpencil setelah kapal kehabisan solar. Kedua belah pihak pun terpaksa
mengesampingkan perbedaan, berdamai demi bertahan hidup dann mencari jalan
pulang.
Humor recehnya, yang mayoritas
berupa kelakar dan plesetan bodoh, tingkah laku bodoh, atau bentuk kebodohan
lain, masih sama, namun ketika Flight 555
menyia-nyiakan premis dan latar uniknya, Kapal Goyang Kapten, walau belum bisa disebut maksimal,
menanganinya dengan lebih baik. Setidaknya humor datang dari situasi khusus
terkait kapal, survival, maupun
pembajakan, daripada sekadar kekonyolan acak.
Banyolan semacam itu punya tingkat
risiko kegagalan tinggi, tapi duo penulis Muhadkly Acho dan Awwe (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1
& 2) memahami itu, memilih menjadikan lelucon garing sebagai sebuah
kesengajaan yang disadari. Contohnya sewaktu puteri Burhan kerap mengomentari
ketidaklucuan Gomgom. Sebuah win-win
solution cerdik. Bagus jika penonton menganggap lawakan Gomgom lucu, tapi
jika tidak, mereka akan menertawakan kritik pedas si gadis cilik.
Kapal Goyang Kapten juga dibantu jajaran pemain yang seolah tengah on fire. Kedua penulis menggunakan polah
absurd Babe hingga celetukan-celetukan Arief Didu dengan cara yang tepat, di
tempat yang tepat, juga dalam dosis memadai. Tentu tidak seluruhnya mengenai
sasaran, namun saya mendapati diri lebih sering tertawa daripada memasang wajah
datar sambil garuk-garuk kepala.
Menyentuh pertengahan durasi,
karakter baru diperkenalkan, yaitu Pak Sentot (Mathias Muchus), yang sudah
terperangkan di pulau selama 10 tahun. Pak Sentot lebih terasa sebagai rip-off Chuck Noland di Cast Away ketimbang parodi dari tokoh
yang dipopulerkan oleh Tom Hanks itu. Baik nasib atau tampilan fisik mereka
serupa. Bahkan Pak Sentot pun berteman dengan bola voli yang diberi nama Mika
(dari Mikasa) sebagaimana Chuck dan Wilson. Beruntung, totalitas sang aktor
berhasil menjadikan Pak Sentot karakter menarik. Melihat Mathias Muchus
bertingkah eksentrik dibalut riasan meyakinkan, menggendong bola voli layaknya
puteri sendiri, merupakan hiburan tersendiri.
Kelemahan terbesar film ini adalah
tiap kali menampilkan sisi serius. Meski Ge tampak berusaha sebaik mungkin
menangani elemen dramatis, perjalanan Daniel membuktikan kapasitasnya,
dipaparkan teramat dangkal, sehingga mustahil bersimpati kepadanya. Begitu pula
benih cintanya dengan Tiara, yang dipaksa masuk. Di antara penumpang, Yuki
paling vokal menyuarakan kebencian terhadap tiga pembajak, sampai tiba-tiba,
hatinya berubah secara radikal dengan begitu mudah. Pun di tengah sederet
individu absurd, Daniel dan Tiara selaku “sosok serius” merupakan karakter
paling kurang menarik yang tak punya cukup daya guna menggoyang hati penonton.
September 07, 2019
Ananta Rispo
,
Arief Didu
,
Asri Welas
,
Awwe
,
Babe Cabita
,
Comedy
,
Cukup
,
Ge Pamungkas
,
Indonesian Film
,
Mamat Alkatiri
,
Muhadkly Acho
,
Raymond Handaya
,
REVIEW
,
Romaria Simbolon
,
Roy Marten
,
Yuki Kato
,
Yusril
TAKUT KAWIN (2018)
Rasyidharry
“Awas lu ketabrak! Gue doain, gue sumpahin beneran ketabrak
lu!”. Itu bukan pertengkaran antara teman, melainkan luapan amarah seorang ibu
pada anaknya yang masih kecil, yang saya dengar di halte seusai menonton Takut Kawin. Merawat anak tidak mudah.
