Tampilkan postingan dengan label Tom Cruise. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tom Cruise. Tampilkan semua postingan

REVIEW - TOP GUN: MAVERICK

Popularitas Top Gun tidak bisa disangkal. Merupakan film berpendapatan tertinggi sepanjang 1986 (meraup 357 juta dollar, atau sekitar 940 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang), yang konon memicu lonjakan pendaftaran US Navy sampai 500%. Sebuah blockbuster khas 80an yang ringan, menghibur, cheesy, tapi sejujurnya, tidak luar biasa. Sekuelnya, Top Gun: Maverick yang menyusul 36 tahun berselang, adalah spesies berbeda. 

Menggantikan mendiang Tony Scott di kursi sutradara, Joseph Kosinski beralih dari parade CGI yang menyusun awal karirnya, dari beberapa iklan berbasis CGI hingga film-film macam Tron: Legacy (2010) dan Oblivion (2013), guna melahirkan salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, yang melebihi pendahulunya di segala lini. 

Menit-menit awalnya bak reka ulang film pertama. Serupa, bukan cuma di adegan, pula teks intro yang memperkenalkan apa itu program Top Gun. Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise) pun masih sama. Masih sosok biang masalah, juga masih berstatus kapten. Maverick menghindari peluang naik pangkat agar bisa terus menjadi pilot. Tepatnya pilot uji coba.

Sekuen aerial perdana hadir saat Maverick menguji coba pesawat dengan target mencapai Mach 10 (10 kali kecepatan suara). Di sinilah Kosinski memamerkan sentuhannya. Tentu sekuen tersebut intens dan bombastis. Tapi siapa menduga kalau di beberapa titik ia bakal meminimalkan suara, lalu fokus pada keindahan lanskap langit yang dibelah oleh jejak lesatan jet? Seolah Kosinski mengingatkan bahwa "terbang" merupakan keajaiban bagi umat manusia. 

Pada akhir film pertama, Maverick memutuskan bergabung sebagai instruktur Top Gun, yang ternyata cuma berjalan dua bulan. Mengajar bukan panggilan hidupnya. Tatkala teknologi makin berkembang, dan otomatisasi mulai menggeser pilot manusia, masih adakah tempat bagi Maverick? 

Jawaban datang setelah Top Gun memanggilanya lagi. Kali ini bukan untuk pelatihan biasa, melainkan persiapan menuju misi berbahaya. Begitu berbahaya, reaksi pertama Maverick adalah, "Tidak semua pilot bakal pulang dengan selamat". Langsung tampak perbedaan mendasar alur dalam naskah buatan Ehren Kruger, Eric Warren Singer, dan Christopher McQurrie dibanding Top Gun. Sejak awal, kita dan karakternya mengetahui keberadaan misi.

Masih dipenuhi latihan (termasuk olahraga di pantai, meski voli digantikan american football, dan tak lagi beraroma homoerotic), namun latihan di Maverick terasa lebih esensial. Penonton dibuat memahami detail strategi, pun semakin jauh latihan berlangsung, semakin meningkat kesulitannya, semakin pula kita merasakan betapa berbahaya misi tersebut. Apalagi saat melalui sekuen luar biasa intens, filmnya menegaskan kalau bahaya tidak hanya berasal dari peluru, rudal, atau radar musuh. Alam bisa sama, atau malah lebih mematikan.

Di ranah penokohan, naskahnya mengembangkan karakter Maverick tanpa harus mengubah jati diri. Masih nekat, penuh percaya diri, tapi lebih bisa meredam ego. Tetap ingin bebas, tapi mulai mendambakan tempat untuk pulang, yang diwakili oleh romansanya dan Penny (Jennifer Connelly), yang namanya sempat disinggung sekilas di film pertama (cara cerdik mengubah love interest si protagonis). 

Setelah terbang puluhan tahun, Maverick banyak mendapati kematian sesama pilot, termasuk sahabatnya, Goose (Anthony Edwards). Kematian mereka menyisakan duka di hati para orang tercinta. Tapi siapa yang akan kehilangan Maverick andai ia tiada? Maverick yang selama ini senantiasa "kehilangan", kini berusaha untuk "menemukan". 

