Tampilkan postingan dengan label Jordan Peele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jordan Peele. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NOPE

Kita menyukai spektakel. Sebuah tontonan menghibur. Itu sebabnya media rekam termasuk film diciptakan. Supaya objek hiburan dapat diabadikan, abadi dalam rekaman sejarah. Tapi apakah ketertarikan kita dibarengi kepedulian terhadap objek tersebut? Ataukah cuma perannya sebagai penghibur yang kita pedulikan, tetapi tidak dengan eksistensi aslinya? Lalu apakah semua "hal menarik" perlu dijadikan tontonan? Nope merupakan spektakel mengenai spektakel.

Selepas teks yang mengutip Nahum 3:6 dari Alkitab yang membicarakan "tontonan" dalam definisi berbeda, Nope dibuka oleh peristiwa misterius di sebuah soundstage. Apa yang terjadi? Mengapa studio yang tadinya riuh mendadak kosong? Kenapa seekor simpanse berdiri berlumuran darah? Sebelum memperoleh jawabannya, kita langsung diajak menemui sang protagonis, Otis Haywood Jr. alias OJ (Daniel Kaluuya). Sekali lagi peristiwa misterius terjadi. Ayah OJ, Otis Haywood Sr. (Keith David) tewas. Koin logam menembus matanya. Sedangkan sebuah kunci menancap di tubuh kuda yang ditunggangi Otis Sr. Sebagaimana di dua film pertamanya, Jordan Peele masih cerdik memancing rasa penasaran. 

Sepeninggal sang ayah, OJ melanjutkan usaha merawat serta melatih kuda untuk produksi film dan televisi. Adiknya, Em (Keke Palmer), turut membantu meski tak menaruh minat di sana. Keluarga Haywood memang punja sejarah panjang di industri Hollywood. Konon kakek buyut OJ adalah penunggang kuda dalam Animal Locomotion milik Eadweard Muybridge, yakni kumpulan foto-foto pertama yang dipakai membuat gambar bergerak. 

Seorang pria kulit hitam berkontribusi di awal sejarah sinema. Tapi tak banyak orang tahu. Atau mereka sebatas tak peduli, dan menganggapnya objek tontonan belaka dalam industri yang didominasi kulit putih? Begitu pula dengan kuda-kuda. Para kru di sebuah proyek produksi iklan tak mengindahkan anjuran OJ untuk berhati-hati memperlakukan si kuda, sehingga berujung kekacauan. 

Lalu ada Jupe (Steven Yeun), mantan aktor cilik yang kini mengelola taman hiburan. Melalui cerita Jupe, kita tahu bahwa adegan pembuka Nope bertempat di lokasi produksi komedi situasi Gordy's Home yang ia bintangi. Gordy merupakan nama simpanse yang tiba-tiba mengamuk, melukai bahkan membunuh seluruh cast kecuali Jupe. Karir Jupe hancur seketika. Dia dan simpanse itu juga objek spektakel yang dieksploitasi, tanpa dipedulikan kesejahteraannya di balik layar. Ironisnya, sekarang Jupe mengeksploitasi tragedi itu demi uang. 

Sampai di sini rasanya sudah bisa dipahami kritik yang Peele lempar. Tapi di mana UFO-nya? OJ dan Em perlahan menyadari bahwa sebuah UFO yang bersembunyi di balik awam bertanggung jawab atas kematian sang ayah. Dibantu Angel Torres (Brandon Perea) si teknisi toko alat elektronik dan Antlers Holst (Michael Wincott) selaku sinematografer ternama, kakak-beradik ini berniat merekam penampakan UFO demi pundi-pundi uang. 

Persoalan UFO memang tak langsung diangkat, sebab berbeda dibanding Get Out dan Us, Peele menyajikan satu jam pertama dengan lambat, baik secara tempo, maupun progresi cerita. Ada kalanya pendekatan tersebut didukung oleh kesesuaian suasana, termasuk imageries atmosferik lewat kamera Hoyte van Hoytema, tapi tidak jarang, esensi pacing itu patut dipertanyakan. Nope berjalan kurang pasti di antara hiburan ala Spielberg dan horor/sci-fi alternatif.

