Tampilkan postingan dengan label Cate Blanchett. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cate Blanchett. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NIGHTMARE ALLEY

Di sebuah kesempatan, protagonis Nightmare Alley dibaca garis nasibnya memakai kartu tarot. Hasilnya, ia bakal tertimpa nasib buruk. Keburukan seperti apa? Begitulah rasanya menonton film ini. Mengetahui bagaimana noir bekerja, kita tahu tragedi menanti, namun rupanya tak diketahui. Sama seperti ketidaknyamanan kala menyusuri gang gelap di tengah malam. Seolah ada yang siap menerkam, tapi entah apa. 

Karya terbaru Guillermo del Toro ini, yang naskahnya dia tulis bersama Kim Morgan selaku adaptasi layar lebar kedua bagi novel berjudul sama buatan William Lindsay Gresham (versi pertamanya rilis tahun 1947), adalah tontonan sarat foreshadowing, yang bertujuan menelusuri sisi kelam manusia, serta bagaimana putaran takdir seolah enggan mengalah, lalu ingin memamerkan betapa kelam ironi yang dibawanya.

Protagonis kita bernama Stan (Bradley Cooper). Di sekuen pembuka, Stan membakar rumahnya, bersamaan dengan tubuh yang terbungkus kain. Apakah ia pembunuh? Ataukah penonton sedang dikecoh? Pastinya Stan bukan pria polos. Kematian tak asing baginya, sehingga ini pun bukan kisah hilangnya kepolosan individu. 

Stan tiba di kelompok sirkus milik Clem (Willem Dafoe). Salah satu aksi andalan mereka adalah geek show, di mana pria berpenampilan kumuh menggigit kepala ayam hidup. Aksi ini dahulu marak dilakukan, dan sang penampil, yang biasanya tanpa talenta apa pun, bersedia direndahkan demi asupan opium dan/atau alkohol. Stan bertanya-tanya, "Bagaimana bisa ada manusia yang terjatuh sedemikian dalam?". 

Kerlap-kerlip lampu karnaval di malam hari, pencahayaan temaram, ditangkap oleh kamera Dan Laustsen, sinematografer yang sudah empat kali berkolaborasi dengan del Toro. Cantik sekaligus misterius. Serupa karya-karya sang sutradara biasanya, namun Nightmare Alley bagai melangkah di garis batas antara magisnya dunia fantasi dan realita. 

Tapi tiada monster di sini. Hanya ada manusia-manusia, yang dianggap monster oleh sesamanya (geek, janin bermata tiga bernama "Enoch" yang diawetkan dalam toples). Pula tidak ada sihir. Hanya ada rangkaian trik yang dilakukan sedemikian meyakinkan sampai tampak bak keajaiban. 

Salah satunya cold reading, yang dipelajari Stan dari pasangan suami-istri, Pete (David Strathairn) dan Zeena (Toni Collette). Berbekal metode rumit, mereka bisa menebak benda apa yang orang lain pegang dengan mata tertutup, bahkan membaca sejarah di baliknya. Del Toro seperti punya ketertarikan tinggi akan praktek tersebut (dan pertunjukan sirkus secara umum), lalu dengan antusias mengajak kita menelisik seluk beluknya. 

Salah satu poin terbaik Nightmare Alley adalah tiap mempresentasikan detail pertunjukan, yang tak jarang menutupi lubang penceritaan. Jika versi 1947 cuma berdurasi 111 menit, maka versi del Toro berjalan hingga dua setengah jam. Terlalu panjang, pun tidak jarang kisahnya hilang arah.

Ada istilah "kill your darlings", yang merujuk pada keharusan penulis untuk berani menghilangkan bagian alur, adegan, atau kalimat yang dirasa kurang signifikan. Del Toro dan Morgan bak enggan melakukannya, hingga penceritaannya, terlebih di paruh pertama, seperti sedang menaiki komidi putar yang tidak pernah berhenti. 

