Tampilkan postingan dengan label Choi Woo-shik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Choi Woo-shik. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE POLICEMAN'S LINEAGE

Mengadaptasi novel Jepang berjudul Blood of the Policeman karya Joh Sasaki, The Policeman's Lineage mengusung pola serupa film-film yang mengetengahkan kisah mata-mata yang ditanam dalam dan/atau oleh pihak kepolisian (kiblat judul-judul modern takkan jauh-jauh dari Infernal Affairs). Sesuai formula, penonton dibawa mempertanyakan moralitas, seiring dilema yang dialami sang protagonis selaku mata-mata. 

Choi Min-jae (Choi Woo-shik, fresh from the first strong contender of the best Kdrama of 2022, 'Our Beloved Summer') adalah polisi berprinsip. Kejujuran serta ketaatan pada aturan ia utamakan, yang membuatnya terasing dan dibenci rekan-rekannya. 

Di tengah pemikiran bahwa "tiada tempat bagi polisis jujur sepertinya", Min-jae diberi misi rahasia oleh Hwang In-ho (Park Hee-soon), kepala divisi internal affairs (semacam provos di sini). Misinya adalah menyelidiki Park Gang-yoon (Cho Jin-woong), yang meski berprestasi dalam urusan menangkap kriminal, dikenal tak segan memakai metode ilegal. Min-jae diutus menyusup ke tim Gang-yoon, guna mencari tahu apakah benar ia menerima dana kotor. Sebagai imbalan, In-ho menjanjikan sebuah berkas rahasia mengenai ayah Min-jae, yang juga seorang polisi dan tewas kala bertugas. 

Butuh waktu membiasakan diri dengan gaya bertutur naskah karya Bae Young-ik, yang di menit-menit awal membeberkan setumpuk fakta, nama, serta peristiwa dengan cepat. Tapi memang begitulah kekhasan genre ini. Cukup berikan atensi ekstra, dan anda bakal terjerat dalam proses Min-jae menguraikan dua macam benang: misteri (Apakah Gang-yoon korupsi?) dan moralitas (Apakah metode Gang-yoon bisa dibenarkan?). 

Min-jae yang terbiasa dialienasi, perlahan merasa diapresiasi. Rekan-rekan barunya memuji hasil kerjanya, sementara Gang-yoon rupanya lebih bersahabat dari dugaan. Dia bak mentor yang mengayomi. Min-jae mulai goyah, apalagi bukti nyata soal korupsi Gang-yoon tak kunjung didapat. 

Akting para aktor memegang peranan penting dalam perkembangan hubungan kedua karakter. Cho Jin-woong tampil karismatik, dengan kapasitas yang membuat penonton (dan Min-jae) percaya, bahwa di luar metode problematiknya, ia sungguh berniat memberantas kriminalitas. Sedangkan Choi Woo-shik punya aura yang tepat untuk menangani sosok pemuda "hijau" yang tengah berproses menanggalkan kenaifan. Muncul dinamika menarik antara individu yang patut dipertanyakan, dengan yang aktif mempertanyakan. 

Sekilas, The Policeman's Lineage menyampaikan cerita kesatria pembasmi iblis, namun akibat terlampau sering bermandikan darah buruannya, ia pun akhirnya menjadi iblis. Tapi ada lapisan-lapisan lain dalam kisahnya. Apakah si kesatria berada di pihak yang benar? Apakah iblis yang dia buru adalah penebar ancaman sesungguhnya? Terpenting, apakah darah iblis membuat si kesatria lebih buruk? Kompleksitas tersebut memperkuat narasi The Policeman's Lineage, sebagai wujud hilangnya kepercayaan atas aparat beserta sistem. 

