NYMPHOMANIAC (2013)

21 komentar
Disamping kualitas yang mumpuni, film-film dari Lars Von Trier selalu ditunggu karena kontroversi yang mengiringi filmnya. Tentu saja saat dia mengumumkan akan membuat sebuah film bertemakan nymphomaniac atau sex addict yang juga merupakan penutup dari depression trilogy miliknya, saya tidak bisa untuk tidak menantikan film ini. Dua film pertama yang menjadi bagian dari trilogi depresi adalah Antichrist dan Melancholia, dua film yang benar-benar memancarkan aura depresi yang kuat meskipun mengambil fokus cerita yang berbeda. Antichrist adalah sebuah drama/horor psikologis tentang manusia yang berkutat dalam depresi karena rasa bersalahnya, sedangkan Melancholia merupakan cerita tentang manusia yang depresi menunggu datangnya hari kiamat. Jadi tidak ada yang lebih tepat lagi untuk menutup trilogi ini dibanding sebuah kisah tentang seorang sex addict yang berkutat dalam depresinya. Masih memasang nama Charlotte Gainsbourg yang selalu muncul dalam dua film Lars sebelumnya, Nymphomaniac juga punya segudang nama besar lainnya sebut saja Stellan Skarsgard, Shia LaBeouf, Jamie Bell, Uma Thurman, hingga Willem Dafoe. Nymphomaniac sendiri bisa dibilang merupakan sebuah epic tale dilihat dari durasinya yang mencapai hampir 4 jam. Untuk itulah film ini akhirnya dirilis dalam dua volume terpisah yang sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh. Karena itulah kali ini saya akan membahas kedua volume tersebut sebagai satu kesatuan.

Total film ini mempunyai delapan chapter yang membagi tiap-tiap aspek ceritanya. Sosok sentralnya adalah Joe (Charlotte Gainsbourg), seorang wanita mendekati usia paruh baya yang ditemukan oleh Seligman (Stellan Skarsgard) tengah terbaring di jalanan sempit dalam kondisi penuh luka. Seligman pun membawa Joe kerumah untuk diberikan perawatan. Pada saat itulah Joe mulai bercerita tentang kisahnya sebelum berakhir babak belur di jalanan. Sebuah kisah yang dimulai semenjak dia masih kecil dan pada akhirnya tumbuh sebagai seorang gadis dengan nymphomaniac. Akan ada begitu banyak kisah yang diceritakan Joe, mulai dari saat ia kecil dan mulai mengenal kemaluannya di usia 2 tahun, lalu tumbuh sebagai remaja yang ketagihan seks bersama sahabatnya, B (Sophie Kennedy Clark). Di masa itulah Joe remaja (Stacy Martin) mengalami banyak petualangan gila dalam kehidupan seksnya termasuk kisah cintanya dengan Jerome (Shia LaBeouf). Volume I lebih banyak berkisah tentang sisi liar Joe pada saat ia remaja dimana ia tidak terlalu peduli pada kondisinya sebagai seorang nymphomaniac dan hanya mementingkan kepuasaan hasrat seksualnya. Sedangkan Volume II yang berkisah saat Joe memasuki usia dewasa bertutur tentang pencarian jati diri dan dilema Joe sebagai seorang sex addict. Pada tahap ini Joe mulai banya melakukan pencarian makna dalam hidupnya termasuk mencoba berbagai hal-hal baru dalam kehidupan seksualnya. Segala cerita tersebut dihadirkan dengan alur yang melompat-lompat antara masa lalu dengan masa sekarang disaat Joe bercerita pada Seligman yang selalu menanggapi cerita Joe dengan berbagai analogi yang mengaitkan hal-hal seksual dengan hal lain.

