Tampilkan postingan dengan label Mark Rylance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mark Rylance. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DON'T LOOK UP

Suatu malam saya sedang bersama teman-teman di sebuah tempat makan. Salah satu dari mereka mulai bercerita. Ceritanya menarik. Saya dan teman-teman lain tertawa tiap punchline dilemparkan. Mengetahui ceritanya disukai, ia pun terlena oleh perhatian yang didapat, kemudian terus mengulang punchline, melanjutkan cerita tanpa tahu kapan harus berhenti, sampai akhirnya antusiasme kami memudar. 

Menonton Don't Look Up terasa serupa. Adam McKay, yang sejak The Big Short enam tahun lalu memilih bertransformasi jadi Aaron Sorkin, punya premis kuat nan relevan. Apa jadinya kalau pemerintah tak memedulikan perkataan ilmuwan kala menghadapi bencana besar yang segera datang? Kita tahu betul bagaimana kelalaian (atau bisa disebut "kebodohan") itu memakan nyawa jutaan manusia pada dua tahun terakhir. 

Tapi bencana di film ini bukan berasal dari virus, melainkan komet raksasa yang bakal menghantam Bumi dalam jwaktu enam bulan. Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence), calon doktor bidang astronomi, dan profesornya, Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) jadi yang pertama menyadari ancaman tersebut. 

Keduanya melaporkan penemuan itu ke Gedung Putih, dengan harapan muncul solusi, hanya untuk mendapati bahwa Presiden Janie Orlean (Meryl Streep) dan puteranya yang juga berposisi kepala staf, Jason (Jonah Hill), lebih mementingkan soal elektabilitas pemilu. Dibiasky dan Mindy diminta "menunggu", bahkan ditertawakan. 

Momen pertemuan ini secara khusus, serta karakter-karakter pemerintah secara umum, dipakai McKay guna menyentil Trump dan kroni-kroninya. Hasrat mengolok-olok itu bisa dipahami, namun kerap membuat Don't Look Up cenderung dangkal. "Mereka bodoh". Titik. Berhenti di situ. Tetap sebuah sindiran, namun pemaparannya lebih dekat ke arah ejekan biasa daripada satir yang cerdas. 

Akibat penolakan Gedung Putih, keputusan berpaling ke media pun diambil oleh protagonis kita, di mana keduanya diundang sebagai bintang tamu acara talk show pagi The Daily Rip, yang dipandu Jack Bremmer (Tyler Perry) dan Brie Evantee (Cate Blanchett). Sekali lagi kekecewaan harus mereka rasakan. Publik lebih tertarik akan gosip romansa Riley Bina (Ariana Grande) si bintang pop, ketimbang berita kehancuran dunia. 

Merupakan langkah natural ketika McKay turut mengkritisi media yang berprinsip "keep the bad news light", juga tendensi publik yang cenderung menggandrungi hal-hal trivial di era media sosial. Sama halnya dengan kritik terhadap seksisme tatkala publik menyikapi Mindy dan Dibiasky secara berlawanan, maupun sosok Peter Isherwell (Mark Rylance), yang sosoknya bak kombinasi para tech billionaire kenamaan dunia nyata, sebagai perwakilan korporat serakah. 

Segala problematika di atas sungguh terjadi. Relevan. Sebuah progresi natural dari premisnya. Tapi McKay terus menambah isi, sehingga alurnya membengkak, semakin melebar di paruh kedua, sampai di titik saya tak lagi tahu, "apa" atau "siapa" yang filmnya ingin tertawakan. Termasuk saat Timothée Chalamet sebagai Yule ikut memenuhi ensemble cast-nya. 

Kelucuan masih tersebar di banyak tempat, sementara DiCaprio dan Lawrence tampil kuat, biarpun memerankan karakter yang sama-sama pernah mereka lakoni sebelumnya (Lawrence dengan gaya angsty, DiCaprio dengan kecemasan yang terus menghantui). Bukankah artinya Don't Look Up bukan film buruk?

Benar, namun menilik setumpuk potensi di seluruh departemen, hasil akhirnya mengecewakan. Don't Look Up pun layaknya parodi akan ambisi McKay menjadi Sorkin. Alih-alih dinamis, keliaran bertuturnya, terutama melalui penyuntingan, lebih terasa mendistraksi. Bahkan terkadang memusingkan, seperti sedang menonton film yang berlebihan memakai teknik shaky cam. 

Don't Look Up terlalu berambisi menjadi dan menceritakan semua hal. Tengok saja ending-nya. Selepas pemandangan realis hangat yang menekankan pada "indahnya kehidupan" (bumi beserta segala isinya, hubungan antar manusia, dll.), di mid-credits kita disuguhi momen sci-fi konyol nan over-the-top. 

(Netflix)

REVIEW - THE TRIAL OF THE CHICAGO 7

Pada aksi Black Lives Matter selepas pembunuhan George Floyd beberapa bulan lalu, opini publik Amerika Serikat terbelah, bahkan di antara mereka yang sama-sama mengutuk rasisme serta tindak kekerasan polisi. Pihak yang kontra, mengecam demonstrasi akibat aksi perusakan, sementara yang pro, menganggap bahwa demi menggoyang para pemegang kekuatan yang sudah terlalu nyaman duduk di singgasana penguasa, reaksi keras perlu dilakukan. Ada faktor-faktor lain, tapi pada intinya, dalam suatu pergerakan, acap kali terjadi perbedaan ideologi yang kerap menyulut perpecahan, walau sejatinya, semua pihak punya satu tujuan. Kondisi serupa terjadi pula di Indonesia dalam protes terkait Omnibus Law.

The Trial of the Chicago 7 yang menandai kali kedua Aaron Sorkin menduduki kursi sutradara setelah Molly’s Game (2017), membahas persoalan di atas, melahirkan paralel antara peristiwa tahun 1968 saat kerusuhan pecah di Konvensi Nasional Partai Demokrat dengan masa kini. Film-film period terbaik memang bukan sebatas perjalanan mengarungi masa lalu, juga membuat penonton membandingkan dengan kondisi sekarang, sehingga menciptakan pertanyaan, “Sudah sejauh apa kita melangkah?”.

Sekuen pembukanya dipakai memperkenalkan satu demi satu protagonis, di mana hanya dengan beberapa kalimat singkat, Sorkin berhasil menjabarkan ideologi yang diusung oleh masing-masing figur. Penyuntingannya membuat mereka seolah menyelesaikan kalimat satu sama lain, bak menyiratkan kalau nantinya kedelapan orang ini bakal saling bersinggungan. Tepatnya, dipaksa bersinggungan dalam rangkaian persidangan panjang yang berlangsung kurang lebih satu tahun.

Delapan orang ditangkap atas tuduhan konspirasi pasca pecahnya kerusuhan di tengah aksi memprotes keputusan Amerika Serikat menambah jumlah prajurit yang dikirim ke Vietnam. Mereka adalah: Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen) dan Jerry Rubin (Jeremy Strong) selaku pentolan Yippies (Youth International Party); David Dellinger (John Carroll Lynch) yang memimpin gerakan pasifisme penentang kekerasan; Tom Hayden (Eddie Redmayne) dan Rennie Davis (Alex Sharp) sebagai penggerak National Mobilization Committee to End the War in Vietnam alias the Mobe; Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II) sang pemimpin Black Panther Party; serta dua aktivis, John Froines (Daniel Flaherty) dan Lee Weiner (Noah Robbins).

Selama sekitar 130 menit, kita diajak mengikuti persidangan yang oleh Abbie disebut “persidangan politis”. Pengacara mereka, William Kunstler (Mark Rylance) awalnya tidak setuju atas sebutan itu. Tapi seiring waktu, sulit bagi kita maupun Kunstler untuk tak mengamini omongan Abbie, setelah pihak penguasa melakukan segala cara untuk mengkriminalisasi para Chicago Eight (baru menjadi Chicago Seven setelah persidangan untuk Bobby Seale dipisah).

Richard Schultz (Joseph Gordon-Levitt) selaku jaksa penuntut sudah merupakan lawan sepadan. Tapi seolah belum cukup, Hakim Julius Hoffman (Frank Langella) terus melakukan ketidakadilan-ketidakadilan konyol. Belum lagi berbagai kecurangan lain, termasuk saat mengirim surat ancaman kepada keluarga salah satu juri dengan memakai nama Black Panther Party sebagai upaya fitnah.

Sorkin justru menggunakan ketidakadilan-ketidakadilan tadi sebagai media pemersatu delapan orang dengan ideologi berbeda (perbedaan yang kerap memancing perselisihan, khususnya antara Abbie dan Tom). Semakin pihak lawan menggelontorkan senjatanya, semakin tersadar pula para protagonis, bahwa di balik perbedaan ideologi, mereka punya musuh yang sama. Tanpa perlu berceramah, Sorkin juga berhasil menyadarkan penonton, bahwa musuh sebenarnya adalah para pemegang kekuatan yang menampik hak-hak minoritas, juga barisan preman berseragam yang malah bersikap brutal kepada orang-orang yang semestinya mereka layani dan lindungi.

The Trial of the Chicago 7 turut menandai upaya Sorkin melahirkan karya yang lebih bersahabat bagi kalangan penonton di luar penggemarnya. Barisan kalimatnya masih kaya, tajam, sesekali menggelitik, dan tentunya memorable. “Martin’s dead. Bobby’s dead. Jesus is dead. They tried it peacefully. We’re going to try something else”, ucap Bobby. Terdengar nyeleneh, tapi memancing perenungan. Tapi berbeda dengan kebiasaan Sorkin selama ini, penghantaran kalimat-kalimat tersebut tidak secepat lesatan peluru senapan otomatis. Penonton awam takkan kesulitan mengikutinya. Pun Sorkin menawarkan konklusi crowd pleasing, yang membuat saya bisa membayangkan, apa jadinya film ini, bila rencana awal di tahun 2007 untuk memberikan posisi sutradara kepada Steven Spielberg jadi dilakukan.

Terkait penyutradaraan, Sorkin makin matang. Sekuen terbaiknya adalah kerusuhan pertama, ketika demonstran berpawai menuju kantor polisi guna membebaskan Tom. Tempo yang meningkat secara bertahap, penyuntingan dinamis yang bergantian memperlihatkan dua pernyataan kontradiktif dari masing-masing pihak, kombinasi adegan reka ulang dan footage asli, ditambah musik pemacu adrenalin gubahan Daniel Pemberton (Steve Jobs, Spider-Man: Into the Spdier-Verse) Sorkin telah menyempurnakan kemampuannya membangun momentum yang begitu kuat menyetir emosi penonton.

Jajaran pemainnya tak kalah bersinar. Seperti biasa, Redmayne solid memerankan pria rapuh yang berusaha kuat. Pria yang mengucapkan kata-kata bernada keyakinan dengan penuh ketidakyakinan. Pria yang seperti bisa runtuh kapan pun namun menolak berhenti di tengah jalan. Langella adalah antagonis yang gampang dibenci, sedangkan Michael Keaton menjadi glorified cameo yang meninggalkan kesan.

Tapi Sacha Baron Cohen adalah yang terbaik. Abbie adalah aktivis, hippie, sekaligus komika. Kombinasi yang membuatnya sekilas hanya pria konyol yang tak bisa diandalkan, namun semakin banyak sarkasme tajam nan cerdas terlontar dari mulutnya, semakin mengagumkan sosoknya, yang turut menjelaskan, bagaimana bisa, di tengah tekanan dari penguasa, demokrasi menolak berjalan mundur pada 1968.


