REVIEW - I CARE A LOT

5 komentar

I Care a Lot sejatinya adalah tontonan menyenangkan. Walau sebagai komedi hitam satir yang dilempar tidak setajam harapan, sebagai thriller, intensitasnya terjaga rapi. Sampai konklusinya menghancurkan pencapaian di atas. Konklusi yang membuat karya terbaru J Blakeson (The Disappearance of Alice Creed, The 5th Wave), selaku sutradara sekaligus penulis naskah ini, terasa berpendirian labil. Bisa jadi akibat tuntutan bersikap politically right, atau mungkin, Blakeson memang tidak tahu ingin menuturkan apa.

Melalui film ini, Rosamund Pike mendaratkan nominasi Golden Globe ketiganya. Kali pertama adalah lewat Gone Girl (2014), yang tak bisa dipungkiri, merupakan perannya yang paling ikonik. Pun rasanya, Amy Dunne jadi alasan Pike dipilih memerankan Marla Grayson di sini. Tidak seperti Amy, Marla bukan psikopat. Tapi jelas, dalam menjalankan aksi kriminalnya, tak sedikitpun Marla menyimpan keraguan atau penyesalan. 

Kriminal seperti apakah Marla? Bersama kekasihnya, Fran (Eiza González), ia melakukan penipuan, dengan kedok menjadi wali bagi para lansia, yang oleh pengadilan dianggap tak mampu lagi hidup sendiri. Melalui sekuen sederhana namun informatif, pun dikemas secara stylish oleh Blakeson, kita mempelajari modus operandi Marla. Pertama, dokter merekomendasikan seorang klien (baca: mangsa), bahkan kalau perlu, memalsukan laporan medis agar hakim percaya, jika si lansia memerlukan bantuan wali. Kemudian, berkat bantuan pengelola ALF (Assisted Living Facility, atau serupa panti jompo di Indonesia), lansia itu bisa dipaksa tinggal di sana selama mungkin, tanpa akses komunikasi dengan dunia luar, sementara Marla bertugas mengelola asetnya. "Mengelola" di sini tentu saja berarti "menghabiskan demi kepentingan pribadi".

Tidak adakah yang menaruh kecurigaan? Tentu ada, namun tipu daya Marla amat meyakinkan. Sama meyakinkannya dengan penampilan Pike, yang membuat karakternya (yang sekilas nampak tidak berbahaya karena berperawakan kurus) lebih kokoh dari sebongkah batu besar. Dia selalu tenang, berpikir taktis, tak pernah runtuh sekalipun nyawanya terancam. Pakaiannya yang kerap memiliki warna cerah (salut untuk departemen kostumnya!) bukan menandakan ia wanita ceria. Justru sebaliknya, membuat Marla terlihat menikmati tindak kejahatannya, seolah semuanya adalah permainan. Berlawanan dengan Pike, Eiza González sebagai Fran adalah gadis muda yang passionate. Chemistry keduanya menjadi salah satu pemberi dinamika bagi filmnya.

Alkisah, korban terbaru Marla adalah pensiunan bernama Jennifer Peterson (Dianne Wiest). Dia kaya raya, dan terpenting, tidak memiliki keluarga. Aksi pun dijalankan. Pengadilan memutuskan Jennifer harus menerima perawatan karena menderita demensia. Semua berjalan mulus bagi protagonis kita, hingga datang twist, bersamaan dengan masuknya Peter Dinklage dengan pembawaan intimidatifnya, yang memerankan seorang bos mafia misterius. 

Di satu sisi, keberadaan Dinklage menambah nilai hiburan I Care a Lot, menjadikannya thriller yang intens. Tapi di sisi lain, kisahnya mulai kehilangan pegangan. Narasi di adegan pembuka, menyiratkan bahwa film ini bakal menjadi satir mengenai kelas sosial di Amerika Serikat. Dan memang demikian, hingga narasinya tertutupi oleh skenario mengenai kucing-kucingan antara "the bad" dan "the worse". Naskahnya memang tidak sepintar harapan sang penulis. Memadai sebagai cheap thrills, namun jelas belum pantas disebut "cerdas", apalagi saat Blakeson cukup gemar memakai kebetulan-kebetulan demi membuat alurnya terus berjalan. 

Tapi sekali lagi, I Care a Lot mampu tampil menghibur. Lalu tibalah kita pada ending-nya. Ending yang hadir tiba-tiba. Kandidat kuat ending terburuk sepanjang 2021, yang bakal sulit dikalahkan. Ending yang membuat saya bertanya-tanya, "Apa sih maunya Blakeson?!". Blakeson membuat filmnya bak berkepribadian ganda. Seolah ia terlalu takut, bahwa pada masa politically right seperti sekarang, filmnya akan menerima hujatan andai berpihak pada kriminal. Apalagi saat sang kriminal memuja uang. 

Padahal di situ tercipta peluang, untuk menyampaikan kompleksitas yang menantang perspektif hitam-putih dalam kehidupan. Dan Blakeson sudah memberi justifikasi atas pilihan protagonisnya. Bukan hanya satu, melainkan dua. Pertama terkait finansial, kedua, perihal gender. Tapi ketimbang mengolah itu semua, Blakeson justru mengkhianati apa yang telah dibangun sepanjang durasi, demi sebuah ending yang menghancurkan segalanya.


Available on NETFLIX

5 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Tertarik bnget sama nih film dari premisnya yg menarik lalu apa lagi kalau bukan krn Pike yg menjadi lakon utama. Tapi sayang banget ya kalo ending filmnya seburuk itu. Jadi mikir2 lg mau nonton atw nggak ya

Chan hadinata mengatakan...

Twistnya sih nda seberapa..
Terkait endingnya memang aneh.. kirain bakal dibikin ambigu soal baik/buruk
Tapi senang akhirnya mati juga ros pike,, sdh dendam sejak gone girl🤣🤣

Wakanda Forever mengatakan...

Saat pike selamat dari mobil dan tiba2 berubah mjd sehebat Black Widow film ini mulai aku tinggal. Mafia Rusia kok bisa2nya dipecundangi seorang petugas wali org jompo.. aku malah suka endingnya karena dri awal sdh jengkel liat pike ����

Anonim mengatakan...

AGREE!!

Anonim mengatakan...

Jelek sih filmnya. Terlalu banyak hal-hal di luar nalar. Yang paling konyol, masa' iya bos mafia Rusia, yang digambarkan memiliki reputasi berbahaya, dikalahkan oleh wali panti jompo yang tidak punya backup apa-apa? Endingnya udah gak penting lagi, karena mau dibuat bagaimanapun tidak akan bisa menyelamatkan filmnya.