Tampilkan postingan dengan label Fajar Yuskemal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fajar Yuskemal. Tampilkan semua postingan
DREADOUT (2019)
Rasyidharry
Setelah Timo Tjahjanto sukses
menguasai 2018, kini giliran partnernya, Kimo Stamboel, menelurkan DreadOut, adaptasi gim video lokal
berjudul sama. Sekadar info, ini bukan debut penyutradaraan Kimo, sebab 15
tahun lalu, bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Indonesia di Australia, ia
sempat membuat horor berjudul Bunian.
Menyaksikan karir solo Timo dan
Kimo, kita bisa melihat bahwa (naturally) keduanya meiliki kemiripan gaya, dari
gerakan kamera, kecintaan akan situasi kacau, dan tentunya darah. Sayang,
perihal pemaksimalkan gaya tersebut, Kimo belum setara dengan Timo. Terasa ada
kebingungan di beberapa kesempatan. Ditambah naskah lemah tulisannya sendiri
yang hampir layak disebut “konyol”, DreadOut
lebih banyak menghasilkan kekecewaan.
Tapi saya pastikan, ini bukan satu
lagi horor lokal asal-asalan yang memancing pusing kepala. DreadOut digarap sungguh-sungguh, dan itu dapat kita saksikan
langsung begitu momen pembukanya menampilkan ritual bernuansa hellish yang bisa jadi bakal membuat
penonton mengira (atau berharap) DreadOut
adalah “saudara sedarah” dari Sebelum
Iblis Menjemput.
Lalu kisahnya melompat satu dekade,
ketika kita bertemu Linda (Caitlin Halderman), siswi SMA yang bekerja di
minimarket demi menyangga perekonomian keluarga. Di tengah satu hari kerja yang
berat, Linda berkenalan dengan kakak kelasnya, Erik, yang dipernakna Jefri
Nichol dalam pesona khasnya selaku “chemistry
maker”. Interaksi pertama keduanya semanis komedi-romantis remaja, atau
kalau boleh saya bilang, “Film Jefri Nichol”. Faktanya, selain Caitlin, turut
hadir Susan Sameh. Ganti Marsha Aruan dengan Amanda Rawles, akan tercipta film
ansambel “Jefri Nichol’s love interests”.
Erik bersama empat kawannya,
Jessica (Marsha Aruan), Alex (Ciccio Manassero), Dian (Susan Sameh), dan Beni
(Irsyadillah), berencana merekam video viral dengan memasuki suatu gedung
angker terkenal. Mereka butuh bantuan Linda, karena ia mengenal sang penjaga
gedung, Kang Heri (Mike Lucock). Tidak butuh waktu lama bagi keenam remaja ini
menerobos ruang terlarang yang kita saksikan di awal film, di mana lambang
ouroboros terhampar lantai.
Ditemukan pula beberapa gambar
misterius bertuliskan huruf Sansekerta dan Jawa, juga selembar kertas kosong,
yang ternyata menyimpan mantera rahasia yang hanya mampu dilihat dan dibaca
oleh Linda. Begitu mantera dirapalkan simbol ouroboros tadi berubah menjadi
kolam tanpa dasar selaku gerbang menuju dunia lain. Banyak hal menarik
sekaligus menyeramkan dapat terjadi di sana, namun alih-alih mengeksplorasinya,
atau setidaknya melepaskan lebih banyak spesies hantu—yang semuanya memiliki
desain keren—naskahnya memilih jalan kurang kreatif nan repetitif guna mengisi
durasi.
Rutinitas alur DreadOut kurang lebih demikian: Kolam terbuka—karakter tercebur—kolam
tertutup—karakter berlari—karakter jatuh ke lubang—ulangi. Kimo begitu
mencintai adegan “jatuh”, ia sampai lupa mengembangkan cerita yang layak,
dilengkapi aturan, pembangunan mitologi, serta logika yang layak pula. Anda
bakal dibuat garuk-garuk kepala oleh beberapa elemen tanpa kejelasan, atau
tertawa tatkala filmnya coba menjelaskan elemen lain secara menggelikan.
Saya akan berikan beberapa contoh.
Sepanjang film, Linda mampu melukai para hantu menggunakan cahaya flash dari
kamera telepon genggamnya. Menurut Beni, hal itu karena, Linda dianugerahi “bakat”
sebagaimana mendiang sang ibu (Salvita Decorte). Tapi kenapa harus flash?
