Tampilkan postingan dengan label Simon Pegg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simon Pegg. Tampilkan semua postingan
MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018)
Rasyidharry
Film aksi, agar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi
penonton, harus sama seperti pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak
amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa
dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun strategi mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi
Christopher McQuarrie (Jack Reacher,
Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis
naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk deretan set piece aksi, yang masing-masing bak dibuat dengan tujuan
mengungguli sekuen sebelumnya. And to
breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission
for the audience.
Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus
menghentikan aksi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar
virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup
mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh
lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan
di Rogue Nation. Rutinitas ini
niscaya segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih
belum lelah melakoni rutinitas yang membuat tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau
bukan melakukan stunt-nya sendiri.
Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9
kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian
kota, berlari di atap gedung, bergelantungan lalu mengendarai helikopter. Tentu
ada bantuan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman
lain, kecuali saat Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si
agen CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta
petir CGI. Sayang, polesan yang diharapkan menambah intensitas itu justru
mengurangi keaslian adegan.
Ya, kekuatan Fallout,
dan seri Mission: Impossible setidaknya
sejak Ghost Protocol (2011), adalah
keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh
melakukan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut,
lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi
untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak
supaya penonton tak melihat wajah stuntman
(because there wasn’t any). Kamera
ditempatkan di benda yang terlibat langsung dalam aksi, seperti motor atau
jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, sebab penonton dibuat
seolah berada di tengah-tengah peristiwa.
Terkadang wide angle digunakan
selaku establishing shot guna menunjukkan
bahwa lokasi berlangsungnya aksi adalah nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu
di tiap aksi-aksi maut tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi
McQuarrie mampu memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali
ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup
oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.
Plotnya memang urung menawarkan gebrakan baru, namun bukan
berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi
masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal agen rahasia, yang
mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, berbagai kejutan yang
mayoritas berasal dari trik-trik cerdik protagonis kita pun tersebar, menjadi
tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali
jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan bahaya repetisi, muncul dengan
ide pintar sarat kejutan agar strategi itu tetap segar.
Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya
sesama agen rahasia fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, adalah
karakter pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan
timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan jika mereka telah
memahami satu sama lain setelah melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa.
Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya
memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu
momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan
Hunt.
Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang
dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal
ampun seketika lenyap begitu ia terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa
dimengerti, sebab seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang
aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi
setelah melewati serangkaian aksi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah
kumis itu dibuat memakai CGI layaknya permintaan Warner Bros kepada Paramount?
Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount
bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama seperti keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22
tahun dan 6 film.
Juli 26, 2018
Action
,
Bagus
,
Christopher McQuarrie
,
Henry Cavill
,
Rebecca Ferguson
,
REVIEW
,
Sean Harris
,
Simon Pegg
,
Tom Cruise
,
Ving Rhames
HOT FUZZ (2007)
Rasyidharry
Tanpa arahan dari Edgar Wright, duo Simon Pegg dan Nick Frost tahun lalu menghasilkan Paul yang meskipun lumayan menghibur tapi buat saya bukanlah sebuah komedi yang spesial layaknya Shaun of the Dead. Sedangkan Edwar Wright karya terakhirnya adalah Scott Pillgrim vs the World yang keren itu tapi sayangnya jeblok di pasaran. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka saling membutuhkan satu sama lain. Pegg dan Frost butuh arahan seorang Edgar Wright untuk mengeksekusi naskah cerdas yang dibuat Simon Pegg supaya tidak berakhir biasa saja seperti komedi Hollywood kebanyakan. Sedangkan Edgar Wright butuh nama Pegg dan Frost untuk membuat filmnya laku di pasaran. Karena itu kolaborasi kedua mereka ini pada akhirnya sukses besar dimana pendapatannya melebihi Shaun of the Dead dan kualitasnya juga memuaskan.
Hot Fuzz adalah bagian kedua dari "three flavours cornetto trilogy" dimana Shaun of the Dead adalah perlambang dari "red strawberry cornetto" dan film kedua ini adalah perlambang dari "classic blue cornetto". Ceritanya adalah mengenai Nicholas Angel (Simon Pegg) yang merupakan seorang polisi London yang sangat taat hukum, disiplin dan mempunyai catatan kerja yang amat memuaskan. Tapi karena prestasinya yang luar biasa itulah Angel malah harus dipindah tugaskan ke sebuah desa yang tenang bernama Sandford. Angel yang naik pangkat menjadi Sersan dipindah tugaskan karena akibat performanya itu rekan-rekannya yang lain terlihat buruk kinerjanya dan dianggap mempengaruhi stabilitas dalam tim. Di Sandford dia bertemu dengan Danny Butterman (Nick Frost) yang menajdi partner Angel. Sangat berlawanan dengan Angel, Danny yang juga anak dari kepala polisi di sana adalah sosok yang polos dan sangat terobsesi dengan film polisi macam Bad Boys II dan Point Break. Pada awalnya Angel terus menerus diejek oleh rekan-rekannya karena terlalu serius bekerja padahal Sandford adalah kota kecil yang sangat tenang dengan tingkat kriminalitas sangat rendah. Tapi kemudian beberapa orang penduduk ditemukan mati satu persatu. Apa benar itu hanya kecelakaan ataukah pembunuhan seperti yang diutarakan oleh Angel?
Sekali lagi komedi cerdas dari trio Pegg, Frost dan Wright. Naskah yang sangat lucu tapi juga cerdas adalah kekuatan utama film ini sama seperti Shaun of the Dead. Jika SOTD memasukkan unsur film-film zombie yang kemudian diparodikan, maka Hot Fuzz mengambil unsur buddy-cop seperti dua orang polisi yang berlawanan tipe dimana dalam film ini Angel adalah polisi "sungguhan" yang jago dan disiplin sedangkan Danny adalah polisi konyol dan amat polos. Sebenarnya banyak unsur dalam Hot Fuzz yang sudah muncul di SOTD seperti hubungan bromance antara tokoh Pegg dan Frost, sampai munculnya tokoh menyebalkan yang jika dalam SOTD ada David, dalam film ini ada duo detektif bernama Andy yang sama-sama menyebalkan. Tapi itulah hebatnya naskah yang ditulis Simon Pegg dan Edgar Wright ini, meskipun banyak pengulangan, tapi mereka berhasil memanfaatkan unsur-usnur film polisi sehingga membedakan film ini dengan SOTD. Seharusnya Todd Phillips mempelajari itu sebelum membuat sekuel The Hangover.
Hot Fuzz selain menawarkan komedi yang buat saya sangat lucu dan sesuai dengan selera saya juga menampilkan beberapa hal satir yang intinya adalah menyindir oknum-oknum polisi. Tidak hanya oknum polisi di Inggris tapi juga diseluruh dunia termasuk Indonesia. Polisi macam Angel yang jujur, taat aturan dan disiplin justru dijauhi dan diacuhkan oleh rekan-rekannya. Jelas sekali bukan bahwa itu sudah jadi cerminan penegak hukum di negara manapun? Hot Fuzz juga adalah sebuah komedi yang menawarkan lelucon-lelucon cerdas yang tidak terlampau berat. Kita tidak usah berpikir untuk menyerap komedinya seperti jika kita menonton film-film black comedy, tapi juga bukanlah lelucon murahan seperti yang ditampilkan parodi-parodi sampah karya Friedberg & Seltzer. Sekali lagi "comedy is all about timing" dan humor dalam film ini penempatannya sangat tepat.
Seperti SOTD yang meskipun komedi tapi tidak kehilangan unsur horror dan gore, Hot Fuzz juga tidak kehilangan nuansa film kriminal dan misteri. Film ini tetap memberikan sebuah misteri yang menarik untuk dipecahkan. hal itu jugalah yang akhirnya membuat film ini terasa sedikit lebih berat dan serius dibanding SOTD. Tapi misterinya sendiri sangat menarik dan punya twist yang tidak hanya mengejutkan tapi juga lucu. Tentu saja , ini adalah parodi jadi sah-sah saja jika twist-nya pun berbentuk guyonan dan parodi bukan? Sayang film ini terasa agak terlalu lama. Durasinya hampir dua jam, lebih lama dibanding SOTD yang tidak sampai 100 menit. Bagian akhir film ini memang terasa terlalu diulur dan dipanjangkan sehingga ada momen penurunan tensi dimana saat itu film seharusnya sudah selesai. Tapi jelas Hot Fuzz berhasil sebagai komedi yang lucu dan berhasil juga sebagai sebuah film tentang kriminalitas dan polisi yang diisi aksi tembak menembak yang amat seru dan keren sekaligus diisi beberapa momen yang yang terasa cukup sadis dan membuat film ini tidak membosankan walaupun terasa agak kelamaan. Sungguh pada aksi itu duo Pegg dan Forst luar biasa karena mereka bisa beraksi dengan keren tapi juga tidak kehilangan sentuhan komedinya. Saya sedikit lebih suka SOTD tapi Hot Fuzz juga adalah karya yang luar biasa. Tidak sabar menunggu film ketiganya yang (sayangnya) baru akan rilis paling cepat 2014.
Januari 27, 2012
Action
,
Comedy
,
Edgar Wright
,
Mystery
,
Nick Frost
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Simon Pegg
Langganan:
Komentar
(
Atom
)





