Tampilkan postingan dengan label Hirokazu Koreeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hirokazu Koreeda. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BROKER

"Thank you for being born". Melalui kalimat sederhana yang entah sudah berapa kali kita dengar itu, Hirokazu Kore-eda dengan perspektif humanis khasnya, mengurai segala kepelikan dalam Broker. Baik yang nampak dari luar maupun dalam batin karakternya. Karena bagi Kore-eda, sepelik apa pun permasalahannya, hal terpenting dan paling mendasar bagi manusia bukanlah materi, melainkan keyakinan bahwa hidup mereka tidaklah sia-sia. 

Broker punya first act yang mengundang pertanyaan. Tokoh-tokohnya diperkenalkan, namun relasi satu sama lain belum terungkap. So-young (Lee Ji-eun a.k.a. IU) meninggalkan bayinya di sebuah gereja, Soo-jin (Bae Doona) dan Lee (Lee Joo-young) mengikutinya, sementara Dong-soo (Gang Dong-won) dan Sang-hyeon (Song Kang-ho) yang bekerja sebagai relawan di gereja tersebut tampak mengambil bayi So-young.

Kemudian filmnya secara bergantian menyoroti aktivitas masing-masing individu. Bagai kumpulan fragmen. Menariknya, berkat penulisan serta pengarahan Kore-eda (penuh kesabaran seperti biasa), fragmen-fragmen itu tak pernah berantakan walau (masih) berdiri sendiri-sendiri. Barulah secara rapi dan bertahap, fakta demi fakta diungkap, menyatukan keping-keping fragmennya menjadi kesatuan utuh yang kreatif.

Ya, kreatif. Dari luar, Broker nampak seperti drama soal chosen family biasa, tapi seperti halnya Shoplifters (2018), tema itu dikembangkan ke arah tak terduga. Dong-soo dan Sang-hyeon berkomplot menjual bayi, Soo-jin dan Lee merupakan detektif yang hendak menangkap basah mereka, sedangkan So-young memutuskan kembali pada anaknya. 

Kisahnya bergerak ke ranah road movie tatkala So-young setuju menjual bayinya, lalu ikut bersama Dong-soo dan Sang-hyeon untuk menemui si pembeli. Di situ Kore-eda mulai membawa karakternya dalam perjalanan mempertanyakan keputusan hidup mereka. 

Perdebatan yang rasanya bakal banyak mencuat adalah mengenai sudut pandang Kore-eda seputar isu pro-life dan pro-choice. Apakah wanita yang belum siap menjadi ibu seperti So-young sebaiknya memilih aborsi guna menghindari terlantarnya si buah hati? Ataukah lebih baik membiarkannya hidup lalu meninggalkannya di kotak bayi? 

Saya punya pandangan lain. Kore-eda bukan sedang mendiskusikan mana pilihan terbaik, tapi melihat masalah secara lebih mendasar. Manusia punya pengalaman berbeda, sehingga cara pandang serta keputusan yang diambil juga berbeda. Semua punya alasan. So-young punya alasan membuang bayinya. Demikian pula Dong-soo dan Soo-jin yang mengutuk tindakan tersebut. Broker tidak memilih benar/salah, tapi mengajak kita memahami sudut pandang tiap keputusan. 

Ada kalanya keputusan tersebut disesali, dan lagi-lagi Kore-eda enggan menghakimi. Itulah pondasi momen menyentuh berlatar gondola, yang memperlihatkan sensitivitas sekaligus kreativitas Kore-eda mengemas dramatisasi. Emosi bukan asal diledakkan, namun dipercantik lewat gestur sederhana, yang menjadikan gondola itu bak ruang katarsis intim tempat manusia "dimanusiakan". 

Membicarakan sensitivitas Hirokazu Kore-eda memang tiada habisnya. Tiga tahun lalu ia melahirkan The Truth, selaku karya Bahasa Inggris perdana. Broker sendiri jadi karya Bahasa Korea pertamanya. Tapi hasilnya selalu sama. Selalu kuat. Bukti bahwa humanisme itu universal. Tidak mengenal bahasa, hanya butuh kepekaan rasa. 

Satu-satunya bahasa yang penting bagi Kore-eda mungkin bahasa visual. Lihat betapa penggunaan reaction shot amat dibatasi di sini. Seolah Kore-eda membebaskan karakternya mencurahkan seluruh perasaan tanpa perlu memusingkan reaksi orang lain. Sekali lagi, ia menyediakan ruang katarsis. 

Tentu sebuah kisah kemanusiaan takkan berhasil tanpa kekuatan para manusia yang nampak di layar. Jajaran cast-nya tampil hebat, merangkai chemistry yang memperkuat tuturan soal chosen family. Termasuk si kecil Im Seung-soo sebagai Hae-jin, bocah yang ikut di tengah perjalanan. Semakin jauh jarak ditempuh bersama, para "penghuni" mobil bobrok kepunyaan Sang-hyeon menemukan ikatan kekeluargaan yang tak memedulikan hubungan darah. Prosesnya hangat, menyentuh, pun acap kali menggelitik berkat selipan humor realis.

Melalui aktingnya di sini, Song Kang-ho menjadi pelakon Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan Best Actor di Festival Film Cannes. Kemenangan yang layak. Tetesan kecil air matanya di tengah kegelapan bakal terus saya kenang. 

Tapi Broker adalah kendaraan seorang Lee Ji-eun untuk memantapkan statusnya sebagai salah satu aktris muda terbaik Korea. Terkadang emosi sedikit diletupkan, tapi permainannya cenderung subtil, yang mana butuh kepekaan luar biasa agar berhasil. Sebenarnya bukan hal mengejutkan. Tidak perlu sampai membahas aktingnya di My Mister (2018), Kdrama yang jadi alasan Kore-eda memilihnya. Sejak mulai aktif menulis lagu pun kepekaan itu sudah nampak. Bagi saya, IU musisi spesial bukan (cuma) karena kapasitas vokalnya, tapi kepiawaiannya menangkap hal-hal kecil di sekitar, lalu menerjemahkannya dalam wujud estetika musik. 

IU si musisi maupun Lee Ji-eun si aktris sama-sama punya sensitivitas tersebut. Di Broker pun terlihat bagaimana kekaguman Kore-eda atas aktingnya, berkembang jadi kepercayaan terhadap kualitas sang aktris. Hampir seluruh momen yang menuntut kecermatan olah rasa tinggi diberikan padanya. Alhasil realisme Kore-eda dan kesubtilan akting Lee Ji-eun berpadu sempurna. 

Saat So-young tersenyum simpul, sementara wajahnya dibasuh hangatnya cahaya matahari, saya pun sadar apa yang ia (dan karakter lain) impikan. Seperti kita, mereka tidak mau sendirian melangkah. Tidak peduli kandung atau bukan, mereka merindukan keluarga. Keluarga yang berkata "You're doing great" tatkala roda kehidupan sedang berputar di bawah. Keluarga yang memandang eksistensi kita sebagai anugerah, kemudian berucap, "Thank you for being born". 

REVIEW - THE TRUTH

Hirokazu Kore-eda terkenal atas sensitivitas tinggi, menjadikannya satu dari sedikit sineas yang dapat “menghubungkan” penggemar film arus utama dan arthouse. Bahkan saat untuk pertama kalinya membuat film dengan latar, pemain, kru, serta bahasa di luar Jepang, sensitivitas itu tetap ada—walau jika dibandingkan judul-judul macam Like Father, Like Son atau Shoplifters, The Truth memang termasuk karya minor sang sutradara.

Unik. Itulah kesan pertama yang saya dapat selama menyaksikan The Truth. Bagaimana ini jelas-jelas film Prancis lengkap dengan segala kulturnya, namun punya rasa yang “sangat Kore-eda”, di mana kisah bergerak lambat nyaris sepanjang durasi, untuk kemudian emosinya meletup secara elegan, pada momen yang oleh sutradara lain, jarang dipakai sebagai titik puncak drama. Di sini, Kore-eda lebih sering mengajak penonton menjadi spektator, mengamati peristiwa dari luar, tanpa masuk tepat ke tengah ruang intim karakternya.

Mungkin karena begitulah nature dari filmnya, yang bicara mengenai ambiguitas antara fiksi dan realita, antara kebohongan dan fakta. Bagaimana bisa memasuki ruang intim itu jika kita belum tahu kebenarannya? Profesi protagonisnya sendiri dekat dengan kebohongan. Dialah Fabienne Dangeville (Catherine Deneuve), aktris legendaris Prancis, yang segera menerbitkan otobiografi berjudul The Truth. Tapi benarkah buku tersebut berisi kebenaran?

I’m an actress. I won’t tell the unvarnished truth. It’s far from interesting”, kata Fabienne, sewaktu sang puteri, Lumir (Juliette Binoche), mengonfrontasinya perihal beberapa kebohongan yang ia temukan dalam buku. Salah satunya cerita saat Fabienne menjemput Lumir sepulang sekolah. Sesuatu yang tak pernah terjadi, karena Fabienne, yang berprinsip “I prefer to have been a bad mother, a bad friend and a good actress”, selalu pergi untuk membuat film.

Lumir adalah penulis naskah yang tinggal di Amerika. Suaminya, Hank (Ethan Hawke), merupakan aktor televisi medioker yang sedang berusaha lepas dari alkoholisme dan menyembunyikan fakta dari puteri mereka, Charlotte (Clémentine Grenier), bahwa ia sempat pergi untuk menjalani rehabilitasi. Naskah buatan Kore-eda, yang ditulis dalam Bahasa Jepang sebelum diterjemahkan ke Bahasa Prancis oleh Lea Le Dimna, kemudian memperkenalkan satu demi satu subplot, yang terkoneksi oleh satu gagasan besar berupa pertanyaan terhadap fakta.

Seperti biasa penulisan dialog Kore-eda begitu kaya, pun tidak jarang menggelitik. Dinding bahasa tampak tak memberikan halangan, walau filmnya cukup melelahkan di pertengahan jalan, karena kali ini, sepertinya sang maestro sedikit lepas kontrol, memberikan materi obrolan lebih banyak dari kebutuhan, sehingga sempat terasa stagnan. Tapi siapa tidak tergoda melakukan itu jika filmnya diisi nama-nama terbaik dunia seni peran?

Deneuve dan Binoche merupakan dua figur yang sama-sama mampu menyiratkan sisi terdalam karakter mereka melalui detail terkecil. Dan mengingat sifat filmnya adalah observasional, maka mengamati keduanya menjadi proses yang menarik. Butuh penampil hebat agar penonton bisa ikut merasakan, meski tak (selalu) diajak mengunjungi ruang personal karakternya.

Misalnya sewaktu kita mengunjungi proses produksi film terbaru Fabienne. Judulnya Memories of My Mother, yang di dunia nyata, adalah cerita fiksi-ilmiah pendek karya Ken Liu, yang juga telah diangkat menjadi film pendek berjudul Beautiful Dreamers. Kisahnya mengenai seorang ibu yang diperankan aktris muda bernama Manon (Manon Clavel), yang menderita sakit parah dan hanya punya sisa umur dua tahun. Agar dapat menyaksikan puterinya tumbuh dewasa, Manon tinggal di pesawat luar angkasa untuk memperlambat waktu, dan pulang tiap tujuh tahun sekali. Fabienne memerankan versi tua dari puteri Manon.

Mudah menemukan paralel antara Memories of My Mother dengan dinamika Fabienne-Lumir. Sosok ibu di kedua kisah sama-sama “mengasingkan diri” dari sang puteri. Di sini fiksi dan realita berbenturan. Fabienne seolah harus memerankan Lumir. Bisa jadi ia pun melihat cerminan hubungan mereka, termasuk dirinya sendiri dalam sosok Manon. Ada ego besar dalam hati Fabienne untuk “mengalah kepada filmnya” dan larut ke dalam emosi yang benar-benar ia rasakan.