Apakah perwujudan bakat supernatural turut menyesuaikan kebiasaan generasi
kekinian? Contoh kedua ada di klimaks. Berbeda dibanding banyak masyarakat Indonesia,
tokoh-tokohnya bersedia antre untuk berenang guna kabur dari kejaran hantu
ketimbang langsung melompat bersamaan. Momen itu sama lucunya dengan adegan “botol
air” di Tusuk Jelangkung Di Lubang Buaya
(2018).
DreadOut menghasilkan setumpuk kekonyolan, tetapi Kimo sendiri memang
enggan menjadikan filmnya terlampau serius. Dia sadar sedang membuat tontonan
yang diharapkan mampu memancing riuh rendah penonton (teriakan, tawa, apa pun).
Naskahnya pun menyimpan sederet kalimat “ajaib” yang berfungsi sebagai “ranjau
tawa” selain penampilan komedik Mike Lucock. Walau pengadeganan Kimo kerap
tidak pasti sehingga membuat tone-nya
membingungkan, tak bisa disangkal, situasi ala b-movie terebut punya kadar hiburan memadahi.
Perihal membangun tensi lewat
kekacauan pun Kimo belum konsisten. Terkadang filmnya jadi perjalanan
menegangkan beroktan tinggi disokong musik penggedor jantung gubahan Fajar
Yuskemal (The Raid 2: Berandal, Sebelum
Iblis Menjemput, Apostle) seperti nampak ketika Hantu Kebaya Merah (Rima
Melati Adams) menginvasi dunia manusia. Tapi DreadOut lebih sering tanpa taring, dengan penampakan hantu yang
nyaris nihil dampak, serta dialog-dialog yang sukar dicerna, sewaktu teriakan pemain
saling bertubrukan, tanpa kepekaan mengatur artikulasi maupun timing.
Januari 05, 2019
Caitlin Halderman
,
Ciccio Manassero
,
Fajar Yuskemal
,
horror
,
Indonesian Film
,
Irsyadillah
,
Jefri Nichol
,
Kimo Stamboel
,
Kurang
,
Marsha Aruan
,
Mike Lucock
,
REVIEW
,
Susan Sameh
APOSTLE (2018)
Rasyidharry
Gareth Evans menantang dirinya
sendiri melalui Apostle. Setelah
tancap gas dengan 3 film termasuk dwilogi The
Raid yang mengubah skena film aksi dunia, Evans membuat period horror yang di dalamnya mengalir
DNA serupa The Wicker Man (versi
1973, bukan remake konyol Nicolas
Cage). Apostle sama-sama menampilkan
protagonis pria dengan masalah psikis yang pergi ke sebuah pulau tempat
kelompok cult misterius tinggal, guna
menyelamatkan seorang wanita. Dan serupa horor klasik karya Robin Hardy
tersebut, Evans memilih gaya slow burn.
Pria di balik tontonan pemacu
adrenalin membuat horor slow burn
adalah sesuatu yang tak pernah saya duga. Menulis naskahnya sendiri, Evans
mengisahkan soal Thomas Richardson (Dan Stevens), yang berhenti menjadi
misionaris pasca tragedi yang nyaris membunuhnya. Nyawa Thomas selamat, namun
keyakinannya kepada Tuhan yang akhirnya terbunuh. Sempat hilang dan disangka
tewas, kini Thomas mesti mencari adiknya, Jennifer (Elen Rhys) yang diculik
sekelompok cult demi uang tebusan.
Thomas harus menemukan Jennifer sebelum cult
yang dipimpin Malcolm (Michael Sheen) itu membongkar identitasnya.
Sejam pertamanya bergerak lambat,
dengan hanya sekelumit penampakan misterius serta satu sekuen aksi pendek
berdarah mengisi di sela-sela. Sisanya, Evans mengajak penonton mengobservasi
beberapa sudut pandang—atau tepatnya kritik—di kepalanya perihal sisi gelap
agama. Ada mantan misionaris yang membenci Tuhan, juga Nabi palsu yang
merepresentasikan keserakahan umat manusia, yang tak pernah ragu merusak
semesta demi kepentingan personal, bahkan “mengeksploitasi Tuhan”.
