SURAT KECIL UNTUK TUHAN (2017)

14 komentar
Berbeda dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011), karya Fajar Bustomi (From London to Bali, Jagoan Instan, Modus) ini tak mengadaptasi cerita novel Agnes Davonar kecuali saat Angel kecil (Izzati Khanza) menulis surat untuk Tuhan. Persamaan lain tentu terkait tujuan mengucurkan air mata penonton sederas plus sesering mungkin. Begitu keras usahanya, sampai paruh pertama tak ubahnya penyatuan keping-keping momen penderitaan ketimbang alur kohesif. Naskah tulisan Upi selalu mencari cara menyusupkan kesedihan dalam hidup Angel dan kakaknya, Anton (Bima Azriel), yang setelah kabur dari siksaan paman mereka, terpaksa mengemis di jalan di bawah komando Oom Rudi (Lukman Sardi).

Oom Rudi yang mengumpulkan anak-anak sebagai pengemis dengan kedok penampungan tak ragu bertindak keras  memukul dengan kayu, membenamkan kepala dalam air, menempelkan setrika panas  pada mereka bila gagal mengumpulkan uang sesuai target. Tapi di tangan Fajar Bustomi, kegiatan macam dua anak bermain ayunan bersama pun jadi situasi dramatis, lengkap dengan gerak lambat, juga lagu anak-anak versi megah buatan Andhika Triyadi. Hanya ada satu emosi berusaha dicuatkan: sedih. Hanya ada satu kondisi: penderitaan. Menjadikannya sekedar tearjerker, bukan observasi mendalam terhadap kehidupan anak jalanan. 
Kemudian terjadi peristiwa yang memisahkan Angel dan Anton. Beberapa tahun berselang, Angel (Bunga Citra Lestari) hidup mapan di Australia bersama orang tua asuh, bekerja sebagai pengacara pembela korban kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Menjelang pernikahan dengan seorang dokter bernama Martin (Joe Taslim), timbul keinginan pada Angel kembali ke Indonesia guna mencari Anton. Mulai titik ini alur mulai menyusup masuk. Setidaknya ada proses investigasi pemancing rasa ingin tahu mengenai keberadaan Anton dan rahasia milik Oom Rudi, meski kelemahan narasi tetap bertebaran, seperti pengundang tanya tentang keabsahan fakta hukum kala polisi membebaskan buronan akibat kurang bukti. Pun adanya kemiripan dengan Lion berupa kisah anak jalanan yang terpisah dengan keluarga diikuti proses mencari, lokasi di Australia, sampai kemiripan fisik Bima Azriel dan Sunny Pawar.
Sinematografi Yud Datau membungkus Lokasi outdoor kala malam dengan warna-warni lampu jalanan dan gemerlap neon yang memanjakan mata, namun beberapa coloring memancing nuansa tidak natural ditambah lens flare yang sesekali menyinari. Hendak memudahkan penonton menangkap emosi cast-nya, close-up acap diterapkan, bahkan di sebuah kesempatan, Angel bicara ke arah kamera seolah tengah menatap penonton tajam. Kepiawaian Bunga Citra Lestari menuangkan rasa termasuk "bicara" melalui sorot mata mendukung pilihan teknis di atas. Tapi Joe Taslim tidak, di mana ketidaktepatan ekspresi kerap melemahkan momentum. Sementara rambut gondrong dan jenggot tebal memudahkan Lukman Sardi menghidupkan seorang pria keji. 

Surat Kecil untuk Tuhan bisa lebih dari tearjerker biasa. Walau bukan observasi solid seputar human trafficking, film ini dapat menjadi luapan amarah terhadap para pelaku, menghukum mereka melalui cerita fiksi. Semua diawali shocking revelation pengguncang rasa sekaligus pemberi dosa departemen marketing yang mengarah pangsa pasar anak kala terdapat momen disturbing traumatik. Tapi ini cerita lain. Momen itu mengarah ke courtroom drama yang patut disayangkan, bukan jadi puncak emosi atau resolusi. Setelah rentetan dramatisasi, merupakan kerugian ketika Fajar mengeksekusi sidang dengan intensitas tanggung. Naskahnya justru memilih konklusi berbentuk twist yang memaksa kaitan beberapa peristiwa. Keputusan tidak perlu yang menghalangi filmnya naik kelas, tertahan di status penguras air mata ketimbang curahan hati serta harapan positif atas suatu isu.

14 komentar :

Comment Page:
Redo Anggara mengatakan...

Waduh kirain bakal di tanggapin positif padahal ini sat dari dua film yg ingin saya tonton

Rasyidharry mengatakan...

Sayang sekali memang. Tapi masih watchable dibanding Jailangkung & Insya Allah Sah

Banumustafa24 mengatakan...

Saya lihat review di Daniel Dokter katanya nih film banyak adegan violence ya bang sehingga kurang cocok dilabeli film 13+, benar kah?

Rasyidharry mengatakan...

Menurut saya lebih kurang cocok materi promo yang melabeli diri "film anak-anak". Well, untuk memproses beberapa violence dan kompleksitas moralnya, usia 17 ke atas lebih aman. Lebih terganggu sama promonya. Kalau sudah nonton filmnya, pasti merasa "WTF?" begitu lihat beberapa clip promo, khususnya "Suka Hati" yang super bahagia & riang gembira itu.

eci hesti mengatakan...

mas, gak review T2 trainspotting?

Rasyidharry mengatakan...

Soon, mau istirahat beberapa hari dulu habis review 4 film lebaran sehari :D

Muh Saif Hood Asy'ari mengatakan...

Menurut gue filmnya biasa ga ada scene yg bisa bikin sedih sampai meneteskan air mata saat nonton sweet20 indo. Akting bcl menurutku jelek chemistry sm joe taslim ga dapat.. Akting aura kasih lebih bagus

Rasyidharry mengatakan...

Jelas beda jauh dibanding Sweet 20 :D
BCL pernah lebih baik, tapi at least emosi bisa tersampaikan. Masalah chemistry, mostly sebenarnya salah naskah dan Joe. Ya, Aura Kasih enak dilihat

Dimas Catur mengatakan...

Saya udah males nonton gegara kena spoiler sialan!!!

eko sutrisno mengatakan...

Bang admin untuk liat review film yg memiliki rate bintang 4 dan bintang 5 gimna caranya?
Makasih....

Rasyidharry mengatakan...

Di sidebar, bagian "Categories" bisa cari tag Bagus (untuk 4), Sangat Bagus (4.5) Luar Biasa (5)

Anonim mengatakan...

Film ini berhasil membuat saya meneteskan air mata. Ya, karena ngantuk. Saya merasa nonton drama tv lokal namun dengan kualitas yang lebih bagus.

bumblebumz mengatakan...

ceritanya mirip sama film lion ya? belum nonton seh klo film yang ini :D

Rasyidharry mengatakan...

Well, mirip di banyak sisi. Tapi nggak bilang plagiat juga ya :)