Tampilkan postingan dengan label Henry Cavill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Henry Cavill. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ZACK SNYDER'S JUSTICE LEAGUE

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai bagaimana pergerakan #ReleaseTheSnyderCut berhasil merealisasikan apa yang sebelumnya nampak mustahil. Tapi saya perlu menegaskan, bahwa Zack Snyder's Justice League jauh lebih baik, sekaligus film yang "berbeda" dibanding versi Joss Whedon (saya termasuk sebagian kecil penonton yang cukup menikmatinya).

Kata "berbeda" di sini punya definisi yang tak sederhana. Garis besar alurnya masih sama. Bruce Wayne / Batman (Ben Affleck) membentuk tim metahuman yang terdiri dari Diana Prince / Wonder Woman (Gal Gadot), Arthur Curry / Aquaman (Jason Momoa), Barry Allen / The Flash (Ezra Miller), dan Victor Stone / Cyborg (Ray Fisher), guna menghadapi Steppenwolf (Ciarán Hinds), yang bersama pasukan Parademons miliknya, berusaha mengumpulkan tiga Mother Boxes. Merasa tak cukup kuat, para superhero memutuskan untuk menghidupkan kembali Clark Kent / Superman (Henry Cavill). 

Gagasan dasarnya serupa, namun pengembangannya berbeda. Konon cuma 20% dari versi bioskopnya yang merupakan hasil karya Snyder. Sedangkan 80% sisanya adalah footage baru ditambah modifikasi konsep lama. Sebelum menontonnya, saya termasuk kalangan yang menganggap pernyataan di atas hanya strategi marketing belaka. Sungguh saya keliru. Begitu menyaksikan Snyder Cut, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin jajaran eksekutif Warner Bros. menonton ini, kemudian berujar, "Film ini buruk dan terlalu gelap. Mari buat versi lebih ringan dengan kisah lebih sederhana"?

Tanpa campur tangan Whedon pun, film ini jauh lebih ringan dari Batman v Superman: Dawn of Justice berkat beberapa sentuhan humor, meski masih seperti biasa, Snyder bukan sutradara yang piawai soal comic timing. Soal durasi yang mencapai empat jam (tepatnya 242 menit, dibagi dalam enam babak plus epilog), saya yakin, bila dahulu berkesempatan menyelesaikan visi aslinya, Snyder takkan merilis film sepanjang itu, walau tentunya bakal lebih dari dua jam sebagaimana mandat Warner Bros. (durasi tiga jam seperti Avengers: Endgame rasanya masuk akal). 

Versi ini mencapai empat jam karena Snyder tidak harus menerapkan asas kill your darlings (menghapus bagian-bagian yang dirasa kurang penting, seberapa pun sang pembuat karya mencintainya). Biarpun tidak lebih dari lima menit, turut terdapat adegan baru. Menurut Snyder, "adegan Knightmare" di mana Joker (Jared Leto) dan Batman bertemu, merupakan satu-satunya tambahan, namun saya cukup meyakini, momen penutupnya, tatkala Bruce disambangi oleh cameo salah satu karakter, baru diambil belakangan, mengacu pada konsep cerita dua sekuel Justice League yang tak menyertakan karakter itu, ditambah massa otot Ben Affleck yang berkurang. Harus diakui, beberapa update tersebut adalah wujud fan service menyenangkan, yang memancing rasa penasaran terhadap kelanjutan kisahnya (kini pergerakan RestoreTheSnyderVerse mulai bergema). 

Di luar itu, perbedaan mendasar sudah nampak sejak menit pertama. Momen saat Batman memancing Parademon menggunakan ketakutan seorang pencuri hilang. Bahkan di sini, modus operandi Parademons bukanlah mencium aroma rasa takut, yang otomatis mengubah cara membunuh Steppenwolf. Sebagai gantinya, kita menyaksikan lagi kematian Superman, di mana teriakannya menciptakan gelombang suara begitu kuat, hingga mencapai Atlantis dan Themyscira, yang makin menegaskan bagaimana tragedi itu berdampak luar biasa.

Kemudian Steppenwolf memulai invasinya, dan semakin kentara superioritas Snyder Cut. Tengok pertempuran di Themyscira. Versi Whedon berlangsung cuma lima menit, sedangkan versi Snyder hingga sekitar 10-11 menit. Whedon yang menyebut dirinya feminis, rupanya tidak sehebat Snyder perihal menunjukkan kehebatan prajurit wanita Amazon, yang dengan lantang berteriak, "We have no fear!" kepada Steppenwolf. Dan sungguh Snyder memperlihatkan ketiadaan rasa takut mereka, melalui pertempuran dahsyat yang juga mengandung bobot emosional lebih. Ketimbang sekadar membuat Steppenwolf menerobos keluar dari kuil penyimpanan Mother Box, di sini kuil itu ditenggelamkan bersama puluhan prajurit Amazon. Bukan sebatas tragedi, melainkan pengorbanan berbasis kepahlawanan. 

Kesan di atas makin kentara, lewat bertambahnya unsur kekerasan. Zack Snyder's Justice memang mendapat rating R karena beberapa cipratan darah, yang meski tak sampai membuat filmnya layak dicap "gory", terbukti meningkatkan dampak adegan aksi, bahkan di saat kelemahan CGI masih terasa di sana-sini. Musik gubahan Tom Holkenborg a.k.a. Junkie XL terdengar menggelegar, menambah nuansa epik, yang tak dimiliki buatan Danny Elfman. Bukan berarti hasil karya Elfman buruk, hanya saja, bukan iringan yang pas guna membungkus aksi masif para dewa. Begitu pula rasio aspek 4:3 khas IMAX, sehingga jajaran superhero-nya tampak bak dewa-dewa agung yang berdiri di tengah umat manusia.

Naskah Chris Terrio juga terkatrol kualitasnya, baik soal penokohan maupun penceritaan. Saya mengeluhkan bagaimana Batman v Superman: Dawn of Justice dan Justice League membuat salah satu superhero paling badass sepanjang masa terlihat bak pecundang di hadapan lawan (serta kawan) berkekuatan super. Kali ini, Snyder dan Terrio sanggup menjadikan Batman jauh lebih berguna, tanpa mengsampingkan fakta bahwa ia manusia biasa. Berkat teknologi serta kepintarannya, jangankan melawan Parademons, Batman bisa menahan mata laser Superman, walau cuma sementara. 

Saya bukan penggemar Affleck kala ia mengenakan mantel Batman, namun sebagai Bruce Wayne, ia salah satu yang terbaik (bagi saya, cuma kalah dari Michael Keaton). Penokohan Bruce lebih konsisten, betul-betul memperlihatkan proses perubahannya, dari figur paranoid di Batman v Superman: Dawn of Justice, menjadi, well, paranoid yang lebih memiliki harapan, serta mulai bersedia menaruh kepercayaan terhadap orang lain. 

Cyborg jauh lebih berkembang lagi. Penonton diajak mempelajari betapa luar biasa potensi kekuatannya (penutup trilogi Justice League berencana menjadikannya semacam "dewa teknologi"), pula lebih terikat secara emosional, terkait konflik batin Victor. Kita tahu mengapa ia begitu membenci sang ayah (Joe Morton), mengapa proses tranformasinya begitu memilukan, pun konklusi hubungan ayah-anak tersebut berbeda. Lebih emosional, yang memungkinkan Fisher memberi performa dramatik solid. 

Meski tak sampai meningkatkan kelasnya di jajaran villain film superhero secara signifikan, Steppenwolf tak luput diberi bobot lebih, sebagai pelayan Darkseid (Ray Porter) yang pernah berkhianat, dan tengah berusaha mengembalikan kepercayaan tuannya. Semua terjadi, sebab Snyder benar-benar peduli dan mengenal karakter-karakternya. Alhasil pengarahannya juga sarat sensitivitas, walau dalam bentuk dramatisasi penuh gerak lambat plus musik folk/rock, yang bagi sebagian penonton mungkin dianggap berlebihan. Aksi Barry menyelamatkan Iris (Kiersey Clemons) diiringi lagu Song to the Siren adalah peristiwa "cinta pada pandangan pertama" yang cheesy tetapi manis, sedangkan Distant Sky milik Nick Cave menemani rutinitas Lois Lane (Amy Adams) membeli kopi di pagi hari. Perlukah? Mungkin tidak, tapi bukankah sewaktu patah hati, dirundung duka akibat kehilangan, merindukan seseorang, atau malah gabungan ketiganya, hidup kita memang bagai berada dalam gerak lambat, yang makin terasa "nikmat" jika ditemani rintik hujan dan lagu-lagu sendu? 

Kalau anda seperti saya, yang mempertanyakan cara kerja Mother Boxes di versi bioskop, maka film ini muncul dengan jawaban. Daripada perdebatan mengenai etika yang tak lebih dari versi medioker dari pertengkaran Avengers di The Avengers, "rapat perdana" Justice League berisikan eksposisi tentang itu, sekaligus penjelasan mengapa Superman menjadi individu berbeda ketika dibangkitkan lagi. Lalu saat ingatannya kembali, terdapat penjelasan lebih nyata sekaligus heartful, yang makin emosional berkat What Are You Going to Do When You Are Not Saving the World buatan Hans Zimmer. 

Superioritas Zack Snyder's Justice League makin tidak bisa disangkal begitu mencapai klimaks. Salah satu alasan saya menyukai Justice League adalah kembalinya Superman sebagai beacon of hope, dan nyatanya, Snyder melakukan hal serupa secara lebih baik. Mengenakan kostum hitamnya, Superman muncul, mengucapkan kalimat paling badass sepanjang film, kemudian melancarkan serangan brutal. Masih deus-ex-machina yang overpoweres, tapi kali ini dia tidak bekerja sendirian. Kedatangannya membuat Justice League bekerja lebih efektif sebagai tim. 

Tapi sebagaimana keseluruhan film, poin terbaik klimaksnya terletak pada gagasan besar di universe Snyder, sekaligus bagaimana ia memperlakukan para jagoan layaknya dewa. Misalnya di momen paling jaw-dropping berbalut visual fantastis, tatkala The Flash memamerkan salah satu kekuatan terhebatnya (that somehow mirroring one moment in the third act of 'Avengers: Infinity War', but this time for the heroes' sake). Justice League adalah tim berisi gabungan dewa, yang juga bertarung melawan para dewa, dan Zack Snyder's Justice League memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. 


Available on HBO MAX / HBO GO / MOLA TV

REVIEW - ENOLA HOLMES

Women are never to be entirely trusted—not the best of them”, ucap Sherlock Holmes dalam novel The Sign of the Four (1890). Tidak perlu riset mendalam untuk menyimpulkan bahwa Sherlock bukan pembela kesetaraan. Bagaimana jadinya, jika ia memiliki adik perempuan yang mewarisi pemikiran feminisme ibu mereka, pula tidak kalah dalam urusan deduksi dibanding sang detektif ternama? Gagasan menarik itu mendasari Enola Holmes, yang mengadaptasi seri novel The Enola Holmes Mysteries (tepatnya buku pertama, The Case of the Missing Marquess) karya Nancy Springer.

Seperti namanya yang merupakan kebalikan dari kata “alone”, Enola (Millie Bobby Brown) tumbuh seorang diri, sementara kedua kakaknya, Mycroft (Sam Claflin) dan Sherlock (Henry Cavill) telah angkat nama dalam karir masing-masing. Ibunya yang eksentrik, Eudoria (Helena Bonham Carter), mengajari Enola untuk hidup mandiri, membekalinya dengan segala ilmu, baik pengetahuan dari buku-buku maupun latihan bela diri. Hingga tepat di ulang tahunnya yang ke-16, Enola mendapati sang ibu menghilang.

Niat Enola mencari ibunya menemui rintangan saat kedua kakaknya pulang, khususnya dari kengototan Mycroft untuk mengirimnya ke sekolah kepribadian, agar Enola menjadi “wanita bermartabat” sehingga mudah mencari suami. Bagaimana dengan Sherlock? Dibanding dua perwujudan terbaru yang paling dikenal publik (versi Robert Downey Jr. dan Benedict Cumberbatch), Sherlock milik Henry Cavill cenderung hangat, ramah, berpikiran lebih terbuka soal gender, dan less-psychotic. Beberapa kali ia membela, bahkan menolong Enola. Bukan sosok Sherlock terbaik, dengan penggambaran yang disederhanakan, namun jelas paling cocok bagi target pasar young adult film ini.

Naskah buatan Jack Thorne (Wonder, The Secret Garden) mengandung formula-formula pokok (baca: keklisean) film bertema empowerment dari arus utama: protagonis wanita yang ingin bebas sehingga dianggap liar, pria kolot yang meyakini kalau wanita harus penuh sopan santum sekaligus menganggap feminisme merupakan bentuk kegilaan, tokoh wanita yang turut melanggengkan pola pikir kuno tersebut, hingga benih romansa yang melibatkan pria pendukung kesetaraan gender. Pria itu adalah seorang Viscount Tewkesbury muda (Louis Partridge) yang kabur dari rumah.

Selain mencari keberadaan ibunya, kini Enola juga harus melindungi Tewkesbury dari kejaran pembunuh (Burn Gorman) yang entah dikirim oleh siapa. Terciptalah kisah mengenai proses remaja perempuan mengenal kerasnya dunia luar, dan mesti berjuang dengan menerapkan segala yang ibunya ajarkan. Sebuah drama keluarga, sebuah kisah dua perempuan.

Lega rasanya melihat Millie Bobby Brown (juga menjadi salah satu produser film ini) tak terjebak dalam stereotip perannya di Stranger Things. Penampilannya bertenaga, menggelitik sebagai karakter yang kerap “menembus dinding keempat”, juga meyakinkan sebagai detektif cerdas. Kecerdasan yang bukan cuma berlaku di urusan memecahkan misteri, pula membuatnya mampu mengubah simbol-simbol seksisme menjadi hal yang menguntungkannya.

Perjalanan Enola mengumpulkan keping-keping petunjuk (mayoritas berbentuk permainan kata) menyenangkan diikuti, apalagi ketika Harry Bradbeer, yang melakoni debut penyutradaraannya, menerapkan beberapa gaya visual unik. Menghibur. Setidaknya di paruh pertama, sebelum filmnya kehilangan sense of urgency memasuki pertengahan durasi. Tanpa kejutan, dan seiring berjalannya waktu, jumlah pertanyaan yang memancing rasa penasaran makin berkurang. Enola berhasil mengungguli semua orang, baik laki-laki atau perempuan. Tapi apakah ia sungguh-sungguh memecahkan kasusnya? Jawabannya “tidak”. Alhasil, biarpun menyajikan petualangan menyenangkan selaku pembuka franchise potensial, elemen empowering milik Enola Holmes tak begitu memuaskan.


Available on NETFLIX

MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018)

Film aksi, agar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi penonton, harus sama seperti pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun strategi mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi Christopher McQuarrie (Jack Reacher, Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk deretan set piece aksi, yang masing-masing bak dibuat dengan tujuan mengungguli sekuen sebelumnya. And to breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission for the audience.

Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus menghentikan aksi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan di Rogue Nation. Rutinitas ini niscaya segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih belum lelah melakoni rutinitas yang membuat tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau bukan melakukan stunt-nya sendiri.

Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9 kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian kota, berlari di atap gedung, bergelantungan lalu mengendarai helikopter. Tentu ada bantuan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman lain, kecuali saat Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si agen CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta petir CGI. Sayang, polesan yang diharapkan menambah intensitas itu justru mengurangi keaslian adegan.

Ya, kekuatan Fallout, dan seri Mission: Impossible setidaknya sejak Ghost Protocol (2011), adalah keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh melakukan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut, lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak supaya penonton tak melihat wajah stuntman (because there wasn’t any). Kamera ditempatkan di benda yang terlibat langsung dalam aksi, seperti motor atau jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, sebab penonton dibuat seolah berada di tengah-tengah peristiwa.

Terkadang wide angle digunakan selaku establishing shot guna menunjukkan bahwa lokasi berlangsungnya aksi adalah nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu di tiap aksi-aksi maut tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi McQuarrie mampu memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.

Plotnya memang urung menawarkan gebrakan baru, namun bukan berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal agen rahasia, yang mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, berbagai kejutan yang mayoritas berasal dari trik-trik cerdik protagonis kita pun tersebar, menjadi tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan bahaya repetisi, muncul dengan ide pintar sarat kejutan agar strategi itu tetap segar.  

Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya sesama agen rahasia fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, adalah karakter pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan jika mereka telah memahami satu sama lain setelah melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa. Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan Hunt.

Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal ampun seketika lenyap begitu ia terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa dimengerti, sebab seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi setelah melewati serangkaian aksi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah kumis itu dibuat memakai CGI layaknya permintaan Warner Bros kepada Paramount? Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama seperti keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22 tahun dan 6 film.

JUSTICE LEAGUE (2017)

Sejak adegan pembuka ketika beberapa bocah merekam wawancara mereka dengan Superman (Henry Cavill), Justice League kentara berpindah dari jalur yang dipasang Man of Steel kemudian dipatenkan Batman v Superman: Dawn of Justice. Si Manusia Baja tersenyum ramah bahkan mau bercanda tentang lambang di dadanya yang mirip huruf "S". Momen singkat itu seketika memperbaiki gambaran Superman sebagai sosok pemanggul harapan pujaan publik. Filmnya pun serupa, mengedepankan harapan, mencerahkan suasana melalui balutan humor, dan mengeliminasi alur rumit tak perlu. Justice League menggiring DCEU (atau apapun namanya) ke jalan yang benar.

Penulisan naskah Chris Terrio sejatinya masih bermasalah. Mengemban obligasi mengenalkan Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher), serta memaparkan usaha Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) menyatukan mereka, mengakibatkan lompatan alur kasar (juga kekurangan Batman v Superman) kembali menghantui. Sementara kurang mampunya Zack Snyder menggarap adegan non-aksi menghasilkan pace melelahkan, khususnya sebelum kelima pahlawan bersatu. Satu-satunya fase dramatis kuat adalah reuni Clark dengan sang ibu (Diane Lane), itu pun berkat kepiawaian Lane bermain emosi ketimbang sensitivitas Snyder. Setidaknya, pemberian porsi mengenai duka/masalah personal tiap tokoh sedikit menambah bobot penokohan.
Untungnya ambisi menyusun alur berlapis berbalut filosofi kini ditiadakan. Ini penting, karena kelemahan penceritaan, bobot emosi, atau ancaman medioker dari Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan rencananya mengumpulkan Mother Boxes terjadi dalam lingkup kemurnian blockbuster selaku media senang-senang, sehingga pantas ditoleransi. Berlawanan dengan niat Batman v Superman membangun dunia (sok) serius. Dari sini pula, Terrio, dengan sedikit bantuan Joss Whedon diberi jalan menghembuskan nyawa lewat bumbu humor. Belum sepenuhnya mulus, lagi-lagi akibat kecanggungan Snyder mengemas adegan tanpa baku hantam, namun cukup sebagai penghasil dinamika.

Keenam pahlawan kita tidak ragu bersenda gurau selama atau di sela-sela pertempuran. Flash tentu paling mencuri perhatian. Layaknya bocah di antara lima orang dewasa, ia berulang kali melempar celetukan menggelitik sampai sederet tingkah konyol yang sempurna dijalankan oleh Ezra Miller, termasuk "momen intim" dengan Gal Gadot yang rasanya berasal dari otak Joss Whedon. Pahlawan super mana lagi yang memutar video musik K-Pop di markasnya? Momoa lancar memamerkan machismo pewaris tahta Atlantis arogan yang menikmati berada di medan perang, sedangkan Gal Gadot selalu menonjol bersenjatakan pesona dan ketangguhan meyakinkan. Dua nama terbesar, Batman dan Superman justru mengalami nasib saling berlawanan.
Batman bak bahan olok-olok. Tidak memiliki kekuatan super, perannya selaku otak dan ahli teknologi turut tertutup keberadaan Cyborg. Affleck yang makin sering mengutarakan keinginan "gantung jubah" pun tampak malas. Gaya komedi deadpan-nya jelas dihempaskan antusiasme penuh energi Miller, sedangkan karisma sebagai Bruce Wayne yang menonjol di Batman v Superman juga lenyap. Sebaliknya, Superman kini layak menjadi simbol harapan sekaligus ujung tombak tim. Selain ikut bercanda tawa, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat sisi badass Superman yang menghindari pukulan Steppenwolf sambil tersenyum. Walau sebelumnya, saat ia mengungguli kekuatan Wonder Woman, Aquaman, dan Cyborg, juga kecepatan Flash, sudah cukup memberi penegasan.

Merupakan film DCEU tersingkat sejauh ini (120 menit), ditambah klimaks singkat nan generik, Justice League mungkin bukan epic seperti dugaan banyak pihak. Toh gelaran laga Snyder masih solid, apalagi terkait penggambaran para meta-human kelas berat setingkat dewa yang aksinya sanggup mengobrak-abrik seisi dunia. Film superhero tidak wajib tenggelam di penderitaan atau kisah kompleks guna memikat, dan blockbuster tidak melulu mesti berbentuk epic cinema. Di samping sederet kekurangan penghasil jalan terjal, Justice League memenuhi hakikatnya selaku hiburan ringan menyenangkan sembari membawa franchise-nya ke masa depan yang menarik melalui pengembangan mitologi sebagaimana diperlihatkan lewat sebuah cameo superhero DC lain dan post-credits scene