Tampilkan postingan dengan label Gunnar Nimpuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunnar Nimpuno. Tampilkan semua postingan
THE NIGHT COMES FOR US (2018)
Rasyidharry
The Night Comes for Us dibuat oleh pria dewasa gila yang
mewujudkan mimpi basah masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan
kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia
pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar
belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah,
kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada
orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang
hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh:
The Story of Ricky.
Saya membubuhkan tanda petik pada
kata “realistis” karena sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo
Tjahjanto sepanjang 2018 ini jelas tidak memerlukan logika, baik dalam
pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa
melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo bangun adalah
dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan makanan
sehari-hari manusia di dalamnya . Wajar, sebab dalam dunia ini Triad memegang
kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.
Ito (Joe Taslim) merupakan salah
satu anggota Six Seas, enam pria dan wanita pilihan dengan identitas misterius
yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti
menghalalkan segala cara agar semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai
seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik bernama Reina (Asha
Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, lalu berbalik menghabisi anak
buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya,
termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.
Berikutnya adalah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan
sedikit flashback, sedikit
pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita
tulisan Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi dingin tanpa emosi, kecuali saat
Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati
film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan
kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal mempengaruhi
pertumbuhannya.
Tapi itu cerita di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau
tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini adalah
proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana dia bisa
membungkus tiap kematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan,
hingga tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan
darah bahkan potongan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita
melihat serpihan tubuh mereka.
Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas,
Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi
buatan Iko Uwais—yang seperti biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi
dinamika serta membuat penonton merasakan dampak dari beberapa pukulan dan
tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi (The
Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah
pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci
untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.
Sulit memilih mana pertarungan
terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama saat Fatih (Abimana
Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan
suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback
luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus
kematangan menangani dialog yang tak terduga muncul di film macam ini.
Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian
anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali bila ada film lanjutan),
Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator
(Julie Estelle). Bermula di kamar lalu berlanjut ke lorong penuh potongan tubuh
manusia, sekuen ini membuktikan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan
yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah),
Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi
membuktikan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia saat ini. Karakter yang
bisa memutus jari tangannya sedemikian santai seperti The Operator jelas perlu
dibuatkan filmnya sendiri.
Ketiga tentu saja klimaks Joe
melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna.
Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang
tak kalah “meledak”, sama-sama menembus batas,
baik dari sisis karakternya yang bertarung hingga titik (atau banjir?) darah
penghabisan, maupun perjuangan keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi
menjadikan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama,
namun The Night Comes for Us
merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati saya
kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna
menikmati pertarungannya secara terpisah.
Oktober 20, 2018
Abimana Aryasatya
,
Action
,
Bagus
,
Dian Sastrowardoyo
,
Dimas Anggara
,
Gunnar Nimpuno
,
Hannah Al-Rashid
,
Iko Uwais
,
Indonesian Film
,
Joe Taslim
,
Julie Estelle
,
REVIEW
,
Timo Tjahjanto
,
Zack Lee
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

