Tampilkan postingan dengan label Dian Sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan

REVIEW - QUARANTINE TALES

Dibuat semasa pandemi dengan berbagai keterbatasan, rupanya tak menghalangi Quarantine Tales menjadi salah satu omnibus terbaik Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Padahal, dari kelima sutradara yang membidani lima segmen pengisi 87 menit durasinya, hanya Ifa Isfansyah yang berpengalaman menggarap film feature. Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenriyagelli lebih dikenal di skena film pendek, sedangkan seperti kita tahu, Dian Sastrowardoyo baru menjalani debutnya.

Alasan Quarantine Tales menonjol dibanding sesamanya adalah perbandingan kualitas tiap segmen yang cenderung seimbang, sehingga dinamikanya terjaga secara konsisten. Nougat yang selain disutradarai, juga ditulis sendiri oleh Dian Sastrowardoyo, membuka Quarantine Tales lewat kisah tiga saudari, yang tumbuh bersama, namun seiring pertambahan usia, hubungan mereka makin renggang, dan cuma berkomunikasi lewat video call.

Ubay (Marissa Anita) menjauh dari kedua adiknya selepas menikahi seorang pria yang mengontrol hidupnya, si bungsu Deno (Faradina Mufti) tengah menyelesaikan kuliah, sementara Ajeng (Adinia Wirasti) yang masih tinggal di rumah mendiang orang tua mereka, jadi figur yang berusaha menyatukan keluarganya. Bukan kejutan bila saya menyebut bahwa ketiga aktrisnya merupakan penggerak utama Nougat. Adinia yang lebih pendiam, Faradina yang ceria, dan Marissa yang cepat panas, membuat saya bersedia duduk berjam-jam mendengarkan obrolan ketiganya. Di ranah penulisan, daripada mengambil latar pandemi, Dian dengan cerdik memilih melahirkan komparasi. Tanpa COVID pun, kita sudah berjarak.

Prankster selaku segmen kedua merupakan yang terlemah. Kisah tentang “Youtuber prank” bernama Didit Iseng (Roy Sungkono) yang tengah melakukan siaran langsung bersama Aurel (Windy Apsari) sang bintang tamu ini sejatinya tidak buruk, hanya saja dipenuhi keklisean genre revenge horror/thriller. Naskah buatan sang sutradara, Jason Iskandar, perlu menyediakan rencana balas dendam yang lebih pintar bagi karakternya, yang tak membuatnya terkesan “menggali kuburan sendiri”. Paling tidak, hasrat terpendam penonton untuk menghukum para prankster dunia nyata mampu diwakili oleh Jason.

Segmen Cook Book, yang ditulis Ifa Isfansyah bersama Ahmad Aditya, menyusul kemudian. Mengisahkan usaha Chef Halim (Verdi Solaiman) menulis buku resep di tengah masa karantina, Cook Book menyelipkan salah satu tragedi bangsa, dalam penuturan mengenai kerinduan terhadap “ikatan”. Di tengah kesepian akibat karantina, rasa itu menguat, dan kita mulai merindukan sosok-sosok tercinta, termasuk yang sudah meninggalkan kita. Cook Book menyajikan kepahitan yang rasanya dapat dipahami oleh banyak penonton.

Happy Girls Don’t Cry milik Aco Tenriyagelli adalah segmen favorit saya. Sri Arawinda Kirana memerankan Adin, gadis remaja yang keluarganya diterjang masalah bertubi-tubi akibat COVID. Adiknya (Muzakki Ramdhan) baru saja meninggal, sementara kedua orang tuanya (diperankan Teuku Rifnu Wikana dan Marissa Anita) terlilit begitu banyak hutang. Adin bermimpi memenangkan giveaway dari Youtuber favoritnya demi memperbaiki kondisi finansial keluarga. Tapi tatkala impian itu terwujud, masalah lebih besar justru menghampiri.

