Tampilkan postingan dengan label Han Jin-won. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Han Jin-won. Tampilkan semua postingan
PARASITE (2019)
Rasyidharry
Baik perihal cerita maupun gaya,
melalui Parasite yang merupakan pemenang
Palme d’Or pertama asal Korea Selatan,
Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder,
Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini
begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi
menit serta cara penanganannya. Parasite adalah
tragicomedy yang melukiskan betapa
hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan
semengejutkan itu.
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong,
yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa.
Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu
hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.
Serupa pemenang Palme d’Or tahun
lalu, Shoplifters, film ini
mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh
jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song
Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si
putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi
dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk
mengencingi jedela rumah.
Kesempatan memperbaiki penghidupan
datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah
keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan
kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa
film ini mengusung judul “Parasite”.
Ditulis oleh Bong bersama asistennya
saat menggarap Okja, Han Jin-won,
naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak
biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau
menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap
sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga
disfungsional.
Mengangkat permasalahan serius
tidak serta menjadikan Parasite tontonan
depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya
percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah
komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi
kesempurnaan timing.
Humornya terus menerjang sementara
Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda
bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang
akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang
efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada
klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite
sempat menebarkan aroma horor supernatural.
Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil
dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan
meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang
mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah
menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui
(Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah
satu momen paling “WOW” milik Parasite,
tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.
Sebagai aktor langganan sang
sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan
mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu
menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis
yang siap diletupkan saat dibutuhkan.
Bong Joon-ho ingin penontonnya
mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia
sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada
dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan
adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah
kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena
cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.
Juni 22, 2019
Bong Joon-ho
,
Choi Woo-shik
,
Comedy
,
Drama
,
Han Jin-won
,
Jang Hye-jin
,
Jung Jae-il
,
Korean Movie
,
Luar Biasa
,
Park So-dam
,
REVIEW
,
Song Kang-ho
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