Bermodalkan 68 juta dollar, Nope adalah film termahal Peele sejauh ini. Pertumbuhan bujet yang masuk akal mengingat UFO berbasis CGI turut dilibatkan, dan Peele mampu memaksimalkannya. Pasca sejam pertama yang bergulir lambat, Nope bertransformasi jadi spektakel seru, sambil memodifikasi formula film bertema UFO. Peele bersenang-senang, dan bagi saya memang itulah yang selalu ia lakukan. 

Banyak orang menyebut gaya bertuturnya "sok pintar", tapi saya lebih suka memandang ambisi Peele tampil beda sebagai caranya bersenang-senang. Di ketiga filmnya, Peele bak anak-anak yang bebas memainkan apa saja. Mungkin cuma ia yang bersedia mengutak-atik templat UFO dalam medium film, termasuk mengambil inspirasi dari Neon Genesis Evangelion di third act-nya.

Walau demikian harus diakui bahwa dalam hal melempar pesan, sketsanya bersama Keegan-Michael Key, Key & Peele, tampil lebih mulus dan tajam ketimbang film layar lebarnya. Pilihan konklusi Nope sendiri memunculkan kontradiksi dengan kritik yang dibangun, sehingga melemahkan satir mengenai spektakel miliknya. Biarpun dalam statusnya sendiri sebagai spektakel, Nope tetap tampil solid.

REVIEW - CANDYMAN

"It's important to me that we can tell black stories without it being about race", demikian ucap Jordan Peele kala mempromosikan Us (2019). Itulah mengapa Us spesial. Sebuah horor yang menormalkan eksistensi karakter kulit hitam, serta mendahulukan pencapaian kualitas genrenya ketimbang presentasi isu sosial. Di Candyman, Peele yang mengisi kursi produser sekaligus menulis naskah bersama bersama sang sutradara, Nia DaCosta, dan Win Rosenfeld, berbuat sebaliknya. 

Bukannya keliru. Apalagi isu milik Candyman memang penting, dengan tingkat relevansi tinggi. Menjadi kurang tepat kala penyampaian pesan tersebut diprioritaskan sebelum hal paling mendasar: melahirkan suguhan horor solid.

Film in berstatus sekuel bagi Candyman (1992), yang tak menganggap keberadaan Farewell to the Flesh (1995) dan Day of the Dead (1999). Berlatar 27 tahun pasca film pertama, kita dipertemukan dengan Anthony McCoy (Yahya Abdul-Mateen II), seniman yang tinggal di Chicago bersama kekasihnya, Brianna Cartwright (Teyonah Parris), seorang direktur galeri seni. Jika sudah menonton versi 1992, pasti anda tahu identitas Anthony sesungguhnya. 

Demi mencari inspirasi untuk karya terbarunya, Anthony meriset sebuah legenda urban mengenai Candyman, si pembunuh mistis bersenjatakan tangan kait, yang muncul bila seseorang memanggil namanya lima kali di depan cermin. Konon, Candyman merupakan arwah gentayangan Sherman Fields (Michael Hargrove), yang tewas pada 1977 akibat tindak kekerasan polisi rasis. Sebagaimana banyak seniman yang tenggelam terlalu dalam saat berkarya, obsesi mulai menguasai jiwa Anthony, sementara di saat bersamaan, satu demi satu korban Candyman berjatuhan.

Meski berstatus sekuel, film ini sejatinya kental aroma reboot, terkait cara naskahnya merekonstruksi ulang penokohan Candyman. Jalan yang dipilih cukup cerdik, di mana alih-alih retcon, Peele dkk. cenderung memperluas mitologinya, mengembangkan tindak rasisme terhadap satu individu dari film aslinya, menjadi trauma kolektif akibat kekerasan pihak pemegang otoritas. 

Tapi pengembangan mitologi ini bak pisau bermata dua. Kisahnya rumit, bahkan kadang lebih rumit, lebih membingungkan dari semestinya, karena presentasi yang kurang rapi. Padahal, salah satu kunci legenda Candyman adalah kesederhanaan. Kita tak takut pada setan hasil ritual persembahan manusia, karena tak pernah melakukan itu. Lain cerita dengan menyebut nama Candyman di depan cermin. Kita semua bisa. Saking gampangnya, seolah itu benar-benar nyata. Tapi apakah kita berani melakukannya?