Sedari awal, Nymphomaniac sudah membuat saya betah dan membuat saya tidak bisa berpaling dari layar. Dibuka dengan keheningan dan kesunyian yang dingin, tiba-tiba film ini langsung menghentak saat lagu Fuhre Mich milik Rammstein mulai terdengar. Bersamaan dengan itulah saya langsung dibuat betah menonton film ini yang padahal baru berjalan beberapa menit. Nymphomaniac sesungguhnya merupakan katarsis dari Joe yang dengan bebas mengungkapkan segala kegundahan dan cerita-cerita gilanya kepada Seligman. Saya sendiri sangat menyukai obrolan keduanya yang banyak diisi dialog-dialog cerdas nan menarik penuh analogi yang dilontarkan oleh Seligman. Tapi meskipun cerita yang dituturkan oleh Joe terasa kelam dan depresif, bukan berarti film ini terus-terusan berisikan atmosfer yang kelam, karena sesekali ada selipan komedi gelap yang muncul baik dari dialog antara Joe dan Seligman maupun visualisas menarik yang dihadirkan oleh Lars Von Trier. Disinilah keunikah Nymphomaniac yang membuatnya berbeda dari Antichrist maupun Melancholia. Meski punya kisah yang gelap dan cukup tragis, tetap ada beberapa momen yang membuat saya tertawa. Tidak hanya dari dialognya saja, kelucuan itu juga muncul dari beberapa visual menarik dalam tiap-tiap adegan. Aspek visual yang unik dan sedikit nyeleneh juga menjadi keunikan film ini. Sebut saja adegan seks antara Joe dan Jerome yang melibatkan angka "3+5", atau saat dengan indahnya kita diperlihatkan tiga sisi yang mengisi lubang dalam kehidupan Joe lewat sebuah split screen berisikan gambar-gambar unik.
Saya juga suka bagaimana Lars Von Trier menempatkan begitu banyak visualisasi sebagai penggabaran dari apa yang dibicarakan oleh Joe dan Seligman. Hampir setiap hal yang muncul divisualisasikan dengan menarik meski hanya sekilas. Misalkan keduanya tengah membahas kaitan antara seks dengan memancing, maka akan ada gambaran adegan memancing bahkan sampai denah dimana berbagai jenis ikan tinggal di sungai. Hal ini penting, sehingga pada akhirnya walaupun tidak sedang memperlihatkan adegan seks yang jadi andalan utamanya, Nymphomaniac tetaplah terasa menarik. Sebagai penonton, saya berasa seperti seorang anak yang tengah diperdengarkan sebuah dongeng yang sangat menarik, bahkan menciptakan adiksi tersendiri. Tentu saja yang paling dinantikan adalah bagaimana adegan seksnya diperlihatkan disini Jujur saja Nymphomaniac tidak segila yang saya harapkan. Jika dibandingkan promosinya yang menggembar-gemborkan adegan seksual yang nyata tanpa trik, hasil filmnya tidak segila itu meski dari segi kuantitas film ini jelas kaya akan adegan seks. Mulai dari seks yang "standar", oral seks, bahkan sado masohicst dihadirkan dengan begitu nyata. Tapi meski tidak sevulgar itu, film ini cukup mengejutkan saya karena mampu menghadirkan cerita yang jauh lebih dalam dari yang saya perkirakan. Lars Von Trier benar-benar memanfaatkan durasi mendekati 4 jamnya untuk mengeksplorasi banyak hal tentang adiksi sekskual. Saya pernah membaca beberapa jurnal tentang sex addict, dan Nymphomaniac bagaikan adaptasi lengkap dari jurnal tersebut, karena begitu luas dan mendalamnya penelusuran kisah yang dihadirkan.
Tentu saja cakupan luasnya adalah tentang bagaiana kelam dan kompleksnya kehidupan Joe sebagai seorang nympho. Dia harus bisa mengatur kehidupannya sembari terus berusaha memuaskan hasrat seks besar yang sulit dibendung dan bagaimana sulitnya untuk mengontrol hasrat tersebut. Seorang hiperseksual memang sulit untuk merasa puas dan cukup akan kehidupan seksnya, dan hal itulah yang menjadi salah satu konflik besar dalam hidup Joe. Karena itulah dia selalu menginginkan lebih banyak dan terus mencari hal baru dalam kehidupan seksnya. Dari situlah kita akan diperlihatkan begitu banyak jenis kehidupan seksual yang dijalani oleh Joe semisal keinginan berhubungan seks dengan pria dari ras yang berbeda, seks dengan sesama wanita, hingga yang paling gila dan menyakitkan adalah saat Joe tertarik akan masokisme. Begitu banyaknya aspek seksual dalam film ini membuat Nymphomaniac layak disebut sebagai sebuah epic sex tale. Kita juga diajak untuk melihat dilema dalam diri Joe berkaitan dengan anggapan masyarakat akan para pengidap adiksi seksual. Tentu saja masyarakat kebanyakan akan dengan mudah memberi cap buruk pada seorang sex addict "hanya" karena mereka punya hasrat seks yang besar. Disinilah Nymphomaniac mengajak kita berpikir dan memahami mereka, karena biar bagaimanapun hasrat seks bukanlah hal yang mudah untuk dibendung. Kebanyakan dari mereka yang memiliki perbedaan dalam kehidupan seksnya, tidak hanya sex addict tapi juga pemilik fetish bahkan pedofilia hidup dalam rasa malu, penuh dilema dan menyembunyikan hasrat tersebut. Faktanya tidak semua dari mereka pada akhirnya menyalurkan hasrat itu. 

