Tampilkan postingan dengan label Andy Nyman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andy Nyman. Tampilkan semua postingan
JUDY (2019)
Rasyidharry
“Apa kamu mau hidup keras seperti
gadis-gadis biasa di luar sana?”. Demikian ucap co-founder MGM, Louis B. Mayer (Richard Cordery), di studio tempat
pengambilan gambar The Wizard of Oz,
setelah Judy Garland (Darci Shaw) mengutarakan keinginannya merasakan hidup
normal walau hanya sejenak. Saat itu Judy baru 14 tahun. Pikirannya
dimanipulasi, kebebasannya direnggut. Semua demi studio yang ingin mengeruk
keuntungan dari kepalsuan image “girl next door” si bocah.
Kemudian kisahnya melompat lebih
dari tiga dekade, tatkala karir Judy (Renée
Zellweger) mencapai titik nadir, di mana ia menerima pekerjaan dengan bayaran
150 dollar, diusir dari hotel akibat telat membayar, tak punya tempat tinggal
bagi kedua anaknya. Belum lagi membicarakan masalah obat-obatan yang turut
menimpanya. Kita semua tahu perjalanan hidup tragis sang aktris, dan Judy, yang merupakan adaptasi
pertunjukan Broadway End of the Rainbow,
menjabarkan dengan baik—meski formulaik—betapa destruktifnya tekanan di masa
lalu dapat memberi dampak.
Formulaik karena naskah garapan Tom
Edge tidak pernah menjauh dari pakem film biografi, tapi mampu menjelaskan
secara utuh proses sebab-akibat yang membentuk kondisi psikis sang legenda. Anda
akan menyaksikan begitu mengerikannya sistem industri Hollywood, khususnya di
era golden age, di mana seorang
bintang tak lebih dari properti kepunyaan studio.
Pola makan Judy diatur demi
mendapat memenuhi standar kecantikan. Seringkali ia hanya boleh menenggak pil
sebagai ganti makanan. Pil itu membuatnya susah tidur, dan agar bisa memejamkan
mata, Judy perlu mengonsumsi pil lain. Bertahun-tahun kemudian, kesehatan Judy,
baik fisik maupun mental, terkena dampaknya. Tawaran pekerjaan tak kunjung
datang, sebab para pembuat film enggan menghadapinya yang kerap bermasalah
(mabuk-mabukan, terlambat datang ke lokasi, dan lain-lain).
Terkecuali beberapa usaha bunuh
dirinya, Judy memperlihatkan mayoritas
sisi kelam protagonisnya. Semua diberikan alasan, tanpa harus menjustifikasi
keburukan Judy. Poin ini paling terlihat dalam dua perdebatan terpisah antara Judy
dengan suami ketiganya, Sidney Luft (Rufus Sewell) dan suami kelima sekaligus
terakhirnya, Mickey Deans (Finn Wittrock). Keduanya berjanji mengembalikan masa
kejayaan Judy namun sama-sama menemui kegagalan. Karenanya Judy merasa,
pria-pria itu cuma “menonton”, tidak berusaha cukup keras , sementara ia
membanting tulang. Itu betul. Sedangkan dari sisi kedua suami, Judy pun
bersalah, sebab berbagai ulah Judy membuatnya tak lagi dipercaya. Itu juga
betul.
Peluang menata ulang karir sempat
datang kala Judy menerima tawaran rangkaian konser di Talk of the Town, London.
Kecemasan langsung menghampiri, yang membuat Judy sempat menolak naik panggung.
Lagu pertama yang dibawakan adalah By
Myself. Sutradara Rupert Goold jeli mengemas momen tersebut, mengawalinya
dengan close up guna menangkap
ketakutan di mata Judy, sebelum akhirnya menangkap kemeriahan panggung begitu
suara emas sang bintang mencapai puncaknya. Judy berhasil mempersembahkan
performa memukau malam itu.
Tapi apa yang kemudian dia rasakan?
Kecemasan lain. Kecemasan memikirkan mampu atau tidaknya ia tampil sebaik itu
lagi. Berkat deretan flashback menuju
masa-masa penuh kekangan dari MGM, kita bisa memahami penyebab di balik kondisi
mental Judy. Sayangnya ketimpangan antar momen cukup terasa. Beberapa terasa
spesial dan menyentuh hati, walau banyak juga yang sebatas numpang lewat,
menjadikan perjalanan selama hampir dua jam ini tidak selalu berhasil
mencengkeram atensi.
Salah satu yang spesial adalah
peristiwa fiktif tatkala Judy menghabiskan malam seusai konser bersama dua
penggemar beratnya, pasangan gay, Dan (Andy Nyman) dan Stan (Daniel Cerqueira).
Interaksi ketiganya tersaji ringan, hangat, pula menggambarkan bagaimana Judy
mencintai para penggemar sekaligus mendapatkan energi dari mereka. Apalagi Judy
Garland sendiri dipandang sebagai ikon gay, bahkan dijuluki “The Elvis of homosexuals”. Beberapa
pihak juga meyakini kalau bendera pelangi selaku simbol LGBT terinspirasi dari
lagu Over the Rainbow.
Melalui penampilannya sebagai Judy
Garland, Renée Zellweger dipercaya bakal menyabet penghargaan Aktris Terbaik di
Oscars 2020 (tulisan ini dipublikasikan sebelum pemenang diumumkan). Dan
kepantasannya tak perlu diragukan. Baik di atas atau di bawah panggung,
Zellweger bertransformasi seutuhnya hingga ke detail ekspresi, permainan mata,
dan gestur-gestur seperti pergerakan tangan dan pundak. Zellweger menyanyikan sendiri
lagu-lagu Garland, sehingga memfasilitasi terciptanya ekspresi rasa secara
nyata. Filmnya memang tidak sempurna, tapi mungkin di atas sana, Judy Garland akan
tersenyum jika melihat bagaimana Zellweger membawakan Over the Rainbow dalam klimaks yang sukar ditolak oleh hati.
Februari 09, 2020
Andy Nyman
,
Biography
,
Daniel Cerqueira
,
Finn Wittrock
,
Lumayan
,
Renée Zellweger
,
REVIEW
,
Richard Cordery
,
Rufus Sewell
,
Rupert Goold
,
Tom Edge
GHOST STORIES (2017)
Rasyidharry
Dengan kata “ghost”
pada judul serta dijual sebagai horor supernatural, dan ya, terdapat berbagai
peristiwa mistis di dalamnya, siapa sangka Ghost
Stories karya Andy Nyman dan Jeremy Dyson, yang diadaptasi dari pementasan
berjudul sama garapan mereka, justru merupakan suguhan skeptis, setidaknya
begitu menyentuh babak akhir. Bahkan saat tokoh utamanya perlahan mulai
meragukan keraguannya akan hal-hal gaib. Sekarang memang waktu yang tepat bagi
para skeptis melontarkan pertanyaan atas sebuah kepercayaan, terlebih kala
makin banyak manusia saling serang atas nama kepercayaan, atau tepatnya
perbedaan kepercayaan di antara mereka.
Itu yang akan penonton pelajari tentang Profesor Phillip Goodman
(Andy Nyman) melalui rekaman ala home
video selaku pembuka filmnya, di mana ia mendeskripsikan bagaimana kepercayaan
ayahnya, seorang penganut Yahudi taat, justru menghancurkan keutuhan keluarga.
Sebabnya, sang ayah mengusir kakak perempuan Goodman akibat memacari lelaki
Asia. Kita yang berpikiran cerah pasti paham, permasalahan bukan di
kepercayaannya, melainkan si penganut yang terlalu buta hingga sulit merangkul
perbedaan. Tapi bagi Goodman yang terkena pengaruh langsung dan hidup bersama
konflik itu, tumbuh menjadi seorang skeptis adalah kewajaran, meski tanpa sadar
ia melakukan hal serupa ayahnya.
Goodman dikenal lewat acara televisinya yang bertujuan
membongkar penipuan berkedok hal-hal mistis maupun spiritual. Tujuannya baik,
sayang, acap kali Goodman cenderung merendahkan orang-orang yang mempercayai
sesuatu di luar nalar alias agama. Hingga suatu hari ia dihadapkan pada tiga kasus
penguji skeptisme yang dianutnya. Ketiga kasus dengan kemasan layaknya antologi
itu, meski tidak sepenuhnya mengerikan, masing-masing menyimpan paling tidak
satu trik menakut-nakuti kreatif yang layak dikagumi. Pun deretan jump scare formulaiknya, dengan kuantitas
secukupnya, tersaji efektif, kadang ditemani musik menghentak, kadang efek
suara mengejutkan macam besi yang beradu atau padamnya sumber listrik. Sisanya
adalah usaha membangun atmosfer memakai kesunyian serta tempo yang bakal
menguji kesabaran penonton dengan preferensi horor berlaju cepat khas
Hollywood.
Di sela-sela terornya, Ghost
Stories mengingatkan penonton terhadap selera komedi hitam jajaran sineas
Inggris yang bertebaran sepanjang durasi, yang alih-alih mendistraksi, malah
memberi tambahan energi, yang memuncak sewaktu Martin Freeman memasuki panggung
di segmen ketiga, mencurahkan pesonanya. Awalnya tiap segmen nampak tak lebih
dari cerita pendek horor familiar yang sesekali melempar pertanyaan, “apakah
semuanya sungguh peristiwa supernatural atau dampak gangguan psikis tiap tokoh?”.
Naskah buatan Nyman dan Dyson cukup solid guna memancing kemungkinan bahwa segalanya
cuma ada di kepala ketiga narasumber, sama seperti yang Goodman yakini. Sampai
tatkala filmya mencapai babak akhir, kita pun menyadari teror-teror tersebut
lebih mempunyai arti untuk Goodman ketimbang ketiga narasumbernya.
Saya takkan mengungkap isinya, tapi Ghost Stories menyimpan dua twist
selaku penutup. Keduanya mengagumkan bila dilihat dari bagaimana Nyman dan
Dyson cerdik menebar detail petunjuk sepanjang film. Namun ketika twist pertama terasa mind blowing, seutuhnya mengubah arah
kisah pun bersifat terapeutik untuk penokohan Goodmaan, twist kedua adalah keklisean malas yang mengembalikan film ke akar
skeptikalnya, dan hanya diselipkan untuk mengejutkan penonton, bukan menguatkan
bangunan alur. Sebelum kejutan kedua merangsek masuk, saya berujar dalam hati, khawatir
kisahnya bakal melangkah ke sana. Begitu kekhawatiran itu jadi nyata, ingin rasanya
segera meninggalkan bioskop.
Kejutan akhirnya adalah simplifikasi keseluruhan cerita yang
susah payah dibangun, mengubah intisari dari perjalanan seorang pria skeptis
nan sedih menemukan sesuatu di luar pemahamannya sembari berhadapan dengan masa
lalu traumatis menjadi penelusuran isi pikiran kacau seorang pria sedih yang
dipenuhi rasa bersalah. Pondasi yang sejak awal dibangun berakhir tak berguna
akibat ambisi mengejutkan penonton. Seolah tercetus dua ide dalam otak Nyman
dan Dyson, dan mereka tak mampu atau tak mau memilih salah satu saja, walau
kedua ide tersebut tidak saling menguatkan jika muncul beriringan. Tapi kalau
anda termasuk penonton yang suka dikejutkan, tanpa peduli apakah kejutan itu
perlu atau tidak, besar kemungkinan anda takkan menemukan masalah.
Mei 03, 2018
Andy Nyman
,
Cukup
,
European Film
,
horror
,
Jeremy Dyson
,
Martin Freeman
,
REVIEW
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