Daripada mengeksplorasi kengerian tersebut, Candyman lebih tertarik mendalami isu rasisme. Pemandangan menjijikkan, misalnya tangan yang membusuk atau kondisi tubuh yang berpotensi men-trigger para pengidap trypophobia, sesekali mengisi layar, namun secara keseluruhan, biarpun diberkahi musik buatan Robert A. A. Lowe yang terdengar bak perwujudan rasa cemas, juga akting solid Yahya Abdul-Mateen II, film ini termasuk horor yang pelit teror. 

Nia DaCosta punya talenta merangkai visual cantik (termasuk penggunaan animasi bergaya shadow play guna menggantikan flashback), namun ia belum piawai menebar teror. Bukannya fokus pada kebrutalan, DaCosta malah terlampau berusaha membuat aksi-aksi Candyman tampak estetis (pan out ke luar gedung tempat terjadinya pembantaian, memakai refleksi cermin kecil). Baru di third act-nya film ini benar-benar unjuk gigi. Third act berdarah yang turut berperan selaku jawaban tegas atas rasisme dan kekerasan polisi. Sayangnya, momen tersebut datang terlambat. 

Tapi alasan terbesar mengapa versi 2021 ini tidak seseram pendahulunya adalah "hilangnya" Tony Todd, si pemeran asli Candyman, yang cuma muncul sebagai cameo jelang akhir. Candyman adalah Tony Todd. Titik. Tony Todd dengan postur menjulang nan intimidatif, Tony Todd dengan ekspresi yang bisa membuat sekujur tubuh merinding, Tony Todd dengan lebah-lebah yang keluar dari mulutnya. Tony Todd tidak perlu riasan wajah berlebihan. Dia cukup berdiri, dan si calon korban langsung tahu, apa itu "rasa takut". 

TOY STORY 4 (2019)

Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup, baik di dunianya maupun hati penonton.

Adegan pembukanya menjawab pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3: Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw) yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.

Kehidupan mereka sejatinya bahagia, tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.

Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini hidup bebas di dunia luar.

Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal, hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.

Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya. Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.

Anda akan dimaafkan bila sesekali lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di satu sisi kota.

Ditulis naskahnya oleh Andrew Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory, Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.

Humornya, yang masih berbasis ragam keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam kejenakaan banter khas keduanya) yang gemar mencetuskan imajinasi absurd.

Gabby Gabby pun bukan antagonis dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif, kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa interaksi sederhana yang memancing nostalgia.

Woody di sini layaknya banyak dari kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody menyadari itu, Toy Story 4 menggiring kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih bermakna.

US (2019)

Setelah menyentak lewat isu rasisme melalui debutnya yang sukses baik secara komersial maupun critical, kali ini Jordan Peele mengajak untuk mempertanyakan siapa diri kita (Us) sembari mengkritisi kondisi sosial Amerika Serikat (United States, US), dalam film yang memantapkan statusnya sebagai salah satu sutradara film genre paling berbakat masa kini, meski selaku pencerita, beberapa pekerjaan rumah masih harus ia tangani.

Dalam Us, Peele ingin menampilkan karakter kulit hitam yang bukanlah korban ketidakadilan sosial atau alat menuturkan kisah bertema rasisme, melainkan sebuah keluarga biasa yang hidup bahagia, bertamasya ke pantai saat liburan, lalu bersenang-senang dengan membeli kapal. Keluarga ini terdiri atas empat anggota: pasangan suami-istri Gabe Wilson (Winston Duke) dan Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), beserta dua buah hati, Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex).

Mereka adalah apa yang kita sebut keluarga harmonis. Tertawa bersama, saling goda, dan saling ejek merupakan makanan sehari-hari. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Adelaide menyimpan rapat-rapat suatu kejadian traumatis dari masa kecilnya. Hal itu terjadi tahun 1986, kala Adelaide kecil, yang tengah mengunjungi taman bermain sebuah pantai bersama orang tuanya, tersesat kemudian bertemu kembarannya (disebut “The Tethered”). Peristiwa itu amat mengguncangnya, Adelaide membisu selama beberapa waktu.