Available on NETFLIX

READY PLAYER ONE (2018)

Pada 2045 saat dunia menjadi kumuh akibat overpopulasi, polusi, korupsi, dan perubahan iklim, umat manusia memilih “kabur” ke OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), dunia virtual ciptaan James Halliday (Mark Rylance) yang dapat diakses memakai kacamata VR, di mana seseorang bebas menjadi siapa saja serta melakukan apa saja. Pada 2018 saat dunia kerap lupa bersenang-senang, umat manusia mestinya “kabur” ke Ready Player One, dunia imajinatif ciptaan Steven Spielberg, yang sebaiknya dinikmati memakai kacamata 3D. Kostum XI dapat memaksimalkan sensasi OASIS yang karakternya alami,  sedangkan format 4DX menghasilkan efek serupa bagi filmnya.

Berasal dari novel fenomenal berjudul sama buatan Ernest Cline (juga selaku penulis naskah bersama Zak Penn) yang dipenuhi referensi kultur populer 80-an, jelas tak ada yang lebih pantas menggarap adaptasi layar lebarnya selain Spielberg. Pertama, ia termasuk sosok paling berpengaruh yang membentuk kultur populer masa itu lewat trilogi Indiana Jones (1981-1989), sampai E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Kedua, tidak ada sutradara sehebat dirinya perihal merangkai hiburan visioner kental kreativitas bertabur efek spesial berskala besar. Sekali lagi, TIDAK ADA.
Wade Watts (Tye Sheridan), bocah yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di pemukiman kumuh di Columbus, Ohio, merupakan protagonis kita. Seperti orang-orang yang lebih betah memamerkan diri di dunia maya (baca: sosial media) karena merasa sosok aslinya payah, Wade pun menghabiskan mayoritas waktunya di OASIS. Menggunakan avatar bernama Parzival, Wade mengikuti kompetisi mencari easter eggs yang ditinggalkan Halliday sebelum meninggal. Si pemenang bakal mewarisi kepemilikan OASIS plus hadiah-hadiah lain. Masalahnya, rintangan yang mesti dihadapi teramat sulit, belum lagi ancaman dari Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) beserta perusahaan penyedia peralatan VR miliknya, IOI (Innovative Online Industries), yang berambisi menguasai OASIS.

Saya berharap Ready Player One meluangkan sedikit lagi waktu menyelami dunia maupun karakternya lebih jauh, namun kehebatan Spielberg merangkai spectacle membuat saya tidak keberatan langsung terjun ke dalam aksi bombastis sejak menit awal. Balapan melintasi versi OASIS untuk New York di mana bola-bola besi raksasa, T-Rex, hingga King Kong telah menanti guna menggagalkan usaha menemukan easter eggs. Ini baru tahap pertama, tapi itu urung memudahkan perjuangan Parzival dengan mobil “Back to the Future” miliknya menembus garis akhir. Begitu pula Art3mis (Olivia Cooke), sosok pemain terkenal pengendara motor merah dari animasi Akira yang jadi pujaan Parzival.

Balapan tersebut membuktikan betapa Spielberg paham cara membangun tensi. Reruntuhan gedung yang membuat mobil saling bertabrakan, amukan King Kong yang menghancurkan kendaraan pemain layaknya mainan plastik murahan, bukan sekedar pawai CGI. Terdapat dimensi, bobot, alih-alih gambar rekayasa komputer yang beterbangan tanpa massa tubuh. Berkatnya, kesan bahwa para tokoh sungguh terancam bahaya pun terasa. Menegangkan, tetapi Spielberg tak pernah lalai menyuntikkan nuansa senang-senang.
Ready Player One mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia nyata maupun maya. Keseimbangan itu dibutuhakan. Spielberg wants us to know what it feels like to live our lives at its fullest. Caranya adalah meniadakan set piece yang sifatnya filler. Total ada 3 kunci diperlukan demi mendapatkan hadiah dari Halliday, dan tiap fase pencarian kunci mengandung momen penyulut decak kagum dan sorak sorai berupa visualisasi kelas wahid Spielberg terhadap ide tertulis Cline. Di tangan Spielberg, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau referensi budaya populer?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tur mengelilingi Hotel Overlook, lantai dansa nol gravitasi dilengkapi lagu Stayin’ Alive, sampai pergumulan “tiga raksasa” di klimaks bak fase alamiah yang wajib alurnya lalui.

