Tampilkan postingan dengan label Michael Abels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michael Abels. Tampilkan semua postingan

BAD EDUCATION (2019)

Frank Tassone (Hugh Jackman), selaku pengawas Roslyn School District mampu membawa SMA Roslyn bertengger di peringkat keempat nasional, yang meningkatkan harga properti di Long Island, sebab orang tua berbondong-bondong menyekolahkan putera-puteri mereka di sana demi terbukanya jalan diterima di jajaran universitas Ivy League. Frank juga piawai memotivasi murid-murid, hafal nama serta kelas yang mereka ambil,pun ingat bahwa salah satu siswi merupakan adik seorang alumni. Frank selalu memakai setelan berkelas, rambutnya tertata rapi, wajahnya rupawan berkat berbagai perawatan termasuk operasi plastik.

Semua tampak sempurna bagi Frank maupun lingkungannya. Tapi itu mengingatkan kita pada beberapa hal: a) Tidak ada yang sempurna; b) Ambisi berlebih akan kesempurnaan kerap berujung bencana; c) Selalu ada dua sisi koin.

Sebagai pengawas, Frank mendapat bantuan dari asistennya, Pam Gluckin (Allison Janney dalam satu lagi penampilan superiornya), yang mengurusi finansial. Tidak butuh waktu lama sampai terungkap jiwa Pam menyalahgunakan wewenang tersebut. Dia memiliki banyak properti mewah, pula kerap menjalani liburan mahal bersama keluarga, walau cuma memperoleh apa yang Frank sebut sebagai “glorified teacher’s salary”.

Ya, Pam memakai uang sekolah demi kepentingan pribadi, lalu memanipulasi laporan keuangan, yang menjelaskan mengapa atap gedung selalu bocor walau biaya perawatan yang diajukan amat tinggi. Sampai sebuah kesalahan bodoh dari puteranya, yang Pam minta untuk merenovasi rumah, memancing kecurigaan direksi. Mereka pun melapor pada Frank.

Frank si pengawas tanpa cela. Frank yang berparas rupawan. Frank yang begitu peduli pada murid-muridnya, baik yang masih sekolah atau telah lulus. Wajah jajaran direksi mempercayainya. Mendengar perbuatan Pam, Frank terkejut. Tapi benarkah ia tidak tahu?

Dari sini, naskahnya (adaptasi artikel The Bad Superintendent karya Robert Kolker), yang ditulis oleh Mike Makowsky selaku mantan murid Frank di dunia nyata sekaligus saksi hidup skandal tersebut, secara cerdik bermain dengan pilihan narasinya. Karena didasari peristiwa nyata, bukan spoiler jika saya menyebut bahwa Frank tidak sesuci kelihatannya. Dan saya yakin banyak penonton sudah mencium gelagat tersebut berdasarkan beberapa petunjuk subtil yang filmnya tanam. Menjadikan Frank seolah tak bersalah di awal kisah merupakan keputusan tepat. Sewaktu kebenaran akhirnya terungkap, itu bukan berfungsi sebagai twist yang hendak mengejutkan penonton, namun membangun nuansa dramatis dalam titik balik ceritanya.

Saat itulah senyum hangat sang superintendent mulai berevolusi jadi seringai yang cukup menyeramkan. Kharisma dari senyuman itu mejadi intimidasi, tatkala Jackman, dalam salah satu penampilan terbaik sepanjang karir, menghadirkan akting kaya di mana kedua sisi berlawanan milik Frank mampu dipresentasikan sama kuatnya.

Tapi bagaimana mungkin Frank, dengan segala kecerdikannya, mampu diungkap kejahatannya? Anda ingat di paragraf awal saya menyebut tentang seorang siswi yang dikenali Frank sebagai adik mantan muridnya? Namanya Rachel Bhargava (Geraldine Viswanathan). Dia adalah anggota kelab ekstrakurikuler jurnalistik, yang ditugaskan menulis artikel tentang pembangunan jembatan udara di sekolah. Rachel sempat mewawancarai Frank, meminta sang pengawas menyampaikan komentar singkat. Seperti biasa, Frank berusaha memotivasi anak didiknya. Didorongnya Rachel agar menggali kisahnya secara lebih dalam. Ironisnya, dorongan itu menggali lubang kubur Frank sendiri.

Bad Education memang dipenuhi ironi serta sense of tragedy, yang turut diwakili scoring gubahan Michael Abels (Get Out, Us), yang sesekali menyiratkan impending doom yang menghantui, sedangkan di lain waktu terdengar bagai keruntuhan dramatis suatu skema kecurangan. Saat Rachel menyetorkan draf pertama yang menyoroti biaya berlebih proyek jembatan udara, tulisannya ditolak oleh ketua kelab, yang kemudian menggantin framing artikel menjadi antusiasme siswa menyambut proyek tersebut. Acap kali citra memang lebih dipentingkan ketimbang kebenaran. Ini adalah hasil dari komersialisasi pendidikan, baik demi menebalkan saku pribadi atau prestise, yang berujung menghancurkan esensi pendidikan itu sendiri.

Cory Finley selaku sutradara mampu membawa Bad Education bergerak dalam pace yang nyaman dinikmati, dengan ketepatan kadar dramatisasi. Kesuksesan menangani film berbasis kisah nyata dengan pendekatan serealis mungkin merupakan pencapaian bagi sineas yang angkat nama melalui komedi hitam seperti Thoroughbreds (2017) ini, membuktikan luasnya jangkauan Finley dalam berkarya.

Tapi seperti saya, mungkin anda bakal merasa ada bumbu yang kurang dalam film ini. Bad Education mengambil jalan tengah, berniat menyeimbangkan elemen investigasi (khususnya pesan tentang bagaimana investigasi kecil berupa surat kabar siswa sanggup mengungkap skandal besar yang menghebohkan negeri), dengan fokus terhadap sisi personal Frank. Sayangnya tak satu pun mencapai potensi maksimal. Intensitas investigasi urung memuncak, pun terkesan ambigu apakah kita diajak bersimpati pada Frank, mengutuk, atau keduanya. Pun bentuk Bad Education tak pernah seutuhnya jelas. Murni suguhan dramatik, atau komedi gelap (walau ada usaha menyasar bentuk yang kedua).


Available on HBO GO

US (2019)

Setelah menyentak lewat isu rasisme melalui debutnya yang sukses baik secara komersial maupun critical, kali ini Jordan Peele mengajak untuk mempertanyakan siapa diri kita (Us) sembari mengkritisi kondisi sosial Amerika Serikat (United States, US), dalam film yang memantapkan statusnya sebagai salah satu sutradara film genre paling berbakat masa kini, meski selaku pencerita, beberapa pekerjaan rumah masih harus ia tangani.

Dalam Us, Peele ingin menampilkan karakter kulit hitam yang bukanlah korban ketidakadilan sosial atau alat menuturkan kisah bertema rasisme, melainkan sebuah keluarga biasa yang hidup bahagia, bertamasya ke pantai saat liburan, lalu bersenang-senang dengan membeli kapal. Keluarga ini terdiri atas empat anggota: pasangan suami-istri Gabe Wilson (Winston Duke) dan Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), beserta dua buah hati, Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex).

Mereka adalah apa yang kita sebut keluarga harmonis. Tertawa bersama, saling goda, dan saling ejek merupakan makanan sehari-hari. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Adelaide menyimpan rapat-rapat suatu kejadian traumatis dari masa kecilnya. Hal itu terjadi tahun 1986, kala Adelaide kecil, yang tengah mengunjungi taman bermain sebuah pantai bersama orang tuanya, tersesat kemudian bertemu kembarannya (disebut “The Tethered”). Peristiwa itu amat mengguncangnya, Adelaide membisu selama beberapa waktu.

Sekarang, bersama keluarganya sendiri, Adelaide mesti mengunjungi lokasi yang sama. Ketakutannya jadi kenyataan ketika suatu malam, muncul empat Tethered dengan wujud menyerupai ia dan keluarganya. Bedanya, alih-alih cuma berdiri diam, para Tethered berusaha membunuh Adelaide sekeluarga.

Siapa The Tethered dan apa motivasi mereka adalah beberapa contoh pertanyaan yang akan menggelayuti pikiran kita sepanjang durasi. Tapi berbeda dengan Get Out, meski Us menyimpan beragam subteks (yang akan saya bahas nanti), Peele tak seberapa banyak meluangkan fokus pada alur, khususnya di babak kedua. Sebelum klimaks, praktis Us tak lebih dari sajian “kucing-kucingan” berdarah. Sebuah langkah berisiko, namun Peele nampak percaya diri akan kapasitas penyutradaraannya untuk memaksimalkan formula home invasion menjadi intensitas tanpa henti.

Sebagai genre afficionado, Peele paham betul cara menciptakan atmosfer dan gambar mengerikan lewat beraneka metode, dari pemanfaatan siluet, permainan fokus kamera di mana ancaman diam-diam mengintip di belakang karakternya, hingga membuat jajaran pemainnya bertingkah laku ganjil. Khusus elemen terakhir, Lupita Nyong’o paling menonjol. Memerankan wanita yang terluka psikis dan villain keji dengan senyum mengerikan ditambah tatapan hampa, performa sang aktris bakal diingat sebagai salah satu yang terbaik di antara deretan horor modern.

Bahkan soal trik klise seperti jump scare, Peele senantiasa memamerkan efektivitas dan kreativitas. Peele telah menguasai perihal timing, sedangkan sumber teror kerap dimunculkan dari sudut tak terduga, yang ditangkap oleh gerak kamera dinamis. Kreativitas Peele turut menyentuh ranah pemakaian musik. Siapa sangka lagu Fuck Tha Police milik N.W.A. bakal menambah keseruan dalam sekuen “petak umpet”?

Jordan Peele kentara sedang bersenang-senang tanpa mengkhawatirkan risiko, termasuk dalam menyelipkan komedi, yang diinjeksikan tepat waktu tanpa perlu mendistraksi bangunan ketegangan. Apabila anda kerap menyaksikan sketsa Key & Peele garapannya bersama Keegan-Michael Key, perpaduan mulus dua kutub berlawanan (horor-komedi) itu takkan terasa mengejutkan.

Terkait cerita, seperti sempat saya singgung, terdapat banyak subteks. Paling jelas tentunya terkait identitas diri. “Bagaimana jika kita sendirilah iblis itu?”. Peele memposisikan The Tethered selaku perwakilan hasrat terpendam atau wajah lain karakternya yang urung mereka sadari. Pada lingkup lebih luas, Peele menyinggung kondisi Amerika, negara makmur yang ironisnya masih kelabakan mengurusi masalah kelaparan maupun hoomelessness. Itulah mengapa Peele memilih mengawali kisahnya di tahun 1986, tepat saat even Hand Across America—di mana 6,5 juta orang bergandengan tangan selama 15 menit sebagai kegiatan amal untuk membantu tunawisma dan penderita kasus kelaparan—dilangsungkan.

Us sejatinya nyaris tanpa cela sampai mendekati akhir. Klimaks berupa pertarungan brutal yang dieksekusi bagai nomor tarian penuh darah dan kekacauan sambil diiringi musik mencekam garapan Michael Abels (Get Out, Detroit) pun tampil solid. Sayang, Peele cukup kewalahan merangkum penjelasan tentang misteri seputar The Tethered, kemudian memaksa merangkumnya ke dalam eksposisi berbelit melalui tuturan verbal. Namun titik yang nyaris merobohkan pondasi Us adalah kejutan penutupnya. Andai paruh sebelumnya tak sedemikian kuat, film ini bisa saja luluh lantah. Guna menyampaikan metafora mengenai “identitas”, Peele mengorbankan logika, meski harus diakui ada aroma kengerian tragis tercium dari twist besarnya.

UPDATE: Setelah melewati beberapa pemikiran ulang (thanks to some questions on comment section below), saya sadar telah mempersepsi twist penutupnya secara keliru. Jordan Peele tidak luput dalam berlogika. Saya kurang jeli memproses dan mengaitkan informasi yang filmnya sampaikan, meski tetap merasa keputusan Peele bereksposisi lewat monolog bukan pilihan jitu. Karena itu saya mengubah rating-nya.

GET OUT (2017)

(Review mungkin mengandung spoiler)
Selain menakut-nakuti, banyak filmmaker memanfaatkan medium horor untuk menyampaikan kisah atau pesan tertentu. Sebutlah Alien (pemerkosaan/seks), The Babadook (kecemasan), It Follows (penyakit menular seksual), dan sebagainya. Semua dilakukan tanpa melupakan hakikat utama genre tersebut. Di permukaan, Get Out selaku debut penyutradaraan Jordan Peele terkesan biasa, menebar kengerian lewat keanehan situasi yang dialami karakternya. Tapi menilik lebih dalam, naskahnya (juga ditulis oleh Peele) turut menjabarkan satir sosial terkait isu rasisme, tepatnya soal perlakuan kulit putih terhadap kulit hitam. Menjadi spesial tatkala tiap sisi, termasuk komedi yang membesarkan namanya, sanggup Peele rangkai secara seimbang.

Fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) adalah kekasih dari Rose (Alison Williams), seorang gadis kulit putih. Saat tiba waktunya mengunjungi orang tua sang kekasih di akhir pekan, Chris khawatir apabila warna kulitnya dipermasalahkan. Nyatanya orang tua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) menyambutnya baik. Walau demikian, Chris mulai merasa ada kejanggalan begitu melihat sikap dua pelayan kulit hitam di sana, Walter (Marcus Henderson) dan Georgina (Betty Gabriel). Ada apa dengan keduanya? Rahasia apa yang tersimpan di sana? Bermacam tanya itu takkan sulit dijawab. Bahkan sejak opening bila anda jeli mengaitkan poin-poinnya.
Horor/thriller seputar karakter atau lingkungan janggal telah bertebaran dan Get Out memang tidak memberi inovasi dalam presentasi misterinya. Peele mengikuti pola standar, bersabar menggerakkan alur di dua pertiga awal durasi, perlahan menambah tensi seiring observasi protagonis terhadap kondisi sekitar. Jika anda sudah kerap menyantap sajian serupa daya kejut film ini takkan seberapa. Jangan harap dihantam unpredictable twist ala-Shyamalan. Namun kelokan alur bukan semata-mata soal "seberapa mengejutkan". Pertanyaan yang diajukan semestinya "perlukah?" dan "sesuaikah dengan keseluruhan cerita atau datang mendadak selaku tipuan kosong?". Mengenai hal-hal itu, Peele melakukan tugasnya dengan baik.