Lars Von Trier mengajak penontonnya untuk tidak serta merta memberikan cap buruk pada para sex addict tapi dengan tidak serta merta melakukan pembelaan buta pada mereka, karena Lars tetap menyajikan berbagai sisi gelap dari para hiperseksual tersebut. Tentu saja bukan Lars Von Trier namanya kalau tidak mengungkapkan isi pikirannya dengan cara yang ekstrim. Disini Joe digambarkan seolah sebagai seorang yang terpilih dalam hal nymphomaniac. Layaknya seorang Nabi atau Rasul, dia seperti diangkat sebagai sosok yang spesial dalam sebuah adegannya. Tapi film ini tidak hanya membahas soal seks semata, karena dalam naskahnya yang cerdas Lars juga menyelipkan berbagai pemikirannya dalam hal lain mulai dari agama, filsafat, sains, sosial, hingga politik. Dengan banyak memasukkan referensi dari berbagai macam litertatur, film ini terasa semakin lengkap, kaya dan padat dalam ceritanya Dalam tiap-tiap chapternya, Lars Von Trier menyelipkan berbagai pemikiran yang berbeda-beda sehingga mampu menciptakan daya tarik dan ciri khas yang membedakan tiap-tiap chapter. Kedelapan chapternya memang punya keunikan masing-masing. Jelas ada chapter yang lebih unggul dan ada yang lebih lemah, tapi tidak ada yang sampai menjadi sebuah chapter yang buruk. Saya sendiri paling menyukai chapter 1 (The Compleat Angler), chapter 3 (Mrs. H) dan chapter 6 (The Eastern and the Western Church - The Silent Duck). Chapter 1 berhasil mengikat saya sebagai pembuka yang menarik, chapter 3 sanggup menampilkan situasi canggung yang intens dan lucu, sedangkan chapter 6 punya kegilaan yang menyakitkan lewat kisah sado masokisnya.

Tentu saja film ini mempunyai akting yang mumpuni dari tiap-tiap pemainnya. Yang paling menonjol bagi saya adalah Charlotte Gainsbourg, Stacy Martin, Uma Thurman dan Jamie Bell. Charlotte dan Stacy sanggup menghadirkan dua sisi dari Joe yang berbeda tanpa harus kehilangan benang merah karakternya. Stacy sebagai Joe muda yang polos berubah liar, sedangkan Charlotte adalah Joe yang lebih depresif, dewasa, dan mempertanyakan kehidupannya tanpa kehilangan sisi keliaran yang ia miliki. Jamie Bell dengan tatapannya yang dingin menghadirkan kengerian baik hanya lewat mata maupun tindakannya yang penuh kekerasan. Sedangkan Uma Thurman sebagai istri yang emosional mampu membuat adegan yang melibatkannya terasa begitu intens lewat dialog-dialog sarkas yang menusuk, hingga ditutup lewat teriakan emsoional yang mengejutkan. Overall, dua volume Nymphomaniac merupakan satu kesatuan epic yang begitu luar biasa, dalam, gila dan berani dalam mengungkap hal berkaitan dengan adiksi sekual. Masih terasa aura depresif yang kental dengan gambar-gambar sepi yang kelam, tapi ini adalah pendekatan yang berbeda dan paling kreatif dari Lars Von Trier dalam trilogi depresinya. Berisikan visual-visual unik dan selipan humor gelap yang efektif, melengkapi aspek-aspek yang menjadikan Nymphomaniac selalu terasa intens dan menarik meski berlangsung selama hampir 4 jam. 


21 komentar :

Comment Page:
Sultan Aulia mengatakan...

1. nonton dimana sihh ?
2. adegan seksnya lebih parah mana sama Blue Is The Warmest Color?

Rasyidharry mengatakan...

1. di torrent udah da
2. sebenernya lebih vulgar bitwc, tapi nymphomaniac lebih luas "genre" seksnya

Luhur Budhi Wicaksono mengatakan...

waduhh,, dapet 5 bintang pula,,

niken mengatakan...

Enggak familiar dengan film Lars von Trier sebelumnya. Tapi film ini bikin saya bosen. Semacam film medioker tentang kecanduan seks yang entah kenapa tidak bisa membangkitkan emosi apapun bagi saya. Dan endingnya maksa banget

Rasyidharry mengatakan...

Salah satu alasan ngasih nilai sempurna karena sebelum nonton sempat riset tentang adiksi seksual, dan apa yang ada di jurnal-jurnal dan riset itu semua ditangkap dengan sempurna sma Lars von Trier, makanya bener-bener suka sama Nymphomaniac :D

samuel rambitan mengatakan...

web nya boleh lebih spesifik gak mas , mau nonton jga sih tpi gak tau web nya , mksh

Rasyidharry mengatakan...

Coba cari di Piratebay :)

Bhibin Cptr mengatakan...

Untuk bisa nonton film online nya gmn mas bro caranya???

Nike Nisa mengatakan...

nonton filmnya dimana gan yg live streamingnya donk? regards obat kuat

Rasyidharry mengatakan...

Wah kalo streaming kurang tahu deh

Bang Doel mengatakan...

FYI buat yang nanya diatas, sedot aja dimari http://yts.to
Btw, salam kenal mas, mampir-mampir di blog ane belajar buat ngulas film --> Rumah Menulis

Yustina Windy Indri Aningtyas mengatakan...

njir ... film menjijikkan

Apri Anor mengatakan...

Seperti'ny menarik...
Dari penjelasan'ny kayak'ny ini film genre'ny Drama deh...
Thanks penjelasannya gann...

Mimi Hamada mengatakan...

coba di putlocker.. kemaren sih udah ada di youtube..

=============================================================================


Tanpa janji-janji palsu, bonus menarik dan cashback hingga jutaan rupiah.

Buktikan sendiri kalau kami Bandar Taruhan Bola Terbaik yang pernah anda temui...

Untuk info lebih jelasnya silahkan hubungi kami di:
Ym: cs1_skorbet99@yahoo.com; cs2_skorbet99@yahoo.com; cs3_skorbet99@yahoo.com

Pin bb: 2A84CB8A
Line id: skorbet99
Sms: +66929391685

Terima Kasih

JinBasster mengatakan...

Waahh.. banyak yang pengen tahu cerita ini.. Tapi ngomong-ngomong, disini ada yang tahu gak film yang membahas tentang cara mengobati ejakulasi dini atau yang semacamnya gitu.

sixbass mengatakan...

very nice what you say. said, polished and elegant very, very good. To view website you is very nice, definitely take the time to make a success like this.
Obat Radang Sendi

Unknown mengatakan...

Jangan2 lo cuma suka adegan2 seks nya haha

Unknown mengatakan...

Jangan2 lo cuma suka adegan2 seks nya haha

Anonim mengatakan...

bisa nonton dan download di Layarkaca21.com

jennifer wang mengatakan...

Ingin Menang Puluhan Juta Hanya Dalam Waktu Sehari??
Bukan MIMPI Lagi!!!
Situs Suka Bandar Online yang akan Membuat MIMPI Anda Menjadi Kenyataan
Dapatkan Bonus Rollingan TO Sebesar 0,5% / Hari
Bonus Referral Sebesar 20% Seumur Hidup
Info Lebih Lanjut
BBM : D8E87241
FB : sukabandar@yahoo.com
Telp / WA : +855 888043579
Skype : sukabandar
YM : sukabandar88@yahoo.com

Anonim mengatakan...

Di youtube ada kok