Tampilkan postingan dengan label Song Kang-ho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Song Kang-ho. Tampilkan semua postingan

REVIEW - EMERGENCY DECLARATION

"Keputusan itu". Salah satu hal di Emergency Declaration yang bakal sering dibicarakan adalah mengenai "keputusan itu". Keputusan yang membawa filmnya terbang lebih tinggi, mengubahnya dari blockbuster intens menuju cerita luar biasa emosional perihal kemanusiaan. Saat itu terjadi, udara di studio mendadak terasa menyesakkan. 

Tapi Emergency Declaration punya banyak hal lain di samping "keputusan itu". Disutradarai sekaligus ditulis oleh Han Jae-rim (Rules of Dating, The Show Must Go On, The Face Reader), ini adalah disaster movie yang langsung mencengkeram sejak menit pertama, meski penonton belum benar-benar yakin ancaman macam apa yang mengintai.

Kita hanya melihat situasi di bandara, ketika beberapa calon penumpang pesawat tujuan Hawaii tengah menanti jadwal keberangkatan: Jae-hyuk (Lee Byung-hun) dan puterinya, Soo-min (Kim Bo-min); Jin-seok (Im Si-wan) yang bersikap mencurigakan dan menanam benda tak dikenal dalam ketiaknya; hingga Hye-yoon (Woo Mi-hwa) yang hendak berlibur bersama teman-temannya. Pesawat tersebut dipiloti oleh Hyun-soo (Kim Nam-gil). 

Suami Hye-yoon adalah In-ho (Song Kang-ho), seorang detektif yang akibat kesibukannya, tak pernah bisa menemani sang istri berlibur. Setibanya di kantor, In-ho menerima laporan, yang menggiringnya pada kesimpulan bahwa pesawat tujuan Hawaii tersebut terancam bahaya. Lebih baik kalau anda tidak tahu detail kasusnya sebelum menonton, tapi pastinya, Han Jae-rim menciptakan build up menegangkan lewat first act yang secara bergantian menyoroti situasi di udara dan penyelidikan In-ho di darat. Seiring membesarnya kasus, Menteri Sook-hee (Jeon Do-yeon) pun ikut turun tangan.

Han Jae-rim bukan Ryoo Seung-wan atau Choi Dong-hoon. Bukan nama pertama yang langsung muncul saat membahas film aksi dahsyat Korea Selatan. Tapi di sini sang sutradara melakukan tugasnya dengan baik. Didukung naskah yang cukup cerdik menyediakan beberapa jenis ancaman, pula peleburan apik antara efek praktikal dan CGI, Han Jae-rim berkali-kali menghadirkan peristiwa mencekam.

Kru membangun set menggunakan bangkai pesawat yang dibawa dari Amerika, kemudian memodifikasinya agar dapat berputar 360 derajat (sebagaimana dilakukan Nolan di Inception). Hasilnya adalah efek praktikal yang efektif merealisasikan teror dalam kabin pesawat. 

Kualitas CGI-nya memang dibantu oleh pilihan latar malam, sehingga beberapa kekurangan mampu disamarkan. Tapi di sisi lain, kegelapan itu turut menambah daya cengkeram adegannya. Misal saat datang serangan dari pihak eksternal (saya takkan menjabarkan "apa" dan "kenapa"), di mana kengerian dibangun dari sorot cahaya di langit gelap. Begitu pula klimaks yang mengukuhan kelayakan Emergency Declaration sebagai blockbuster masif lewat kesediannya tampil over-the-top. 

Judul film ini merujuk pada situasi saat sebuah pesawat menyatakan kondisi darurat, sehingga mereka yang di darat mesti mengerahkan segala daya upaya guna membantu pendaratan, termasuk menunda maskapai yang akan mendarat atau lepas landas. Tanpa kecuali. Semua soal skala prioritas, soal menyelamatkan nyawa, dan tentu soal kemanusiaan. Tapi apa jadinya bila pertolongan tersebut justru berpotensi mengancam nyawa lebih banyak manusia? 

Filmnya telah memasuki fase pra-produksi sejak 2019, alias sebelum era pandemi. Menariknya, walau bukan tergolong "film pandemi", naskahnya menghadirkan cerminan kuat dengan kondisi saat itu. Han Jae-rim menyentil tentang bagaimana pertimbangan-pertimbangan politis serta bisnis, kerap mempersulit penanganan isu kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan. Kemiripan yang tak disengaja, dan justru karena itulah kritiknya terasa makin tajam. Kemunculan sisi gelap manusia bak suatu rutinitas yang mudah ditebak. 