Cukup lama pula sampai kisahnya memasuki ranah romansa. Stan jatuh cinta pada Molly (Rooney Mara) si "gadis listrik", mengajak sang pujaan hati turut serta dalam upayanya mengejar mimpi, yang jadi titik balik film. Nantinya Stan juga berurusan dengan Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett), seorang psikolog. Blanchett menghipnotis layaknya femme fatale khas noir.

Semakin jauh Stan melangkah, semakin kentara apa yang menantinya di ujung gang gelap. Sekali lagi, tidak ada monster. Bagi Stan, monster itu justru dirinya sendiri. Seorang pria dengan father issue, yang berujung menjadi sesuatu yang amat dia benci. Tatkala kebohongan tidak lagi dapat dikendalikan, si pembohong pun mulai memercayai kebohongan itu, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang ia wujudkan sendiri. 

Babak akhirnya membawa filmnya menyuguhkan beberapa kekerasan, tapi hal paling mengerikan justru bukan berasal dari pertumpahan darah, melainkan ironi takdir di penghujung cerita. Tawa Cooper di shot penutup saat karakternya (dan penonton) menyadari ironi tersebut, terdengar sangat mengiris, juga menghantui, sebab kita pun bisa saja bernasib serupa. Penuturan Nightmare Alley memang tergolong lemah dibanding deretan karya Guillermo del Toro lain, namun konklusinya salah satu yang paling menusuk.

REVIEW - DON'T LOOK UP

Suatu malam saya sedang bersama teman-teman di sebuah tempat makan. Salah satu dari mereka mulai bercerita. Ceritanya menarik. Saya dan teman-teman lain tertawa tiap punchline dilemparkan. Mengetahui ceritanya disukai, ia pun terlena oleh perhatian yang didapat, kemudian terus mengulang punchline, melanjutkan cerita tanpa tahu kapan harus berhenti, sampai akhirnya antusiasme kami memudar. 

Menonton Don't Look Up terasa serupa. Adam McKay, yang sejak The Big Short enam tahun lalu memilih bertransformasi jadi Aaron Sorkin, punya premis kuat nan relevan. Apa jadinya kalau pemerintah tak memedulikan perkataan ilmuwan kala menghadapi bencana besar yang segera datang? Kita tahu betul bagaimana kelalaian (atau bisa disebut "kebodohan") itu memakan nyawa jutaan manusia pada dua tahun terakhir. 

Tapi bencana di film ini bukan berasal dari virus, melainkan komet raksasa yang bakal menghantam Bumi dalam jwaktu enam bulan. Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence), calon doktor bidang astronomi, dan profesornya, Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) jadi yang pertama menyadari ancaman tersebut. 

Keduanya melaporkan penemuan itu ke Gedung Putih, dengan harapan muncul solusi, hanya untuk mendapati bahwa Presiden Janie Orlean (Meryl Streep) dan puteranya yang juga berposisi kepala staf, Jason (Jonah Hill), lebih mementingkan soal elektabilitas pemilu. Dibiasky dan Mindy diminta "menunggu", bahkan ditertawakan. 

Momen pertemuan ini secara khusus, serta karakter-karakter pemerintah secara umum, dipakai McKay guna menyentil Trump dan kroni-kroninya. Hasrat mengolok-olok itu bisa dipahami, namun kerap membuat Don't Look Up cenderung dangkal. "Mereka bodoh". Titik. Berhenti di situ. Tetap sebuah sindiran, namun pemaparannya lebih dekat ke arah ejekan biasa daripada satir yang cerdas. 

Akibat penolakan Gedung Putih, keputusan berpaling ke media pun diambil oleh protagonis kita, di mana keduanya diundang sebagai bintang tamu acara talk show pagi The Daily Rip, yang dipandu Jack Bremmer (Tyler Perry) dan Brie Evantee (Cate Blanchett). Sekali lagi kekecewaan harus mereka rasakan. Publik lebih tertarik akan gosip romansa Riley Bina (Ariana Grande) si bintang pop, ketimbang berita kehancuran dunia. 