Kore-eda melukiskan konflik batin itu secara puitis ketika proses reading berlangsung. Manon beranjak dari kursi, kemudian berdiri membelakangi kamera. Bagai tidak mau kalah, Fabienne menghampirinya, berdiri menghadap kamera sambil mengucapkan kalimat dari naskah. Di situ Fabienne kehilangan kendali. Matanya bergetar, bak terkejut melihat akting Manon, yang mungkin merefleksikan apa yang ia rasakan terhadap Lumir. Ekspresi Manon tak diperlihatkan pada penonton (setidaknya sampai beberapa waktu berselang), yang hanya bisa mengamati reaksi Fabienne. Sebab di titik itu, kita sebatas “orang asing” yang mengobservasi respon luar si aktris legendaris. Pemahaman lebih mendalam baru menyusul kemudian.

Beberapa kali Kore-eda mengulangi pendekatan serupa. Membiarkan penonton mengamati dari luar, tapi tetap bisa merasakan dampak emosional. Sensitivitas sang sutradara memang luar biasa, termasuk timing pemakaian musik. Ingat-ingat ini: jika musik mulai terdengar di film-film Kore-eda, bersiaplah merasakan emosi anda diaduk-aduk. Hirokazu Kore-eda tak pernah membiarkan musik terbuang percuma sebagai pernak-pernik belaka.

Jadi, manakah yang merupakan fakta? Bagaimana perasaan antar karakter sesungguhnya? Sebagaimana senyuman Lumir pada Charlotte selepas ia meminta si gadis cilik menyampaikan “kebohongan” pada sang nenek jelang akhir film, Kore-eda tidak pernah memberi jawaban pasti. Karena kebenaran memang tidak sesederhana itu.

JCW 2018 - SHOPLIFTERS (2018)

Melalui Shoplifters, sutradara/penulis naskah Hirokazu Kore-eda (Our Little Sister, After the Storm) mengobrak-abrik tatanan konsep keluarga ideal yang dianut mayoritas masyarakat. Makna keluarga digugat lewat pertanyaan “What makes a family?”. Apakah hubungan darah merupakan keharusan? Apakah karena mengandungnya, seorang wanita otomatis menjadi ibu terbaik bagi sang anak? Apakah sebuah keluarga yang memenuhi kebutuhan dengan mengutil pantas disebut ideal?

Menurut Kore-eda, semua hanya soal perspektif, dan Shoplifters mengajak kita mengintip nilai kekeluargaan dari sudut pandang lain guna memancing perenungan. Coba tengok jajaran karakternya. Osamu Shibata (Lily Franky) selalu mengajak puteranya, Shota (Kairi Jō), mencuri makanan hingga alat mandi di supermarket. Istrinya, Nobuyo (Sakura Ando), bekerja di tempat laundry dan kerap mengambil benda di saku cucian. Hatsue (Kirin Kiki) si nenek yang rutin menerima pensiunan mendiang suaminya pun sesekali terjun di aksi pencurian. Turut tinggal bersama mereka adalah pula gadis muda bernama Aki (Mayu Matsuoka) yang berprofesi sebagai stripper.

Suatu hari, Osamu membawa pulang Yuri (Miyu Sasaki), setelah merasa iba melihat bocah itu ditelantarkan kedua orang tuanya di luar rumah. Keluarga ini pun dengan senang hati merawat Yuri, sambil sesekali mengajarinya satu-dua trik mengambil barang. Melihatnya dari kacamata moral maupun hukum, semuanya nampak keliru. Osamu sekeluarga merupakan pencuri yang mengajari bocah cilik bertindak kriminal. Pun bakal lebih mudah bagi orang-orang melihat Yuri selaku korban penculikan.

Keluarga Shibata bukan lingkungan layak bagi tumbuh kembang Yuri. Tapi benarkah? Kore-eda bermain-main dengan perspektif, namun sebagaimana ia usil menyentil sistem pendidikan lewat pernyataan “School is for kids who can’t study at home”, Shoplifters dikemas dalam kejenakaan. Kriminalitas yang dipicu kemiskinan bukan ditampilkan sebagai perwujudan amarah atau luapan balas dendam pada ketidakadilan hidup. Interaksi antara anggota keluarga tampil hangat, sesekali memancing tawa melalui celotehan (penulisan dialognya luar biasa), bahkan saat ditimpa musibah pun, karakternya masih sempat bercanda ria.

Kore-eda membuat saya betah berlama-lama singgah di kediaman keluarga Shibata, walau serupa kebanyakan karya sang sutradara, Shoplifters sejatinya tak memiliki bentuk alur konservatif di mana satu konflik besar menggerakkan arah cerita. Film ini ibarat rekaman keseharian karakternya yang dijahit oleh ketelatenan Kore-eda bermain tempo serta dinamika. Menganut gaya realisme, sang sutradara mampu menghadirkan dramatisasi tanpa memaksa penonton “merasakan”. Bahkan bisa jadi anda tidak sadar Kore-eda sedang memantik emosi anda lewat permainan sudut kamera dan timing.

Salah satu triknya adalah menempatkan sudut pandang pada saksi. Apabila suatu peristiwa besar terjadi, guna menstimulus emosi, Kore-eda lebih seiring membawa kita melihat respon orang yang menyaksikannya, sambil tetap menceritakan apa yang terjadi. Baginya, hal terpenting bukan kejadian di luar, namun dalam hati karakter. Itulah mengapa ia kerap mendadak mengakhiri adegan di tengah pembicaraan. Kore-eda tak berniat menangkap obrolannya, tapi apa yang seorang individu rasakan terhadap diri sendiri dan/atau individu lain.

Shoplifters bergerak lembut, hingga anda mungkin tak menyadari bahwa ini adalah misteri yang sedang menyamar. Bahkan film ini bisa saja menjadi thriller, kala seiring waktu, rahasia-rahasia gelap nan mengejutkan seputar tokoh-tokohnya diungkap. Terkadang, pengungkapan terjadi lewat obrolan kasual seolah itu bukan persoalan penting.

Kemudian babak ketiganya berubah haluan, sewaktu tatanan moralitas ideal coba mengonfrontasi perspektif alternatif yang ditawarkan filmnya, sambil menunjukkan sisi kelam dari absolutisme dalam nilai sosial kita, yang cenderung memaksa semua pihak tunduk pada “kebaikan tunggal”. Pada akhirnya, Shoplifters bukan sebuah usaha menjustifikasi kriminalitas, melainkan observasi mengenai kecacatan yang selalu ada tidak peduli seberapa harmonis suatu keluarga.

Semua aktornya, dari mendiang Kirin Kiki hingga si aktris cilik Miyu Sasaki, memberikan akting subtil mengesankan, walau penampilan Sakura Ando adalah yang paling mencengkeram. Pada satu adegan non-verbal, Kore-eda meletakkan kamera tepat di depan Ando, tak sedikitpun digerakkan, membiarkannya menangkap seluruh luapan rasa sang aktris, sementara saya duduk diam. Tidak menangis atau tercengang, tapi seluruh bulu kuduk di tubuh saya berdiri serentak. That was the most poweful acting I’ve seen this year.

AFTER THE STORM (2016)

Sambil menyiapkan makan malam, Yoshiko (Kirin Kiki menggelitik nan simpatik, senantiasa menghembuskan nyawa bagi filmnya) bercengkerama dengan puterinya, Chinatsu (Satomi Kobayashi). Bukan kegiatan yang jarang mereka lakukan, tampak dari bagaimana tiada keengganan untuk saling melempar ejekan. "I've always had bad handwriting. I took after you", demikian ungkap Chinatsu yang seketika dijawab oleh sang ibu, "I'm not as bad as you". Pemandangan natural soal kehangatan keluarga tanpa sisi manis yang dibuat-buat. Dalam pembicaraannya, Yoshiko dan Chinatsu sering beda pendapat, namun sepakat akan satu hal, mengenai salah satu anggota keluarga yang menurut mereka cocok dengan istilah "Great talents bloom late".

Seketika adegan berpindah menuju sebuah kereta. Diiringi musik karya Hanaregumi berupa petikan gitar plus siulan yang terdengar bagai melankoli ironis, protagonis kita hadir. Dia adalah Ryota (Hiroshi Abe), seorang penulis novel sekaligus pemenang penghargaan literatur. Ibu dan kakaknya, serta seorang teman masa SMA yang ia temui di jalan menyatakan hal serupa, bahwa Ryota berprestasi di bangku sekolah. Namun semua itu masa lalu. Sejak debutnya, ia tak lagi menulis, terjebak kegemaran berjudi, berujung tumpukan hutang. Ryota telah menjadi sosok yang tidak dia sukai: mendiang ayahnya.
Sebagai modal riset buku terbaru  yang tak kunjung mulai ditulis  Ryota bekerja di kantor detektif swasta. Tapi pekerjaan ini pun urung ia jalankan dengan baik, di mana bersama sang partner, Ryota kerap menghilangkan bukti hingga menyuap klien demi memperoleh uang lebih. Lagi-lagi uang kotor itu juga dihabiskan untuk berjudi. Ryota selalu berkelakar tentang kejayaan masa lalu maupun mimpi besar masa depan, tetapi lupa akan sekarang. Secara mulus, Hirokazu Koreeda (Like Father, Like Son, Our Little Sister) selaku sutradara dan penulis naskah, menautkan gagasan seputar "right here, right now" dengan tema kesukaannya, yakni keluarga.

Di suatu kesempataan, pernah Koreeda berkata, "Families are priceless but troublesome", dan permasalahan pelik juga begitu berharganya keluarga terasa betul dalam After the Storm. Kebiasaan berjudi membuat Ryota kesulitan membayar tunjangan anak pada mantan istrinya, Kyoko (Yoko Maki) yang sudah mulai berkencan dengan pria lain, menyulut kecemburuan Ryota. Padahal pembayaran itu adalah syarat agar ia bisa bertemu puteranya, Shingo (Taiyo Yoshizawa), tiap bulan. Terbuai angan tak pasti berwujud menang judi turut merenggut kesempatan membelikan sarung tangan bisbol bagi Shingo, satu hal yang sejatinya dapat Ryota lakukan seketika itu juga, begitu menerima uang.
Bukan saja terkait penulisan naskah, kelembutan pun aliran mulus ikut hadir pada penyutradaraan Koreeda, yang mementingkan keaslian situasi sekaligus emosi. Rangkaian obrolan sederhana mendominasi, tetapi sensitivitas Koreeda membuat kesan apa adanya jadi penuh rasa ketimbang menjemukan. Tengok momen jalan-jalan Ryota dan Shingo yang mengawali paruh kedua durasi, ketika filmnya mulai membawa penonton menyusuri lebih dalam ruang privasi para tokoh setelah sebelumnya mengobservasi dari luar. Ryota bukan pria jujur. Setiap orang, bahkan sang ibu pernah ia tipu. Berbeda kala bersama anaknya, membelikan sepatu dengan sisa tabungan, mengajak makan enak meski membuatnya tak sanggup ikut makan, kasih sayang jujur seorang ayah terpancar jelas. Kepiawaian Hiroshi Abe bermain emosi kuat secara subtil amat berperan merangkum kelembutan menyengat tersebut.

Pendekatan naturalistik dipertahankan Koreeda sampai konklusi. Ryota (dibantu Yoshiko) mencari rekonsiliasi, berusaha menyatukan lagi perpecahan keluarga mereka, tapi sang sutradara enggan memaksakan peristiwa manis dadakan selaku usaha penyelesaian masalah. Proses mengalir semestinya, sebagaimana seharusnya perasaan remuk yang takkan begitu saja kembali tersusun rapi. Kemudian segalanya memuncak sewaktu ketiganya sejenak bersama sebagai satu keluarga utuh, mencari tiket lotere di tengah gempuran badai layaknya perjuangan menggapai mimpi meski harus diterjang problematika.