TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

7 komentar
Salah satu adegan dalam Terbang: Menembus Langit memperlihatkan Onggy (Dion Wiyoko) melamar Candra (Laura Basuki). Bagi karakternya, ini momen penting ketika ia menemukan cinta, kawan hidup yang menyokong sekaligus memberi motivasi bagi perjuangannya. Tapi Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) yang bertindak selaku sutradara dan penulis naskah enggan menghantam penonton lewat dramatisasi tinggi. Berlatar warung mie ayam, ia menarik romantisme keluar dari situasi kurang romantis, setidaknya menurut Candra. Kesederhanaan itu mematenkan rasa juga nilai usungan filmnya, yang menjadikan Terbang, meski masih mempertahankan formula khas melodrama, memiliki nilai lebih dibanding “rekan-rekan sejawatnya”.

Mengangkat kisah hidup motivator sukses Onggy Hianata, Nugros justru tak semata menekankan destinasi berupa keberhasilan finansial. Lahir di keluarga sederhana di Tarakan, Onggy selalu terngiang petuah sang ayah (Chew Kin Wah) tentang ketiadaan kebebasan hidup apabila bekerja bagi orang lain. Begitu melancong ke Surabaya lalu menikah, ia pun nekat meninggalkan pekerjaan kantoran karena takut kelak tidak punya waktu menyaksikan tumbuh kembang si buah hati. Saya kerap mendapati penyesalan serupa dialami banyak ayah begitu menyongsong usia senja sementara anak mereka telah “terbang” seorang diri jauh di sana. Keluarga adalah poin utama Terbang, yang terus Nugros pertahankan sampai konklusi sewaktu ia berani menampilkan bentuk kebahagiaan sederhana ketika banyak penonton mungkin berekspektasi akan gelimag harta.
Bisa dibilang Onggy bukan jenius dalam hal bisnis. Berulang kali ia terbentur kegagalan entah akibat kesalahan strategi maupun tertipu. Sejak kecil pun ia digambarkan tidak secemerlang kakaknya di bangku sekolah. Ditambah keterbatasan ekonomi, saya pun berpikir, “bagaimana ia bisa sukses?”. “Apa rencananya?”. Selain tekad baja, Onggy digambarkan sebagai pria dengan banyak rencana. Kalimat “aku punya rencana” pun sering terlontar dari mulutnya, walau jangankan memancing keyakinan terhadapnya, filmnya lalai menjabarkan rencana apa yang dimaksud. Bahkan Onggy kuliah di jurusan apa pun urung dipaparkan. Karena bagi filmnya, yang penting penonton melihat Onggy mampu menempuh pendidikan di Surabaya, tanah impiannya. Di Surabaya pula Terbang memasuki babak paling menyenangkan berkat sentuhan komedi seputar kehidupan mahasiswa indekos, yang lagi-lagi melukiskan kebahagiaan di tengah kesederhanaan.

Tidak ketinggalan pula pesan nasionalisme, yang meski bisa diperhalus lagi penyampaiannya dengan cara “menunjukkan” alih-alih banyak “menyatakan” secara verbal, tak berkurang relevansinya. Pesan tersebut jelas penting disampaikan sekarang. Kegamblangan macam itu memang senjata andalan film inspiratif dan/atau melodrama, tapi untungnya, penokohan Onggy terhindar dari keklisean serupa. Dia pantang menyerah, namun bukan sosok suci. Penonton berkesempatan melihatnya di titik nadir, saat ia merasa lelah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersimpuh sambil bertanya pada Tuhan ditemani luapan tangis yang membuktikan kebolehan Dion Wiyoko mengolah rasa. Chemistry yang dibangun bersama Laura Basuki juga solid, menghasilkan pasangan mudah menggaet simpati walau keduanya baru bertemu saat film memasuki separuh durasi.
Salah satu tantangan terbesar Nugros di penulisan naskah tak lain menangani fakta bahwa tokoh utamanya merupakan pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan mustahil termasuk alasan mengapa Nugros memilih mengedepankan kekeluargaan. Bayangkan apa respon publik menonton kesuksesan ekonomi karakter yang disebabkan MLM? Fakta itu dikaburkan, dan sayangnya, dari segi naratif keputusan itu menghilangkan beberapa poin krusial. Keseluruhan alurnya memang dipenuhi lompatan kasar dan bukan cuma yang bersinggungan dengan MLM. Waktu berganti begitu saja, masalah-masalah yang dilontarkan juga berlalu sedemikian kilat.

Pada satu titik, Candra mengalami kontraksi di pasar. Dia segera melahirkan. Candra terjatuh, dan kalau saya tidak salah lihat, begitu ia dipapah oleh beberapa orang, perut Laura Basuki tampak mengempis. Ini cacat bagi elemen artistik yang secara keseluruhan terhampar baik. Detail setting dan properti masa lalu, hingga warna yang mengesankan nuansa “hikayat dari era terdahulu”, semua memanjakan mata. Bicara soal era terdahulu, Nugros memang sepertinya hendak mengajak penonton kembali, bukan saja menuju masa lalu, pula kembali ke akar, pulang ke rumah, kembali pada keluarga. Dibalik segala kelemahannya, Terbang: Menembus Langit tetap menonjol bila disandingkan dengan film-film lokal bertema perjuangan inspiratif kebanyakan.

7 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Banyak adegan penyulut tangis gak Mas? Masih jadi pertimbangan buat nonton bareng temen, antara film ini dan Kembang Kantil. Soalnya saya tipikal orang yang mempunyai mata sensitif jikalau melihat adegan yang mengharukan. Entar malu saya dikatain cengeng sama temen, hehe. Btw. Ditunggu buat review Kembang Kantil-nya jija Mas minat untuk nonton film tersebut. Hehe

Anonim mengatakan...

Gak mau review Taxi5 gan?

Aliando Bae mengatakan...

Kirain bakal dpt rating "Bagus" ni secara pemain nya saya suka...
Terutama ada Laura Basuki yg kembali comeback maen film.

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Pilih ini aja lah. Nggak nonton Kembang Kantil, setelah Bayi Gaib, walau naik kelas, tetep aja film KKD kancut. Nggak mengharu biru banget kok. Nugros nggak lebay dramatisasinya

@Aliando Ada potensi ke sana kalau alurnya lebih rapi

Anonim mengatakan...

Gak semua film hrs direviewlah, mas Rasyid. Segala Kuntal Kantil mah di-skip aja. Drpada bikin kesel..

dimas mukti mengatakan...

Agak males sebenernya kalo film tentang orang MLM. Ntar membernya pada jumawa berasa banget udah ngikutin jejak suksesnya ..

Rasyidharry mengatakan...

Ya itu sebabnya Nugros nggak gamblang sebut MLM. Dia twist biar kesannya motivator biasa.