Tampilkan postingan dengan label Sawanee Utoomma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sawanee Utoomma. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE MEDIUM

The Medium mengerikan bukan karena jump scare, adegan kesurupan, penampakan, maupun hal-hal lain yang bisa dilihat mata. The Medium mengerikan karena rasa tidak berdaya yang timbul. Bahwa kita, manusia, sangat lemah dan rapuh. Apalagi kala keimanan mulai runtuh. 

Disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, serta ditulis naskahnya oleh Na Hong-jin (sutradara The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing, juga selaku produser) dan Chantavit Dhanasevi (penulis naskah film-film Banjong sejak Phobia), The Medium mengambil format mockumentary, di mana sekelompok pembuat dokumenter tengah menyusun cerita mengenai praktik perdukunan di Thailand.

Mereka merekam keseharian Nim (Sawanee Utoomma), dukun dari Isan, yang tubuhnya dirasuki arwah bernama Bayan, memberinya berbagai kemampuan, termasuk pengobatan. Nim adalah figur menarik. Dia tidak eksentrik layaknya karikatur dukun di media fiksi, pembawaannya santai, namun tampak kokoh. Ditambah akting natural sang aktris, sosoknya believable. "Kalau pasien kanker mendatangiku...dia pasti mati", candanya sembari menyarankan agar berobat ke dokter bila menderita "penyakit normal". 

Tim turut mengikuti Nim saat ia menghadiri pemakaman suami kakaknya, Noi (Sirani Yankittikan), dan dari situlah keanehan mulai terekam kamera. Keanehan itu menyangkut Ming (Narilya Gulmongkolpech), puteri Noi, yang belakangan emosinya kerap meledak-ledak, berbicara sendiri, pula bersikap bagai bocah. Menyusul berikutnya adalah investigasi Nim yang takkan saya ungkap detailnya.

The Medium bergerak cukup lambat. Jangan harap langsung disuguhi teror mencekam, sebab hingga pertengahan durasi, kisahnya lebih dekat ke drama supernatural ketimbang murni horor. Sekilas terdengar seperti pendekatan mockumentary kebanyakan, yang tampil minimalis di awal sebelum melempar segalanya di akhir. Tapi The Medium melakukannya bukan untuk berhemat, melainkan sebagai cara memaparkan proses.

Proses apa? Banyak. Baik itu "tahapan kesurupan" Ming, maupun gejolak batin tokohnya, yang mengalami krisis keimanan. Apakah Tuhan atau Dewa memang ada? Jika ada, apakah memanjatkan doa kepada-Nya pasti bakal menolong kita? Jika tidak ada, kepada siapa kita mesti memohon pertolongan? Karakternya dihantui entitas misterius (roh jahat), sambil menggantungkan harapan pada entitas yang eksistensinya tak kalah abu-abu (Tuhan/Dewa). Ketidakpastian itulah yang menakutkan. 

The Medium membekali diri dengan cerita kuat serta misteri menarik. Daripada takut, saya lebih ingin dibuat "tahu". Ditambah, naskahnya piawai menyusun dinamika. Rasanya tak berlebihan menyebutnya sebagai salah satu mockumentary terbaik dalam hal pembangunan intensitas. Film ini ibarat tangga yang membawa penonton selangkah demi selangkah terus naik ke atas. Sekali lagi, proses.

Pelan tapi pasti, kuantitas teror bertambah. Dari kondisi aneh Ming, lalu mulai melibatkan pemandangan disturbing seperti animal abuse, child abuse, baru akhirnya habis-habisan di klimaks. Menjelang babak akhir, The Medium sempat memakai format ala Paranormal Activity, di mana Banjong membuktikan kapasitasnya merangkai situasi mencekam. Bahkan lebih mencekam ketimbang third act-nya, yang selain bergulir agak terlalu lama sehingga mengurangi efek kejut, pun cenderung generik dibanding bagian-bagian lainnya (meski totalitas Narilya patut mendapat pujian). 

Mari kembali membicarakan proses. Benar bahwa The Medium tetap punya momen-momen horor konvensional, namun kengerian terbesar datang dari komparasi yang muncul antara awal dan akhir. Mengenai kehancuran sesuatu yang tadinya nampak kokoh akibat dikuasai ketidakpastian, yang kemudian melahirkan ketidakberdayaan.