Bahkan di kalangan rakyat biasa, baik di luar maupun di dalam pesawat, juga terjadi perpecahan akibat ego individual yang mengusung prinsip "every man for himself". Ketika rangkaian kepentingan saling bergesekan tanpa akhir, karakternya pun mengambil "keputusan itu". Berkatnya, babak kedua yang sempat kehilangan intensitas dan cenderung stagnan, ditutup oleh sebuah tamparan emosional. 

Sebagai sineas Korea, Han Jae-rim tentu piawai urusan dramatisasi (bersiaplah ketika riuh rendah kokpit berubah jadi perenungan suram dan panggilan telepon mulai dilakukan), tapi jangan lupakan jasa ensemble cast-nya yang besar. Sangat besar, terutama bagi penonton yang familiar dengan hiburan Korea Selatan, baik film atau drama. Di luar para pemeran utama, ada Kim So-jin dan Seol In-A sebagai pramugari, Park Hae-joon sebagai staf kepresidenan, Hyun Bong-sik sebagai detektif, Moon Sok sebagai dokter, dan lain-lain.

Lee Byung-hun dengan speech-nya, Song Kang-ho dengan akting habis-habisannya, bertanggung jawab mengobrak-abrik perasaan penonton di klimaksnya, tapi favorit saya adalah Kim So-jin. Matanya senantiasa "berbicara". Pun karakter peranannya, Hee-jin, terasa spesial. 

Hee-jin tidak punya latar belakang di luar pesawat. Berbeda dengan Jae-hyuk atau In-ho, perjuangannya tanpa dibarengi alasan personal. Dia berusaha mati-matian didorong dedikasinya sebagai pramugari, dan tentunya, kesadarannya akan nilai kemanusiaan. Walau berstatus karakter pendukung dengan screentime tak seberapa, Hee-jin paling mewakili pesan utama filmnya. Seorang manusia yang memanusiakan manusia. 

REVIEW - BROKER

"Thank you for being born". Melalui kalimat sederhana yang entah sudah berapa kali kita dengar itu, Hirokazu Kore-eda dengan perspektif humanis khasnya, mengurai segala kepelikan dalam Broker. Baik yang nampak dari luar maupun dalam batin karakternya. Karena bagi Kore-eda, sepelik apa pun permasalahannya, hal terpenting dan paling mendasar bagi manusia bukanlah materi, melainkan keyakinan bahwa hidup mereka tidaklah sia-sia. 

Broker punya first act yang mengundang pertanyaan. Tokoh-tokohnya diperkenalkan, namun relasi satu sama lain belum terungkap. So-young (Lee Ji-eun a.k.a. IU) meninggalkan bayinya di sebuah gereja, Soo-jin (Bae Doona) dan Lee (Lee Joo-young) mengikutinya, sementara Dong-soo (Gang Dong-won) dan Sang-hyeon (Song Kang-ho) yang bekerja sebagai relawan di gereja tersebut tampak mengambil bayi So-young.

Kemudian filmnya secara bergantian menyoroti aktivitas masing-masing individu. Bagai kumpulan fragmen. Menariknya, berkat penulisan serta pengarahan Kore-eda (penuh kesabaran seperti biasa), fragmen-fragmen itu tak pernah berantakan walau (masih) berdiri sendiri-sendiri. Barulah secara rapi dan bertahap, fakta demi fakta diungkap, menyatukan keping-keping fragmennya menjadi kesatuan utuh yang kreatif.

Ya, kreatif. Dari luar, Broker nampak seperti drama soal chosen family biasa, tapi seperti halnya Shoplifters (2018), tema itu dikembangkan ke arah tak terduga. Dong-soo dan Sang-hyeon berkomplot menjual bayi, Soo-jin dan Lee merupakan detektif yang hendak menangkap basah mereka, sedangkan So-young memutuskan kembali pada anaknya. 

Kisahnya bergerak ke ranah road movie tatkala So-young setuju menjual bayinya, lalu ikut bersama Dong-soo dan Sang-hyeon untuk menemui si pembeli. Di situ Kore-eda mulai membawa karakternya dalam perjalanan mempertanyakan keputusan hidup mereka. 

Perdebatan yang rasanya bakal banyak mencuat adalah mengenai sudut pandang Kore-eda seputar isu pro-life dan pro-choice. Apakah wanita yang belum siap menjadi ibu seperti So-young sebaiknya memilih aborsi guna menghindari terlantarnya si buah hati? Ataukah lebih baik membiarkannya hidup lalu meninggalkannya di kotak bayi? 