Dan Stevens (The Guest, Beauty and the Beast) memberi performa intens, yang
meski takkan membawanya menyabet piala penghargaan, tampak sempurna di tengah
bangunan dunia sarat kegilaan milik Evans, meski studi terhadap karakter Thomas
yang coba Evans jabarkan tampil terlalu dangkal. Ada pula usaha merangkai misteri
terkait kebenaran soal misteri di pulau tersebut yang penyampaiannya kurang
mengikat. Pertama, karena rangkaian alurnya tak cukup tricky untuk menggiring penonton terus mengajukan pertanyan. Kedua,
sebagaimana telah kita saksikan di The
Raid 2: Berandal (2014), Evans bukanlah penulis yang baik, khususnya
diakibatkan tendensi bercerita terlalu banyak, membentangkan konflik selebar
mungkin tanpa fokus jelas.
Ketimbang menggali satu-dua konflik
lebih jauh, Evans terus membeberkan subplot demi subplot tak perlu, di mana
masing-masing tampil tanpa kedalaman, bahkan saling melemahkan karena kurangnya
kesempatan eksplorasi, tatkala Evans mengutamakan kuantitas di atas kualitas
(durasinya membengkak sampai 130 menit). Beruntung, sewaktu “Gareth Evans si
penulis” terbata-bata, “Gareth Evans si sutradara” masih berjaya. Kepekan
visualnya sanggup menciptakan atmosfer mengerikan sekaligus disturbing tanpa perlu bergantung pada jump scare.
Keberhasilan tersebut juga jasa
sinematografer langganan Evans, Matt Flannery (Merantau, dwilogi The Raid),
yang bukan cuma menangkap keindahan panorama Wales, pula teror menggganggu di
desa tersembunyinya. Tambahkan musik unik garapan duo Fajar Yuskemal (The Raid, Headshot, Killers) dan Aria
Prayogi (The Raid, Headshot, Wiro
Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212), Apostle mungkin terlampau panjang dan sesekali melelahkan, namun
tidak pernah membosankan.
Kemudian kita tiba di satu jam
terakhir saat sang sutradara melepaskan segala kegilaan kaya gore yang akan membuat penontonnya
antara menutup mata menahan ngilu atau bersorak kegirangan. Seperti biasa camerawork Flannery efektif menyuntikkan
intensitas melalui pergerakan dinamis maupun getaran manic yang memunculkan sense of urgency yang rasanya takkan
mampu diikuti penata kamera lain. Apostle
bukan sadisme indah layaknya The Raid.
Ini adalah sajian “tebas-dan-tusuk” dengan kebrutalan mentah. Eksperimen Evans
mungkin belum sepenuhnya berjalan mulus, tapi mungkin hanya dia yang cukup
berani memadukan dua wajah horor yang berlawanan semacam ini.
Oktober 16, 2018
Aria Prayogi
,
Dan Stevens
,
Elen Rhys
,
Fajar Yuskemal
,
Gareth Evans
,
horror
,
Lumayan
,
Matt Flannery
,
Michael Sheen
,
REVIEW
SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018)
Rasyidharry
Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring
dengan peningkatan kuantitasnya belakangan? Kemungkinan besar karena mayoritas
pembuatnya, meski sering menonton horor (who
doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami
seluk beluknya akibat miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam
cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher sampai supranatural. Selain Joko Anwar yang sudah kita
saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi
Setan, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama
Kimo Stamboel) juga Safe Haven
(berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 (2013).
Harapan publik, termasuk saya, kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput, luar biasa
besar. Apalagi setelah menanti hampir setahun, belum ada horor lokal mumpuni
penerus prestasi Pengabdi Setan. Sebelum Iblis Menjemput dibuat atas
dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror datang dari entitas jahat yang merasuki manusia,
mengubah mereka jadi makhluk buas seperti Deadite, lengkap dengan riasan serupa
(plus sedikit pengaruh dari Pazuzu-nya The
Exorcist?), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar dipakai
Raimi.
Ceritanya masih memakai formula “cabin in the wood”, tapi alih-alih sekelompok remaja penuh hasrat,
tokohnya terdiri atas anggota keluarga disfungsional. Ketika Lesmana (Ray
Sahetapy), mantan pengusaha sukses yang telah bangkrut terbaring di rumah sakit
akibat penyakit misterius, puteri dari pernikahan pertamanya, Alfie (Chelsea
Islan) terpaksa kembali pulang. Alfie masih terluka karena dahulu Lesmana
meninggalkan ia dan ibunya, yang kemudian tewas bunuh diri, untuk menikahi
artis ternama, Laksmi (Karina Suwandi). Pernikahan kedua ini memberi Lesmana
tiga buah hati: Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan si bungsu Nara
(Hadijah Shahab).
Berniat menguasai harta sang suami, Laksmi mengajak ketiga
anaknya mengunjungi vila milik Lesmana guna mencari barang berharga yang bisa “diamankan”.