Tetap ada cela. Sebagai film mengenai ajakan agar tak melupakan realita, adegan “dunia nyata” film ini kekurangan daya pikat. Saya merasa seperti manusia-manusia di dalamnya yang memilih kehidupan OASIS ketimbang kenyataan. Satu-satunya momen (mendekati) realita yang tampil menarik terletak menjelang akhir, Mark Rylance memperlihatkan akting kaya sensitivitas sebagai Halliday, si pria jenius yang introvert pula canggung soal sosialisasi. Namun di kemunculan pamungkasnya, dibalut kehangatan ala Spielberg, Rylance menunjukkan bahwa Halliday telah berubah. Lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak. Kita semua mampu mengalami perubahan serupa asal tidak terlampau lama menetap di dunia maya.

DUNKIRK (2017)

Nolan seringkali bermasalah soal drama. Setidaknya demikian yang dilontarkan para pengkritiknya, bahwa karya-karya sang sutradara tak menyimpan rasa. Saya tidak membantah, sebab baru Interstellar yang memercikkan hati. Namun tidak pula sepenuhnya setuju, toh kebutuhan akan hati baru mencapai urgensi di Interstellar yang menuturkan kisah ayah-anak. Sisanya, Nolan memang sengaja menekankan permainan alur berkonsep tinggi atau gemuruh spectacle. The Dark Knight Rises dan Inception menggedor jantung, tapi rasa yang dimaksud adalah sentuhan kemanusiaan. Dunkirk yang didasari peristiwa nyata evakuasi prajurit sekutu pada Perang Dunia II jelas memberi Nolan modal besar guna "memperbaiki kekurangan" di atas

Naskah tulisan Nolan terbagi menjadi tiga cabang. The Mole mengisahkan usaha angkatan darat Sekutu kabur dari serangan Jerman di bibir pantai Dunkirk melalui sudut pandang Tommy (Fonn Whitehead) si prajurit Inggris. The Sea mengambil perspektif Dawson (Mark Rylance) bersama putranya, Peter (Tom Glynn-Carney) dan remaja bernama George (Barry Keoghan) selaku satu dari sekian banyak warga sipil yang berani menyeberang lautan demi membawa pulang prajurit di Dunkirk. Terakhir adalah The Air, yang seperti judulnya, berlokasi di udara menyoroti tiga pilot Spitfire termasuk Farrier (Tom Hardy). Masing-masing berlangsung selama satu minggu, satu hari, dan satu jam.
Nolan masih gemar bermain-main dengan persepsi waktu. Ketiga cerita dikemas non-linier. Saling bersinggungan namun tak berurutan. Misalnya, kita lebih dulu melihat prajurit tanpa nama (Cillian Murphy) terombang-ambing di tengah lautan, tertekan akibat PTSD dalam The Sea, sebelum menyaksikan penyebab ia sampai ke sana pada The Mole. Tujuannya untuk menyampaikan beragam perspektif terhadap satu peristiwa. Menarik, sebab kerap lahir sudut pandang baru nan berlainan, yang bagi tiap tokoh kelak memproduksi memori berbeda-beda akan peristiwa tersebut. Bagaimana di tengah kekacauan yang melibatkan ratusan ribu manusia, bermacam persepsi berlawanan mungkin tercipta. Pula bagaimana tanpa seseorang sadari, tindakan orang tak dikenal berdampak besar akan dirinya. Pendekatan alur ini cocok mewakili konsep filosofis tersebut.