Saya punya pandangan lain. Kore-eda bukan sedang mendiskusikan mana pilihan terbaik, tapi melihat masalah secara lebih mendasar. Manusia punya pengalaman berbeda, sehingga cara pandang serta keputusan yang diambil juga berbeda. Semua punya alasan. So-young punya alasan membuang bayinya. Demikian pula Dong-soo dan Soo-jin yang mengutuk tindakan tersebut. Broker tidak memilih benar/salah, tapi mengajak kita memahami sudut pandang tiap keputusan. 

Ada kalanya keputusan tersebut disesali, dan lagi-lagi Kore-eda enggan menghakimi. Itulah pondasi momen menyentuh berlatar gondola, yang memperlihatkan sensitivitas sekaligus kreativitas Kore-eda mengemas dramatisasi. Emosi bukan asal diledakkan, namun dipercantik lewat gestur sederhana, yang menjadikan gondola itu bak ruang katarsis intim tempat manusia "dimanusiakan". 

Membicarakan sensitivitas Hirokazu Kore-eda memang tiada habisnya. Tiga tahun lalu ia melahirkan The Truth, selaku karya Bahasa Inggris perdana. Broker sendiri jadi karya Bahasa Korea pertamanya. Tapi hasilnya selalu sama. Selalu kuat. Bukti bahwa humanisme itu universal. Tidak mengenal bahasa, hanya butuh kepekaan rasa. 

Satu-satunya bahasa yang penting bagi Kore-eda mungkin bahasa visual. Lihat betapa penggunaan reaction shot amat dibatasi di sini. Seolah Kore-eda membebaskan karakternya mencurahkan seluruh perasaan tanpa perlu memusingkan reaksi orang lain. Sekali lagi, ia menyediakan ruang katarsis. 

Tentu sebuah kisah kemanusiaan takkan berhasil tanpa kekuatan para manusia yang nampak di layar. Jajaran cast-nya tampil hebat, merangkai chemistry yang memperkuat tuturan soal chosen family. Termasuk si kecil Im Seung-soo sebagai Hae-jin, bocah yang ikut di tengah perjalanan. Semakin jauh jarak ditempuh bersama, para "penghuni" mobil bobrok kepunyaan Sang-hyeon menemukan ikatan kekeluargaan yang tak memedulikan hubungan darah. Prosesnya hangat, menyentuh, pun acap kali menggelitik berkat selipan humor realis.

Melalui aktingnya di sini, Song Kang-ho menjadi pelakon Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan Best Actor di Festival Film Cannes. Kemenangan yang layak. Tetesan kecil air matanya di tengah kegelapan bakal terus saya kenang. 

Tapi Broker adalah kendaraan seorang Lee Ji-eun untuk memantapkan statusnya sebagai salah satu aktris muda terbaik Korea. Terkadang emosi sedikit diletupkan, tapi permainannya cenderung subtil, yang mana butuh kepekaan luar biasa agar berhasil. Sebenarnya bukan hal mengejutkan. Tidak perlu sampai membahas aktingnya di My Mister (2018), Kdrama yang jadi alasan Kore-eda memilihnya. Sejak mulai aktif menulis lagu pun kepekaan itu sudah nampak. Bagi saya, IU musisi spesial bukan (cuma) karena kapasitas vokalnya, tapi kepiawaiannya menangkap hal-hal kecil di sekitar, lalu menerjemahkannya dalam wujud estetika musik. 

IU si musisi maupun Lee Ji-eun si aktris sama-sama punya sensitivitas tersebut. Di Broker pun terlihat bagaimana kekaguman Kore-eda atas aktingnya, berkembang jadi kepercayaan terhadap kualitas sang aktris. Hampir seluruh momen yang menuntut kecermatan olah rasa tinggi diberikan padanya. Alhasil realisme Kore-eda dan kesubtilan akting Lee Ji-eun berpadu sempurna. 

Saat So-young tersenyum simpul, sementara wajahnya dibasuh hangatnya cahaya matahari, saya pun sadar apa yang ia (dan karakter lain) impikan. Seperti kita, mereka tidak mau sendirian melangkah. Tidak peduli kandung atau bukan, mereka merindukan keluarga. Keluarga yang berkata "You're doing great" tatkala roda kehidupan sedang berputar di bawah. Keluarga yang memandang eksistensi kita sebagai anugerah, kemudian berucap, "Thank you for being born". 