Banyak orang ragu menikah salah satunya karena belum siap punya momongan. Bagi
yang terlambat menyadari ketidaksiapannya, bisa berakhir seperti ibu di atas.
Intinya, alasan takut menikah bermacam-macam dan butuh melewati pertimbangan
panjang pula rumit sebelum mengambil keputusan. Sehingga saat Bimo (Herjunot
Ali) melamar Lala (Indah Permatasari) karena terbawa suasana sekaligus menolak dianggap
takut, saya tak terkejut prosesnya bermasalah.
Bimo melamar Lala di pesta pernikahan sahabatnya, Romy
(Junior Liem) ketika sedang mengucapkan kata sambutan. Orang tidak tahu malu
dan kurang peka mana yang melakukan itu? Lucuny, semua orang, termasuk kedua
mempelai tidak tersinggung, bahkan mendukung aksi dadakan itu. Di dunia nyata,
Bimo mungkin tidak lagi dianggap sahabat. Di dunia nyata pula, arsitek ganteng
nan kaya sepertinya takkan sulit merebut hati wanita atau menjadi “anak rumahan”
yang memesan air putih di kelab malam. Bagaimana cara Takut Kawin membuat penokohan itu bisa dipercaya? Meminta Junot
berakting penuh kecanggungan dengan bibir jarang terkatup seperti biasa.
Singkatnya, Bimo mulai meragukan keputusannya menikah setelah
mendapati ia dan Lala memiliki banyak perbedaan. Dibenturkan pada Lala yang
keras kepala, Bimo merasa selalu kalah pula kurang dihargai. Kejenakaan mengiringi prosesnya mempersiapkan mental menghadapi perkawinan. Setidaknya, begitu tujuan Takut Kawin. Masalahnya, Junot tidak
lucu. Usahanya menghidupkan Bimo yang canggung dan plin-plan justru
menghasilkan aktin kaku akibat penuturan kalimat tanpa nyawa. Sutradara debutan
Syaiful Drajat AS (juga selaku produer eksekutif) bagai kebingungan memakai
potensi deadpan comedy sang aktor. Sebaliknya,
Indah Permatasri bermain solid, dan karakter gadis keras nan dominan peranannya
mestinya lebih dieksploitasi lagi sebagai “counter”
bagi Bimo dalam rangka membangun unsur komedi.
Kenyataannya, Junot memang butuh tandem perihal melucu.
Tandem yang memberinya kesempatan merespon dan menimpali dengan ekspresi
polosnya, bukan yang “menguasai panggung” macam Adjis Doaibu atau Babe Cabita.
Contohnya sewaktu Nina Kozok (saya lupa nama tokohnya) menciumnya, lalu
bertanya “Is it good?”. Dengan cepat
Junot menjawab lewat acungan jempol, tentunya tanpa menutup bibir. Itu lucu. Takut Kawin butuh lebih banyak intraksi
mengelitik Junot-Indah.
Itulah mengapa sepertiga durasi akhir amat menghibur,
mengangkat kualitas filmnya secara drastis. Bimo selalu menghindari Lala,
begitu pun sebaliknya. Tapi kita tahu takdir akan mempertemukan keduanya lagi. Saat
akhirnya momen itu terjadi, Takut Kawin
berkembang makin mengasyikkan. Tengok konklusinya. Lucu, manis, dinamis, sebab
Junot dan Indah saling melengkapi sebagaimana Bimo dan Lala. Takut Kawin bicara soal betapa cinta
merupakan poin terpenting pernikahan, alhasil penonton harus dibuat percaya
bahwa kedua tokoh utama saling mencintai agar pesan itu tepat sasaran.
Sayangnya, selain kuantitas minim, di paruh awal pun kita lebih sering diuguhi
pertengkaran ketimbang kemesraan mereka.