Salah satunya menemukan kedamaian. Kematian Goose masih belum mampu ia lupakan. Terlebih, putera sang sahabat, Rooster (Miles Teller), tergabung dalam tim yang dilatihnya. Rooster sendiri menyimpan rasa benci terhadap Maverick. 

Elemen drama di atas dilakoni Cruise dengan amat baik. Saking seringnya menantang maut, banyak orang lupa bahwa Cruise adalah aktor bagus pemilik tiga nominasi Oscar. Sewaktu Maverick dan Iceman (Val Kilmer) terlibat obrolan soal "merelakan", jangkauan akting dramatik Cruise mencapai titik terbaiknya. 

Tapi mari lupakan tetek bengek penceritaan. Semua datang menonton demi dogfight bukan? Saya berani menyebut Top Gun: Maverick memiliki rangkaian dogfight terbaik yang pernah ditampilkan di layar lebar. Lebih megah, lebih kompleks, tapi menariknya, lebih mudah dicerna ketimbang film pertama (siapa melawan siapa, siapa ada di pesawat mana, dll.). 

Semua dogfight memukau, tapi third act-nya berada di tingkatan berbeda. Penuh manuver berbahaya serta aerobatics yang mendefinisikan "you won't believe it until you see it". Hell, even after you saw it, you won't believe that those are achievable. 

Kuncinya terletak pada efek praktikal. CGI dipakai secukupnya kala benar-benar dibutuhkan. Sedangkan sisanya, kamera milik Claudio Miranda selaku sinematografer, menangkap jet asli yang membelah angkasa. Realisme menguat berkat penempatan kamera di kokpit yang dioperasikan langsung oleh cast (mereka sungguh duduk di kursi penumpang dalam pesawat yang mengudara). 

Penceritaannya cenderung klise? Mungkin, tapi rasanya itu bukan perihal yang patut dikeluhkan. Apa perlunya mempermasalahkan keklisean, saat Top Gun: Maverick adalah blockbuster sempurna, dengan jajaran spektakel yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan selipan humornya juga efektif menambah daya hibur. Joseph Kosinski mengembalikan sinema blockbuster ke hakikatnya, yakni sajian yang membuat penonton menyaksikan, kemudian memercayai kemustahilan. 

MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018)

Film aksi, agar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi penonton, harus sama seperti pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun strategi mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi Christopher McQuarrie (Jack Reacher, Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk deretan set piece aksi, yang masing-masing bak dibuat dengan tujuan mengungguli sekuen sebelumnya. And to breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission for the audience.

Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus menghentikan aksi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan di Rogue Nation. Rutinitas ini niscaya segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih belum lelah melakoni rutinitas yang membuat tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau bukan melakukan stunt-nya sendiri.

Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9 kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian kota, berlari di atap gedung, bergelantungan lalu mengendarai helikopter. Tentu ada bantuan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman lain, kecuali saat Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si agen CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta petir CGI. Sayang, polesan yang diharapkan menambah intensitas itu justru mengurangi keaslian adegan.

Ya, kekuatan Fallout, dan seri Mission: Impossible setidaknya sejak Ghost Protocol (2011), adalah keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh melakukan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut, lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak supaya penonton tak melihat wajah stuntman (because there wasn’t any). Kamera ditempatkan di benda yang terlibat langsung dalam aksi, seperti motor atau jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, sebab penonton dibuat seolah berada di tengah-tengah peristiwa.

Terkadang wide angle digunakan selaku establishing shot guna menunjukkan bahwa lokasi berlangsungnya aksi adalah nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu di tiap aksi-aksi maut tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi McQuarrie mampu memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.

Plotnya memang urung menawarkan gebrakan baru, namun bukan berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal agen rahasia, yang mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, berbagai kejutan yang mayoritas berasal dari trik-trik cerdik protagonis kita pun tersebar, menjadi tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan bahaya repetisi, muncul dengan ide pintar sarat kejutan agar strategi itu tetap segar.  

Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya sesama agen rahasia fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, adalah karakter pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan jika mereka telah memahami satu sama lain setelah melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa. Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan Hunt.

Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal ampun seketika lenyap begitu ia terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa dimengerti, sebab seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi setelah melewati serangkaian aksi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah kumis itu dibuat memakai CGI layaknya permintaan Warner Bros kepada Paramount? Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama seperti keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22 tahun dan 6 film.

AMERICAN MADE (2017)

Tom Cruise bermain dalam film berisi sindikat pengedar kokain yang tidak ia tumpas, setumpuk senapan AK-47 yang tidak pernah dia tembakkan, serta FBI, CIA, DEA, hingga ATF yang satupun bukan tempatnya bekerja. Masih sekeren biasanya, tetapi kali ini Cruise bukan agen rahasia atau jagoan handal. Didasari kisah nyata, Barry Seal adalah sosok yang diperankannya, pilot maskapai penerbangan TWA yang terlibat skandal internasional pada masa pemerintahan Ronald Reagan. American Made, seperti judulnya memang cuma bisa terjadi di Negeri Paman Sam, tempat manusia mengejar American dream, meraihnya, untuk kemudian kembali kehilangan segalanya.

Setelah cukup lama menyelundupkan narkoba, Seal direkrut oleh Monty Schafer (Domhnall Gleeson) untuk bekerja bagi CIA mengambil foto udara kelompok militan di Amerika Tengah. Menjalankan misi dengan baik, lama-kelamaan tugasnya bertambah, dari mengumpulkan data agen komunis, sampai mengirim suplai senjata bagi Contras, kelompok pemberontak sayap kanan di Nikaragua. Aksi Seal turut diketahui kartel kokain Medellin yang dipimpin nama-nama seperti Pablo Escobar dan Jorge Ochoa. Mereka memintanya menyelundupkan kokain dari Kolombia ke Amerika. Seal pun mengerjakan misi dari banyak pihak, memberinya keuntungan finansial luar biasa. 
Di tangan Doug Liman (The Bourne Identity, Edge of Tomorrow), American Made menekankan gelaran fiksi daripada akurasi realita, mengetengahkan suguhan kriminalitas berbumbu komedi dipenuhi swagness ketimbang reka ulang presisi soal salah satu sejarah memalukan Amerika Serikat. Dengan kehebatannya sebagai pilot (sanggup menerbangkan pesawat di landasan pendek pula mengecoh DEA), kesediaan menantang bahaya yang menghasilkan banjir uang sampai tiada lagi ruang penyimpanan tersisa, pun istri cantik nan seksi (Sarah Wright) yang diajaknya berhubungan intim di atas pesawat yang tengah mengudara, film ini menyulap Barry Seal jadi sosok super keren dengan aksi keren pula. Punya semua yang diimpikan banyak orang, Barry Seal bak perwujudan nyata American Dream

Ditemani belokan-belokan dalam naskah buatan Gary Spinelli berupa misi yang tak hanya bertambah namun semakin besar skala dan resikonya, Liman memastikan American Made tampil dinamis, menghibur, sembari menyimpan gambaran sisi kelam dunia politik dan hukum Amerika. "It's not a felony if you're doing it for the good guys". Kalimat tersebut sempurna merangkum inti problematika. Walau mengambil setting era Reagan, kisah kebobrokan pemerintah dan bagaimana mereka memanfaatkan rakyat sipil demi tujuan politis semaunya lalu enggan bertanggungjawab nyatanya tetap relevan. Seal dimanfaatkan, namun berbalik memanfaatkan pemerintah, turut mengeruk keuntungan. Itulah mengapa tokohnya mudah disukai. Seal mewakili ambisi manusiawi kita.
Pengadeganan Liman penuh energi dan suasana keglamoran, menjauhkan film dari kesan drama political history membosankan tanpa pernah kehilangan konteks. Walau beberapa pilihan teknis layak dipertanyakan   inkonsistensi tone gambar yang kadang memiliki unsur vintage kadang modern, shaky cam yang sesekali mengisi tanpa dampak signifikan  sang sutradara senantiasa punya jalan menghadirkan hiburan. Semisal rasa bersenang-senang melalui balutan komedi ketika Seal berbaik hati mengulang penjelasan atas rangkaian peristiwa yang datang silih berganti. Dengan begitu filmnya dapat memberikan eksposisi gamblang, menyuapi penonton secara tidak murahan.

Energi tinggi American Made turut bersumber dari performa Tom Cruise yang setia menebar pesona lewat ketenangan dihiasi senyum, seolah yakin segalanya bakal berjalan lancar dan telah terkontrol. He is one of the coolest guy in the world, and this movie perfectly shows us why. Diiringi lagu-lagu bernuansa rock, Cruise beraksi layaknya rockstar dengan penyelundupan demi penyelundupan sebagai panggungnya. Dan sebagaimana album-album rock terbaik yang kita kenal, American Made bergerak penuh semangat mengajak penikmatnya bergembira, tersenyum lebar, merasa diri keren, sembari turut menyelipkan subteks soal permasalahan dunia nyata.

THE MUMMY (2017)

Shared universe sekarang tengah merajalela di Hollywood. Tren satu ini seolah menandakan kepercayaan diri pihak studio akan franchise mereka, meski seringkali pula sekedar latah tanpa perencanaan jelas. Diawali oleh Marvel, kini DC/Warner Bros, Transformers, sampai MonsterVerse milik Legendary Pictures yang mengadu Godzilla dengan King Kong turut mengikuti. Di antara semuanya, jalan Universal dalam meluncurkan Dark Universe berisi sekumpulan karakter monster klasik terhitung paling terjal. Berniat memulai sejak 2014 lewat Dracula Untold, kualitas mengecewakan ditambah pendapatan biasa-biasa saja membatalkan rencana tersebut. 

Tiga tahun berselang, tugas mengawali franchise diemban The Mummy garapan Alex Kurtzman (People Like Us), di mana Tom Cruise berperan sebagai Nick Morton, seorang militer Amerika Serikat yang tengah bertugas di Irak. Ambisi menemukan harta karun terpendam justru mendorong Nick bersama arkeolog bernama Jenny (Annabelle Wallis) pada penemuan sarkofagus peninggalan kerajaan Mesir. Tanpa keduanya tahu, di dalamnya terdapat kutukan hasil perjanjian Puteri Ahmanet (diperankan dengan kombinasi sempurna antara karisma dan sensualitas milik Sofia Boutella) dengan Seth sang Dewa Kegelapan yang dahulu menciptakan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan. 
Keseruan, ketegangan, kesenangan. Tiga poin tersebut substansial membangun blockbuster, dan kentara ada usaha menyatukan ketiganya. Namun masalah timbul kala Kurtzman kurang cakap mengatur tone terlebih soal komedi. Kurtzman tak pandai memainkan punchline, membiarkan selipan humor di naskah berlalu tanpa penekanan. Contohnya ketika Jenny mengungkapkan bahwa Nick adalah orang baik karena berkorban menyerahkan satu-satunya parasut pada Jenny, yang lalu dijawab singkat oleh Nick, "aku kira ada dua parasut". Pengadeganan Kurtzman memancing kebingungan. Apakah itu momen komedik? Ataukah serius yang menyatakan jika Nick tak sebaik dugaan Jenny? 

Keberadaan Tom Cruise untungnya lumayan menolong. Sang aktor mampu menyeimbangkan penampilan meyakinkan sebagai action hero tangguh dan pembawaan komedik. Bukan kali pertama Cruise memamerkan bakat tersebut, bukan pula yang tergila (masih dipegang Tropic Thunder), tapi melihatnya dihempaskan oleh Sofia Boutella atau menerima tendangan dari Annabelle Wallis tepat di wajah nyatanya luar biasa menghibur. Pun walau urung dimanfaatkan maksimal, fakta bahwa Nick bukan one-man army layaknya banyak karakter Cruise lain, pula sedikit menyentuh ranah antihero di paruh awal, membuatnya menarik. Masih menghabiskan mayoritas waktu berlarian (like Tom Cruie always does in his movies), Nick lebih sering tak berdaya menghadapi Ahmanet, setidaknya sebelum klimaks.
Kelemahan terbesar The Mummy terletak pada inkonsistensi terkait tensi. Diawali flashback ke Mesir kuno, daya tarik meningkat kala Ahmanet pertama kali beraksi di dunia modern, mengumpulkan pasukan memakai cara yang mengingatkan akan Lifeforce-nya Tobe Hooper. Reference lain bagi horor klasik hadir sewaktu Vail (Jake Johnson) "menghantui" Nick guna mengingatkannya akan teror yang segera menyerang. Situasi absurd itu dikemas menggelitik, sebagaimana situasi serupa di An American Werewolf in London. Lalu tensi menurun, bahkan mencapai titik nadir sewaktu film berkutat di pertemuan Nick dengan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe). Momen itu berlangsung lama tetapi tanpa injeksi emosi maupun tambahan informasi. Apa sebenarnya organisasi yang Jekyll pimpin misalnya, tak pernah diungkap. 

The Mummy gemar memancing antisipasi penonton hanya untuk kemudian memberi payoff mengecewakan. Sewaktu Ahmanet bergerak mengerahkan segenap kekuatannya, kita bak dijanjikan suatu epic finale showdown berisi kehancuran masif London. Namun alih-alih kekacauan berskala besar, klimaks sekedar diisi pertarungan satu lawan satu ala kadarnya antara Nick melawan Ahmanet. Trio penulis naskah kelas wahid David Koepp (Spider-Man, Panic RoomChristopher McQuarrie (The Usual Suspects, Mission: Impossible - Rogue Nation), dan Dylan Kussman pun bagai terlampau malas merangkai resolusi meyakinkan, menambah kesan antiklimaks pergulatan dua tokohnya. 

JACK REACHER (2012)

Ada Jack Reacher, ada Jack Ryan, ada pula Alex Cross. Membaca judul dan premisnya saja saya sudah tidak yakin, karena film-film diatas nampak seperti sebuah suguhan aksi yang sedari awal sudah malas memilih judul (pakai saja nama tokoh utamanya, beres) dan saya pun berasumsi ceritanya ditulis secara malas-malasan. Jack Reacher sendiri adalah sebuah adaptasi terhadap novel One Shot karya Lee Child. Karakter Jack Reacher sendiri pertama muncul pada novel Lee yang berjudul Killing Floor pada 1997. Sejak saat itu sudah ada 17 novel yang memunculkan karakter Jack Reacher dalam ceritanya. Hal itu berarti karakternya punya sejarah yang cukup panjang, tidak kalah dari Jason Bourne bahkan lebih panjang. Namun lagi-lagi materi promosi yang terasa malas-malasan mulai dari judul hingga poster filmnya membuat saya memandang sebelah mata terhadap film ini, sebuah film yang nampaknya hanya akan bersenjatakan rentetan adegan aksi dan kharisma seorang Tom Cruise. Pada akhirnya dugaan saya tidak sepenuhnya salah namun juga tidak 100% benar. Jack Reacher memang bukan film dengan cerita yang brilian tapi ternyata lebih cerdas dari yang saya duga.

Di Pittsburgh, Pennsylvania terjadi sebuah insiden penembakan yang menewaskan lima orang. Dari tempat kejadian perkara ditemukan berbagai barang bukti mulai dari selongsong peluru hingga koin yang digunakan untuk membayar parkir. Dari koin tersebut ditemukan sidik jari milik James Barr (Joseph Sikora) yang merupakan mantan sniper dari angkatan darat Amerika Serikat. Namun sayangnya sebelum ia mengakui perbuatannya, Barr sudah terlanjur dipukuli oleh sesam tahanan hingga koma. Dalam proses interogasi sebelumnya tidak ada pengakuan dari mulut Barr, yang ada hanyalah ia menuliskan pesan yang berbunyi Get Jack Reacher! Jack Reacher (Tom Cruise) sendiri juga merupakan mantan militer Amerika yang kini hidup secara misterius. Dia tidak memiliki alamat ataupun data diri lain yang membuat keberadaannya tidak bisa dilacak. Namun secara tiba-tiba Jack Reacher justru muncul dengan sendirinya untuk membantu penyelidikan. Dia pun akhirnya diminta oleh Helen Rodin (Rosamund Pike) yang merupakan pengacara Barr untuk menjadi penyelidik dalam kasus tersebut. Namun penyelidikan tersebut justru memunculkan berbagai fakta baru yang mengejutkan dan membuat kasus yang seolah mudah tersebut menjadi jauh lebih rumit. Ya, sama seperti cerita dalam Jack Reacher yang awalnya saya kira kosong namun ternyata jauh lebih menarik.

Ternyata Jack Reacher bukanlah sekedar film aksi yang hanya mengandalkan rangkaian ledakan dan baku tembak tanpa memperhatikan cerita. Karena diluar dugaan saya, film ini justru cukup menitik beratkan pada elemen investigasi dan menempatkan rentetan adegan aksinya sebagai "pemanis" filmnya. Jack Reacher menawarkan elemen investigasi yang cukup menarik dimana misteri yang ada mampu tersimpan dengan baik hingga pada akhirnya saat satu demi satu fakta mulai terungkap, hal itu menjadi sebuah twist yang menyenangkan meskipun tidak bisa dibilang mengejutkan. Christopher McQuarrie selaku sutradara sekaligus penulis naskahnya juga tidak terlalu terburu-buru ataupun berlebihan dalam menutupi misterinya. Dia membuka tabir misteri tersebut dengan cukup efektif hingga saya bisa dibuat betah menikmati jalinan ceritanya. Walaupun begitu saya tidak bisa mengatakan bahwa naskah dari Jack Reacher adalah naskah yang cerdas. Saya belum membaca novel One Shot yang menjadi sumber adaptasinya, namun membaca sekilas sinopsis novel tersebut dan membandingkannya dengan apa yang tersaji dalam film saya cukup yakin bahwa Jack Reacher tertolong oleh dasar cerita novelnya yang cerdas. Sedangkan adaptasi dari McQuarrie sebenarnya biasa saja, bahkan seringkali kendor di beberapa bagian.
Dibalik misterinya yang cukup menarik, Jack Reacher sebenarnya menyimpan begitu banyak potensi untuk menjadi the new Bourne. Sayangnya berbagai potensi tersebut kurang berhasil dimaksimalkan. Elemen investigasi dan misterinya sudah saya katakan diatas cukup baik. Bagaimana dengan adegan aksinya? Secara keseluruhan adegan aksi yang ada cukup menarik. Kejar-kejaran mobil yang menghibur, adegan perkelahiannya cukup brutal, adegan baku tembaknya pun tidak hanya asal menghamburkan ratusan peluru namun terasa cukup taktis. Film ini beruntung punya tokoh utama dengan karakterisasi seperti Jack Reacher yang tidak mempedulikan hukum dan menghalalkan kekerasan seperti apapun untuk membela kebenaran. Tapi sayangnya saya masih merasa hal tersebut kurang dimaksimalkan. Dengan sosok Reacher yang seperti itu, film ini masih terasa hambar di adegan aksinya. Jack Reacher juga sebenarnya punya potensi kuat di aspek drama, hanya saja harus mengalah dengan elemen investigasi dan porsi adegan aksinya, dan saya memahami pilihan tersebut. Tapi setidaknya masih ada momen drama yang mengena, yakni disaat Helen sedang melakukan reka ulang terhadap aktivitas masing-masing korban penembakan.

Sayang pada akhirnya Jack Reacher ditutup dengan begitu hambar sekaligus antiklimaks. Sosok penjahatnya terkesan begitu melempem, bahkan sosok The Zec (diperankan sutradara legendaris Jerman, Werner Herzog) yang menjadi otak kejahatan utama dan terlihat begitu berwibawa harus mati begitu saja di akhir tanpa greget sedikitpun. Namun saya cukup menyukai fakta bahwa hingga akhir sosok Jack Reacher masih tetap menyimpan misteri mengenai identitasnya. Karena pada dasarnya Reacher memang sosok misterius yang entah tinggal dimana dan seperti apa orangnya. Mungkin nantinya jika dibat sekuel barulah perlu mengenalkan sosok Jack Reacher secara lebih mendalam, sedangkan untuk film pertama memang lebih baik tetap membiarkan sosoknya misterius dan membiarkan kharsima seorang Tom Cruise yang bermain. Ya, disini memang Cruise membuktikan bahwa dirinya masih seorang action hero kelas atas yang bisa terlihat brutal, keren namun misterius. Secara keseluruhan filmnya sendiri tidaklah spesial tapi punya jalinan cerita yang cukup menarik dan adegan aksi yang menghibur. Sayangnya punya durasi yang terlalu lama (tidak sampai 2 jam pun sudah cukup) dan diakhiri dengan anti-klimaks.