Tampilkan postingan dengan label Chew Kin Wah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chew Kin Wah. Tampilkan semua postingan

MY STUPID BOSS 2 (2019)

Walau kelucuannya fluktuatif, My Stupid Boss (2016)—adaptasi novel berjudul sama karya Chaos@work yang sukses mengumpulkan lebih dari tiga juta penonton—menghembuskan angin segar bagi genre komedi tanah air. Ketika banyak komedi kita kurang memperhatikan tampilan sinematik, saya terkejut mendapati Upi (30 Hari Mencari Cinta, Belenggu, My Generation) dan tim artistiknya amat memperhatikan detail pemilihan warna maupun properti. Belum lagi membahas transformasi ikonik Reza Rahadian.

Memasuki film kedua, kelebihan-kelebihan tadi mampu dipertahankan. Di salah satu kesempatan kita bisa melihat pulpen, kalkulator, sampai kertas diberi warna merah muda yang senada, sementara pencahayaan di set kamar hotel Vietnam tak kalah memanjakan mata. Demikian pula Reza yang mampu mengangkat humor terlemah sekalipun lewat talenta komikal kreatifnya, entah dari gestur maupun percampuran Bahasa Indonesia, Malaysia, Jawa, dan Inggris (semaunya).

Biar begitu, secara natural daya kejut milik keunggulan-keunggulan tersebut jelas memudar. Selaku penulis, Upi memahami risiko itu, lalu memutuskan mengikuti formula sekuel kebanyakan dengan membuat filmnya lebih besar, baik soal kegilaan komedi atau skala cerita. Bukan cuma berlatar di kantor dan Malaysia, karakternya mengajak kita berjalan-jalan menuju Vietnam.

Dipicu kepelitan Bossman (Reza Rahadian) yang menolak membelikan mesin pemotong kayu baru, sebagian besar karyawan pabriknya memutuskan keluar. Sebagai solusi, Bossman membawa Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kinwah), dan Adrian (Iedil Putra) ke Vietnam guna mencari karyawan baru dengan harga murah dengan bantuan warga lokal bernama Nguyen (Morgan Oey). Secara bersamaan, Bossman pun menghadiri pertemuan pebisnis furnitur se-Asia selaku pembicara. Makhluk macam apa yang mengundang pebisnis gagal seperti dia?

Tentu anda tak perlu repot-repot memikirkan logika semacam itu, karena di sini, Upi menambah absurditas yang sesungguhnya sudah cukup tinggi di film pertama. Seperti pendahulunya, sederet lelucon gagal mendarat tepat sasaran, entah akibat penulisan atau penyutradaraan Upi yang kerap lalai memperhatikan timing melempar kelucuan. Fluktuasinya memang cukup ekstrim. My Stupid Boss 2 bisa begitu datar di satu waktu, lalu luar biasa lucu di kesempatan lain.

Beruntung para pemain tampil total, sehingga kehadiran lelucon hambar pun tak sampai taraf mengganggu. Bukan cuma Reza, Morgan sebagai pria Vietnam berdarah panas, juga kelima anak buah Bossman dengan variasi kepribadian yang makin kuat. Saya suka adegan saat Kerani dikelilingi oleh teman-teman sekantornya. Menangkapnya dengan close up, Upi menjadikan situasi tersebut sebuah pameran akan kepiawaian para pemain memerankan tokoh-tokoh kaya warna. Tapi absurditas terlucu justru ditampilkan dua nama lain, yakni Shahil Shah dan Verdi Solaiman sebagai dua kubu gangster berlawanan yang datang untuk menagih hutang Bossman. Keduanya habis-habisan mengerahkan bakat komedik masing-masing dalam sebuah “pertempuran epic” yang takkan anda duga kemunculannya.

My Stupid Boss 2 bergulir cukup pendek, hannya 96 menit (film pertamanya 108 menit), membuatnya lebih padat dan dinamis, khususnya saat Upi menggulirkan kisahnya dalam kecepatan penuh. Namun, dari segi narasi, My Stupid Boss 2 mempunyai kelemahan serupa pendahulunya, yaitu third act. Jika film pertama memaksakan diri beralih ke drama demi menunjukkan kebaikan terpendam Bossman, kali ini (dengan motif nyaris sama), third act-nya melompat menuju penceritaan berbeda. Walau telah disiratkan sebelumnya, kisah yang mengisi klimaksnya jelas beranjak dari rute yang filmnya tempuh di mayoritas durasi. Beruntung, idenya cukup gila untuk menghadirkan tawa. 

A MAN CALLED AHOK (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

DUKUN (2018)

Di tengah persidangan, Karim (Faizal Hussein) selaku pengacara, bertanya, “Siapa di sini percaya ilmu hitam?”. Hampir semua peserta sidang mengangkat tangan. Sebagaimana kita, perihal mistis memang lekat dengan kehidupan masyarakat Malaysia. Beberapa menyebutnya kepandiran dalam era modern, tapi saya melihatnya sebagai aspek kultural unik yang mempunyai fungsi. Seperti saat Dain Said (Bunohan: Return to Murder, Interchange) menjadikan Dukun karya “eksklusif” yang takkan bisa direplika sineas negeri Barat sehebat apa pun. Aspek supranatural bukan jadi alat penghasil teror saja, melainkan bagian penting narasi, pula bagian kehidupan karakternya.

Dukun sendiri terinspirasi dari kasus nyata pembunuhan Mona Fandey, dukun sekaligus mantan penyanyi yang membunuh kemudian memutilasi tubuh salah satu kliennya, politikus Mazlan Idri, menjadi 18 bagian pada 1993 selaku bagian ritual. Selepas proses persidangan yang menarik animo seantero negeri, Mona dihukum gantung tahun 2001. Keterlibatan nama-nama besar serta konten kontroversial tersebut membuat Dukun terhalang perilisannya yang awalnya dijadwalkan pada 2007. Setelah 11 tahun tanpa kejelasan, Dukun akhirnya tayang.

Skenario buatan Huzir Sulaiman sejatinya hanya mengadaptasi lepas, walau beberapa unsur jelas masih serupa. Pilihan itu akhirnya membuka jalan kisahnya mencampurkan elemen tiga genre: investigasi kasus pembunuhan, thriller ruang persidangan, dan horor supranatural. Menariknya, elemen yang disebut terakhir justru porsinya paling minim, meski nuansa supranatural kental menyelimuti tiap sisi cerita, sehingga membuat tiap cabang alur tetap saling terikat.

Nama Mona Fandey diganti Diana Dahlan (Umie Aida). Jauh berbeda? Tidak saat anda tahu jika album debut Mona dahulu mengusung judul Diana I. Sejak awal kita bertemu Diana, ia telah mendekam di penjara pasca menghabisi sang klien, Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie), dengan tenang menanti dakwaan, sembari selalu menolak jasa pengacara. Sampai pengacara ke-24, Karim, menawarkan diri demi memperoleh informasi soal puterinya yang hilang. Kali ini Diana beredia. Di tempat lain, Talib (Nam Ron) dan bawahannya, Shah (Bront Palarae) dari kepolisian, sedang menyelidiki kasus tersebut lalu menemukan setumpuk rahasia kelam nan mengerikan.

Perlahan ketiga cabang itu bertemu, memuncak di suatu twist seputar hubungan terselubung antar-karakter yang terasa beralasan juga masuk akal, berbeda dengan kebanyakan film yang cuma mengandalkan kebetulan dipaksakan. Satu lagi bukti solidnya penulisan Huzir Sulaiman, meski di banyak kesempatan, selipan adegan-adegan pendek yang muncul sambil lalu, menyebabkan aliran alur kurang nyaman diikuti.

Besar kemungkinan anda takkan menganggap Dukun sebuah horor menyeramkan, walau melihat dari penyutradaraan Dain Said, itu memang pilihan. Dia enggan berusaha keras menakut-nakuti penonton lewat unsur supranatural, namun melukiskannya sebagai pemandangan tidak wajar. Seram atau tidak urusan belakangan. Ketika Diana melakukan ritual di sel misalnya, yang jadi wahana Dain Said bermain-main memanfaatkan ruang gelap gulita untuk mengkreasi trik visual. It’s scary for some but not for the others. But I think we can agree that it feels unnatural.

Babak persidangan adalah fase terbaik Dukun. Satu per satu saksi hadir, tiap keterangan divisualisasikan, menggiring kita menuju reka ulang peristiwa yang menjelaskan kengerian dalam ruang praktek Diana. Semakin banyak protagonisnya belajar tentang kasus itu dari para saksi, semakin kita memahami latar belakang kisanya. Di situ terjadi “pertarungan”  Karim melawan jaksa penutut (Chew Kin Wah). Jaksa bersikukuh Diana bersalah, sebaliknya, Karim menyanggah. Argumen mereka berdasar, saya pun tertarik mempertimbangkan versi kebenaran masing-masing, termasuk Karim, di mana kematian Datuk Jefri hanya kecelakaan. Setidaknya hingga kasus digali lebih jauh.

Bagi drama ruang sidang, kemampuan memprovokasi penonton, menghadirkan dilema mengenai dua perspektif berlawanan yang diperdebatkan dalam konfliknya, merupakan wujud kesuksesan. Tapi sulit menyangkal argumen bahwa kesuksesan terbesar film ini adalah penampilan Umie Aida. Terlihat mengerikan, mematikan, dengan senyum yang menolak memudar walau berada di persidangan yang mempertaruhkan nyawanya. Pun dia tambahkan sensualitas melalui gestur kecil seperti memilin rambut atau gerakan kepala yang menyiratkan kontrol penuh sarat kepercayaan diri atas segala situasi.

“Aku tidak akan mati”. Demikian kalimat terakhir Mona Fandey sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Walau tak dimasukkan di film, namun baik di atas atau di balik layar, kalimat itu terus menggema. Terkait narasi, Dain Said cerdik menggunakannya guna menyusun konklusi supranatural yang sepenuhnya baru, tidak terikat kejadian nyatanya. Sementara di balik layar, seiring kontroversi yang membanjiri filmnya, Mona takkan mati. Namanya, riwayatnya, selalu hidup dalam ingatan publik sebagai bomoh (dukun) penebar teror berdarah.

DIMSUM MARTABAK (2018)

Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.

Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

Salah satu adegan dalam Terbang: Menembus Langit memperlihatkan Onggy (Dion Wiyoko) melamar Candra (Laura Basuki). Bagi karakternya, ini momen penting ketika ia menemukan cinta, kawan hidup yang menyokong sekaligus memberi motivasi bagi perjuangannya. Tapi Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) yang bertindak selaku sutradara dan penulis naskah enggan menghantam penonton lewat dramatisasi tinggi. Berlatar warung mie ayam, ia menarik romantisme keluar dari situasi kurang romantis, setidaknya menurut Candra. Kesederhanaan itu mematenkan rasa juga nilai usungan filmnya, yang menjadikan Terbang, meski masih mempertahankan formula khas melodrama, memiliki nilai lebih dibanding “rekan-rekan sejawatnya”.

Mengangkat kisah hidup motivator sukses Onggy Hianata, Nugros justru tak semata menekankan destinasi berupa keberhasilan finansial. Lahir di keluarga sederhana di Tarakan, Onggy selalu terngiang petuah sang ayah (Chew Kin Wah) tentang ketiadaan kebebasan hidup apabila bekerja bagi orang lain. Begitu melancong ke Surabaya lalu menikah, ia pun nekat meninggalkan pekerjaan kantoran karena takut kelak tidak punya waktu menyaksikan tumbuh kembang si buah hati. Saya kerap mendapati penyesalan serupa dialami banyak ayah begitu menyongsong usia senja sementara anak mereka telah “terbang” seorang diri jauh di sana. Keluarga adalah poin utama Terbang, yang terus Nugros pertahankan sampai konklusi sewaktu ia berani menampilkan bentuk kebahagiaan sederhana ketika banyak penonton mungkin berekspektasi akan gelimag harta.
Bisa dibilang Onggy bukan jenius dalam hal bisnis. Berulang kali ia terbentur kegagalan entah akibat kesalahan strategi maupun tertipu. Sejak kecil pun ia digambarkan tidak secemerlang kakaknya di bangku sekolah. Ditambah keterbatasan ekonomi, saya pun berpikir, “bagaimana ia bisa sukses?”. “Apa rencananya?”. Selain tekad baja, Onggy digambarkan sebagai pria dengan banyak rencana. Kalimat “aku punya rencana” pun sering terlontar dari mulutnya, walau jangankan memancing keyakinan terhadapnya, filmnya lalai menjabarkan rencana apa yang dimaksud. Bahkan Onggy kuliah di jurusan apa pun urung dipaparkan. Karena bagi filmnya, yang penting penonton melihat Onggy mampu menempuh pendidikan di Surabaya, tanah impiannya. Di Surabaya pula Terbang memasuki babak paling menyenangkan berkat sentuhan komedi seputar kehidupan mahasiswa indekos, yang lagi-lagi melukiskan kebahagiaan di tengah kesederhanaan.

Tidak ketinggalan pula pesan nasionalisme, yang meski bisa diperhalus lagi penyampaiannya dengan cara “menunjukkan” alih-alih banyak “menyatakan” secara verbal, tak berkurang relevansinya. Pesan tersebut jelas penting disampaikan sekarang. Kegamblangan macam itu memang senjata andalan film inspiratif dan/atau melodrama, tapi untungnya, penokohan Onggy terhindar dari keklisean serupa. Dia pantang menyerah, namun bukan sosok suci. Penonton berkesempatan melihatnya di titik nadir, saat ia merasa lelah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersimpuh sambil bertanya pada Tuhan ditemani luapan tangis yang membuktikan kebolehan Dion Wiyoko mengolah rasa. Chemistry yang dibangun bersama Laura Basuki juga solid, menghasilkan pasangan mudah menggaet simpati walau keduanya baru bertemu saat film memasuki separuh durasi.
Salah satu tantangan terbesar Nugros di penulisan naskah tak lain menangani fakta bahwa tokoh utamanya merupakan pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan mustahil termasuk alasan mengapa Nugros memilih mengedepankan kekeluargaan. Bayangkan apa respon publik menonton kesuksesan ekonomi karakter yang disebabkan MLM? Fakta itu dikaburkan, dan sayangnya, dari segi naratif keputusan itu menghilangkan beberapa poin krusial. Keseluruhan alurnya memang dipenuhi lompatan kasar dan bukan cuma yang bersinggungan dengan MLM. Waktu berganti begitu saja, masalah-masalah yang dilontarkan juga berlalu sedemikian kilat.

Pada satu titik, Candra mengalami kontraksi di pasar. Dia segera melahirkan. Candra terjatuh, dan kalau saya tidak salah lihat, begitu ia dipapah oleh beberapa orang, perut Laura Basuki tampak mengempis. Ini cacat bagi elemen artistik yang secara keseluruhan terhampar baik. Detail setting dan properti masa lalu, hingga warna yang mengesankan nuansa “hikayat dari era terdahulu”, semua memanjakan mata. Bicara soal era terdahulu, Nugros memang sepertinya hendak mengajak penonton kembali, bukan saja menuju masa lalu, pula kembali ke akar, pulang ke rumah, kembali pada keluarga. Dibalik segala kelemahannya, Terbang: Menembus Langit tetap menonjol bila disandingkan dengan film-film lokal bertema perjuangan inspiratif kebanyakan.

SUSAH SINYAL (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur.