GET OUT (2017)

37 komentar
(Review mungkin mengandung spoiler)
Selain menakut-nakuti, banyak filmmaker memanfaatkan medium horor untuk menyampaikan kisah atau pesan tertentu. Sebutlah Alien (pemerkosaan/seks), The Babadook (kecemasan), It Follows (penyakit menular seksual), dan sebagainya. Semua dilakukan tanpa melupakan hakikat utama genre tersebut. Di permukaan, Get Out selaku debut penyutradaraan Jordan Peele terkesan biasa, menebar kengerian lewat keanehan situasi yang dialami karakternya. Tapi menilik lebih dalam, naskahnya (juga ditulis oleh Peele) turut menjabarkan satir sosial terkait isu rasisme, tepatnya soal perlakuan kulit putih terhadap kulit hitam. Menjadi spesial tatkala tiap sisi, termasuk komedi yang membesarkan namanya, sanggup Peele rangkai secara seimbang.

Fotografer kulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) adalah kekasih dari Rose (Alison Williams), seorang gadis kulit putih. Saat tiba waktunya mengunjungi orang tua sang kekasih di akhir pekan, Chris khawatir apabila warna kulitnya dipermasalahkan. Nyatanya orang tua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) menyambutnya baik. Walau demikian, Chris mulai merasa ada kejanggalan begitu melihat sikap dua pelayan kulit hitam di sana, Walter (Marcus Henderson) dan Georgina (Betty Gabriel). Ada apa dengan keduanya? Rahasia apa yang tersimpan di sana? Bermacam tanya itu takkan sulit dijawab. Bahkan sejak opening bila anda jeli mengaitkan poin-poinnya.
Horor/thriller seputar karakter atau lingkungan janggal telah bertebaran dan Get Out memang tidak memberi inovasi dalam presentasi misterinya. Peele mengikuti pola standar, bersabar menggerakkan alur di dua pertiga awal durasi, perlahan menambah tensi seiring observasi protagonis terhadap kondisi sekitar. Jika anda sudah kerap menyantap sajian serupa daya kejut film ini takkan seberapa. Jangan harap dihantam unpredictable twist ala-Shyamalan. Namun kelokan alur bukan semata-mata soal "seberapa mengejutkan". Pertanyaan yang diajukan semestinya "perlukah?" dan "sesuaikah dengan keseluruhan cerita atau datang mendadak selaku tipuan kosong?". Mengenai hal-hal itu, Peele melakukan tugasnya dengan baik.

Peele jeli menanam benih-benih, sehingga sewaktu tiba di ujung penceritaan, tercipta satu skema besar utuh yang menjawab beragam pertanyaan sekaligus menjelaskan perilaku tokoh-tokohnya. Sedangkan cerdiknya penyutradaraan membuat Get Out menjauhi keklisean jump scare berisik. Tetap banyak usaha menghentak jantung penonton, namun triknya tidak murahan. Peele berhasil memancing ketakutan nyata, bukan rasa terkejut sesaat yang cepat luntur walau progresi alur bertahap (baca: lumayan pelan) membuat daya cengkeram filmnya urung hadir secara instan. Kuncinya terletak pada timing, staging, juga pemakaian musik/efek suara. 
Tatkala teror sering datang di waktu tak terduga, pengadeganan Peele begitu apik membangun atmosfer creepy bersenjatakan kesederhanaan macam tatapan sunyi dari kerumunan. Kedua aspek ini disempurnakan oleh efektifnya musik dipakai. Selain penggunaan nomor klasik Run Rabbit Run, Michael Abels sang penata musik menyajikan pula alunan mencekam berbalut bisikan lirih yang bakal mengendap di ingatan pasca film usai. Peele memanfaatkan musik seperlunya, bahkan beberapa teror terbaik muncul ketika keheningan tiba-tiba menyeruak. Saya bisa merasakan ketegangan menghinggapi seisi studio, mendiamkan penonton lewat kesunyian mencekik. Kalau ada kalimat terlontar, itu akibat menyadari ketidakberesan yang seketika hadir.

Jangan lupa ini adalah karya Jordan Peele yang bersama rekannya, Keegan-Michael Key membuat Key & Peele, sebuah serial komedi sketsa televisi yang di beberapa segmen memparodikan horor. Humor segar mengiringi Get Out, dan hebatnya tanpa berujung permasalahan tonal shift. Sebabnya, komedi tak asal masuk, melainkan khusus dilontarkan oleh scene stealer bernama Rod (Lil Rel Howery), petugas TSA (Transportation Security Administration) sekaligus sahabat Chris yang selalu heboh, bicara semaunya termasuk melontarkan teori gila soal budak seks. Penonton pun paham, tatkala Rod tampil itu saatnya tergelak. Sebaliknya saat ia tidak menghiasi layar, waktunya kembali "menyalakan" mode serius. Kejelasan pembagian porsi ini sukses meniadakan inkonsistensi tone
Sebagaimana biasa, Peele menyelipkan alegori tentang rasisme. Pernyataan utamanya adalah bahwa kulit putih selaku pemegang kekuatan dan kekuasaan berniat mengendalikan kulit hitam. Mereka menyatakan bersedia menerima perbedaan tapi hanya di mulut, sementara hati dan perbuatannya tetap meneriakkan diskriminasi. Keramahan bertabur senyum tak ubahnya topeng luar agar kaum kulit hitam terbuai tutur kata manis dan kehidupan nyaman, tanpa sadar tengah dikontrol, dilucuti kebebasannya. Peele cerdik memposisikan pesan-pesan terselubung itu, bersinkronisasi dengan unsur horor sehingga urung menimbulkan distraksi. Di samping isu rasial, Get Out dapat dilihat pula sebagai horor seputar pengalaman pertama mengunjungi calon mertua (which is scary indeed).

Get Out bak dibuat berdasarkan semangat segala sesuatu bisa ditertawakan tanpa menghilangkan keseriusan di dalamnya. Selain hibrida horor-komedi, pergerakan misterinya bagai diambil dari obrolan santai penuh canda ketika orang kulit hitam membicarakan perlakuan buruk kulit putih pada mereka. Mulai diskriminasi sosial hingga pada level yang terdengar berlebihan dan mustahil macam omongan Rod soal penculikan untuk dijadikan budak seks. Konteksnya bercanda, namun didasari realita, dipicu rasa jengah pula takut akibat kekejaman berkepanjangan. Get Out sukses menggambarkan itu, menuturkan satir sosial dengan gaya ringan tapi tetap menusuk.

37 komentar :

Comment Page:
jonatan lumbantoruan mengatakan...

min ga niat buat review spirited away(lagi), mumpung tayang di bioskop :D

Rasyidharry mengatakan...

Nggak perlu, udah pada tahu seberapa dahsyat tuh film :D

Satria Wibawa mengatakan...

Ada gore nya kah?

Rasyidharry mengatakan...

Sedikit. Jualan utamanya bukan gore

Amatir dalam Hidup mengatakan...

Waah aku tidak menyangka ini masuk komedi juga, kukira akan seram dan serius sangat..

Herlan Ali mengatakan...

.... Mereka menyatakan bersedia menerima perbedaan tapi hanya di mulut, sementara hati dan perbuatannya tetap meneriakkan diskriminasi. Keramahan bertabur senyum tak ubahnya topeng luar.....

Kok jadi ingetnya Pilkada DKI

Rasyidharry mengatakan...

Seram yes. "Serius" juga kok :D

Rasyidharry mengatakan...

Hahahaha tapi memang bener kok, kan sama-sama pemegang kekuasaan & kekuatan

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Wah, ratingnya makin menjanjikan saya buat nonton Get Out.

Btw nonton dimana bang ? Saya liat OA grup film di Line, Jumat ini tayangnya.

Herlan Ali mengatakan...

Eits... Nafsu ingin berkuasa tepatnya, to die for- No matter how

Herlan Ali mengatakan...

Eits... Nafsu ingin berkuasa tepatnya, to die for- No matter how

Rasyidharry mengatakan...

True :)

Rasyidharry mengatakan...

Kemarin midnite hari Sabtu. Tayang reguler memang baru JUmat ini

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Oalah, oke siip bang. Btw saya sengaja gak baca dulu review-nya ya bang (nanti saya baca setelah nonton) abisnya mengandung spoiler sih. Langsung liat ke ratingnya aja, hehehe.

free mengatakan...

Aku malah bingung dimana unsur komedinya? Karena selama nonton film ini, rasa ngeri dan takut yg paling terasa. Apalagi mengangkat isu rasial, makin berasa ngerinya. Dan ngerinya bikin ingat film Body Snatcher.

Anonim mengatakan...

Mas, gak berniat buat bikin review Black Mirror? :D

Rasyidharry mengatakan...

Sebenarnya nggak sepenuhnya spoiler sih, tapi daripada ada yang protes haha

Rasyidharry mengatakan...

Mayoritas kemunculan Rod itu komedi dong. Bahkan sebenarnya hampir semua unsur misterinya itu komedi, black comedy.

Rasyidharry mengatakan...

Nggak sempat review series hehe

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Entah perbuatan sadis yang dilakuin sama orang kulit putih ke orang kulit hitam beneran ada di dunia nyata gak ya ?

Btw bang ada credit scene-nya gak ? Udah keluar duluan soalnya pas filmnya beres.

Rasyidharry mengatakan...

Perbudakan kulit hitam buat dilelang jaman dulu memang ada. Kekerasan aparat sampai sekarang juga masih.

Nggak ada kok credit-scene :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Nah kalo yang itu kayaknya dulu pernah ada. Tapi kalo yang si Chris "duduk" sambil liatin instruksi di TV itu ada gak ya ? Kalopun ada psikisnya itu yang tersakiti.

Aman berarti, hehehe.
Heran juga ya bang kenapa film-film yang keren kayak Get Out, Split, sama La La Land telat masuk ke Indonesianya ? Hmmp.

Rasyidharry mengatakan...

Jaman slavery belum ada TV soalnya haha

Wajar, ketiganya "uji coba" dulu di penayangan midnite. Musikal jarang sukses di sini, makanya La La Land tunggu momentum Golden Globe. Get Out sama, film dengan tokoh utama kulit hitam (kecuali Will Smith & Denzel) kurang diminati di sini.Kalau Split entahlah.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Hahaha, tapi sebenarnya yang saya tanyain ada kisah nyatanya gak tentang tujuan apa yang disampaiin sama lelaki galeri di TV itu ?
*mau to the point takut spoiler

Intinya kalo film Hollywood yang kurang "beken" dan kurang dalam promosinya di Indonesia pasti telat tayangnya atau mungkin malah gak tayang.

dramaaddict mengatakan...

Bang ini serem banget macam kesan liat conjuring kagak teror ketegangannya? Gue mau nonton jadi ragu pas baca seisi studio tegang ahahahahahah

dramaaddict mengatakan...

Bang ini serem banget macam kesan liat conjuring kagak teror ketegangannya? Gue mau nonton jadi ragu pas baca seisi studio tegang ahahahahahah

Rasyidharry mengatakan...

Oh, kalau itu sesuai sama zaman sekarang malah. Usaha empunya kuasa buat ngontrol yang lemah tapi pakai cara "halus", seolah menolong.

Tergantung importirnya juga sih. Kalau PCM (Prima Cinema Multimedia) sering banget cuma import lalu disimpen di gudang XXI :D

Rasyidharry mengatakan...

Beda jenis. Bukan jump scare yang kaget-kaget gitu

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Kalo di film sengaja dibuat sengeri mungkin kali ya bang tapi tetep ngegambarin isu rasis zaman sekarang. Makasih bang atas penjelasannya.

Waduh, pasti itu biaya film impor-nya gak murah ya bang tapi malah berani ada yang gak ditayangin. Gak mau rugi kalo sampe filmnya kurang laku di bioskop Indonesia ya ?

Rasyidharry mengatakan...

Yap, banyak memang yang import tapi nggak tayang, atau cuma tayang pas midnite lalu sepi dan nggak jadi reguler, atau akhirnya reguler tapi beberapa bulan bahkan setahun kemudian juga ada :D

abdullah ba'agil mengatakan...

Filmnya lucu banget.
Bang endingnya maksa kita buat suudzon bahwa polisi yg datang bakal rasis ya ? Heheh.

Rasyidharry mengatakan...

Haha di naskah asli, si polisi akhirnya memang rasis kok

abdullah ba'agil mengatakan...

Wadoh. Abang sampe tau ke naskah aslinya -_-.
Tapi itu polisi di endingnya tetap kehitung rasis keknya, karena hanya nyelamatin yg satu ras tanpa babibu. Hehe serba salah yeh bang kalo ngomongin rasial ini.

Rasyidharry mengatakan...

Oh, kan Rod temen Chris dan udah tahu ada yang nggak beres, jadi "sah". Tapi ya, perlu lebih hati-hati kalau ngomongin rasial :)

Yuéish mengatakan...

Film dengan pace lambat kaya gini makin bikin tegang. Detak jantung konstan (maksudnya deg-deg'an terus) semacam "what the f*** is going", kita benar-benar diajak untuk merasakan ketegangan menjadi seorang Chris. Untung ada Rob yang lumayan bisa mengistirahatkan jantung beberapa saat hehe. Senam jantung nya bukan karna jump scare nya, tapi karna aura film dan mysteri tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, Which is brilliant, tampak sangat tidak murahan. Good job, review nya bagus!!

Alex Alfian mengatakan...

Itu yg Chris lg di iket di kursi TV nyala sendiri mas? Kira2 pake timer ato apa ya

Rasyidharry mengatakan...

TV yang mana ya? Pas adegan hipnosis nggak ingat ada TV sih