REVIEW - TOY STORY 5
Terdapat momen saat Jessie (Joan Cusack) menatap pemilik pertamanya, Emily, dengan "ekspresi mainan" yang terlihat kosong. Tanpa Emily tahu mainan gadis koboi favoritnya itu memiliki rasa, dan tatapan tersebut sarat akan kasih sayang. Seketika saya berandai-andai, apakah mainan saya semasa kecil dulu juga memberi tatapan serupa. Apakah mereka juga merasa sedih kala kebersamaan kami perlahan tergerus seiring singgahnya teknologi dalam hidup saya?
Bentrokan antara mainan konvensional dengan teknologi bukanlah problematika kemarin sore. Tapi berbeda dengan konsol gim, kapasitas smartphone atau tablet mampu mencakup seluruh aspek di kehidupan anak. Alhasil, ancaman yang dirasakan Jessie, Buzz (Tim Allen), dan para mainan lain berada di titik tertinggi sewaktu Bonnie (Scarlett Spears) diberi hadiah tablet bernama Lilypad "Lily" (Greta Lee) oleh orang tuanya.
Bonnie memerlukan Lily guna terkoneksi dengan teman-teman sebaya yang lebih banyak hidup di dunia maya. Tapi apakah berarti ia tidak lagi memerlukan mainan kesayangannya? Situasi begitu genting, sampai Woody (Tom Hanks) dengan kepala yang mulai membotak mesti kembali untuk mengulurkan bantuan.
Di lain pihak, sesekali kita diajak mengikuti petualangan sekelompok mainan Buzz Lightyear versi baru, pasca kargo yang membawa mereka karam di sebuah pulau kosong. Adegan pembuka yang mengambil latar di pulau tersebut jadi ajang unjuk gigi bagi departemen animasi yang kembali memberi terobosan kualitas. Detail alamnya luar biasa nyata, tidak jarang Toy Story 5 seolah bak hibrida berisi karakter animasi yang eksis di dunia live action.
Saya kembali terpukau saat latarnya beralih ke rumah lama Emily yang kembali dikunjungi oleh Jessie akibat suatu "kecelakaan". Semburat sinar surya yang mempersilakan para mainan menikmati kehangatannya tampak amat indah. Lalu ketika hati mereka dirundung pilu, seisi rumah terlihat kelabu seolah dikuasai mendung. Disokong jajaran tim handal, Andrew Stanton selaku sutradara membuktikan bahwa film animasi sudah makin piawai memanipulasi emosi penonton lewat permainan cahaya.
Singkat cerita, Buzz dan Woody mulai mencari keberadaan Jessie, dan film Toy Story pun kembali menggunakan "misi penyelamatan" selaku alat penggerak cerita. Kebencian protagonisnya terhadap Lilypad si benda modern mengingatkan pada keresahan Woody atas kehadiran Buzz di film pertama, dan nantinya, kecemasan mainan akan fakta bahwa si pemilik kelak bakal tumbuh dewasa, juga mengundang kesamaan dengan pokok bahasan film ketiga.
Dibanding judul-judul sebelumnya, Toy Story 5 memang paling banyak menerapkan pengulangan. Tapi toh dampaknya tidak melemah. Salah satunya karena naskah buatan Andrew Stanton dan Kenna Harris selalu punya cara memukau penonton lewat kreativitas mereka mengeksplorasi bangunan dunianya. Sebuah dunia yang sejatinya begitu kaya, namun tak disadari manusia dengan segala ketidakpedulian mereka akan hal kecil.
Tentunya air mata penonton dewasa masih akan tumpah ruah mendapati trauma berkepanjangan di batin Jessie diberi konklusi, yang dimotori kepekaan luar biasa dalam pengadeganan Stanton. Di situlah kita menyaksikan cinta para mainan kepada sang pemilik akhirnya berbalas, seiring timbulnya kesadaran kalau pendewasaan tidak selalu bersinonim dengan melupakan.
Di luar dugaan, proses yang dilalui Lily tidak kalah menyentuh. Serupa Jessie (dan banyak dari kita yang sudah terlalu kenyang menyantap rasa pahit kehilangan serta kegagalan), Lily mulai mempertanyakan seberapa berharga dirinya. Hati saya patah saat karakter yang awalnya nampak seperti antagonis mengesalkan ini mengambil keputusan ekstrim didorong oleh keputusasaan.
Toy Story 5 memang tidak memprovokasi kita untuk serta merta membenci teknologi. Cepat atau lambat teknologi akan menginvasi hampir seluruh sendi keseharian manusia, dan alih-alih seutuhnya menampik, film ini mengajak kita belajar hidup bersama sembari mencari cara untuk memanfaatkannya secara bijak.
Sedikit disayangkan, babak ketiganya kekurangan presentasi seru guna menguatkan puncak penceritaan. Keputusan menaruh fokus pada proses internal Bonnie menggali keberanian yang terkubur terlampau jauh dalam dirinya bukan berarti tiada kesempatan guna mengatrol kualitas spektakel. Setidaknya ia memberi persembahan spesial berupa salah satu pemandangan paling romantis sepanjang sejarah Toy Story.
Di tengah perjalanan menuruni mal selepas menonton, perhatian saya dan istri tercuri oleh seorang anak yang nampak bersemangat membawa pulang mainan yang baru dibelikan oleh orang tuanya. Seketika kenangan soal mainan masa kecil kembali memenuhi dada. Saya teringat bahwa dahulu aktivitas bermain mendatangkan kebahagiaan yang sedemikian besar, jadi rasanya, mainan-mainan saya pun menyimpan kebahagiaan serupa. Semoga.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar