REVIEW - WARKOP DKI: VIRALIN DOOOONG..!!

Tidak ada komentar

Media sosial sempat ramai saat potret mendiang Dono yang berdiri dikelilingi sepasukan tentara sembari mengenakan kaos bertuliskan "We fight for a clean government", disandingkan dengan foto Desta, aktor yang memerankannya di Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sedang berjoget ria di tengah kampanye rezim. Tapi haruskah kita memusingkan sikap politik para pelakon? 

Mungkin tidak bila: 1) Dono tidak vokal menyentil pemerintah, 2) Warkop DKI merupakan grup lawak apolitis, 3) Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sama sekali tidak mengangkat isu politis. Ketiga poin di atas tidak terpenuhi. Kendati minim secara kuantitas, tiap humor politis dilontarkan oleh film ini, semuanya keluar dari mulut Desta. Sulit bagi saya ikut tertawa. 

Patut disayangkan, sebab Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memiliki poin yang tidak dipunyai para pendahulunya selaku produk "reborn", yakni penceritaan memadai. Alurnya menyoroti sulitnya trio Dono (Deddy Mahendra Desta), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) lepas dari jerat kemiskinan. Sampai tercetuslah ide membuat konten di YouTube. Rasa lapar membuat mereka "kebelet viral". 

Tentu dua jam durasinya masih tersusun atas sketsa-sketsa, tapi naskah buatan Theo Arnoldy, Dany Beler (juga selaku konsultan komedi), Daryl Wilson, dan sang sutradara, Herwin Novianto, bisa menjahit seluruhnya secara rapi. Masing-masing sketsa tidak dibiarkan meluber ke segala penjuru, melainkan digiring supaya mengalir ke arah cerita utama. 

Proses penulisannya turut melibatkan tiga figur ternama Tailan, Banjong Pisanthanakun, Thamsatid Charoenrittichai, dan Ter Chantavit Dhanasevi sebagai penggagas ide cerita. Pengaruh mereka baru benar-benar terasa di paruh kedua, tatkala trio protagonisnya nekat membuat konten horor yang melibatkan penggunaan mayat sungguhan. 

Sentuhan horornya tidaklah baru, tapi efektif menjalankan peran sebagai penyegar suasana di sela-sela usaha tiga aktor utamanya untuk terlihat dan terdengar semirip mungkin dengan Warkop DKI orisinal, sembari mengenakan wig bergaris rambut buruk. Kita sudah familiar dengan interpretasi Vino dan Tora dalam dua film reborn pertama, sehingga wajar jika sorotan lebih diarahkan pada Desta. 

Baik cara bicara, permainan raut wajah, sampai olah tubuh dari Desta memang sangat mirip dengan Dono. Mengesankan? Ya, kendati performanya lebih dekat ke arah impression seorang komedian ala sketsa Saturday Night Live ketimbang "akting" sebagaimana ditampakkan Abimana Aryasatya di film pertama. Desta sekadar meniru tampilan luar daripada membuka pintu agar sosok Dono sungguh-sungguh "merasuk" dalam jiwanya. 

Keseluruhan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memang terasa bak impression bagi film-film klasik Warkop DKI. Mirip dari luar, namun kurang perihal kedalaman yang substansial. Para penulisnya jelas sudah khatam menonton semua film Warkop DKI. Terlihat dari kesanggupan mereka memadupadankan serta memodifikasi lelucon, misal ketika memelintir "adegan kap mobil" dari Kesempatan dalam Kesempitan (1985). 

Masalahnya, humor film ini cenderung tak bertaring. Beberapa menggelitik, tapi lebih banyak yang terkesan kekurangan kreativitas. Karya-karya terbaik Warkop DKI di layar lebar senantiasa jeli mencari titik tengah antara kekonyolan ringan dengan kreativitas sarat ketidakterdugaan. Mereka adalah komedian yang paling piawai menyamarkan kejeniusan sebagai kebodohan. 

Begitu pula perihal guyonan beraroma politis yang di sini dilempar secara asal, hanya bersifat performatif dan seolah eksis semata karena Warkop DKI memang gemar mencolek tema tersebut alih-alih didasari keresahan nyata. 

Ada perasaan mengganjal seusai menyaksikan konklusi serba bahagia kepunyaan film ini. Seketika saya teringat sebaris lirik lagu tema serial televisi Warkop DKI yang berbunyi, "Kita nggak pernah sukses." Warkop DKI memang lebih sering mereguk kesialan. Selain demi menunjang kelucuan, ketidaksuksesan mereka kerap dijadikan cara menyentil praktik kecurangan.

Dono, Kasino, dan Indro tidak pernah lolos dari kesialan, yang bak mengakali sistem sebagai cara instan meraup keuntungan, atau tatkala pikiran mesum menguasai otak mereka. Kecurangan dan seksisme selalu dikenai balasan setimpal di film-film Warkop DKI. Maka, ketika Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memilih konklusi aman nan bahagia, ia pun gagal mengkritisi kebelet viralnya para manusia modern. 

Di fase epilog, kita disuguhi pemandangan ketika Dono, Kasino, dan Indro memberi tumpangan kepada tiga perempuan berpakaian seksi, lalu mengajak mereka ke pantai sambil berujar, "Ini baru Warkop!" Film-film Warkop DKI adalah representasi era di mana ia lahir. Judul-judul produksi Soraya yang sarat seksisme berlatar pantai memberi cerminan akan masa gelap perfilman Indonesia di era 90-an. Momen penutup tersebut makin menegaskan ketidakmampuan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! mewakili zamannya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: