REVIEW - THE DRAMA

Tidak ada komentar

Sejauh mana kita bisa menoleransi masa lalu pasangan? Bagaimana kita mesti merespon saat mendadak rahasia kelamnya tersingkap? The Drama karya Kristoffer Borgli mengkaji problematika tersebut, dan bagi saya film ini penting ditonton oleh kalian yang berencana mengucap janji suci untuk menghabiskan seumur hidup bersama sosok tercinta.

Seminggu lagi Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) akan menikah. Seluruh persiapan tengah dimatangkan. Dibantu sahabatnya, Mike (Mamoudou Athie), Charlie menyusun pidato mengenai ragam hal berkesan dalam hubungan mereka, termasuk indahnya pertemuan pertama. 

Emma kebingungan. Supaya menghindari kesamaan topik, ia harus mencari pokok bahasan lain. Peristiwa mana saja yang dapat ditulisnya? Charlie tidak cukup peka guna menyadari kegundahan si calon istri, terus melanjutkan tulisan tanpa membuka ruang diskusi. Egoisme itulah yang kelak jadi bibit ancaman di hubungan keduanya. 

Suatu malam, bersama Mike dan istrinya, Rachel (Alana Haim), dua protagonis kita terlibat obrolan mengenai hal terburuk yang mereka pernah perbuat. Mike menjadikan mantan pacarnya sebagai "tameng" menghadapi serangan anjing. Mendengar itu, forum tertawa. Rachel pernah seharian mengurung anak berkebutuhan khusus dalam lemari. Lagi-lagi semua tertawa. Charlie bercerita soal perundungan secara daring terhadap teman sekelasnya. Sekali lagi forum tidak ambil pusing.

Tapi begitu Emma mengakui rencana melakukan penembakan semasa SMA yang urung ia eksekusi, kecanggungan seketika menyeruak. Amarah Rachel meledak karena sepupunya pernah jadi korban penembakan, sedangkan si calon suami hanya bisa terpana. 

Hari-hari Charlie mulai dihantui asumsi liar. Tindakan-tindakan Emma terdahulu yang sebelumnya nampak remeh kini ia kaitkan dengan psikopati. Rangkaian imajinasi absurd yang dipoles memakai surealisme khas Kristoffer Borgli memenuhi kepalanya. Insekuritas serta rasa tidak percaya sejatinya merupakan reaksi yang wajar muncul pasca terungkapnya sebuah dusta. Selanjutnya tinggal bagaimana proses saling memahami berlangsung.

Borgli menggambarkannya sebagai proses yang luar biasa kacau. Gaya bercerita dan penyuntingannya yang sarat lompatan ekstrim mewakili dinamika psikis protagonisnya yang tengah kalut akibat terus diombang-ambingkan asumsi. Liar, kacau, tapi efektif membuat filmnya tampil bertenaga sekaligus menyenangkan. 

Daya hibur pun The Drama bakal tereskalasi secara signifikan bagi penonton yang cocok dengan humor-humor gelap yang sudah Borgli siapkan. Hal-hal seperti penembakan massal di sekolah, pelecehan, hingga perundungan disentil, tapi The Drama tidak terkesan ofensif karena sang sutradara bukan mengajak penonton menertawakan isu-isu di atas, melainkan kecanggungan kala sederet pokok bahasan tadi gagal diperbincangkan dengan tepat. 

Kecanggungan itu turut disampaikan dengan apik oleh dua pelakon utamanya: Robert Pattinson dengan kekikukan dan ketakpastian dalam tiap sikapnya (mengonfirmasi ketepatan akting sang aktor, saya memiliki teman yang bertutur serta bergestur sama persis dengan Charlie), sementara Zendaya membuat Emma bak nakhoda tangguh yang berjuang menyetir hubungannya agar tidak karam lewat upayanya menepis kecanggungan. 

Tidak semua humornya bekerja maksimal. Momen pidato Charlie di pesta pernikahan selaku klimaks cerita yang bergulir bagai detik-detik menuju kecelakaan mematikan memang menggelitik, pula efektif menyulut kecemasan, namun kebodohan tingkah karakternya cenderung dipaksakan. Charlie memang egois, canggung, senantiasa cemas, tapi filmnya gagal membuat saya percaya ia sanggup berkelakuan SEBODOH ITU.

Ada satu poin luput Borgli soroti. Berdasarkan statistik seputar penembakan massal di Amerika Serikat dari tahun 1982 hingga 2026, 54,7% di antaranya dilakukan oleh kulit putih, sementara persentase pelaku kulit hitam hanya 16,9%. Persoalan ras dalam fenomena memprihatinkan tersebut (Adakah perbedaan penyebab antar ras? Apakah rasisme turut berkontribusi? Apa yang membedakan Emma dengan sejawatnya sampai kepalanya mencetuskan ide gila?) sayangnya tidak film ini telusuri. 

Tapi toh bukan ganjalan besar, sebab The Drama memang memilih untuk lebih fokus pada tahap-tahap yang individu lalui kala memproses realita mengejutkan tentang pasangan (atau teman dan kerabat) yang baru diketahui secara mendadak. Jadi, seberapa jauh bersedia menerima sisi kelam cinta sejatimu?

Tidak ada komentar :

Comment Page: