Tampilkan postingan dengan label Pedro Pascal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedro Pascal. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT

Nicolas Cage bukan aktor pertama yang memerankan diri sendiri (maupun versi parodinya) dalam film. Daftarnya sudah amat panjang. Tapi persona unik hasil metode akting Nouveau Shamanic miliknya, serta lika-liku karir yang tiada duanya, membuat Nicolas Fuckiiiiiiiiiiiiiiing Cage" jadi salah satu figur paling menarik di daftar tersebut. 

Kehidupan pribadi berantakan, terlilit utang, penurunan karir, terjebak di kejayaan masa lalu. Cage di The Unbearable Weight of Massive Talent punya citra sebagaimana publik dunia nyata memandang sosoknya. Tentu beberapa elemen bersifat fiktif. Misalnya, Cage di sini baru menikah sekali (sebenarnya lima kali). Mantan istrinya bernama Olivia (Sharon Horgan), sedangkan sang puteri yang memasuki usia remaja, Addy (Lily Sheen), tak sebegitu akrab dengannya. 

Perbedaan lain? Cage asli tidak melihat wujud imajiner dari masa mudanya yang ia panggil Nicky (Cage dari era Wild at Heart).....well, mungkin. Tapi semakin mengenal Cage, semakin anda akan menyadari, versinya di film ini tidak terlalu melenceng. Misal obsesinya terhadap The Cabinet of Dr. Caligari (tepatnya segala bentuk film ekspresionisme Jerman), yang jadi salah satu pemicu konflik dengan Addy. Ayah mana yang memaksa puteri remajanya menonton film ekspresionisme berusia seabad? Nic Cage tentu saja. 

Poinnya, meski tetap menghibur bagi penonton awam, The Unbearable Weight of Massive Talent menghadirkan kepuasan lebih di hati penggemar, yang niscaya memahami antusiasme Javi Gutierrez (Pedro Pascal), kala Cage menerima undangan ("seharga"1 juta dollar) ke pesta ulang tahun sang miliarder. 

Javi memuja Cage. Face/Off (1997) termasuk dalam tiga film favoritnya sepanjang masa (nomor satunya mengejutkan). Di mata Javi, kehadiran Cage bak realisasi fantasi. Pahlawan fiktif idolanya jadi nyata. Itu pula tujuan The Unbearable Weight of Massive Talent. Ditulis naskahnya oleh Tom Gormican (juga selaku sutradara) dan Kevin Etten, film ini merupakan surat cinta hangat untuk "Lord Cage", yang membawa persona fiktifnya ke "dunia nyata". 

Cage si aktor dipaksa berubah jadi jagoan laga sungguhan, tatkala CIA mengungkap bahwa Javi adalah kriminal berbahaya. Tentu prosesnya tak semudah di depan kamera. Apalagi telah timbul koneksi antara keduanya, yang melebihi hubungan selebritas-penggemar, dan dari situ kehangatan berikutnya datang. Cage menemukan sahabat. Orang yang dapat diajak berbagi, mengobrol santai mengenai kegemarannya, terutama film. 

Percayalah itu melegakan. Apalagi jika telah melalui penantian lama (been there done that). Cage senantiasa total dalam berakting. Di depan kamera ia mengeluarkan seluruhnya. Tapi di belakang kamera, rupanya banyak hal masih terkubur, menunggu medium yang tepat untuk dicurahkan. 

Cage kembali menampilkan akting over-the-top selaku ciri khasnya, yang kali ini menghasilkan bobot berbeda. Bukan sekadar kegilaan menghibur, juga cerminan artis yang tersiksa. Pedro Pascal mampu mengimbangi. Walau memakai gaya berbeda, Pascal tidak kalah berwarna. Kadang intimidatif dan misterius, kadang menggelitik, bahkan bisa menyentuh hati ketika memancarkan kebahagiaan karena bertemu idola. 

Menurut Cage, ia menolak tawaran bermain di film ini tiga sampai empat kali, sebelum surat personal dari Tom Gormican mengubah keputusannya. Entah apa isi surat tersebut, tapi saya bisa membayangkan bahwa tokoh Javi merupakan representasi dirinya. Gormican memuja Cage, dan itu nampak betul dari caranya membuat film ini, baik selaku penulis naskah maupun sutradara.

Naskahnya, terlebih perihal membungkus komedi. Memakai humor meta, beberapa referensi dilempar secara kreatif. Contohnya saat menyelipkan momen tersohor "Not the bees" dari The Wicker Man (2006) yang kerap dijadikan meme. Begitu pun dalam mengarahkan aksi. Gormican paham bagaimana semestinya mengemas aksi yang melibatkan seorang Nicolas Cage. Mulai dari melibatkan LSD, hingga menambahkan efek dramatisasi berlebih jadi beberapa opsi. Banyak film berstatus surat cinta bagi aktor, tapi tidak semuanya sekreatif dan semenghibur The Unbearable Weight of Massive Talent. 

REVIEW - WONDER WOMAN 1984

Di salah satu adegan, Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot) berayun dengan mengaitkan lasonya ke sebuah roket. Itu saja sudah merupakan momen memukau, tapi yang membuatnya spesial adalah, Wonder Woman repot-repot melakukan itu bukan Cuma untuk mengalahkan musuh, melainkan menyelamatkan dua anak kecil yang berada di tengah jalan. Sutradara Patty Jenkins menyebut Superman (1978) sebagai inspirasi kala menggarap Wonder Woman (2017), dan pengaruh karya Richard Donner tersebut makin kentara di Wonder Woman 1984. Sebuah escapism, sebuah film pahlawan super penuh keajaiban, hati, serta harapan.

Di pertengahan pandemi, banyak pihak mengira Christopher Nolan bakal menyelamatkan industri film, termasuk keberlangsungan bioskop, melalui Tenet. Prediksi itu meleset. Tapi mungkin saja Wonder Woman 1984-lah penyelamat yang dinanti. Penonton sedang butuh harapan. Daripada otak, hati lebih memerlukan asupan. Film ini langsung menjawab kebutuhan itu sejak adegan pembuka, ketika sinematografer Matthew Jensen menyapukan kamera di atas bentangan alam Themyscira, diiringi musik Hans Zimmer, yang walau masih epik, kali ini lebih mengedepankan nuansa magis alih-alih dentuman. Awal yang indah, apalagi mengingat begitu banyak dari kita merindukan kebebasan berada di luar.

Dari situ, kita diajak menyaksikan turnamen atletik, di mana Diana kecil turut serta, melawan prajurit-prajurit Amazon dewasa. Lilly Aspel melanjutkan perannya di film pertama sebagai Diana kecil, dan sungguh berbakat bocah ini. Anda bakal percaya jika kelak ia tumbuh menjadi salah satu pahlawan super terkuat di semesta DC. Pembukaan tersebut punya dua fungsi. Pertama, memberi latar bagi Diana sebagai sosok yang senantiasa berpegang pada kebenaran, dan kedua, menanam benih soal Asteria, si pemilik baju zirah emas yang di puncak film akan dikenakan Diana. Jangan lewatkan mid-credits scene yang mengungkap siapa pemeran Asteria. Jika anda tidak mengenalnya, ia adalah legenda, salah satu figur yang paling berjasa mengangkat Wonder Woman di budaya populer dunia.

Melompat ke tahun 1984, Diana dewasa telah hidup di tengah masyarakat dan bekerja sebagai antropolog di The Smithsonian, meski duka akibat kematian Steve Trevor (Chris Pine) membuatnya selalu menenggelamkan diri dalam kesendirian. Di The Smithsonian, terjadilah pertemuan Diana dengan ilmuwan bernama Barbara (Kristen Wiig), yang mengidolakan segala kesempurnaan Dunia. Sejak era SNL, Wiig jagonya menghidupkan karakter canggung yang mudah disukai penonton, dan Barbara bukan pengecualian. Bahkan selepas bertransformasi menjadi Cheetah, saya tetap bersimpati padanya. Barbara bukan villain haus kekuatan yang ingin menguasai dunia. Dia hanya ingin merasakan cintanya dibalas.

