REVIEW - MICHAEL
Michael menampilkan hampir semua lagu hit Michael Jackson dari era 70-an sampai 80-an, baik lewat montase maupun reka ulang video musik dan pertunjukan panggung. Tapi proses magis seputar penciptaan lagu-lagu itu sama sekali lenyap. Dari mana asal nama Billie Jean? Bagaimana Michael bisa merumuskan sebegitu banyak aransemen luar biasa? Film garapan Antoine Fuqua ini hanya memedulikan nilai komersial, bukan esensi Michael Jackson sebagai salah satu musisi paling jenius sepanjang masa.
Sosok Michael direduksi menjadi produk yang dipamerkan dengan tanda "barang unik". Di salah satu kesempatan, Michael mengundang kebingungan kakak-kakaknya saat berbaring di tengah kolam renang. "Sedang menanti inspirasi lagu dari Tuhan", ucapnya. Segala bentuk kompleksitas seorang Michael Jackson disimplifikasi di sini.
Kisahnya bermula di tahun 1967. Kehidupan Michael kecil (Juliano Krue Valdi begitu luwes membawakan lagu-lagu di atas panggung) dipaparkan sebagai penjabaran bahwa banyak masalah personal yang kelak menolak berhenti menghantui Michael selepas dewasa, termasuk insekuritas terhadap kondisi fisik yang menyulut keinginan menjalani operasi plastik, disebabkan oleh satu orang: Joseph Jackson (Colman Domingo). Ayahnya.
Domingo tampil intimidatif sebagai monster bagi Michael kecil, yang bakal seketika menyabetkan sabuknya ke tubuh si putra bila dirasa gagal mematuhi perintah. Tapi didikan keras ini pula yang menuntun Michael bersama kakak-kakaknya mereguk kesuksesan sebagai The Jackson 5. Kemudian alurnya terus melompat liar dari tahun ke tahun, menyusun rekap dangkal bagi hidup si Raja Pop alih-alih upaya memahami sosoknya secara mendalam.
Michael tampil bak visualisasi halaman Wikipedia yang dapat penonton kumpulkan sendiri. Tiba-tiba Jermaine sudah hengkang dari grup tanpa penjelasan memadai, tiba-tiba The Jackson 5 telah hengkang dari Motown yang membesarkan nama mereka guna bergabung dengan CBS/Epic.
Filmnya tidak sempat menjelaskan poin-poin yang bisa meluaskan pemahaman penonton mengenai protagonisnya, tapi ia merasa perlu menampilkan momen saat Bubbles, simpanse peliharaan Michael, yang sedang bermain seorang diri. Penceritaan berbentuk rekap banal memang penyakit yang jamak menjangkiti film biografi, namun kondisi Michael jauh lebih parah, terutama karena ia mengangkat hidup individu sekompleks Michael Jackson.
Bukankah Thriller, dengan eksplorasi musik luar biasa kaya serta penyandang status "terlaris sepanjang masa" dengan penjualan melebihi 70 juta kopi, patut mendapat penelusuran lebih perihal musikalitasnya ketimbang sekadar menunjukkan dilema soal pemilihan judul album? Tentu barisan nomor seperti Billie Jean, Beat It, sampai Bad menghadirkan daftar putar yang asyik, tapi itu bukan pencapaian filmnya, melainkan Michael Jackson sendiri.
Fuqua mengkreasi reka ulang untuk beberapa video musik serta aksi panggung Michael dengan baik. Solid secara teknis, pula mirip dengan versi aslinya. Kata "mirip" adalah kunci. Tanpa mengerdilkan pencapaian tersebut, Fuqua sudah menerima templat berkualitas yang hanya perlu ia ikuti polanya.
Kemiripan yang layak dibanjiri pujian terletak pada performa Jaafar Jackson. Departemen tata rias berkontribusi besar membuat fisiknya menyerupai sang paman, tapi Jaafar bukan semata-mata sedang melakukan cosplay atau impersonasi hampa, melainkan meresapi jiwa Michael. Olah vokalnya, tariannya, hingga detail ekspresi yang memperkaya tarian tersebut, seluruhnya menampakkan kesempurnaan.
Di adegan sewaktu Billie Jean dibawakan, sesaat saya sempat lupa bahwa yang menghiasi layar bukan rekaman performa Michael Jackson sungguhan. Jaafar layak memperoleh film yang lebih baik. Michael layak memperoleh film yang lebih baik.


1 komentar :
Comment Page:diantara sodara2 Michael yg ga suka film ini setelah ditonton hanya si bungsu Janet.ternyata emang dangkal film nya...
Posting Komentar