Tampilkan postingan dengan label Dianne Wiest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dianne Wiest. Tampilkan semua postingan

REVIEW - I CARE A LOT

I Care a Lot sejatinya adalah tontonan menyenangkan. Walau sebagai komedi hitam satir yang dilempar tidak setajam harapan, sebagai thriller, intensitasnya terjaga rapi. Sampai konklusinya menghancurkan pencapaian di atas. Konklusi yang membuat karya terbaru J Blakeson (The Disappearance of Alice Creed, The 5th Wave), selaku sutradara sekaligus penulis naskah ini, terasa berpendirian labil. Bisa jadi akibat tuntutan bersikap politically right, atau mungkin, Blakeson memang tidak tahu ingin menuturkan apa.

Melalui film ini, Rosamund Pike mendaratkan nominasi Golden Globe ketiganya. Kali pertama adalah lewat Gone Girl (2014), yang tak bisa dipungkiri, merupakan perannya yang paling ikonik. Pun rasanya, Amy Dunne jadi alasan Pike dipilih memerankan Marla Grayson di sini. Tidak seperti Amy, Marla bukan psikopat. Tapi jelas, dalam menjalankan aksi kriminalnya, tak sedikitpun Marla menyimpan keraguan atau penyesalan. 

Kriminal seperti apakah Marla? Bersama kekasihnya, Fran (Eiza González), ia melakukan penipuan, dengan kedok menjadi wali bagi para lansia, yang oleh pengadilan dianggap tak mampu lagi hidup sendiri. Melalui sekuen sederhana namun informatif, pun dikemas secara stylish oleh Blakeson, kita mempelajari modus operandi Marla. Pertama, dokter merekomendasikan seorang klien (baca: mangsa), bahkan kalau perlu, memalsukan laporan medis agar hakim percaya, jika si lansia memerlukan bantuan wali. Kemudian, berkat bantuan pengelola ALF (Assisted Living Facility, atau serupa panti jompo di Indonesia), lansia itu bisa dipaksa tinggal di sana selama mungkin, tanpa akses komunikasi dengan dunia luar, sementara Marla bertugas mengelola asetnya. "Mengelola" di sini tentu saja berarti "menghabiskan demi kepentingan pribadi".

Tidak adakah yang menaruh kecurigaan? Tentu ada, namun tipu daya Marla amat meyakinkan. Sama meyakinkannya dengan penampilan Pike, yang membuat karakternya (yang sekilas nampak tidak berbahaya karena berperawakan kurus) lebih kokoh dari sebongkah batu besar. Dia selalu tenang, berpikir taktis, tak pernah runtuh sekalipun nyawanya terancam. Pakaiannya yang kerap memiliki warna cerah (salut untuk departemen kostumnya!) bukan menandakan ia wanita ceria. Justru sebaliknya, membuat Marla terlihat menikmati tindak kejahatannya, seolah semuanya adalah permainan. Berlawanan dengan Pike, Eiza González sebagai Fran adalah gadis muda yang passionate. Chemistry keduanya menjadi salah satu pemberi dinamika bagi filmnya.

Alkisah, korban terbaru Marla adalah pensiunan bernama Jennifer Peterson (Dianne Wiest). Dia kaya raya, dan terpenting, tidak memiliki keluarga. Aksi pun dijalankan. Pengadilan memutuskan Jennifer harus menerima perawatan karena menderita demensia. Semua berjalan mulus bagi protagonis kita, hingga datang twist, bersamaan dengan masuknya Peter Dinklage dengan pembawaan intimidatifnya, yang memerankan seorang bos mafia misterius. 

Di satu sisi, keberadaan Dinklage menambah nilai hiburan I Care a Lot, menjadikannya thriller yang intens. Tapi di sisi lain, kisahnya mulai kehilangan pegangan. Narasi di adegan pembuka, menyiratkan bahwa film ini bakal menjadi satir mengenai kelas sosial di Amerika Serikat. Dan memang demikian, hingga narasinya tertutupi oleh skenario mengenai kucing-kucingan antara "the bad" dan "the worse". Naskahnya memang tidak sepintar harapan sang penulis. Memadai sebagai cheap thrills, namun jelas belum pantas disebut "cerdas", apalagi saat Blakeson cukup gemar memakai kebetulan-kebetulan demi membuat alurnya terus berjalan. 

Tapi sekali lagi, I Care a Lot mampu tampil menghibur. Lalu tibalah kita pada ending-nya. Ending yang hadir tiba-tiba. Kandidat kuat ending terburuk sepanjang 2021, yang bakal sulit dikalahkan. Ending yang membuat saya bertanya-tanya, "Apa sih maunya Blakeson?!". Blakeson membuat filmnya bak berkepribadian ganda. Seolah ia terlalu takut, bahwa pada masa politically right seperti sekarang, filmnya akan menerima hujatan andai berpihak pada kriminal. Apalagi saat sang kriminal memuja uang. 

Padahal di situ tercipta peluang, untuk menyampaikan kompleksitas yang menantang perspektif hitam-putih dalam kehidupan. Dan Blakeson sudah memberi justifikasi atas pilihan protagonisnya. Bukan hanya satu, melainkan dua. Pertama terkait finansial, kedua, perihal gender. Tapi ketimbang mengolah itu semua, Blakeson justru mengkhianati apa yang telah dibangun sepanjang durasi, demi sebuah ending yang menghancurkan segalanya.


Available on NETFLIX

REVIEW - LET THEM ALL TALK

Setiap Steven Soderbergh merilis karya baru, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Eksperimen apa yang akan dilakukan?”, dan “Genre apa yang bakal dieksplorasi?”, selalu muncul. Let Them All Talk tidak terkecuali. Melakukan pengambilan gambar selama dua minggu dengan latar kapal Queen Mary 2 (yang disewakan secara gratis), Soderbergh memanfaatkan pencahayaan alami, memakai tiga set kamera RED Komodo, menggunakan kursi roda sebagai pengganti dolly, dan yang paling sering dibicarakan adalah ketiadaan naskah final, yang menuntut para pemain berimprovisasi.

Bagaimana membuat keterbatasan di atas tak disadari penonton adalah tantangan yang Soderbergh berikan bagi dirinya. Dia berhasil. Beberapa kali gambar mengikuti pergerakan aktor, dan anda takkan menyadari kamera itu dipegang oleh Soderbergh sembari duduk di atas kursi roda. Terkait naskah, sejatinya ada sedikit miskonsepsi. Deborah Eisenberg yang memperoleh kredit atas naskah Let Them All Talk bukan sekadar membuat outline singkat, melainkan detail karakter, situasi, serta APA yang mereka ucapkan. BAGAIMANA kalimat itu diucapkanlah yang bebas dieksplorasi. Di situlah ensemble cast-nya berperan luar biasa besar.

Meryl Streep memerankan Alice Hughes, seorang penulis yang memenangkan Pulitzer melalui novelnya, You Always/You Never. Pihak penerbit melalui sang agen, Karen (Gemma Chan), berharap Alice melahirkan sekuel, tapi ia menolak. Karen coba merayu secara halus, termasuk dengan menyewakan kapal Queen Mary 2, guna membawa Alice berlayar ke Inggris menghadiri sebuah malam penghargaan literatur. Alice bersedia, asalkan ia boleh mengajak tiga orang: dua sahabatnya, Roberta (Candice Bergen) dan Susan (Dianne Wiest) yang tak ditemuinya selama puluhan tahun, juga sang keponakan, Tyler (Lucas Hedges).

Sepanjang perjalanan itulah, Let Them All Talk, well, membiarkan tokoh-tokohnya berbicara. Roberta masih sakit hati, karena yakin Alice menulis You Always/You Never berdasarkan kisah hidupnya tanpa izin, dan bahwa itulah alasan pernikahannya hancur. Alice sendiri beberapa kali mengajak untuk bicara empat mata, tapi Roberta terus menolak, lebih memilih “berburu” pria-pria kaya, berharap bisa lepas dari jeratan kesulitan finansial. Susan muncul bak penengah, sosok bijak yang berusaha membuat semua orang memandang masalah dari perspektif lain. Sedangkan Tyler mulai menaruh hati pada Karen, yang diam-diam turut serta, dan meminta bantuan Tyler untuk mencari informasi mengenai manuskrip yang sedang Alice buat.

Apakah Soderbergh dan Eisenberg berniat menyampaikan satu gagasan besar di balik interaksi tokoh-tokohnya? Rasanya tidak. Let Them All Talk adalah eksperimen Soderbergh terkait kenaturalan komunikasi verbal. Serupa perihal improvsasi di atas, yang terpenting bukan APA tujuan suatu pembicaraan, tapi BAGAIMANA pembicaraan itu dihantarkan, sehingga penonton merasa terikat tanpa memedulikan konteks di dalamnya.

Tantangan lain dihadirkan oleh monotonitas latar. Alice dan Tyler lebih sering mengobrol pada pagi hari di kamar Alice, Roberta dan Susan sambil bermain Scrabble, sedangkan keempatnya rutin berkumpul di restoran. Apa yang diobrolkan di masing-masing titik pun cenderung sama. Hanya interaksi Tyler dengan Karen yang selalu berpindah lokasi, karena cuma hubungan keduanya yang bersifat “adventurous”. Kesan stagnan, di mana progres minim terjadi sayangnya gagal terhindarkan, namun bukan berarti filmnya membosankan.

Setiap obrolan mampu menarik atensi, bahkan memberi kesan nyaman, yang diperkuat oleh iringan musik-musik jazz garapan Thomas Newman. Trio Streep-Bergen-Wiest membuat saya rela jadi pendengar setia, sekaligus menarik keingintahuan mengamati respon alami yang diberikan ketiganya atas perkataan satu sama lain. Khusus Streep, di sini si aktris legendaris memberi bobot tersendiri bagi jeda antar kata. Bahwa jeda memiliki banyak makna. Entah bentuk aksi-reaksi, upaya memikirkan kata apa yang sebaiknya diucapkan, atau proses regulasi emosi. Sementara bagi Lucas Hedges dan Gemma Chan, merupakan prestasi tersendiri tatkala mereka tidak tenggelam meski bersanding dengan nama-nama senior, bahkan menghasilkan warna berbeda di luar interaksi Alice dan teman-temannya.


Available on HBO MAX