LADY BIRD (2017)

33 komentar

Ketika akhir tahun lalu meninggalkan Jogja, di malam terakhir saya berkeliling kota, melewati tempat-tempat yang rutin dilewati. Berbagai titik yang selama 7 tahun terkesan biasa, mendadak memancing haru karena keping-keping memori berseliweran. Begitu juga saat mengosongkan barang-barang di kamar. Lady Bird memiliki dua momen tersebut, membuktikan bahwa Greta Gerwig—dalam debut penyutradaraan—mengerti serta mampu memvisualisasikan seperti apa memori akan tempat yang kita cintai. Dalam Lady Bird, adegan mengecat kamar, menutup coretan-coretan lama (masa lalu) dengan warna baru (masa depan), terasa sentimentil.

Bahkan sinematografi garapan Sam Levy dengan tekstur warna grainy-nya terlihat bagai reka ulang memori, impresi yang tak sebegitu menonjol saat menyaksikan filmnya di layar kecil laptop. Mengunjungi Lady Bird untuk kedua kali di layar lebar, baik aspek visual, pacing, baris dialog, emosi, maupun akting, kualitasnya melonjak drastis. Sekitar tiga atau empat kali saya dibuat meneteskan air mata oleh peristiwa-peristiwa yang telah disaksikan sebelumnya, yang mana menegaskan dua poin: 1) Selalu ada hal baru untuk diserap dalam sebuah film, 2) Semua film semestinya ditonton di bioskop, walau bukan blockbuster bombastis.
Walau film itu “cuma” menceritakan gadis SMA dari Sacramento bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan) yang tidak puas dengan kehidupannya. Dia menganggap Sacramento menjemukan dan bermimpi melanjutkan kuliah di New York selaku “tempat di mana kebudayaan berada”. Meski sang ibu (Laurie Metcalf) melarang keras karena mengkhawatirkan terorisme pasca tragedi 9/11 (filmnya berlatar tahun 2002) ditambah faktor ekonomi, sang gadis tidak peduli.  Bukan saja soal tempat tinggal, ia pun tidak puas terhadap kedua orang tuanya. Merasa ibunya selalu menentang keinginannya, pula menolak diantar sampai ke sekolah oleh sang ayah (Tracy Letts) karena malu.

Mungkin itu sebabnya ia bersikeras dipanggil Lady Bird. “I gave it to myself. It’s given to me, by me”, demikian ungkapnya. Nama yang aneh, tapi jelas menonjol dan terdengar spesial. Lady Bird memang ingin seluruhnya spesial, termasuk pergaulan, hubungan romansa, juga seks. Kapan pun masanya, begitulah remaja apalagi sewaktu SMA. Ingin jadi yang terkeren, terdepan, pusat segalanya, meski membuatnya harus bersikap egois dan konformis. Lady Bird sempat mendepak sahabatnya, Julie (Beanie Feldstein), demi bergaul bersama Jenna (Odeya Rush), siswi paling populer di sekolah. Pola pikir, kegemaran, hingga cara memandang suster di SMA Katholik tempatnya bersekolah pun ia ubah agar sesuai dengan Jenna.
Gerwig tak hanya memahami memori, juga perilaku remaja di masa pencarian jati diri. Pemahaman itu nampak jelas di naskahnya yang konon bersifat semi-autobiografi. Gerwig pun cerdas merangkai rentetan kalimat menggelitik di antara alurnya yang bergerak dinamis tanpa pernah berlama-lama tertahan di satu titik, tetapi cukup memberi penonton waktu guna mencernanya. Sangat dinamis kombinasi penyutradaraan Gerwig dan penyuntingan gambar Nick Houy, sebagaimana emosi dan sikap tokoh-tokohnya yang kerap berubah cepat, apalagi terkait interaksi Lady Bird dan ibunya. Sekali waktu keduanya bisa bertengkar soal “cara jalan menyeret”, lalu sejurus kemudian kompak mengagumi keindahan sebuah gaun. Atau tiba-tiba melompat dari mobil yang tengah berjalan pasca beradu mulut mengenai mendengarkan lagu.

Gerwig menaruh atensi besar terhadap momen kekeluargaan, mencurahkan segenap rasa guna menyalurkannya pada penonton. Usahanya berhasil, tentu tanpa melupakan jasa jajaran pemain khususnya Saoirse Ronan dan Laurie Metcalf. Alasan saya menyarankan agar mengunjungi Lady Bird lagi di layar lebar salah satunya demi Ronan. Detail aktingnya dapat teramati secara menyeluruh. Caranya berteriak, menatap kagum, berlari, tertawa, bahkan sekedar mengunyah makanan ringan, amat memikat, lucu, namun otentik. Tidak perlu panjang lebar menjabarkan betapa hebat Metcalf. Cukup lihat ekspresinya tatkala menyetir jelang akhir, dan cobalah menahan tangis.

33 komentar :

Comment Page:
umario at de movie goers mengatakan...

Dan saya nangis di saat endingnya . Keren banget

Kevin Jonathan mengatakan...

Untuk penonton awam apakah film ini tergolong berat dan membosankan bang ?

hilpans mengatakan...

Film ini maestrolah..simple, rileks, santai tapi membius scr emosional yg woww.. Seolah sy sdg berada d dalam ny...cepat skali film ini mngambil simpati penontonny, sy lngsung seolah2 brada dsana.merasakan brada dantara mereka, dan doi ronan..wiuh..cantikkkkkkkk jayya cuyyyy

Chan Hadinata mengatakan...

Sygnya gak ada di bioskop gw

Ungki Haeri mengatakan...

Scene terakhir memang ampuh bikin nangis. Saya pribadi dan semua orang pastinya pernah dan akan mengalaminya. Kala pergi jauh dari rumah, mengejar mimpi kita serta meninggalkan keluarga. Ada perasaan hilang yang begitu besar pada diri saya pribadi, dalam hati berujar "now i'm not boy, i'm a man" namun tetap keluarga dan rumah adalah kepingan memori yang sulit untuk dipisahkan dan pastinya akan selalu dikenang. Seolah ngaca lewat film ini..

Zamal Usep mengatakan...

Nangis bombay ..pdahl nntn film ini hanya di leptop ..dan nyesel ga nntn d layar lebar ..

Rasyidharry mengatakan...

@Kevin Nggak kok, salah satu nominee Best Picture tahun ini yang paling ringan

@hilpans hahaha santai, jangan sedih dia nggak menang Oscar ya

@Ungki Itu dia, buat yang pernah/lagi merantau meninggalkan rumah pasti ngena banget.

@Zamal Kalau tayang di kotanya buruan tonton :D

Chan Hadinata mengatakan...

Mas.. gak ada niatan review film dkoumenter??
Gimana tanggapannya utk oscar winner??

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Akhirnya full rewiew juga Mas. Matur suwun. Apa itu berlaku juga buat "The Shape of Water" yang kalo ditayangin di Indonesia bakalan full review juga ?

Restia Cahyani mengatakan...

Yay akhirnya review panjang juga wkwkw

Rasyidharry mengatakan...

@Chan Kalau masuk bioskop sini sih di-review, nggak sempet kalo semua ditulis. Well, fine-fine aja, soalnya prediksi banyak yang bener haha

@Pramudya Oh jelas :)

galih padmasana mengatakan...

Salah satu film yg bikin saya berharap filmnya jangan berakhir, sensasi yg hampir serupa saat menonton boyhood, isn't it?

Rasyidharry mengatakan...

@Galih Betuul! Sama-sama soal memori walau pendekatannya beda

galih padmasana mengatakan...

Btw buat blog ini dan mas rasyid, terimakasih sudah menemani aktivitas menonton film selama beberapa tahun terakhir, seperti acap kali yg saya lakukan usai menonton film yang menurut saya bagus adalah "mencari orang dengan opini yg sama" sensasinya menyenangkan, dan sejauh ini blog ini selalu menjadi rujukan saya sebelum memutuskan pergi ke bioskop, terutama untuk ulasan tentang film indonesia

Aziz Zaelani mengatakan...

Serasa nonton boyhood bang..,, tapi versi cewek ,,

Bhkn emosi nya lebih dapet..
Momen di bandara itu lohh

Keren ..

dimas mukti mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dimas mukti mengatakan...

Udah nonton streaming. Pengen versi layar gedenya sayanfnya di twentyone majang posternya doang. Filmnya kaga ada.. Sial!!

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Loh emang dirilis di Bioskop toh?baru tau tapi kayaknya di kota saya gabakalan hehe.Shape of Water aja dulu cuma 3 hari wkwk

Diantara semua nominasi Best Picture,hanya Three Billboards,Call Me By Your Name,dan Lady Bird yang terasa sangat spesial untuk saya.Lady Bird sama kehidupan saya related banget karena sekarang saya juga mengalami proses yang sama seperti si "Lady Bird" (mungkin itu penyebebabnya dan karena ada si Lucas Hedges dan Timothee yang juga main di film ini jadi kayak gimana gitu wkwk).Awalnya saya kira ini film berat dan serius ternyata komedi.Itulah yang menjadi kelebihan Lady Bird,pesan yang diberikan langsung dapat tanpa harus 'memberatkan' konten film yang cakupanya mungkin hanya teen angsty coming of age hingga parenting.Kayaknya Greta Gerwig menargetkan film ini agar related sama kehidupan banyak orang ya :D ibarat Greta Gerwig memberikan pesan pada seluruh anak muda dan orang tuanya.Sungguh sajian masterpiece.

Syahrul Tri Ramdhani mengatakan...

simply heartwarming ! keren banget film ini , selalu suka dengan act saoirse

Anonim mengatakan...

"yang mana menegaskan dua poin: 1) Selalu ada hal baru untuk diserap dalam sebuah film, 2) Semua film semestinya ditonton di bioskop, walau bukan blockbuster bombastis."

Terutama point ke 2, Hahah.

Saya malah sebaliknya, Nonton di bioskop dahulu baru nonton di Laptop, dan sensasi-nya berbeda drastis.

Saya berharap salah satu dari The Shape of Water atau Three Billboard Outside Ebbing, Missouri bisa tayang di sini.

Rasyidharry mengatakan...

@galih Wah thanks a lot, semoga terus baca dan tulisan saya selalu berguna hehe

@Aziz Yes, ada perasaan yang sama soal memori macam Boyhood.

@dimas Mungkin awalnya ada tapi cepet ilang. Sepi banget emang soalnya. Orang pada ribut di medsos doang minta ditayangin, begitu tayang nggak ditonton haha

@Bobby Shape of Water? Itu mah belum tayang, kemungkinan baru midnight weekend ini atau minggu depan.

@Anonim Shape of Water tunggu sebentar lagi. Three Billboards belum ada slentingan nih.

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

@Rasyid Lehh jadi dulu saya dibohongin ma temen saya,jadi malu wkwk

Nafilah Hanifah mengatakan...

Tadi coba liat di web 21cineplex ini gak tayang, padahal penasaran😭

Rasyidharry mengatakan...

@Nafilah Di 21 emang cuma tinggal di Jakarta & Tangerang. Kalau CGV & Cinemaxx masih banyak, at least sampai hari ini karena besok Tomb Raider & Early Man.

johan iglesias mengatakan...

Wahh udah nunggu banget film ini....
saya punya 3 film favorite yang kalau nonton pengennya film itu jangan cepat berakhir seperti LITTLE MISS SUNSHINE, THE DESCENDANTS & NEBRASKA.
Moga film ini bisa menambah kategori itu...

Mochamad Fauzi Clementi mengatakan...

Bang kata'y si Danny pengen rambut'y keriting pas pentas musikal tpi kok engga yah? Apa cuma modus buat pdkt doang? Haha :v

eko sutrisno mengatakan...

Dapat five star dr bang rasyid, pasti recomended bgt neh?!!!, Penasaran nonton tapi sayang gak bakal tayang di bioskop daerah saya, terpaksa menggunakan cara ilegal 😉

Rasyidharry mengatakan...

@johan Wah fans Alexander Payne sepertinya ini. Nggak se-quirky itu sih, tapi masih ada rasa-rasa yang mirip, secara Gerwig & Payne sama-sama berangkat dari drama-komedi indie.

@Mochammad Biasa kan, obrolan basa-basi begitu :)

@eko Haha kalo nggak masuk ya apa boleh buat. Kemarin nonton di laptop bagus, tapi nggak "WOW" sih

EPIC KRIS mengatakan...

Maestro yg buat film ini

Anonim mengatakan...

ga tau ya mgkn karena saya baru sekali nonton,, tapi film ini terlalu common bgt,, bahkan menurutku masih lbih bagus edge of seventeen dan jauh lebih bagus me earl and the dying girl.. g heran di oscar ni film ga dapat apa2. to be fair mgkn gw harus ntn ulang kali ya. nice review bang

Rasyidharry mengatakan...

Well, kalo ngomongin Oscar, 2 film itu lebih nggak dapet apa-apa lagi kan, bahkan nominasi.

Sekilas nggak spesial, tapi directing-nya Gerwig itu luar biasa. Bisa dilihat dari dinamika & pace, terus timing komedi & emosi. Naskahnya juga, dialog yang dia tulis keren

susan mengatakan...

Sorry gan baru ikutan komen. Soale baru smpet nnton film ini. Saya juga suka skali blog ini, namun yg jadi referensi saya bintangnya aja dulu sbelum nnton. Dan jika selesai baru baca reviewnya dan kalau smpet komen..hehe..
Benar sekali, film ini sempurna banget mnurutku, walau cuma nnton di laptop sih. Tapi semuanya yg diungkapkan dapet banget. Ditambah lagi banyak banget di film ini mencerminkan saya waktu sma dulu sampai sekarang merantau. Jadi film ini akan menjadi memorable buat saya pribadi sampai kapanpun. Secara nanti waktu pulkamp, setiap sudut tempat dan suasana kampung halaman akan lebih terasa sentimentil buat saya. Seketika juga akan keingat film ini..haha.. Semoga kualitas krya greta gerwig selanjutnya minimal sama lah...haha

Rasyidharry mengatakan...

@Susan Thanks, walau sebenernya nggak akan ada spoiler sih di review hehe.
Yap, ini bakal jadi tolak ukur ke karya-karya Gerwig berikutnya, apalagi kalau dia bakal konsisten fokus ke tema perempuan.