Di antara penuturan solid itu, terselip satu kelemahan: penyutradaraan. Lee Kyoo-man belum piawai menangani aksi. Alih-alih menambah daya hibur, deretan aksi The Policeman's Lineage justru memusingkan, akibat ketidaktepatan pilihan shot, pula pergerakan-pergerakan kamera, yang bertujuan menciptakan kesan dinamis namun malah terkesan kacau. Paling kentara adalah aksi di babak akhir. Babak yang kebetulan juga menandai penurunan kualitas penceritaan filmnya. Terburu-buru. Seolah si penulis terkejut, mendadak sadar sudah kehabisan durasi, di saat masih banyak hal belum menemukan konklusi.

TIME TO HUNT (2020)

Time to Hunt merupakan film Korea Selatan pertama yang berkesempatan tayang di Berlinale Special, sebuah program dalam Festival Film Internasional Berlin yang menyoroti film dengan format unik dan/atau punya relevansi topik. Berlatar dunia distopia, di sini tidak ada neon warna-warni, hologram, maupun mobil terbang. Semua seperti dunia kita sekarang, hanya lebih suram, pun gedung-gedung terbengkalai jamak dijumpai, di mana banyak di antaranya merupakan toko yang ditinggalkan sang pemilik selepas gulung tikar.

Tidak ada pemberontakan robot, tidak ada perang saudara, tidak ada ledakan nuklir penghancur segala. Dari berita yang secara berkala sayup-sayup terdengar dari televisi, kita tahu Korea Selatan mengalami krisis finansial. IMF menolak memberikan dana bantuan tambahan. Demonstrasi buruh akhirnya jadi pemandangan sehari-hari. Tidakkah itu terasa relevan? Begitu dekat, kita bisa membayangkan bila situasi serupa terjadi pada realita.

Mata uang won hancur lebur dan cuma dollar yang masih punya nilai. Banyak orang bebas membawa senjata api. Tapi bukankah senjata api di film aksi merupakan kewajaran? Korea Selatan berbeda dengan Amerika Serikat. Pertaturan tentang senjata begitu ketat, di mana seluruh senjata api yang dipakai untuk aktivitas berburu hingga olah raga mesti disimpan di kantor polisi. Coba perhatikan. Bukankah film aksi Korea Selatan lebih sering mengedepankan perkelahian tangan kosong atau dengan senjata tajam?

Di tengah kekacauan, hiduplah empat sahabat: Jang-ho (Ahn Jae-hong), Ki-hoon (Choi Woo-shik), Sang-soo (Park Jung-min), dan Joon-seok (Lee Je-hoon) yang baru keluar dari penjara. Joon-seok mendekam dalam bui agar ketiga kawannya lolos, sewaktu aksi mereka merampok toko perhiasan tidak berjalan mulus. Berharap memakai uang hasil rampokan untuk memulai hidup baru di Taiwan, Joon-seok harus kecewa saat situasi carut-marut ditambah aturan-aturan ekonomi baru membuat uang mereka nyaris tak bersisa.

Yoon Sung-hyun (Bleak Night) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah tidak langsung membawa filmnya tancap gas. Dibangun pelan-pelan, setelah melewati 30 menit, barulah kita melihat Joon-seok memimpin teman-temannya melakukan aksi gila, yakni merampok kasino tempat Sang-soo bekerja. Berbeda dengan perampokan sebelumnya, kali ini, begitu karyawan kasino menyalakan alarm, alih-alih polisi, sekelompok premanlah yang turun tangan mengejar keempat protagonis kita. Risikonya bukan mendekam di penjara, melainkan meregang nyawa.

Beruntung mereka berhasil lolos dan berteriak kegirangan melihat setumpuk uang di dalam tas. Semakin keras teriakan bahagia itu ketika Sang-soo tidak lupa membawa pergi harddisk berisi rekaman CCTV kala perampokan dilangsungkan. Andai mereka tahu ada rekaman lain yang tersimpan di harddisk tersebut, mungkin teriakan tadi berubah jadi teriakan ketakutan, dan mereka akan berharap Sang-soo lupa menjalankan tugasnya.