Aco menghadirkan satir tajam nan menggelitik perihal eksploitasi kemiskinan di media sosial, pada masa di mana orang-orang berharap memperoleh “uang kaget”. Sindirannya adil, sebab Aco menyentil seluruh pihak, baik kaya maupun miskin. Anda bakal berujar, “Ah, segmen ini memihak A”, kemudian, “Oh, ternyata B”, sebelum akhirnya menyadari, tidak ada satu pun yang “dimenangkan” oleh Happy Girls Don’t Cry. Tidak ada tawa yang tak dibarengi keperihan di segmen ini.

Sebagai penutup adalah The Protocol karya Sidharta Tata, di mana seorang pria (Abdurrahman Arif) sedang kelabakan, begitu mengetahui rekan seperjalanannya, Icuk (Kukuh Prasetya), meninggal di dalam mobil setelah memperlihatkan gejala COVID. Berikutnya, kita diperlihatkan pemandangan-pemandangan menggelikan kala sang protagonis kebingungan, harus mengurus jenazah temannya dengan cara apa. The Protocol begitu efektif memancing tawa di menit-menit pertama, namun ketika humor setipe diulang terus-menerus, kekuatannya perlahan memudar. Memang bukan penutup luar biasa, paling tidak segmen ini sukses mengakhiri sebuah film mengenai masa sulit dengan tawa bahagia.


Available on BIOSKOP ONLINE

REVIEW - GURU-GURU GOKIL

Guru-Guru Gokil menandai beberapa hal. Inilah film panjang Indonesia perdana yang rilis selepas pandemi, sekaligus jadi yang pertama mengubah perilisan layar ke layanan streaming (berikutnya judul-judul MD dan Falcon bakal mengambil langkah serupa di Disney+ Hotstar). Pun ini menandai debut Dian Sastrowardoyo sebagai produser, di samping turut meramaikan jajaran cast filmnya. Jajaran trivia di atas sudah secara otomatis membuat filmnya tercatat di buku sejarah perjalanan industri perfilman tanah air. 

Tapi apabila khusus membicarakan pencapaian dari sisi kualitas, apakah Guru-Guru Gokil juga spesial? Film keempat sutradara Sammaria Simanjuntak (Cin(T)a, Demi Ucok, Sesat) ini sebenarnya serupa dengan komedi-komedi ringan yang membanjiri layar bioskop kita tiap Kamis, mampu menghibur lewat beberapa tawa sepanjang durasi, namun penceritaan yang kurang solid membuatnya mudah terlupakan. Tapi tidak bisa dipungkiri, Guru-Guru Gokil sedikit mengobati kerinduan atas karya teranyar sineas tanah air, setelah absen sekitar lima bulan lamanya. 

Gading Marten memerankan Taat Pribadi, pria kampung yang nekat mengadu nasib ke ibukota, akibat enggan mengikuti jejak ayahnya, Pak Purnama (Arswendi Bening Swara), yang berprofesi sebagai guru. Dia susah memahami, mengapa ayahnya, bukan cuma betah mengajar di kampung dengan gaji minim, juga menikmatinya. Pak Purnama adalah guru favorit, yang mana membuat puteranya bertanya, kenapa sang ayah seolah lebih memedulikan dan mendengarkan murid-murid ketimbang anaknya sendiri?

Sayang, sebagaimana banyak perantau, Taat mengalami kegagalan. Tanpa ijazah apalagi uang, ia terpaksa pulang kampung. Dasar nasib, usahanya mencari pekerjaan justru membawa Taat menjadi guru sejarah pengganti di SMA sang ayah. Tentu Taat tidak sedikitpun mengerti sejarah, pula metode mengajar. Tapi bukan cuma itu masalahnya. Suatu sore, dua perampok membawa kabur gaji para guru. Pelakunya adalah anak buah Pak Le (Kiki Narendra), mafia setempat yang memiliki banyak "jaringan" sehingga susah diringkus tanpa bukti kuat. 

Taat berinisiatif mengusut kasus itu bersama tiga guru lain: Rahayu (Faradina Mufti) si guru matematika merangkap kepala tata usaha merangkap penjaga perpustakaan (plus mantan satpam sekolah); Nirmala (Dian Sastrowardoyo) si guru kimia yang tengah hamil tua, dan biarpun cerdas, gampang kehilangan fokus; Nelson (Boris Bokir) yang diam-diam menyukai Nirmala.