Sekarang, bersama keluarganya sendiri, Adelaide mesti mengunjungi lokasi yang sama. Ketakutannya jadi kenyataan ketika suatu malam, muncul empat Tethered dengan wujud menyerupai ia dan keluarganya. Bedanya, alih-alih cuma berdiri diam, para Tethered berusaha membunuh Adelaide sekeluarga.

Siapa The Tethered dan apa motivasi mereka adalah beberapa contoh pertanyaan yang akan menggelayuti pikiran kita sepanjang durasi. Tapi berbeda dengan Get Out, meski Us menyimpan beragam subteks (yang akan saya bahas nanti), Peele tak seberapa banyak meluangkan fokus pada alur, khususnya di babak kedua. Sebelum klimaks, praktis Us tak lebih dari sajian “kucing-kucingan” berdarah. Sebuah langkah berisiko, namun Peele nampak percaya diri akan kapasitas penyutradaraannya untuk memaksimalkan formula home invasion menjadi intensitas tanpa henti.

Sebagai genre afficionado, Peele paham betul cara menciptakan atmosfer dan gambar mengerikan lewat beraneka metode, dari pemanfaatan siluet, permainan fokus kamera di mana ancaman diam-diam mengintip di belakang karakternya, hingga membuat jajaran pemainnya bertingkah laku ganjil. Khusus elemen terakhir, Lupita Nyong’o paling menonjol. Memerankan wanita yang terluka psikis dan villain keji dengan senyum mengerikan ditambah tatapan hampa, performa sang aktris bakal diingat sebagai salah satu yang terbaik di antara deretan horor modern.

Bahkan soal trik klise seperti jump scare, Peele senantiasa memamerkan efektivitas dan kreativitas. Peele telah menguasai perihal timing, sedangkan sumber teror kerap dimunculkan dari sudut tak terduga, yang ditangkap oleh gerak kamera dinamis. Kreativitas Peele turut menyentuh ranah pemakaian musik. Siapa sangka lagu Fuck Tha Police milik N.W.A. bakal menambah keseruan dalam sekuen “petak umpet”?

Jordan Peele kentara sedang bersenang-senang tanpa mengkhawatirkan risiko, termasuk dalam menyelipkan komedi, yang diinjeksikan tepat waktu tanpa perlu mendistraksi bangunan ketegangan. Apabila anda kerap menyaksikan sketsa Key & Peele garapannya bersama Keegan-Michael Key, perpaduan mulus dua kutub berlawanan (horor-komedi) itu takkan terasa mengejutkan.

Terkait cerita, seperti sempat saya singgung, terdapat banyak subteks. Paling jelas tentunya terkait identitas diri. “Bagaimana jika kita sendirilah iblis itu?”. Peele memposisikan The Tethered selaku perwakilan hasrat terpendam atau wajah lain karakternya yang urung mereka sadari. Pada lingkup lebih luas, Peele menyinggung kondisi Amerika, negara makmur yang ironisnya masih kelabakan mengurusi masalah kelaparan maupun hoomelessness. Itulah mengapa Peele memilih mengawali kisahnya di tahun 1986, tepat saat even Hand Across America—di mana 6,5 juta orang bergandengan tangan selama 15 menit sebagai kegiatan amal untuk membantu tunawisma dan penderita kasus kelaparan—dilangsungkan.

Us sejatinya nyaris tanpa cela sampai mendekati akhir. Klimaks berupa pertarungan brutal yang dieksekusi bagai nomor tarian penuh darah dan kekacauan sambil diiringi musik mencekam garapan Michael Abels (Get Out, Detroit) pun tampil solid. Sayang, Peele cukup kewalahan merangkum penjelasan tentang misteri seputar The Tethered, kemudian memaksa merangkumnya ke dalam eksposisi berbelit melalui tuturan verbal. Namun titik yang nyaris merobohkan pondasi Us adalah kejutan penutupnya. Andai paruh sebelumnya tak sedemikian kuat, film ini bisa saja luluh lantah. Guna menyampaikan metafora mengenai “identitas”, Peele mengorbankan logika, meski harus diakui ada aroma kengerian tragis tercium dari twist besarnya.