Paruh akhirnya turut menyimpan kejutan (a good one), yang eksekusinya terganggu oleh penyutradaraan menggelikan
sewaktu Lala memutar lagu Berpisah-nya
Angel Karamoy di sela-sela pembicaraan seriusnya dengan Bimo. Sebuah momen yang
bukannya menyentuh, justru cringe-worthy.
Naskah buatan Alim Sudio yang tidak cukup menggali persoalan kultur pernikahan
di Indonesia maupun hubungan kedua protagonis, serta kerap kacaunya
pengadeganan Syaiful Drajat AS jadi akar permasalahan Takut Kawin. Seusai film, saya yakin,
penonton yang merasa takut melangkah ke jenjang pernikahan bakal tetap takut.
Maret 11, 2018
Adjis Doaibu
,
Alim Sudio
,
Babe Cabita
,
Comedy
,
Herjunot Ali
,
Indah Permatasari
,
Indonesian Film
,
Junior Liem
,
Kurang
,
Nina Kozok
,
REVIEW
,
Romance
,
Syaiful Drajat AS
THE UNDERDOGS (2017)
Rasyidharry
The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal.
Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu.
Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.
Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.
Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini
Agustus 17, 2017
Adink Liwutang
,
Alitt Susanto
,
Babe Cabita
,
Bene Dion
,
Brandon Salim
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Ernest Prakasa
,
Han Yoo Ra
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Sheryl Sheinafia
,
Young Lex
RAFATHAR (2017)
Rasyidharry
Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta deretan alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil akhirnya memecah penonton menjadi dua kubu, biar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air jelas layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar usaha Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang baru dua tahun, namun bisa juga dipandang selaku angin segar, karena sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.
Cerita high concept khas Umbara Bersaudara langsung nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan aksi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua peristiwa ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar adalah anugerah setelah bertahun-tahun pernikahan tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung pola serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibuat kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah banyolan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak sampai memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik bodoh itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.
Di luar unsur slapstick, Rafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk sebenarnya tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak dapat hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan lumayan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai karakter yang setipe dengan seluruh peran di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, praktis Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot kuat bukan kebutuhan utama, namun lain cerita ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang akhir mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan karena sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah jika diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren.
Kualitas CGI-nya terhitung lumayan sampai tiba klimaks pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, saat acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung akibat CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim usaha memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi karena mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.
Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL
Agustus 10, 2017
Agus Kuncoro
,
Arie Untung
,
Babe Cabita
,
Bene Dion
,
Bounty Umbara
,
Comedy
,
Henky Solaiman
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Nur Fazura
,
Rafathar
,
Raffi Ahmad
,
Science-Fiction
COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 (2016)
Rasyidharry
Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi sajian komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan harapan terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang seperti ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.
Melanjutkan kisah film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, langsung membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) mendapat serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas sebenarnya pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi aksi klimaks dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk akal atau tidak. Sesungguhnya bukan masalah andai filmnya memang sengaja dikemas bodoh layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil karena tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI kasar (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi berpengaruh besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya bisa memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas asli dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya membuat Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, lelucon sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi karakter tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.
Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta karakter coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan aksi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa karena begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan supaya cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif bila diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak bisa dipungkiri saya akan tetap dengan senang hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8.
Ticket Powered by: ID Film Critics
Maret 04, 2016
Action
,
Anggy Umbara
,
Arie Kriting
,
Babe Cabita
,
Comedy
,
Cukup
,
Ernest Prakasa
,
Ge Pamungkas
,
Hannah Al Rashid
,
Indonesian Film
,
Pandji Pragiwaksono
,
Prisia Nasution
,
REVIEW
,
Sophia Latjuba
,
Yayan Ruhian
Langganan:
Komentar
(
Atom
)



