Peele jeli menanam benih-benih, sehingga sewaktu tiba di ujung penceritaan, tercipta satu skema besar utuh yang menjawab beragam pertanyaan sekaligus menjelaskan perilaku tokoh-tokohnya. Sedangkan cerdiknya penyutradaraan membuat Get Out menjauhi keklisean jump scare berisik. Tetap banyak usaha menghentak jantung penonton, namun triknya tidak murahan. Peele berhasil memancing ketakutan nyata, bukan rasa terkejut sesaat yang cepat luntur walau progresi alur bertahap (baca: lumayan pelan) membuat daya cengkeram filmnya urung hadir secara instan. Kuncinya terletak pada timing, staging, juga pemakaian musik/efek suara. 
Tatkala teror sering datang di waktu tak terduga, pengadeganan Peele begitu apik membangun atmosfer creepy bersenjatakan kesederhanaan macam tatapan sunyi dari kerumunan. Kedua aspek ini disempurnakan oleh efektifnya musik dipakai. Selain penggunaan nomor klasik Run Rabbit Run, Michael Abels sang penata musik menyajikan pula alunan mencekam berbalut bisikan lirih yang bakal mengendap di ingatan pasca film usai. Peele memanfaatkan musik seperlunya, bahkan beberapa teror terbaik muncul ketika keheningan tiba-tiba menyeruak. Saya bisa merasakan ketegangan menghinggapi seisi studio, mendiamkan penonton lewat kesunyian mencekik. Kalau ada kalimat terlontar, itu akibat menyadari ketidakberesan yang seketika hadir.

Jangan lupa ini adalah karya Jordan Peele yang bersama rekannya, Keegan-Michael Key membuat Key & Peele, sebuah serial komedi sketsa televisi yang di beberapa segmen memparodikan horor. Humor segar mengiringi Get Out, dan hebatnya tanpa berujung permasalahan tonal shift. Sebabnya, komedi tak asal masuk, melainkan khusus dilontarkan oleh scene stealer bernama Rod (Lil Rel Howery), petugas TSA (Transportation Security Administration) sekaligus sahabat Chris yang selalu heboh, bicara semaunya termasuk melontarkan teori gila soal budak seks. Penonton pun paham, tatkala Rod tampil itu saatnya tergelak. Sebaliknya saat ia tidak menghiasi layar, waktunya kembali "menyalakan" mode serius. Kejelasan pembagian porsi ini sukses meniadakan inkonsistensi tone
Sebagaimana biasa, Peele menyelipkan alegori tentang rasisme. Pernyataan utamanya adalah bahwa kulit putih selaku pemegang kekuatan dan kekuasaan berniat mengendalikan kulit hitam. Mereka menyatakan bersedia menerima perbedaan tapi hanya di mulut, sementara hati dan perbuatannya tetap meneriakkan diskriminasi. Keramahan bertabur senyum tak ubahnya topeng luar agar kaum kulit hitam terbuai tutur kata manis dan kehidupan nyaman, tanpa sadar tengah dikontrol, dilucuti kebebasannya. Peele cerdik memposisikan pesan-pesan terselubung itu, bersinkronisasi dengan unsur horor sehingga urung menimbulkan distraksi. Di samping isu rasial, Get Out dapat dilihat pula sebagai horor seputar pengalaman pertama mengunjungi calon mertua (which is scary indeed).

Get Out bak dibuat berdasarkan semangat segala sesuatu bisa ditertawakan tanpa menghilangkan keseriusan di dalamnya. Selain hibrida horor-komedi, pergerakan misterinya bagai diambil dari obrolan santai penuh canda ketika orang kulit hitam membicarakan perlakuan buruk kulit putih pada mereka. Mulai diskriminasi sosial hingga pada level yang terdengar berlebihan dan mustahil macam omongan Rod soal penculikan untuk dijadikan budak seks. Konteksnya bercanda, namun didasari realita, dipicu rasa jengah pula takut akibat kekejaman berkepanjangan. Get Out sukses menggambarkan itu, menuturkan satir sosial dengan gaya ringan tapi tetap menusuk.