PARASITE (2019)

Baik perihal cerita maupun gaya, melalui Parasite yang merupakan pemenang Palme d’Or  pertama asal Korea Selatan, Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder, Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi menit serta cara penanganannya. Parasite adalah tragicomedy yang melukiskan betapa hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan semengejutkan itu.
  
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong, yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa. Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.

Serupa pemenang Palme d’Or tahun lalu, Shoplifters, film ini mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk mengencingi jedela rumah.

Kesempatan memperbaiki penghidupan datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa film ini mengusung judul “Parasite”.

Ditulis oleh Bong bersama asistennya saat menggarap Okja, Han Jin-won, naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga disfungsional.

Mengangkat permasalahan serius tidak serta menjadikan Parasite tontonan depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi kesempurnaan timing.

Humornya terus menerjang sementara Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite sempat menebarkan aroma horor supernatural.

Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui (Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah satu momen paling “WOW” milik Parasite, tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.

Sebagai aktor langganan sang sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis yang siap diletupkan saat dibutuhkan.

Bong Joon-ho ingin penontonnya mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.

THE HOST (2006)

Sudah beberapa kali saya berniat menonton film berstatus "paling laris sepanjang masa di Korea" ini di televisi tapi selalu berhalangan dan akhirnya hanya menonton tidak sampai 20 menit durasinya. Hingga pada akhirnya setelah saya dibuat kagum oleh film-film Bong Joon-ho lainnya seperti Memories of Murder dan Mother, saya kesampaian juga untuk menonton The Host. Saya sendiri kembali tertarik menonton film ini karena faktor Bong Joon-ho. Pada tahun 2013 ini, Bong Joon-ho menjadi sutradara Korea ketiga yang mendapat kesempatan melakoni debut di Hollywood setelah sebelumnya Kim Ji-woon dan Park Chan-wook menghasilkan The Last Stand dan Stoker yang bagus secara kualitas tapi mengecewakan ditinjau dari raupan dollar yang didapat. Bong Joon-ho sendiri memulai debut dengan Snowpiercer yang beberapa waktu lalu telah diputar di Korea dan mendapatkan kesuksesan besar dimana sampai saat ini film tersebut telah ditonton lebih dari enam juta penonton dan berada di urutan 23 dalam daftar film terlaris di Korea. Sembari menunggu film tersebut rasanya tidak ada salahnya untuk menengok kembali The Host yang juga dianggap sebagai salah satu film kaiju (film monster) terbaik yang pernah ada.

Di tahun 2000 seorang ilmuwan Amerika menyuruh bawahannya yang merupakan orang Korea untuk membuang 200 botol formalin ke saluran pembuangan yang mengalir ke Sungai Han hanya karena ia tidak suka melihat botol-botol yang penuh dengan debu tersebut. Maka dibuanglah cairan-cairan kimia berbahaya tersebut ke Sungai Han. Enam tahun kemudian kita diajak berkenalan dengan Park Gang-du (Song Kang-ho) yang bersama ayahnya membuka sebuah usaha warung makanan kecil-kecilan. Dari awal terlihat bahwa Gang-du tidak lebih dari seorang pria dewasa yang kurang pintar dan lebih suka bermalas-malasan. Gang-du sendiri mempunyai seorang puteri yang hampir menginjak usia remaja, Hyun-seo (Go Ah-sung). Suatu hari disaat tengah melayani pelanggan, Gang-du dan orang-orang di sekitar Sungai Han melihat sebuah benda aneh tergantung di jembatan. Benda misterius tersebut ternyata sebuah monster mengerikan yang nampak seperti mutasi hewan laut. Monster itupun mulai menyerang orang-orang yang ada disana, termasuk Hyun-seo.