UPDATE: Setelah melewati beberapa pemikiran ulang (thanks to some questions on comment section below), saya sadar telah mempersepsi twist penutupnya secara keliru. Jordan Peele tidak luput dalam berlogika. Saya kurang jeli memproses dan mengaitkan informasi yang filmnya sampaikan, meski tetap merasa keputusan Peele bereksposisi lewat monolog bukan pilihan jitu. Karena itu saya mengubah rating-nya.

THE KILLING OF A SACRED DEER / BRIGSBY BEAR / CAPTAIN UNDERPANTS: THE FIRST EPIC MOVIE

Saat saya merasa 2017 tidak bisa lebih gila pasca menyaksikan Mother!, The Killing of a Sacred Deer yang membawa Yorgos Lanthimos dan Efthymis Filippou memenangkan naskah terbaik di gelaran Festival Film Cannes akhir Mei lalu justru mampu lebih menghantam jiwa daripada karya Darren Aronofsky tersebut. Sebaliknya, Brigsby Bear buatan DaveMcCary menghangatkan jiwa lewat aura positif yang dimiliki, begitu pula Captain Underpants: The First Epic Movie selaku adaptasi dari buku cerita anak Captain Underpants yang imajinatif. 

The Killing of a Sacred Deer (2017)
Dalam naskah pertunjukan Iphigenia in Aulis yang dipentaskan pada 405 SM, Agamemmon, pemimpin koalisi Yunani, tidak sengaja membunuh rusa suci milik Artemis. Sebagai balasan, Artemis mengirim badai, memaksa Agamemmon mengorbankan puterinya, Iphigenia, agar badai itu berhenti. Dalam The Killing of a Sacred Deer, keluarga ahli bedah bernama Steven (Colin Farrell) lumpuh dan bakal mati mengenaskan kecuali ia bersedia membunuh satu dari mereka. Kelalaian saat operasi yang mengakibatkan kematian pasien jadi penyebab "kutukan". Martin (Barry Keoghan sebagai tokoh paling mengerikan tahun ini), putera si pasien, mewakili peran Artemis. Seperti biasa, karakter ciptaan Lanthimos bicara dalam nada datar, membangun suasana yang tambah mengerikan seiring tirai cerita tersingkap. Belum lagi ditambah iringan musik menyayat. Metode itu turut berfungsi memaparkan soal "topeng". Semanis apapun lip service diucapkan karakternya, tiada ekspresi tampak. Sebaliknya, mereka bernyawa kala meluapkan kejujuran, walau teramat buruk dan kejam. Di tangan Lanthimos, konflik batin mendorong kesan hilangnya kemanusiaan baik secara fisik maupun mental, menghasilkan setumpuk pemandangan tidak nyaman. Ironisnya, justru saat itu wajah asli manusia terungkap. (4/5)

Brigsby Bear (2017)
Brigsby Bear bicara mengenai dampak budaya populer, bahkan menyertakan Mark Hamill selaku ikon geekdom dalam penampilan singkat yang membuat para penggemar berharap ia lebih banyak memamerkan talenta voice acting-nya. Protagonisnya adalah James (Kyle Mooney), seorang geek yang terobsesi pada program anak tentang beruang pahlawan semesta berjudul Brigsby Bear Adventures. Beda dengan Napoleon Dynamite misalnya, Mooney yang turut menulis naskah bersama Kevin Costello menciptakan sosok geek yang "toleran", mau beradaptasi, menyentuh hal di luar obsesinya, bersedia terlibat interaksi sosial, sehingga mudah disukai. Geekiness dalam Brigsby Bear bukan sikap alienasi, melainkan kepolosan. Ada twist di awal yang takkan saya ungkap, intinya James mendapati acara favoritnya berhenti diproduksi, lalu memutuskan membuatnya sendiri. Lubang terkait logika maupun isu psikologis bertebaran seiring proses James melahirkan mahakarya, namun termaafkan berkat usungan semangat positifnya. Berpesan soal berdamai dengan masa lalu untuk memulai awal baru, iringan piano manis gubahan David Wingo melengkapi kehangatan tutur filmnya. (4/5)

