Tampilkan postingan dengan label Jean-Pierre Jeunet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jean-Pierre Jeunet. Tampilkan semua postingan

"ALIEN" FILM FRANCHISE: RANKED FROM WORST TO BEST

Rabu 10 Mei besok, Alien: Covenant bakal tayang di bioskop Indonesia, menjadikannya installment keenam franchise (di luar dua crossover dengan Predator) yang memulai petualangan sejak tahun 1979 ini. Berusia hampir empat dekade, naik turun kualitas dan bongkar pasang personel tentu jamak terjadi. Selain Scott, tercatat nama-nama tersohor mulai James Cameron, David Fincher, Jean-Pierre Jeunet pernah mengisi kursi sutradara. Begitu pula di jajaran cast meski Sigourney Weaver sebagai Ellen Ripley adalah tokoh paling ikonik. Menyambut perilisan Covenant, saya tertarik menyusun daftar urutan film Alien dari terburuk hingga terbaik. Daftar ini tidak menyertakan dua judul Alien vs. Predator karena: (a) Predator lebih dominan, (b) keduanya buruk luar biasa. 
(Artikel ini mengandung SPOILER)

5. ALIEN 3 (1992)
The only real bad movie in this franchise. Dalam debut penyutradaraannya, gaya Fincher yang mengawali karir sebagai pembuat video klip lebih kentara ketimbang jagoan storytelling sebagaimana ia kini dikenal. Konsep prison movie plus balutan post-apocalyptic serta alegori agama sempat menarik di awal, sebelum tenggelam di tengah kucing-kucingan medioker tak mencekam akibat deretan karakter pendukung membosankan, juga CGI buruk Xenomorph yang bak mutasi kucing liar. Tapi dosa terbesar film ini adalah membunuh tiga tokoh likeable (off-screen) film sebelumnya semata demi membuka jalan melanjutkan cerita. 
4. ALIEN: RESURRECTION (1997)
Jean-Pierre Jeunet (The City of Lost Children, Amelie) membawa keanehan visual dan selera humornya, menjadikan Resurrection rilisan paling ringan, sepenuhnya menghilangkan sentuhan horor. Keputusan kontroversial namun terbukti menghindarkan repetisi, toh selera absurd Jeunet masih mampu menghasilkan momen disturbing, sebutlah kala Ripley menemukan salah satu hasil kloningnya yang gagal. Ripley dalam wujud clone adalah sosok baru, lebih kuat, lebih dingin, lebih badass, meski naskah Joss Whedon lemah soal logika pengembangan karakter. Hiburan penuh histeria dalam balutan close-up serta monster hybrid manusia dengan Xenomorph yang, well, aneh.
3. PROMETHEUS (2012)
Prekuel yang lebih banyak mengumbar pertanyaan baru ketimbang menjawab atau membuat koneksi dengan film sebelumnya. Namun segala tanya itu ampuh melebarkan skala penceritaan franchise-nya, membawa ke arah baru yang menyimpan setumpuk potensi hingga bukan lagi sekedar sci-fi/horror klaustrofobik. Naskah garapan Jon Spaihts dan Damon Lindelof kuat mengusung filosofi soal Tuhan walau lemah dalam penokohan ketika sekelompok ilmuwan hadir begitu bodoh. Muncul pula lubang terkait teknologi yang lebih maju dibanding empat film lain (Prometheus ber-setting ratusan tahun sebelumnya). Bujet besar, desain produksi nomor wahid, plus Ridley Scott yang makin berpengalaman menangani blockbuster menghadirkan kemegahan memukau. 
2. ALIENS (1986)
Meninggalkan konsep horor atmosferik, James Cameron menyulap sekuel Alien menjadi suguhan aksi dengan machismo tingkat tinggi beserta metafora Perang Vietnam. Mengganti sexual innuendo dalam Alien dengan artileri militer kelas berat, deretan adegan aksi brutal dilakoni tokoh-tokoh memorable termasuk Ripley yang ketika third act, sepenuhnya bertrasnformasi dari final girl horror menjadi legitimate action heroine. Sambut pula Newt (Carrie Henn), salah satu karakter bocah terbaik Hollywood yang secara kurang ajar dimatikan oleh sekuelnya. 
1. ALIEN (1979)
Ridley Scott piawai menggabungkan teror atmosferik di mana adegan pembuka kala para kru terbangun dari kondisi stasis pun nampak creepy dengan jump scare efektif. Scott sanggup memancing kesan mencekam tak manipulatif bersenjatakan gambar menyeramkan (adegan Xenomorph diam bergelantungan di langit-langit jadi salah satu poin terbaik). Pace yang tak terburu-buru memberi penonton waktu mengenali tiap-tiap karakter. Murni film ensemble. Bahkan awalnya Ripley bak sekedar karakter pendukung ketimbang lead protagonist. Seperti telah disebut pula, sexual imagery bertebaran, entah pada pengadeganan, desain pesawat, pun Xenomorph sendiri. Menegaskan jika film Alien selalu mengusung alegori akan satu hal tertentu. 