Merupakan langkah natural ketika McKay turut mengkritisi media yang berprinsip "keep the bad news light", juga tendensi publik yang cenderung menggandrungi hal-hal trivial di era media sosial. Sama halnya dengan kritik terhadap seksisme tatkala publik menyikapi Mindy dan Dibiasky secara berlawanan, maupun sosok Peter Isherwell (Mark Rylance), yang sosoknya bak kombinasi para tech billionaire kenamaan dunia nyata, sebagai perwakilan korporat serakah. 

Segala problematika di atas sungguh terjadi. Relevan. Sebuah progresi natural dari premisnya. Tapi McKay terus menambah isi, sehingga alurnya membengkak, semakin melebar di paruh kedua, sampai di titik saya tak lagi tahu, "apa" atau "siapa" yang filmnya ingin tertawakan. Termasuk saat Timothée Chalamet sebagai Yule ikut memenuhi ensemble cast-nya. 

Kelucuan masih tersebar di banyak tempat, sementara DiCaprio dan Lawrence tampil kuat, biarpun memerankan karakter yang sama-sama pernah mereka lakoni sebelumnya (Lawrence dengan gaya angsty, DiCaprio dengan kecemasan yang terus menghantui). Bukankah artinya Don't Look Up bukan film buruk?

Benar, namun menilik setumpuk potensi di seluruh departemen, hasil akhirnya mengecewakan. Don't Look Up pun layaknya parodi akan ambisi McKay menjadi Sorkin. Alih-alih dinamis, keliaran bertuturnya, terutama melalui penyuntingan, lebih terasa mendistraksi. Bahkan terkadang memusingkan, seperti sedang menonton film yang berlebihan memakai teknik shaky cam. 

Don't Look Up terlalu berambisi menjadi dan menceritakan semua hal. Tengok saja ending-nya. Selepas pemandangan realis hangat yang menekankan pada "indahnya kehidupan" (bumi beserta segala isinya, hubungan antar manusia, dll.), di mid-credits kita disuguhi momen sci-fi konyol nan over-the-top. 

(Netflix)

HOW TO TRAIN YOU DRAGON: THE HIDDEN WORLD (2019)

Pada satu kesempatan, Hiccup (Jay Baruchel) kewalahan menjalani perannya sebagai kepala suku Berk, tepat ketika ia mulai berpikir untuk “membebaskan” Toothless. Sang ibu, Valka (Cate Blanchett) beranggapan, itu terjadi karena Hiccup merasa harus memimpin seorang diri, tanpa sokongan orang-orang di sekitar sebagaimana mendiang ayahnya dulu. Astrid (America Ferrera) setuju, lalu menyebut bahwa gamang Hiccup akibat rasa tidak percaya diri tanpa keberadaan Toothless.

Argumen Valka membahas soal kebersamaan, sedangkan pernyataan Astrid membicarakan kepercayaan diri. Keduanya merupakan pesan yang berbeda (kalau bukan kontradiktif) dan bisa dipakai untuk membentuk dua film terpisah. Jika apa yang How to Train Your Dragon: The Hidden World maksud adalah keduanya mampu (bahkan harus) saling melengkapi, poin itu tak pernah benar-benar digali, membuktikan kalau mencapai film ketiganya, penceritaan seri ini mulai melemah, dan sudah tiba waktunya mengucap salam perpisahan.

Sebab setelah Hiccup menerima takdirnya sebagai pemimpin, sementara manusia dan naga telah hidup berdampingan (setidaknya di Berk), apa yang tersisa untuk diceritakan? Sutradara sekaligus penulis naskah Dean DeBlois sadar, dan (secara natural) membawa film ketiga menuju kisah soal merelakan. Seri How to Train Your Dragon sejatinya memang selalu mengenai proses pendewasaan Hiccup, dan tidak ada fase yang lebih menantang dalam pendewasaan dibanding keharusan merelakan. All good things must come to an end.

Di bawah panduan Valka, Hiccup bersama teman-temannya kini bertindak selaku “pasukan pembebas” bagi naga-naga yang dikurung umat manusia. Hiccup pun sekarang telah menjadi prajurit gagah berani dengan pedang api membara dan kemampuan mengendarai naga yang selalu luar biasa. Tapi dilema menerjang hatinya tatkala menyadari sudah terlampau banyak naga bernaung di Berk, membuat mereka jadi sasaran empuk para pemburu.

Kekhawatiran tersebut terwujud ketika Grimmel (F. Murray Abraham), sang pemburu naga nomor satu yang mengabdikan hidupnya membunuh night fury, menyadari keberadaan Toothless. Ideologi yang tertuang pada tiap perkataan Grimmel membuatnya nampak bak white supremacist di dunia nyata. Dia meyakini manusia adalah makhluk superior, sedangkan eksisteni naga mengganggu stabilitas, makhluk asing yang mesti dimusnahkan. Bahkan Grimmel memiliki dua ekor naga sebagai budak yang ia kontrol dengan serum buatannya.

Ancaman Grimmel memaksa Hiccup mengungsikan rakyat Berk. Tujuannya tak lain “The Hidden World”, tempat asal leluhur naga yang telah lama dicari sang ayah. Baru di pertengahan, filmnya membawa kita menuju petualangan mencari dunia tersembunyi. Sebelumnya, How to Train Your Dragon: The Hidden World berkutat soal pergolakan batin tokoh utama, membuatnya berbeda dibandingkan keajaiban film pertama atau sekuel penuh aksinya. Balutan dramaThe Hidden World bergerak lebih lambat, berpotensi melelahkan bagi penonton anak, namun kurang menggigit untuk orang tua.

Tapi tiap kali DeBlois melontarkan adegan aksi, The Hidden World terbukti menawarkan spectacle yang tak pernah nampak kerdil bila disejajarkan dengan live action blockbuster. Bombastis, dinamis, meki beberapa kali berakhir terlalu dini. Setelah tiga film How to Train Your Dragon, terbukti bahwa DeBlois sepenuhnya sudah menguasai cara merangkai visual lewat medium animasi. The Hidden World memang berada di puncak kala memamerkan pencapaian visual, seperti saat kita dibawa memasuki dunia tersembunyi dengan lingkungan glow in the dark memesona.

Lihat juga subplot tentang romansa Toothless dan night fury betina cantik berwarna putih yang dipanggil Light Fury. Kecerobohan dan keluguan Toothless dalam usaha merebut perhatian sang pujaan hati jauh lebih lucu dan menggemaskan dibanding banyak film romansa yang melibatkan manusia. Saya tertawa melihat kecanggungan mereka, lalu terpukau saat mereka terbang berdampingan di angkasa, bermanuver menembus badai bagai dua makhluk agung penguasa angkasa.

Beberapa elemen narasinya memang kurang bekerja, termasuk pesan mengenai “minimnya kerja sama antara para Viking muda” yang usai begitu saja tanpa proses memadahi. Namun poin cerita tentang “merelakan” sanggup membawa cukup rasa guna menutupi kelemahan-kelemahannya. Sekitar 10 menit akhir How to Train Your Dragon: The Hidden World memberi apa yang film ini butuhkan sebagai penutup emosional bagi salah satu trilogi animasi terbaik sepanjang masa.

THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS (2018)

Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim sejak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju adaptasi novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland sejak buku ketujuh setelah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini bersahabat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski akhirnya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

Kasus lain tentang perubahan karir aneh adalah saat Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil karena sutradara horor yang baik selalu memiliki sensitivitas dalam menciptakan intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung menciptakan kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan mayoritas durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap aneh oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis belajar menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan seperti jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun datang begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum sampai di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan kaca patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang dapat bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di bak pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan ide imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi usaha Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil kuat berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black sempurna menangani peran di dunia fantasi ajaib seperti ini. Vaccaro si aktor cilik pun tampil apik, khususnya saat diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini jelas Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir wanita tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah saat bertukar ejekan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai bagian dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana saat menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang seperti halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang enak dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, sebab sekali lagi, Roth bukan ahlinya menciptakan ketegangan bahkan saat menggarap horor. Tanpa gore dia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak sampai jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana bahaya besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu akhirnya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melakukan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus berbagai makhluk aneh lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akibat klimaks yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” membuktikan bahwasanya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, memiliki otak sinting yang dapat memproduksi hiburan.

OCEAN'S 8 (2018)

Genre heist caper punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis bodoh”.

Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson, Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11 (1960) yang juga mengandalkan star power kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr., dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint, kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan perampokan.

Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi, Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak merasa terlibat?

Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya. Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh, aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.

Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.

Apalah artinya heist tanpa twist yang bertempat pasca perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu rasanya menyaksikan film heist, cukup karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett, atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.

THOR: RAGNAROK (2017)

Plot-wise, Thor: Ragnarok punya cerita tipis. Ini bukan intrik politik layaknya The Winter Soldier, bukan drama transformasi karakter serupa Iron Man, bukan pula shakesperian soal perebutan tahta kerajaan macam Thor pertama meski hal itu memegang peranan penting dalam konflik utama. Ragnarok adalah komedi yang bersembunyi di balik spectacle seharga $180 juta. Kelompok oposisi MCU akan senang hati mencaci bersenjatakan pernyataan "tiada kesan mengancam di filmnya". Karena di Ragnarok yang sejatinya mengandung kisah kelam, canda tawa selalu dikedepankan.

Kali ini Thor (Chris Hemsworth) mesti menghentikan Ragnarok, yakni "akhir segalanya", serta menghadapi Hela (Cate Blanchett), Dewi Kematian yang berusaha merebut tahta Asgard. Tentu perjalanan sang Dewa Petir tak mudah. Selain Mjolnir-nya dihancurkan oleh Hela, dia juga terdampar di Planet Sakaar yang dikuasai The Grandmaster (Jeff Goldblum), dan terpaksa mengikuti kontes ala Gladiator melawan Hulk (Mark Ruffalo). Lagi-lagi tipu daya Loki (Tom Hiddleston) pun ikut menghalangi. Di antaranya, sutradara Taika Waititi masih sempat menghadirkan adegan Thor melihat penis Hulk sampai istilah "devil's anus" bagi suatu portal antar dimensi.
Fakta bahwa Thor: Ragnarok setia bercanda walau diisi hancurnya senjata si jagoan, tokoh Dewi Kematian yang melakukan pembantaian, dan kiamat, justru membuatnya spesial. Perlu disadari, dunia tempat kita tinggal sekarang tak lagi asing dengan semua itu, dan Waititi bersama Eric Pearson selaku penulis naskah seolah menyediakan penonton tempat berlindung berupa dunia fantasi di mana sederet masalah tadi bisa diselesaikan, bahkan ditertawakan. Meski sulit disangkal keputusan tersebut melucuti bobot Hela, sebatas menjadikannya villain menghibur berkat pesona Blanchett daripada sosok penebar ancaman dahsyat.