Tentu saja terjalin subplot romansa antara Taat dan Rahayu, yang hadir memuaskan berkat dinamika menarik Gading-Faradina dalam memerankan dua individu bertolak belakang. Taat selalu bercanda, sedangkan Rahayu ibarat "rem" yang menahan ketidakseriusan Taat. Ada romantisme manis yang subtil kala Rahayu memelototi Taat, karena si "guru gokil" tidak bisa menjaga mulutnya. Sebuah tatapan yang hanya bisa muncul saat dinding pembatas antara dua individu mulai runtuh, atau malah sudah sepenuhnya hilang.

Berbeda dengan Rahayu, saya tak mengeluh ketika Taat, maupun tokoh-tokoh lain, silih berganti menampilkan tingkah yang memancing tawa. Di situlah kekuatan utama Guru-Guru Gokil. Talenta Gading tak perlu diragukan. Materi-materi yang bisa berakhir cringey (sewaktu Taat menggoda Rahayu sambil mencuci piring misal) dijadikannya jenaka. Tapi tidak ada pencuri perhatian sebesar Dian Sastrowardoyo, dengan jerawat memenuhi wajah, dan keluhan-keluhan soal rengginang. Menghibur. 

Tapi Guru-Guru Gokil ingin berakhir lebih dari sekadar menghibur. Ada nilai-nilai soal guru selaku pahlawan tanpa tanda jasa. Ada hubungan guru dan guru, guru dan murid, pula ayah dan anak. Ada banyak hal. Terlalu banyak, sampai naskah buatan Rahabi Mandra (Hijab, Night Bus) kewalahan menyatukannya. Filmnya berusaha menekankan kegokilan para guru, sampai lupa menggambarkan mereka sebagai guru yang berbagi setumpuk pelajaran serta kebersamaan berharga dengan para murid, agar babak ketiganya, tatkala kedua pihak akhirnya bersatu, punya dampak emosi. Satu sesi memecahkan bentuk tato yang bergulir singkat tidaklah cukup.

Kenapa Pak Purnama (dan banyak guru lain) bahagia menjalani profesi mereka? Taat menanyakan itu. Mungkin sebagian dari penonton pun demikian. Filmnya berhasil memberi jawaban. Apresiasi para murid merupakan alasannya. Tapi, walau adegan saat Taat menerima hadiah "kecil" dari muridnya jadi pemandangan sederhana yang hangat (dibantu reaksi natural Gading), ada juga beberapa momen berlebihan yang dipaksa hadir demi menguatkan pesan tersebut. Murid SMA mana yang sedemikian mencintai suatu pelajaran hingga serempak bersorak dan bertepuk tangan dalam kelas? 

Sedangkan subplot ayah dan anak, meski menyimpan permasalahan serupa soal minimnya porsi eksplorasi, setidaknya memberikan resolusi emosional berkat kepiawaian kedua pemerannya menyampaikan rasa. Arswendi secara subtil melalui mata yang berbicara banyak mengenai isi hati, sedangkan Gading lebih "meledak". Hasilnya saling melengkapi, mewakili dinamika seorang anak yang ingin didengar, dan ayah yang menyimpan harapan bercampur kekecewaan. 

Di departemen akting lain, Asri Welas tampil lebih serius. Hasilnya cukup solid, meski di antara kekonyolan-kekonyolan filmnya, pilihan itu terasa menyia-nyiakan potensi. Sementara, setelah kemunculan singkat nan berkesan di Perempuan Tanah Jahanam, akhirnya Faradina mendapat kesempatan melakoni peran utama. Kesempatan yang dimanfaatkan secara maksimal lewat kemampuan memberikan warna bagi sosok Rahayu, membuatnya tak tenggelam berdiri di samping tokoh-tokoh yang jauh lebih "gila". 