DELICATESSEN (1991)

Ini adalah debut penyutradaraan dari Jean-Pierre Jeunet yang paling dikenal lewat Amelie, sebuah film Prancis yang berhasil meraih lima nominasi Oscar termasuk Best Original Screenplay yang ditulis sendiri oleh Jean-Pierre. Tapi dalam Delicatessen Jean-Pierre tidak sendirian karena ada Mar Caro yang juga menjadi sutradara. Naskah film inipun hail tulisan keduanya. Dari judul filmnya yang berarti "toko makanan" Delicatessen tidak akan membawa kita melihat sajian-sajian lezat nan berkelas buatan chef di restoran mewah seperti yang sering muncul di berbagai film-film Prancis. Apa yang dihadirkan oleh Jean-Pierre Jeunet dalam debutnya ini adalah sebuah dunia post-apocalyptic yang kondisinya mengenaskan. Meski tidak diperlihatkan secara keseluruhan tapi dari cerita karakternya sampai cuplikan berita di koran kita akan tahu bahwa manusia sedang kesulitan mendapatkan makanan. Jangankan daging yang lezat, untuk memakan makanan sungguhan saja mereka sudah tidak sanggup. Alhasil pereonomian pun makin memburuk dan tidak dijumpai lagi proses jual beli dengan menggunakan uang. Masyarakat berjual beli kembali dengan cara barter dimana jagung merupakan salah satu benda yang bisa dipakai sebagai alat pembayaran. 

Namun di sebuah apartemen kumuh milik seorang tukang jagal bernama Clapet (Jean-Claude Dreyfus) orang-orang masih bisa menikmati daging yang dijual oleh Clapet meski tidak sering. Tapi walaupun toko daging tersebut berlambang babi, tapi daging yang dijual bukanlah daging babi melainkan manusia. Kebanyakan merupakan korban penipuan dari Clapet dimana ia memasang iklan lowongan kerja di koran, lalu orang yang datang untuk melamar akan dijagal untuk kemudian dijual dagingnya pada orang-orang sekitar. Suatu hari datanglah Louison (Dominique Pinon), mantan badut sirkus yang membaca lowongan pekerjaan dari Clapet. Tanpa tahu bahwa Clapet berniat membunuhnya, Louison tinggal dan bekerja disana dengan senang hati, apalagi setelah ia berkenalan dengan Julie (Marie-Laure Dougnac) yang tidak lain adalah puteri tunggal Clapet. Hubungan keduanya pun semakin lama semakin dekat. Julie kini semakin mengkhawatirkan nasib Louison dan mulai mencari cara untuk menyelamatkan Louison dari ayahnya sendiri. Selain kisah yang menjadi fokus utama tersebut Delicatessen juga akan membawa kita melihat bagaimana kehidupan serta interaksi yang terjadi antara penghuni apartemen tersebut. 

Sama seperti Amelie, hal pertama yang langsung terasa saat melihat Delicatessen adalah keindahan sinematografi dan art direction-nya. Dengan penggunaan filter warna orange yang mendominasi sepanjang film bercampur dengan penyusunan set lokasinya, atmosfer dari film ini tersampaikan dengan baik. Atmosfer yang muncul pada sebuah masa post-apocalyptic dan penuh dengan kerusakan entah itu kerusakan dunia maupun diri manusianya. Saya sangat menyukai bagaimana tiap-tiap set disusun juga bagaimana penempatan propertinya yang tidak jarang terasa unik. Bahkan dari opening credit-nya, Delicatessen sudah menggoda saat satu per satu nama kru film ini terpampang di beberapa barang usang yang melambangkan posisi mereka. Misalnya sinematografer tertulis diatas kamera, atau penata musik tertulis diatas piringan yang sudah pecah. Dari pengemasan set dan propertinya aura weird dan sedikit disturbing bisa dengan mudah dirasakan semisal saat ada ruangan milik seorang tua yang penuh dengan siput dan kodok dengan lantai yang terenda air. Teknik pengambilan gambar serta pencahayannya juga berhasil membuat tidak hanya lokasinya saja yang terasa aneh dan disturbing tapi juga karakter-karakternya. Yang paling terasa adalah saat adegan close-up yang sukses membuat ekspresi karakternya terasa creepy semisal yang nampak ada Clapet maupun Aurore.
Seperti kebanyakan film-film Prancis,  Delicatessen punya iringan musik yang indah. Tapi bukan keindahan itu saja yang menjadikan aspek musik dalam film ini spesial tapi berkat beberapa adegan montage unik yang berhasil dikemas oleh Jean-Pierre dan Marc Caro. Tercatat ada dua montage yang begitu unik dan sanggup membuat saya begitu terpukau. Bagaimana berbagai bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh benda-benda berlainan yang notabene bukan alat musik sanggup menghasilkan harmonisasi bunyi yang enak didengar bahkan sanggup menciptakan rangkaian montage yang lucu. Tapi dari dua adegan tersebut saya paling suka yang lebih sederhana yakni saat Louison sedang memperbaiki per di kasur milik Mademoiselle Plusse (Karin Viard). Dengan diiringi musik ala Hawaii, adegan mengcek per diatas kasur perlahan berubah jadi sebuah "tarian" yang terkesan minimalis, lucu tapi begitu indah. Saya sungguh menyukai gerak dan ekspresi kedua pemainnya khususnya Dominique Pinon pada adegan ini. Lucu. Ya, meski sekilas terlihat sadis dan dsiturbing serta mempunyai tema tentang zaman penuh depresi namun film ini punya sajian komedi yang cukup kental khususnya komedi hitam. Dan diluar dugaan itu berhasil. Saya berhasil dibuat tertawa beberapa kali oleh kelucuan dari film ini yang sebenarnya sedikit aneh...in a good way.

Delicatessen membawa kita pada sebuah depression era disaat nilai-nilai kemanusiaan seolah tidak lagi berlaku dan yang dipikirkan oleh tiap-tiap orang hanyalah berusaha supaya perut mereka tetap kenyang. Hal itu terlihat dari fakta bahwa hampir semua penghuni apartemen tersebut menegtahui bahwa daging yang dijual Clapet adalah daging manusia, tapi mereka toh tidak masalah yang penting bisa makan daging. Bahkan tidak jarang mereka membantu Clapet mengumpulkan daging tersebut. Secara tersirat Delicatessen juga memaparkan tentang sebuah efek domino. Ya, beberapa adegannya yang unik memang memperlihatkan efek domino mulai dari montage yang sudah saya ceritakan sebelumnya sampai beberapa momen yang memperlihatkan usaha Aurore melakukan bunuh diri. Banyak adegan seperti itu karena bagi saya film ini memang coba memperlihatkan bagaimana efek domino terjadi pada dunia saat itu. Sebagai contoh jatuhnya perekonomian berefek pada terjadinya kelaparan, kepalaran berefek pada depresi masyarakat yang ada akhirnya berefek pada kanibalisme yang terjadi. Selain itu masih ada berbagai efek domino lain yang tersirat dalam kisah film ini termasuk pada montage yang pertama muncul yang seolah menggambarkan bagaimana Clapet si penjagal sanggup mengontrol mereka semua yang hidup di apartemen tersebut. Tapi meski begitu Delicatessen sesungguhnya adalah film yang berfokus pada interaksi karakter sebagai daya tarik ceritanya. Kita diajak melihat bagaimana interaksi antar penghuni apartemen serta hubungan yang terjalin satu sama lain yang mayoritas bisa disebut aneh. Ya, ini memang film yang aneh bahkan distrubing namun begitu imajinatif dan mudah memukau penonton dengan segala keunikannya.