Masalahnya, ketiadaan penanda pergantian waktu   yang mana disengaja demi menggambarkan ambiguitas pemahaman tokoh akan detail situasi   justru melemahkan narasi. Sulit mengidentifikasi apakah sebuah peristiwa baru kita lihat atau pengulangan dalam sudut pandang baru tanpa keberadaan transisi pasti. Ditambah lagi, mayoritas durasi berisi kekacauan yang mirip. Hitung berapa kali adegan kapal tenggelam. Alhasil sulit terikat oleh rangkaian kejadian itu. 
Kembali soal emosi. Sedari film dimulai saya menantikan Nolan memacu rasa melalui paparan heroisme kental unsur kemanusiaan. Sedari awal scoring Hans Zimmer selalu mengiringi. Sesekali beralih ke gaya biasa berupa hentakan perkusi pemancing detak jantung, tapi mayoritas adalah alunan atmosferik ditambah suara konstan detik jam, bak mengesankan bahaya selalu mengintai, dapat sewaktu-waktu menerjang. Terbukti, acap kali dentuman mengejutkan menyeruak di saat tak terduga, menyiratkan potensi Nolan meramu jump scare efektif dalam horor. Sementara musik non-stop mendukung niat sang sutradara bercerita lewt visual penuh momen sunyi (sampai titik filmnya bagai silent movie) dibungkus sinematografi berkesan ironi karena Hoyte van Hoytema menangkap horor peperangan macam mayat bergelimpangan di pantai secara cantik. Dampaknya, pemandangan itu mengendap di pikiran. 

Otak saya dapat mengolah semua itu, mencerna tujuan-tujuan di baliknya. Seperti ketika saya paham hebatnya Nolan mengemas aksi yang otentik berkat meminimalkan pemakaian CGI. Mungkin hanya dia yang diberi keleluasaan demikian, termasuk menempatkan kamera di tiap sudut pesawat tempur di angkasa. Sekali lagi, otak saya mengerti betapa dari segi teknis, Dunkirk tiada cela. Namun ada kekosongan ketika totalitas eksekusi itu jarang mengguncang perasaan, baik haru melihat perjuangan umat manusia maupun ketegangan mendapati sederet aksi tanpa henti. Lalu saya sadar jika tidak kenal tokoh-tokohnya sebab Dunkirk disajikan sebagai event ketimbang karakter-sentris. Manusia adalah "sekumpulan makhluk dalam peristiwa" daripada individu unik berkepribadian serta berlatar belakang lengkap. Dampaknya, sulit tercipta kepedulian walau mereka berulang kali tenggelam atau terjebak di tengah hujan bom. Jadilah cerita kemanusiaan yang urung memanusiakan manusia, walau cast-nya solid di porsi masing-masing; kecemasan Cillian Murphy, ketenangan di balik heroisme Tom Hardy, kehangatan sosok ayah Mark Rylance. Harry Styles dalam debut aktingnya pun lancar bermain rasa. 
Faktor lain terkait kesengajaan menekan gejolak emosi, menolak dramatisasi demi kesan realistis. Keputusan yang berlawanan sekaligus melemahkan materinya. Kedatangan menyentuh rakyat sipil "membawakan rumah" bagi para tentara, harap-harap cemas menyaksikan aksi heroik di udara, hingga selipan kisah keluarga, bergulir di nada rendah, enggan diletupkan. Misi Dunkirk adalah soal kepahlawanan menggugah. Nolan melucuti esensi itu demi otentitas yang sesungguhnya layak dipertanyakan ketika kita takkan menemukan darah mengalir. Merupakan inkonsistensi sewaktu usaha merangkai kondisi realistis perang tak dibarengi darah selaku gambaran kebrutalan. Melalui Dunkirk, Nolan membuat film perang realistis yang berakhir tidak realistis, pula menahanemosi dalam interpretasi atas peristiwa nyata emosional. 

Saya keluar dari bioskop dengan kehampaan. Namun ada perasaan aneh yang tak kunjung hilang. Perasaan ingin kembali mengunjungi Dunkirk meski telah dikecewakan. Perasaan yang belum bisa saya pecahkan bahkan setelah tulisan ini selesai. Mungkin di luar ketiadaan rasa, Nolan berhasil menciptakan sesuatu yang jarang dicapai blockbuster belakangan, yakni cinematic experience. Mungkin Dunkirk sejatinya masterpiece andai diihat dari sudut pandang lain sebagaimana perbedaan perspektif yang menimpa tokoh-tokoh di dalamnya. Tapi untuk sementara, Dunkirk merupakan karya terlemah Christopher Nolan.


Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/7_1FFXi