Komedinya memang pantas jadi menu utama. Alasan mengapa alumni sinema independen macam Waititi maupun James Gunn cocok menahkodai film Marvel tak lain kreativitas mereka melontarkan lelucon. Di tangan Waititi, nyaris segala situasi dan karakter punya kebodohan, tak terkecuali wanita setangguh Valkyrie (disokong penampilan gemilang Tessa Thompson) yang kegemaran mabuknya kerap menghasilkan tingkah jenaka. Sisanya adalah gelaran slapstick tepat waktu sampai anomali berupa sifat kekanakan Hulk, atau Korg (diperankan Waititi sendiri) dengan tubuh besar nan kokoh dari batu tetapi baik hati pula bersuara "lembut". Beberapa cameo pun dimanfaatkan sebaik mungkin, mulai Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang ilmu sihirnya merepotkan Thor dan Loki, hingga sosok kejutan pada suatu drama panggung di Asgard.
Chris Hemsworth yang selama ini bagai terkekang, terkubur daya tarik Loki di dua film pertama kini terfasilitasi potensi komikalnya. Hemsworth akhirnya bersinar di filmnya sendiri, menghadirkan Thor yang di satu waktu perkasa menghantam ratusan anak buah Surtur, tapi di kesempatan lain memancing tawa saat memohon-mohon supaya rambutnya tak dipangkas. Hebatnya, Thor tidak berakhir sebagai produsen tawa saja, sebab Ragnarok sukses melakukan hal penting yang gagal dicapai pendahulunya termasuk dua installment Avengers, yaitu mematenkan Thor sebagai "Dewa Petir" alih-alih "Dewa Martil". Sesuai hakikat babak pamungkas sebuah trilogi, Ragnarok menyempurnakan perjalanan protagonisnya.

Terdapat kekhawatiran Ragnarok berusaha terlampau keras meniru Guardians of the Galaxy. Benar warna mencolok tampil dominan namun penggunaannya berbeda. Dibantu sinematografi Javier Aguirresarobe, warna vibrant plus tata artistik out-of-this-world Waititi pakai demi mengolah nuansa fantasi bercampur sci-fi 80-an ala Flash Gordon di mana pemandangan naga terbang di langit jingga (dan ungu) jadi hal biasa. Waititi bersenang-senang menggarap adegan berbalut musik synth catchy garapan Mark Mothersbaugh (sebenarnya bisa lebih ditonjolkan) juga Immigrant Song-nya Led Zeppelin yang tak ubahnya cue bagi aksi keren yang segera menghentak. Alangkah bijaknya, kita selaku penonton turut tenggelam dalam kesenangan serupa tanpa menagih keseriusan maupun kekelaman yang tidak wajib ada. 

SONG TO SONG (2017)

Menutup trilogi kontemporer tak resmi milik Terrence Malick, Song to Song menyatukan kisah cinta To the Wonder dengan gemerlap membutakan kehidupan modern Knight of Cups. Sampai titik ini penonton mestinya tahu sang sutradara bakal memberi tontonan seperti apa. Sehingga walau menyoroti skena musik di Austin, Texas, menuturkan romantika, serta dibintangi Ryan Gosling sebagai musisi passionate, jangan mengharapkan "La La Land 2.0". Song to Song adalah "film Malickian" saat karakter merupakan representasi ide ketimbang manusia kompleks yang tinggal dalam dunia di mana matahari selalu bersinar dan jatuh cinta diekspresikan dengan berguling di rumput atau saling belai di balik balutan gorden.

Menit-menit awal diisi perkenalan terhadap tiga tokoh utama, BV (Ryan Gosling), Cook (Michael Fassbender), dan Faye (Rooney Mara). Penonton hanya disuguhi sekelumit karakterisasi: BV ingin menyentuh rasa orang-orang lewat musiknya, Berbekal prinsip "any experience is better than no experience" Faye mengejar kehidupan sebebas mungkin, sedangkan Cook adalah pelaku industri musik handal yang bergelimang kemewahan (tipikal "manusia kosong" yang gemar Malick kritisi). Penokohan singkat di atas berfungsi menjelaskan (baca: menjustifikasi) tindakan karakter, bagai kitab yang memandu kita apabila tersesat di tengah gerak liar filmnya.
Ruang dan waktu bagi Malick bersifat abstrak. Penonton sulit memastikan sedang berada di mana dan kapan kala alur melompat dari lagu ke lagu, manusia ke manusia, ciuman ke ciuman, hubungan ke hubungan. Namun kini alurnya lebih runtut dibanding dua film sebelumnya. Setidaknya bisa dipahami ketika BV, Faye, dan Cook saling tertawa bersama sebelum konflik asmara segitiga menyeruak, kemudian dengan tiap gejolak pribadi mereka menempuh jalan masing-masing, bertemu sederet tokoh lain. Cook menyeret Rhonda (Natalie Portman) si pelayan ke kehidupan seks liarnya, BV bertemu Amanda (Cate Blanchett) yang terluka, sementara Faye melanjutkan "petualangannya" dengan seorang wanita bernama Zoey (Berenice Marlohe). 