Available on NETFLIX

MILLY & MAMET (2018)

Kunci untuk menikmati Milly & Mamet sederhana saja. Jangan mengharapkan suksesor mumpuni seperti Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), apalagi romansa legendaris yang tak lekang oleh zaman macam Ada Apa Dengan Cinta? (2001). Ini adalah hiburan sekali waktu, di mana alih-alih beradaptasi dengan dunia AADC, Ernest Prakasa selaku sutradara dan penulis naskah bersama sang istri, Meira Anastasia, membawa film ini menuju dunia khasnya sendiri. Di situ, romantika bukanlah dongeng, melainkan penggambaran kehidupan di sekitar kita, hanya saja ditambah banyak tebaran ranjau komedi.....sangat banyak.

Adegan pembukanya bertempat di sela-sela film pertama dan kedua, ketika di sebuah reuni, Mamet (Dennis Adhiswara) bertemu Milly (Sissy Prescillia) dan ketiga sahabatnya: Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal). Sekuen ini berfungsi dengan baik untuk menunjukkan mengapa Mamet—meski bukan termasuk pria tampan—mampu mencuri hati Milly lewat kebaikan hati serta kejenakaan yang memberi kenyamanan. Sebuah momen “kecil”, namun Ernest bisa meniupkan magisnya romantisme saat dua insan menyadari berseminya cinta lewat peristiwa sederhana.

Beberapa tahun berselang, keduanya telah menikah dan memiliki seorang bayi. Milly menjadi ibu rumah tangga, sementara Mamet bekerja di pabrik konveksi milik mertua (Roy Marten), mengubur impian menjadi chef demi menghidupi keluarga. Tapi kebahagiaan Mamet kurang utuh karenanya. Sampai Alex (Julie Estelle), kawannya semasa kuliah, datang mengajaknya membuka restoran bermodalkan suntikan uang sang kekasih, James (Yoshi Sudarso). Hasrat Mamet meraih mimpi pun membara lagi.

Tercapainya impian Mamet rupanya bukan akhir permasalahan. Sebaliknya, itulah permulaan masalah baru. Mamet bisa melakukan hal yang ia cintai, tapi bagaimana dengan sang istri? Dari sinilah elemen dramatik film ini mencapai titik terbaik. Walau dipresentasikan secara sederhana, konfliknya cukup efektif mengingatkan kita betapa pernikahan bukan hubungan satu arah di mana seseorang cuma memikirkan kebahagiannya sendiri.

Semakin sibuk Mamet di restoran, semakin kesepian pula Milly. Ditambah kerepotan mengurus buah hati, hidupnya bertambah melelahkan sekaligus membosankan. Tapi begitu Milly mengutarakan niat bekerja di luar (menggantikan posisi Mamet di pabrik ayahnya), Mamet melarang. “Siapa yang mengurus anak?”, tanyanya, sebelum melontarkan kalimat paling menohok, “Hal terbaik yang bisa kamu lakuin sekarang adalah di rumah jaga anak!”. Pada titik ini Mamet menjadi orang yang tidak ia suka, yang selama ini melucuti kebahagiaannya: si ayah mertua.  

Konflik tersebut menyimpan relevansi dengan problematika pernikahan sembari menyinggung perihal hak perempuan, yang sayangnya, hanya berupa paparan permukaan. Konklusinya pun terlalu mengandalkan faktor eksternal sebagai solusi masalah dua tokoh utama, serta terkesan melakukan simplifikasi khususnya terkait pertikaian Mamet dengan sang mertua. Setidaknya, elemen dramanya bekerja cukup baik berkat solidnya Sissy bermain emosi. Walau Dennis perlu memperbaiki akting dramatiknya, ia masih piawai melakoni sisi keluguan serta kebaikan hati Mamet. Chemistry keduanya jelas tidak perlu diragukan. Mereka membuat dua titular character tetap menonjol meski dikelilingi banyak tokoh pendukung.

