Tampilkan postingan dengan label Gal Gadot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gal Gadot. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DEATH ON THE NILE

Death on the Nile membawa Kenneth Branagh kembali memerankan detektif ciptaan Agatha Christie, Hercule Poirot, setelah Murder on the Orient Express lima tahun lalu. Dia pun masih duduk di kursi sutradara. Tercipta paralel menarik, saat sebagai sutradara, Branagh juga terasa bak detektif dengan kejelian mengobservasi. 

Sedangkan penonton diposisikan layaknya murid, yang diarahkan mesti melihat ke mana. Seolah kita dilatih untuk menumbuhkan kepekaan (atau obsesi?) dalam memperhatikan perkataan karakter, maupun tindak tanduk mereka hingga detail terkecil. 

Tapi bukan berarti ia menyuapi penonton. Saat ada karakter mengeluhkan hilangnya sebuah barang, kamera tidak berfokus padanya, tapi Branagh memastikan keluhan itu terdengar. Menganggapnya informasi penting atau tidak, sepenuhnya diserahkan pada kita. Itulah mengasyikkannya Death on the Nile. Sebuah film detektif di mana penonton dilibatkan secara aktif.

Kasus kali ini berlatar di Mesir, tepatnya di atas kapal S.S. Karnak yang melintasi sungai Nil, membawa kerabat-kerabat Linnet (Gal Gadot) dan Simon (Armie Hammer), yang baru menikah dan tengah berbulan madu.

Turut hadir di kapal adalah: Bouc (Tom Bateman), kawan Poirot, bersama ibunya, Euphemia (Annette Bening); Linus (Russell Brand dalam peran serius yang jarang ia lakoni), dokter sekaligus mantan kekasih Linnet; Andrew (Ali Fazal), sepupu Linnet yang juga pengacaranya; Marie (Jennifer Saunders), ibu baptis Linnet yang datang ditemani susternya, Mrs. Bowers (Dawn French); Salome (Sophie Okonedo) yang hadir sebagai penyanyi bersama Rosalie (Letitia Wright), keponakannya. Jacqueline (Emma Mackey), mantan tunangan Simon yang masih menyimpan sakit hati, muncul sebagai tamu tak diundang.

Kita tahu salah satu dari mereka bakal tewas, namun pembunuhan baru terjadi ketika film memasuki pertengahan durasi. Naskah hasil tulisan Michael Green meluangkan waktu memperkenalkan ensemble cast-nya, mengungkap bahwa semua menyimpan motif, yang mayoritas berkutat di persoalan cinta. Selain misteri pembunuhan, Death on the Nile merupakan tuturan romansa pahit. Pengkhianatan, cinta tak terjamah, cinta terlarang, dan lain-lain, mengukir luka di batin tiap karakter.

Tidak terkecuali Poirot. Sebagaimana film pertama, Poirot versi Branagh bukan sekadar detektif eksentrik. Sosoknya dimanusiakan, kerapuhannya ditonjolkan. Akting Branagh mencapai puncak ketika di babak akhir, Poirot yang sedang menyampaikan jawaban kasus, mendadak berhenti bicara. Sang detektif kesulitan membendung emosi. Melalui close-up, kamera menangkap mulusnya transisi emosi Branagh. 

Mesir merupakan latar sempurna, yang menjadikan filmnya tampil bagai tragedi romansa epik. Dibantu Haris Zambarloukos selaku penata kamera, Branagh mampu menyuguhkan tontonan yang terlihat lebih mahal dari bujet sebenarnya (angka 90 juta menjadi kecil bila melihat ensemble cast-nya). Piramida, bentangan sungai Nil, hingga kuil Karnak, takkan semegah ini tanpa pemahaman sutradara, akan bagaimana melahirkan pengalaman sinematik.

Sayangnya Branagh masih lemah dalam membungkus konklusi kasus. Ditambah lagi, walau aktif melibatkan penonton selama investigasi, Death on the Nile tak mempunyai "momen eureka". Momen di mana sang protagonis sadar telah memecahkan segala pertanyaan. Momen yang menjembatani antara kegelapan dan titik terang. Kekurangan itu serupa Murder on the Orient Express, tapi secara keseluruhan, Death on the Nile tetaplah sekuel yang superior.

REVIEW - RED NOTICE

Film seperti Red Notice tidak memerlukan reviu. Skor 39% (sampai saat ini) di Rotten Tomatoes tidaklah penting. Begitu pula tulisan ini, yang saya buat hanya untuk berkata, "Tonton saja, nikmati petualangan berskala global bersama tiga megabintang miliknya, lupakan tetek bengek terkait kualitas cerita dan semacamnya".

Industri film, terutama mereka yang dicap "ekspertis", belakangan terasa makin berjarak dengan publik. Kritikus cenderung memandang sebelah mata tontonan ringan, sedangkan ajang penghargaan menganugerahkan kemenangan pada judul-judul yang baru tayang (sangat) terbatas demi memenuhi persyaratan nominasi. Film semakin sulit dirayakan secara luas.

Red Notice tentu dikritisi akibat naskah buatan sang sutradara, Rawson Marshall Thurber (We're the Millers, Central Intelligence, Skyscraper), gagal menyampaikan penceritaan mumpuni. Tapi apakah kata "gagal" patut disematkan, bila memang bukan itu tujuannya? Aksi seru berbalut komedi dengan latar berbagai negara, ketangguhan Dwayne Johnson, kejenakaan Ryan Reynolds, dan pesona Gal Gadot. Itu tujuan utamanya.

Johnson berperan sebagai John Hartley, agen FBI yang terpaksa bekerja sama dengan buruannya, Nolan Booth (Ryan Reynolds) si pencuri benda seni, setelah ia dijebak oleh pencuri lain, Sarah Black (Gal Gadot), atau yang dikenal lewat julukan "The Bishop". Ketiganya menyambangi Italia, Indonesia, Spanyol, Argentina, hingga Mesir, guna mencari keberadaan telur berhiaskan permata milik Cleopatra, yang konon telah hilang selama dua ribu tahun.

Agak disayangkan Red Notice tidak tayang di bioskop. Gelaran aksinya bakal makin seru di layar lebar. Menontonnya di layar televisi atau laptop cukup mengurangi keasyikkan, sehingga membuat pikiran lebih terfokus pada cerita, yang memang tidak pernah diniati untuk tampil maksimal.

Apa yang dimaksimalkan? Keunggulan tiga pemeran utamanya tentu saja. Johnson masih bisa diandalkan sebagai action hero, bahkan ketika Hartley lebih "manusiawi" dibanding karakter-karakter sang aktor biasanya. Gal Gadot adalah Wonder Woman, sehingga ketangguhannya dalam laga tidak mengejutkan. Tapi ini perannya yang paling playful, walau kesan femme fatale misterius tetap kental. 

Reynolds? Menyaksikan tiga filmnya secara berdekatan, membuat saya semakin yakin bahwa ia adalah comic genius. Caranya menangani humor melalui sarkasme dan deadpan, termasuk ketepatan timing-nya, sungguh luar biasa. 

Muncul twist di babak akhir. Bukan twist cerdas, namun selaras dengan keseluruhan "warna" filmnya, selaku petualangan mengitari dunia guna mencari artefak, yang enggan memedulikan keseriusan, bagai Indiana Jones (lagu temanya sempat terdengar sekilas di sini) versi jauh lebih ringan. 


(Netflix)

REVIEW - ZACK SNYDER'S JUSTICE LEAGUE

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai bagaimana pergerakan #ReleaseTheSnyderCut berhasil merealisasikan apa yang sebelumnya nampak mustahil. Tapi saya perlu menegaskan, bahwa Zack Snyder's Justice League jauh lebih baik, sekaligus film yang "berbeda" dibanding versi Joss Whedon (saya termasuk sebagian kecil penonton yang cukup menikmatinya).

Kata "berbeda" di sini punya definisi yang tak sederhana. Garis besar alurnya masih sama. Bruce Wayne / Batman (Ben Affleck) membentuk tim metahuman yang terdiri dari Diana Prince / Wonder Woman (Gal Gadot), Arthur Curry / Aquaman (Jason Momoa), Barry Allen / The Flash (Ezra Miller), dan Victor Stone / Cyborg (Ray Fisher), guna menghadapi Steppenwolf (Ciarán Hinds), yang bersama pasukan Parademons miliknya, berusaha mengumpulkan tiga Mother Boxes. Merasa tak cukup kuat, para superhero memutuskan untuk menghidupkan kembali Clark Kent / Superman (Henry Cavill). 

Gagasan dasarnya serupa, namun pengembangannya berbeda. Konon cuma 20% dari versi bioskopnya yang merupakan hasil karya Snyder. Sedangkan 80% sisanya adalah footage baru ditambah modifikasi konsep lama. Sebelum menontonnya, saya termasuk kalangan yang menganggap pernyataan di atas hanya strategi marketing belaka. Sungguh saya keliru. Begitu menyaksikan Snyder Cut, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin jajaran eksekutif Warner Bros. menonton ini, kemudian berujar, "Film ini buruk dan terlalu gelap. Mari buat versi lebih ringan dengan kisah lebih sederhana"?

Tanpa campur tangan Whedon pun, film ini jauh lebih ringan dari Batman v Superman: Dawn of Justice berkat beberapa sentuhan humor, meski masih seperti biasa, Snyder bukan sutradara yang piawai soal comic timing. Soal durasi yang mencapai empat jam (tepatnya 242 menit, dibagi dalam enam babak plus epilog), saya yakin, bila dahulu berkesempatan menyelesaikan visi aslinya, Snyder takkan merilis film sepanjang itu, walau tentunya bakal lebih dari dua jam sebagaimana mandat Warner Bros. (durasi tiga jam seperti Avengers: Endgame rasanya masuk akal). 

Versi ini mencapai empat jam karena Snyder tidak harus menerapkan asas kill your darlings (menghapus bagian-bagian yang dirasa kurang penting, seberapa pun sang pembuat karya mencintainya). Biarpun tidak lebih dari lima menit, turut terdapat adegan baru. Menurut Snyder, "adegan Knightmare" di mana Joker (Jared Leto) dan Batman bertemu, merupakan satu-satunya tambahan, namun saya cukup meyakini, momen penutupnya, tatkala Bruce disambangi oleh cameo salah satu karakter, baru diambil belakangan, mengacu pada konsep cerita dua sekuel Justice League yang tak menyertakan karakter itu, ditambah massa otot Ben Affleck yang berkurang. Harus diakui, beberapa update tersebut adalah wujud fan service menyenangkan, yang memancing rasa penasaran terhadap kelanjutan kisahnya (kini pergerakan RestoreTheSnyderVerse mulai bergema). 

Di luar itu, perbedaan mendasar sudah nampak sejak menit pertama. Momen saat Batman memancing Parademon menggunakan ketakutan seorang pencuri hilang. Bahkan di sini, modus operandi Parademons bukanlah mencium aroma rasa takut, yang otomatis mengubah cara membunuh Steppenwolf. Sebagai gantinya, kita menyaksikan lagi kematian Superman, di mana teriakannya menciptakan gelombang suara begitu kuat, hingga mencapai Atlantis dan Themyscira, yang makin menegaskan bagaimana tragedi itu berdampak luar biasa.

Kemudian Steppenwolf memulai invasinya, dan semakin kentara superioritas Snyder Cut. Tengok pertempuran di Themyscira. Versi Whedon berlangsung cuma lima menit, sedangkan versi Snyder hingga sekitar 10-11 menit. Whedon yang menyebut dirinya feminis, rupanya tidak sehebat Snyder perihal menunjukkan kehebatan prajurit wanita Amazon, yang dengan lantang berteriak, "We have no fear!" kepada Steppenwolf. Dan sungguh Snyder memperlihatkan ketiadaan rasa takut mereka, melalui pertempuran dahsyat yang juga mengandung bobot emosional lebih. Ketimbang sekadar membuat Steppenwolf menerobos keluar dari kuil penyimpanan Mother Box, di sini kuil itu ditenggelamkan bersama puluhan prajurit Amazon. Bukan sebatas tragedi, melainkan pengorbanan berbasis kepahlawanan. 

Kesan di atas makin kentara, lewat bertambahnya unsur kekerasan. Zack Snyder's Justice memang mendapat rating R karena beberapa cipratan darah, yang meski tak sampai membuat filmnya layak dicap "gory", terbukti meningkatkan dampak adegan aksi, bahkan di saat kelemahan CGI masih terasa di sana-sini. Musik gubahan Tom Holkenborg a.k.a. Junkie XL terdengar menggelegar, menambah nuansa epik, yang tak dimiliki buatan Danny Elfman. Bukan berarti hasil karya Elfman buruk, hanya saja, bukan iringan yang pas guna membungkus aksi masif para dewa. Begitu pula rasio aspek 4:3 khas IMAX, sehingga jajaran superhero-nya tampak bak dewa-dewa agung yang berdiri di tengah umat manusia.

Naskah Chris Terrio juga terkatrol kualitasnya, baik soal penokohan maupun penceritaan. Saya mengeluhkan bagaimana Batman v Superman: Dawn of Justice dan Justice League membuat salah satu superhero paling badass sepanjang masa terlihat bak pecundang di hadapan lawan (serta kawan) berkekuatan super. Kali ini, Snyder dan Terrio sanggup menjadikan Batman jauh lebih berguna, tanpa mengsampingkan fakta bahwa ia manusia biasa. Berkat teknologi serta kepintarannya, jangankan melawan Parademons, Batman bisa menahan mata laser Superman, walau cuma sementara. 

Saya bukan penggemar Affleck kala ia mengenakan mantel Batman, namun sebagai Bruce Wayne, ia salah satu yang terbaik (bagi saya, cuma kalah dari Michael Keaton). Penokohan Bruce lebih konsisten, betul-betul memperlihatkan proses perubahannya, dari figur paranoid di Batman v Superman: Dawn of Justice, menjadi, well, paranoid yang lebih memiliki harapan, serta mulai bersedia menaruh kepercayaan terhadap orang lain. 

Cyborg jauh lebih berkembang lagi. Penonton diajak mempelajari betapa luar biasa potensi kekuatannya (penutup trilogi Justice League berencana menjadikannya semacam "dewa teknologi"), pula lebih terikat secara emosional, terkait konflik batin Victor. Kita tahu mengapa ia begitu membenci sang ayah (Joe Morton), mengapa proses tranformasinya begitu memilukan, pun konklusi hubungan ayah-anak tersebut berbeda. Lebih emosional, yang memungkinkan Fisher memberi performa dramatik solid. 

Meski tak sampai meningkatkan kelasnya di jajaran villain film superhero secara signifikan, Steppenwolf tak luput diberi bobot lebih, sebagai pelayan Darkseid (Ray Porter) yang pernah berkhianat, dan tengah berusaha mengembalikan kepercayaan tuannya. Semua terjadi, sebab Snyder benar-benar peduli dan mengenal karakter-karakternya. Alhasil pengarahannya juga sarat sensitivitas, walau dalam bentuk dramatisasi penuh gerak lambat plus musik folk/rock, yang bagi sebagian penonton mungkin dianggap berlebihan. Aksi Barry menyelamatkan Iris (Kiersey Clemons) diiringi lagu Song to the Siren adalah peristiwa "cinta pada pandangan pertama" yang cheesy tetapi manis, sedangkan Distant Sky milik Nick Cave menemani rutinitas Lois Lane (Amy Adams) membeli kopi di pagi hari. Perlukah? Mungkin tidak, tapi bukankah sewaktu patah hati, dirundung duka akibat kehilangan, merindukan seseorang, atau malah gabungan ketiganya, hidup kita memang bagai berada dalam gerak lambat, yang makin terasa "nikmat" jika ditemani rintik hujan dan lagu-lagu sendu? 

Kalau anda seperti saya, yang mempertanyakan cara kerja Mother Boxes di versi bioskop, maka film ini muncul dengan jawaban. Daripada perdebatan mengenai etika yang tak lebih dari versi medioker dari pertengkaran Avengers di The Avengers, "rapat perdana" Justice League berisikan eksposisi tentang itu, sekaligus penjelasan mengapa Superman menjadi individu berbeda ketika dibangkitkan lagi. Lalu saat ingatannya kembali, terdapat penjelasan lebih nyata sekaligus heartful, yang makin emosional berkat What Are You Going to Do When You Are Not Saving the World buatan Hans Zimmer. 

Superioritas Zack Snyder's Justice League makin tidak bisa disangkal begitu mencapai klimaks. Salah satu alasan saya menyukai Justice League adalah kembalinya Superman sebagai beacon of hope, dan nyatanya, Snyder melakukan hal serupa secara lebih baik. Mengenakan kostum hitamnya, Superman muncul, mengucapkan kalimat paling badass sepanjang film, kemudian melancarkan serangan brutal. Masih deus-ex-machina yang overpoweres, tapi kali ini dia tidak bekerja sendirian. Kedatangannya membuat Justice League bekerja lebih efektif sebagai tim. 

Tapi sebagaimana keseluruhan film, poin terbaik klimaksnya terletak pada gagasan besar di universe Snyder, sekaligus bagaimana ia memperlakukan para jagoan layaknya dewa. Misalnya di momen paling jaw-dropping berbalut visual fantastis, tatkala The Flash memamerkan salah satu kekuatan terhebatnya (that somehow mirroring one moment in the third act of 'Avengers: Infinity War', but this time for the heroes' sake). Justice League adalah tim berisi gabungan dewa, yang juga bertarung melawan para dewa, dan Zack Snyder's Justice League memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. 


Available on HBO MAX / HBO GO / MOLA TV

REVIEW - WONDER WOMAN 1984

Di salah satu adegan, Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot) berayun dengan mengaitkan lasonya ke sebuah roket. Itu saja sudah merupakan momen memukau, tapi yang membuatnya spesial adalah, Wonder Woman repot-repot melakukan itu bukan Cuma untuk mengalahkan musuh, melainkan menyelamatkan dua anak kecil yang berada di tengah jalan. Sutradara Patty Jenkins menyebut Superman (1978) sebagai inspirasi kala menggarap Wonder Woman (2017), dan pengaruh karya Richard Donner tersebut makin kentara di Wonder Woman 1984. Sebuah escapism, sebuah film pahlawan super penuh keajaiban, hati, serta harapan.

Di pertengahan pandemi, banyak pihak mengira Christopher Nolan bakal menyelamatkan industri film, termasuk keberlangsungan bioskop, melalui Tenet. Prediksi itu meleset. Tapi mungkin saja Wonder Woman 1984-lah penyelamat yang dinanti. Penonton sedang butuh harapan. Daripada otak, hati lebih memerlukan asupan. Film ini langsung menjawab kebutuhan itu sejak adegan pembuka, ketika sinematografer Matthew Jensen menyapukan kamera di atas bentangan alam Themyscira, diiringi musik Hans Zimmer, yang walau masih epik, kali ini lebih mengedepankan nuansa magis alih-alih dentuman. Awal yang indah, apalagi mengingat begitu banyak dari kita merindukan kebebasan berada di luar.

Dari situ, kita diajak menyaksikan turnamen atletik, di mana Diana kecil turut serta, melawan prajurit-prajurit Amazon dewasa. Lilly Aspel melanjutkan perannya di film pertama sebagai Diana kecil, dan sungguh berbakat bocah ini. Anda bakal percaya jika kelak ia tumbuh menjadi salah satu pahlawan super terkuat di semesta DC. Pembukaan tersebut punya dua fungsi. Pertama, memberi latar bagi Diana sebagai sosok yang senantiasa berpegang pada kebenaran, dan kedua, menanam benih soal Asteria, si pemilik baju zirah emas yang di puncak film akan dikenakan Diana. Jangan lewatkan mid-credits scene yang mengungkap siapa pemeran Asteria. Jika anda tidak mengenalnya, ia adalah legenda, salah satu figur yang paling berjasa mengangkat Wonder Woman di budaya populer dunia.

Melompat ke tahun 1984, Diana dewasa telah hidup di tengah masyarakat dan bekerja sebagai antropolog di The Smithsonian, meski duka akibat kematian Steve Trevor (Chris Pine) membuatnya selalu menenggelamkan diri dalam kesendirian. Di The Smithsonian, terjadilah pertemuan Diana dengan ilmuwan bernama Barbara (Kristen Wiig), yang mengidolakan segala kesempurnaan Dunia. Sejak era SNL, Wiig jagonya menghidupkan karakter canggung yang mudah disukai penonton, dan Barbara bukan pengecualian. Bahkan selepas bertransformasi menjadi Cheetah, saya tetap bersimpati padanya. Barbara bukan villain haus kekuatan yang ingin menguasai dunia. Dia hanya ingin merasakan cintanya dibalas.

Tapi bukan Cheetah saja musuh Wonder Woman di sini. Ancaman terbesar justru datang dari artefak misterius yang konon bisa mengabulkan semua permintaan. Artefak itu membawa Diana berkonfrontasi dengan Maxwell Lord (Pedro Pascal), si pebisnis minyak sekaligus bintang televisi. Keberadaan lebih dari satu antagonis otomatis memperbanyak cabang penceritaan film, dan Patty Jenkins, Geoff Johns, dan David Callaham yang menulis naskahnya, mampu menyatukannya secara rapi.

Bahkan cabang-cabang itu mereka manfaatkan untuk melahirkan rangkaian cerita masif berdurasi 151 menit, yang membawa karakternya berpetualang ke berbagai lokasi, termasuk Mesir. The stakes are high in this movie. Banyak film pahlawan super menampilkan ancaman berskala global, tapi sedikit yang mampu membuat penonton ikut merasakan seberapa besar ancaman itu (khsusnya kalau bukan berstatus film team-up) sebagaimana Wonder Woman 1984. Meski harus diakui, di banyak titik sewaktu aksinya absen, film ini kerap limbung, akibat minimnya penulisan dialog menarik, juga kisah yang stagnan.

Kesan masif di atas turut diciptakan oleh rangkaian aksinya. Film pertama memang punya adegan “No Man’s Land”, tapi sisanya tak begitu spesial, terlebih klimaks medioker berorientasi CGI-nya. Jenkis memperbaiki semua kekurangan itu. Pondasinya adalah kreativitas di ranah konsep. Sebagai salah satu holy trinity milik DC, haram hukumnya melibatkan Wonder Woman dalam pertarungan ala kadarnya. Bersama Johns dan Callaham, Jenkins memanfaatkan benda-benda ajaib milik Diana, yang mungkin oleh penonton di luar pembaca komik, belum diketahui kehebatannya.

Kalau Batman punya batarang, maka Wonder Woman bisa melemparkan tiara untuk melumpuhkan musuh. Selain dipakai menjerat dan memaksa lawan bicara jujur, Lasso of Truth dapat membuat Wonder Woman berayun di angkasa. Seperti Spider-Man? Nanti dulu. Apakah jaring milik Peter Parker bisa menjerat petir yang sedang menyambar? Dibantu penataan Matthew Jensen yang membuat kamera bergerak dinamis mengikuti kelincahan Wonder Woman, Jenkins menjadikan tiap shot terlihat besar, masif, epik.

Di titik ini saya rasa cuma orang bodoh, dengki, atau pembenci ulung yang mempertanyakan pemilihan Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Jika di film pertama ia tangguh tetapi naif, di sini Gal Gadot memberi kita sosok pahlawan berpengalaman, yang tampak meyakinkan kala berakrobat, melayang di udara, atau mendorong sebuah mobil lapis baja sebagai tameng sambil berlari secepat kilat.

Tapi seperti sudah disinggung di awal tulisan, Wonder Woman 1984 bukan cuma suguhan  bombastis. Film ini mempunyai hati yang tidak kalah besar. Mungkin anda ingat sebuah shot di trailer, ketika Diana dan Steve berada dalam pesawat, sementara di luar, kembang api menghiasi langit malam. Satu yang tak diungkap secara gamblang di trailer (walau pembaca komik pasti sudah bisa menebaknya), mereka berdua ada di pesawat tak terlihat. Bagi saya itulah momen paling romantis di sini. Di bawah warna-warni kembang api, Diana dan Steve tersembunyi dari dunia luar, seolah ruang dan waktu hanya milik mereka berdua.

Dan tidak ada yang lebih sempurna merepresentasikan pesan heroisme film ini dibanding klimaksnya. Di blockbuster lain, klimaks tersebut mungkin akan terasa mengecewakan. Antiklimaks. Tapi tidak dalam Wonder Woman 1984, sebuah film yang berpesan bahwa sesungguhnya, sosok pahlawan bukan Diana seorang, namun seluruh umat manusia. Semua bisa menyelamatkan dunia melalui caranya masing-masing. Sungguh pesan yang relevan sekaligus berharga di kondisi dunia seperti sekarang.

RALPH BREAKS THE INTERNET (2018)

Ralph Breaks the Internet adalah Inside Out versi gim dan internet dalam hal kepintaran serta kreativitasnya membangun dunia. Seperti normalnya sekuel, cakupan diperluas. Kalau Wreck-It Ralph “hanya” menunjukkan apa yang karakter permainan arkade lakukan saat tak sedang dimainkan manusia, sekuel ini berpindah ke dunia yang lebih besar, yakni internet, tempat yang memiliki segalanya, dan Ralph Breaks the Internet memanfaatkan itu untuk menciptakan dunia kreatif nan kaya, disertai cara kerjanya.

Enam tahun berlalu sejak peristiwa film pertama, dan kini Ralph (John C. Reilly) hidup bahagia, tak lagi dipandang sebagai perusak jahat, dan bersahabat dengan Vanellope (Sarah Silverman), di mana mereka setiap hari menghabiskan waktu bersama di tempat dan waktu yang sama. Bagi Ralph, rutinitas tersebut merupakan kedamaian, namun Vanellope ingin lebih. Dunia manis sarat warna di Sugar Rush tak lagi seberwarna itu baginya, dengan balapan yang terlampau gampang sebab Vanellope sudah hafal semua trik dan track.

Pasca sebuah kecelakaan yang berpotensi membuat Sugar Rush ditutup selamanya, dan demi menyelamatkannya, dua protagonis kita memulai perjalanan menuju internet. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, mereka terpukau melihat dunia tanpa ujung yang internet tawarkan. Begitu pun saya kala mendapati bagaimana di Ralph Breaks the Internet, berbagai aspek dalam internet bertransformasi menghasilkan lingkungan imajinatif yang hidup lengkap dengan rutinitasnya sendiri.

Pop-up ads menjadi penjaja produk yang agresif, eBay merupakan tempat lelang, mesin pencarian adalah pria bernama KnowsMore (Alan Tudyk) yang mengetahui semuanya, dan lain-lain. Fakta bahwa hal-hal di atas cocok dengan cara kerja internet di realita, jadi bukti kecerdikan duo penulis naskahnya, Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village) dan Phil Johnston (juga selaku sutradara). Pun terdapat setumpuk detail kecil, yang dijamin bakal memberi penemuan baru untuk pengalaman menonton berulang.

Bila film pertamanya menyimpan setumpuk cameo karakter gim, Ralph Breaks the Internet punya beragam produk internet serta referensi kultur populer dalam beraneka bentuk (yang lagi-lagi) kreatif. Dan selaku produsen, wajar saat referensi untuk Disney paling kaya.  Anda akan mendengar The Imperial March kala menyambangi area Star Wars; meet & greet dengan seorang tokoh MCU; dan sebagaimana trailer-nya tampilkan, Disney Princess. Beberapa karakteristik mereka dijadikan lelucon menggelitik termasuk sebuah elemen yang baru saya sadari di sini. Elemen yang melibatkan musikal.

Ya, film ini turut menghadirkan satu adegan musikal, yang oleh duo sutradara, Rich Moore (Wreck-It Ralph, Zootopia) dan Phil Johnston, dikemas dalam visual meriah ditambah musik megah gubahan Henry Jackman (Captain America: Civil War, Jumanji: Welcome to the Jungle). Hasilnya adalah gegap gempita indah yang dewasa ini, mungkin hanya sanggup ditandingi La La Land, yang oleh Ralph Breaks the Internet turut dijadikan acuan subtil.

Kembali ke perihal Disney Princess, saya terkecoh kala mengira pertemuan tersebut hanya bakal jadi sempilan ringan pengisi durasi. Rupanya momen itu berguna menyampaikan salah satu pesan filmnya. Rapunzel bertanya pada Vanellope, “Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?”. Vanellope mengiyakan. Ralph sendiri belakangan semakin posesif, ingin Vanellope selalu dan hanya bersamanya. Tatkala Ralph bersusah payah meyakinkan Vanellope jika Slaughter Race terlalu berbahaya baginya, si gadis cilik menampik pernyataan itu. Poin tersebut selaras dengan upaya rebranding Disney terhadap karakter wanitanya yang makin independen di tiap sendi kehidupan, bukan saja soal percintaan.

Oh, saya lupa menjelaskan mengenai Slaughter Race, sebuh permainan balapan brutal, sarat kekerasa, berbanding terbalik dengan kesan warna-warni manis bagi semua umur milik Sugar Rush. Vanellope menemukan hasratnya kembali begitu menyadari ketiadaan batasan di Slaughter Race. Tidak ada lintasan monoton, dan ia bebas bermanuver sesuka hati. Jangankan Vanellope, bukankah itu alasan permainan open world macam Grand Theft Auto maupun Red Dead Redemption amat digandrungi?

Slaughter Race dikuasai pembalap wanita bernama Shank yang diisi suaranya oleh Gal Gadot dalam salah satu performa terbaiknya, berkat kemampuan menyuntikkan dinamika untuk menjadikan Shank sosok keren berkharisma. Wajar Vanellope mengaguminya. Ralph? Tentu Ralph membenci Shank. Baginya, wanita itu tidak bisa dipercaya, walau kita tahu, itu sebatas ungkapan kecemburuan. Konflik itu berujung pada konklusi menyentuh setelah kita disuguhi gelaran aksi raksasa ala King Kong. Dari dunia yang teramat kaya, lelucon pintar, hingga drama emosional, Ralph Breaks the Internet mungkin rilisan “paling Pixar” dari Walt Disney Animation Studios.

JUSTICE LEAGUE (2017)

Sejak adegan pembuka ketika beberapa bocah merekam wawancara mereka dengan Superman (Henry Cavill), Justice League kentara berpindah dari jalur yang dipasang Man of Steel kemudian dipatenkan Batman v Superman: Dawn of Justice. Si Manusia Baja tersenyum ramah bahkan mau bercanda tentang lambang di dadanya yang mirip huruf "S". Momen singkat itu seketika memperbaiki gambaran Superman sebagai sosok pemanggul harapan pujaan publik. Filmnya pun serupa, mengedepankan harapan, mencerahkan suasana melalui balutan humor, dan mengeliminasi alur rumit tak perlu. Justice League menggiring DCEU (atau apapun namanya) ke jalan yang benar.

Penulisan naskah Chris Terrio sejatinya masih bermasalah. Mengemban obligasi mengenalkan Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher), serta memaparkan usaha Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) menyatukan mereka, mengakibatkan lompatan alur kasar (juga kekurangan Batman v Superman) kembali menghantui. Sementara kurang mampunya Zack Snyder menggarap adegan non-aksi menghasilkan pace melelahkan, khususnya sebelum kelima pahlawan bersatu. Satu-satunya fase dramatis kuat adalah reuni Clark dengan sang ibu (Diane Lane), itu pun berkat kepiawaian Lane bermain emosi ketimbang sensitivitas Snyder. Setidaknya, pemberian porsi mengenai duka/masalah personal tiap tokoh sedikit menambah bobot penokohan.
Untungnya ambisi menyusun alur berlapis berbalut filosofi kini ditiadakan. Ini penting, karena kelemahan penceritaan, bobot emosi, atau ancaman medioker dari Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan rencananya mengumpulkan Mother Boxes terjadi dalam lingkup kemurnian blockbuster selaku media senang-senang, sehingga pantas ditoleransi. Berlawanan dengan niat Batman v Superman membangun dunia (sok) serius. Dari sini pula, Terrio, dengan sedikit bantuan Joss Whedon diberi jalan menghembuskan nyawa lewat bumbu humor. Belum sepenuhnya mulus, lagi-lagi akibat kecanggungan Snyder mengemas adegan tanpa baku hantam, namun cukup sebagai penghasil dinamika.

Keenam pahlawan kita tidak ragu bersenda gurau selama atau di sela-sela pertempuran. Flash tentu paling mencuri perhatian. Layaknya bocah di antara lima orang dewasa, ia berulang kali melempar celetukan menggelitik sampai sederet tingkah konyol yang sempurna dijalankan oleh Ezra Miller, termasuk "momen intim" dengan Gal Gadot yang rasanya berasal dari otak Joss Whedon. Pahlawan super mana lagi yang memutar video musik K-Pop di markasnya? Momoa lancar memamerkan machismo pewaris tahta Atlantis arogan yang menikmati berada di medan perang, sedangkan Gal Gadot selalu menonjol bersenjatakan pesona dan ketangguhan meyakinkan. Dua nama terbesar, Batman dan Superman justru mengalami nasib saling berlawanan.
Batman bak bahan olok-olok. Tidak memiliki kekuatan super, perannya selaku otak dan ahli teknologi turut tertutup keberadaan Cyborg. Affleck yang makin sering mengutarakan keinginan "gantung jubah" pun tampak malas. Gaya komedi deadpan-nya jelas dihempaskan antusiasme penuh energi Miller, sedangkan karisma sebagai Bruce Wayne yang menonjol di Batman v Superman juga lenyap. Sebaliknya, Superman kini layak menjadi simbol harapan sekaligus ujung tombak tim. Selain ikut bercanda tawa, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat sisi badass Superman yang menghindari pukulan Steppenwolf sambil tersenyum. Walau sebelumnya, saat ia mengungguli kekuatan Wonder Woman, Aquaman, dan Cyborg, juga kecepatan Flash, sudah cukup memberi penegasan.

Merupakan film DCEU tersingkat sejauh ini (120 menit), ditambah klimaks singkat nan generik, Justice League mungkin bukan epic seperti dugaan banyak pihak. Toh gelaran laga Snyder masih solid, apalagi terkait penggambaran para meta-human kelas berat setingkat dewa yang aksinya sanggup mengobrak-abrik seisi dunia. Film superhero tidak wajib tenggelam di penderitaan atau kisah kompleks guna memikat, dan blockbuster tidak melulu mesti berbentuk epic cinema. Di samping sederet kekurangan penghasil jalan terjal, Justice League memenuhi hakikatnya selaku hiburan ringan menyenangkan sembari membawa franchise-nya ke masa depan yang menarik melalui pengembangan mitologi sebagaimana diperlihatkan lewat sebuah cameo superhero DC lain dan post-credits scene

WONDER WOMAN (2017)

Setelah penantian panjang dan mencuri perhatian lewat kemunculannya di Batman v Superman: Dawn of Justice, Wonder Woman akhirnya datang untuk menyelamatkan keberlangsungan DC Extended Universe (DCEU) serta film bertemakan pahlawan super wanita yang terdiri atas judul-judul gagal total macam Elektra dan Catwoman. Menyebut karya sutradara Patty Jenkins (Monster) ini sebagai installment terbaik DCEU maupun film superhero wanita terbaik sejatinya tak banyak berarti mengingat standar rendah yang dipasang keduanya sejauh ini, namun begitulah adanya. Wonder Woman is a very entertaining (if not goodmovie and you should watch it.

Dibuka oleh adegan masa kini selaku satu-satunya penghubung dengan keseluruhan DCEU, Diana Prince (Gal Gadot) mengingat kembali masa lalunya, sejak ia dibesarkan sebagai Puteri di Themyscira, pulau di mana hanya ada perempuan. Sejak kecil Diana terobsesi berlatih bela diri setelah mendengar banyak cerita sang ibu, Hippolyta (Connie Nielsen) tentang peperangan para dewa. Diana akhirnya tumbuh menjadi ksatria Amazon perkasa, sampai kedatangan Kapten angkatan udara Amerika Serikat, Steve Trevor (Chris Pine), membawanya ke dunia manusia di mana Perang Dunia I tengah pecah guna memenuhi takdirnya yang selama ini tidak Diana ketahui.
Merupakan pahlawan super wanita paling dikenal, perilisan Wonder Woman dianggap penting selaku simbol perjuangan dan kekuatan wanita. Walau awal penciptaannya merupakan ekspresi hasrat William Moulton Marston akan bondage, Wonder Woman kini berkembang menjadi ikon feminisme. Naskah Allan Heinberg mengolah unsur tersebut, menyentil sistem patriarki (that "secretary is a slaveryjoke), menegaskan bahwa Diana tak gentar di hadapan para pria (menghardik para Jenderal yang menurutnya pengecut) dan menolak diatur keputusannya oleh mereka (pernyataan "What I do is not up to you" bagi Steve). Walau demikian, usungan pesannya tidak eksklusif, bersifat umum sehingga bisa mewakili semua golongan yang memperjuangkan haknya.

Film ini terasa universal karena secara keseluruhan cenderung menggali tumbuh kembang seseorang. Heinberg jeli bermetafora, memposisikan perjalanan Diana menjadi coming-of-age kala individu yang tumbuh bersama ajaran nilai-nilai moral, memandang dunia lewat spektrum hitam-putih, sampai akhirnya terbentur realita pahit. Heinberg memastikan penonton memahami transformasi Diana menuju Wonder Woman yang kita kenal bersama setelah menemui kompleksitas dunia sekaligus berbagai kehilangan. Sayangnya Jenkins kurang berhasil menjalin emosi. Terdapat dua peristiwa penting pembentuk kepribadian Diana yang semestinya emosional tetapi berlalu begitu saja. 
Lain halnya soal paparan aksi. Jenkins efektif memanfaatkan slow motion demi menekankan betapa Wonder Woman adalah sosok badass. Puncaknya terletak di no man's land sequence tatkala Diana terjun ke medan perang, kali pertama memperlihatkan keperkasaan pada dunia. It's such an exciting and uplifting moment, when a woman steps into a brutal battlefield where no man can conquers it. Begitu kuat momen satu ini, sehingga tak pernah mampu ditandingi aksi-aksi berikutnya, termasuk klimaks generik pun terasa menggampangkan kebangkitan Diana. Kemunculan Ares justru lebih melemahkan ketimbang membantu. Selain karakterisasi one-dimensional, sebagai seorang Dewa Perang yang sempat merepotkan Zeus, Ares jelas terlampau lemah dan mudah dikalahkan. 

Serupa gelaran klimaks film DCEU lain, penonton kembali disuguhi banjir CGI. Green screen mendominasi, dihiasi ledakan-ledakan dan kilatan cahaya. Masalahnya, kualitas CGI Wonder Woman tergolong lemah, kerap terasa kasar sampai terkesan clumsy. Kekurangan ini bukan berlaku pada puncak pertempuran saja, melainkan sepanjang film. Pemicunya jelas bujet "hanya" $149 juta yang notabene terkecil di antara kompatriotnya sesama film DCEU. Bandingkan dengan $300 juta bagi Dawn of Justice. Bahkan Suicide Squad saja punya modal $175 juta. 
Membawa beban berat memerankan tokoh pahlawan super ikonik, Gal Gadot memiliki karisma tingkat tinggi, pula believable sebagai ksatria tanpa kenal takut yang menikmati pertempuran, penuh percaya diri, tersenyum menyeringai kala berhadapan dengan musuh dan medan perang yang akan membuat prajurit gagah berani sekalipun gentar. Meski harus diakui beberapa pengucapan kalimat, ekspresi, serta gestur sang aktris masih sering tampak dibuat-buat. Di sisi lain Chris Pine adalah charm magnet, membuat Steve  yang dalam komik atau serial televisi 70an bagai damsel in distress versi laki-laki  amat likeable, pun mulus melakoni serangkaian bagian komedik menggelitik.

Selipan humor hadir secukupnya, sangat membantu membawa 141 menit filmnya tidak kering melalui beragam kecanggungan Diana menghadapi lingkungan asing juga laki-laki. Wonder Woman memang berbeda dibandingkan rilisan DCEU sebelumnya. Tidak ragu mengundang tawa, namun lebih dari itu, ketika Superman sibuk berkontemplasi dan Batman gemar menghabisi penjahat, Wonder Woman beraksi mengedepankan cinta. Mengingatkan lagi hakikat superhero yang ada untuk melindungi, mengembalikan harapan bagi umat manusia di tengah setumpuk kemelut dan pertikaian. Wonder Woman mengusung harapan serupa, dan tentunya harapan bagi DC dan Warner Bros, bahwa proyek shared universe mereka masih punya kekuatan melaju kencang.