Progresi chaotic yang menjelajah ke pemandangan paling acak sekalipun (sempat menampilkan adegan film lama Rusia) untungnya dibantu kehadiran voice over. Ucapan berbisik wajib ada dalam karya Malick, namun jika biasanya sekedar menguatkan mood, voice over milik Song to Song ibarat pemandu yang mengajari penonton cara merangkai plot. Tidak seluruhnya gamblang, jadi pastikan berkonsentrasi pada tiap kalimat. Namun andai tanpa voice over pun, gelaran penceritaan visual Malick di sini lebih koheren, saling mengikat walau bergerak acak maju-mundur. Memang kurang substansial (feeling or memory doesn't work liket that) tapi membentuk lingkaran utuh seputar kehidupan kontemporer hampa yang akhirnya mendorong manusia kembali menuju kesederhanaan, "memandikan diri" (bentuk meyucikan) dengan alam bersama cintanya.
Bukan berarti keliaran chaotic di atas sepenuhnya nyaman disimak. Seiring makin banyak tokoh baru diperkenalkan sekaligus repetisi momen (bertemu-bertatapan-berkencan-foreplay) yang selalu mengisi, Song to Song mudah menggiring penonton menuju titik jenuh. Ketika pengulangan-pengulangan itu terus berlangsung selama 129 menit, bukan mustahil rasa lelah pula frustrasi yang menghinggapi deretan tokohnya.

Setelah menggarap sinematografi Malick sejak The New World, menggerakkan kamera laksana hantu yang terbang diam-diam membuntuti para tokoh rasanya sudah menjadi refleks bagi Emmanuel Lubezki. Begitu pula rutinitas "memuja" siraman cahaya mentari, entah di pagi hari, siang bolong, atau senja. Tetap indah, sedap dipandang, tetapi tidak lagi groundbreaking. Serupa rutinitas yang mudah ditebak, kita tahu kapan Faye bakal bersandar sembari tersenyum mesra di tembok, kapan BV memandang syahdu matahari, atau kapan kameranya berjungkir balik menangkap kemesraan sepasang kekasih. 
Bermain di film Terrence Malick bak ujian seberapa jauh seorang aktor mampu berakting tanpa naskah, memunculkan improvisasi natural. Terlebih karakternya kerap dituntut mengekspresikan cinta serta kegembiraan melalui perilaku "kekanak-kanakan" berupa keusilan, tarian, atau ekspresi yang nampak konyol. Gosling dan Fassbender lulus ujian berkat pameran tingkah alamiah pemancing senyum sembari menjalin interaksi bernyawa walau hanya dibekali sedikit dialog. Keduanya menghembuskan dinamika, sesuatu yang gagal dilakukan Ben Affleck (To the Wonder) atau Christian Bale (Knight of Cups). Sementara di antara penuh sesaknya cameo musisi  yang anehnya jarang diperlihatkan bermain musik  hanya Patti Smith dengan cerita duka emosionalnya yang meninggalkan kesan. 

Tidak bisa dipungkiri juga, Malick punya ragam aktivitas yang lebih menarik untuk dilakukan para karakter. Tentu rutinitas tersebut di atas, ditambah foreplay berkepanjangan masih mendominasi, tapi pemandangan semisal keisengan Gosling mencoba-coba pakaian kekecilan hingga Mara yang menari begitu antusias memunculkan kesenangan. Song to Song tetap bukan perenungan filosofis dengan keindahan luar dalam macam The Tree of Life, tidak akan pula mencerahkan hati dan pikiran penonton soal tuturannya mengenai "settling down", namun eksperimen terakhir Terrence Malick (untuk sekarang) sebelum kembali ke narasi terstruktur lewat Radegund urung berujung kekosongan.