Tampilkan postingan dengan label Trey Parker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trey Parker. Tampilkan semua postingan
DESPICABLE ME 3 (2017)
Rasyidharry
Pada film ini, Gru (Steve Carell) terjebak dilema, bertahan sebagai diri barunya atau kembali menyandang status penjahat super. Kita pun melihat ekspresi licik serta mendengar tawa jahatnya lagi. Dan dalam suatu kesempatan, ia menipu saudara kembarnya, Dru (juga disuarakan Steve Carell) guna mencapai tujuan pribadi walau tujuan ini sejatinya berguna bagi dunia. Inilah Gru yang penonton kenal pula sukai. Lebih dari itu, juga penokohan yang sejak dulu berusaha dibentuk franchise-nya, yaitu sosok dengan ambiguitas moral, setidaknya untuk ukuran animasi semua umur. Filmnya sendiri adalah yang terbaik sejak installment perdana (termasuk Minions).
Kali ini Gru bersama sang istri, Lucy (Kristen Wiig) selaku agen Anti-Villain League (AVL) berurusan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker) yang hendak mencuri berlian terbesar di dunia. Bratt adalah mantan bintang cilik ternama. Namun pasca serial televisinya dibatalkan akibat kehilangan penonton setelah menginjak masa puber (bayangkan Macaulay Culkin sekarang bermain di Home Alone), Bratt mulai percaya bahwa dia adalah tokoh peranannya di serial tersebut, memutuskan menjadi penjahat super sungguhan. Karakterisasi di atas bak parodi tentang aktor yang tenggelam terlampau jauh dalam karakter yang dimainkan dan/atau aktor cilik yang kehabisan masa jaya begitu beranjak dewasa.
Besar di 80-an, wajar tatkala Bratt dihiasi gabungan pernak-pernik era tersebut dan benda khas anak. Kostum dengan shoulder pad, gaya rambut mullet, senjata berbentuk yoyo dan permen karet, markas berwujud rubik, sampai yang paling berpengaruh untuk filmnya, kegemaran menyetel musik 80-an. Deretan nomor seperti Bad-nya Michael Jackson hingga Take on Me milik a-ha sesekali menambah keasyikan petualangan yang sayangnya, walau oleh duet sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda konsisten digerakkan secepat kilat, gagal menyamai kreativitas memikat first act-nya. Gru dan Lucy dengan kendaraan canggih bak versi futuristik James Bond melawan bermacam senjata unik berbentuk mainan kepunyaan Bratt jadi keseruan yang gagal terulang, bahkan oleh klimaks yang menampilkan robot raksasa.
Dasar ceritanya masih mempertahankan usungan tema keluarga, meski kini persaudaraan Gru dan Dru mengurangi porsi ayah-anak. Ada usaha Lucy belajar menjadi sosok ibu bagi trio Margo-Edith-Agnes, namun sekedar selipan dangkal ketimbang proses utuh sebagaimana Gru belajar menjadi ayah di film pertama. Tapi Coffin dan Balda selalu menggarap tiap momen kekeluargaan dengan sensitivitas tinggi, menyertakan cukup kasih sayang demi menghasilkan kehangatan. Adegan kala Mel Minions yang memprovokasi rekan-rekannya agar mendorong Gru kembali berbuat jahat mengingat masa-masa bersama Gru tersaji manis layaknya memori indah ayah dan anak.
Lain halnya dengan porsi komedi. Despicable Me 3 berusaha keras melucu di tiap kesempatan. Hampir lima menit sekali humor digelontorkan. Ada adegan ketika Gru dan Dru terpingkal-pingkal menertawakan lelucon mereka sendiri sementara Lucy serta tiga puterinya terdiam, entah bingung harus merespon bagaimana atau sepenuhnya tak peduli. Situasi yang cocok menggambarkan usaha komedi filmnya. Turut digandakan adalah sisi cuteness. Seolah keberadaan Minions dan Agnes belum cukup, hewan-hewan seperti kambing pula babi jadi target, didesain semenggemaskan mungkin. Setidaknya poin ini lebih mencuri hati daripada humornya.
Despicable Me 3 mengembalikan peran Minions sebagai pendukung yang bahkan tak berbuat satu pun hal signifikan. Keputusan tepat, sebab sejak dulu, tiap kemunculan makhluk kuning ini memakan beberapa menit durasi demi kehadiran situasi komikal random yang sejatinya dapat diluangkan guna menguatkan alur. Begitu juga di sini, walau harus diakui Minions menguasai penjara adalah salah satu momen paling menarik pun terlucu dalam film ini. Ditutup oleh ending yang membuka peluang sekuel, Despicable Me 3 paling tidak membawa lagi sang tokoh utama ke posisi semestinya. This movie makes Gru cool and interesting again.
Juli 14, 2017
Animated
,
Cukup
,
Kristen Wiig
,
Kyle Balda
,
Pierre Coffin
,
REVIEW
,
Steve Carell
,
Trey Parker
Langganan:
Komentar
(
Atom
)



