Tampilkan postingan dengan label Andrew Stanton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andrew Stanton. Tampilkan semua postingan
TOY STORY 4 (2019)
Rasyidharry
Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di
luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri
mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan
mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup,
baik di dunianya maupun hati penonton.
Adegan pembukanya menjawab
pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3:
Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan
lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan
kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw)
yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.
Kehidupan mereka sejatinya bahagia,
tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap
Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup
utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari
garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan
untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.
Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih
kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody
bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui
sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan
beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini
hidup bebas di dunia luar.
Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa
dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal
menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal,
hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata
berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.
Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi
komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil
lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua
latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya.
Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi
detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.
Anda akan dimaafkan bila sesekali
lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan
para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan
di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka
berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di
satu sisi kota.
Ditulis naskahnya oleh Andrew
Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory,
Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni
kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan
mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot
generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.
Humornya, yang masih berbasis ragam
keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan
tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat
sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai
diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai
Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam
kejenakaan banter khas keduanya) yang
gemar mencetuskan imajinasi absurd.
Gabby Gabby pun bukan antagonis
dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan
kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif,
kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di
tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter
lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti
dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa
interaksi sederhana yang memancing nostalgia.
Woody di sini layaknya banyak dari
kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya
dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody
menyadari itu, Toy Story 4 menggiring
kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih
bermakna.
Juni 22, 2019
Andrew Stanton
,
Animated
,
Annie Potts
,
Bagus
,
Christina Hendricks
,
Jordan Peele
,
Josh Cooley
,
Keanu Reeves
,
Keegan-Michael Key
,
REVIEW
,
Stephany Folsom
,
Tim Allen
,
Tom Hanks
,
Tony Hale
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

