Tampilkan postingan dengan label Annie Potts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Annie Potts. Tampilkan semua postingan

TOY STORY 4 (2019)

Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup, baik di dunianya maupun hati penonton.

Adegan pembukanya menjawab pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3: Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw) yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.

Kehidupan mereka sejatinya bahagia, tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.

Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini hidup bebas di dunia luar.

Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal, hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.

Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya. Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.

Anda akan dimaafkan bila sesekali lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di satu sisi kota.

Ditulis naskahnya oleh Andrew Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory, Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.

Humornya, yang masih berbasis ragam keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam kejenakaan banter khas keduanya) yang gemar mencetuskan imajinasi absurd.

Gabby Gabby pun bukan antagonis dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif, kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa interaksi sederhana yang memancing nostalgia.

Woody di sini layaknya banyak dari kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody menyadari itu, Toy Story 4 menggiring kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih bermakna.