Tapi bukan Cheetah saja musuh Wonder Woman di sini. Ancaman terbesar justru datang dari artefak misterius yang konon bisa mengabulkan semua permintaan. Artefak itu membawa Diana berkonfrontasi dengan Maxwell Lord (Pedro Pascal), si pebisnis minyak sekaligus bintang televisi. Keberadaan lebih dari satu antagonis otomatis memperbanyak cabang penceritaan film, dan Patty Jenkins, Geoff Johns, dan David Callaham yang menulis naskahnya, mampu menyatukannya secara rapi.

Bahkan cabang-cabang itu mereka manfaatkan untuk melahirkan rangkaian cerita masif berdurasi 151 menit, yang membawa karakternya berpetualang ke berbagai lokasi, termasuk Mesir. The stakes are high in this movie. Banyak film pahlawan super menampilkan ancaman berskala global, tapi sedikit yang mampu membuat penonton ikut merasakan seberapa besar ancaman itu (khsusnya kalau bukan berstatus film team-up) sebagaimana Wonder Woman 1984. Meski harus diakui, di banyak titik sewaktu aksinya absen, film ini kerap limbung, akibat minimnya penulisan dialog menarik, juga kisah yang stagnan.

Kesan masif di atas turut diciptakan oleh rangkaian aksinya. Film pertama memang punya adegan “No Man’s Land”, tapi sisanya tak begitu spesial, terlebih klimaks medioker berorientasi CGI-nya. Jenkis memperbaiki semua kekurangan itu. Pondasinya adalah kreativitas di ranah konsep. Sebagai salah satu holy trinity milik DC, haram hukumnya melibatkan Wonder Woman dalam pertarungan ala kadarnya. Bersama Johns dan Callaham, Jenkins memanfaatkan benda-benda ajaib milik Diana, yang mungkin oleh penonton di luar pembaca komik, belum diketahui kehebatannya.

Kalau Batman punya batarang, maka Wonder Woman bisa melemparkan tiara untuk melumpuhkan musuh. Selain dipakai menjerat dan memaksa lawan bicara jujur, Lasso of Truth dapat membuat Wonder Woman berayun di angkasa. Seperti Spider-Man? Nanti dulu. Apakah jaring milik Peter Parker bisa menjerat petir yang sedang menyambar? Dibantu penataan Matthew Jensen yang membuat kamera bergerak dinamis mengikuti kelincahan Wonder Woman, Jenkins menjadikan tiap shot terlihat besar, masif, epik.

Di titik ini saya rasa cuma orang bodoh, dengki, atau pembenci ulung yang mempertanyakan pemilihan Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Jika di film pertama ia tangguh tetapi naif, di sini Gal Gadot memberi kita sosok pahlawan berpengalaman, yang tampak meyakinkan kala berakrobat, melayang di udara, atau mendorong sebuah mobil lapis baja sebagai tameng sambil berlari secepat kilat.

Tapi seperti sudah disinggung di awal tulisan, Wonder Woman 1984 bukan cuma suguhan  bombastis. Film ini mempunyai hati yang tidak kalah besar. Mungkin anda ingat sebuah shot di trailer, ketika Diana dan Steve berada dalam pesawat, sementara di luar, kembang api menghiasi langit malam. Satu yang tak diungkap secara gamblang di trailer (walau pembaca komik pasti sudah bisa menebaknya), mereka berdua ada di pesawat tak terlihat. Bagi saya itulah momen paling romantis di sini. Di bawah warna-warni kembang api, Diana dan Steve tersembunyi dari dunia luar, seolah ruang dan waktu hanya milik mereka berdua.

Dan tidak ada yang lebih sempurna merepresentasikan pesan heroisme film ini dibanding klimaksnya. Di blockbuster lain, klimaks tersebut mungkin akan terasa mengecewakan. Antiklimaks. Tapi tidak dalam Wonder Woman 1984, sebuah film yang berpesan bahwa sesungguhnya, sosok pahlawan bukan Diana seorang, namun seluruh umat manusia. Semua bisa menyelamatkan dunia melalui caranya masing-masing. Sungguh pesan yang relevan sekaligus berharga di kondisi dunia seperti sekarang.