Siapa sangka, akibat sekeping harddisk, seorang pembunuh misterius bernama samaran Han (Park Hae-soo) sampai memburu mereka. Han adalah antagonis yang bak tak punya emosi humanis. Baginya, membunuh ibarat hiburan di waktu senggang. Ditambah tatapan dan senyum dingin Park Hae-soo, membuatnya makin mengerikan. Sosok Han tak ubahnya pembunuh dari film-film slasher (Atau Terminator? Atau Anton Chigurh dari No Country for Old Men?).yang berjalan santai mendekati mangsanya dan bisa tiba-tiba muncul di mana pun. Bagaimana bisa dia tahu hotel tempat Joon-seok dan kawan-kawan menginap?

Sung-hyun menyuntikkan elemen thriller kental tidak hanya melalui villain-nya. Dibantu sinematografer Lim Won-geun, sang sutradara mengincar nuansa atmosferik lewat pencahayaan minim yang didominasi warna hijau atau merah. Melengkapi visualnya, departemen audio pun berjasa membangun intensitas. Primary, musisi hip hop sekaligus produser yang telah berkolaborasi dengan banyak nama besar (Zion. T, Simon D, MBLAQ, Jessi, EXID, JB, dan lain-lain), memproduksi musik yang membantu usaha Sung-hyun menggedor jantung penonton melalui aksi kucing-kucingan dan baku tembak bertempo cepat. Tata suaranya pun sempat pamer kreativitas sewaktu meleburkan bunyi alarm mobil dengan musik chaotic, hingga sampai pada titik di mana penonton sulit membedakan mana suara alarm, mana musik.

Urusan teknis aksi, Time to Hunt memang nyaris tanpa masalah. Di luar itu, sayangnya lain cerita. Penulisan terhadap keempat protagonisnya lemah. Mereka membosankan, tidak digali secara memadai, sehingga tak menyisakan alasan bagi penonton untuk menaruh kepedulian. Alhasil, tiap adegan aksinya rehat sejenak, dinamika seketika lenyap. Datar. Persoalan terkait naskah ini sayangnya berlanjut sampai akhir.

Menjelang klimaks, Sung-hyun tiba-tiba menyertakan satu pihak tambahan, yang fungsinya hanya semacam deus ex machina yang mengkahiri konfik sedemikian gampang, daripada alat bantu menambah keseruan dan/atau kompleksitas konflik. Yoon Sung-hyun memilih tak menuntaskan proses perkembangan karakternya demi menjadikan Time to Hunt sebagai setup bagi sekuel yang jauh lebih menarik. Padahal ada potensi emosi yang cukup tinggi, tersimpan dalam ironi tentang seseorang yang pergi mencari kedamaian, namun begitu tiba di tujuan, ia justru dihantui ketakutan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Banyak rasa berkecamuk dalam dirinya, tapi tidak ada kedamaian.


Available on NETFLIX

PARASITE (2019)

Baik perihal cerita maupun gaya, melalui Parasite yang merupakan pemenang Palme d’Or  pertama asal Korea Selatan, Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder, Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi menit serta cara penanganannya. Parasite adalah tragicomedy yang melukiskan betapa hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan semengejutkan itu.
  
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong, yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa. Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.

Serupa pemenang Palme d’Or tahun lalu, Shoplifters, film ini mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk mengencingi jedela rumah.

Kesempatan memperbaiki penghidupan datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa film ini mengusung judul “Parasite”.

Ditulis oleh Bong bersama asistennya saat menggarap Okja, Han Jin-won, naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga disfungsional.

Mengangkat permasalahan serius tidak serta menjadikan Parasite tontonan depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi kesempurnaan timing.

Humornya terus menerjang sementara Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite sempat menebarkan aroma horor supernatural.

Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui (Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah satu momen paling “WOW” milik Parasite, tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.

Sebagai aktor langganan sang sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis yang siap diletupkan saat dibutuhkan.

Bong Joon-ho ingin penontonnya mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.