REVIEW - GARUDA DI DADAKU

Tidak ada komentar

Garuda di Dadaku adalah film anak yang memadai. Selama 78 menit durasinya, para bocah di studio tempat saya menonton berulang kali tergelak, beberapa bahkan turut bersorak ketika sang protagonis memenangkan pertandingan. Tapi apakah ia bakal menyulut ketertarikan mereka terhadap cabang olahraga yang diangkat? Rasanya tidak. 

Debut penyutradaraan Ronny Gani yang sudah malang melintang di perfilman dunia sebagai animator (termasuk di banyak judul populer MCU) ini mengambil latar di semesta yang sama dengan versi orisinalnya (2009), saat membuat tokoh utamanya, Putra (Keanu Azka), bercita-cita menjadi pemain sepakbola karena mengidolakan Bayu (Emir Mahira) yang kini telah menjadi andalan timnas. 

Supaya lebih bersahabat bagi penonton anak, selain menggeser format presentasi menjadi animasi, naskah buatan Makbul Mubarak dan Sofia Lo menaburkan bumbu fantasi. Diceritakan, para dewa berwujud burung garuda rutin menyambangi dunia manusia (tepatnya Indonesia) guna memilih calon atlet sepakbola berbakat, kemudian memberkatinya dengan beragam keunggulan. 

Mitologinya menarik. Garuda di Dadaku mengejawantahkan anekdot soal bagaimana deretan pemain terbaik memperoleh kehebatan mereka karena diberkati dewa sepakbola. Mungkin semasa kecil, Lionel Messi pernah disambangi oleh dewa berbentuk burung rufous hornero.

Hidup Putra yang terancam mesti mengubur cita-cita akibat penyakit asma seketika berubah sejak kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), garuda kecil pembawa jersei sakti yang secara ajaib memperbaiki kondisi fisik Putra, pula mengatrol kemampuan olah bolanya. 

Tercetuslah ide membentuk tim untuk berlaga di turnamen junior, namun tersisa satu persoalan: Apa jadinya 11 orang di lapangan tanpa pelatih? Datanglah Naya (Quinn Salman), putri seorang pelatih terpandang yang bersedia menggembleng Putra dan teman-temannya. Naya adalah karakter favorit saya. Cerdas, tegas, pun eksistensinya relevan di tengah seksisme yang masih menyelubungi kultur sepakbola modern. Tengok reaksi media sosial kala Marie-Louise Eta ditunjuk menangani tim Union Berlin untuk sementara. 

Menarik pula mengamati karakter Ayah (Ibnu Jamil), yang mewanti-wanti supaya Putra tidak memforsir fisiknya, tanpa harus terkesan mengekang kebahagiaan sang anak. Ketimbang memenjarakan mimpi, Ayah memilih membuka ruang diskusi. Kendati utamanya ditujukan bagi penonton anak, Garuda di Dadaku tak lalai mengajak para orang dewasa supaya turut belajar. 

Terkait departemen animasi, saya rasa tiada hal signifikan yang layak dikeluhkan. Pergerakannya mulus, pilihan warna cerahnya pun efektif memancing antusiasme bocah. Masalah terletak tiap adegan pertandingan mengambil alih sentral penceritaan. Keseruan di lapangan hijau sama sekali tak nampak akibat eksekusi ala kadarnya. 

Muncul pertanyaan. Jika sudah kadung dibumbui unsur fantasi demi menghibur penonton anak, mengapa tidak sekalian menggila? Memakai ragam jurus absurd serupa Captain Tsubasa misal? Lagipula penggunaan entitas dewa garuda sudah jauh lebih absurd dibanding kemunculan alien/mutan di seri Inazuma Eleven, jadi kenapa harus menahan diri? Ataukah keterbatasan biaya menyempitkan ruang eksplorasi?

Tapi jika dipandang selaku cerita sepakbola realis pun, Garuda di Dadaku kekurangan satu elemen esensial, yakni perihal daya tarik cabang olahraga itu sendiri. Bagaimana bisa di dunia nyata, tanpa tendangan-tendangan super, sepakbola terasa seru? Filmnya luput menjawab itu. Apa perlunya membuat Naya membuat tim Putra memainkan tiki-taka kalau detail taktiknya sendiri lalai ditelusuri? 

Garuda di Dadaku memang punya banyak pesan bermakna, tapi beberapa di antaranya gagal diutarakan dengan mulus. Contohnya tentang "berusaha dengan kekuatan sendiri." Kelak Putra tidak lagi bergantung pada jersei ajaib pemberian Gaga, namun proses yang ia dan timnya lalui terlampau instan. Tidak sampai sebulan, segerombolan bocah yang awalnya tak memahami aturan sepakbola ini mendadak bertransformasi jadi sehebat Ronaldinho di puncak kejayaannya. 

Filmnya mengajarkan supaya menjauhi kecurangan, namun di partai puncak, Gaga yang tidak terlihat di mata orang selain Putra dan rekan-rekannya, merecoki aksi tim lawan. Tapi setidaknya anak-anak akan pulang dengan perasaan senang (dan ini bukan pencapaian yang bisa dianggap remeh). Saya kira itu saja hal yang dirasa penting oleh para pembuat Garuda di Dadaku. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: