Tampilkan postingan dengan label Antoine Fuqua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antoine Fuqua. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE GUILTY

Sekitar dua tahun lalu ada berita tentang wanita korban kekerasan rumah tangga, yang menelepon 911 dengan berpura-pura memesan pizza. Sang petugas cepat tanggap, lalu mengikuti "akting" si pelapor, yang akhirnya berhasil diselamatkan. Artinya, penerima panggilan darurat dituntut bisa berpikir cepat, taktis, pula stabil secara mental. Bayangkan jika di situasi tersebut, ia mendadak kebingungan dan cemas. 

The Guilty, selaku remake film Denmark berjudul sama rilisan tahun 2018, punya skenario demikian. Protagonisnya, Joe Baylor (Jake Gyllenhaal), adalah anggota LAPD yang sedang mendapat jatah jaga malam di pusat panggilan darurat. Dia tampak kalem, cenderung kurang peduli atas laporan-laporan yang masuk. Melalui beberapa telepon yang ia terima, termasuk dari Sersan Bill Miller (disuarakan oleh Ethan Hawke), kita tahu bahwa Joe tengah terlibat kasus (detailnya baru diungkap di babak akhir), di mana persidangan bakal digelar esok hari. 

Penantian tersebut membuat Joe dihantui kecemasan. Inhaler tak pernah lepas dari tangannya, pun ia kesulitan mengontrol emosi, terutama saat datang panggilan dari Emily (Riley Keough), yang mengaku diculik oleh mantan suaminya. Joe berjuang keras mencari keberadaan Emily, namun prosesnya tidak mudah. Selain persoalan teknis, ketidakstabilan psikisnya pun berpengaruh. 

The Guilty berpotensi mengeksplorasi isu soal kinerja aparat yang kurang bertanggung jawab kala bertugas. Tidak hanya terkait panggilan tersebut, juga kasus yang Joe tunggu persidangannya. Kita melihat Joe mengambil beberapa keputusan yang menimbulkan konsekusensi negatif, pun ada situasi luar biasa kelam nan mencengangkan di alurnya (yang cuma bisa kita dengar lewat telepon).  

Tapi, dengan cara yang "sangat Hollywood", naskah buatan Nic Pizzolatto melucuti kegelapan-kegelapan di atas (ironis, karena dibuat oleh penulis True Detective yang menyoroti sisi tergelap manusia), guna menyulapnya jadi kisah "meaningful" berkonklusi penuh harapan, mengenai "broken people helping broken people" dan penebusan dosa. Saya tidak membenci happy ending. Bahkan lebih menyukainya ketimbang akhir menyesakkan. Tapi dalam kasus ini, pilihan tersebut justru menghapus bobot narasinya.

Sebagai thriller, keberadaan Antoine Fuqua (Training Day, Olympus Has Fallen, The Equalizer) merupakan jaminan. Walau mayoritas berlatar di belakang kursi, di mana penonton hanya mendengar deskripsi peristiwa daripada melihatnya langsung, Fuqua tetap mampu menyuguhkan thriller eksplosif meski tanpa ledakan, berkat tempo cepat, teriakan-teriakan, dan twist memuaskan. Bukan (cuma) soal mengejutkan, tapi twist-nya turut menjelaskan beberapa detail yang sempat muncul. Ada "remah-remah roti" disebar di sepanjang durasi.

Ketika menulis "teriakan-teriakan", tentu saya merujuk pada akting Jake Gyllenhaal, yang melepaskan segenap tenaga di tiap kesempatan. Tidak salah. Lagipula, seperti keseluruhan filmnya, metode itu selaras dengan tujuan filmnya, yakni mengubah thriller psikologis Eropa, jadi tontonan ala Hollywood yang lebih bersahabat bagi penonton luas. Ada satu adegan, ketika Joe meminta Emily untuk tenang sambil menarik napas panjang. Secara bersamaan, Joe ikut menarik napas. Entah sadar atau tidak, Joe juga sedang menolong dirinya sendiri. Akting Gyllenhaal lebih subtil di bagian tersebut, dan bagi saya, justru itulah momen terbaiknya.

The Guilty memang solid, baik di departemen penyutradaraan maupun akting, terkait kontribusinya membangun intensitas. Tapi berkaca pada film aslinya, pula potensi penceritaan yang dapat dicapai, film ini ibarat seorang murid yang bisa memperoleh nilai A andai belajar giat, namun memilih jalan lebih mudah, bersantai, dan akhirnya mendapat nilai B. Mencukupi, tapi bisa jauh lebih baik.


(Netflix)

THE EQUALIZER 2 (2018)

Sebagaimana banyak lanjutan kisah film aksi/thriller di luar sana, The Equalizer2, mengusung konsep “This time it’s personal”, menyelipkan elemen balas dendam yang makin mendekatkannya dengan seri Death Wish (versi Charles Bronson). Bedanya, Paul Kersey adalah pria paruh baya biasa sedangkan Robert McCall (Denzel Washington) jelas jagoan tulen, atau lebih tepatnya superhero. Melebihi one man army macam Dwayne Johnson, bukan cuma tak terkalahkan, ia menghabisi lawan-lawannya dengan wajah dingin nihil ekspresi. Dia bisa mengucurkan darah, namun takkan menunjukkan rasa sakit saat terluka.

Beberapa orang mungkin bakal menganggap karakterisasi itu melemahkan ketegangan. Benar, tapi kolaborasi keempat Denzel dan sutradara Antoine Fuqua (Training Day, Olympus Has Fallen, The Equalizer) ini tidak menyasar intensitas mencekik, melainkan kesan keren sehingga penonton bersorak mendukung si jagoan. Robert merupakan pria sedih tapi baik hati, setia mengikuti kompas moral, sekedar menghajar orang-orang yang layak, dari penculik anak, pelaku tindak kekerasan terhadap wanita, gangster perusak generasi muda, dan (pastinya), pembunuh bayaran. Kita lebih dulu diajak membenci mereka, lalu berharap Robert memberi pelajaran setimpal berupa kematian sebrutal dan semenyakitkan mungkin.

Pasca peristiwa fim pertama, Robert telah sepenuhnya menjadi vigilante yang sukarela membasmi kejahatan, yang beberapa informasinya diperoleh dari sahabatnya sekaligus mantan anggota CIA, Susan Plummer (Melissa Leo). Layaknya para superhero, Robert memiliki pekerjaan sebagai samaran, yakni sopir taksi online. Robert gemar menyendiri, tetapi ia menyukai manusia beserta segala kebaikan dalam kisah-kisahnya. Mungkin itu alasannya memilih pekerjaan tersebut, sebab Robert dapat mendengar cerita para penumpang, dan kalau “beruntung”, menemukan kriminalitas untuk dibereskan. Robert bertujuan memperbaiki dunia alih-alih melampiaskan hasrat kekerasan, sehingga jangan heran jika ia menawarkan pengampunan dahulu bagi penjahat sebelum menghabisinya.

Tapi kini, prinsip di atas terpaksa ia tanggalkan karena, well, “This time it’s personal”. Kematian seorang rekan mendorong Robert bersumpah membunuh siapa saja yang terlibat, walau untuk sampai ke titik itu, butuh waktu sampai durasi berjalan sekitar 30 menit. Serupa film pertama, alur di sela-sela aksinya bergerak lambat, mengajak kita mampir bertemu orang-orang di hidup Robert dulu, mulai Sam (Orson Bean) si pelanggan tetap yang tinggal di panti jompo, dan Miles (Ashton Sanders), siswa sekolah seni yang mulai terseret kehidupan gangster. Tidak semuanya penting, khususnya soal Sam yang bisa dihilangkan tanpa menghapus kesan yang coba dibangun, bahwa Robert merupakan pria berhati emas.

Sebelumnya, tempo lambat alur dipakai mempresentasikan kekosongan hati Robert selaku sorotan utama. Sekarang, investigasi Robert mengungkap pelaku pembunuhan sang kawan yang tampil ke depan. Sayangnya bukan investigasi menarik, akibat misteri yang diungkap merupakan hal-hal yang sudah kita ketahui. Penonton mengetahui lebih banyak daripada Robert, baik perihal beberapa remah-remah fakta hingga identitas pelaku yang mudah tercium sedari awal. Beruntung kelemahan tersebut sanggup ditambal oleh gelaran aksi yang ditangani secara solid oleh Fuqua. Solid, karena berdampak. Kita bisa merasakan setiap tulang yang patah, juga sayatan yang mencipratkan darah dalam balutan gore minimalis. Aksi milik The Equalizer 2 bukan hanya filler seadanya, melainkan hiburan yang menghantam, membangunkan andai tempo lambat serta plot lemahnya terasa melelahkan.

Semua bermuara di klimaks, yang berkat jasa naskah buatan Richard Wenk, dengan cerdik melibatkan badai ganas (sudah disiratkan lewat siaran radio sepanjang durasi) selaku latar. Kondisi yang seketika mengangkat tensi momen puncaknya berkali-kali lipat. Sedikit menjauh dari nuansa thriller-aksi gritty yang dibawa filmnya, tapi senang melihat ada hiburan yang memiliki kreativitas dalam berdramatisasi ketimbang sebatas menerapkan formula “beat-em-up-shoot-em-up” ala kadarnya. Dan rasanya tidak perlu bicara banyak tentang Denzel yang di sini melakoni sekuel pertama sepanjang karirnya. Ekspresi plus bahasa tubuhnya memancarkan ketangguhan meyakinkan yang seketika bisa berubah memunculkan kecanggungan pria baik hati murah senyum. Denzel sebagai Robert mampu menghadirkan rasa aman apabila bersamanya, bahkan dalam gang gelap di tengah dunia kelam nan keras seperti sekarang.