Captain Underpants: The First Epic Movie (2017)
"Normal" bukan kata yang cocok diharapkan dari adaptasi novel anak yang memiliki judul-judul seperti The Sensational Saga of Sir Stinks-A-Lot atau The Attack of the Talking Toilets. Itu sebabnya tak perlu kita memusingkan bagaimana mainan hadiah sereal bisa membuat dua bocah usil, George (Kevin Hart) dan Harold (Thomas Middleditch), menghipnotis kepala sekolah mereka yang galak, Mr. Krupp (Ed Helms), menjadi Captain Underpants, pahlawan super dari komik buatan keduanya. Tapi, jangankan kekuatan super, Captain Underpants tidak punya kostum kecuali celana dalam dan jubah berbahan dasar gorden. Professor Poopypants (Nick Kroll), dengan rencana menghapus tawa adalah sang penjahat, pun Melvin (Jordan Peele) si kutu buku penjilat tanpa selera humor. Tapi musuh sejati filmnya adalah kekakuan pengekang hak anak-anak bersenang-senang. Perlawanan penuh kreativitas hadir kala sutradara David Soren mendobrak pola normatif, mencampur aduk gaya animasi (komik strip, muppet, sampai flip-o-rama) sebagaimana Harold gemar seenaknya menyertakan lumba-lumba dalam komik. Amat kaya visualnya, sukar dipercaya film ini merupakan animasi komputer produksi DreamWorks dengan bujet terendah ($38 juta). Captain Underpants: The First Epic Movie dengan dominasi fart jokes dan celana dalam titular character-nya jelas tak sebodoh tampak luarnya. (4/5)

GET OUT (2017)

(Review mungkin mengandung spoiler)
Selain menakut-nakuti, banyak filmmaker memanfaatkan medium horor untuk menyampaikan kisah atau pesan tertentu. Sebutlah Alien (pemerkosaan/seks), The Babadook (kecemasan), It Follows (penyakit menular seksual), dan sebagainya. Semua dilakukan tanpa melupakan hakikat utama genre tersebut. Di permukaan, Get Out selaku debut penyutradaraan Jordan Peele terkesan biasa, menebar kengerian lewat keanehan situasi yang dialami karakternya. Tapi menilik lebih dalam, naskahnya (juga ditulis oleh Peele) turut menjabarkan satir sosial terkait isu rasisme, tepatnya soal perlakuan kulit putih terhadap kulit hitam. Menjadi spesial tatkala tiap sisi, termasuk komedi yang membesarkan namanya, sanggup Peele rangkai secara seimbang.

Fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) adalah kekasih dari Rose (Alison Williams), seorang gadis kulit putih. Saat tiba waktunya mengunjungi orang tua sang kekasih di akhir pekan, Chris khawatir apabila warna kulitnya dipermasalahkan. Nyatanya orang tua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) menyambutnya baik. Walau demikian, Chris mulai merasa ada kejanggalan begitu melihat sikap dua pelayan kulit hitam di sana, Walter (Marcus Henderson) dan Georgina (Betty Gabriel). Ada apa dengan keduanya? Rahasia apa yang tersimpan di sana? Bermacam tanya itu takkan sulit dijawab. Bahkan sejak opening bila anda jeli mengaitkan poin-poinnya.
Horor/thriller seputar karakter atau lingkungan janggal telah bertebaran dan Get Out memang tidak memberi inovasi dalam presentasi misterinya. Peele mengikuti pola standar, bersabar menggerakkan alur di dua pertiga awal durasi, perlahan menambah tensi seiring observasi protagonis terhadap kondisi sekitar. Jika anda sudah kerap menyantap sajian serupa daya kejut film ini takkan seberapa. Jangan harap dihantam unpredictable twist ala-Shyamalan. Namun kelokan alur bukan semata-mata soal "seberapa mengejutkan". Pertanyaan yang diajukan semestinya "perlukah?" dan "sesuaikah dengan keseluruhan cerita atau datang mendadak selaku tipuan kosong?". Mengenai hal-hal itu, Peele melakukan tugasnya dengan baik.

Peele jeli menanam benih-benih, sehingga sewaktu tiba di ujung penceritaan, tercipta satu skema besar utuh yang menjawab beragam pertanyaan sekaligus menjelaskan perilaku tokoh-tokohnya. Sedangkan cerdiknya penyutradaraan membuat Get Out menjauhi keklisean jump scare berisik. Tetap banyak usaha menghentak jantung penonton, namun triknya tidak murahan. Peele berhasil memancing ketakutan nyata, bukan rasa terkejut sesaat yang cepat luntur walau progresi alur bertahap (baca: lumayan pelan) membuat daya cengkeram filmnya urung hadir secara instan. Kuncinya terletak pada timing, staging, juga pemakaian musik/efek suara. 
Tatkala teror sering datang di waktu tak terduga, pengadeganan Peele begitu apik membangun atmosfer creepy bersenjatakan kesederhanaan macam tatapan sunyi dari kerumunan. Kedua aspek ini disempurnakan oleh efektifnya musik dipakai. Selain penggunaan nomor klasik Run Rabbit Run, Michael Abels sang penata musik menyajikan pula alunan mencekam berbalut bisikan lirih yang bakal mengendap di ingatan pasca film usai. Peele memanfaatkan musik seperlunya, bahkan beberapa teror terbaik muncul ketika keheningan tiba-tiba menyeruak. Saya bisa merasakan ketegangan menghinggapi seisi studio, mendiamkan penonton lewat kesunyian mencekik. Kalau ada kalimat terlontar, itu akibat menyadari ketidakberesan yang seketika hadir.

Jangan lupa ini adalah karya Jordan Peele yang bersama rekannya, Keegan-Michael Key membuat Key & Peele, sebuah serial komedi sketsa televisi yang di beberapa segmen memparodikan horor. Humor segar mengiringi Get Out, dan hebatnya tanpa berujung permasalahan tonal shift. Sebabnya, komedi tak asal masuk, melainkan khusus dilontarkan oleh scene stealer bernama Rod (Lil Rel Howery), petugas TSA (Transportation Security Administration) sekaligus sahabat Chris yang selalu heboh, bicara semaunya termasuk melontarkan teori gila soal budak seks. Penonton pun paham, tatkala Rod tampil itu saatnya tergelak. Sebaliknya saat ia tidak menghiasi layar, waktunya kembali "menyalakan" mode serius. Kejelasan pembagian porsi ini sukses meniadakan inkonsistensi tone. 
Sebagaimana biasa, Peele menyelipkan alegori tentang rasisme. Pernyataan utamanya adalah bahwa kulit putih selaku pemegang kekuatan dan kekuasaan berniat mengendalikan kulit hitam. Mereka menyatakan bersedia menerima perbedaan tapi hanya di mulut, sementara hati dan perbuatannya tetap meneriakkan diskriminasi. Keramahan bertabur senyum tak ubahnya topeng luar agar kaum kulit hitam terbuai tutur kata manis dan kehidupan nyaman, tanpa sadar tengah dikontrol, dilucuti kebebasannya. Peele cerdik memposisikan pesan-pesan terselubung itu, bersinkronisasi dengan unsur horor sehingga urung menimbulkan distraksi. Di samping isu rasial, Get Out dapat dilihat pula sebagai horor seputar pengalaman pertama mengunjungi calon mertua (which is scary indeed).

Get Out bak dibuat berdasarkan semangat segala sesuatu bisa ditertawakan tanpa menghilangkan keseriusan di dalamnya. Selain hibrida horor-komedi, pergerakan misterinya bagai diambil dari obrolan santai penuh canda ketika orang kulit hitam membicarakan perlakuan buruk kulit putih pada mereka. Mulai diskriminasi sosial hingga pada level yang terdengar berlebihan dan mustahil macam omongan Rod soal penculikan untuk dijadikan budak seks. Konteksnya bercanda, namun didasari realita, dipicu rasa jengah pula takut akibat kekejaman berkepanjangan. Get Out sukses menggambarkan itu, menuturkan satir sosial dengan gaya ringan tapi tetap menusuk.