Tanpa ragu-ragu Bong Joon-ho sudah menunjukkan wujud monsternya secara nyata sedari menit-menit awal. Tidak seperti mayoritas film monster seperti Cloverfield misalnya yang baru menunjukkan sosok monsternya di pertengahan atau bahkan klimaks film, itupun dalam kondisi malam hari ataupun hujan deras, monster dalam The Host langsung muncul secara nyata di paruh awal dan itu adalah siang hari di tempat umum. Banyak sutradara yang lebih memilih membuat monsternya misterius supaya atmosfir ketegangan lebih terasa dan juga khawatir jika kengerian monsternya akan berkurang jika terlalu sering diumbar. Hal itu memang ada benarnya, namun apa yang dilakukan Bong Joon-ho jauh lebih hebat lagi karena meskipun monsternya muncul berkali-kali di siang bolong terornya tetap terasa. Bahkan kemunculan pertama sang monster disaat filmnya belum sampai setengah jam mampu menghadirkan sebuah ketegangan sekaligus kengerian yang luar biasa. Lewat adegan creepy saat monster itu bergelantungan lalu menceburkan diri ke air sampai pada akhirnya sang monster melakukan pembantian terhadap orang-orang, Bong Joon-ho berhasil memperkenalkan monsternya pada penonton dengan begitu efektif.
Satu hal yang biasanya mengecewakan saya saat menonton film monster adalah fakta bahwa monsternya jauh lebih menyeramkan saat masih belum nampak secara jelas, tapi malah terasa menggelikan saat wujudnya sudah terlihat jelas. Sedangkan dalam The Host, monsternya tetap terlihat menyeramkan sekaligus menjijikkan walaupun sudah muncul secara jelas berulang kali. Memang jika dilihat sekarang efek CGI yang dipakai tidak lagi terasa halus, tapi saya tidak peduli karena melihat si monster bergelantungan lalu melompat kearah korbannya akan selalu terasa mengerikan bagi saya. Desain monsternya yang bagaikan mutasi dari hewan amfibi juga makin menambah kesan jijik sekaligus seram pada sosoknya. Ukurannya memang tidak sebesar monster-monster pada film lain tapi aksinya jauh lebih menyeramkan. Bagaimana tidak? Jika monster lain berjalan biasa, monster ini bergelantungan dengan ekornya, dan bagi saya itu luar biasa menjijikkan...dan mengerikan.

Tapi The Host tidak hanya bisa tampil seram saja, karena diluar dugaan film ini juga diisi oleh banyak momen komedi. Komedinya pun bukan asal ceplos saja, karena hampir semuanya berhasil membuat saya tertawa. Selalu saja ada cara yang dilakukan film ini untuk membuat saya tertawa bahkan disaat yang serius dan menegangkan sekalipun. Ada sebuah adegan yang mampu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal hanya untuk dibuat terbungkam selang beberapa detik kemudian karena adegannya berubah dari adegan konyol menjadi adegan yang tragis hanya dalam hitungan detik. Bahkan momen klimaksnya yang begitu intense dan dibalut dengan slo-mo keren itupun masih sempat diisi oleh humor konyol yang lagi-lagi berhasil membuat saya tertawa sembari bersumpah serapah. Kebanyakan humornya berasal dari tingkah masing-masing karakternya yang memiliki penokohan yang begitu kuat. Kita punya karakter utama Gang-du yang bodohnya luar biasa sampai tidak bisa menghitung jumlah peluru yang ia tembakkan, sampai karakter Nam-joo yang sekilas adalah wanita cantik yang serba bisa sebagai atlet panah tapi sebenarnya adalah orang yang lambatnya tidak tertolong lagi.

Disamping pengemasannya yang sukses menggabungkan drama, horror dan komedi, The Host sesungguhnya memiliki muatan politik atau setidaknya sindiran terhadap beberapa otoritas yang cukup terasa dalam filmnya. Mulai dari sosok ilmuwan Amerika yang dengan alasan yang begitu bodoh memerintahkan seorang warga Korea untuk membuang limbah ke sungai, penyembunyian fakta tentang virus yang dilakukan oleh pihak militer Amerika, sampai momen klimaksnya yang memperlihatkan sang monster dilempari dengan bom molotov dan seolah terlihat seperti pendemo yang sedang menyerang pihak yang menjadi objek demonstrasi. Ya, ini adalah sebuah kritikan mengenai pihak asing atau lebih tepatnya kepada Amerika Serikat. Dalam kenyataannya, pada tahun 2000 memang pemilik perusahaan pemakaman di Korea yang juga bekerja bagi militer Amerika pernah membuang formalin dalam jumlah besar ke saluran pembuangan di Seoul. Tapi pada akhirnya dengan atau tanpa unsur satir politik tersebut The Host tetap merupakan sebuah suguhan yang begitu mengesankan dan jarang saya temui, dimana sebuah film mampu menyajikan kengerian, ketegangan, kelucuan serta drama yang menyentuh secara bersamaan dalam porsi yang seimbang. Hebatnya lagi film ini ditutup dengan sebuah bittersweet ending yang menyentuh...dan saya masih belum percaya film ini berakhir seperti itu.