Seperti sudah disebutkan, tersebar begitu banyak ranjau komedi. Faktanya, hampir seluruh karakter pendukung bertugas melucu kecuali Julie Estelle, Surya Saputra, dan Roy Marten. Bahkan Yoshi turut mendapat suatu running gag yang untungnya cukup menggelitik. Alhasil, mudah menebak ketika seseorang hendak melontarkan banyolan, bahkan sebelum ia buka mulut. Mayoritas humor berada dalam lingkup permainan kata, saling ejek dengan celetukan-celetukan absurd khas para komika, atau ketidakmampuan karakternya memahami istilah “rumit” (mojito, dan lain-lain). Seiring durasi bergulir dan semakin banyak lelucon setipe dilontarkan, daya bunuhnya makin berkurang. Hasil akhirnya hit-and-miss.

Apalagi, serupa Susah Sinyal (2017), Ernest lagi-lagi memakai teknik “senapan mesin” bagi penghantaran komedinya, membombardir penonton lewat humor sesering mungkin, berharap beberapa mendarat di sasaran. Beruntung, sewaktu tepat sasaran, efeknya tidak main-main. Saya tidak terkejut ketika Dinda Kanyadewi kembali unjuk gigi memerankan karakter absurd, namun lain cerita dengan Isyana Sarasvati sebagai sekretaris aneh (dengan hewan peliharaan tak kalah aneh). Isyana sanggup mengangkangi komedian-komedian yang jauh lebih senior dalam debut layar lebarnya, bersinar lebih terang, bahkan dibanding keseluruhan filmnya.

THE NIGHT COMES FOR US (2018)

The Night Comes for Us dibuat oleh pria dewasa gila yang mewujudkan mimpi basah masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” karena sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini jelas tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo bangun adalah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan makanan sehari-hari manusia di dalamnya . Wajar, sebab dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam pria dan wanita pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara agar semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik bernama Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, lalu berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya adalah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita tulisan Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi dingin tanpa emosi, kecuali saat Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal mempengaruhi pertumbuhannya.

Tapi itu cerita di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini adalah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana dia bisa membungkus tiap kematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, hingga tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan potongan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang seperti biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta membuat penonton merasakan dampak dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit memilih mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama saat Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani dialog yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali bila ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar lalu berlanjut ke lorong penuh potongan tubuh manusia, sekuen ini membuktikan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi membuktikan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia saat ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai seperti The Operator jelas perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja klimaks Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung hingga titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun perjuangan keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi menjadikan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

ARUNA & LIDAHNYA (2018)

Saya teringat satu adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 ketika Cinta diam-diam tersipu di samping Rangga yang tengah menyetir. Momen itu menunjukkan kepiawaian Dian Sastrowardoyo bertutur secara non-verbal dalam situasi menggelitik. Aruna & Lidahnya, yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak praktis menampilkan bagaimana jadinya apabila adegan beberapa detik itu dijadikan suguhan 106 menit. Hasilnya sedap, bahkan lebih sedap dari piring demi piring makanan yang memiliki screentime lebih banyak dibanding beberapa pemainnya sekalipun.

Kali ini Dian memerankan Aruna, epidemiologist (ahli wabah) yang oleh kantornya ditugaskan melakukan investigasi terhadap wabah flu burung di berbagai daerah Indonesia, sembari secara bersamaan melakukan wisata kuliner bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), yang berprofesi sebagai chef. Seiring perjalanan, turut hadir Nadezhda (Hannah Al Rashid), penulis makanan yang selama ini tinggal di luar negeri, juga Farish (Oka Antara) yang ditugaskan membantu investigasi. Sejak dulu Aruna menyimpan perasaan lebih kepada Farish, sebagaimana Bono juga menyukai Nadezhda.

Berbasis naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990), Edwin yang tahun lalu baru saja memenangkan “Sutradara Terbaik” pada Festival Film Indonesia, membawa keempat tokohnya dalam perjalanan separuh road movie separuh food porn guna belajar soal kehidupan pula cinta yang dijembatani oleh rasa. Serupa judulnya yang mengandung kata “lidah” selaku indera perasa, “rasa” memang memainkan peranan penting di sini.