Tapi mereka, termasuk Alfie yang datang karena enggan membiarkan Laksmi berbuat
seenaknya, justru menemukan rahasia mengerikan serta teror mematikan yang
disembunyikan sang ayah. Jangan berharap rekonsiliasi emosional di antara
mereka. Melalui Sebelum Iblis Menjemput,
Timo hanya ingin memindahkan neraka dan segala isinya ke dunia manusia. Menghadirkan
kengerian audiovisual merupakan tujuan tunggal film ini.
Departemen audio, selain lagu bernuansa lawas berjudul Hampa, diisi scoring karya Fajar Yuskemal (The
Raid, Killers) yang mengkombinasikan denting piano ritmis bernada tinggi di
satu kesempatan, dengan bunyi synth
yang memunculkan kesan serupa music score era 70-80an macam Tubular Bells (lagu tema The Exorcist) di kesempatan lain. Tidak
heran, sebab sengaja atau tidak, Sebelum
Iblis Menjemput juga mengingatkan pada film buatan William Friedkin itu. Apabila
Friedkin sesekali menyelipkan “wajah iblis” secara sembunyi-sembunyi, Timo pun
sempat memasukkan sekilas penampakan yang mungkin penonton lewatkan (hint: Chelsea Islan dan bus).
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan seputar film ini
tentu terkait kadar gore. Sebab berkat
itulah karya Timo banyak digandrungi pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput boleh tidak seeksplisit Rumah Dara, pun tak menumpahkan darah
sebanyak itu, namun cukup untuk membuat anda meringis ngeri sambil menutup
mata. Beberapa elemen gore juga
berfungsi melengkapi jump scare, yang
Timo kemas agar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret tubuh
karakternya, kita melihat kuku-kuku si karakter terlepas, berdarah, sebagai
akibat usaha melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada usaha nyata
mendatangkan maut bagi korbannya.
Timo, seperti sutradara horor bertalenta lain, pandai memainkan
ekspektasi. Salah satu sekuen paling menegangkan, melibatkan Nara di kamar
tidur. Timo paham kapan penonton menduga jump
scare bakal menyerbu. Berbekal itu, saya dipaksa menahan nafas,
terombang-ambing di tengah penantian tidak pasti, sambil secara perlahan, dibarengi
keheningan, wajah asli teror diungkap. Sedangkan alur berjalan penuh
kesabaran, terkadang pelan, tetapi tak pernah melepakan cengkeraman berkat ketelatenan Timo, yang turut menulis naskahnya, menjabarkan poin-poin kisah secara bertahap. Pemilihan timing-nya tepat, kapan mesti menggeber kengerian, kapan mesti berhenti sejenak guna bernarasi. Begitu teror diluncurkan, hadrilah pertunjukan mengenai cara
memacu adrenalin berbekal kekacauan situasi.
Pujian wajib diberikan untuk tiga pemeran wanitanya. Berkat
mereka, “Neraka Dunia” ciptaan Timo tampak meyakinkan. Chelsea Islan akhirnya
menemukan film yang sempurna memfasilitasi gaya aktingnya, yang acap kali terkesan
berlebihan di berbagai drama. Di sini luapan emosinya sesuai dengan kengerian
yang karakternya hadapi. Pevita, walau belum sekuat rekannya, mampu mengangkat
tensi klimaks di mana sosok Maya berperan besar. Walau menyaksikan keduanya
berbagi layar bagai impian yang jadi kenyataan, Karina Suwandi muncul sebagai
kekuatan tak terduga. Sang aktris menggila, bak pelayan buas Bafomet yang bertugas
mengacaukan seisi dunia.
Kelemahan Sebelum Iblis
Menjemput terletak di third act
yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo menolak menginjak
pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110
menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, ketika 90an
menit saja rasanya cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk. Adegan-adegan yang
muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. Sama seperti keseluruhan
filmnya, yang meneruskan tongkat estafet dari Pengabdi Setan untuk menempatkan standar tinggi terhdap film horor Indonesia.
Semoga tidak perlu menunggu satu tahun lagi sampai judul memikat berikutnya
menjemput.
Agustus 05, 2018
Bagus
,
Chelsea Islan
,
Fajar Yuskemal
,
Hadijah Shahab
,
horror
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Pevita Pearce
,
Ray Sahetapy
,
REVIEW
,
Samo Rafael
,
Timo Tjahjanto
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





