Tampilkan postingan dengan label Tzi Ma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tzi Ma. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MULAN

Alasan kesuksesan mayoritas live action remake milik Disney, adalah keberhasilan menerjemahkan nyawa animasinya, sembari membuatnya lebih relevan bagi penonton modern. Sayangnya Mulan berbeda. Adaptasi berarti penyesuaian, yang berarti, membuka kemungkinan atas berbagai perubahan. Tapi kali ini, hampir seluruh perubahannya melucuti poin-poin yang membuat karya orisinalnya dicintai.

Bahkan mengesampingkan kontroversi politis dan kulturalnya, Mulan tetap berada di bawah “rekan-rekan sejawatnya”. Satu yang paling mengganggu tentu saja perihal chi. Ketimbang gadis biasa yang ingin membuktikan diri, penggambaran sosok Hua Mulan (Liu Yifei) mengikuti pola narasi “Sang Terpilih” yang banyak dipakai suguhan blockbuster. Sejak kecil, Mulan diperlihatkan sudah jago bela diri, karena (atas kehendak semesta), mempunyai chi lebih kuat dari orang kebanyakan. Ya, serupa para protagonis di Star Wars.

Seperti telah kita ketahui bersama dari animasinya, sebagai wanita, Mulan dituntut menerima kodrat menjaga martabat keluarga dengan cara menikah. Menjadi pelayan yang patuh untuk suami. Sampai suatu hari, sang ayah, Hua Zhou (Tzi Ma), diminta turut berperang melawan Bori Khan (Jason Scott Lee) dan pasukannnya yang berambisi membunuh Kaisar (Jet Li), meski fisiknya sudah tak memungkinkan. Mulan pun nekat berpura-pura jadi laki-laki dengan nama samaran Hua Jun, guna menggantikan posisi sang ayah di medan perang.

Mulan mati-matian membuktikan kapasitasnya di depan Komandan Tung (Donnie Yen). Bedanya, di versi live action ini, sosok Mulan mencuri perhatian seluruh pasukan lewat kekuatan chi yang ia pamerkan kala beradu jurus dengan Chen Honghui (Yoson An), salah satu prajurit yang menggantikan peran Li Shang sebagai (semacam) love interest protagonis kita.

Keberadaan chi, dan ketersiratan status Mulan sebagai “Sang Terpilih”, justru melemahkan pesan empowerment-nya. Mulan tidak lagi merepresentasikan wanita-wanita “biasa” yang berusaha meraih kemerdekaan, karena ia sudah memperoleh “keistimewaan dari alam” sejak lahir. Membaca tabiat Hollywood belakangan terobsesi pada realisme kuasi, besar kemungkinan alasan keempat penulisnya memasukkan elemen di atas adalah demi memenuhi logika. Agar Mulan tidak terkesan “tiba-tiba jago” sebagaimana animasinya.

Peniadaan elemen musikal, ditambah pengurangan nuansa playful pun rasanya didasari pemikiran itu. Beberapa humor mampu menghadirkan tawa kecil, tapi banyak yang gagal mengenai sasaran, dan keseluruhan tone-nya lebih serius. Semua atas nama pendekatan realistis, sebab konon, film ini ingin lebih setia kepada cerita rakyatnya. Baiklah. Seorang penyihir yang bisa berubah wujud menjadi burung memang realistis.

Tunggu. Burung apa? Penyihir apa? Masih ingat falkon bernama Hayabusa selaku peliharaan Shan Yu dari animasinya? Film ini mengubahnya menjadi Xianniang (Gong Li), penyihir yang berpihak pada Bori Khan agar bisa diterima sebagaimana adanya dia. Saya tak bisa sepenuhnya mengeluh karena kehadiran Xianniang membuka jalan bagi Gong Li dan figur ethereal-nya, namun ketimbang menggandakan kisah empowerment, bukankah lebih baik memaksimalkan proses tokoh utamanya?

Perjalanan berliku Mulan cenderung “dingin”, walau memanjakan mata lewat sinematogafi arahan Mandy Walker yang menangkap keindahan panorama, didukung dekorasi set berwarna tajam, serta beberapa kostum memukau, khususnya yang dikenakan Gong Li. Tapi sekali lagi, dingin. Sewaktu animasinya menghatarkan momen-momen emosional terkuatnya melalui lagu, live action-nya mengganti itu dengan barisan kalimat medioker (termasuk narasi yang kerap mendadak muncul tanpa pola pasti), juga interaksi tak bernyawa antar tokohnnya. Padahal, saya bisa membayangkan betapa mengharukannya jika Reflection versi baru dari Christina Aguilera berkumandang.

Alasan lain mengapa kebangkitan Mulan tak seberapa kuat adalah perubahan sikap para prajurit yang terkesan dipaksakan. Berbeda dengan animasinya, mereka tak menyaksikan keberanian Mulan mempertaruhkan nyawa demi melindungi rekan-rekannya dari serbuan mematikan lawan. Jadi bagaimana bisa, pria-pria dari kultur patriarki ini, semudah itu menyerukan “Aku mempercayai Mulan”? Pun sulit tergerak oleh perjuangan Mulan ketika Liu Yifei kerap kesulitan menampilkan emosi yang memadai, meski harus diakui, kekurangan tersebut turut dipicu oleh naskah yang mengekang totalitas ekspresi.

Biasanya, tidak peduli selemah apa pun ceritanya, saya selalu percaya akan kemampuan film produksi Disney menghadirkan spektakel sebagai penyelamat. Tapi, urusan aksi pun Mulan mengecewakan. Benar bahwa beberapa adegan laga menawarkan aksi bela diri over-the-top menarik, namun secara menyeluruh, Niki Caro (North Country, The Zookeeper’s Wife) selaku sutradara tampak belum menguasai cara menangani film martial arts. Pertarungan akhirnya terlalu pendek, antiklimaks, pun mayoritas aksinya tak pernah memaksimalkan konsep chi (baca: force) tadi.

Muncul pertanyaan. Kenapa tanggung-tanggung? Kenapa tidak sekalian memanfaatkan elemen itu guna menyuguhkan aksi imajinatif? Jawabannya mudah. Para pembuatnya terjebak di antara keputusan tampil realis, dengan tuntutan mempertahankan unsur fantasi. Kebingungan-kebingungan semacam itu tidak pernah berakhir baik.


Available on DISNEY+ (US)

TIGERTAIL (2020)

(Review mengandung SPOILER)
Tigertail, yang menandai debut penyutradaraan Alan Yang setelah selama ini dikenal sebagai penulis serial-serial seperti Parks and Recreation hingga Master of None, membagi kisahnya dalam dua latar waktu. Pada latar masa lalu, sinematografer Nigel Bluck mengemas gambarnya dengan tekstur grainy demi menambahkan kesan “film lama”. Sedangkan latar modern tampak jernih, walau isi hati dan pikiran protagonisnya, saya yakin tak sejernih itu.

Pin-Jui (Tzi Ma) adalah nama protagonis kita. Seorang pria tua yang tinggal sendirian di Amerika, selepas bercerai dengan istrinya, Zhenzhen (Fiona Fu), sementara hubungan dengan sang puteri, Angela (Christine Ko), kurang harmonis. Pin-Jui lebih banyak diam di depan Angela. Sekalinya bicara, pernyataan ketus bernada menentanglah yang keluar dari mulutnya, termasuk kala menentang pernikahan puterinya dengan seorang pria, yang menurut Pin-Jui, kurang mampu secara finansial.

Ketika Zhenzhen mengutarakan niat cerai, Pin-Jui berargumen, bahwa semestinya ia bahagia sudah dibelikan banyak pakaian serta mobil bagus selama pernikahan mereka. Tapi Tigertail bukan (cuma) bicara soal “uang bukan segalanya”. Melalui flashback, Alan Yang (juga menulis naskahnya) membawa penonton mengunjungi kehidupan Pin-Jui muda (Hong Chi-Lee) saat masih hidup miskin di Taiwan bersama ibunya, Minghua (Yang Kuei-mei).

Kemiskinan melahirkan cita-cita, kemudian ambisi untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik. Pin-Jui ingin pindah ke Amerika. Sebuah tanah penuh mimpi, kemakmuran, dan kebebasan. Setidaknya begitu pikirnya. Ambisi itu lalu membentuk kesaklekan cara hidup yang didasari dorongan memperbaiki nasib serta nasihat-nasihat, khususnya dari sang nenek yang sempat merawat Pin-Jui saat ia kecil.

Kesaklekan tadi menghasilkan egoisme. Tanpa sadar Pin-Jui menentukan apa yang diinginkan orang-orang di sekitarnya. Pin-Jui kesal sewaktu sang ibu menolak dibawa ke Amerika. “Bukannya itu yang ibu inginkan?!”, ungkapnya. Padahal tidak. Itu adalah keinginan Pin-Jui. Sama seperti baju-baju bagus dan mobil untuk Zhenzhen tadi. Setelah puluhan tahun, akhirnya Pin-Jui meraih cita-citanya, yang ironisnya, malah menjauhkannya dari orang-orang tercinta, termasuk cinta pertama dan sejatinya, Yuan (Yo-Hsing Fang).

Entah kapan awal kerenggangan hubungan Pin-Jui dan Angela, tapi salah satu benihnya pastilah kala Angela kecil melakukan kesalahan di suatu resital piano. Melihat puteri kecilnya menangis, Pin-Jui justru bersikap keras. “Jangan menangis!”, bentaknya, meniru ucapan sang nenek kepadanya puluhan tahun lalu.

Keterasingan, kesendirian, realita yang mengkhianati mimpi. Unsur-unsur tersebut dimunculkan Alan Yang selaku penggambaran nasib para imigran di Amerika Serikat. Nyatanya, kehidupan di tanah impian itu tidaklah mudah. Tentu saja akan ada obligatory montage berupa repetisi keseharian Pin-Jui sebagai penjaga toko, yang bakal membuat kita mengasosiasikan Tigertail dengan film-film lain bertema “kerasnya hidup”. Memang tidak ada yang baru di film ini.

Terkait hubungan Pin-Jui dan Angela, Tigertail juga membahas mengenai usaha membuka diri. Tapi filmnya sendiri tak terlalu ahli urusan membuka diri. Di paruh awal, narasi non-linearnya terkesan melompat-lompat, pun di satu titik, mendadak muncul narasi Pin-Jui sebagai orang pertama yang tengah bercerita kepada sang puteri, yang setelahnya tak terdengar lagi, sehingga timbul ambiguitas, apakah alur Tigertail merupakan proses bercerita Pin-Jui pada Angela atau bukan.

Karena keegoisannya, Pin-Jui bukan sosok yang terlalu likeable, namun perlahan tumbuh simpati, begitu saya mulai membayangkan betapa sakit dan sepinya kemungkinan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidup dalam kesendirian, sembari dikuasai penyesalan akibat kesalahan mengambil keputusan. Kata “andai” pasti selalu menghantui. Saya pun berharap Pin-Jui dan Angela berdamai. Tentu saja tidak mudah, meski demi nuansa heartwarming, konklusinya mengesankan demikian. Tapi tidak sepenuhnya keliru, sebab keterbukaan diri memang turut membuka pintu perdamaian tersebut.


Available on NETFLIX