Dibayangi patah hati akibat cintanya pada Farish yang tak kesampaian ditambah kepenatan kerja, Aruna bagai mati rasa. Di awal film, ia mendeklarasikan bahwa untuk menyantap makanan enak tidak perlu melibatkan romantisasi berupa keharusan menikmatinya bersama orang spesial. Menutup hatinya, lidah Aruna pun turut kehilangan kemampuan mengecap rasa makanan, termasuk masakan kelas wahid buatan Bono. Melalui perjalanan ini, dia mulai coba pelan-pelan belajar merasakan lagi, baik dengan lidah maupun hatinya.

Naskahnya rapi merajut subteks yang sejatinya tak seberapa subtil di atas, yang seluruhnya, termasuk sempilan subplot tentang pencarian resep “nasi goreng bibi”, bermuara menuju kesimpulan bahwa rasa paling paripurna sejatinya bersumber dari orang-orang tercinta. Sementara investigasi terhadap kasus flu burung memberi kesempatan filmnya menyentil beberapa isu sosial sekaligus menarik benang merah perihal “rahasia”, suatu hal yang nampaknya begitu digemari para karakternya. Anda akan tahu rahasia apa saja yang dibawa investigasi ini setelah menonton filmnya.

Fokus utamanya tetap berkutat dalam 3 poin: pencarian rasa, romansa, dan makanan. Sayang, romansanya tidak semeyakinkan poin yang disebut pertama. Mengapa hati Aruna urung beranjak dari Farish—si pria kaku sekaligus judes—bahkan ketika reuni mereka diawali dengan kurang menyenangkan? Selain berparas rupawan, apa yang spesial dari Farish? Sedangkan hubungan Bono-Nadezhda belum mampu mencapai potensinya menjadi subplot yang mendukung tema “pencarian rasa” sewaktu presentasinya sendiri tidak pernah tampil emosional. Pertanyaannya sama. Mengapa (apabila akhirnya menerima cinta Bono) Nadezhda bersedia menghentikan petualangan cintanya?

Tapi berkat jajaran cast kelas satunya, kelemahan tersebut tidak pernah terlalu mengganggu. Interaksi keempatnya menyenangkan disimak, entah saat membicarakan makanan, mengaitkannya dengan beragam sendi kehidupan (yang dirangkai oleh dialog-dialog “kaya”), atau sekedar melontarkan canda. Apalagi Dian dan Nic, yang setelah bertahun-tahun dipandang sebagai pasangan legendaris perfilman Indonesia, nampak demikian mudah menjalin chemistry natural. Saya takkan terkejut kalau beberapa obrolan merupakan hasil improvisasi di mana Edwin membiarkan keduanya berinteraksi bebas.

Dian adalah energi terbesar Aruna & Lidahnya, dengan ekspresi non-verbal quirky sebagai senjata andalan, tatkala Aruna, secara rutin sekaligus diam-diam, merespon omongan atau tingkah karakter lain. Mungkin Aruna bukan pertunjukkan akting terbaik Dian, namun jelas karakter paling berwarna, paling dinamis, paling kaya rasa, dan pastinya paling lucu sepanjang karirnya. Pun penampilan sang aktris mendukung pemakaian metode breaking the fourth wall yang filmnya terapkan agar penonton merasa lebih dekat dengan Aruna. Tentu keberhasilan itu juga berkat pengetahuan Edwin mengenai cara memanfaatkan keunggulan aktisnya, walau saat dihadapkan pada makanan, nyatanya sang sutradara belum seberapa mumpuni.

Ditangkap oleh kamera Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) selaku sinematografer, aroma, apalagi tekstur masakan belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan dalam bahasa visual. Apabila anda merasa lapar (seperti saya) saat menontonnya, itu bukan dikarenakan pencapaian artistik filmnya, melainkan “Siapa yang tidak berliur melihat makanan sedemikian banyak selama hampir 2 jam?”. Setidaknya Aruna & Lidahnya mampu mengenalkan ragam masakan khas daerah-daerah yang dikunjungi, sehingga besar kemungkinan pasca menyaksikannya, para penonton tertarik berburu makanan-makanan yang ada.
Menebus kelemahannya membungkus food porn, Edwin memamerkan cara uniknya bersenda gurau. Setelah menerapkan pendekatan “normal” melalui Posesif, inilah film di mana visi (for lack of a better word) absurd yang ia bangun sejak bermain-main di ranah sureal dahulu, berpadu apik dengan hiburan arus utama guna menghasilkan perjalanan mengasyikkan. Dari “adegan burung mati” hingga dua sekuen mimpi, adalah bukti keberhasilan Edwin menemukan formula yang memfasilitasi signature-nya tanpa mengalienasi penonton umum. Wisata kuliner (atau investigasi?) mungkin tak sedalam yang diniati, namun kelezatannya jelas sukar ditolak.

KARTINI (2017)

Saat kisah hidup seseorang diangkat ke film, ada beberapa kemungkinan. Antara namanya begitu besar, berpotensi mendulang uang, atau menyimpan relevansi terhadap isu terkini. Kartini sang pahlawan emansipasi memiliki ketiganya. Kala feminisme makin sering diteriakkan termasuk di Indonesia, kehadiran ikon perjuangan wanita negeri ini dalam layar lebar menjadi tak sekedar menarik, pula penting disimak. Sebab satu poin penting dari pemikiran Kartini, bahwa pergerakannya bukan semata manifestasi sakit hati atau hasrat kebebasan personal. Lebih dari itu, sifatnya komunal, meluas, menyangkut rakyat luas menentang kekangan sistem feodal.

Ditulis naskahnya oleh Bagus Bramanti (Dear Nathan, Talak 3, Mencari Hilal) bersama sang sutradara Hanung Bramantyo, film ini, walau banyak berkutat di lingkungan rumah Kartini (Dian Sastrowardoyo), turut menyelipkan gambaran kondisi sosial politik Indonesia, khususnya Pulau Jawa pada awal 1900 di bawah pemerintahan Belanda. Diceritakan tujuan hidup wanita Jawa hanya menikah, melayani suami yang wajar bila beristri lebih dari satu. Menginjak dewasa, wanita dipingit, tinggal dalam kamar menanti pinangan pria. Wanita (dan rakyat miskin di luar golongan bangsawan) pun dipandang remeh,  tidak semestinya memegang posisi penting macam Bupati. 
Gambaran masa itu terpampang jelas, bagaimana sistem berdampak pada kasta masyarakat lalu dampak kegigihan Kartini yang tak berhenti di diri sendiri, pula membuka jalan lapang bagi pihak lain di banyak sisi (pendidikan, ekonomi). Setidaknya pada tataran informasi agar penonton tahu bagaimana situasi di mana filmnya bertempat, walau batasan durasi menghalangi beberapa detail tersampaikan. Misal kurangnya eksplorasi asal mula hubungan orang tua kandung Kartini, RM Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan Ngasirah (Christine Hakim, Ngasirah muda diperankan Nova Eliza) yang substansif menunjukkan kuatnya patriarki mengakar di sistem feodal. Informasi itu urung diberikan, padahal sifatnya penting, khususnya bagi penontom awam sejarah. Sebelum pemutaran, Hanung sempat menyatakan durasi terbatas membuat beberapa poin berpotensi kurang mendalam, untuk itu penonton diharapkan aktif membaca buku selaku salah satu sorotan utama alur. Lalu bagaimana dengan penonton yang cenderung familiar akan tokoh utama?

Bagi golongan penonton tersebut, Kartini urung memunculkan perspektif baru. Cukup membaca segelintir sumber, pemahaman serupa bisa didapat. Terkait kedalaman, khususnya tentang feminisme, Kartini pun mengambil sisi begitu standar. Wanita dijajah pria, dijadikan perhiasan sangkar madu (atau burung dalam sangkar menurut simbolisme filmnya), kemudian melawan, baik secara sembunyi-sembunyi atau frontal membantah. Pandangan feminismenya (paling tidak dari kacamata saya) tepat, bukan misogyny berkedok pembelaan semu hak wanita. Namun saat pergerakan tersebut makin sering didengungkan ditambah kompleksitas penerapan yang acap kali memancing perdebatan di beberapa kondisi, kesederhanaan tuturan itu takkan menyulut perbincangan atau pemikiran lanjut. 
Sesungguhnya ada niat ke sana. Kartini teguh melawan tapi penuh perhitungan, mengandalkan pemikiran di balik jeruji penjara budaya, serta mau bernegosiasi demi win-win solution dan tujuan luas seperti keputusannya di akhir ketimbang membabi buta menentang. Sebaliknya, banyak generasi sekarang terlampau dikuasai amarah, di mana penolakan penindasan pria lewat ekspresi kebencian terhadap lawan jenis (which isn't the real feminism). Dalam satu adegan, Ngasirah mengibaratkan perbedaan wanita kuat Jawa dan Belanda lewat bentuk aksara Jawa yang mengenal tanda "pangkon". Mereka bisa mandiri tanpa lupa berbakti entah untuk orang tua maupun suami. Bukan mengalah, melainkan tuntutan berpikir cerdik menyiasati kekangan. Dua adik Kartini, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha) memang berkata enggan menikah, namun pemikiran ini masuk akal, bahkan mesti dimengerti melihat nasib mayoritas wanita Jawa selaku istri kala itu. Wajar penolakan berbasis trauma pun rasa takut hinggap.

Sayangnya poin di atas sebatas pernak-pernik sekilas daripada fokus utama penceritaan. Seperti sudah disinggung, Kartini tak seberapa mendalam, sebab orientasinya sendiri condong sebagai biopic hiburan. Karena itu pula penggunaan Bahasa Jawanya sepotong-sepotong, dan tidak memakai gaya di zamannya. Hanung berpengalaman menangani biopic serupa (Sang Pencerah, Sokearno, Rudy Habibie) dan penyutradaraannya makin baik. Masih terjebak gaya bertutur terlalu gamblang dalam keharusan menghadirkan tangis untuk momen sedih (plus umlah berlebihan teks narasi), dramatisasinya bisa diterima khususnya berkat penempatan musik tepat guna alih-alih eksploitasi kemegahan suara (alasan Surga Yang Tak Dirindukan 2 amat menyebalkan). Musik karya kolaborasi Andi Rianto dan Charlie Meliala tidak sekedar megah, juga memorable, dan terpenting sesuai mewakili gelora perjuangan titular character
Menghibur berarti mudah dinikmati, dan begitulah Kartini bergulir. Beberapa kali kesan episodik (penyakit umum film biografi) terasa saat babak-babak hidup Kartini tampil silih berganti termasuk tokoh-tokoh datang dan pergi, tetapi kematangan Hanung bercerita menjaga supaya pergerakannya halus, tidak melompat paksa nan kasar antar titik. Menambah daya hibur adalah tata visual dari sinematografi Faozan Rizal. Aspek terbaik gambarnya terletak di kengganan Faozan Rizal "menyiram" tiap adegan dengan cahaya benderang. Pencahayaan difungsikan memberi karakter suatu momen, bukan asal menerangi. Dan keputusan memakai bayang-bayang gelap selain menambah kesan realis turut menguatkan tekstur, memperkaya sekaligus memperindah adegan. 

Kartini merupakan salah satu film Indonesia dengan jajaran cast terbesar dipimpin kepiawaian Dian Sastrowardoyo memanusiakan Kartini. Berkatnya, Kartini tak hanya sosok kosong perwujudan ide semata, melainkan wanita muda muda biasa yang walau berjuang dikelilingi penderitaan, juga dapat bertingkah jenaka terlebih ketika bersama Roekmini dan Kardinah. Di samping permainan watak mendalam sebagai Ngasirah yang memendam setumpuk derita, Christine Hakim jadi penampil dengan pengucapan Bahasa Jawa paling lancar, natural, enak didengar. Djenar Maesa Ayu patut dipuji atas keberhasilan mendorong antipati penonton pada Moeryam meski ia berakhir sebatas keklisean ibu tiri kejam sewaktu potensi kerumitan wanita yang tersudut ketiadaan pilihan urung ditelusuri naskahnya. Reza Rahadian berstatus glorified cameo belaka, pun porsi minim Adinia Wirasti, termasuk kemunculan kembali Sulastri  tokoh peranannya  yang dipaksakan ada demi mengakhiri konflik.